Islam mengajarkan kepada kita
agar ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah, jangan
menserikatkan-Nya dengan apapun, do'a yang dipanjatkan lansung kepada-Nya tanpa
perantara dengan siapapun, apakah orang shaleh, orang pintar ataupun dukun dan
masjid digunakan untuk aktivitas ritual dan keumatan, sedangkan kuburan tempat
bersemayamnya orang-orang yang sudah meninggal bukan tempat yang dikeramatkan,
bukan tempat ibadah dan bukan pula tempat meminta, dan tidak pula tempat
memohon do'a;
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”[Al Baqarah 2;186]
Manusia adalah makhluk yang dhaif [lemah] yang
membutuhkan kekuatan diluar kekuatan yang dimilikinya yaitu kekuatan Ilahi yang
kita kenal dengan do’a. Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata
do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan
lain-lain.
Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan
mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Landasan dan tali yang
dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari
ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang
dapat mengabulkan do’a kecuali Allah”
Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan
manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkala ditimpa kesusahan, kesulitan
dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi
penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya.
Ketika al-Hasan bin al-Hasan bin
Ali meninggal dunia, istrinya membuat kubah di atas kuburnya selama satu tahun,
kemudian dibongkar. Lalu, mereka mendengar seseorang berteriak, "Apakah
mereka tidak menjumpai apa yang hilang itu?" Kemudian ada orang lain yang
menjawab, "Bahkan mereka sudah putus asa, kemudian kembali". Sebuah
tuntutan agar kuburan tidak disalah fungsikan menjadi sesuatu tempat yang
dikeramatkan.Nabipun tidak membenarkan kalau kuburan dijadikan tempat yang
tidak pada tempatnya walaupun nampaknya baik dan bernuansa ibadah.
Diriwayatkan
dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha
bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang
dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau: "Mereka itu, apabila ada orang yang
shaleh --atau seorang hamba yang shaleh-- meninggal, mereka bangun di atas
kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka.
Mereka itulah sejelek-jeleknya makhluk di hadapan Allah."
Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena
melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat
ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka. Al-Bukhari dan Muslim
meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Tatkala
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau
pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu
tatkala terasa menyesakkan panas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah,
beliau bersabda: "Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi
dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat
ibadah."
Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan
seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya
saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.
Muslim meriwayatkan dari Jundab bin 'Abdullah, katanya:
"Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lima hari sebelum
wafatnya bersabda:
"Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan
menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara
kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil;
seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku
akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa
sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka
sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan
sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan
itu."
Rasulullah menjelang akhir hayatnya --sebagaimana dalam
hadits Jundab-- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat
ibadah.Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya --sebagaimana
dalam hadits 'Aisyah-- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu.
Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan
sebagai tempat ibadah; dan inilah maksud dari kata-kata 'Aisyah: "...
dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah", karena para sahabat
belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau,
padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu
berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan
untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa
sallam: "Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
sallam: "Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu' dengan
sanad jayyid, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu:
"Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih
hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai
tempat ibadah." (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu
Hatim).[Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Sikap Keras
Rasulullah Terhadap Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Sisi Kuburan Orang
Shaleh; Maka, Bagaimana Jika Orang Shaleh Itu Disembah, Assunnah ML Online07 May 2001]
Bila kuburan sudah dijadikan
sebagai masjid, maka banyaklah hal-hal yang tidak sesusai dengan ajaran islam
dilakukan disana diantaranya pengkultusan terhadap yang meninggal, memuja dan
meminta sesuatu kepada si mayat, hal itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang
dilakukan oleh orang-orang nasrani, Aisyah r.a. berkata, "Ketika Nabi
sakit (yakni yang menyebabkan kematian beliau), ada sebagian di antara istri
beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri
Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah
datang ke negeri Habasyah.Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan
beberapa lukisan (patung) yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu,
beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, "(Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang yang saleh di
antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas
kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai lukisan dalam masjid itu.Mereka itu
adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat].
Kekhawatiran itu akhirnya menjadi
kenyataan, disetiap kuburan orang-orang shaleh, orang-orang yang dianggap
berjasa terhadap pengembangan agama ini apalagi dianggap wali Allah maka kubur
mereka dijadikan tempat memanjatkan doa, tempat membaca Al Qur'an, tempat
bernazar dan dijadikan sebagai wasilah [perantara] untuk menyampaikan maksud
dari peziarah sehingga ziarah kubur yang dibolehkan dalam rangka untuk zikrul
maut [mengingat kematian] jadi arena ritual syirik yang tidak dibenarkan dalam
agama tauhid ini, tidak beda dengan orang-orang jahiliyyah ketika mereka
menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa hal itu bukanlah bentuk penyembahan
tapi sebagai perantara semata.
Ini adalah
kepercayaan yang tidak diajarkan dalam islam
walaupun nampaknya kegiatan ini islami yaitu mengadakan perantara untuk
mendekatkan diri kepada Allah dengan anggapan manusia adalah makhluk yang penuh
dengan dosa dan kesalahan sehingga tidak pantas beribadah lansung kepada Allah
karena tidak akan diterima ibadahnya itu oleh Allah. Seperti berwasilah kepada
arwah orang yang dianggap shaleh sehingga mendatangi kuburannya untuk
menyampaikan hal itu. Bahkan ada yang menjadikan benda sebagai wasilah seperti
batu besar, gunung-gunung dan pohon-pohon besar. Segala bentuk wasilah apapun
alasannya maka itu adalah syirik sebagaimana Allah berfirman dalam surat Az Zumar
39;3; "Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari
syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan
di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah
tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar".
Kepercayaan kepada Allah bagi sebagian ummat islam masih dibungkus dengan
tradisi syirik yang merusak iman dan mencemari
tauhid, kepercayaan kepada keramatnya kuburan menjadikan mereka setiap
waktu datang ke kubur bukan untuk berziarah untuk zikrul maut atau mendoakan
keselamatan penghuni kubur, tapi mereka meminta sesuatu kepada orang-orang
tertentu yang sudah meninggal dunia. Fenomena
lain nampak ketika mereka menjadikan sesuatu yang dikeramatkan seperti keris,
tombak dan lain-lainnya yang dianggap punya kekuatan magis.
Sebuah tradisi
yang selalu dilakukan setiap tahun oleh ummat Islam adalah merayakan serta
memperingati hari-hari besar Islam seperti
kelahiran Nabi Muhammad Saw, Muharam dan
Isra' Mi'raj, walaupun sebenarnya
bukanlah suatu kewajiban yang disyariatkan, tapi nampaknya dipaksakan untuk
dilaksanakan peringatan itu sejak dari ujung desa yang jauh dari keramaian
hingga dilaksanakan di kota-kota.
Khusus
maulid nabi di Indonesia selalu diadakan acara
dengan beberapa nama sesuai dengan
tempatnya seperti di Solo disebut dengan “Sekaten”, di Cirebon dengan
istilah “Mauludan”, “Nyangku” bagi orang Ciamis. Dalam menyambutnya diadakan pula beberapa kegiatan sejak dari desa dengan
surau yang sederhana sampai istana negara.
Pada daerah Keraton
tepatnya Yogyakarta dan keraton lainnya, dalam upacara mengarak dan membersihkan
barang-barang kuno seperti keris, tombak, pedang dan lain-lain, bekas cucian
airnya digunakan untuk ajimat, disimpan serta ada pula yang diteteskan di kebun
agar tanaman hidup dengan subur dan berbuat lebat. Pada waktu memperingati
tanggal 1 Muharam yang disebut dengan satu Syuro pada setiap Keraton semarak
diadakan acara yang mengundang magis atau mistik, diantaranya mengarak kerbau
putih sepanjang perjalanan karena diyakini bahwa tokoh keraton itu keturunan
kerbau.
Selain itu, benda-benda pusaka
peninggalan para raja yang disimpan sekian tahun dijadikan benda-benda keramat,
hanya dikeluarkan ketika tanggal 1 Muharam itu, dikeluarkan dari tempat, dicuci
dengan ritual tertentu kemudian diarak ke sekeliling kota, air yang digunakan
untuk mencuci, diyakini dapat mendatangkan berkah bagi siapa saja yang
menggunakan untuk kehidupan, apalagi mereka yang dapat memiliki dan menyimpan
benda-benda pusaka itu, diyakini akan mendapat keberuntungan dalam seluruh
kehidupan yang dilaluinya, tabarruk atau berkahlah yang mereka harapkan dari
semua itu dan tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah.
Tabarruk artinya mengharapkan kebaikan Ilahi dari
sesuatu yang dianggap atau diyakini mempunyai
berkah. Hal ini diungkapkan pada pohon, batu, atau tempat-tempat
tertentu yang mempunyai sesuatu yang luar biasa. Tentang hal itu dikupas tuntas
olehSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab;
Firman
Allah Ta'ala:"Katakan kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang
(kedua berhala yang kamu anggap anak-anak perempuan Allah) Al-Lat dan Al-'Uzza;
dan yang lain, yang ketiga yaitu: Manat. Apakah (patut) untuk kamu
(anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah
suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang
diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu
keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal
sesungguhnya telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka."
(An-Najm: 19-23)
Al-Lat, Al-'Uzza dan Manat adalah nama
berhala-berhala yang dipuja orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya sebagai
anak-anak perempuan Allah.
Abu Waqid Al-Laitsi menuturkan:"Suatu saat kami pergi
keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Hunain,
sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika
itu orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzat
Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata
perang mereka pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami
pun berkata: "Ya Rasulullah buatkanlah untuk kami Dzat Anwath
sebagaimana mereka itu mempunya Dzat Anwath. Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Allahu Akbar. Itulah tradisi (orang-orang
sebelum kamu). Dan demi Allah yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, kamu
benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani
Israil kepada Musa (buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu
mempunyai sesembahan-sesembahan, Musa menjawab: Sungguh, kamu adalah kaum yang
tidak mengerti). Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum
kamu." (HR At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih)
Kandungan
ayat dan hadits diatas adalah :
- Tafsiran ayat dari surah An-Najm, dalam ayat ini Allah menyangkal tindakan kaum musyrikin yang tidak rasional, karena mereka menyembah ketiga berhala tersebut yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat menolakkan suatu madharat. Dan Allah mencela tindakan dzalim mereka dengan memilih untuk diri mereka jenis yang baik dan memberikan untuk Allah jenis yang buruk dalam anggapan mereka. Tindakan mereka itu semua hanyalah berdasarkan sangkaan-sangkaan dan hawa nafsu, tidak berdasarkan sama sekali pada tuntunan para rasul yang mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah sedikitpun kepada selain-Nya.
- Mengetahui bentuk permintaan mereka. Yaitu mereka meminta dibuatkan Dzat Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin, untuk diharapkan berkahnya.
- Bahwa mereka belum melakukan apa yang mereka minta itu.
- Dan maksud mereka dengan permintaan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyenanginya.
- Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi.
- Mereka memiliki kabaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka.
- Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menerima alasan mereka. Bahkan beliau menyangkal mereka dengan bersabda: "Allahu Akbar. Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu. Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu." Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini.
- Permasalahan penting, dan inilah yang dimaksud, yaitu: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahu bahwa permintaan mereka itu seperti permintaan Bani Israil tatkala mereka berkata kepada Musa: "Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sembahan-sembahan."
- Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk diantara pengertian "Laa ilaha illa Allah" yang sebenarnya. Dan ini belum dimengerti dan dipahami oleh mereka yang baru masuk Islam itu.
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk suatu maslahat.
- Bahwa syirik ada yang akbar dan ada pula yang ashghar, karena mereka tidak menjadi murtad dengan permintaan mereka itu.
- Kata-kata Abu Waqid Al-Laitsi: "...sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam)..." menunjukkan bahwa para sahabat selain mereka, mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik.
- Bertakbir ketika merasa heran atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menyatakannya makruh.
- Harus ditutup segala pintu menuju perbuatan syirik.
- Dilarang meniru atau melakukan sesuatu perbuatan yang menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyah.
- Boleh marah ketika menyampaikan pelajaran.
- Kaidah umum, bahwa diantara umat ini ada yang melakukan perbuatan syirik dan mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya; berdasarkan sabda beliau: "Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu..." dst.
- Ini adalah salah satu dari tanda kenabian, karena terjadi sebagaimana yang beliau beritakan.
- Celaan yang ditujukan Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam Al-Qur'an, berlaku pula untuk kita.
- Menurut mereka (para sahabat) sudah menjadi ketentuan bahwa amalan-amalan ibadah harus berdasarkan pada perintah Allah (bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri). Dengan demikian, hadits tersebut di atas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia dialam kubur. Adapun: "Siapakah Tuhan-mu?", sudah jelas; sedangkan "Siapakah Nabi-mu?" berdasarkan keterangan masalah-masalah ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan "Apa agamamu?" berdasarkan pada ucapan mereka: "Buatkanlah untuk kami sembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sembahan-sembahan..." dst.
- Tradisi ahli kitab itu tercela, seperti halnya tradisi kaum musyrikin.
- Bahwa orang yang baru saja pindah dari tradisi bathil yang sudah menjadi kebiasaan dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut; sebagai buktinya mereka mengatakan: "...sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam)." Dan mereka pun belum terlepas dari tradisi-tradisi kafir, karena kenyataannya mereka minta dibuatkan Dzat Anwath sebagaimana yang dipunyai oleh kaum musyrikin. [Mereka Yang Mengharapkan Berkah Kepada Pohon, Batu dan Sejenisnya, Assunnah ML Online, 04 December 2000].
Begitu besarnya tradisi dan budaya masa lalu ummat ini, semuanya berangkat
dari pengaruh ajaran asing, apakah tradisi local atau faham sesat yang
disebarkan, seharusnya seseorang yang
masuk ke dalam islam melepaskan segala atribut tradisi dan adat yang
tidak sejalan dengan islam, pencampuradukan islam dengan yang lain akan terjadi
penyesatan, syirik, bid’ah, kurafat dan tahyul, seharusnya kita masuk kedalam
islam ini dengan menampakkan segala-gala nilai yang tidak islami, maka barulah
kita hidup dalam islam secara kaffah, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar
12082011 di Metro Lampung, 16 Agustus 2011.M/ 16 Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar