Kehadiranmanusia di
duniainiberinteraksidenganlingkungankehidupannyasepertiberinteraksidenganmanusialainnya,
denganhewandandenganalamsekitarnya.Interaksidenganmanusiadisebutdenganhablumminannas,
sedangkanberhubungandenganKhaliqdisebutdenganHablumminallahartinyahubungandengan
Allah. Ada orang yang
hubungannyadenganmanusialaindanlingkungannyaberjalandenganbaiktapihubungandengan
Allah diabaikan, adajuga yang hubungandengan Allah
luarbiasabagusnyatapidenganmanusiadanalamsekitarnyatidakbagus.
Idealnyakitaharusmenjalinhubungan yang harmonisdanbaikkepadamanusiadankepada
Allah.
Adapunhubunganmanusiadengan
Allah memilikitigabentukyaitu;
1.HubunganIbadah; hubungan hamba dengan Khaliqnya, yaitu sebagai pengabdian
yang mencurahkan seluruh potensi hidupnya hanya untuk menyembah Allah semata
[51;56]“Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Alangkah mulianya manusia, karena kehadirannya yang
diciptakan Allahlah maka kewajiban beribadah itu ada, bila tidak ada manusia
dan jin otomatis tidak ada kewajiban ibadah kepada makhluk di dunia ini.
Ibadah dalam arti khusus seperti shalat, zakat, puasa dan
haji, sedangkan secara umum ialah seluruh aktivitas seseorang hamba yang
dilakukan tidak bertentangan dengan aturan Allah”. Ibnu Taimiyah mengatakan,
ibadah ialah semua kebaikan yang disengangi Allah. Dalam pengabdian kepada
Allah banyak manusia yang memperoleh hanya haus dan laparnya saja dikala puasa,
capeknya saja dari rukuk dan sujud, ibadahnya sia-sia karena tidak disandarkan
kepada tujuan yang ikhlas. Ulama Salaf berpendapat, kerapkali amal yang kecil
menjadi besar karena niatnya, dan sering pula amal yang besar menjadi kecil
karena salah niatnya.
Konsep yang mulia telah dikemukakan Allah, berarti
kehadiran manusia di bumi ini bukanlah secara kebetulan tanpa rencana yang
canggih, hidup bukanlah sekedar untuk melahirkan, makan, minum, bernafas,
tidur, kawin lalu beranak kemudian mati, lalu kemudiannya tidak ada lagi
persoalan. Sebagai hamba punya kewajiban pengabdian kepada Khaliqnya sebagai
penguasa, raja dan pencipta. Hak mutlak Allah ialah tempat pengabdian bagi
seorang hamba, bukan berarti bila manusia tidak menyembah kepada-Nya lalu
wibawa dan kekuasaan Allah luntur atau hilang. Dalam Al Qur’an mengatakan,
”Andai seluruh isi langit dan bumi serta apa yang ada disekitarnya tunduk dan
patuh merendah kepada Allah, tidaklah akan meninggikan nama Allah”, demikian
pula sebaliknya, ”Walaupun seluruh isi langit dan bumi kafir, ingkar dan durhaka
kepada Allah, maka tidak akan menghilangkan ketinggian Allah”.
Keimanan seorang hamba hanya untuk keselamatannya,
demikian pula keingkarannya akan tetap kembali kepadanya, namun Allah
mengeluarkan ultimatum, bila manusia tidak beriman dan menyembah kepadanya;
”....Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan
menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih” [An Nisa’ ;173].
Ibadah yang ikhlaslah yang akan diperhitungkan Allah
walaupun sedikit serta tidak disaksikan orang lain, ”Sekiranya kamu terangkan
apa yang ada dalam hatimu atau kamu
sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkan kamu juga” [Al Baqarah;
284]
Tidak ada artinya bila ibadah tersebut disandarkan kepada
yang lainnya, disamping beribadah kepada Allah, juga kepada makhluk, jabatan
serta kemegahan, hal ini disebut musyrik, menserikatkan Allah, masih mencari
tandingan-tandingan lain selain Allah, seperti yang dilakukan ummat islam di
lapisan masyarakat, mendatangi kuburan, dukun-dukun untuk memohon berkat dan
doa, percaya dengan batu-batu dan keris dengan segala keajaibannya. Puasa
dilaksanakan dengan baik dikala mertua berada di rumah, shalatnya rajin
sementara ingin menyunting anak wak haji, dananya lancar dikala namanya tetap
disebut sebagai buah bibir. Allah berfirman, ”Jika kamu mensekutukan Allah,
niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang
merugi” [Az Zumar;65].
Disamping tatacara ibadah yang dilaksanakan kepada Allah
disandarkan kepada yang lainnya, ada pula ibadah yang dilakukan kepada Allah,
tetapi tatacaranya jauh menyimpang dari aturan yang diajarkan Allah dan
Rasulnya, penuh dengan kurafat, tahyul dan bid’wah, pengabdian inipun tidak ada
artinya, ”Siapa yang membuat aturan baru dalam syari’at agama kami ini dengan
suatu aturan yang tidak terdapat sandaran dalil, maka dia ditolak” [HR. Bukhari
dan Muslim].
2.HubunganBisnis; yaitu hubungan antara penjual dan pembeli, Allah berperan
sebagai pembelinya sedangkan manusia sebagai pedagang. BagindaNabi SAW pernahditanya, “Amalanapa yang paling
utama?”Beliaumenjawab, “Imankepada Allah danRasul-Nya.”“Laluapalagi?”“Jihad fi
sabilillah?”“Kemudianapalagi?”“Haji mabrur,” jawabBagindaNabi SAW. (HR Muslim).
Melaluihaditsini, bagindaNabi SAW
bahkanmenempatkanamalan jihad lebihtinggi di atasamalan haji mabrur.Jadi, jika
haji mabrursajabisamemasukkanpela-kunyakedalamsurga, maka jihad
pastijugaakanmemasukkanpelakunyakedalamsurga, yang
tingkatannyalebihtinggilagi.
Terkaitdengan jihad ini, Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang ber-iman, maukahkepada kalian Akutunjukkansuatuperniagaan yang bisamenyelamat-kan kalian dariazab yang amatpedih? (Yaitu) kalian mengimani Allah danRasul-Nyasertaberjihaddenganjiwadanharta kalian.. (TQS ash-Shaff [61]: 10).
Allah berfirman dalam surat At Taubah 9;111“Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin itu diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk
mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau dibunuh.
Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al
Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu, itulah kemenangan yang besar”
Mengomentariayatini, di
dalamtafsirnya, Shafwah at-Tafasir, Imam Ali ash-Shabunimengutippernyataan Imam
al-Hasan, “Perhatikanlah, betapamulianya Allah SWT!Jiwamanusia, Allahlah yang
telahmenciptakannya.Hartamanusia, Allahlah yang menurunkannyasebagairezeki,
lalumemberikannyakepadamanu-sia.Namunkemudian, Allah maumembelisemuaitudari orang-orang
Mukmin de-nganharga yang supermahal: surga!”
Pertanyaankita, adakahbisnis di
du-niaini—meskiberpotensimendatangkankeuntunganmilyaran/trilyunanrupi-ah—yang
bisamembebaskanpelakunyadariazab Allah SWT
sekaligusmemasuk-kannyakedalamsurga-Nya?Tidakada.Padahalbukankah demi
mendapatkansurga-Nyadanterhindardarineraka-NyasetiapMukminberamal?Lalumengapajikaterhadapbisnis
yang sekadar men-janjikankeuntunganduniawi
(betapapunjumlahnyamilyaran/trilyunan rupiah)
kebanyakanmerekabegituantusias, tetapiuntukbisnis/perniagaan yang
bakalmendatangkankeuntungan yang jauhlebihbesar (yang
bahkantidakbisadihargaidenganuangtrilyunan)
keba-nyakanmerekacenderungtidakbermi-nat? Padahalbukankahsurgaitu yang
menjadiakhir/puncakharapansetiapMukmin, termasukparapebisnis?
Ya, amalan jihad, sebagaimanaamal-an
haji, sama-samabisamendatangkansurga. Namunanehnya, amalan jihad
justrujarangpeminatnyadibandingkandenganamalan haji.
Mungkinada yang bertanya, bagai-manaseorang Muslim
bisamelakukan jihad di zamansekarangjika jihad secarasyar'idipahamisebagaimemerangi
orang-orang kafir di jalan Allah?Dalamhalini, paraulamamembagi jihad
menjadidua.Pertama: jihad dalamrangkamemper-tahankandirisaatwilayah/negerikaum
Muslim diserangmusuh yang notabene orang-orang kafir. Inilahbentuk jihad difa'i.Iniseperti
yang terjadi di Irak, Afghanistan atauPalestina yang
terusdiserangbahkandijajaholehAmerikaSerikatdansekutu-sekutunya.Jelas, kaum
Muslim di negeri-negeritersebutber-kesempatanmendapatkansurga yang Allah SWT
janjikansaatmerekamelakukan jihad melawanmusuh.Mudah-mudahansaudara-saudarakita
yang terbunuh di sanasebagaisyahidbenar-benarmasuksurgatanpahisab, sebagaimana
yang telah Allah janjikankepadaparasyuhada.
Kedua: jihad yang inisiatifawalnyadatangdarikaum Muslim.
Inidilakukansebagailangkahterakhirdalampenye-barluasanhidayah Islam
saatdakwahmenghadapitembokpenghalang, yakni orang-orang
ataunegara-negarakafir.Inilah jihad hujumi. Jihad inihanyabisadilakukanolehkaum
Muslim di bawahkomandoseorang imam/khalifah,
yaknisaatadanyainstitusiKhilafahIslamiyah.[Bisnis yang BerbuahSurga, Media
Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:50]
3.HubunganCinta;yaitu hubungan kasih sayang antara hamba dengan
Khaliqnya. Hubungan ini terujud karena nilai iman yang tinggi dan pemahaman
tauhid yang benar, sehingga seorang mukmin meletakkan posisi cintanya sesuai
dengan prioritas [9;24], bahkan Allah menggambarkan bagaimana seorang mukmin
meletakkan dasar cintanya kepada Allah selain mencintai yang lain [2;165]”Dan diantara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
Bentuk cinta itu ada dua yaitu, pertama cinta thabi’i
atau tabiat yaitu cinta yang didorong oleh nafsu dan dikomandoi oleh syaitan.
Nafsu tidak mengenal benar dan salah, halal dan haram, dia hanya mengenal kalah
dan menang. Kemenangan harus diraih meskipun dengan menghalalkan segala cara,
hal itu dinampakkan indah oleh Iblis/syaitan sehingga segala yang buruk yang
dilakukan manusia, kelihatannya bagus, indah dan bermanfaat [15;39-40]. Kedua
cinta syar’i, yaitu cinta syariat yang didorong oleh iman serta dimotivasi oleh
mencari ridha Allah semata.
Lelaki senang kepada seorang wanita cantik, bila dia
menikahi gadis tersebut sesuai dengan aturan islam, ini namanya cinta syar’i,
tapi bila sebaliknya dengan cara zina, inilah yang disebut dengan cinta thabi’i
yang dirintis oleh syaitan.
Rabiahbinti Ismail
Al-Adawiyahadalahwanitasufiternamadalamsejarah Islam.
Iadikenalsebagaipengagumcinta (mahabbatullah)
dandikenangsebagaiibuparasufibesar (The Mother of The Grand Master).
Lahirsekitartahun 713 Masehi--masaawalkurunkeduatahunHijriah--di Kota
BasrahIrak.
Suatuketika, Abdul Wahid bin Zayd,
seorangsufi yang hidupsezamandenganRabiah, mengajukanpinangankepadanya.
Tapipinanganituditolak.Rabiahmengatakan, ''Wahaisaudaraku, carilahperempuan
lain. Apakahengkaumelihatadanyasatutanda-tandasensualitasdalamdiriku?''
Di lain waktu, datanglah Muhammad bin
Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir AbbasiyahdariBasrah (w 172 H) jugapernahmengajukanpinangannya.UntukmenarikhatiRabiah,
iamemberiiming-imingmaharperkawinansebesar 100 ribu dinar danmenjanjikan 10
ribu dinar tiapbulandaripendapatannya.
TapiRabiahmenjawab,
''Akusungguhtidakmerasasenangbahwaengkauakanmenjadibudakkudansemuamilikmuakanengkauberikankepadaku,
atauengkauakanmenarikkudari Allah meskipunhanyauntukbeberapasaat.''Dan
terakhir, tawaranitudatangdarisahabatnyasendiri, Hasan
Al-Bashri.Rabiahsetujutapidenganempatsyarat.
Pertama, Rabiahbertanya, ''Apakah yang
akandikatakanoleh Hakim duniainisaatkematiankunanti, akankahakumatidalam Islam
ataumurtad?''Hasanmenjawab, ''Hanya Allah Yang MahaMengetahui yang
dapatmenjawab.''
Kedua, ''Padawaktuakudalamkuburnanti, di
saatMalaikatMunkardanNakirmenanyaiku, dapatkahakumenjawabnya?''Hasanmenjawab,
''Hanya Allah Yang MahaMengetahui.''
Ketiga, ''Padasaatmanusiadikumpulkan di
Padang Mahsyar di HariPerhitungan (YaumulHisab), semua orang
akanmenerimabukucatatanamal di tangankanandan di tangankiri. Bagaimanadenganku,
akankahakumenerima di tangankananatau di tangankiri?''Hasankembalimenjawab,
''Hanya Allah Yang Mahatahu.''
Keempat, ''PadasaatHariPerhitungannanti,
sebagianmanusiaakanmasuksurgadansebagian lain masukneraka. Di
kelompokmanakahakuakanberada?'' Hasanlagi-lagimenjawabdenganjawaban yang sama.
Karenamemanghanya Allah saja Yang MahaMengetahuisemuarahasia yang
tersembunyi.Rabiahlebihmemilih Allah
sebagaiKekasihsejatinyadaripadamakhluk-makhluk-Nya.[WiyantoSuud, Berkasih-kasihandengan
Allah SWT,
Republika.co.id.Ahad, 02 Mei 2010, 06:06 WIB].
Kedua bentuk cinta tersebut memiliki ciri yang sama dan
khas dan itu merupakan alat ukur cinta seseorang kepada orang yang dicintainya,
baik cinta itu karena Allah atau karena syaitan, adapun standard cinta tersebut
adalah;
Pertama,
banyak menyebut nama orang yang dicintai. Dalam segala waktu dan kesempatan
tidak pernah hilang dari ingatan untuk mengenang dan mengingat kekasihnya,
siang hingga malam, dikala siang jadi angan-angan, waktu malam jadi impian,
demikian pula cinta kepada Allah, dia
telah menjadikan seluruh aktivitasnya untuk zikir hanya kepada Allah
[8;2]”Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.
Kedua, kagum
kepada yang dicintai. Segala kebaikan dan keindahan yang ada pada yang dicintai
menjadi sorotan pertama sehingga menutupi kekurangan kekasihnya. Seluruh
penampilan dari kekasihnya menarik dan menyenangkan hati yang memandang, sejak
dari kedipan mata, hidung yang mancung, bibir yang indah, body yang menarik,
semuanya seolah-olah sempurna, jauh dari cacat dan cela [1;1].”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang”
Ketiga, ridha terhadap
orang yang dicintai. Apapun yang diperlakukan oleh kekasih tidak pernah merasa
kesal, sedih ataupun membalas, bahkan perlakuan tadi harus diterima dengan
senang hati, sabar dan tabah sebagai ujud cinta yang tulus [9;61]”Di antara mereka (orang-orang
munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua
apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik
bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi
rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang
menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.”
Keempat, siap berkurban
untuk yang dicintai. Kurban apa saja akan dilakukan demi orang yang dicintai,
baik waktu, tenaga, materi bahkan jiwa ragapun siap dikurbankan demi keutuhan
cinta, bahkan pengurbanan merupakan salah satu indikator mutlak untuk menunjukkan
ketulusan cinta[2;207]”Dan
di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan
Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.
Kelima, takut dengan
ancaman orang yang dicintai. Hal ini membuat kekasih berprilaku yang sopan dan
baik, takut bila sang kekasihnya murka apalagi memberikan ancaman sehingga dia
rela berbuat apa saja demi menyenangkan
hati kekasihnya [21;90]”Maka
Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami
jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka
berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang
khusyu' kepada Kami.”
Keenam, mengharapkan
sesuatu dari orang yang dicintai. Baik berupa senyuman yang manis, tegur sapa
yang menyenangkan hingga harapan yang melambung tinggi [21;90]
Ketujuh, taat kepada yang
dicintai. Sehingga program apapun yang diberikan oleh kekasihnya tidak pernah
ditolak bahkan membutuhkan program-program tertentu untuk meningkatkan kualitas
cinta [ 24;51]”Sesungguhnya
jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya
agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami
mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Kedelapan, suka membaca
surat kekasih. Sehingga tiada waktu yang tersisa semua digunakan untuk
mengenang kisah kasih dengan orang yang
dicintai, surat menyurat adalah komunikai yang efektif untuk menyambungkan tali
kasih sayang [2;2-3 ”Kitab(Al
Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,dan
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepadamereka.”
Kesembilan, suka menyendiri dengan yang dicintai. Ada hal yang
sangat penting dibicarakan hanya untuk berdua saja, tidak perlu orang lain
tahu, suasana begini yang amat diharapkan oleh orang yang sedang bercinta,
larut malam, hujan gerimis, petir bersambar dan nyamukpun banyak bagi mereka
bukan masalah bahkan menambah indahnya pertemuan.
Kesepuluh, suka datang ke
tempat kekasih. Walaupun resiko yang dihadapi sangat berat . seperti
orangtuanya marah, dianggap maling, dikejar polisi, kena hardikan anjing
herder, bahkan perjalanan harus melewati kuburanpun akan dilewati, hanya satu
tujuan dengan semboyan,”Lautan dalam akan diseberangi dan gunung tinggi akan
didaki”
Kesebelas, mengakui
kesalahan bila melakukannya. Hal ini dilakukan untuk mencari simpati serta
jangan sampai kemarahan sang kekasih berlarut-larut.
Itulah
sebelas standard cinta seseorang kepada kekasihnya, salah satu tidak ada
apalagi semuanya tidak melekat maka diragukan cintanya, demikian pula cinta
hamba kepada Khaliqnya harus terujud dengan banyak berzikir, kagum kepada
Allah, ridha terhadap apapun yang diberikan Allah, siap untuk berkurban, takut
dengan siksa-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, taat kepada Allah tanpa reserve,
suka membaca Al Qur’an, menyendiri dengan tahajud dan munajad, datang memenuhi
panggilan Allah dalam seluruh segala perintah serta tidak lupa bertaubat bila
melakukan ma’siyat atau dosa dan kesalahan.
Bila cinta
hamba kepada Khaliqnya telah terjadi penyelewengan maka Allah akan menjatuhkan
vonis kepadanya dengan cap fasiq serta akan diberikan siksa yang pedih,
sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah 9;24“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusannya”, dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasiq”.
Untuk
itulah kita harus menempatkan prioritas
cinta itu pada posisi yang benar yaitu Allah, Rasul dan Jihad, setelah itu
boleh yang lainnya agar cinta tadi tidak ternoda oleh kekafiran dan
kemusyrikan.
Tiga hubungan kita kepada Allah yaitu ibadah, bisnis dan
cinta harus dipupuk terus menerus dalam rangka menjaga eksistensi taqwa yang
sudah diperoleh dalam berbagai pengamalan ajaran islam, meraih taqwa tidaklah
mudah tapi memelihara taqwa juga tidak sulit kecuali orang-orang yang selalu
menjalin hubungan dengan Allah, hablum minallahnya berjalan dengan baik, wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 09 Zulhijjah 1432.H/05 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar