Kamis, 18 Februari 2016

249. Reformasi



Soekarno dengan kekuasaannya disebut dengan zaman Orde Lama, masa rezim Soeharto disebut Orde Baru hingga berkuasa sampai tahun 1998, setelah itu diserahkan kepada Habibie hingga saat sekarang sudah silih berganti Presiden yang memimpin negeri ini yaitu Abdurrahman Wahid, Mega Wati dan Susilo Bambang Yudoyono, sejak masa Habibie dinamakan era Reformasi karena segala sesuatu yang dilarang pada rezim sebelumnya dibuka kran kebebasan untuk menyuarakan kebenaran dari hati nurani rakyat yang selama ini terkungkung dibalik terali besi, terjajah oleh bangsa sendiri, inilah kondisi sebelum datangnya masa  reformasi itu;

”Sssst… jangan terlalu keras mengritik pemerintah, nanti kamu bisa dijemput malam.Dinding, loteng, meja, kursi, dan semua yang ada di ruang ini, bisa mendengar dan bicara.Kalau kritikan kamu itu disampaikan ke penguasa, bisa hilang malam kamu!”

Di Orde Baru, kalimat peringatan seperti di atas sudah tak asing lagi telontar dari mulut seorang kawan, mengingatkan rekannya yang mencoba mengeluarkan kritikan kepada pemerintah atau penguasa.

Peringatan tersebut bukan tidak beralasan.Tak sedikit tokoh vokal harus hilang dari peredaran.Menghilang tidak tahu rimbanya. Karena tidak ada yang mengetahui ke mana perginya, orang-orang  menyebutnya hilang malam. Padahal, dalam Pasal 28 UUD 1945 dengan tegas menyatakan, kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

”Hilang malam” paling rawan terjadi saat akan pemilu. Ini terjadi dari tingkatan paling bawah (kampung), hingga nasional.Tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan politik dengan penguasa (Golkar) dijemput malam oleh aparat.Warga kampung saya, beberapa hari menjelang pemilu sempat heboh.Salah seorang tokoh di kampung tiba-tiba tidak pulang dua malam. Menurut anggota keluarganya, ia dijemput tiga lelaki berbadan kekar dan berambut cepak. Semua warga kampung buncah.

Pada malam ketiga, si tokoh yang dikabarkan hilang, tiba-tiba pulang. Dari fisik, memang terlihat tidak kurang satu apa pun. Tapi batinnya, sepertinya ada yang disembunyikan.

Belum hilang rasa heran warga yang mendatangi rumahnya untuk memberikan empati, tiba-tiba warga dikejutkan dengan pernyataan seorang tokoh pada warga agar dalam pemilu nanti memberi dukungan kepada partai penguasa.Padahal, sebelumnya, semua tahu, dia adalah tokoh tulen PPP yang paling menentang Golkar.
Pers, sebagai corong demokrasi juga dibungkam.Kebebasan pers dibungkam dengan Peraturan Menteri Penerangan No 1/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dengan adanya SIUPP, sebuah penerbitan pers yang izin penerbitannya dicabut oleh Departemen Penerangan akan langsung ditutup oleh pemerintah. Karena itu, pers sangat mudah ditutup dan dibekukan kegiatannya.Pers yang mengritik pembangunan dianggap melawan pemerintah.Bisa dicabut SIUPP-nya.

Tak mau mengambil risiko, media kompak “membela” pemerintah.Tak peduli, kegiatan tersebut menarik, atau hanya sekadar opok-opok.Tak ubahnya corong pemerintah. Budaya telpon  pejabat kepada pemilik media membuat sikap kritis wartawan gugur. Beruntung kondisi tersebut tidak bertahan lama.Pada tahun 1990-an, pers di Indonesia mulai melakukan repolitisasi lagi.Sebelum gerakan reformasi dan jatuhnya Soeharto, pers di Indonesia mulai menentang pemerinah dengan memuat artikel-artikel yang kritis terhadap tokoh dan kebijakan Orde Baru. Akibatnya, tiga majalah mingguan; Tempo, DeTIK, dan Editor ditutup.[Hendri Parjiga, Refleksi 13 Tahun Reformasi Bidang Demokrasi Batuka Baruak jo Cigak, Maimbuah Sikua Karo, Padangtoday.com.Rabu, 25/05/2011 - 10:09 WIB].

Rejim Orde Baru di bawah Soeharto yang telah berkuasa lebih 30 tahun pun akhirnya tumbang  21 Mei 1998 digantikan Rejim Reformasi. Siapa sebenarnya otak di balik penumbangan rejim Soeharto?Sejarah mencatat pasca lengser-keprabonnya Soeharto, telah memunculkan Amien Rais sebagai “Pahlawan Reformasi” dan dielu-elukan rakyat Indonesia.Apakah Amien Rais perancang skenario penumbangan rejim Soeharto?

Duabelas tahun setelah peristiwa jatuhnya Soeharto, kini, Mei 2011, dengan terang benderang bisa dijelaskan bahwa Amien Rais bukanlah “otak” di balik penjatuhan rejim Orde Baru. Di sejumlah diskusi dengan berbagai kalangan, Letjen (Purn) Prabowo Subianto, yang menjabat Pangkostrad pada Mei 1998, tegas menolak ketika elemen mahasiswa mengklaim sebagai penumbang rejim Soeharto.Prabowo dengan tegas menunjuk CIA lah sebenarnya yang telah merancang dan menjatuhkan rejim Orde Baru.

Tudingan mantan Danjen Kopassus itu kini menjadi konklusi atau kesimpulan yang tak terbantahkan. Deretan ahli ekonomi internasional pun menyimpulkan bahwa malapetaka yang melumatkan Indonesia yang dimulai dengan krisis moneter, pada Juli 1997 yang berubah menjadi krisis multidimensi yang menumbangkan Soeharto itu, hakikatnya memang suatu skenario yang sengaja dirancang. Gambar Michael Camdesus, Managing Director IMF berkacak-pinggang saat menyaksikan Presiden Soeharto yang tengah menandatangani perjanjian (letter of intent) dengan IMF, menjadi simbol pemaksaan IMF pada pemerintahan RI. Dan sejarah membuktikan dengan sederetan persyaratan yang dipaksakan IMF itu (al : membekukan 16 bank, menaikkan harga BBM dst) telah menjadi bom yang dalam waktu singkat menghancurkan negeri ini dalam krisis yang berkepanjangan.

Camdesus sendiri beberapa tahun kemudian mengakui dan lantang mengatakan dimana-mana,”Kami sengaja menciptakan kondisi itu, agar Soeharto jatuh!” Fakta di sekitar skenario IMF, World Bank dan diotaki sejumlah negara Adidaya, khususnya Amerika Serikat, terhadap usahanya menghancurkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), kini bisa dibaca, di antaranya dalam buku karya John Perkins berjudul :Cofessions of an Economic Hit Man. Bahkan ada lagi misteri dana 26 juta dolar AS yang digelontorkan US-AID sekitar Mei 1998 yang niscaya jumlah dana yang besar untuk menggerakkan massa yang telah beringas siap menumbangkan  Soeharto.[Negara Gagal Buah Reformasi Mei 1998,Suara Islam Online, Senin, 23 May 2011].

Berbagai diskusi digelar untuk menyikapi perubahan ini sehingga sekian partai muncul, beberapa LSM bangkit, tokoh-tokoh yang selama ini berada di belakang layar atau yang merayap bermunculan ke permukaan untuk menyambut zaman baru ini yaitu zaman Reformasi.

Reformasi artinya perubahan kepada yang lebih baik, ishlah menurut istilah islamnya, hal ini patut dilakukan pada seluruh asfek kehidupan pribadi, masyarakat apalagi dalam berbangsa dan bernegara, apalagi setelah enampuluh tahun lebih kita merdeka banyak sekali hal-hal yang tidak wajar terjadi sebagaimana yang dilakukan oleh dua rezim sebelumnya, tentu rakyat menghendaki negara ini dikelola dengan benar sesuai dengan keinginan para pendahulunya. Namun sayang sekali berjalannya Reformasi sangat lamban bahkan tidak berjalan karena orang-orang yang mengisi tempat-tempat strategis, intinya negara ini masih dikendalikan oleh orang-orang peninggalan masa lalu, untuk memperbaiki kearah yang  lebih baik tentu membutuhkan waktu yang panjang.

Mereformasi diri saja membutuhkan waktu yang lama karena banyaknya sikap dan karakter yang harus disesuaikan dengan perubahan, apalagi merubah sebuah bangsa kearah yang lebih baik, lebih demokratis, lebih islami, lebih mengindonesia tentu sangat panjang perjalanan yang harus dilalui, semua komponen harus bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk mengujudkannya, janganlah saling menyalahkan, saling menghujad dan saling curiga, posisi apapun yang kita sandang sekarang ini harus menuju kearah ishlah, perbaikan atau reformasi, saling hujat dan saling caci, tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan memperpanjang proses perbaikan itu, beberapa peringatan Allah dalam menyikapi kondisi ini patut kita memperhatikannya.

Setelah pergantian kepemimpinan negara terjadi, apakah situasi negara semakin stabil?Walau kepemimpinan negara telah berpindah tangan, ternyata sebagian masyarakat tidak mau menerima keadaan seperti itu.Pemimpin baru pun terus dipermasalahkan.Diungkit aib-aibnya di hadapan masyarakat luas.Melalui beberapa media, disemburkan bibit-bibit kebencian terhadap penguasa.Masyarakat diasupi informasi-informasi yang memicu permusuhan terhadap pemimpinnya.Rakyat dihasung untuk menolak dan mendongkel penguasa baru.Keadaan ini terus berlanjut.Masyarakat pun akhirnya sulit mendapatkan rasa aman dan nyaman hidup di Indonesia.Ini semua akibat ulah para provokator yang senantiasa bersikap antipati terhadap penguasa.

Kehidupan bermasyarakat selalu diwarnai aksi unjuk rasa.Membuka sisi negatif kehidupan penguasa merupakan santapan sehari-hari.Sebuah pendidikan sosial politik yang sangat buruk bagi masyarakat.Masyarakat senantiasa diajari untuk selalu berkonflik, membuka jurang antara penguasa dan rakyatnya, serta dididik untuk selalu curiga.Sebuah potret kehidupan yang sangat sarat ketidaknyamanan.Sebuah struktur masyarakat yang sangat rentan terhadap berbagai konflik dan penyakit sosial lainnya.Tak mengherankan jika kemudian masyarakat sangat mudah dipicu untuk berbuat onar, rusuh, beringas, dan sadistis.Kerusuhan pun mewarnai kehidupan bangsa yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang ramah.Terjadi pembantaian terhadap kaum muslimin di Poso, Ambon, Maluku Utara dan tempat lainnya.Timbulnya keresahan masyarakat Aceh juga akibat aksi-aksi separatisme pada masa itu.Semua peristiwa itu mengguratkan kehidupan yang kelam dan memilukan.Ironisnya peristiwa-peristiwa tersebut terjadi setelah ide-ide reformasi digaungkan.
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Upaya suksesi, penggulingan kekuasaan, atau sikap anti terhadap penguasa melalui cara-cara pengerahan massa, sebenarnya pernah dilakukan tokoh Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ semasa pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Abdullah bin Saba’ yang menampilkan diri secara lahiriah sebagai seorang muslim namun dalam batinnya menyimpan kekufuran, secara intensif berupaya mengembuskan api permusuhan terhadap pemerintah. Masyarakat Mesir sempat terprovokasi sehingga mereka melakukan pergerakan menentang pemerintahan ‘Utsman bin ‘Affan z. Puncak dari aksi provokasi yang didalangi Yahudi ini adalah terjadinya pengepungan (melalui aksi demonstrasi) terhadap kediaman Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z. Akibat aksi pergerakan massa tersebut, Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan z terbunuh. [Al-Ustadz Abulfaruq Ayip SyafruddinSepenggal Kisah Reformasi, www.asysyari’ahTuesday, 10 May 2011 08:52].

Memang masih banyak kekurangan kita setelah mendeklarasikan reformasi sejak jatuhnya almarhum Presiden Soeharto. Dan juga banyak yang sudah dijalankan seperti masa jabatan presiden hanya dua kali hal ini kan tidak pernah dilakukan dahulu sejak tahun 1945 sampai 1997. Kita hanya punya 2 presiden, yaitu Soekarno dan  Soeharto.
Dimasa itu hanya pulau Jawa saja yang diprioritaskan dalam pembangunannya tetapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Kebijakan dan Kekuasaan hanya ada di Jakarta dan Jakarta yang sepertinya mempunyai veto untuk menolak semua yang tidak diinginkan.
Sekarang gubernur dan walikota serta bupati berfungsi dengan adanya otonomi daerah.  Dahulu kita hanya bisa menyekolahkan anak dengan membayar tiap bulannya sekarang sudah kita rasakan sejak kelas satu sekolah dasar sampai kelas tiga sekolah menengah pertama jadi sembilan tahun bebas dari bayar sekolah.
Setiap tahun kita lihat pemerintah membangun atau membuat jalan baru dan tiap tahun bertambah serta memperlebar jalan Dandles. Tiap tahun penjualan kendaraan bermotor bertambah, baik mobil maupun sepeda motor dan itu juga menunjukkan adanya kenaikan penghasilan dari penduduk negri ini.
Memang tidak bisa kita sangkal bahwa masih ada penduduk negeri ini yang masih hidup dengan kekurangan dan itu tugas kita semua sebagai rakyat yang mencintai negeri ini bukan cuma tiap hari berbicara di TV sehingga kita sebal  melihatnya dan justru ada yang membela para koruptor dengan cara yang berbelit belit dengan meminta keadilan untuk para koruptor tersebut.
Mereka sudah memakan harta rakyat bermilyar-milyar dan kabur ke luar negeri dengan jalan meninggalkan para pengacara tersebut.Contohnya kasus BLBI.Tetapi masih juga para Koruptor dibela sekarang ini.
Media sebagai corong mereka dan sebetulnya mereka mengetahui bahwa pemilik media tersebut juga bukan orang bersih dan juga ada media yang terang terangan melarang penyiarnya dengan berpakaian berjilbab.
Parpol mencari duit dengan cara tidak halal dan para wakilnya harus membagi uang penghasilannya untuk parpol tersebut. Untuk duduk di kursi Gubernur ratusan milyar harus dikeluarkan oleh calon Gubernur tersebut. Walikota milyaran harus menyiapkan dana .Allah melaknat orang yang menyuap dan disuap.
KPK harus ada dan dijaga keberadaannya sebab para koruptor dengan sengaja menjatuhkan nama KPK sehingga akhirnya rakyat benci dengan KPK..[Waspadai Ajakan Revolusi ,cybersabili.Selasa, 04 Oktober 2011 12:44 Lutfi A. Tamimi].
               Dari ayat berikut dijelaskan bahwa hujatan-hujatan itu dilarang oleh Allah,bahkan Allah memberi predikat zalim bagi orang yang suka menghujat:

               Al Hujurat 49:11“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan oranglaki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yangditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pulasekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri  dan jangan memanggil dengan gelaran yangmengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan)yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidakbertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

               Al Hujurat 49:12“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Danjanganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlahmenggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yangsuka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamumerasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah.SesungguhnyaAllah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
               Demikian pula apabila kita hendak mengadili seseorang harus ada saksi yangcukup, dan para saksi tersebut harus adil dan tidak mengikuti hawa nafsu:

               An Nisa’ 4:15 “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yangmenyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberipersaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberijalan lain kepadanya.”

               An Nisa’ 4:16 “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antarakamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jikakeduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi MahaPenyayang.”

               An Nisa’4:135 “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpunterhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jikaia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karenaingin menyimpang dari kebenaran.Dan jika kamu memutar balikkan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allahadalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.

               Al Maidah 5:8 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yangselalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi denganadil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

               Dengan tidak menghujat orang lain, atau apabila ada orang yang menghujatorang lain kita lalui saja tindakan orang tersebut, maka kita menjagakehormatan diri kita.

               Al Furqan 25:72“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, danapabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakanperbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja)dengan menjaga kehormatan dirinya”.[Ahmad Zubair, saling hujat era reformasi, KTPD ISNET].

               Ulama dakwah bernama Hasan Al Banna pernah menyatakan bahwa andaikata ada seribu orang yang membangun akan hancur walaupun oleh satu orang yang tidak menghendaki pembangunan itu, apalagi satu orang yang membangun, sementara seribu orang yang meruntuhkannya, artinya untuk mereformasi sebuah negara membutuhkan kekompakan semua rakyatnya dan kesepakatan semua elemen yang ada, sebelum kita mereformasi bangsa ini secara keseluruhan maka sangat penting sekali kita mereformasi diri sendiri, diri yang telah melakukan reformasi akan mampu untuk mereformasi sebuah negara dan bangsa sebagaimana yang dialami oleh Abdurrahman bin Muawiyah.

Di usianya yang 19, ia terus berlari, seorang diri, dari pengejaran daulah baru Abbasiyah. Menuju Hijaz, Mesir, Libya selama 5 tahun dalam kesunyian dan pengasingan hingga akhirnya sampai di Kairowan. Tapi di sana revolusi Khawarij sedang panas, dan kepala putra mahkota Umawiyah tetap diincar. Dalam kondisi keamanan yang kritis, ia tetap berfikir. Hidup dalam kesunyian dan persembunyian, atau kembali merebut piala sejarah?

Darah mudanya tidak destruktif tapi konstruktif. Ide besarnya mulai direkonstruksi, ia mempunyai mimpi dan obsesi. Dari kesendirian menuju peradaban.Satu jiwa merubah negara.Ia melarikan diri ke negeri Andalus yang sedang sekarat menunggu kematiannya. Ia bermanuver mencari rekan dan massa. Berlalu waktu hingga hati-hati manusia berkumpul dalam hati satu orang pemuda.Rancangan besar Abdurrahman terwujud bahkan 34 tahun memimpin Andalus. Ia mencetak tentara tanpa tara, membangun benteng, pemukiman, dan kesenian, meredam pemberontakan, dan menyelesaikan kerusuhan, dan yang paling utama: ia meletakkan dasar peradaban baru , yaitu Daulah Umawiyah yang sebanding dengan keagungan Daulah Abbasiyah di Baghdad.

Abdurrahman bin Muawiyah adalah contoh kecil ketika satu orang pemuda bisa merubah satu negara, saat di zaman ini seratus pemuda boleh jadi tidak mampu membersihkan jalan-jalan komplek rumahnya. Satu orang pemuda bisa merubah satu umat, tapi seribu pemuda boleh jadi bingung dengan apa yang harus dikerjakan esok harinya.[Muhammad Elvandi, Lc,Satu Jiwa, Pelopor Reformasi Negara, dakwatuna.com 6/12/2011 | 11 Muharram 1433 H].

Islam sebagai agama yang lengkap dalam menyikapi kehidupan ini juga menuntut untuk mengajak ummatnya agar mereformasi  diri dengan melakukan muhasabah dari hari kehari untuk perbaikan dimasa yang akan datang, perbaikan diri, perbaikan keluarga, masyarakat dan bangsa negara secara keseluruhan, semua perbaikan itu bisa dilakukan bila masing-masing pribadi ummat ini mau melakukannya, ada gerak dan upaya untuk itu sebagaimana Allah menjamin bahwa perubahan ummat ke arah yang lebih baik bisa tercapai bila pribadi-pribadi memulainya segera, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar