Rabu, 10 Februari 2016

190. Keramat



Islam mengajarkan kepada kita agar ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah, jangan menserikatkan-Nya dengan apapun, do'a yang dipanjatkan lansung kepada-Nya tanpa perantara dengan siapapun, apakah orang shaleh, orang pintar ataupun dukun dan masjid digunakan untuk aktivitas ritual dan keumatan, sedangkan kuburan tempat bersemayamnya orang-orang yang sudah meninggal bukan tempat yang dikeramatkan, bukan tempat ibadah dan bukan pula tempat meminta, dan tidak pula tempat memohon do'a;
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”[Al Baqarah 2;186]

Manusia adalah makhluk yang dhaif [lemah] yang membutuhkan kekuatan diluar kekuatan yang dimilikinya yaitu kekuatan Ilahi yang kita kenal dengan do’a. Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan lain-lain.

Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Landasan dan tali yang dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang dapat mengabulkan do’a kecuali Allah”

Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkala ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah,  ragu-ragu dan sebagainya.

Ketika al-Hasan bin al-Hasan bin Ali meninggal dunia, istrinya membuat kubah di atas kuburnya selama satu tahun, kemudian dibongkar. Lalu, mereka mendengar seseorang berteriak, "Apakah mereka tidak menjumpai apa yang hilang itu?" Kemudian ada orang lain yang menjawab, "Bahkan mereka sudah putus asa, kemudian kembali". Sebuah tuntutan agar kuburan tidak disalah fungsikan menjadi sesuatu tempat yang dikeramatkan.Nabipun tidak membenarkan kalau kuburan dijadikan tempat yang tidak pada tempatnya walaupun nampaknya baik dan bernuansa ibadah.

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau: "Mereka itu, apabila ada orang yang shaleh --atau seorang hamba yang shaleh-- meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jeleknya makhluk di hadapan Allah."

Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan panas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda: "Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah." 

Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah. 

Muslim meriwayatkan dari Jundab bin 'Abdullah, katanya: "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lima hari sebelum wafatnya bersabda:
"Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu."

Rasulullah menjelang akhir hayatnya --sebagaimana dalam hadits Jundab-- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya --sebagaimana dalam hadits 'Aisyah-- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah; dan inilah maksud dari kata-kata 'Aisyah: "... dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah", karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam: "Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci." (HR Al-Bukhari dan Muslim) 

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu' dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah." (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim).[Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Sikap Keras Rasulullah Terhadap Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Sisi Kuburan Orang Shaleh; Maka, Bagaimana Jika Orang Shaleh Itu Disembah, Assunnah ML Online07 May 2001]

            Bila kuburan sudah dijadikan sebagai masjid, maka banyaklah hal-hal yang tidak sesusai dengan ajaran islam dilakukan disana diantaranya pengkultusan terhadap yang meninggal, memuja dan meminta sesuatu kepada si mayat, hal itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani, Aisyah r.a. berkata, "Ketika Nabi sakit (yakni yang menyebabkan kematian beliau), ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah.Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan beberapa lukisan (patung) yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, "(Sesungguhnya  mereka itu, jika ada orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai lukisan dalam masjid itu.Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat].

Kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan, disetiap kuburan orang-orang shaleh, orang-orang yang dianggap berjasa terhadap pengembangan agama ini apalagi dianggap wali Allah maka kubur mereka dijadikan tempat memanjatkan doa, tempat membaca Al Qur'an, tempat bernazar dan dijadikan sebagai wasilah [perantara] untuk menyampaikan maksud dari peziarah sehingga ziarah kubur yang dibolehkan dalam rangka untuk zikrul maut [mengingat kematian] jadi arena ritual syirik yang tidak dibenarkan dalam agama tauhid ini, tidak beda dengan orang-orang jahiliyyah ketika mereka menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa hal itu bukanlah bentuk penyembahan tapi sebagai perantara semata.

Ini adalah kepercayaan yang tidak diajarkan dalam islam  walaupun nampaknya kegiatan ini islami yaitu mengadakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan anggapan manusia adalah makhluk yang penuh dengan dosa dan kesalahan sehingga tidak pantas beribadah lansung kepada Allah karena tidak akan diterima ibadahnya itu oleh Allah. Seperti berwasilah kepada arwah orang yang dianggap shaleh sehingga mendatangi kuburannya untuk menyampaikan hal itu. Bahkan ada yang menjadikan benda sebagai wasilah seperti batu besar, gunung-gunung dan pohon-pohon besar. Segala bentuk wasilah apapun alasannya maka itu adalah syirik sebagaimana Allah berfirman dalam surat Az Zumar 39;3; "Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar".

                Kepercayaan kepada Allah bagi sebagian ummat islam masih dibungkus dengan tradisi syirik yang merusak iman dan mencemari  tauhid, kepercayaan kepada keramatnya kuburan menjadikan mereka setiap waktu datang ke kubur bukan untuk berziarah untuk zikrul maut atau mendoakan keselamatan penghuni  kubur, tapi  mereka meminta sesuatu kepada orang-orang tertentu yang sudah meninggal dunia.  Fenomena lain nampak ketika mereka menjadikan sesuatu yang dikeramatkan seperti keris, tombak dan lain-lainnya yang dianggap punya kekuatan magis.

Sebuah tradisi yang selalu dilakukan setiap tahun oleh ummat Islam adalah merayakan serta memperingati hari-hari besar Islam seperti  kelahiran Nabi Muhammad Saw, Muharam dan  Isra' Mi'raj,  walaupun sebenarnya bukanlah suatu kewajiban yang disyariatkan, tapi nampaknya dipaksakan untuk dilaksanakan peringatan itu sejak dari ujung desa yang jauh dari keramaian hingga dilaksanakan di kota-kota.

Khusus maulid nabi di Indonesia selalu diadakan acara  dengan beberapa nama sesuai dengan  tempatnya seperti di Solo disebut dengan “Sekaten”, di Cirebon dengan istilah “Mauludan”, “Nyangku” bagi orang Ciamis. Dalam menyambutnya diadakan pula beberapa kegiatan sejak dari desa dengan surau yang sederhana sampai istana negara.

            Pada daerah Keraton tepatnya Yogyakarta dan keraton lainnya, dalam upacara mengarak dan membersihkan barang-barang kuno seperti keris, tombak, pedang dan lain-lain, bekas cucian airnya digunakan untuk ajimat, disimpan serta ada pula yang diteteskan di kebun agar tanaman hidup dengan subur dan berbuat lebat. Pada waktu memperingati tanggal 1 Muharam yang disebut dengan satu Syuro pada setiap Keraton semarak diadakan acara yang mengundang magis atau mistik, diantaranya mengarak kerbau putih sepanjang perjalanan karena diyakini bahwa tokoh keraton itu keturunan kerbau.

            Selain itu, benda-benda pusaka peninggalan para raja yang disimpan sekian tahun dijadikan benda-benda keramat, hanya dikeluarkan ketika tanggal 1 Muharam itu, dikeluarkan dari tempat, dicuci dengan ritual tertentu kemudian diarak ke sekeliling kota, air yang digunakan untuk mencuci, diyakini dapat mendatangkan berkah bagi siapa saja yang menggunakan untuk kehidupan, apalagi mereka yang dapat memiliki dan menyimpan benda-benda pusaka itu, diyakini akan mendapat keberuntungan dalam seluruh kehidupan yang dilaluinya, tabarruk atau berkahlah yang mereka harapkan dari semua itu dan tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah.

Tabarruk  artinya mengharapkan kebaikan Ilahi dari sesuatu yang dianggap atau diyakini mempunyai  berkah. Hal ini diungkapkan pada pohon, batu, atau tempat-tempat tertentu yang mempunyai sesuatu yang luar biasa. Tentang hal itu dikupas tuntas olehSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab;

Firman Allah Ta'ala:"Katakan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (kedua berhala yang kamu anggap anak-anak perempuan Allah) Al-Lat dan Al-'Uzza; dan yang lain, yang ketiga yaitu: Manat. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal sesungguhnya telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka." (An-Najm: 19-23)
Al-Lat, Al-'Uzza dan Manat adalah nama berhala-berhala yang dipuja orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya sebagai anak-anak perempuan Allah.

Abu Waqid Al-Laitsi menuturkan:"Suatu saat kami pergi keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Hunain, sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzat Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata: "Ya Rasulullah buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka itu mempunya Dzat Anwath. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allahu Akbar. Itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Allah yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, kamu benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa (buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan, Musa menjawab: Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengerti). Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu." (HR At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih) 

Kandungan ayat dan hadits diatas adalah :
  1. Tafsiran ayat dari surah An-Najm, dalam ayat ini Allah menyangkal tindakan kaum musyrikin yang tidak rasional, karena mereka menyembah ketiga berhala tersebut yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat menolakkan suatu madharat. Dan Allah mencela tindakan dzalim mereka dengan memilih untuk diri mereka jenis yang baik dan memberikan untuk Allah jenis yang buruk dalam anggapan mereka. Tindakan mereka itu semua hanyalah berdasarkan sangkaan-sangkaan dan hawa nafsu, tidak berdasarkan sama sekali pada tuntunan para rasul yang mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah sedikitpun kepada selain-Nya.
  2. Mengetahui bentuk permintaan mereka. Yaitu mereka meminta dibuatkan Dzat Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin, untuk diharapkan berkahnya.
  3. Bahwa mereka belum melakukan apa yang mereka minta itu.
  4. Dan maksud mereka dengan permintaan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyenanginya.
  5. Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.
  6. Mereka memiliki kabaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.
  7. Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menerima alasan mereka. Bahkan beliau menyangkal mereka dengan bersabda: "Allahu Akbar. Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu. Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu." Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.
  8. Permasalahan penting, dan inilah yang dimaksud, yaitu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahu bahwa permintaan mereka itu seperti permintaan Bani Israil tatkala mereka berkata kepada Musa: "Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sembahan-sembahan."
  9. Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk diantara pengertian "Laa ilaha illa Allah" yang sebenarnya. Dan ini belum dimengerti dan dipahami oleh mereka yang baru masuk Islam itu.
  10. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk suatu maslahat.
  11. Bahwa syirik ada yang akbar dan ada pula yang ashghar, karena mereka tidak menjadi murtad dengan permintaan mereka itu.
  12. Kata-kata Abu Waqid Al-Laitsi: "...sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam)..." menunjukkan bahwa para sahabat selain mereka, mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.
  13. Bertakbir ketika merasa heran atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menyatakannya makruh.
  14. Harus ditutup segala pintu menuju perbuatan syirik.
  15. Dilarang meniru atau melakukan sesuatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah.
  16. Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.
  17. Kaidah umum, bahwa diantara umat ini ada yang melakukan perbuatan syirik dan mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya; berdasarkan sabda beliau: "Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu..." dst.
  18. Ini adalah salah satu dari tanda kenabian, karena terjadi sebagaimana yang beliau beritakan.
  19. Celaan yang ditujukan Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam Al-Qur'an, berlaku pula untuk kita.
  20. Menurut mereka (para sahabat) sudah menjadi ketentuan bahwa amalan-amalan ibadah harus berdasarkan pada perintah Allah (bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri). Dengan demikian, hadits tersebut di atas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia dialam kubur. Adapun: "Siapakah Tuhan-mu?", sudah jelas; sedangkan "Siapakah Nabi-mu?" berdasarkan keterangan masalah-masalah ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan "Apa agamamu?" berdasarkan pada ucapan mereka: "Buatkanlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sembahan-sembahan..." dst.
  21. Tradisi ahli kitab itu tercela, seperti halnya tradisi kaum musyrikin.
  22. Bahwa orang yang baru saja pindah dari tradisi bathil yang sudah menjadi kebiasaan dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut; sebagai buktinya mereka mengatakan: "...sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam)." Dan mereka pun belum terlepas dari tradisi-tradisi kafir, karena kenyataannya mereka minta dibuatkan Dzat Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin. [Mereka Yang Mengharapkan Berkah Kepada Pohon, Batu dan Sejenisnya, Assunnah ML Online, 04 December 2000].
Begitu besarnya tradisi dan budaya masa lalu ummat ini, semuanya berangkat dari pengaruh ajaran asing, apakah tradisi local atau faham sesat yang disebarkan, seharusnya seseorang yang  masuk ke dalam islam melepaskan segala atribut tradisi dan adat yang tidak sejalan dengan islam, pencampuradukan islam dengan yang lain akan terjadi penyesatan, syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul, seharusnya kita masuk kedalam islam ini dengan menampakkan segala-gala nilai yang tidak islami, maka barulah kita hidup dalam islam secara kaffah, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 16 Agustus 2011.M/ 16 Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar