Soekarno
dengan kekuasaannya disebut dengan zaman Orde Lama, masa rezim Soeharto disebut
Orde Baru hingga berkuasa sampai tahun 1998, setelah itu diserahkan kepada
Habibie hingga saat sekarang sudah silih berganti Presiden yang memimpin negeri
ini yaitu Abdurrahman Wahid, Mega Wati dan Susilo Bambang Yudoyono, sejak masa
Habibie dinamakan era Reformasi karena segala sesuatu yang dilarang pada rezim
sebelumnya dibuka kran kebebasan untuk menyuarakan kebenaran dari hati nurani
rakyat yang selama ini terkungkung dibalik terali besi, terjajah oleh bangsa
sendiri, inilah kondisi sebelum datangnya masa
reformasi itu;
”Sssst…
jangan terlalu keras mengritik pemerintah, nanti kamu bisa dijemput
malam.Dinding, loteng, meja, kursi, dan semua yang ada di ruang ini, bisa
mendengar dan bicara.Kalau kritikan kamu itu disampaikan ke penguasa, bisa
hilang malam kamu!”
Di
Orde Baru, kalimat peringatan seperti di atas sudah tak asing lagi telontar
dari mulut seorang kawan, mengingatkan rekannya yang mencoba mengeluarkan
kritikan kepada pemerintah atau penguasa.
Peringatan
tersebut bukan tidak beralasan.Tak sedikit tokoh vokal harus hilang dari
peredaran.Menghilang tidak tahu rimbanya. Karena tidak ada yang mengetahui ke
mana perginya, orang-orang menyebutnya hilang malam. Padahal, dalam Pasal
28 UUD 1945 dengan tegas menyatakan, kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan
undang-undang.
”Hilang
malam” paling rawan terjadi saat akan pemilu. Ini terjadi dari tingkatan paling
bawah (kampung), hingga nasional.Tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan
politik dengan penguasa (Golkar) dijemput malam oleh aparat.Warga kampung saya,
beberapa hari menjelang pemilu sempat heboh.Salah seorang tokoh di kampung
tiba-tiba tidak pulang dua malam. Menurut anggota keluarganya, ia dijemput tiga
lelaki berbadan kekar dan berambut cepak. Semua warga kampung buncah.
Pada
malam ketiga, si tokoh yang dikabarkan hilang, tiba-tiba pulang. Dari fisik,
memang terlihat tidak kurang satu apa pun. Tapi batinnya, sepertinya ada yang
disembunyikan.
Belum
hilang rasa heran warga yang mendatangi rumahnya untuk memberikan empati,
tiba-tiba warga dikejutkan dengan pernyataan seorang tokoh pada warga agar
dalam pemilu nanti memberi dukungan kepada partai penguasa.Padahal, sebelumnya,
semua tahu, dia adalah tokoh tulen PPP yang paling menentang Golkar.
Pers,
sebagai corong demokrasi juga dibungkam.Kebebasan pers dibungkam dengan
Peraturan Menteri Penerangan No 1/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
(SIUPP). Dengan adanya SIUPP, sebuah penerbitan pers yang izin penerbitannya
dicabut oleh Departemen Penerangan akan langsung ditutup oleh pemerintah.
Karena itu, pers sangat mudah ditutup dan dibekukan kegiatannya.Pers yang
mengritik pembangunan dianggap melawan pemerintah.Bisa dicabut SIUPP-nya.
Tak
mau mengambil risiko, media kompak “membela” pemerintah.Tak peduli, kegiatan
tersebut menarik, atau hanya sekadar opok-opok.Tak ubahnya corong pemerintah.
Budaya telpon pejabat kepada pemilik media membuat sikap kritis wartawan
gugur. Beruntung kondisi tersebut tidak bertahan lama.Pada tahun 1990-an, pers
di Indonesia mulai melakukan repolitisasi lagi.Sebelum gerakan reformasi dan
jatuhnya Soeharto, pers di Indonesia mulai menentang pemerinah dengan memuat
artikel-artikel yang kritis terhadap tokoh dan kebijakan Orde Baru. Akibatnya,
tiga majalah mingguan; Tempo, DeTIK, dan Editor ditutup.[Hendri Parjiga, Refleksi
13 Tahun Reformasi Bidang Demokrasi Batuka Baruak jo Cigak, Maimbuah Sikua Karo,
Padangtoday.com.Rabu, 25/05/2011 - 10:09 WIB].
Rejim
Orde Baru di bawah Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun pun akhirnya
tumbang 21 Mei 1998 digantikan Rejim Reformasi. Siapa sebenarnya otak di
balik penumbangan rejim Soeharto?Sejarah mencatat pasca lengser-keprabonnya
Soeharto, telah memunculkan Amien Rais sebagai “Pahlawan Reformasi” dan
dielu-elukan rakyat Indonesia.Apakah Amien Rais perancang skenario penumbangan
rejim Soeharto?
Duabelas
tahun setelah peristiwa jatuhnya Soeharto, kini, Mei 2011, dengan terang
benderang bisa dijelaskan bahwa Amien Rais bukanlah “otak” di balik penjatuhan
rejim Orde Baru. Di sejumlah diskusi dengan berbagai kalangan, Letjen (Purn)
Prabowo Subianto, yang menjabat Pangkostrad pada Mei 1998, tegas menolak ketika
elemen mahasiswa mengklaim sebagai penumbang rejim Soeharto.Prabowo dengan
tegas menunjuk CIA lah sebenarnya yang telah merancang dan menjatuhkan rejim
Orde Baru.
Tudingan
mantan Danjen Kopassus itu kini menjadi konklusi atau kesimpulan yang tak
terbantahkan. Deretan ahli ekonomi internasional pun menyimpulkan bahwa
malapetaka yang melumatkan Indonesia yang dimulai dengan krisis moneter, pada
Juli 1997 yang berubah menjadi krisis multidimensi yang menumbangkan Soeharto
itu, hakikatnya memang suatu skenario yang sengaja dirancang. Gambar Michael
Camdesus, Managing Director IMF berkacak-pinggang saat menyaksikan
Presiden Soeharto yang tengah menandatangani perjanjian (letter of intent)
dengan IMF, menjadi simbol pemaksaan IMF pada pemerintahan RI. Dan sejarah
membuktikan dengan sederetan persyaratan yang dipaksakan IMF itu (al :
membekukan 16 bank, menaikkan harga BBM dst) telah menjadi bom yang dalam waktu
singkat menghancurkan negeri ini dalam krisis yang berkepanjangan.
Camdesus
sendiri beberapa tahun kemudian mengakui dan lantang mengatakan
dimana-mana,”Kami sengaja menciptakan kondisi itu, agar Soeharto jatuh!” Fakta
di sekitar skenario IMF, World Bank dan diotaki sejumlah negara Adidaya,
khususnya Amerika Serikat, terhadap usahanya menghancurkan NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia), kini bisa dibaca, di antaranya dalam buku karya
John Perkins berjudul :Cofessions of an Economic Hit Man. Bahkan ada
lagi misteri dana 26 juta dolar AS yang digelontorkan US-AID sekitar Mei 1998
yang niscaya jumlah dana yang besar untuk menggerakkan massa yang telah
beringas siap menumbangkan Soeharto.[Negara Gagal Buah Reformasi Mei 1998,Suara
Islam Online, Senin, 23 May 2011].
Berbagai
diskusi digelar untuk menyikapi perubahan ini sehingga sekian partai muncul,
beberapa LSM bangkit, tokoh-tokoh yang selama ini berada di belakang layar atau
yang merayap bermunculan ke permukaan untuk menyambut zaman baru ini yaitu
zaman Reformasi.
Reformasi
artinya perubahan kepada yang lebih baik, ishlah menurut istilah islamnya, hal
ini patut dilakukan pada seluruh asfek kehidupan pribadi, masyarakat apalagi
dalam berbangsa dan bernegara, apalagi setelah enampuluh tahun lebih kita
merdeka banyak sekali hal-hal yang tidak wajar terjadi sebagaimana yang
dilakukan oleh dua rezim sebelumnya, tentu rakyat menghendaki negara ini
dikelola dengan benar sesuai dengan keinginan para pendahulunya. Namun sayang
sekali berjalannya Reformasi sangat lamban bahkan tidak berjalan karena
orang-orang yang mengisi tempat-tempat strategis, intinya negara ini masih
dikendalikan oleh orang-orang peninggalan masa lalu, untuk memperbaiki kearah
yang lebih baik tentu membutuhkan waktu
yang panjang.
Mereformasi
diri saja membutuhkan waktu yang lama karena banyaknya sikap dan karakter yang
harus disesuaikan dengan perubahan, apalagi merubah sebuah bangsa kearah yang
lebih baik, lebih demokratis, lebih islami, lebih mengindonesia tentu sangat
panjang perjalanan yang harus dilalui, semua komponen harus bekerja sama dan
sama-sama bekerja untuk mengujudkannya, janganlah saling menyalahkan, saling
menghujad dan saling curiga, posisi apapun yang kita sandang sekarang ini harus
menuju kearah ishlah, perbaikan atau reformasi, saling hujat dan saling caci,
tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan memperpanjang proses
perbaikan itu, beberapa peringatan Allah dalam menyikapi kondisi ini patut kita
memperhatikannya.
Setelah
pergantian kepemimpinan negara terjadi, apakah situasi negara semakin
stabil?Walau kepemimpinan negara telah berpindah tangan, ternyata sebagian
masyarakat tidak mau menerima keadaan seperti itu.Pemimpin baru pun terus
dipermasalahkan.Diungkit aib-aibnya di hadapan masyarakat luas.Melalui beberapa
media, disemburkan bibit-bibit kebencian terhadap penguasa.Masyarakat diasupi
informasi-informasi yang memicu permusuhan terhadap pemimpinnya.Rakyat dihasung
untuk menolak dan mendongkel penguasa baru.Keadaan ini terus
berlanjut.Masyarakat pun akhirnya sulit mendapatkan rasa aman dan nyaman hidup
di Indonesia.Ini semua akibat ulah para provokator yang senantiasa bersikap
antipati terhadap penguasa.
Kehidupan
bermasyarakat selalu diwarnai aksi unjuk rasa.Membuka sisi negatif kehidupan
penguasa merupakan santapan sehari-hari.Sebuah pendidikan sosial politik yang
sangat buruk bagi masyarakat.Masyarakat senantiasa diajari untuk selalu
berkonflik, membuka jurang antara penguasa dan rakyatnya, serta dididik untuk
selalu curiga.Sebuah potret kehidupan yang sangat sarat ketidaknyamanan.Sebuah
struktur masyarakat yang sangat rentan terhadap berbagai konflik dan penyakit
sosial lainnya.Tak mengherankan jika kemudian masyarakat sangat mudah dipicu
untuk berbuat onar, rusuh, beringas, dan sadistis.Kerusuhan pun mewarnai
kehidupan bangsa yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah.Terjadi
pembantaian terhadap kaum muslimin di Poso, Ambon, Maluku Utara dan tempat
lainnya.Timbulnya keresahan masyarakat Aceh juga akibat aksi-aksi separatisme
pada masa itu.Semua peristiwa itu mengguratkan kehidupan yang kelam dan memilukan.Ironisnya
peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah ide-ide reformasi digaungkan.
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)
Upaya
suksesi, penggulingan kekuasaan, atau sikap anti terhadap penguasa melalui
cara-cara pengerahan massa, sebenarnya pernah dilakukan tokoh Yahudi bernama
Abdullah bin Saba’ semasa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Abdullah bin Saba’
yang menampilkan diri secara lahiriah sebagai seorang muslim namun dalam
batinnya menyimpan kekufuran, secara intensif berupaya mengembuskan api
permusuhan terhadap pemerintah. Masyarakat Mesir sempat terprovokasi sehingga
mereka melakukan pergerakan menentang pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Puncak
dari aksi provokasi yang didalangi Yahudi ini adalah terjadinya pengepungan
(melalui aksi demonstrasi) terhadap kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z.
Akibat aksi pergerakan massa tersebut, Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z terbunuh. [Al-Ustadz
Abulfaruq Ayip SyafruddinSepenggal Kisah Reformasi, www.asysyari’ahTuesday,
10 May 2011 08:52].
Memang masih banyak kekurangan kita setelah mendeklarasikan
reformasi sejak jatuhnya almarhum Presiden Soeharto. Dan juga banyak yang sudah
dijalankan seperti masa jabatan presiden hanya dua kali hal ini kan tidak
pernah dilakukan dahulu sejak tahun 1945 sampai 1997. Kita hanya punya 2
presiden, yaitu Soekarno dan Soeharto.
Dimasa itu hanya pulau Jawa saja yang diprioritaskan dalam
pembangunannya tetapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Kebijakan dan Kekuasaan
hanya ada di Jakarta dan Jakarta yang sepertinya mempunyai veto untuk menolak
semua yang tidak diinginkan.
Sekarang gubernur dan walikota serta bupati berfungsi dengan
adanya otonomi daerah. Dahulu kita hanya bisa menyekolahkan anak dengan
membayar tiap bulannya sekarang sudah kita rasakan sejak kelas satu sekolah
dasar sampai kelas tiga sekolah menengah pertama jadi sembilan tahun bebas dari
bayar sekolah.
Setiap tahun kita lihat pemerintah membangun atau membuat
jalan baru dan tiap tahun bertambah serta memperlebar jalan Dandles. Tiap tahun
penjualan kendaraan bermotor bertambah, baik mobil maupun sepeda motor dan itu
juga menunjukkan adanya kenaikan penghasilan dari penduduk negri ini.
Memang tidak bisa kita sangkal bahwa masih ada penduduk
negeri ini yang masih hidup dengan kekurangan dan itu tugas kita semua sebagai
rakyat yang mencintai negeri ini bukan cuma tiap hari berbicara di TV sehingga
kita sebal melihatnya dan justru ada yang membela para koruptor dengan
cara yang berbelit belit dengan meminta keadilan untuk para koruptor tersebut.
Mereka sudah memakan harta rakyat bermilyar-milyar dan kabur
ke luar negeri dengan jalan meninggalkan para pengacara tersebut.Contohnya
kasus BLBI.Tetapi masih juga para Koruptor dibela sekarang ini.
Media sebagai corong mereka dan sebetulnya mereka mengetahui
bahwa pemilik media tersebut juga bukan orang bersih dan juga ada media yang
terang terangan melarang penyiarnya dengan berpakaian berjilbab.
Parpol mencari duit dengan cara tidak halal dan para
wakilnya harus membagi uang penghasilannya untuk parpol tersebut. Untuk duduk
di kursi Gubernur ratusan milyar harus dikeluarkan oleh calon Gubernur
tersebut. Walikota milyaran harus menyiapkan dana .Allah melaknat orang yang
menyuap dan disuap.
KPK harus ada dan dijaga keberadaannya sebab para koruptor
dengan sengaja menjatuhkan nama KPK sehingga akhirnya rakyat benci dengan KPK..[Waspadai Ajakan Revolusi ,cybersabili.Selasa,
04 Oktober 2011 12:44 Lutfi A. Tamimi].
Dari
ayat berikut dijelaskan bahwa hujatan-hujatan itu dilarang oleh Allah,bahkan
Allah memberi predikat zalim bagi orang yang suka menghujat:
Al
Hujurat 49:11“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah sekumpulan oranglaki-laki merendahkan kumpulan yang lain,
boleh jadi yangditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan
pulasekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang
direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran
yangmengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)yang buruk
sesudah iman dan barangsiapa yang tidakbertobat, maka mereka itulah orang-orang
yang zalim”.
Al
Hujurat 49:12“Hai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka(kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Danjanganlah mencari-cari keburukan orang dan
janganlahmenggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yangsuka
memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamumerasa jijik
kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah.SesungguhnyaAllah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang.”
Demikian pula apabila kita hendak mengadili seseorang harus
ada saksi yangcukup, dan para saksi tersebut harus adil dan tidak mengikuti
hawa nafsu:
An Nisa’
4:15 “Dan (terhadap) para wanita yang
mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu
(yangmenyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberipersaksian, maka
kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya,
atau sampai Allah memberijalan lain kepadanya.”
An Nisa’
4:16 “Dan terhadap dua orang yang
melakukan perbuatan keji di antarakamu, maka berilah hukuman kepada keduanya,
kemudian jikakeduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi MahaPenyayang.”
An
Nisa’4:135 “Wahai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi
karena Allah biarpunterhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.
Jikaia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karenaingin menyimpang dari kebenaran.Dan
jika kamu memutar balikkan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka
sesungguhnya Allahadalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.
Al
Maidah 5:8 “Hai orang-orang yang beriman
hendaklah kamu jadi orang-orang yangselalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,
menjadi saksi denganadil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum,mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dengan
tidak menghujat orang lain, atau apabila ada orang yang menghujatorang lain
kita lalui saja tindakan orang tersebut, maka kita menjagakehormatan diri kita.
Al
Furqan 25:72“Dan orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu, danapabila mereka bertemu dengan (orang-orang)
yang mengerjakanperbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui
(saja)dengan menjaga kehormatan dirinya”.[Ahmad Zubair, saling hujat era
reformasi, KTPD
ISNET].
Ulama dakwah bernama Hasan Al
Banna pernah menyatakan bahwa andaikata ada seribu orang yang membangun akan
hancur walaupun oleh satu orang yang tidak menghendaki pembangunan itu, apalagi
satu orang yang membangun, sementara seribu orang yang meruntuhkannya, artinya
untuk mereformasi sebuah negara membutuhkan kekompakan semua rakyatnya dan
kesepakatan semua elemen yang ada, sebelum kita mereformasi bangsa ini secara
keseluruhan maka sangat penting sekali kita mereformasi diri sendiri, diri yang
telah melakukan reformasi akan mampu untuk mereformasi sebuah negara dan bangsa
sebagaimana yang dialami oleh Abdurrahman bin Muawiyah.
Di usianya yang 19, ia terus
berlari, seorang diri, dari pengejaran daulah baru Abbasiyah. Menuju Hijaz,
Mesir, Libya selama 5 tahun dalam kesunyian dan pengasingan hingga akhirnya
sampai di Kairowan. Tapi di sana revolusi Khawarij sedang panas, dan kepala
putra mahkota Umawiyah tetap diincar. Dalam kondisi keamanan yang kritis, ia
tetap berfikir. Hidup dalam kesunyian dan persembunyian, atau kembali merebut
piala sejarah?
Darah mudanya tidak destruktif
tapi konstruktif. Ide besarnya mulai direkonstruksi, ia mempunyai mimpi dan
obsesi. Dari kesendirian menuju peradaban.Satu jiwa merubah negara.Ia melarikan
diri ke negeri Andalus yang sedang sekarat menunggu kematiannya. Ia bermanuver
mencari rekan dan massa. Berlalu waktu hingga hati-hati manusia berkumpul dalam
hati satu orang pemuda.Rancangan besar Abdurrahman terwujud bahkan 34 tahun
memimpin Andalus. Ia mencetak tentara tanpa tara, membangun benteng, pemukiman,
dan kesenian, meredam pemberontakan, dan menyelesaikan kerusuhan, dan yang
paling utama: ia meletakkan dasar peradaban baru , yaitu Daulah Umawiyah yang
sebanding dengan keagungan Daulah Abbasiyah di Baghdad.
Abdurrahman bin Muawiyah
adalah contoh kecil ketika satu orang pemuda bisa merubah satu negara, saat di
zaman ini seratus pemuda boleh jadi tidak mampu membersihkan jalan-jalan
komplek rumahnya. Satu orang pemuda bisa merubah satu umat, tapi seribu pemuda
boleh jadi bingung dengan apa yang harus dikerjakan esok harinya.[Muhammad Elvandi, Lc,Satu Jiwa, Pelopor
Reformasi Negara, dakwatuna.com 6/12/2011 | 11 Muharram
1433 H].
Islam sebagai agama yang
lengkap dalam menyikapi kehidupan ini juga menuntut untuk mengajak ummatnya
agar mereformasi diri dengan melakukan
muhasabah dari hari kehari untuk perbaikan dimasa yang akan datang, perbaikan
diri, perbaikan keluarga, masyarakat dan bangsa negara secara keseluruhan,
semua perbaikan itu bisa dilakukan bila masing-masing pribadi ummat ini mau
melakukannya, ada gerak dan upaya untuk itu sebagaimana Allah menjamin bahwa
perubahan ummat ke arah yang lebih baik bisa tercapai bila pribadi-pribadi
memulainya segera, Wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar