Selasa, 16 Februari 2016

234. Hablum Minallah



Kehadiranmanusia di duniainiberinteraksidenganlingkungankehidupannyasepertiberinteraksidenganmanusialainnya, denganhewandandenganalamsekitarnya.Interaksidenganmanusiadisebutdenganhablumminannas, sedangkanberhubungandenganKhaliqdisebutdenganHablumminallahartinyahubungandengan Allah. Ada orang yang hubungannyadenganmanusialaindanlingkungannyaberjalandenganbaiktapihubungandengan Allah diabaikan, adajuga yang hubungandengan Allah luarbiasabagusnyatapidenganmanusiadanalamsekitarnyatidakbagus. Idealnyakitaharusmenjalinhubungan yang harmonisdanbaikkepadamanusiadankepada Allah.

Adapunhubunganmanusiadengan Allah memilikitigabentukyaitu;

1.HubunganIbadah; hubungan hamba dengan Khaliqnya, yaitu sebagai pengabdian yang mencurahkan seluruh potensi hidupnya hanya untuk menyembah Allah semata [51;56]“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Alangkah mulianya manusia, karena kehadirannya yang diciptakan Allahlah maka kewajiban beribadah itu ada, bila tidak ada manusia dan jin otomatis tidak ada kewajiban ibadah kepada makhluk di dunia ini.
Ibadah dalam arti khusus seperti shalat, zakat, puasa dan haji, sedangkan secara umum ialah seluruh aktivitas seseorang hamba yang dilakukan tidak bertentangan dengan aturan Allah”. Ibnu Taimiyah mengatakan, ibadah ialah semua kebaikan yang disengangi Allah. Dalam pengabdian kepada Allah banyak manusia yang memperoleh hanya haus dan laparnya saja dikala puasa, capeknya saja dari rukuk dan sujud, ibadahnya sia-sia karena tidak disandarkan kepada tujuan yang ikhlas. Ulama Salaf berpendapat, kerapkali amal yang kecil menjadi besar karena niatnya, dan sering pula amal yang besar menjadi kecil karena salah niatnya.
Konsep yang mulia telah dikemukakan Allah, berarti kehadiran manusia di bumi ini bukanlah secara kebetulan tanpa rencana yang canggih, hidup bukanlah sekedar untuk melahirkan, makan, minum, bernafas, tidur, kawin lalu beranak kemudian mati, lalu kemudiannya tidak ada lagi persoalan. Sebagai hamba punya kewajiban pengabdian kepada Khaliqnya sebagai penguasa, raja dan pencipta. Hak mutlak Allah ialah tempat pengabdian bagi seorang hamba, bukan berarti bila manusia tidak menyembah kepada-Nya lalu wibawa dan kekuasaan Allah luntur atau hilang. Dalam Al Qur’an mengatakan, ”Andai seluruh isi langit dan bumi serta apa yang ada disekitarnya tunduk dan patuh merendah kepada Allah, tidaklah akan meninggikan nama Allah”, demikian pula sebaliknya, ”Walaupun seluruh isi langit dan bumi kafir, ingkar dan durhaka kepada Allah, maka tidak akan menghilangkan ketinggian Allah”.
Keimanan seorang hamba hanya untuk keselamatannya, demikian pula keingkarannya akan tetap kembali kepadanya, namun Allah mengeluarkan ultimatum, bila manusia tidak beriman dan menyembah kepadanya; ”....Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih” [An Nisa’ ;173].
Ibadah yang ikhlaslah yang akan diperhitungkan Allah walaupun sedikit serta tidak disaksikan orang lain, ”Sekiranya kamu terangkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu  sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkan kamu juga” [Al Baqarah; 284]
Tidak ada artinya bila ibadah tersebut disandarkan kepada yang lainnya, disamping beribadah kepada Allah, juga kepada makhluk, jabatan serta kemegahan, hal ini disebut musyrik, menserikatkan Allah, masih mencari tandingan-tandingan lain selain Allah, seperti yang dilakukan ummat islam di lapisan masyarakat, mendatangi kuburan, dukun-dukun untuk memohon berkat dan doa, percaya dengan batu-batu dan keris dengan segala keajaibannya. Puasa dilaksanakan dengan baik dikala mertua berada di rumah, shalatnya rajin sementara ingin menyunting anak wak haji, dananya lancar dikala namanya tetap disebut sebagai buah bibir. Allah berfirman, ”Jika kamu mensekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” [Az Zumar;65].
Disamping tatacara ibadah yang dilaksanakan kepada Allah disandarkan kepada yang lainnya, ada pula ibadah yang dilakukan kepada Allah, tetapi tatacaranya jauh menyimpang dari aturan yang diajarkan Allah dan Rasulnya, penuh dengan kurafat, tahyul dan bid’wah, pengabdian inipun tidak ada artinya, ”Siapa yang membuat aturan baru dalam syari’at agama kami ini dengan suatu aturan yang tidak terdapat sandaran dalil, maka dia ditolak” [HR. Bukhari dan Muslim].

2.HubunganBisnis; yaitu hubungan antara penjual dan pembeli, Allah berperan sebagai pembelinya sedangkan manusia sebagai pedagang. BagindaNabi SAW pernahditanya, “Amalanapa yang paling utama?”Beliaumenjawab, “Imankepada Allah danRasul-Nya.”“Laluapalagi?”“Jihad fi sabilillah?”“Kemudianapalagi?”“Haji mabrur,” jawabBagindaNabi SAW. (HR Muslim).

Melaluihaditsini, bagindaNabi SAW bahkanmenempatkanamalan jihad lebihtinggi di atasamalan haji mabrur.Jadi, jika haji mabrursajabisamemasukkanpela-kunyakedalamsurga, maka jihad pastijugaakanmemasukkanpelakunyakedalamsurga, yang tingkatannyalebihtinggilagi.  

Terkaitdengan jihad ini, Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang ber-iman, maukahkepada kalian Akutunjukkansuatuperniagaan yang bisamenyelamat-kan kalian dariazab yang amatpedih? (Yaitu) kalian mengimani Allah danRasul-Nyasertaberjihaddenganjiwadanharta kalian.. (TQS ash-Shaff [61]: 10).

Allah berfirman dalam surat At Taubah 9;111“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin itu diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau dibunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah  kamu lakukan itu, itulah kemenangan yang besar”
Mengomentariayatini, di dalamtafsirnya, Shafwah at-Tafasir, Imam Ali ash-Shabunimengutippernyataan Imam al-Hasan, “Perhatikanlah, betapamulianya Allah SWT!Jiwamanusia, Allahlah yang telahmenciptakannya.Hartamanusia, Allahlah yang menurunkannyasebagairezeki, lalumemberikannyakepadamanu-sia.Namunkemudian, Allah maumembelisemuaitudari orang-orang Mukmin de-nganharga yang supermahal: surga!”

Pertanyaankita, adakahbisnis di du-niaini—meskiberpotensimendatangkankeuntunganmilyaran/trilyunanrupi-ah—yang bisamembebaskanpelakunyadariazab Allah SWT sekaligusmemasuk-kannyakedalamsurga-Nya?Tidakada.Padahalbukankah demi mendapatkansurga-Nyadanterhindardarineraka-NyasetiapMukminberamal?Lalumengapajikaterhadapbisnis yang sekadar men-janjikankeuntunganduniawi (betapapunjumlahnyamilyaran/trilyunan rupiah) kebanyakanmerekabegituantusias,  tetapiuntukbisnis/perniagaan yang bakalmendatangkankeuntungan yang jauhlebihbesar (yang bahkantidakbisadihargaidenganuangtrilyunan) keba-nyakanmerekacenderungtidakbermi-nat? Padahalbukankahsurgaitu yang menjadiakhir/puncakharapansetiapMukmin, termasukparapebisnis?   

Ya, amalan jihad, sebagaimanaamal-an haji, sama-samabisamendatangkansurga. Namunanehnya, amalan jihad justrujarangpeminatnyadibandingkandenganamalan haji.

Mungkinada yang bertanya, bagai-manaseorang Muslim bisamelakukan jihad di zamansekarangjika jihad secarasyar'idipahamisebagaimemerangi orang-orang kafir di jalan Allah?Dalamhalini, paraulamamembagi jihad menjadidua.Pertama: jihad dalamrangkamemper-tahankandirisaatwilayah/negerikaum Muslim diserangmusuh yang notabene orang-orang kafir. Inilahbentuk jihad difa'i.Iniseperti yang terjadi di Irak, Afghanistan atauPalestina yang terusdiserangbahkandijajaholehAmerikaSerikatdansekutu-sekutunya.Jelas, kaum Muslim di negeri-negeritersebutber-kesempatanmendapatkansurga yang Allah SWT janjikansaatmerekamelakukan jihad melawanmusuh.Mudah-mudahansaudara-saudarakita yang terbunuh di sanasebagaisyahidbenar-benarmasuksurgatanpahisab, sebagaimana yang telah Allah janjikankepadaparasyuhada.

Kedua: jihad yang inisiatifawalnyadatangdarikaum Muslim. Inidilakukansebagailangkahterakhirdalampenye-barluasanhidayah Islam saatdakwahmenghadapitembokpenghalang, yakni orang-orang ataunegara-negarakafir.Inilah jihad hujumi. Jihad inihanyabisadilakukanolehkaum Muslim di bawahkomandoseorang imam/khalifah, yaknisaatadanyainstitusiKhilafahIslamiyah.[Bisnis yang BerbuahSurga, Media Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:50]

3.HubunganCinta;yaitu hubungan kasih sayang antara hamba dengan Khaliqnya. Hubungan ini terujud karena nilai iman yang tinggi dan pemahaman tauhid yang benar, sehingga seorang mukmin meletakkan posisi cintanya sesuai dengan prioritas [9;24], bahkan Allah menggambarkan bagaimana seorang mukmin meletakkan dasar cintanya kepada Allah selain mencintai yang lain [2;165]”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

            Bentuk cinta itu ada dua yaitu, pertama cinta thabi’i atau tabiat yaitu cinta yang didorong oleh nafsu dan dikomandoi oleh syaitan. Nafsu tidak mengenal benar dan salah, halal dan haram, dia hanya mengenal kalah dan menang. Kemenangan harus diraih meskipun dengan menghalalkan segala cara, hal itu dinampakkan indah oleh Iblis/syaitan sehingga segala yang buruk yang dilakukan manusia, kelihatannya bagus, indah dan bermanfaat [15;39-40]. Kedua cinta syar’i, yaitu cinta syariat yang didorong oleh iman serta dimotivasi oleh mencari ridha Allah semata.

            Lelaki senang kepada seorang wanita cantik, bila dia menikahi gadis tersebut sesuai dengan aturan islam, ini namanya cinta syar’i, tapi bila sebaliknya dengan cara zina, inilah yang disebut dengan cinta thabi’i yang dirintis oleh syaitan.

Rabiahbinti Ismail Al-Adawiyahadalahwanitasufiternamadalamsejarah Islam. Iadikenalsebagaipengagumcinta (mahabbatullah) dandikenangsebagaiibuparasufibesar (The Mother of The Grand Master). Lahirsekitartahun 713 Masehi--masaawalkurunkeduatahunHijriah--di Kota BasrahIrak.

Suatuketika, Abdul Wahid bin Zayd, seorangsufi yang hidupsezamandenganRabiah, mengajukanpinangankepadanya. Tapipinanganituditolak.Rabiahmengatakan, ''Wahaisaudaraku, carilahperempuan lain. Apakahengkaumelihatadanyasatutanda-tandasensualitasdalamdiriku?''

Di lain waktu, datanglah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir AbbasiyahdariBasrah (w 172 H) jugapernahmengajukanpinangannya.UntukmenarikhatiRabiah, iamemberiiming-imingmaharperkawinansebesar 100 ribu dinar danmenjanjikan 10 ribu dinar tiapbulandaripendapatannya.

TapiRabiahmenjawab, ''Akusungguhtidakmerasasenangbahwaengkauakanmenjadibudakkudansemuamilikmuakanengkauberikankepadaku, atauengkauakanmenarikkudari Allah meskipunhanyauntukbeberapasaat.''Dan terakhir, tawaranitudatangdarisahabatnyasendiri, Hasan Al-Bashri.Rabiahsetujutapidenganempatsyarat.

Pertama, Rabiahbertanya, ''Apakah yang akandikatakanoleh Hakim duniainisaatkematiankunanti, akankahakumatidalam Islam ataumurtad?''Hasanmenjawab, ''Hanya Allah Yang MahaMengetahui yang dapatmenjawab.''

Kedua, ''Padawaktuakudalamkuburnanti, di saatMalaikatMunkardanNakirmenanyaiku, dapatkahakumenjawabnya?''Hasanmenjawab, ''Hanya Allah Yang MahaMengetahui.''

Ketiga, ''Padasaatmanusiadikumpulkan di Padang Mahsyar di HariPerhitungan (YaumulHisab), semua orang akanmenerimabukucatatanamal di tangankanandan di tangankiri. Bagaimanadenganku, akankahakumenerima di tangankananatau di tangankiri?''Hasankembalimenjawab, ''Hanya Allah Yang Mahatahu.''
Keempat, ''PadasaatHariPerhitungannanti, sebagianmanusiaakanmasuksurgadansebagian lain masukneraka. Di kelompokmanakahakuakanberada?'' Hasanlagi-lagimenjawabdenganjawaban yang sama. Karenamemanghanya Allah saja Yang MahaMengetahuisemuarahasia yang tersembunyi.Rabiahlebihmemilih Allah sebagaiKekasihsejatinyadaripadamakhluk-makhluk-Nya.[WiyantoSuud, Berkasih-kasihandengan Allah SWT, Republika.co.id.Ahad, 02 Mei 2010, 06:06 WIB].

            Kedua bentuk cinta tersebut memiliki ciri yang sama dan khas dan itu merupakan alat ukur cinta seseorang kepada orang yang dicintainya, baik cinta itu karena Allah atau karena syaitan, adapun standard cinta tersebut adalah;

            Pertama, banyak menyebut nama orang yang dicintai. Dalam segala waktu dan kesempatan tidak pernah hilang dari ingatan untuk mengenang dan mengingat kekasihnya, siang hingga malam, dikala siang jadi angan-angan, waktu malam jadi impian, demikian pula cinta kepada Allah, dia  telah menjadikan seluruh aktivitasnya untuk zikir hanya kepada Allah [8;2]”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.

            Kedua, kagum kepada yang dicintai. Segala kebaikan dan keindahan yang ada pada yang dicintai menjadi sorotan pertama sehingga menutupi kekurangan kekasihnya. Seluruh penampilan dari kekasihnya menarik dan menyenangkan hati yang memandang, sejak dari kedipan mata, hidung yang mancung, bibir yang indah, body yang menarik, semuanya seolah-olah sempurna, jauh dari cacat dan cela [1;1].”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Ketiga, ridha terhadap orang yang dicintai. Apapun yang diperlakukan oleh kekasih tidak pernah merasa kesal, sedih ataupun membalas, bahkan perlakuan tadi harus diterima dengan senang hati, sabar dan tabah sebagai ujud cinta yang tulus [9;61]”Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.”

Keempat, siap berkurban untuk yang dicintai. Kurban apa saja akan dilakukan demi orang yang dicintai, baik waktu, tenaga, materi bahkan jiwa ragapun siap dikurbankan demi keutuhan cinta, bahkan pengurbanan merupakan salah satu indikator mutlak untuk menunjukkan ketulusan cinta[2;207]”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.

Kelima, takut dengan ancaman orang yang dicintai. Hal ini membuat kekasih berprilaku yang sopan dan baik, takut bila sang kekasihnya murka apalagi memberikan ancaman sehingga dia rela berbuat  apa saja demi menyenangkan hati kekasihnya [21;90]”Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.”

Keenam, mengharapkan sesuatu dari orang yang dicintai. Baik berupa senyuman yang manis, tegur sapa yang menyenangkan hingga harapan yang melambung tinggi [21;90]

Ketujuh, taat kepada yang dicintai. Sehingga program apapun yang diberikan oleh kekasihnya tidak pernah ditolak bahkan membutuhkan program-program tertentu untuk meningkatkan kualitas cinta [ 24;51]”Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Kedelapan, suka membaca surat kekasih. Sehingga tiada waktu yang tersisa semua digunakan untuk mengenang kisah kasih dengan  orang yang dicintai, surat menyurat adalah komunikai yang efektif untuk menyambungkan tali kasih sayang [2;2-3 ”Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepadamereka.” 

 Kesembilan, suka menyendiri dengan yang dicintai. Ada hal yang sangat penting dibicarakan hanya untuk berdua saja, tidak perlu orang lain tahu, suasana begini yang amat diharapkan oleh orang yang sedang bercinta, larut malam, hujan gerimis, petir bersambar dan nyamukpun banyak bagi mereka bukan masalah bahkan menambah indahnya pertemuan.

Kesepuluh, suka datang ke tempat kekasih. Walaupun resiko yang dihadapi sangat berat . seperti orangtuanya marah, dianggap maling, dikejar polisi, kena hardikan anjing herder, bahkan perjalanan harus melewati kuburanpun akan dilewati, hanya satu tujuan dengan semboyan,”Lautan dalam akan diseberangi dan gunung tinggi akan didaki”

Kesebelas, mengakui kesalahan bila melakukannya. Hal ini dilakukan untuk mencari simpati serta jangan sampai kemarahan sang kekasih berlarut-larut.

Itulah sebelas standard cinta seseorang kepada kekasihnya, salah satu tidak ada apalagi semuanya tidak melekat maka diragukan cintanya, demikian pula cinta hamba kepada Khaliqnya harus terujud dengan banyak berzikir, kagum kepada Allah, ridha terhadap apapun yang diberikan Allah, siap untuk berkurban, takut dengan siksa-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, taat kepada Allah tanpa reserve, suka membaca Al Qur’an, menyendiri dengan tahajud dan munajad, datang memenuhi panggilan Allah dalam seluruh segala perintah serta tidak lupa bertaubat bila melakukan ma’siyat atau dosa dan kesalahan.

Bila cinta hamba kepada Khaliqnya telah terjadi penyelewengan maka Allah akan menjatuhkan vonis kepadanya dengan cap fasiq serta akan diberikan siksa yang pedih, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah 9;24“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu sukai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.

Untuk itulah  kita harus menempatkan prioritas cinta itu pada posisi yang benar yaitu Allah, Rasul dan Jihad, setelah itu boleh yang lainnya agar cinta tadi tidak ternoda oleh kekafiran dan kemusyrikan.

Tiga hubungan kita kepada Allah yaitu ibadah, bisnis dan cinta harus dipupuk terus menerus dalam rangka menjaga eksistensi taqwa yang sudah diperoleh dalam berbagai pengamalan ajaran islam, meraih taqwa tidaklah mudah tapi memelihara taqwa juga tidak sulit kecuali orang-orang yang selalu menjalin hubungan dengan Allah, hablum minallahnya berjalan dengan baik, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Zulhijjah 1432.H/05 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar