Jumat, 26 Februari 2016

290. Syirik



Syirik artinya sifat menyekutukan Allah swt dalam peribadatan dengan salah satu makhluk-Nya dengan selain Allah, orang yang melakukannya disebut muysrik. Syirik yang paling tinggi adalah menyekuutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, menganggap Allah memiliki tandingan, sedangkan syirik yang paling rendah sesuai dengan sabda Rasulullah adalah riya’ dalam beribadah.

            Inilah satu watak yang menggelincirkan tauhid mukmin sehingga keimanan mereka tidak lagi murni, telah tercemari oleh noda-noda dan debu-debu kekafiran. Sebenarnya watak ini tidak bisa dipadukan, bila orang telah syirik tidak bisa disatukan dengan iman yang tauhid, demikian pula kekafiran tidak bisa bergandengan dengan keimanan.

             Ada beberapa hal yang menyebabkan sifat ini muncul pada pribadi manusia dan banyak sebab yang menjerumuskan kepada syirik yaitu;

Pertama, pengagungan yang berlebihan terhadap seseorang dan sesuatu, pengagungan tersebut terbagi dua; yaitu pengagungan biasa yang tidak ada syiriknya adalah seperti  pengagungan anak terhadap bapaknya, Allah berfirman dalam surat al Isra’ 17;23 “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

            Juga ada pengagungan yang ditujukan kepada Nabi dan Rasul dengan , pengagungan seperti ini dianjurkan bahkan diwajibkan dalam rangka pengabdian kepada orangtua dan kesantunan kepada Rasulullah, yang tidak boleh adalah  Pengagungan yang berlebih-lebihan sehingga sampai kepada pengkultusan [taqdis], pengagungan ini yang menyebabkan syirik, diantaranya pengkultusan kepada ulama sehingga segala keputusan ulama dianggap wahyu yang tidak bisa dikoreksi bahkan menjadikan ulama tadi dianggap serba tahu [Nuh 71;21-23] Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar."
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr"
           
            Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh

            Menjadikan orang syirik pula bila terjadi pengkultusan terhadap Nabi dan Rasul sehingga menjadikan mereka sebagai anak Tuhan bahkan Tuhan [9;30], para pendetapun dijadikan sebagai Tuhan karena pengkultusan oleh pengikutnya [At Taubah 9;31]. ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.’

            Termasuk syirik pula apabila pengkultusan kepada malaikat karena dianggap melaikat itu dekat kepada Allah, disamping dari kejadiannya yang sempurna yaitu tercipta dari nur [cahaya] [6;100], pengkultusan kepada jin [37;158-159] serta kepada  benda-benda yang ada di langit [Fushilat 41;37] Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah”

Kedua, bersandar kepada sesuatu yang bisa diketahui leh panca indra yang berbentuk materi sehingga mereka enggan untuk menyatakan beriman kepada Allah sebab Allah tidak dapat dilihat dan tidak diketahui secara indra, inilah pengakuan pengikut Nabi Musa yang dijelaskan Allah dalam surat Al Baqarah 2;55;  “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".

Seandainya  Allah memperlihatkan siapa Dia sebenarnya dan bisa dilihat oleh mereka [kaum Yahudi] tetap mereka tidak mau beriman, itu hanya dalih mereka saja. Disamping itu merekapun tidak mau beriman kepada Allah karena tidak bisa diindra, begitu diajak oleh musyrikin lainnya untuk menyembah berhala, walaupun tidak sesuai dengan akal mereka siap menerimanya karena Tuhan yang mereka amksud dapat disaksikan secara lansung, surat Al A’raf 7;138 menjelaskannya;  “Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu[562], Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".

Ketiga, penyebab lain seseorang syirik adalah mengikuti kehendak hawa nafsu tanpa mengacu kepada sandaran wahyu, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-Tuhan yang harus diikuti kemauannya. Ukuran  kebenaran adalah hawa nafsu, bila nafsu mengatakan baik maka wajib diikuti, padahal semuanya itu menyesatkan manusia; “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”[Luqman 31;21]

Segala tata aturan  yang dibuat manusia yang kita kenal dengan moral, etika, tata susila dan adat kebanyakan terbentuknya didesak oleh hawa nafsu yang sesuai dengan keinginan pembuat aturan, itulah makanya segala moral, etika, tata susila dan adat banyak berbenturan dengan wahyu Allah.

Keempat, penyebab syirik juga bisa karena sombong, yaitu sikap hidup yang merasa lebih tinggi dan lebih berharga dari orang lain sehingga tidak mau diatur oleh aturan yang diberi Allah. Itulah makanya Abu Thalib, Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya tidak mau masuk islam, bukan karena ajaran islam tidak baik dan benar menurut mereka tapi karena kesombongan mereka, watak ini pula yang menjadikan Fir’aun, Haman, Qarun dan Bal”am jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa; “Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di bawahku; Maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari orang yang hina Ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”[Az Zukhruf 43;51-52]

Seseorang bisa sombong karena memiliki kelebihan pada dirinya baik karena cantik/ganteng, kaya, punya pangkat, pinter, banyak pengikut, banyak ibadah dan kelebihan-kelebihan lain. Dari kesombongan itu puncaknya adalah penyepelekan Allah dan menganggap semua kelebihan tersebut bukan karunia dari Allah tapi hasil usaha pribadi.

Kelima, adanya para penguasa yang menindas manusia dan tidak berhukum dengan yang diturunkan Allah, hal ini terjadi pada penguasa tiran, yang memperbudak manusia sesuai dengan agama dan pandangan hidupnya, contoh saja sebelum Ratu Bulqis bertemu dengan Nabi Sulaiman, dia telah memerintahkan rakyatnya untuk menyembah berhala, atau kisah Ashabul Kahfi yang dipaksa oleh raja Dicnatius untuk menyembah Tuhan selain Alah, sehingga dia harus melarikan diri untuk menyelamatkan aqidahnya, tapi masyarakat yang lain telah disesatkan dengan cara kejam.

Sujud kepada berhala bukanlah satu-satunya syirik, apabila kita kembali kepada Al Qur’an kita akan tahu bahwa sujud kepada berhala adalah salah satu dari sekian banyak bentuk syirik,  diantara bentuk-bentuk syirik itu adalah

Pertama, mendekatkan diri  kepada selain Allah, yaitu mendekatkan diri kepada suatu benda dengan berkeyakinan bahwa benda tersebut dapat mendekatkan diri dipelakunya kepada Allah. Sebagaimana orang-orang Quraisy tetap mengakui Allah sebagai Tuhan tapi untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, menurut mereka manusia tidak bisa secara lansung kepada Allah karena manusia adalah makhluk yang lemah dan kotor maka harus pakai wasilah atau perantara, maka dijadikanlah patung sebagai perantaranya [Az Zumar 39;3] ”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Kedua, memohon pertolongan atau syafaat selain kepada Allah juga termasuk sifat dan sikap syirik sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Yunus 10;18  “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?"Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)”

Ketiga, cinta dan wala’ [loyalitas] yang ditujukan bukan kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman juga termasuk kategori syirik [5;55-57] apalagi cinta dan wala’ tadi mengakibatkan penghambaan. Seorang mukmin tidak boleh memberikan cinta dan wala’nya kepada Yahudi dan Nasrani [5;51], orang-orang kafir lainnya [9;23], orang-orang yang menentang syariat allah [58;22], orang-orang yang mengejek agama Allah [5;57]. Seorang mukmin tidak boleh mencintai sesuatu atau seseorang melebihi cintanya kepada Allah, Rasul dan berjuang menegakkan agama Allah [2;165, 9;24], bila hal ini terjadi berarti mereka telah menyekutukan Allah.
”Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Keempat, termasuk syirik adalah dalam ketaatan dan ikutan yang berkaitan dengan hukum dan undang-undang. Mengikuti undang-undang selain yang diturunkan Allah telah menodai aqidah tauhid [7;3]. Segala hukum yang dibuat manusia yang tidak bersumber dari syari’at yang diturunkan Allah walaupun benar, maka pengikutnya telah menjadikan hukum Allah sebagai pelecehan [2;170] atau memutar baikkan fakta kebenaran, yang halal diharamkan dan sebaliknya [9;13]. ”Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Kelima, riya’ yaitu berbuat karena mengharapkan pujian manusia bukan mencari ridha Allah, kata Rasulullah ini adalah syrik tapi dalam katagori syirik kecil, Allah berfirman dalam surat Al Kahfi 18;110]  “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Riya’ yang hinggap dalam hati manusia, walaupun dalam bentuk syirik kecil tapi dapat merusak ibadah sehingga ibadahnya tidak bernilai disisi Allah kecuali letihnya sujud dan rukuk dikala shalat, lapar dan haus yang terasa dikala puasa bahkan jihadpun tidak mendapat balasan pahala dari Allah [Al Baiyinah 98;5]. ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Keenam, bertuhan lebih dari satu sebagai tandingan  Allah, bisa terbuat dari bau, berupa berhala, harta, jabatan dan apa saja yang dijadikan sebagai Ilah, selain menjadikan allah sebagai Tuhan juga mengakui keberadaan Tuhan lain, baik sengaja maupun tanpa disadari; “ Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; Sesungguhnya dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".[An Nahl 16;51]

Ketujuh, menyembah Nabi Isa dan Maryam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Nasrani dizaman kini, mereka lakukan ini karena kelahiran Nabi Isa memiliki keistimewaan dibandingkan manusia lainnya “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".[Al Maidah 5;116]

Kedelapan, menyembah matahari dan bulan, inilah dahulu hampir dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat dia mencari eksistensi Tuhan, rasa rindu dan ingin tahunya menjadikannya putus asa hingga dia berkata,”Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta langit dan bumi” artinya terserahlah siapa Tuhan itu, tapi aku serahkan penyembahanku hanya kepada-Nya,  walaupun dia belum tahu siapa Tuhan yang sebenarnya. Banyak orang yang keliru mencari Tuhan yang dia sembah sebagaimana matahari dan bulan,“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah”[Fushshilat 41;37].

Kesembilan, banyak hal yang dilakukan manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan, namun karena kurangnya ilmu, taqlid buta sehingga aktivitas yang nampaknya ibadah menjadikan iman tauhidnya tercemar, yang nampaknya abadat tapi sebenarnya adat, dikira sunnah padahal bid’ah.
 
Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [53;62], menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [3;32] dan hanya mencintai Allah semata [9;24]. Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman. Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang  tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, bahaya syirik itu adalah;

            Pertama, memadamkan cahaya fithrah; kesucian manusia telah mengakui Allah sebagai Ilah sejak dari alam ruh atau alam kandungan [7;172] sebagaimana sabda Rasulullah,”Setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”[HR. Bukhari] Bila syirik telah menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat merusak iman, bila shyirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan kondusif untuk itu.

Kedua, mematikan tuntutan jiwa yang suci, jiwa membutuhkan yang baik, suci dan tauhid, syirik berarti mematikan jiwa yang suci dan menghambat tuntutan hati nurani manusia [22;31]”dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Ketiga, bahaya syirik juga menghilangkan perasaan izzah/ harga diri, mereka yang melakukan perbuatan ini tidak ada harga dirinya dihadapan Allah dan manusia, karena perbuatan ini termasuk perbuatan penyelewengan aqidah; ‘Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita Telah kembali ke Madinah[1478], benar-benar orang yang Kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui’[Al Munafiqun 63;8].

Keempat, syirik dapat menggugurkan amal shaleh sehingga segala kegiatan yang dilakukan walaupun berujud ibadah maka disisi Allah tidak akan dihitung dan tidak pula diperhitungkan, karena mereka telah mencemari pengabdian, tidak mengingkari tauhid yang suci;  “ Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az Zumar 39;65]

Kelima, Syirik termasuk perbuatan zhalim yang besar sebab dia telah mengkhianati Allah swt, mengkhianati manusia saja sudah dianggap buruk prilaku demikian apalagi mengkhianati-Nya. Itulah makanya Luqman lebih dahulu membesihkan hati anaknya dari perbuatan syirik sebelum memberikan tuntutan ibadah, dari sekian kezhaliman maka syirik merupakan sebesar-besarnya kezhaliman; “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Luqman 31;13]

Keenam, syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar; “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48]

Ketujuh, syirik yang dilakukan seorang hamba juga berarti telah menyeretnya kepada kesesatan yang jauh, lebih primitif dari pada orang-orang jahiliyah, seseorang bila tidak berada dalam lingkungan dan lingkaran tauhid b erarti dia  hadir dalam lingkaran syirik, dari sekian kesesatan maka syirik merupakan kesesatan yang sangat jauh, sulit untuk diberikan kesadaran , firman Allah dalams urat An Nisa’ 4;60 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Kedelapan, orang yang syirik kepada Allah dengan berbagai bentuk dan caranya, diharamkan untuk masuk syurga, tidak ada tempat disyurga bagi mereka yang telah mengingkari Alllah dengan melakukan syirik, syurga itu untuk orang-orang yang bersih aqidahnya, tempat yang syirik adalah neraka, Al Maidah 5;72 menjelaskan;“ Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Demikian besarnya bahaya bagi mereka yang menserikatkan Allah, baik di dunia sampai di akherat Allah tidak simpati kepada mereka bahkan sia-sia hidupnya walaupun amal-amal mereka nampak, syirik inipun salah satu perbuatan orang-orang kafir sehingga keberadaan mereka sama saja dengan  orang-orang kafir, wallahu a’lam.[Cubadak Solok, 16 Ramadhan 1431.H/ 26 Agustus 2010]

289. Rahasia



Sesuatu hal yang kita simpan rapat-rapat, tidak boleh diketahui oleh orang lain, bila diketahui kita merasa malu, hal itu disebut dengan rahasia.Ada rahasia pribadi, keluarga hingga rahasia Negara yang harus disembunyikan oleh orang yang dianggap mampu untuk menyimpannya, hanya boleh diketahui oleh orang yang pantas untuk diberitahu.

Hidup ini penuh dengan rahasia.Kalau gak ada rahasia, kayanya gak seru.Coba kalau semua manusia tidak dirahasiakan hari kematiannya, bisa-bisa tak ada kehidupan.Tak ada yang mau kerja apalagi bermaksiat, karena tahu batas hidupnya lalu semua pada giat beribadah.

Namun bagaikan hukum logika terbalik, justru dirahasiakannya umur manusia membuat orang merasa tidak sungkan berahasia-rahasia kepada Allah.Seakan-akan Allah tidak melihat apapun yang dilakukannya.Ia hanya menutup aibnya kepada sesama namun lupa Allah Maha Melihat/Al Bashiir, Maha Mengetahui Rahasia/Al Khabiir. Coba baca Surah Az-Zukhruf (QS43) ayat 80 yang artinya 'Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.'

Atau mungkin kita merasa pandai menyimpan suatu rahasia?Aa Gym pernah menyampaikan, masih banyak yang mau berkawan dengan kita hanya karena aib yang kita tutup-tutupi ini masih disimpan dan ditutup rapat oleh Allah.Padahal yang namanya aib itu kalau sudah terbuka sedikit saja, bau busuknya menyebar kemana-mana.Tak sedikit teman kita yang menutup hidung lalu diam-diam pergi tak kembali, malu berkawan dengan kita lagi.Lain halnya bila rahasia itu adalah rahasia kebaikan. Kita menutup-nutupi amal ibadah kepada orang lain karena takut ujub dan riya' tentu baik adanya. Bersedekah dan berinfaq, sebaiknya juga menjadi rahasia kita dengan Allah saja, karena takut berkurang nilainya bila kita ingin orang lain mengetahuinya.

Apapun yang kita lakukan, Allah jelas mengetahui.Sedikit amal atau dosa yang kita kerjakan, selalu ada ganjarannya.'Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.' (QS 99:7-8).

Jadi sudahlah, tidak usah main rahasia-rahasiaan sama Allah. Bisa hancur hidup kita dalam sekejab.Bila Allah tidak menimpakan azabNya saat kita bermaksiat itu tandanya masih ada kesempatan kita untuk bertaubat. Namun bila kesempatan itu kita sia-siakan, percayalah, azab Allah sungguhlah pedih...[Oyi Kresnamurti, Tentang Rahasia , Media ummat, Senin, 05 Juli 2010 04:48].

Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan menyeru dengan suara yang tinggi, "Janganlah kalian menyakiti kaum Muslim, janganlah menjelekkan mereka, janganlah mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudara sesama Muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan, siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun ia berada di tengah tempat tinggalnya." (dari Abdullah bin 'Umar)

Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitabnya Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul  mengungkapkan, di zaman sekarang ini sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya dalam menjaga rahasia. Kebanyakan manusia-kecuali manusia yang mendapat pertolongan Allah-tak dapat menjaga rahasia orang lain. Padahal, membuka aib orang lain termasuk bagian dari khianat.

Dalam hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa menutupi aib dan menjaga rahasia termasuk keutamaan.Nabi SAW menganjurkan agar umatnya senantiasa saling memelihara rahasia dan menutupi aib saudaranya agar dapat hidup bermasyarakat dalam ketenangan, kedamaian, juah dari keresahan, kedengkian, serta balas dendam.

Namun, kita sering melalaikan peringatan ini.Kita kerap kali bermain-main dengan aib. Kita lupa kalau suatu saat Allah SWT pun akan membukakan aib kita tanpa bisa ditolak. Sesungguhnya, ketika membuka aib orang lain, sama dengan memberitahukan aib kita sendiri

Padahal, dengan menutup aib orang lain, Allah akan menutup aib kita, baik di dunia maupun akhirat. Rasulullah bersabda, "Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia, melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya".

Aib merupakan sesuatu yang diasosiasikan buruk, tidak terpuji, dan negatif.Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya.Manusia harus berintrospeksi dan menghisab diri sendiri untuk memperbaikinya. Umar bin Khattab berpesan, "Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang."

Dalam hidup, kita terkadang terlupakan dengan aib-aib sendiri yang begitu menggunung karena begitu seringnya memikirkan  aib orang lain. Kita juga sering lupa untuk bersyukur bahwa Allah telah menjaga aib-aib kita. Sesungguhnya, manusia bukanlah apa-apa jika semua aibnya dibukakan di depan mata orang lain.[Budi Raharjo, Agar Allah tak Membuka Aib Kita ,Republika.co.id,Ahad, 28 November 2010, 18:27 WIB].

Kalau kita bicara rahasia maka tidaklah semuanya negative, bahkan banyak sekali yang rahasia itu bersifat positif kemudian dipublikasikan sehingga menjadi rahasia umum, seperti rahasia dibalik marah.

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab, ''Jangan marah!'' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.

Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau.''Jangan marah!''Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah.''Dan bagimu adalah surga!''Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana.Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah.Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok.Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk).  Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji).  Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang.[Ustaz Muhammad Arifin Ilham, Rahasia di Balik AmarahRepublika co.id, Jumat, 07 Mei 2010, 10:29 WIB].

Begitu juga halnya dengan kelahiran, rezeki, jodoh dan maut merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui oleh manusia, setelah terjadi barulah kita tahu rahasia itu.Rezeki yang kita peroleh dari tetesan keringat dan membanting tulang bukanlah mutlak dari usaha kita sendiri, semuanya berada di tangan Allah yang merupakan rahasia Allah sendiri, kita hanya dianjurkan untuk berusaha secara maksiat dan berdoa.

Harta bukan simbol keberhasilan, karenanya banyak orang kaya raya justru gagal dalam hidupnya.Ia semakin menderita ketika di tangannya banyak harta. Pikirannya semakin terbebani sehingga seluruh pikiran dan perasaan tertuju ke sana. Dan sehebat apapun manusia mempertahankan hartanya ia pasti akan meninggalkannya. Tidak ada cerita bahwa orang-orang kaya tetap bertahan hidup selama hartanya masih ada.Bahkan sudah tak terhitung para raja dan para konglomerat yang meninggal dunia.Padahal istana mereka masih megah.Dan harta mereka masih banyak.Maka sungguh salah orang-orang yang mempunyai persepsi bahwa semakin banyak harta semakin berhasil.Semakin banyak harta semakin tinggi derajatnya. Perhatikan apa yang mereka alami justru di saat-saat mereka hidup nyaman? Sungguh banyak orang yang hidup di negara maju, dengan fasilitas kemewahan yang lengkap, malah justru mereka stress.  Banyak para artis justru menderita setelah memiliki harta yang banyak.Bukankah ini semua adalah bukti bahwa harta bukanlah simbol keberhasilan.

Harta bukan simbol ketinggian derajat. Banyak orang salah paham, sehingga mengira bahwa dengan banyak harta ia akan semakin terhormat. Lalu dia segera merasa di atas. Dengan banyak pegawai dan pembantu ia semakin merasa tinggi. Lidahnya hanya main perintah.Orang-orang di sekitarnya dianggap budak.Lebih dari itu mereka merasa gengsi duduk dengan pegawai rendahan.Dan yang sangat memalukan mereka merasa tidak pantas datang ke masjid untuk shalat berjamaah bersama orang-orang umum yang tidak se level jabatannya. Akibatnya ia memilih tetap di kantornya, tidak mau turun ke masjid, dan merasa tidak berdosa sekalipun ia sengaja meninggalkan shalat berjamaah, karena rapat dan pertemuan bisnis. Apakah sampai sejauh ini mereka merasa tinggi, karena harta dan jabatan yang dimiliki, sehingga secara bertahap lupa daratan, dan tidak mau turun ke bawah.Lalu sedikit demi sedikit memposisikan dirinya seperti Tuhan yang harus dipatuhi, dan siapapun yang melanggar aturannya diancam dengan PHK. Bahkan ada seorang pegawai yang karena saking takutnya minta izin untuk shalat sehingga ia rela tidak shalat demi pekerjaan kantornya.[Rahasia Harta ,Dakwatuna.com.12/10/2010 | 04 Zulqaedah 1431 H].

Hidayah merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia sehingga beriman kepada-Nya, tidak semua orang dapat meraihnya, karena hal ini adalah rahasia dan hak preogatif Allah saja.

Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita paham bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman  kepada Al Qur’an, tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh kepada tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang melanggar dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa banyak yang dengan tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat, berzina, korupsi, makan harta riba, padahal mereka secara ritual menegakkan shalat, pergi haji, dan melaksanakan puasa Ramadhan.

Lebih jauh, banyak dari para anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti hati ibunya, padahal tuntunan mencintai orang tua dan  mengabdi kepada mereka, adalah tuntunan yang sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang Allah utus diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut.Al Qur’an sangat jelas menceritakan syariah ini.Tidak ada keraguan di dalamnya bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan.Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan.Berapa banyak orang tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan mengejar harta.Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban membantu orang tua.Lebih parah, bahwa seringkali orang tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat kematiannya.Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.Di manakah hidayah dalam hatinya.

Banyak juga dari orang tua yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk urusan mencari makan.Sementara untuk urusan agamanya diabaikan.Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil secara duniawi, sementara mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka tidak tahu cara mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas, sementara di saat yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit dari mereka yang terbiasa berzina.Dan itu dianggap sah-sah saja. Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di luar nikah. Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang taat beribadah. Dalam kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah peran hidayah Al Qur’an yang mereka yakini?Apa arti pengakuan beriman kepada Al Qur’an, bila ternyata secara terang-terangan ajaran Al Qur’an di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an, diartikan sebatas kepatuhan ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?[Rahasia Hidayah , Dakwatuna.com.6/10/2010 | 27 Syawal 1431 H] |

Manusia adalah makhluk Allah yang berkewajiban untuk mengimani-Nya dengan baik, menerima segala kehendak yang sudah ditentukannya, kita sebagai hamba tidak berdaya sedikitpun atas kehendak dan ketentuan Allah karena nyawa kita berada dalam genggamannya, segala kejadian yang kita alami seperti susah dan senang, bahagia dan sengsara, bencana dan musibah merupakan rahasia Allah semata, kita  dianjurkan untuk mengakui dengan tawakkal semua itu karena kehendak dan ketentuan-Nya.

Kata musibah seringkali diulang dalam Al Qur’an untuk makna peristiwa atau bencana yang menimpa.Dan Allah tegaskan bahwa itu terjadi karena izin-Nya.Ini menunjukkan bahwa di atas segala kekuatan ada kekuatan Allah.Bahwa manusia di alam ini hanya makhluk yang lemah, maka tidak pantas merasa diri berkuasa.Lalu bertindak seenak nafsunya.Tanpa memperhatikan rambu-rambu yang Allah turunkan.Lebih jauh, setiap musibah yang menimpa juga memperlihatkan bahwa alam ini di bawah kendali Allah.Sebab Dialah memang Pemiliknya.Maka tidak pantas manusia di muka bumi ini mengabaikan-Nya.

Namun kenyataan sejarah selalu dipenuhi contoh-contoh manusia yang membangkang.Manusia yang berani melawan Allah.Manusia yang merasa tidak butuh kepada tuntunan-Nya.Sehingga wahyu yang Allah turunkan dianggap tidak penting. Bahkan tidak sedikit manusia yang meragukan Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Akibatnya berbagai perilaku manusia semakin jauh dari apa yang Allah inginkan. Perzinaan di mana-mana dianggap biasa, padahal Allah melarangnya.Harta haram dibanggakan, padahal itu harta yang paling Allah benci. Kedzaliman di mana-mana terjadi, padahal Allah mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan lain sebaginya.

Ini semua tentu dimurkai oleh Allah.Dan dalam Al-Qur’an, misalnya surah Al-Fajr, Allah menjelaskan bahwa turunnya adzab sebenarnya bukan semata fenomena alam – seperti yang banyak dipahami manusia modern – melainkan ada sebab yang diperbuat oleh manusia sendiri.Itulah kisah adzab yang menimpa kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Fir’un.

Dari sini kita belajar bahwa bencana tetap di luar kemampuan manusia, karena Allah langsung yang mengendalikannya.Dan manusia tidak punya pilihan –apapun upaya yang dilakukan – kecuali hanya tunduk dan patuh kapada Allah sepenuh hati dan semaksimal kemampuan.Jangan ulangi kembali dosa-dosa yang membuat Allah murka. Jauhi segala apa yang Allah haramkan. Ingat Allah mempunyai tujuan dan aturan.Maka sebagai makhluk, manusia harus tahu diri. Jangan menganggap dirinya sama dengan Allah. Lalu merasa independen dan menganggap dirinya bisa bertahan hidup tanpa Allah.[Rahasia Musibah ,Dakwatuna.com, 5/10/2009 | 15 Syawal 1430 H]

Begitu banyaknya rahasia kehidupan ini yang tidak kita ketahui karena keterbatasan kita sebagai makhluk, tapi bagi Allah tidak ada satupun rahasia yang tersembunyi bahkan detak jantung manusia atau jatuhnya daun pada sebuah hutan yang lebat bukanlah rahasia bagi Allah. Kita juga punya rahasia dalam hidup ini, rahasia pribadi sampai rahasia rumah tangga, dalam islam kita dituntun untuk tidak membuka rahasia rumah tangga kita kepada orang lain, itulah makanya hikmah sebuah rumah yang punya pintu gerbang, setelah pintu gerbang dibuka barulah bisa masuk ke pekarangannya, rumahpun dikunci pintunya, didalam rumah ada kamar yang dikunci pula tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar kecuali orang yang berhak untuk memasukinya, sehingga sangat tidak baik bila orang yang ada di dalam kamar itu membuka rahasianya pada orang lain, rahasiakanlah segala yang harus dirahasiakan jangan jadi berita harian, wallahu a’lam.[Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].

288. Sawah Ladang



Banyak ujud kekayaan yang ada di dunia ini menjadi modal dan fasilitas hidup manusia sebagai pribadi, hidup berumah tangga maupun hidup dalam komunitas sosial, bahkan harta kekayaan itu sebagai simbol keberadaan seseorang seperti sawah dan ladang, tambak ikan dan perkebunan. Bahkan di India dalam  film-filmnya dikenal dengan seorang tokoh dengan nama Tuan Takhur yang punya lahan sawah  ladang sangat luas yang digarap oleh pekerja-pekerja yang mengandalkan upah dari tetesan keringatnya dari sang tuan, disamping itu Tuan Takhur juga dikenal keras, kasar dan pelit, tidak jarang penindasan fisik dan mental terjadi terhadap anak buahnya.

Negeri Indonesia begitu indah, lembah curam yang mendebarkan, bukit dan gunung biru begitu memukau keelokannya sebagian besar masih perawan belum terjamah investor , dataran luas membentang dengan aneka tanaman, bergelayut pada dahan-dahannya berbagai buah yang menjanjikan kelezatan dan kenikmatann bagi penikmatnya. Cuaca dan iklim yang serasi, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga cocok  untuk menyuburkan segala jenis tanaman, menyehatkan penduduknya karena udaranya masih terhindar dari polusi dan erosi.

Aktivitas bercocok tanam di sawah dan di ladang sudah berlansung sejak zaman dahulu, zaman pra sejarah mengajarkan kepada kita bahwa budaya bertani diawali dari  seorang lelaki yang mencari makanan pada hutan tempat tinggalnya,  mereka mengambil  buah-buahan apa saja pada semua pohon yang nampak, dipilah dan dipilih buah yang baik melalui rasa enak dan manis lalu dibawa pulang, di gubuk yang mereka huni atau gua-gua yang aman tempat berteduh dan berlindung.  Buah-buahan yang mereka nikmati itu tanpa difikirkan bagaimana menumbuhkannya, yang penting hari ini dan kini dimakan, kulit dan biji-bijinya dibuang saja ke depan gubuk atau agak jauh dari gua, tanpa disadari biji-biji itu tumbuh, dalam waktu relatif lama pohon itu membesar dan berbuah dan dapat dinikmati lagi tanpa harus mencari ke hutan yang agak jauh.

Dari peristiwa itu akhirnya manusia purba tadi bercocok tanam, berladang, bertani dan memulai kehidupan baru dari generasi ke generasi dengan memadukan aktivitas berburu, mereka sudah punya kepandaian membuat perkakas dari batu dan kayu sebagai alat untuk mengolah tanah, sesuai dengan panjangnya perjalanan waktu  kehidupan manusia semakin berubah membaik hingga memasuki kehidupan modern tapi bertani di sawah dan ladang tidak mungkin ditinggalkan bahkan pengolahanpun semakin modern pula.

Aktivitas masyarakat kita yang bertanah luas lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok dengan sawah dan ladang sebagai mata pencaharian utama yang sekaligus untuk kepentingan  masyarakatnya. Paling tidak tiap hari makanan pokok dari hasil jerih payah di sawah dan ladang yang dapat membantu peningkatan kesejahteraan keluarga, sekolah anak-anak dan kepentingan lainnya, apalagi kalau panen raya dan rezeki baik dapat untuk mencukupi kebutuhan primer dan sekunder, sehingga dapat dikatakan jual hasil sawah untuk beli sawah atau jual kol untuk beli colt.

Beruntung mereka yang punya lahan sawah dan ladang, baik dari usaha pembelian ataupun peninggalan warisan orangtua dan keluarga sehingga hanya membutuhkan tenaga dan biaya produksi saja sedangkan hasilnya dapat diambil seutuhnya tanpa ada biaya atau beban lain. Sedangkan bagi yang tidak punya lahan maka aktivitasnya hanya sebagai pekerja saja, menghabiskan segala potensinya dari pagi hingga sore bahkan malam harinya, ketika panen bagian tuan tanah atau majikan harus dikeluarkan ditambah lagi serangan hama sebagai musuh yang harus dihadapi sendiri. Kadangkala hasilnya tidak mencukupi dibandingkan panen tahun lalu  sehingga harus ditanggulangi dengan pinjam sana pinjam sini kepada masyarakat yang agak berpunya dengan jaminan tahun depan dibayar dari hasil penjualan panen dari sawah atau ladang.

Semakin berkembang kehidupan manusia, orangtua tidak mau lagi kelak anak-anaknya semenderita mereka yang berendam terus menerus di sawah dan ladang membanting tulang harus menahan dan menanggung lelah. Sehingga orangtua punya obsesi untuk menyekolahkan anaknya ke kota dengan harapan kelak hidup sang anak akan lebih baik dari ayahnya, kalau sudah tamat sekolah dan ada keberuntungan  bisa jadi pegawai negeri atau bekerja pada tempat-tempat yang lebih menjanjikan untuk masa depannya. Karena tidak mungkin anak dan cucunya kelak terjun ke sawah dan ladang yang semakin hari semakin sempit karena tidak ada  penambahan lahan sedangkan keturunannya semakin berkembang, mustahil sawah dan ladang yang hanya sekian luasnya diperebutkan oleh anak-anak, kemenakan dan cucu-cucunya, jalan keluarnya adalah urbanisasi secara lansung merantau ataupun dengan jalan sekolah ke kota.

Sebaliknya, karena lebih mudah mencari uang di kota dari pada membajak sawah dan mencangkul ladang di kampung lebih baik buka kounter HP atau buka jasa Internet atau jadi Satpam di sebuah instansi, apapun profesi tidak jadi masalah asal tinggal di kota dari pada di kampung. Seiring dengan waktu yang tua-tua semakin beranjak ke usia senja, sawah tidak sepenuhnya dapat dikelola lagi, tenaga tidak seperkasa waktu masih muda sehingga untuk sementara sawah diserahkan kepada orang lain untuk dikolola bagi hasil dan bila tidak tentu lahan akan kosong untuk waktu tertentu, sedangkan biaya hidup sehari-hari mengandalkan dari usaha anak-anak yang bekerja di kota. Setelah itu kita akan melihat lahan sawah dan ladang beransur kosong karena tidak tergarap lagi, akhirnya tumbuhlah semak-semak belukar hingga merimbun.

Di zaman Umar bin Khattab, tidak boleh ada lahan masyarakat yang kosong, semuanya harus digarap untuk kepentingan pertanian dan usaha dalam rangka meningkatkan perekonomian, bila ada lahan yang kosong lebih dari tiga bulan maka pemerintah bertindak dengan mengambilalih. Karena peran serta dari pemerintah inilah sehingga tidak ada lahan yang kosong, semuanya produktif untuk mencukupi kesejahteraan rakyat. Memang pemerintah seharusnya memberikan stimulan kepada masyarakat untuk memproduktifkan sawah dan ladang hingga perkebunan dengan memberikan bibit berbagai jenis, selain pupuk yang murah juga penyediaan bantuan kridit untuk pengolahan dan pemeliharaan tanaman hingga panen.

Ketika saya melancong ke Malaysia tahun 2009, dari perjalanan yang dilalui nampak bahwa di negeri jiran itu tidak ada lahan yang kosong, semuanya digunakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk tanaman yang kelak menghasilkan ringgit tidak sedikit. Kita tidak menemukan lelaki yang menghabiskan waktunya berjam-jam di kedai-kedai kopi, semuanya sibuk dengan urusan ekonomi dan pemakmuran hidup keluarga masing-masing. Kita bisa berdalih bahwa negara jiran itu mempunyai lahan tidak seluas Indonesia sehingga mudah bagi mereka untuk menggarapnya, sedangkan kita punya lahan yang luas, tenaga yang terbatas juga sikap mental ogah-ogahan bergerak di lahan ini.

Kita  akan menemukan dan melihat  sebuah ladang yang kita miliki dengan bermacam-macam tanaman yang serba sedikit, sebuah lahan yang hanya satu atau dua hektar tapi ditumbuhi oleh pohon kelapa sepuluh batang, pohon durian empat batang, disana juga tumbuh pohon jengkol, coklat agak sedikit, ada pula cengkeh dan kulit manis, dengan senang hati pula kita menanam pisang agak dua atau tiga batang, ada sayur-sayuran agak sedikit pula. Sehingga wajar dikala panen pisang hanya diperoleh beberapa sisir saja, tentu untuk keperluan makan sendiri, hasil panen hanya untuk menggulai saja, kulit manis juga tidak dapat dirupiahkan yang menjanjikan, kalau begini kapan kita akan bisa menghasilkan panen yang satu macam saja tapi dapat menyelesaikan segala keperluan hidup. Misalnya sebuah lahan ditanami durian semuanya, atau kelapa semuanya atau coklat semuanya dengan menyingkirkan tanaman lain, sehingga dikala panen dengan buah durian ribuan jumlahnya, atau panen kelapa sekian mobil hanya harus di bawa ke kota, atau hasil coklat ratusan kilo hasilnya.

Dalam sebuah perjalanan Rasulullah pernah melihat seorang petani melakukan pencangkokan tanaman satu dengan lainnya dengan maksud supaya buahnya lebih baik dari yang lalu dan itu berhasil, hal itu diinformasikan oleh Rasulullah kepada sahabatnya di Madinah, maka dicoba pulalah untuk melakukan pencangkokan itu tapi hasilnya tidak sebaik orang lain, mungkin ada kesalahan teknik sehingga Rasul menyatakan,"Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian", artinya walaupun hanya berkaitan dengan sawah dan ladang, tanaman dan pertanian maka semuanya akan menghasilkan yang unggul bila dikerjakan oleh para ahlinya, ingat kata Nabi, bila suatu pekerjaan tidak dikerjakan oleh ahlinya maka  tunggulah kehancurannya.

Sawah dan ladang yang produktif, dengan hasil yang baik dapat menanggulangi kehidupan rumah tangga hingga mampu mencetak anak-anak jadi sarjana dan dapat pula untuk membeli ladang-ladang lain di lokasi berbeda sehingga perekonomian masyarakat hidup dan menghidupkan perekonomian daerah itu. Sehingga terbukti negara kita negara agraris yang subur, tidak ada yang tidak tumbuh bila ditanam dengan baik, sedangkan  tongkat kayu saja yang ditancapkan bisa tumbuh jadi  tanaman. Namun kadangkala kesadaran untuk mawas diri terlambat karena terlena dengan hasil panen sawah berupa padi yang dapat dipastikan empat atau enam bulan sekali memetik hasilnya dan hasil ladang yang bisa dikumpulkan setiap waktu, lalu lupa untuk menjaga kelestarian alam, penebangan hutan-hutan lindung yang seharusnya untuk menyimpan persiapan air, perambahan hutan yang mendatangkan erosi, pembakaran hutan yang menimbulkan polusi yang tanpa diduga akhirnya jadi malapetaka berupa banjir dan  longsor yang diawali dari kelalaian dan keserakahan manusia yang hanya mengekplorasi alam tapi tidak menjaga kelestariannya. 

Keterlenaan terhadap hasil panenpun melupakan untuk menunaikan hak-hak yang harus dikeluarkan untuk kepentingan lain, zakat dan infaq jarang sekali terbayarkan oleh petani dengan alasan hasil panen tidak memadai, tahun depan sajalah kita berzakat dan berinfaq, waktu yang digunakanpun habis untuk menggarap lahan sementara kewajiban untuk sujud kepada Allah melalui shalat sering sekali diabaikan dengan alasan, pakaian dan badan dalam keadaan berkubang lumpur dan tanah, sehingga shalat tidak jadi dilaksanakan. Sehingga wajar bila ada sebuah cerita yang berkaitan dengan penggarapan sawah dan ladang ini, ketika pertengahan hari, pak tani istirahat membajak lahannya, sambil istirahat sang kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?' petani menjawab,"Sedang istirahat sejenak melepas lelah", sang kerbau berkata,"Sama, saya juga sedang istirahat". Waktu makan tiba, kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?" petani menjawab,"saya mau makan", kerbau berkata,"Sama, saya juga mau makan". Waktu  berkumandang adzan zhuhur, sang kerbau bertanya lagi, "Suara apa itu tuan?",maka dijawab,"Itu suara adzan zuhur untuk melaksanakan shalat", kerbau bertanya,"Apakah tuan shalat?", dijawab,"Tidak", kerbau yang aneh itu berkata pula,"Sama dong tuan dengan saya".

Masyarakat sebagai penduduk asli biasanya bangga dengan banyak lahan yang dimiliki walaupun lahan itu tidak digarap, dibiarkan kosong begitu saja sehingga tidak produktif. Produktifitas lahan akan dapat dipacu bagi mereka pendatang yang mendapat lahan sempit dari rasa kasihan orang atau mengikuti program pemerintah yaitu mengikuti transmigrasi yang disediakan lahan khusus oleh pemerintah untuk mereka berusaha di tempat baru itu, ketidakpunyaaan itulah yang membuat pendatang untuk bekerja keras, memeras keringat dengan sungguh-sungguh, untuk beberapa tahun sampai bisa mengalahkan penduduk asli yang cendrung malas dan lamban, lihatlah lahan-lahan produktif dilokasi transmigrasi seperti  Sitiuang Sawahlunto Sijunjung atau di  Darmasraya juga terjadi di Pasaman, semuanya dikerjakan oleh masyarakat pendatang dari Jawa yang akan hidup baru dan lebih baik dari daerah asalnya, hasil itu mereka rasakan beberapa tahun kemudian, namun atas keberhasilan itu akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial, rasa tidak senang dari masyarakat asli, terjadilah perselisihan, pengusiran dan perampasan lahan kembali yang berakhir dengan aparat yang berwajib.

Petani penggarap lahan tuan Thakhur saja tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan tepat karena mengejarkan targetnya, apalagi tuan Thakhur yang banyak mempunyai lahan, hanya berfikir bagaimana kekayaannya selalu bertambah, hasil panen selalu baik dan harga membubung tinggi yang akan membeli hasil pertanian dan perkebunannya. Bila hal ini terjadi maka akan berlaku pula musim yang berlansung pada kaum Saba', mereka orang-orang yang tidak bersyukur atas hasil pertanian dan perkebunan yang mereka peroleh, "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir" [Saba' 34;15-17].

Satu ketika Umar bin Khattab terlena dengan perkebunannya sedangkan maghrib sudah berkumandang, sehingga dia bergegas datang shalat ke Masjid, rupanya dia terlambat satu rakaat saja, dengan kejadian itu akhirnya kebunnya tadi dia jual dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan ummat islam. Pernah pula dia asyik menyaksikan tanam-tanaman yang ada di kebun yang lain, tanpa disadarinya waktu ashar sudah masuk, tanpa menunggu yang waktu lama, dia serahkan ladangnya itu kepada fakir-miskin yang sangat membutuhkan. Hal ini terjadi karena Umar menyadari bahwa sawah, ladang dan kebun yang dimilikinya dapat melalaikannya dari mengingat Allah, keterlenaan ini membuat jiwa pengabdiannya terganggu, maka dia mengambil sikap memberikan iqab atau sangsi kepada dirinya, itulah Umar yang tidak mau memanjakan kesalahan yang dilakukan dirinya, sekecil apapun harus diberikan sangsi dalam rangka efek jera terhadap keterlenaan dan godaan yang melenakan.

Lebih baik kesadaran timbul sebelum datangnya azab Allah bagi orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan, sebuah gambaran yang diungkapkan Allah bagi pemilik kebun, yang punya sawah ladang tapi mereka tidak bersyukur tergambar kehancuran itu dalam surat Al Kahfi 18;32-43

''Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
 Dan dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia Berkata kepada Kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat"
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri[882]; ia berkata: "Aku kira kebun Ini tidak akan binasa selama-lamanya,
Dan Aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya Aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu".
Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
Tetapi Aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua Ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,
Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi".
Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia Telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku".
Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya".

Sukses sebagai petani memang membawa berkah kepada kehidupan bila asfek-asfek islam dilaksanakan, banyak kita saksikan orang yang mampu menunaikan ibadah haji tentu diiringi pula dengan pembayaran zakat dan infaq, bisa mempekerjakan tenaga kerja sekian orang, bisa membeli mobil, membangun rumah dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi karena hasil sawah  dan ladang yang digarap seitqan mungkin [manajemen yang rapi]  dan mujahadah [kesungguhan yang maksimal]. Apalagi mempunyai lahan yang luas, subur dan strategis untuk pertanian dan perkebunan sehingga ketika musimnya tiba sawahnya menguning dengan bulir-bulir padi yang bagus, senang dan bahagialah petani memanen hasil jerih payahnya dengan rasa syukur yang tiada terkira. Dilanjutkan pula panen sayur-sayuran pada ladang yang lain, belum lagi karet dan coklat sudah layak pula untuk diambil hasilnya.

Sampai kapan petani akan berhenti mengolah sawah dan berhenti menggarap ladang miliknya atau hanya sebagai pekerja karena sawah dan ladang itu milik orang lain dengan perjanjian bagi hasil, jangan disuruh mereka berhenti berbuat dan berkarya pada lahan itu karena pada ayunan cangkul, pada tetesan keringat dan kelelahan yang mereka rasakan setiap hari, sejak dari pagi buta hingga malam pekat dihabiskan untuk menanti hasil jerish payahnya, semuanya itu mengandung kebaikan, ada pahala dan berkah yang diberikan Allah, baik di dunia ini yang dapat dirasakan hasilnya atuapun di akherat kelak, Rasul menyatakan dalam hadistnya, seandainya kalian tahu bahwa besok akan terjadi kiamat, sedangkan di tangan kalian ada beberapa butir bibit kurma, maka tanamlah, karena dari usaha itu akan mendapatkan pahala, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ 2010.M].