Selasa, 09 Februari 2016

161. Lailatul Qadr



Ramadhan disebut juga dengan bulan Yang penuh berkah, bukan bulannya yang diberkahi tapi amal ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan mengandung kwalitas yang tinggi diantaranya;
a.         Melakukan shalat sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai sebagai shalat wajib, apalagi melaksanakan shalat wajib.
b.         Memberi berbuka orang yang berpuasa sama pahalanya seperti orang yang berpuasa.
c.         Membaca Al Qur’an di luar bulan Ramadhan, satu huruf akan bernilai sepuluh apalagi dilakukan di  bulan Ramadhan.
d.        Berinfaq diluar bulan Ramadhan akan dinilai satu rupiah sama dengan tujuh ratus pahala, apalagi di dalam bulan Ramadhan.
e.         Tidurnya orang yang berpuasa dinilai sebagai ibadah dan bau mulut orang yang berpuasa dihadapan Allah seperti minyak kasturi.
f.          Pada bulan ini ada satu malam yang disebut dengan malam qadar, bila seseorang memperoleh malam ini nilai ibadahnya sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan, Allah berfirman,”Sesungguhnya Kami telah menurunkan [Al Qur’an] pada malam keluhuran/kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan” [Al Qadar 97;1-3].“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) itu pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin RABB-nya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Adapun Rasulullah apabila memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan menjauhi isterinya” [Mutafaqun alaih].”Beliau lebih rajin beribadah sepuluh malam terakhir melebihi rajinya pada malam lain” [HR.Ahmad dan Muslim]. ”Carilah malam qadar itu pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan pada setiap malam ganjil” [Mutafaqun alaih].
Untuk memperkuat motivasi dalam meraih Lailatul Qadr bagi seorang muslim tidaklah salah untuk membuka kembali literatur yang berkaitan dengan dalil tentang Lailatul Qadr itu diantaranya;
1.        Menghidupkan malam Laylatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang :
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari)
2.      Menggapai Laylatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa :
Dari Abu Hurairah ra Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa menghidupkan malam Laylatul Qadar dengan iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam Iman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari,)

3.      Mencari Laylatul Qadar itu pd 10 malam yg terakhir :
Dari Aisyah ra berkata : “Adalah Nabi SAW biasa mencari Laylatul Qadar pada 10 malam yang terakhir.” (HR Bukhari)

4.      Mencari Laylatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut, terutama pada malam-malam Witirnya.
Dari Aisyah ra : “Adalah Nabi SAW mencari Laylatul Qadar pada malam-malam witir di 10 hari terakhir.” (HR Bukhari,)

5.      Hadits paling seringnya tentang Laylatul Qadar adalah tanggal 27 tapi terjadi juga tanggal 23-nya :
Dari AbduLLAAH bin Unais ra, bersabda Nabi SAW : “Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Shubuhnya aku sujud di tanah yang basah, lalu kata AbduLLAAH: Maka turun hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi SAW shalat Shubuh bersama kami, lalu beliau SAW pulang dan nampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau SAW, lalu dikatakan: Maka AbduLLAAH bin Unais berkata tanggal 23 itulah Laylatul Qadar.” (HR Muslim)

6.      Laylatul Qadar itu bisa didapati dalam keadaan jaga maupun juga dalam mimpi yang benar :
Dari Ibnu Umar ra : “Ada beberapa orang laki-laki sahabat Nabi SAW yang bermimpi melihat Laylatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda Nabi SAW : Aku juga melihat apa yang kalian mimpikan itu jatuhnya pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir tersebut.” (HR Bukhari)

7.      Laylatul Qadar itu tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan :
“Pada malam Laylatul Qadar itu tidak panas & tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dengan bintang-bintang, tanda di pagi harinya adalah Matahari terbit bercahaya lembut.” (HR As-Suyuthi)

8.      Tapi kadang-kadang Laylatul Qadar itu disertai juga dengan hujan :
Dari Abu Said Al-Khudriy ra, bersabda Nabi SAW : “… Aku melihat Laylatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yg ingin mencarinya maka carilah pada 10 hari terakhir pada malam-malam witirnya dan aku melihat diriku pada malam tersebut sujud di atas tanah yang basah… Maka kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, maka tiba-tiba ada awan dan turun hujan sampai airnya menembus sela-sela atap masjid yang terbuat dari pelepah Kurma, maka aku melihat Nabi SAW sujud di atas tanah yang basah, sampai kulihat bekas tanah yang basah itu di dahi beliau SAW.” (HR Bukhari)

9.      Pagi hari setelah Laylatul Qadar cahaya Matahari putih tapi tidak silau :
Berkata Ubay bin Ka’ab ra : “Demi ALLAH yg Tiada Ilah kecuali DIA, sungguh malam tersebut ada di bulan Ramadhan, aku berani bersumpah tentang itu dan demi ALLAH aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Nabi SAW untuk menghidupkannya yaitu malam 27 dan tanda-tandanya adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih tapi tidak menyilaukan.” (HR Muslim)
10.  Laylatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang Iman & mengharap Ridho ALLAH SWT :
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang bangun saat Laylatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi SAW: Dan orang tersebut beriman dan mengharap ridho ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim)

11.  Saat Laylatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari Kerikil :
Bersabda Nabi SAW : “Laylatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh Malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi)

12.  Apakah doa yang paling baik dibaca saat Laylatul Qadar?
Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika aku tahu bahwa malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yg paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW : “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Ahmad)
[Abi AbduLLAAH, Tinjauan Dalil Tentang Lailatul Qadar Al-Ikhwan.net | 13 October 2006 | 20 Ramadhan 1427 H].
Pada sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan kita sering mendengarkan orang menyebutkan umgkapan: Menunggu Turunnya LaylatulQadri. Sebuah Hadits dari St 'Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Bukhari artinya: Cari LaylatulQadri dalam sepuluh terakhir dari Ramadhan. Dijelaskan dalam sebuah Shahih Bukhari yang lain khususnya malam ke-25, 27 dan 29.
Menurut Hadits tersebut RasuluLlah SAW menyuruh kita mencari LaylatulQadri pada sepuluh malam teakhir dari Ramadhan.Jadi kita tidak disuruh menunggu, melainkan mencari, yaitu tidak pasif melainkan proaktif. RasuluLlah SAW proaktif mencari LaylatulQadri dengan cara I'tikaf dalam masjid, seperti diriwayatkan pula oleh Bukhari, juga dari St 'Aisyah RA, artinya: (RasuluLlah SAW) tidak masuk ke dalam rumah kecuali suatu keperluan (penting), apabila (beliau) sedang beri'tikaf.
 Menghadapkan qalbu kita kepada Allah SWT dalam masjid pada sepuluh malam terakhir untuk mencari LaylatulQadr, itulah yang disebut i'tikaf. Sementara i'tikaf boleh pulang ke rumah untuk suatu keperluan penting, misalnya ke belakang, tetapi diingatkan dalam Al Quran, tidak boleh bercampur dengan isteri, artinya: Janganlah kamu bercampur dengan isterimu apabila kamu beri'tikaf dalam masjid (S. Al Baqarah, 2:187). Pada malam bulan puasa kita diperbolehkan bercampur dengan isteri, kecuali sedang i'tikaf. artinya: Dihalalkan bagimu pada malam (bulan) puasa bercampur dengan isterimu (S. Al Baqarah, 2:187).
Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi merujuk kepada surah Al-Qadar didalam membicarakan persoalan keistimewaan Lailatul Qadar, katanya :"Allah telah memuliakan Al-Quran dimalam ini, dan ditambahnya dengan maqam yang mulia, yaitu kedudukan dan kemuliaannya yang sangat banyak dari kebaikan dan kelebihan dari 1000 bulan. Apa-apa ketaatan dan ibadah didalamnya menyerupai 1000 bulan yang bukan Lailatul Qadar.1000 bulan ini menyamai 83 tahun 4 bulan.Hanya di satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan".
Dan pada malam itu turunnya malaikat-malaikat dengan rahmat Allah dengan kesejahteraan dan barakahnya.Dan kesejahteraanya melimpah sehingga ke terbit fajar. Didalam As-sunnah, banyak hadist-hadist yang menyebutkan mengenai keutamaan Lailatul Qadar ini. Yang banyak dianjurkan untuk mencarinya pada 10 malam terakhir.Dalam Sahih Bukhari dari Hadis Abu Hurarirah, "Barangsiapa yang berqiam dimalam Al-Qadar dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh maka telah diampunkannya apa yang telah lalu dari dosanya".(Riwayat Bukhari didalam Kitab Al-Saum).
Rasulullah SAW telah memberi penjelasan kepada siapa yang lalai dan tidak memperhatikan malam tersebut, yaitu sama seperti menghalang diirinya dari menerima kebaikannya dan ganjarannya. Berkata para sahabat yang telah dinaungi mereka bulan Ramadan, "Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kamu didalamnya mengandung malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Siapa yang memuliakannya maka beliau akan dimuliakan kebaikan semua perkara. Dan siapa yang tidak memuliakannya maka kebaikannya akan dihalang".(Riwayat Ibnu Majah dari Hadis Anas, isnad Hassan sebagaimana didalam Sahih Jaami' Al-Saghir).
Sheikh Ibnu Taimiyyah (Majmu' fatawa - Jilid-25/286) didalam membicarakan soalan yang mana satu lebih afdal, diantara Malam Isra' Nabi saw atau Lailatul qadar? Kata: "Sesungguhnya Malam Isra' lebih afdal dan Malam Al-Qadar lebih afdal bila dinisbahkan kepada umat...". Manakah yang lebih afdal 10 Zulhijjah atau 10 malam terakhir Ramadan?. Kata Ibnu Taimiyyah, "Hari 10 Zulhijjah lebih afdal dari hari 10 dari bulan Ramadan. Dan malam-malam 10 akhir Ramadan lebih afdal malam 10 Zulhijjah".Jelas menunjukkan bahwa para ulama menyatakan bahwa malam lailatul Qadar ini sangat istimewa kepada umat Muhammad.
Menurut Sheikh Abdul Khaliq Al-Sharrif bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar akan ditunjukkan pada pagi harinya matahari akan memancar dan cuacanya yang agak sejuk. Sheikh Saleh Munajjid mengatakan bahwa matahari yang keluar itu tidak memancarkan cahaya.Sheikh Dr Yusuf Qaradhawi mengatakan terdapat juga berbagai tanda, seperti cahayanya merah kelemah-lemahan dan pada malam itu hujan dan angin sepoi-poi, tiada bau dan tiada sejuk sebagaimana yang disebut oleh Al-Hafiz didalam Fathul Bari'.
Kata Al-Qaradhawi:"Semua tanda ini tidak memberi kepastian mengenainya. Tidak mungkin ia berulang-ulang, karena malam Al-Qadar selalu berbeda-beda cuacanya dalam berbagai negara, berbeda pula waktunya. Ia mungkin dijumpai di sebuah negara Islam yang tidak putus hujannya, dan kemungkinan di negara lain yang keluarganya bersholat istiqo' yang berdepan dengan kemarau, dan negara-negara berbeda dari segi kepanasan dan kesejukannya, naik matahari dan turunnya, kuat atau lemah pancarannya, maka mustahil untuk mendapat titik pertemuan ini. Kajian ulama' mengatakan: boleh di ambil malam-malam yang tertentu Lailatul Qadar itu dari sebahgian manusia. Ia hanya kelihatan kepada dia seorang saja yang melihatnya. Atau menerima mimpi didalam tidur, atau berlaku (karamah) keajaiban yang luar biasa. Atau Ia terjadi kepada keseluruhan umat Islam agar ia menerima ganjaran kepada siapa saja yang berpeluang melakunya. Dan Ia tidak nampak apa-apa yang berlaku. Kebanyakkan ulama' mengambil pandangan yang awal tadi.
Sheikh Atiyah Saqr menganjurkan:Hidupkannya dengan bersholat, membaca Al-Quran, berzikir, beristigfar dan berdo'a dari terbenam matahari sehingga terbit fajar. Dan hidupkan ramadhan dengan bersolat terawikh di dalamnya. Sebuah riwayat yang mengatakan, "Barangsiapa yang bersholat magrib dan Isya' di hari akhir yaitu di malam Al-Qadar secara berjamaah, ia telah diberi keuntungan dari Lailatul Qadar". Berkata A'isyah r.h "Ya Rasulullah di waktu Lailatul Qadar, apakah yang harus aku katakan". "Katakalah, "Ya Allah sesungguhnya kamu pengampun dan suka kepada pengampunan, maka ampunkanlah ku"[Cara Jitu Memburu Lailatur Qadar, Hidayatullah.com/Selasa, 26 November 2002].
Lailatul Qadr merupakan hadiah dan berkah dari Allah bagi orang yang mampu dan mau mempersiapkan ibadah jauh sebelum datangnya bulan Ramadhan, bahkan ketika berakhirnya Ramadhan tahun lalu, sudah diawali dengan melaksanakan puasa Syawal selama enam hari, segala aktivitas ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan tahun lalu sudah menjadi kebiasaan untuk dilakukan sebelas bulan berikutnya hingga dating lagi Ramadhan tahun ini, orang muslim yang mempersiapkan segala sesuatunya itulah yang kelak tahun ini akan memperoleh Lailatul Qadr, jadi mustahil seseorang akan mendapatkan Lailatul Qadr bila dijemput hanya ketika masuk Ramadhan saja atau saat-saat pada tanggal ganjil saja.
Semoga datangnya Ramadhan tahun ini akan memotivasi kita untuk menjemput Lailatul Qadr dengan memakmurkan Ramadhan bersama aktivitas amaliyah ibadah yang maksimal, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 23 Juli 2011.M/21 Sya’ban 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar