Manusia
di dunia ini membutuhkan contoh teladan dalam hidupnya sebagai figure yang akan
memotivasinya untuk berbuat dan bercita-cita, contoh teladan atau uswatun
hasanah itu bisa melalui ayah dan ibunya, bapak dan ibu gurunya atau tokoh yang
ada di masyarakat, bahkan tidak sedikit menjadikan contoh teladannya dari
pemain sepak bola, petinju, bintang sinetron atau penyanyi, padahal contoh
teladan itu haruslah orang-orang yang memang mengajak kepada kebaikan untuk
membangun kepribadiannya kelak.
Syaikh
Musthafa Masyhur mengawali bukunya dengan “teori keteladanan.”
Bahwa manusia yang diberi nikmat indra dan akal oleh Allah SWT bisa mendapatkan
petunjuk dan keteladanan. Dan, umumnya setiap dakwah dan seruan akan lebih
efektif ketika ada keteladanan aplikatif. (qudwah amaliyah).
Teori lain yang ditulis di
awal adalah kebiasaan orang lemah meniru orang kuat. Teori ini sejalan dengan
teorinya Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Seperti anak kecil yang meniru orang
dewasa, demikianlah orang yang lemah pendirian akan meniru orang-orang kuat;
sama halnya negara-negara lemah dan terjajah meniru negara-negara besar dan
maju. Ketika yang dapat ditangkap oleh orang-orang berjiwa lemah itu adalah
keburukan saja, maka mereka akan mengikuti keburukan. Namun saat mereka melihat
keteladanan positif dari orang-orang kuat dan pejuang dakwah, itu pun akan
mempengaruhi kehidupannya. Dan di sinilah letak pentingnya keteladanan.[Abu
Nida,Resensi Buku Urgensi
Al-Qudwah di Jalan Dakwah karya Syaikh
Musthafa Masyhur, dakwatuna.com8/8/2011 | 09 Ramadhan 1432 H].
Orangtua
atau guru yang baik, mengarahkan anak-anaknya agar menjadikan figure yang
diteladani itu adalah Rasulullah, keteladanan ini Allah gambarkan dalam ayat Al
Qur’an“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[Al Ahzab 33;21]
Rasulullah adalah manusia paripurna yang diciptakan Allah
di dunia. Segala keistimewaan diberikan kepadanya. Kehidupannya dihiasi dengan
segala pernik keindahan. Akhlaknya menebar keharuman. Sirahnya bagai minyak
kasturi bagi kehidupan. Pesan-pesannnya menyentuh setiap insan. Lembut perawakannya.
Santun ucapan katanya. Padat ungkapan kalimatnya.
Allah
SWT berfirman:Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang
luhur. (QS al-Qalam [68]: 4)
Istrinya
tercinta, Aisyah pernah berkata:Akhlaknya adalah Al-Qur’an .... (HR Ahmad)
Demikian
juga Rasulullah adalah sosok yang penyantun dan penyayang. Cinta menebarkan
kemanfaatan dan menolak segala yang menimbulkan kemadharatan. Allah
mengabadikan sifat itu dalam firman-Nya: Sungguh, telah datang kepadamu
seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu
alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang
yang beriman. (QS at-Taubah [9]: 128)
Berikut
kami sajikan beberapa contoh kesempurnaan sifat-sifat beliau dalam beberapa
kisah berikut yang diceritakan kembali oleh para perawi hadits. Bukan hanya
pengakuan dari sahabatnya, melainkan juga para musuhnya. Itulah kelebihan yang
dimiliki Rasulullah sehingga siapa pun ikut mengaguminya. Meskipun sebagai
manusia pilihan yang mendapat kepercayaan untuk menyampaikan risalah,
Rasulullah selalu bersikap tenang dan penyayang kepada siapa pun. Bahkan, pada
binatang pun beliau sangat menyayanginya, sebagaimana kisah di bawah ini.
Uqa'il bin Abi Thalib pergi bersama-sama dengan Nabi
Muhammad saw. Pada waktu itu Uqa'il telah melihat peristiwa ajaib yang
menjadikan hatinya bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara
tersebut. Peristiwa pertama adalah ketika Rasulullah saw. akan
mendatangi hajat untuk membuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa
batang pohon. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Uqa'il, "Hai Uqa'il
teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu dan katakanlah kepadanya bahwa
Rasulullah berkata agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi penutup
baginya karena sesungguhnya Rasulullah akan mengambil air wudhu dan buang air
besar."
Uqa'il pun keluar dan pergi menemui pohon-pohon itu. Akan tetapi, sebelum dia
menyelesaikan tugas itu, ternyata pohon-pohon sudah tumbang dari akarnya dan
sudah mengelilingi Rasulullah saw. Peristiwa kedua adalah ketika Uqa'il
merasa sangat haus dan sudah mencari air ke mana-mana, tetapi tidak ditemui.
Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada Uqa'il bin Abi Thalib, "Hai
Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya, serta katakan,
"Jika pada dirimu ada air, berilah aku minum!"
Uqa'il pun segera pergi mendaki gunung itu dan berkata pada gunung itu,
sebagaimana pesan Rasulullah saw. Akan tetapi, sebelum ia selesai berkata,
gunung itu berkata dengan fasihnya, "Katakanlah kepada Rasulullah bahwa
aku sejak Allah S.W.T menurunkan ayat yang bermaksud, ’Wahai orang-orang
yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu ..." (QS At-Tahrīm [66]: 6).
"Aku menangis karena takut kalau aku menjadi batu itu sehingga tidak ada
lagi air padaku."
Peristiwa ketiga adalah ketika
Uqa'il sedang berjalan dengan Rasulullah saw., tiba-tiba ada seekor unta yang
meloncat dan lari ke hadapan Rasulullah. Kemudian unta itu berkata, ”Ya Rasulullah, aku minta
perlindungan darimu.” Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba
datang dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus.
Melihat orang Arab kampung membawa pedang terhunus, Nabi Muhammad saw. berkata,
"Apa yang akan kamu lakukan dengan unta itu?”
Orang kampung itu menjawab, "Wahai Rasulullah, aku
telah membelinya dengan harga yang mahal, tetapi dia tidak mau taat atau jinak
sehingga akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada
orang-orang yang memerlukan).”
Rasulullah saw. bertanya pada unta, "Mengapa engkau
mendurhakai dia?"
Jawab unta itu, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak
mendurhakainya dari satu pekerjaan, tetapi aku mendurhakainya karena
perbuatannya yang buruk. Dia bersama kabilah-kabilahnya tidur dan meninggalkan
shalat Isya’. Seandainya ia mau berjanji kepadamu untuk mengerjakan shalat
Isya’, aku berjanji tidak akan mendurhakainya lagi karena aku takut kalau Allah
menurunkan siksa-Nya kepada mereka, padahal aku berada di antara mereka."
Akhirnya, Nabi
Muhammad saw. membuat perjanjian dengan orang Arab kampung itu bahwa dia tidak
akan meninggalkan shalat Isya'. Orang itu pun menyanggupinya. Kemudian
Rasulullah saw. menyerahkan unta itu kepadanya dan dia pun kembali kepada
keluarganya.[dari berbagai sumber].
Pepatah mengatakan, “Buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya.”Artinya anak akan berperilaku sebagaimana
teladan yang ditampilkan oleh kedua orangtuanya.
Sejak lahir anak akan
memperhatikan perilaku kedua orangtuanya. Oleh karena itu, cara efektif yang
perlu dilakukan oleh orangtua adalah berusaha menjadi figur yang baik.
Menampilkan uswah (keteladanan)
dan sebisa mungkin tidak menampilkan sikap diri yang kurang baik atau negatif.
Selain itu, pesan penting yang
Rasulullah saw wasiatkan kepada umatnya ialah agar berpegang teguh terhadap
al-Qur’an dan sunnah beliau.
Dalam penuturan Dr. Ir.
Muhammad al-Husaini Ismail, seorang intelektual Mesir yang sempat mengalami
keguncangan pemikiran dan kemudian memilih untuk istiqomah dalam keimanan
menyatakan bahwa, “Di hadapan al-Qur’an akal dan kemampuan manusia tak lebih
dari segerombolan para kurcaci.”
Artinya seluruh persoalan yang
dihadapi manusia, al-Qur’an memberikan solusi.Selanjutnya bergantung pada
manusia itu sendiri, mau mempelajarinya atau tidak.
Pernyataan tersebut sudah
cukup mewakili bahwa setiap keluarga muslim wajib mencintai al-Qur’an.
Mencintai dalam hal ini ialah senantiasa membudayakan iqra al-Qur’an (membaca
al-Qur’an, memahami, mengamalkan dan berusaha mengajarkan kepada yang lain).
Dengan demikian maka kita bisa menjadi seorang Muslim yang benar-benar hidup
dengan al-Qur’an sebagai pedoman.[Imam Nawawi.hidayatullah,com.Jadilah Figur Teladan Anak Kita ,Kamis,
18 Agustus 2011].
Karena
pentingnya keteladanan atau uswatun hasanah bagi anak maka orangtua harus
memberi contoh dan menunjukkan sikap
yang patut diteladani oleh anak-anaknya, Khofifah Indar Parawansa dalam
tulisannya mencontohkan figure seorang ayah yang diperankan oleh Lukmanul
Hakim, sebagaimana yang dituangkannya dalam tulisan dibawah ini;
Nama Luqmanul Hakim sangat
popular dalam dunia Islam, karena nasihat-nasihatnya yang penuh hikmah.Bukan
sekadar pesan, namun nasihatnya merupakan pendidikan seorang bapak terhadap anaknya
yang penuh dengan kasih sayang serta ajaran tentang akidah dan akhlak.Karena
keteladanannya dalam mendidik anak itu pula, Allah mengabadikan namanya dalam
Alquran, yakni Surah Luqman.
Tentang asal-usul Luqman, ada
beda pendapat di antara para ulama. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah
seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan, ia bertubuh pendek
dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat dia berasal dari
Sudan. Dan, ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim di zaman Nabi
Daud AS.
Ada enam hal penting yang
disampaikan Luqman kepada anaknya.Pertama, larangan mempersekutukan Allah. (QS
Luqman: 13). Kedua, berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak. (QS Luqman: 14).
Ketiga, sadar terhadap pengawasan Allah. (QS Luqman: 16). Keempat, mendirikan
shalat, 'amar makruf nahi mungkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan. (QS
Luqman: 17). Kelima, larangan sombong dan membanggakan diri (QS Luqman: 18).
Dan keenam, bersikap sederhana dan bersuara rendah (QS Luqman: 19).
Banyak pelajaran yang dapat
dipetik dari kisah Luqman tersebut, terutama soal keteladanan seorang bapak
dalam mendidik anak. Luqman menanamkan tauhid dan keimanan kepada Allah SWT,
juga norma dan tata cara berhubungan dengan keluarga dan masyarakat luas. Luqman
tidak hanya berbicara, tapi langsung memberikan uswah (teladan) kepada anaknya.
Urgensi keteladanan disebutkan
dalam hadis nabi."Barang siapa yang memberikan contoh baik, maka baginya
pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari
kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang
mengikutinya sedikit pun.Dan barang siapa yang memberi contoh buruk, maka
baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat.Yang demikian itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa orang-orang yang
mengikutinya." (HR Imam Muslim).
Dalam konteks sekarang, kisah
Luqman perlu disosialisasikan secara terus-menerus di tengah bermunculannya
kasus anak-anak yang tidak mendapatkan hak sewajarnya dalam keluarga.Mereka
hidup nyaris tanpa perlindungan.Bahkan, banyak anak hidup di bawah ancaman dan
kekerasan, karena orang tua lari dari tanggung jawab.Di sisi lain, kini banyak
perilaku negatif di masyarakat yang bisa mendorong anak-anak menjadi jauh dari
akidah dan akhlak Islam. Tayang televisi yang kurang bermutu, serta maraknya
aksi pornografi dan pornoaksi, merupakan bagian dari penyebabnya. Akibatnya,
anak-anak kerap mengalami krisis keteladanan.[Keteladanan dalam Mendidik Anak, republika.co.id.
Kamis, 02 Juni 2011 02:00 WIB].
Contoh yang baik atau uswatun
hasanah dalam masyarakat harus diujudkan agar masyarakat kita jadi masyarakat
yang baik, figure yang diharapkan jadi teladan dalam kehidupan yang baik itu adalah
semua ummat islam, semua kita harus tampil di manapun juga sebagai contoh mulia
bagi orang-orang di sekeliling kita, lebih-lebih lagi bila kita seorang da’i
tentu keteladannya ditunggu oleh masyarakat.
Para dai adalah qudwah,
terutama bagi orang-orang bertaqwa. Inilah doa dan harapan Ibadurrahman
(hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang) yang dijanjikan surga di akhirat kelak.“Dan
orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami
isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan
Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[Al Furqan]
Ia perbaiki dirinya untuk bisa
menjadi teladan bagi isteri dan anak-anaknya. Ia perbaiki keluarganya untuk
dapat menjadi teladan bagi orang-orang bertaqwa di sekelilingnya.
Bukan sembarang keteladanan
yang dicontohkan, tetapi teladan yang bisa diikuti orang-orang bertaqwa yang
mengharapkan janji Allah, meyakini akhirat, dan banyak mengingat Allah.
Inilah fokus keteladanan yang
sangat diharapkan di jalan dakwah.Keteladan untuk mengantarkan orang memperoleh
janji Allah.Keteladanan untuk mendapatkan akhirat yang baik.Keteladanan untuk
senantiasa mengingat Allah.
Dari itulah Allah tegaskan
keteladanan Rasulullah saw dengan sebutan USWATUN HASANAH, bukan sekedar uswah.
Sebab jika keteladanan yang ditampilkan tidak bernilai kebaikan atau bahkan
membuat orang jauh dari kebaikan, justru akan menjadi investasi dosa seperti
dalam hadits Rasulullah saw.“Barang siapa yang memulai kebaikan dalam
Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan di
belakangnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang
memulai keburukan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya, dan dosa para
pengamal sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”Muslim.
Dari itulah para dai harus
memiliki kepekaan sosial yang tinggi, untuk mencontohkan apa yang menjadi
kebaikan umat menggapai akhirat, dan menjauhkan diri dari semua sikap dan
tindakan yang membuat umat tidak berharap kepada Allah, mengganggu iman mereka
kepada negeri akhirat, dan mengurangi dzikir mereka kepada Allah.
Inilah kewajiban mendasar para
dai, mencontohkan gaya hidup untuk menggapai kebahagiaan akhirat, karena hal
ini tidak bisa dicontohkan oleh siapapun selain para dai. Wanahnu
du’atun qabla kulli sya’in (dan kita adalah para dai sebelum berpredikat apapun).
Berbeda dengan tujuan dunia, siapapun bisa menjadi contoh tanpa harus menjadi
dai.[Teladan di Jalan Dakwah,dakwatuna.com15/1/2010 | 28
Muharram 1431 H,Tim Kajian Manhaj Tarbiyah].
Salah satu contoh teladan yang
patut kita ikuti adalah yang dialami oleh Imam Malik, figure yang punya ilmu
tapi rendah hati dan hidup bersahaja sebagaimana pengakuan dari pelayannya
bernama Abdurrahman bin Qasim berikut ini;
Abdurrahman bin Qasimseorang
pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan
beliau. Kata Abdurrahman, "Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi
pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan
2 tahun untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.
Imam malik dan para ulama yang
baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul,
dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran
wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang
lain.[Ali AkbarLetakkan
Akhlak Di Atas Ilmu ,Sabtu, 11 Juni 2011].
Begitu perbandingannya dalam
menuntut, seharusnya lebih banyak kita menghabiskan waktu kita untuk
mempelajari akhlak yang kemudian dengan akhlak itu kita dapat diteladani oleh
orang lain. Siapapun berhak untuk dijadikan sebagai uswatun hasanahselama orang
tersebut dalam hidupnya juga meneladani Rasulullah, karena keteladan yang
sempurna itu adalah keteladanan nabi Muhammad Saw, mencari orang lain sebagai
teladan hidup yang tidak mengacu kepada nilai-nilai akhlak mulia akan mengalami
kekecewaan, Wallahu a’lam
[Cubadak Solok, 20 Desember 2011.M/ 24 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar