Rabu, 10 Februari 2016

184. Konsumerisme



Tidak ada manusia yang mau hidup sengsara, miskin dan menderita walaupun kondisi itu dialami oleh sebagian besar manusia, semuanya berkeinginan agar hidup kaya raya, punya fasilitas yang memadai sehingga semboyan hidup orang kaya yang pernah disampaikan dalam dakwah KH Zainudin MZ berbunyi, punya uang berlipat-lipat, punya mobil yang mengkilat, ada rumah bertingkat, punya isteri cantik memikat kadangkala jumlahnya sampai empat. Begitu kesenangan hidup yang diandalkan oleh manusia, rasanya semua isi dunia ini akan dimiliki dengan harta yang ada.

Sesungguhnya secara sadar tidak sadar, kita telah menjadi hamba selain Allah SWT.Mau tidak mau kita sudah termasuk orang yang menuhankan tuhan selain Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Esa, Allah SWT. Yang kita tuhankan ini bisa  juga disebut berhala modern. Sehingga kita seringkali terjerumus dan terjatuh dalam penghambaan kepadanya.Secara tidak sadar dan sadar, kita telah menyembahnya, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada tuhan ini.Kita rela melakukan apapun demi tuhan yang tidak layak kita sembah ini.

Materi dan duniawi beserta segala macam isinya seperti popularitas, wibawa, jabatan, dan lain sebagainya.Itu semua adalah tuhan yang kita sembah selain Allah SWT. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah hamba-hamba dinar, dirham, dan kain beludru.Jika diberi ia rela dan jika tidak diberi ia tidak rela”. (H.R Bukhari).

Imam Shon’ani dalam Subulu as Salam syarah Bulughu al-Maram menjelaskan.Bahwasanya yang dimaksud dengan hamba dinar dan dirham adalah orang yang menghambakan dirinya kepada duniawi. Ketika ia mencari dunia seolah ia adalah hamba dari dunia itu dan dunia adalah sang raja-nya. Serta ia telah benar-benar tenggelam kepada syahwat duniawinya.

Beliau juga menambahkan.Bahawasanya yang tercela dari dunia adalah ketika seorang hamba telah menenggelamkan dan menyibukan dirinya untuk dunia. Sehingga ia melupakan kewajibannnya kepada Allah SWT. Dzat yang lebih berhak diutamakan dari apapun dan siapapun.[Agustiar Nur Akbar,Hamba Duniawi,Republika.co.id.Sabtu, 02 Juli 2011 12:11 WIB].

Rasulullah saw. bersabda, “Aku tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia (lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu.” (HR. Ahmad)
Begitulah Rasulullah saw. memperingatkan umatnya. Beliau menyampaikan kekhawatirannya tentang nasib umatnya sepeninggal beliau. Ternyata beliau tidak lebih khawatir dengan ujian dalam bentuk kenestapaan, kemiskinan, kekurangan dana. Yang lebih beliau khawatirkan justru manakala umat Islam diuji dengan sukses duniawi.Memang, kita sering kali kurang sadar bahwa sesungguhnya kebahagian, keberuntungan, keberhasilan, dan segala kebaikan adalah ujian dari Allah swt.Acapkali kita sadar sedang diuji manakala ujian yang datang berupa kenestapaan dan kepedihan.Padahal Allah swt.menegaskan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. Al-Anbiya (21): 35]
Pejuang yang sukses bukanlah pejuang yang hanya bertahan dan istiqamah di saat mendapat terpaan badai dan hantaman ombak.Pejuang yang sukses adalah juga mampu istiqamah di saat mendapat tiupan angin sepoi-sepoi dan kucuran madu.Ada banyak perilaku buruk yang mungkin muncul saat datang ujian yang membahagiakan. [Tate Qomaruddin, Lc.,Mewaspadai Fitnah Harta ,eramuslim.com.15/10/2007 | 04 Syawal 1428 H]
Diantara prilaku buruk dikala sudah mendapatkan dunia berupa harta adalah hidup bergelimang dengan kemewahan, menghamburkan uang dengan berfoya-foya, hedonisme mencari kesenangan hidup melalui kegiatan yang melalaikan, konsumerisme yaitu memiliki barang-barang diluar kebutuhannya, suka belanja dan menghambur-hamburkan penghasilan secara berlebih-berlebihan, semua apa yang ada dirumah tetangga terasa lebih pantas ada di rumah kita. Apalagi datangnya hari raya dan tahun baru, serasa semua harta ingin dihabiskan untuk membelanjakan semua barang yang dijajakan penjual pada semua Toko dan Mal.

Di satu pihak, sindrom hari raya memunculkan keinginan kuat untuk merayakannya dengan penghamburan uang, sekaligus menyalurkan sifat hedonis.Hal ini juga merupakan ajang dan momen unjuk kemampuan dan kekayaan. Di lain pihak, ada sesuatu yang melekat pada akar pasar dunia kapitalis yang merupakan kekeliruan teologis, bahwa pasar sedang menciptakan “pendewaan” terhadap kebendaan, yaitu suatu pemujaan “berhala baru” terhadap komoditas.

Dalam Consumer Culture and Postmodernism, Theory, Culture and Society (1991), Mike Featherstone memberikan tiga pendekatan utama dalam menganalisis budaya konsumtif dan fenomena konsumerisme.

Pertama, budaya konsumtif sebagai luapan hasrat terpendam dari warga masyarakat yang kelebihan uang dan waktu.Kedua, budaya konsumtif adalah anak kandung dari perluasan produksi komoditas kapitalis dalam bentuk barang-barang konsumsi.Situs-situs pembayaran dan konsumsi, mal, supermarket, serta pasar modern merupakan contoh yang nyata.Ketiga, budaya konsumtif merupakan sebuah gejala sosiologis dimana kegiatan konsumsi merupakan akibat dari ekspresi status sosial dalam masyarakat.

Terjebaknya masyarakat dalam budaya konsumtif merupakan akibat perubahan fokus perhatian kapitalisme dari manajemen produksi ke manajemen konsumsi.Yang terjadi adalah perubahan relasi, yakni dari relasi dengan manusia berubah menjadi relasi dengan benda.Promosi dan iklan menjadi media utama yang harus diikuti konsumen, bahkan merupakan instrumen pokok dari manipulasi ideologi dan kesadaran manusia.

Dalam kondisi masyarakat semacam itu, kebebasan diartikan sebagai logika kebebasan dalam memilih produk-produk industri yang glamour, dan hampa dari nilai-nilai hidup ajaran agama. Moral yang muncul di sini adalah gaya hidup hedonis yang mengedepankan kesenangan pribadi, sehingga tidak memedulikan lagi norma-norma dan relasi sosial dengan warga masyarakat di sekelilingnya.[Dinda Lina,Budaya Konsumtif dan Kemiskinan, Harianpelita.com.Minggu 16 Januari 2011 | 23:34].

Ketika keinginan untuk memiliki semua yang ada itu muncul maka saat itu manusia sudah menjadikan harta, kekayaan bahkan dunia ini jadi tuhannya, dia rela mengorban apa saja demi semua itu, dia siap diperbudak dunia dengan meninggalkan segala kekangan dari Allah SWT, kehidupan bebas tenggelam dalam pemujaan terhadap dunia, dia sudah menjadikan dirinya sebagai hamba dari dunia ini tanpa memikirkan hal lain.

Ada beberapa sebab kenapa kita hidup dalam gelimang konsumerisme, boros dan mubazir terhadap harta, paling tidak ada dua penyebabnya yaitu;

1.Tidak ada perencanaan

           Salah satu yang dapat kita lakukan untuk menghindari perilaku boros ini adalah dengan membuat perencanaan keuangan.Subhanallaah, sebuah rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga dapat mengadakan antisipasi terhadap kekurangan cash flow keuangan keluarga. Bahkan anak-anak pun sudah dapat dilatih sedari kecil dengan cara uang jajannya diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dalam hal ini akan sangat membantu dalam program penghematan.

            Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang matang dalam segala hal.Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam penghematan ini.Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat membantu dalam hal efisiensi.

2.Diperbuak Nafsu
            Sesungguhnya pemboros sejati adalah orang-orang yang memang pecinta duniawi ini, yang mengutamakan topeng ingin dipuji dan dihormati orang lain, yang bersikukuh menjaga gengsi, yang ingin serba enak dengan kemewahan, yang larut sebagai korban mode atau korban jaman, yang pada ujungnya penyebabnya adalah kurang iman akibat kurang pengetahuan tentang hakekat hidup mulia yang sebenarnya.
            Memang menyedihkan kehidupan yang selalu diukur dengan ukuran materi dengan badai informasi lewat media cetak maupun elektronik lewat film, sinetron, lagu, iklan, dan lain-lain, mempertontonkan kehidupan mewah, glamour, membuat banyak orang yang hidup tidak realistis seakan jauh lebih besar pasak daripada tiang, dan semua ini juga menjadi biang keresahan dan kesengsaraan batin juga menjadi biang terjadinya tindakan ketidakjujuran/kejahatan, karena untuk mendapatkan obsesinya tersebut akan menghalalkan segala cara.

            Tukang jaga gengsi, kasihan benar orang yang sangat menjaga gengsi takut tertinggal oleh orang lain, dia akan pontang-panting untuk memiliki sesuatu agar gengsinya dianggap tetap terjaga, walaupun harus pinjam sana-pinjam sini tentu saja barang yang dimilikinya tak akan membahagiakannya karena taruhan untuk memilikinya sesungguhnya diluar kemampuannya.

            Korban mode ini pun selain pemboros juga menderita, karena selalu ingin tampil up to date bermode sesuai dengan jaman, tentu akan repot karena mode terus menerus berubah pasti akan sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya, dan yang paling meyedihkan paling sering seseorang merasa keren sesuai dengan mode padahal yang melihatnya menjadi sangat geli bahkan mengasihani, karena selain seringkali mode itu tak sesuai/tak pantas, orang lain juga sudah tahu modal yang sebenarnya.

            Si Sombong, kalau si Sombong tak pernah tahan melihat orang lain melebihi keadaannya, sehingga yang terus ada dalam benak pikirannya adalah bagaimana selalu kelihatan lebih dari orang lain dalam hal apapun, makanya dia begitu menderita melihat kesuksesan, kekayaan, dan kemajuan orang lain, maka akan berjuang mati-matian dengan cara apapun agar selalu tampak lebih bagus, lebih moderen, lebih kaya, lebih elit, dia sudah tak perhitungkan lagi biaya yang keluar dan dari mana asalnya yang penting lebih dari orang lain.

            Si Riya, alias tukang pamer, kalau si Riya ini persis mirip etalase sibuk ingin memiliki sesuatu yang diharapkan membuat dirinya diketahui kekayaanya, statusnya, dan lain sebagainya, tentu saja ia akan berusaha pamer pakai barang luar negeri, ekslusif, lain dari yang lain, yaa sebetulnya mirip satu sama lain, fokus dari pikirannya adalah bagaimana supaya dinilai hebat oleh orang lain setidaknya tidak diremehkan.

            Dalam beberapa hal menjaga kemuliaan diri ini adalah kebaikan, tapi kalau sampai menyiksa diri, melampaui batas kemmpuan apalagi sampai melanggar hak-hak orang lain termasuk yang diharapkan, maka jelaslah kerugian dunia akhiratnya.(Disarikan dari tulisan yang berjudul; Penyebab Boros, Koran Kecil MQ EDISI 12, 13, 14, 15/TH.I/2001)

Islam menggalakkan kepada ummatnya agar hidup sederhana dalam segala hal agar hidup selamat, baik di dunia maupun di akherat. Allah sangat mencela kepada orang yang tabzir atau boros dalam menggunakan harta, waktu dan kesehatannya;" Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya" [Al Isra’ 17;27].

Khusus tentang harta bagaimana seorang mukmin dapat mengalokasikan hartanya memakai skala prioritas, tidak semua harus kita beli dan miliki, masih banyak keperluan lain yang membutuhkan biaya tidak  sedikit,
bentuk lain dari tabzir adalah  mengeluarkan dana untuk konsumsi rokok, bagi perokok yang menghabiskan dana sekian ribu dalam sehari semalam selain tidak baik bagi kesehatan juga telah menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak ada manfaatnya bahkan banyak mudharatnya.

            Termasuk tabzir adalah biaya pesta yang berlebih-lebihan dengan alokasi dana yang tidak pada tempatnya, hanya sebatas untuk menyenangkan tamu saja seperti  harus mengundang penyanyi dan alat musik, walimah atau pesta pernikahan adalah acara yang sakral kenapa harus dihiasi dengan hal-hal yang tidak disukai Allah.

            Membeli sesuatu yang belum/tidak perlu untuk dimiliki saat sekarang, hanya karena melihat tetangga atau pengaruh iklan yang menggiurkan sehingga harus hutang kian kemari hanya untuk memenuhi status sosial agar sederajat dengan tetangga, Dan piknik yang berketerusan. Resiko pelesiran ialah dana demi mendapatkan kesenangan sesaat, sebenarnya jiwa kita perlu refresing untuk menyegarkan perasaan, tapi bila refreshing sering dilakukan selain mubazir waktu dan tenaga juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Allah berfirman;"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros"[Al Isra’ 17;26].

            "Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana."Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad.Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana.Dan, prinsip kesederhaan ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku keseharian beliau.

Ibnu Amir pernah memberikan kesaksian perihal hebatnya kesederhanaan dan ketawadhuan  Rasulullah, di tengah kedudukannya yang luhur di antara umat manusia. "Aku pernah melihat Rasul melempar jumrah dari atas unta tanpa kawalan pasukan, tanpa senjata, dan juga tanpa pengawal."

Menurut Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula. Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.

Pernah suatu ketika, Rasulullah bertemu dengan seorang laki-laki yang kemudian gemetar karena kewibawaan beliau.Melihat hal itu, Muhammad SAW berujar untuk menenangkan laki-laki tersebut, "Tenanglah aku bukanlah seorang raja, namun aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan dendeng."

Saat dia berkumpul dan berbaur dengan para sahabatnya, tak tebersit sedikit pun sikap untuk menonjolkan dirinya. Sehingga, manakala ada seorang tamu asing datang ia tak bisa membedakan Rasulullah dengan para sahabatnya. Ini memaksanya bertanya yang mana Rasulullah.

Bayangkan, seorang tokoh publik kelas dunia-akhirat sulit dikenali lantaran kesederhanaan dan ketawadhuannya.Memilih hidup sederhana tidak identik dengan hidup miskin, atau memerosokkannya dalam kemiskinan, sebagaimana tecermin dalam hadis di atas. Sementara itu, di kalangan sahabat kita mengenal Mush'ab bin Umair.Pemuda ini kaya raya, tampil trendi, dan serbamewah namun ketika tersibghah dengan nilai-nilai Islam, ia menjadi pemuda yang sederhana. Demikian Islam menginspirasi umatnya, yakni sederhana dalam berbagai hal, mulai dari cara berpakaian, bertempat tinggal, berkendaraan, dan sebagainya.

Bukan sebaliknya,  bergaya hidup secara berlebih-lebihan, glamour, boros, dan bermegah-megahan.[Makmun Nawawi, Hidup Sederhana,Republika.co.id. Senin, 11 April 2011 12:20 WIB].

Islam menganjurkan ummatnya untuk hidup sederhana walaupun dia berada dalam gelimang harta, untuk hidup sederhana ketika miskin memang sudah jadi pilihan seseorang tapi untuk hidup sederhana dikala kaya tidak semua orang, namun Rasul dan para sahabatnya sudah mencontohkan hal itu.wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].



Tidak ada komentar:

Posting Komentar