Salah satu keutamaan Bulan
Ramadhan, padanya disebut dengan Syahrul Qur’an yaitu bulan Al Qur’an karena
didalamnya diturunkannya awal kitab Al Qur’an yang kita sebut dengan Nuzulul
Qur’an.“(Beberapa hari yang ditentukan
itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al
Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).[Al Baqarah 2;185].
Bahwa Al Qur^an diturunkan dalam
bulan Ramadhan itu benar, sebab hal itu dibenarkan oleh S. Al Baqarah, ayat
185: Syahru Ramadhaana lladziy unzila fiyhi lQur^an ....artinya: Bulan Ramadhan
yaitu diturunkan di dalamnya Al Qur^an ...
Sekarang mengenai tanggal. Ini tidak
disebutkan secara langsung dalam Al Qur^an, melainkan berupa isyarat, yaitu
dalam S. Al Qadar ayat 1: Innaa anzalnaahu fiy laylati lqadri, artinya:
Sesungguhnya Kami turunkan dia pada Malam Qadar. Isyarat Al Qur^an itu
diperjelas oleh sabda Rasulullah SAW: taharraw laylata lqadri fi l'asyri
l.awaakhir min ramadhaan, artinya: Carilah olehmu Malam Qadar pada sepuluh
malam terakhir dalam bulan Ramadhan. Hadits di atas itu adalah hadits shahih,
yaitu Shahih Bukhari.
Bilangan 17 tidak termasuk dalam
daerah antara 21 dengan 30, kalau jumlah hari bulan Ramadhan 30 hari, atau di
antara 20 dengan 29, kalau bulan Ramadhan itu hanya terdiri dari 29 hari. Hasil
uji-coba menolak penafsiran tanggal 17 di atas itu.
Mungkin ada yang bertanya, buat apa
dipermasalahkan tanggal 17 atau bukan. Yang perlu diperhatikan adalah isi Al
Qur^an itu dan pengamalannya. Memang memperhatikan isi Al Qur^an dan
mengamalkannya itu sangat perlu. Namun kemurnian aqiedah itu adalah hal yang
tidak kurang pentingnya.Dengan metode uji-coba ini berhasil diungkapkan, bahwa
penafsiran tanggal 17 ini bertentangan dengan hadits shahih.Kalau kita ngotot
mengatakan bahwa Nuzulu lQur^an itu 17 Ramadhan, itu berarti kita lebih percaya
kepada pencatat tanggal kejadian perang Badar yang kita tidak tahu siapa dia
ketimbang sabda Rasulullah SAW.Lalu rusaklah syahadat kita, karena hanya
Asyhadu alla ilaha illaLlah, tanpa asyhadu anna MuhammadarRasululLah, dan
apakah itu tidak termasuk penganut Inkar Sunnah?
Lalu,
tanggal berapakah Nuzulu lQur^an itu?Jawabnya adalah itu merupakan rahasia
Allah SWT.Pokoknya terletak salah satu malam di antara 10 malam terakhir dalam
bulan Ramadhan, seperti Shahih Bukahri itu.Rahasia Allah ini ada hikmahnya.
Kita lebih intensif beribadah pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, karena
salah satu malam di antara 10 malam itu adalah Laylatu lQadri, yang kalau kita
beribadat pada waktu itu nilainya lebih dari 1000 bulan, khairun min alfi
syahrin. Bayangkan, satu malam dinilai 1000 bulan, 1000:12 = 83,3 tahun. Inilah
hikmahnya, yaitu meningkatkan kwalitas nilai ibadah kita, seakan-akan umur kita
diperpanjang menjadi 83,3 tahun setiap bulan Ramadhan, apabila kesempatan itu
dapat kita pergunakan. [H.Muh.Nur Abdurrahman, 17 Ramadhan Nuzulu lQur’an? Makasar, 22 Maret 1992].
Dr. Attabiq Luthfi, MA menyebutkan beberapa sumber tentang kapan kepastian Al
Qur’an itu diturunkan yaitu;
Penjelasan inipun sebenarnya
masih memerlukan penjelasan lebih rinci, karena kepastian tanggal turunnya
Al-Qur’an masih belum disebutkan.Spesifikasi yang disebutkan Al-Qur’an hanya
terbatas pada bulan diturunkannya Al-Qur’an yaitu bulan Ramadhan yang
dispesifikasi kembali dengan malam Lailatul Qadar.Tapi kapan itu terjadi masih
menjadi perdebatan hangat diantara para ulama.Namun mereka sepakat bahwa maksud
turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan adalah turunnya Al-Qur’an dari Lauh
Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Sehingga penurunan Al-Qur’an menurut
Imam Suyuthi terjadi dalam dua tahap, yaitu pertama, turunnya Al-Qur’an dari
Lauh Mahfudz ke langit dunia secara sekaligus dan kedua, turunnya Al-Qur’an
kepada Rasulullah secara berperiodik. Untuk memahami kedua bentuk turunnya
Al-Qur’an tersebut, Al-Qur’an menggunakan redaksi yang berbeda.Redaksi Anzala
(Inzal) untuk menunjukkan turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfudz
ke Langit dunia dan redaksi Nazzala (Tanzil) untuk menunjukkan penurunan
Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
Dalam pembahasan tanggal
turunnya Al-Qur’an, terdapat beberapa riwayat yang bisa dijadikan acuan.Riwayat
Ibnu Abbas seperti yang dinukil oleh Ibnu katsir menyatakan bahwa Al-Qur’an
diturunkan pada malam pertengahan bulan Ramadhan ke Baitul Izzah di Langit
dunia kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad dalam
kurun waktu 20 tahun. Secara lebih lengkap imam Ahmad meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw bersabda: “Shahifah Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan
Ramadhan, Taurat diturunkan pada hari (malam) keenam bulan Ramadhan, Injil
diturunkan pada hari (malam) ketiga belas bulan Ramadhan, Zabur diturunkan pada
malam kedelapan belas Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada malam kedua
puluh empat bulan Ramadhan”. Dalam riwayat Jabir bin Abdullah dibedakan bahwa
Zabur diturunkan pada malam kedua belas. (Musnad Ahmad, 4/107)
Jika riwayat Imam Ahmad
dijadikan acuan, maka akan lebih menepati dengan kemungkinan besar terjadinya
malam Lailatul Qadar yang banyak disebutkan oleh Rasulullah saw dalam
haditsnya. Misalnya: ”Carilah malam Lailatul Qadar itu di sepuluh malam
terakhir bulan Ramadhan”. Atau ”Carilah malam Lailatul Qadar itu di tanggal
ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”. (H.R. Bukhari).[Puasa Dan
Al-Quran, eramuslim.com. 25/9/2007 | 13 Ramadhan 1428 H].
Yang
dimaksud dengan Al Furqan dalam ayat (2:185) itu menyangkut dengan nilai
mutlak.Furqan dibentuk oleh akar yang terdiri dari tiga huruf FRQ (fa, ra,
qaf), artinya memotong, memisahkan.Al Furqan berarti pemisah antara yang baik
dengan yang buruk, antara yang benar dengan yang salah.Al Furqan adalah
petunjuk mengenai akhlaq.
Manusia
adalah sekaligus makhluq individu dan makhluq sosial.Sebagai makhluq individu
petunjuk itu berupa aqidah dan ajaran akhlaq, serta tata-cara ataupun
hukum-hukum yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Allah. Sebagai
makhluq sosial petujuk itu berupa pedoman operasional dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, serta petunjuk dalam mengkaji sunnatuLlah (istilah
sekulernya: hukum alam) dan mengelola alam sekitar. Keseluruhan petunjuk itu
disebut Syari'at Islam.[H.Muh.Nur Abdurrahman, Memperingati NuzululQuran, Makassar, 17 Desember 2000].
Keagungan
Alquran bukan hanya karena ia diturunkan pada bulan yang istimewa, yakni
Ramadhan. Keagungan Alquran tentu saja karena ia adalah kalamullah. Sebagai
kalamullah, Alquran adalah kitab yang tak ada tandingannya. Allah SWT berfirman
(yang artinya): Tidakkah kalian memperhatikan Alquran? Seandainya Alquran itu
bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di
dalamnya (TQS an-Nisa' [4]: 82).
Allah SWT
pun berfirman (yang artinya): Jika kalian tetap dalam keraguan tentang Alquran
yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang
serupa dengan Alquran itu, dan ajaklah para penolong kalian selain Allah jika
kalian memang orang-orang yang benar (TQS al-Baqarah [2]: 23).
Tidak aneh
jika Baginda Rasulullah saw. pun bersabda, ” Sesungguhnya sebaik-baik ucapan
adalah Kitabullah…” (HR Ahmad).
Keutamaan membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran. Baginda Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).
Keutamaan membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran. Baginda Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).
Rasul juga
bersabda, ”Orang yang membaca Alquran dan dia menguasainya akan bersama-sama
para malaikat yang mulia dan baik. Adapun orang yang membaca Alquran secara
terbata-bata dan merasakan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”(HR
al-Bukhari dan Muslim).
Rasul pun
bersabda, ”Tak ada iri kecuali terhadap dua orang: orang yang Allah beri
Alquran, lalu ia mengamalkannya siang-malam; orang yang Allah beri harta,
kemudian ia menginfakkannya siang-malam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dosa
Mengabaikan Alquran. Jika membaca, mengkaji dan mengamalkan Alquran dianggap
sebagai perbuatan mulia, maka mengabaikan Alquran tentu merupakan perbuatan
tercela. Allah SWT berfirman (yang artinya): Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku,
sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sebagai sesuatu yang
diabaikan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).
Rasulullah
SAW mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an].
Mahjûr[an] merupakan bentuk maf'ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji
dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap
Alquran, seperti tuduhan Alquran adalah sihir, syair, atau dongengan
orang-orang terdahulu (QS al-Anfal [8]: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr
yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memedulikan). Jadi,
mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak
dipedulikan)
Banyak
sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur'ân
(meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah menurut al-Qasimi
(7/425) menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak men-tadaburi dan
memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling
darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian,
permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau
menyimak dan mendengarkan Alquran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan
lain sehingga tidak mendengar Alquran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan
Allah SWT (Lihat QS Fushshilat [41]: 26).
Alquran
memberi syafaat. Alquran akan memberikan syafaat (pertolongan) pada Hari Kiamat
nanti kepada orang yang biasa membaca, mengkaji dan mengamalkannya. Baginda
Rasulullah SAW bersabda, ”Bacalah oleh kalian Alquran karena ia akan datang
pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membaca dan
mengamalkannya.” (HR Muslim).
Rasulullah
bersabda, “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba
pada Hari Kiamat nanti. Puasa akan berkata, 'Tuhanku, aku telah menahannya dari
makan dan nafsu syahwat. Karena itu, perkenankan aku untuk memberikan syafaat
kepadanya.' Alquran pun berkata, 'Aku telah melarangnya dari tidur pada
malam hari. Karena itu, perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.'Lalu
syafaat keduanya diperkenankan.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).[Mengagungkan
dan Mengamalkan Alquran, Media Ummat ; Wednesday, 27 October 2010 08:43].
Banyak keutamaan
yang diperoleh dari membaca Al Qur’an yang digambarkan oleh hadits Rasulullah
diantaranya;
Sabda Nabi
SAW
“Perumpamaan orang
beriman yang membaca Al-Qur’an adalah bagaikan buah utrujah, aromanya harum dan
rasanya nikmat. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti
buah kurma, tidak ada baunya dan rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik
yang membaca Al-Qur’an bagai raihanah (semacam bunga kenanga), baunya harum
namun rasanya manis. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an
bagai buah handzalah (antawali), tidak ada buahnya dan rasanya pahit.”
(Muttafaq Alaihi)
“Tidak ada satu kaum
yang sedang membaca, mempelajari, dan mendiskusikan kitab Allah, kecuali para
malaikat akan menaungi mereka, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan
sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada
makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Ahmad dari Abu Hurairah).[Keutamaan
Tilawah Al-Qur’an, dakwatuna.com 11/7/2011 | 10 Sya'ban 1432 H].
Orang yang
mendapat syafaat di akherat kelak dari Al Qur’an adalah orang yang konsisten
mengamalkan Al Qur’an di dunia ini dengan baik dalam seluruh asfek kehidupan,
bahkan mereka merasakan nikmatnya hidup dalam naungan Al Qur’an, yang tidak
dirasakan oleh orang lain yang tidak mengamalkannya. Kenikmatan hidup dalam
naungan Al Qur’an digambarkan oleh Fathudin Ja’far dalam khutbah jum’atnya
sebagai berikut;
Hidup di bawah naungan
Al-Qur’an adalah kenikmatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh orang yang merasakannya.Kenikmatan
hidup di bawah naungan Al-Qur’an itulah yang menyebabkan para Sahabat, Tabiin,
Tabiittabiin dan generasi Islam sepanjang masa mampu menikmati hidup di dunia
yang sementara ini dengan sangat produktif dan penuh amal shaleh.
Bahkan, berbagai ujian dan
cobaan yang menimpa mereka disebabkan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan
memperjuangkannya mereka rasakan sebagai minhah (anugerah) yang dirasakan
manisnya, bukan sebagai mihnah (kesulitan) yang menyebabkan mereka berpaling
dan menjauh dari Al-Qur’an.Mereka benar-benar sebagai generasi Qur’ani yang
hidup dan mati mereka bersama Al-Qur’an dan untuk Al-Qur’an.
Terdapat perbedaan yang jauh
antara generasi Qur’ani dengan generasi yang belum dibentuk karakternya,
pemikirannya dan prilakunya oleh Al-Qur’an.Generasi Qur’ani adalah generasi
terbaik sepanjang zaman.Generasi yang mampu mengintegrasikan antara ucapan,
keyakinan dan perbuatan.Hidup dan matinya untuk Islam dan umat Islam.Setiap
langkah hidupnya didasari Al-Qur’an.
Apa yang diperintah Al-Qur’an
mereka kerjakan dan apa saja yang dilarang Al-Qur’an mereka tinggalkan. Sebab
itu mereka connected (tersambung) selalu dengan Allah Ta’ala dalam semua
ucapan, langkah dan perbuatan. Sedangkan generasi yang bukan atau belum
dibentuk Al-Qur’an adalah generasi yang kontradiktif dan paradoks.
Karakter, pemikiran dan
prilakunya bertentangan dengan Al-Qur’an, kendati mereka hafal Al-Qur’an,
memahami kandungan Al-Qur’an, fasih berbahasa Al-Qur’an dan bahkan mungkin juga
membagi-bagikan Al-Qur’an kepada masyarakat dengan gratis.
Oleh sebab itu, tidak heran
jika situasi dan kondisi yang dialami oleh generasi Qur’ani sangat jauh berbeda
dengan sitauasi dan kondisi yang dialami oleh generasi yang bukan terbentuk
berdasarkan Al-Qur’an.Generasi Qur’ani adalah generasi yang cemerlang.Generasi
yang semua potensi hidup yang Allah berikan pada mereka dicurahkan untuk meraih
kesuksesan di Akhirat, yakni syurga Allah. Dunia dengan segala pernak pernikya,
di mata mereka, tak lain adalah sarana kehidupan yang hanya dicicipi sekedar
kebutuhan.
Orientasi utama hidup mereka
adalah kehidupan akhirat yang kekal abadi dan tidak bisa dibandingkan
sedikitpun dengan dunia dan seisinya. Allah menjelaskan :
Katakanlah (wahai Muhammad Saw)! Maukah kamu aku khabarkan dengan yang
jauh lebih baik dari itu semua (harta, wanita, anak, istri dan seterusnya)?
Bagi mereka yang bertaqwa, akan mendapatkan di sisi Tuhan Penciptanya Syurga
yang mengalir dari bawahnya berbagai macam sungai. Mereka kekal di dalamnya dan
ada istri-istri yang suci (tidak haid dan tidak berkeringat) dan juga keridhoan
dari Allah (jauh lebih besar bagi mereka) dan Allah Maha Melihat
hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 15)
Lain halnya dengan generasi
yang karakter, pemikiran dan perilakunya tidak dibentuk oleh Al-Qur’an. Mereka
akan mencurahkan semua potensi diri yang Allah berikan kepada mereka untuk
kepentingan hidup di dunia yang sementara ini. Sebab itu, pola fikir dan gaya
hidup mereka hanya terfokus pada kehidupan dunia, kalaupun ada untuk akhirat,
itupun hanya waktu sisa, harta sisa dan sisa-sisa ilmu dan tenaga.
Tak diragukan lagi, hidup
mereka bagaikan hewan dan bahkan lebih rendah dan lebih sesat lagi. Orang-orang
seperti ini, di akhirat kelak akan hina dan akan menjadi penghuni neraka,
kendati di dunia secara formal sebagai Muslim, hidup di komunitas Muslim dan
sebagainya. Allah menjelaskan :
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf : 179)
Agar kita dan generasi kita
tidak seperti yang digambarkan dan diprediksi ayat di atas, kita dan generasi
kita haruslah hidup di dunia ini di bawah naungan Al-Qur’an.Al-Qur’an itu telah
memuliakan orang-orang yang tadinya hina seperti yang terjadi pada generasi
Sahabat dan seterusnya.Al-Qur’an itu telah meninggikan derajat orang-orang yang
tadinya budak dan hamba sahaya seperti yang dialami oleh Bilal Bin Rabah dan
sebagainya.
Al-Qur’an itu telah
memerdekakan orang-orang yang tadinya terjajah oleh penguasa zhalim dan para
pengusaha curang seperti yang dialami oleh kaum Muslimin Makah dan
sebagainya.Al-Qur’an itu telah berhasil membawa manusia yang tadinya hidup
tersesat kepada jalan hidup yang lurus, yang penuh berkah seperti yang dialami
oleh kalangan Muhajirin, Anshor dan generasi berikutnya.
Al-Qur’an itu telah berhasil
memberikan pencerahan kepada manusia terkait dahsyatnya kehidupan akhirat, di
mana sebelum mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an mereka hanya mengetahui
kehidupan dunia. Bahkan Al-Qur’an itu telah pula berhasil menjelaskan hakikat
Tuhan Pencipta, hakikat alam semesta, hakikat manusia, hakikat kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat.[Khutbah Jum’at, Nikmatnya Hidup Di Bawah Naungan
Al-Qur'an, eramuslim.com. Rabu, 19/05/2010 10:50].
Dari Ramadhan ke Ramadhan,
kita melaksanakan rangkaian ibadah puasa sekaligus mengenang kembali turunnya
Al Qur’an, dalam rangka untuk memperbaiki kembali komitmen kita terhadap
petunjuk Ilahi ini sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Al
Qur’an sebagai payung yang menaungi seluruh aktivitas kehidupan agar kehidupan
itu bermakna tanpa dicemari oleh pemikiran lain yang cendrung merusak iman dan
amaliyah kita, Rasul pernah menyatakan bahwa siapa saja yang berpegang teguh
kepada dua hal maka dia tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Al Qur’an dan
Hadits, wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 20 Agustus 2011.M/
20 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar