Hidup dan mati
yang dialami makhluk termasuk manusia merupakan anugerah dari Allah SWT, tidak
satupun manusia yang menghendaki dengan kekuasaannya untuk hadir di dunia,
manusia hanya menjalani semua scenario ini tanpa ada kekampuan yang dia miliki,
sehingga wajar bila Rasulullah saat bersabda kerapkali menyebutkan
ketakberdayaannya, seperti beliau mengucapkan,”Muhammad yang hidupnya dalam
genggaman Allah”, atau beliau mengucapkan,”Hai yang membolak-balik hati,
teguhkanlah hamba dalam agama-Mu’. Begitu lemahnya manusia untuk menentukan
dimana dia lahir, kapan dia hidup dan bila akan menemui ajalnya.
Perjalanan
hidup yang dilalui manusia sejak dari alam ruh hingga alam akherat kelak
sangatlah panjang yang semuanya merupakan ketentuan Allah. Perjalanan panjang itu
pasti dilalui oleh siapapun manusianya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Iman
Santoso dalam tulisannya berikut ini;
Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam
rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan
darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan
ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka
lahirlah manusia ke dunia.
Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan
tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah
menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa
yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara
kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering,
kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari
kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah,
kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama
hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan
ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari
mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja
dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini
tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang
kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat
masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah
remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.
Di dunia inilah manusia bersama dengan
jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu ibadah. Dan dalam
menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat dimensi; dimensi
tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai
sebuah kesempatan atau target waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai
modal dalam beribadah; dan dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang
menjadi landasan amal.
Allah Ta’ala telah melengkapi manusia
dengan perangkat pedoman hidup agar dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak
tersesat. Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qur’an dan hadits
sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas
tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan
ingkar terhadap pedoman hidup tersebut.Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya
ketimbang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat
dan menyesatkan.
Maka, orang yang bijak adalah orang
yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah
produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang
beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya
adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga
tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang
dibenci (makruh) dan haram.
Dunia dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian
bagi manusia.Apakah yang dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan
Allah swt.atau menyimpang dari ajaran-Nya? Apakah segala fasilitas yang diperoleh
manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau tidak? Dunia merupakan medan
ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan sesaat. Rasulullah saw.
memberikan contoh bagaimana hidup di dunia. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa
Rasulullah saw. tidur diatas tikar, ketika bangun ada bekasnya. Maka kami
bertanya: “Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur.”
Rasululah saw. bersabda: “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia
seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Perjalanan hidup manusia di dunia akan
berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati,
apakah itu pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau
rakyat, kaya atau miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan
meninggalkan segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan
oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal shalihnya berupa sedekah yang
mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian adalah
penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan dunia.Kematian bukanlah akhir
kesudahan manusia, bukan pula tempat istirahat yang panjang.Tetapi, kematian
adalah akhir dari kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya
dari amal perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup
berikutnya.
Bagi orang beriman, kematian merupakan
salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia
yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang
panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan
kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan
belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar
dari kematian dan ingin hidup di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu
adalah sia-sia. Utopia belaka. Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka
atau tidak suka. [Iman Santoso, Lc,Perjalanan Hidup
Manusia,dakwatuna.com,21/2/2007
| 02 Shafar 1428 H].
Setiap kelahiran yang normal, dikala itu sang menangis
sedangkan yang melihat tertawa sedang karena punya anak, adik dan cucu baru.
Hal itupun dialami oleh Rasulullah yang mempunyai anak, beliau senang dengan
kelahiran anaknya walaupun kesedihan sebelumnya Nampak dengan kematian Zainab
putri beliau.
Pada
waktu itu Zainab, putri Rasulullah sedang menderita sakit yang sangat
mengkhawatirkan.Akhirnya sakit yang diderita Zainab berujung maut.Dengan
kematiannya itu tak ada lagi dari keturunan Rasulullah yang masih hidup selain
Fatimah—setelah Ummu Kultsum dan Ruqayyah wafat lebih dulu sebelum
Zainab.Dengan kehilangan putrinya ini, Rasulullah sangat sedih.
Namun kesedihan itu tak berlangsung lama, Mariyah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinama Ibrahim, nama yang diambil dari Nabi Ibrahim—leluhur para nabi.
Namun kesedihan itu tak berlangsung lama, Mariyah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinama Ibrahim, nama yang diambil dari Nabi Ibrahim—leluhur para nabi.
Sejak
Mariyah diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi Muhammad, sampai pada waktu itu
masih berstatus hamba sahaya. Oleh karena itu, tempatnya tidak di samping
masjid seperti istri-istri Nabi, Ummul Mukminin yang lain. Rasulullah
menempatkan Mariyah di Alia, di bagian luar kota Madinah—tempat yang kini
diberinama Masyraba Ummu Ibrahim—dalam sebuah rumah di tengah-tengah
kebun anggur.
Dengan kelahiran Ibrahim itu, kedudukan Mariyah dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas budak ke derajat istri.Dan Rasulullah juga kian dekat dengannya. Wajar sekali jika hal ini menambah rasa iri hati di kalangan istri-istri Nabi yang lain. Apalagi Mariyah melahirkan keturunan beliau, sedang mereka semua tidak memperoleh seorang putra pun.[Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal, republika.co.id. Senin, 15 Agustus 2011 17:25 WIB].
Dengan kelahiran Ibrahim itu, kedudukan Mariyah dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas budak ke derajat istri.Dan Rasulullah juga kian dekat dengannya. Wajar sekali jika hal ini menambah rasa iri hati di kalangan istri-istri Nabi yang lain. Apalagi Mariyah melahirkan keturunan beliau, sedang mereka semua tidak memperoleh seorang putra pun.[Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal, republika.co.id. Senin, 15 Agustus 2011 17:25 WIB].
Dalam rangka memasuki kehidupan baru yang dikenal dengan
kelahiran, banyak hal yang perlu diketahui oleh seorang muslim terutama yang
berkaitan dengan ritual yang harus dilakukan karena tidak sedikit ritual yang
bersumber dari adat yang menyesatkan, adapun ritual islam yang merupakan sunnah
dilakukan sebagaimana jawaban dari ustadz Ahmad Sarwat, Lc. adalah;
Doa
Sebagai muslim yang akan dikaruniai
anak, sebaiknya memang memperbanyak doa pada permohonan kepada Allah SWT. Tapi
mengenai ritual atau seremoninya, tidak ada ketentuan yang baku. Yang penting
sering-sering minta kepada-Nya dengan khusuyu' dan tadharru'. Salah satu
lafadznya boleh kita iqtbas dari lafadz Al-Quran, seperti yang tertera
dalamsurat AL-Furqan ayat 74:Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Masalah Ari-ari
Kepercayaan tentang penanganan
ari-ari bayi tidak pernah kita dapat keterangannya, baik dari Al-Quran maupun
dari Hadits-hadits nabawi.Kepercayaan itu datangnya dari tradisi nenek moyang
yang sampai kepada kita tanpa referensi yang pasti.Dan biasanya, ditambahi
dengan beragam kepercaaan aneh-aneh yang tidak masuk ke dalam logika, apalagi
ke dalam syariah.Dengan demikian, lupakan saja masalah itu, karena tidak ada
ketentuannya dalam syariah.
Sedangkan ancaman bila tidak
dibeginikan atau dibegitukan, akan melahirkan malapetaka dan sebagainya, semua
adalah bagian dari kepercayaan yang menyesatkan. Kita diharamkan untuk
mempercayainya, bila ingin selamat aqidah kita dari resiko kemusyrikan.
Potong Rambut
Memotong atau Mencukur rambut bayi
merupakan sunah muakkadah, baik untuk bayi laki-laki maupun bayi perempuan yang
pelaksanaannya dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran dan alangkah lebih
baik jika dilaksanakan berbarengan dengan aqiqah. Hal tersebut, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW: Rasulullah SAW bersabda:Setiap yang dilahirkan
tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya
dan dicukur rambutnya serta diberi nama (HR Ahmad dan Ashabus Sunan)
Dalam riwayat yang lain Rasulullah
SAW bersabda:Hilangkan darinya kotoran (HR Al-Bazzar)
Ibnu Sirin ketika mengomentari hadis
tersebut berkata: Jika yang dimaksud dengan kotoran tersebut adalah bukan
mencukur rambut, aku tidak mengetahui apa maksudnya dengan hadis tersebut
(Fathul Bari)
Mengenai faedah dari mencukur rambut
bayi tersebut, Ibnu Al-Qoyyim berkata: Mencukur rambut adalah pelaksanaan
perintah Rasulullah SAW untuk menghilangkan kotoran. Dengan hal tersebut kita
membuang rambut yang jelek/lemah dengan rambut yang kuat dan lebih bermanfaat
bagi kepala dan lebih meringankan untuk si bayi.Dan hal tersebut berguna untuk
membuka lubang pori-pori yang ada di kepala supaya gelombang panas bisa keluar
melaluinya dengan mudah di mana hal tersebut sangat bermanfaat untuk menguatkan
indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi. (Ath-thiflu Wa Ahkamuhu,
hal 203-204)
Kemudian rambut yang telah dipotong
tersebut ditimbang dan kita disunahkan untuk bersedekah dengan perak sesuai
dengan berat timbangan rambut bayi tersebut. Ini sesuai dengan perintah
Rasulullah SAW kepada puterinya Fatimah RA:Hai Fatimah, cukurlah rambutnya
dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan rambutnya kepada
fakir miskin. (HR Tirmidzi 1519 dan Al-Hakim 4/237)
Dalam pelaksanaan mencukur rambut,
perlu diperhatikan larangan Rasulullah SAW untuk melakukan Al-Qaz'u, yaitu
mencukur sebagian rambut dan membiarkan yang lainnya (HR. Bukhori Muslim). Ada
sejumlah gaya mencukur rambut yang termasuk Al-Qaz'u tersebut:
·
Mencukur rambut secara acak di
sana-sini tak beraturan.
·
Mencukur rambut bagian tengahnya
saja dan membiarkan rambut di sisi kepalanya.
·
Mencukur rambut bagian sisi kepala
dan membiarkan bagian tengahnya Mencukur rambut bagian depan dan membiarkan
bagian belakan atau sebaliknya.
'Aqiqah
Aqiqah adalah sembelihan yang
dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Jumhurul
ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkaddah baik bagi
bayi laki-laki maupun bayi perempuan. Pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari
ke tujuh (ini yang lebih utama menurut para ulama), keempat belas, dua puluh
satu atau pada hari-hari yang lainnya yang memungkinkan.Rasulullah SAW
bersabda, "Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang
disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta
diberi nama." (HR Ahmad dan Ashabus Sunan)
Yang lebih utama adalah menyembelih
dua ekor kambing yang berdekatan umurnya bagi bayi laki-laki dan seekor kambing
bagi bayi perempuan.Dari Ummi Kurz Al-Ka'biyyah, ia berkata: Aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda, "Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang
berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing." (HR
Ahmad 6/422 dan At-Tirmidzi 1516)
Daging hasil sembelihan aqiqah
tersebut boleh dibagikan kepada siapa saja dan tidak ada pembagian proporsi
untuk yang melaksanakannya, sebagaimana halnya hewan qurban.Bahkan dalam
aqiqah, orang yang melakukan aqiqah diperbolehkan memakan semuanya.
Akan tetapi, sebagaimana sunah
Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetanga,
baikyang miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang
melaksanakannya, serta mudah-mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya
untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut. (Lihat kitab At-thiflu Wa
Ahkamuhu oleh Ahmad bin Ahmad Al-?Isawiy, hal 197).
Secara ketentuan, daging aqiqah
disunnah dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap.Ini berbeda dengan
daging hewan qurban yang disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah.
Pemberian Nama
Nama bagi seseorang sangatlah
penting.Ia bukan hanya merupakan identitas pribadi dirinya di dalam sebuah
masyarakat, namun juga merupakan cerminan dari karakter seseorang. Rasululloh SAW
menegaskan bahwa suatu nama (al-ism) sangatlah identik dengan orang yang
diberi nama (al-musamma)Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau
bersabda, "Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga
Allah mengampuninya" (HR Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)
Ibnu Al-Qoyyim berkata,
"Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan mendapatkan bahwa
makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah
makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil
dari makna-maknanya. Dan jika anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap
yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadis di bawah ini:
Dari Said bin Musayyib dari bapaknya
dari kakeknya ra., ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya,
"Siapa namamu?" Aku jawab, "Hazin."Nabi berkata,
"Namamu Sahl."Hazn berkata, "Aku tidak akan merobah nama
pemberian bapakku."Ibnu Al-Musayyib berkata, "Orang tersebut
senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya." (HR Bukhori 5836) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-?Isawiy
hal 65)
Oleh karena itu, Rasululloh SAW
memberikan petunjuk nama apa saja yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak
kita. Antara lain:Dari Ibnu Umar Ra ia berkata: Rasululloh SAW telah
bersabda, "Sesungguhnya nama yang paling disukai oleh Allah adalah
Abdullah dan Abdurrahman" (HR. Muslim 2132)
Dari Jabir ra.dari Nabi SAW beliau
bersabda,"Namailah dengan namaku dan jangnlah engkau menggunakan
kun-yahku" (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)
Memakai nama dari asmaul husna tanpa
didahului kata abdul memang akan mengacaukan. Sebab asmaul husna itu nama
Allah, maka tidak boleh menamakan manusia dengan nama-nama Allah, kecuali
dengan menambahkan sebagai hamba Allah dan sejenisnya. Tidak harus lafadz
Abdul, yang penting bukan langsung nama Allah. Misalnya, Muhibbullah yang
artinya orang yang mencintai Allah. Atau Habiburrahman yang artinya orang yang
dicintai Allah Yang Maha Rahman.[Ritual Syar'i Menjelang dan Sesudah Kelahiran BayiEramuslim, pakde
nono].
Sejak
kelahiran pertama, anak seorang muslim sudah diberikan nilai-nilai ibadah yang
dilakukan melalui ritual islami, sebagai tanggungjawab kepada generasi baru
yang kelak akan mengemban tugas-tugas besar, sebenarnya banyak hal lain yang
harus diberikan kepada anak-anak yang dilahirkan oleh ibunya dengan segala suka
dan duka.
Bapak adalah penanggung jawab umum dan utama dalam sebuah Rumah, di
tangannya aRah sebuah Rumah ditentukan, dan tanggung jawab utamanya adalah
menjaga dan melindungi, sebagaimana FiRman Allah Ta’ala, "Hai ORang-ORang yang beRiman, pelihaRalah
diRimu dan keluaRga-mu daRi api neRaka yang bahan bakaRnya adalah manusia dan
batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasaR, keRas, dan tidak menduR-hakai
Allah teRhadap apa yang dipeRintahkanNya kepada meReka dan selalu mengeRjakan
apa yang dipeRintahkan." (At-TahRim: 6).
SementaRa ibu juga memiliki tanggung jawab yang sebanding, tanggung
jawabnya adalah kepada Rumah. Tentang pRinsip tanggung jawab ini Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,"Masing-masing
daRi kalian adalah penanggung jawab dan masing-masing daRi kalian beRtanggung
jawab teRhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya…. SeORang laki-laki adalah
penanggung jawab teRhadap keluaRganya dan dia beRtanggung jawab teRhadap apa
yang menjadi tanggung jawabnya, seORang wanita adalah penanggung jawab di Rumah
suaminya dan dia beRtanggung jawab teRhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya."
(Muttafaq 'alaihi daRi Ibnu UmaR. MukhtashaR Shahih al-BukhaRi, nO. 472; dan
MukhtashaR Shahih Muslim, nO. 1201).
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam peRlu menyinggung tanggung jawab bapak dan ibu
kaRena besaRnya pengaRuh dan peRanan keduanya dalam membentuk anak yang
meRupakan amanah daRi Allah. Adakah pengaRuh
yang lebih besaR daRipada menjadikan anak yang lahiR di atas fitRah menyimpang
daRi fitRah teRsebut? DaRi Abu HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu, ia beRkata,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"Tidak ada anak kecuali
dilahiRkan di atas fitRah, maka kedua ORang tuanya yang menjadikannya yahudi,
nasRani atau majusi, sebagaimana binatang teRnak melahiRkan anaknya dalam
keadaan lengkap. Apakah kamu melihat kekuRangan padanya?" Kemudian Abu
HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu beRkata, "Bacalah jika kalian mau, '(Tetaplah
atas) fitRah Allah yang telah menciptakan manusia menuRut fitRah itu. Tidak ada
peRubahan pada fitRah Allah'." (HR. Muslim, MukhtashaR Shahih Muslim,
nO. 1852).
Anak adalah
amanat Allah kepada kita, masing-masing daRi kita beRhaRap anaknya menjadi anak
yang baik, dan demi itu dibutuhkan Optimalisasi tanggung jawab dan peRan daRi
ORang tua. Meskipun pada dasaRnya seORang anak lahiR di atas fitRah, akan
tetapi ini tidak beRaRti kita membiaRkannya tanpa pengaRahan dan bimbingan yang
baik dan teRaRah, kaRena sesuatu yang baik jika tidak dijaga dan diRawat, ia
akan menjadi tidak baik akibat pengaRuh faktOR-faktOR eksteRnal. Pendidikan dan
pengaRahan yang baik teRhadap anak sebenaRnya sudah haRus dimulai sejak anak
teRsebut belum lahiR bahkan sebelum anak teRsebut ada di dalam kandungan yaitu
dengan memilih ibu yang meRupakan sekOlah peRtama bagi anak.DaRi sini kita
memahami mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau
memapaRkan alasan seORang wanita dinikahi, mendOROng agaR alasan agama
diletakkan dalam skala pRiORitas. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits beRikut,
DaRi Abu HuRaiRah Radhiyallahu ‘anhu, daRi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau beRsabda,SeORang wanita dinikahi kaRena empat peRkaRa: kaRena haRtanya,
kedudukannya, kecantikannya, dan kaRena agamanya, maka pilih-lah wanita yang
agamis, niscaya kamu beRuntung." (,:: COmpiled by ORiDO™ ::.
Kelahiran kita
merupakan kemenangan karena saat jutaan jumlahnya sperma menyerang untuk
masuk ke Rahim, hanya satu yang dapat
menerobos sedangkan yang jutaan lainnya itu mati seketika, yang lahir dan hidup
hari ini adalah bibit unggul yang mampu menyaingi lawan-lawannya,tidak ada
kelahiran yang disesalkan manusia kecuali oleh orang-orang yang tidak beriman,
kelahiran merupakan awal dari kehidupan yang harus dijaga dengan
sebaik-baiknya, dengan hidup berarti ada tugas-tugas kehidupan yang harus
dijalani hingga berakhirnya kehidupan di dunia, yang kemudian memasuki fase
kehidupan lain yaitu alam barzakh dan akherat.
Yang perlu
diketahui bukan hanya kapan seseorang lahir dan kapan pula dia meninggal, tapi
yang lebih penting dari itu adalah apa yang
dilakukannya sejak lahir hingga meninggalnya, karena semuanya itu kelak
akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, wallahu a’lam,
[Cubadak Solok, 18 Zulhijjah 1432.H/ 14 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar