Rabu, 02 Maret 2016

294. Sombong



Manusia adalah makhluk dhaif [lemah] yang diciptakan Allah Swt melalui proses panjang yang diawali dari terpancarnya sperma hingga bertemu dengan sel telur pada sebuah rahim seorang wanita, selama sembilan sepuluh hari maka   terujudlah sang junior melalui kelahiran lazimnya seorang manusia. Kehadirannya sangat lemah sekali, tidak berdaya, bahkan rawan oleh penyakit yang dapat mengakhiri ajalnya. Melalui seleksi alam, perawatan orangtuanya dan takdir Allah lambat laun perkembangannya sangat menentukan eksistensinya sebagai ciptaan yang paling bagus dibandingkan hamba Allah yang lain, sebagaimana yang  digambarkan dalam surat At Tin 95;4-5 ”sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),”

            Bila manusia selama perjalanan hidupnya tetap sesuai dengan fithrah kejadian selaras kebaikan yang terimplementasikan melalui aktivitas sehari-hari, apalagi mampu meraih derajat mulia dengan prediket taqwa maka Allah dekat dengannya [49;13], posisinya masih layak ”ahsani taqwim” sebaik-baik kejadian. Apabila telah melanggar aturan Allah dengan kecongkakan dan keangkuhan maka posisinya jauh terlempar di dasar neraka jahanam ”asfala safilin”, sebagai ujud kebencian Allah kepada mereka bahkan dapat disebut dengan ”mukhtal fakhur” orang-orang yang angkuh, congkak, sombong atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, baik kedudukan, keturunan, kebagusan bentuk dan lain-lain sebagainya.

            Orang yang demikian diberikan oleh Allah berbagai ancaman yang sangat mengerikan, salah satu bentuk kesombongan itu adalah enggan menyembah Allah atau malah sombong karena banyaknya ibadah yang dilakukan dalam  rangka mendekatkan diri kepada-Nya [Al Mukmin;60]  ”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."

            Rasulullah menyatakan dalam hadits qudsi,”Allah Ta’ala berfirman,”Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Ku lemparkan ia ke dalam jahanam dan tidak akan Ku perlihatkan lagi”{HR.Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah].

Takabur atau angkuh dan sombong itu terbagi menjadi dua, yaitu yang dalam batin dan yang tampak lahir, yang batin ialah yang merupakan kelakuan-kelakuan yang keluar dari anggota badan. Kelakuan – kelakuan ini amat banyak sekali bentuknya dan oleh karena itu sukar untuk dihitung dan diperinci satu persatu. Bahaya sifat ini besar sekali sedang kerusakan yang diakibatkannyapun sangat luar biasa hebatnya. Bagaimanakah tidak akan besar bahayanya, sedangkan Rasululah Saw sendiri pernah bersabda,”Tidak dapat masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat debu dari sifat ketakaburan”[HR.Muslim]

            Sifat takabur ini sampai dapat tabir atau penghalang antara seseorang yang memilikinya dengan syurga. Sebabnya tidak lain  ialah karena takabur itu pulalah yang merupakan batas pemisah antara seseorang dengan akhlak dan budi pekerti kaum mukmin seluruhnya. Akhlak serta budi pekerti yang baik adalah merupakan pintu-pintu syurga, sedangkan takabur itu sendiri yang menyebabkan tertutupnya pintu-pintu tersebut.
           
            Banyak hal yang menyebabkan seseorang takabut yaitu ilmu pengetahuan, amalan dan ibadat, keturunan atau silsilah, karena ganteng dan cantik, harta kekayaan, kekuatan dan ketangkasan tubuh, banyaknya pengikut, penolong, keluarga atau kerabat dan menutupi kekurangan serta kebodohan seseorang.

            Kalau sekiranya manusia menyadari eksistensinya sebagai hamba, segala kelebihan yang dimiliki semuanya itu dari Allah yang wajib disyukuri, maka tidaklah layak dia untuk sombong,angkuh dan takabur. Kesadaran inilah akhirnya menjadikannya seolah-olah lebih besar dari Tuhan yang menciptakannya [Abasa ;17-22]
            ”Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
            Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman].
            Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami", dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
            Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.
            Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.
            Katakanlah: " Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”.

            Perhatikanlah baik-baik isi ayat tersebut, Allah Ta’ala menunjukkan sejalas-jelasnya kepada kita tentang asal kejadian manusia, bagaimana keadaan waktu permulaannya, pertengahannya dan selanjutnya bagaimana pula akhir penghabisannya.

            Adapun permulaan manusia itu sama sekali tidak ada, tidak ada sebutan sesuatupun mengenai makhluk manusia itu. Bertahun-tahun manusia itu tetap tidak ada dan tidak disebut-sebut. Ini saja sudah cukup untuk disadari betapa rendahnya. Resapkanlah dalam hati, adakah sesuatu  benda yang lebih hina dari sesuatu yang asalnya tidak ada itu.

            Setelah itu Allah  berkenan untuk menciptakannya, yaitu dari suatu bahan yang amat kotor, menjijikkan bila dilihat, keluar dari tempat memalukan untuk menyebutnya. Lalu dari inilah Allah membuatnya menjadi segumpal darah, lalu dijadikan sekepal daging dan  akhirnya dijadikan tulang yang dibungkus pula dengan daging. Itulah keadaan manusia pada permulaan wujudnya. Jadi barulah ada sebutan manusia itu sesudah menempuh berbagai ragam evolusi dengan sifat-sifatnya yang tersendiri, hall ihwalnya yang tertentu yang semuanya itu menunjukkan kerendahan dan kehinaannya.

            Memang Allah menjadikan manusia itu tidaklah terus menjadi sempurna sejak permulaan,  tetapi sebagaimana kita maklumi pada pertama kalinya hanyalah berupa benda mati, tidak dapat mendengar, melihat, merasa, bergerak, berbicara, mengambil, berfikir, memeriksa dan lain-lain. Jadi sudah mati dulu sebelum hidupnya, lemah dulu  sebelum kuatnya, bodoh dulu sebelum pandainya, buta  dulu sebelum memperoleh petunjuk, miskin dulu sebelum kaya dan lemah dulu sebelum kuasanya [Imam Al Gazali,Bimbingan Menuju Akhlak Mukmin]

            Allah berfirman dalam surat An Nahl 16;22 ”Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”

            Tersesatnya syaitan atau iblis setelah beriman dan beribadah kepada Allah terletak pada sifat sombongnya yang luar biasa, walaupun senior, hidup telah lama dibandingkan Adam serta banyak ibadah yang dilakukan,akhirnya seluruh ibadah dan pengabdian selama ini sia-sia karena keangkuhan dan enggan untuk sujud memberi hormat kepada Adam. Rupanya Allah menilai seseorang bukan terletak kepada banyak atau sedikitnya ibadah, termasuk sampai dimana letak ketaatan yang tanpa reserve dapat diujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

            Kesesatan syaitan dan kutukan Allah kepadanya tidak berhenti demikian saja, tapi dia berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya, dengan jalan menanamkan sifat-sifat negatif kepada manusia diantaranya sombong, congkak dan takabur serta angkuh, penyakit ini semua adalah sarana untuk menyesatkan manusia dari rel keimanan, bila tidak berhati-hati, sifat ini dibudayakan atau dilestarikan maka akan tampillah pemimpin dan rakyat yang sulit diatur, arogansinya sebagai upaya untuk menutupi kelemahan dirinya, Allah berfirman dalam surat Yasin ; 60-61;
            ”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus”.

            Namun demikian, orang-orang yang disebut mukhtal fakhur yaitu mereka yang sombong, congkak, takabur  dan merasa tinggi, tetap berharap karunia dari Allah dengan permohonan  panjang lagi kontinyu, akan tetapi dikala semua permintaan mereka itu berhasil cendrung berpaling, tidak bersyukur atas nikmat tersebut [Al Isra’ 17;83] ”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”

            Ingin jadi hamba yang dihargai oleh manusia di bumi serta dihormati oleh makhluk di langit, silahkan punya kelebihan dari orang lain dalam berbagai asfek kehidupan dengan syarat jadilah orang yang tawadhu, tinggikan diri dengan merendahkan hati insya Allah selamat.


Jauh sebelumnya Nabi Muhammad Saw, memperingatkan ummat islam agar menghapus sifat-sifat jahiliyyah ketika ingin berkomitmen dengan Islam, sabdanya, ”Empat hal jahiliyyah yang masih berpengaruh pada ummatku yaitu;

1.Bangga dalam kedudukan sosial
Karena dia seorang terpelajar sehingga menganggap tidak berarti baginya orang awam, atau karena mempunyai kedudukan, lalu meremehkan posisi orang lain, baik kekayaan maupun kedudukan.

2.Kesombongan dalam keturunan
Menganggap rendah keturunan lain, seperti kata-kata membedakan, ”Anda orang Minang dan saya orang Jawa”. Saya mempunyai gelar di masyarakat, karena keturunan yang saya terima sebagai kaum bangsawan, atau keturunan orang-orang ningrat.

3.Meratapi orang mati
      Tidak menerima takdir dan tenggelam dalam duka atas kematian dengan berlarut-larut.

4.Meminta hujan kepada bintang
Meminta sesuatu kepada selain dari Allah Swt. Bila dalam hati ummat islam masih tertanam bangga yang berlebihan terhadap kedudukan sosial yang dimilikinya, bersikap dan sombong karena keturunan, meratapi kematian kemudian meminta sesuatu kepada yang lain, walau dia hidup dalam zaman modern, tidak ubahnya berada dalam zaman jahiliyyah. Adapun sifat lain yang dilaksanakan pada masa jahiliyyah yang ditentang oleh Nabi Muhammad yaitu;

            Salah satu watak jahiliyyah itu adalah sombong, yaitu kesombongan dalam keturunan. Kesombongan itu pakaian Allah sehingga makhluk tidak diperkenankan untuk memilikinya, bahkan Rasul menyatakan bahwa orang yang punya sedikit saja rasa sombong maka Allah mengharamkan syurga baginya, Allah tidak menyukai orang yang sombong;

"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)], mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.' [Al A'raf 7;146]

            Kesombongan tidaklah berdiri  sendiri, dia terkait dengan kelebihan yang dimiliki seseorang, diantaranya;

1.Ilmu Pengetahuan
            Orang yang punya ilmu pengetahuan apalagi ilmu itu dia peroleh dari sebuah perjuangan yang panjang, penuh dengan usaha dan upaya untuk meraihnya kemudian keberhasilan diraih sehingga gelar keilmuan diraihnya, maka orang itu cendrung sombong sebab dia mampu melawan kerasnya kehidupan dengan kegigihan dan motivasi pribadinya.
Orang yang berilmu punya peluang untuk sombong apalagi di  sekelilingnya banyak orang yang tidak berilmu sehingga menganggap orang lain bodoh yang akhirnya merendahkan derajat orang. Otomatis menganggap diri lebih mulia, lebih tinggi dan terpandang.
Nabi Musa pernah ditanya oleh muridnya tentang orang yang paling pintar saat itu, maka dia menjawab bahwa dialah orang yang paling pintar. Tidak begitu lama Allah menegur Musa bahwa masih ada hamba Allah yang lebih pintar daripadanya. Musa bermaksud mencari orang tersebut dengan muridnya yang bernama Yusa' bin Nun.
           
"Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau Aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".[Al Kahfi 18;60]

2.Amal Ibadah
Iblis sebelumnya adalah seorang abid, orang yang banyak beribadah, bahkan digambarkan dalam hadits bahwa tidak ada satu tempatpun di dunia ini semuanya sudah pernah dipakai oleh iblis untuk sujud dan beribadah kepada Allah,  itulah makanya dia tidak mau menerima kehadiran nabi Adam karena dia sudah banyak amal ibadah yang dia kumpulkan sedangkan Adam baru saja hadir, belum ada prestasi yang perlu dibanggakan. Itulah makanya iblis dan pasukannya syaitan berusaha untuk menyesatkan manusia sampai kapanpun, kerjanya menyuruh manusia berbuat keji dengan segala daya dan upaya;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. sekiranya tidaklah Karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui’[An Nur 24;21]

3.Ketampanan dan kecantikan
            Karena kecantikan dan ketampanan membuat orang sombong sehingga melanggar segala aturan Allah karena dia beranggapan dengan kecantikan dan ketampanannya itu dia bisa berbuat apa saja dan apa maunya akan tercapai, dengan modal paras itulah mereka mencari dan mereguk kesenangan dunia tanpa memperhatikan dibolehkan atau dilarang agama, bahkan cendrung timbul kesombongannya dikala berhadapan dengan orang-orang yang memiliki paras yang tidak menarik, itulah makanya motivasi menikah menurut islam lebih diutamankan masalah agamanya, walaupun dimotivasi oleh harta, nasab dan rupa tidaklah dilarang.

Banyak motive perkawinan yang menyimpang dari jalur yang sebenarnya; karena ingin menguras hartanya sehingga setelah melarat tinggal dibuang saja, karena terpaksa dengan kehendak orangtua dan lain-lainnya, sehingga akan sulit terpelihara ketentraman dalam rumah tangga. Sering kita temukan rumah tangga setiap hari tidak pernah aman dan tentram, keributan selalu terjadi, perang mulut sampai alat rumah tangga melayang yang diakhiri dengan perceraian, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang mengawini perempuan karena kekayaannya saja atau kecantikannya saja, maka Allah akan memberikan kehinaan perempuan itu kepadanya” [Al Hadits].

4.Keturunan dan silsilah
            Orang akan sombong karena keturunan raja, raden, sultan dan bangsawan, hal itu menimbulkan sikap hidup yang merasa lebih tinggi dan lebih berharga dari orang lain sehingga tidak mau diatur oleh aturan yang diberi Allah. Itulah makanya Abu Thalib, Abu Jahal dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya tidak mau masuk islam, bukan karena ajaran islam tidak baik dan benar menurut mereka tapi karena kesombongan mereka, watak ini pula yang menjadikan Fir’aun, Haman, Qarun dan Bal”am jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa;

“Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di bawahku; Maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari orang yang hina Ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?”[Az Zukhruf 43;51-52]

5.Harta kekayaan
            Dalam kehidupan sehari-hari, masalah harta kekayaan sering benar jadi alat untuk menyombongkan diri walaupun dahulu orang tersebut hidupnyapun kekurangan tapi setelah kaya dia bisa melupakan kesusahannya dengan menikmati segala kekayaan dengan kesombongan,  Ujud kesombongan melalui harta nampak dalam hidup glamour, membeli hal yang belum prioritas sampailah tanpa diduga akhirnya orang-orang yang sombong dengan kekayaan itu melupakan Allah sehingga datang teguran dan azab Allah kepada mereka.

Begitu banyak sejarah yang terbentang di belakang kita yang dapat diambil sebagai pelajaranj, tadinya mereka jaya dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan karena laknat Allah. Itu semua karena kekafiran dan keingkaran manusia sebagaimana halnya kaum ’Ad, Tsamud, Bani Israil serta hancurnya negeri Saba’, pada masa jayanya negeri ini dengan bendungan Maghribnya diperintah oleh seorang Ratu bernama Bulqis yang akhirnya dapat ditaklukkan dan diislamkan oleh Nabi Sulaiman. Karena tentram dan damainya negeri ini dengan kemakmuran kehidupan penduduknya sehingga terukir dengan indahnya dalam Al Qur’an sebagai sebutan ”Baldatun Thayibatun Warabbun Ghafur” yaitu Negeri Yang Baik Dibawah Ampunan Allah, sampai pada Dinasti Mahrib yang dilanjutkan oleh raja-raja yang tidak cakap dalam memerintah, menyebabkan runtuhnya negeri Saba ’ pada tingkat yang paling rendah. 

            Ketika terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As Saba’ Allah menerangkan;

,”Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’ 34;16-17].

6.Jabatan dan wewenang
Ada pendapat yang mengatakan,"Biar Tekor asal Kesohor" artinya untuk meraih kepopuleran dan jabatan tidak masalah kalau harta habis untuk itu, jabatan dan wewenang  yang tidak diiringi dengan iman yang kuat cendrung berlaku sombong, ujud kesombongannya nampak pada menyelewengkan jabatan, meremehkan orang lain, menekan bawahan dan menjilat atasan.

Sebuah ungkapan mengatakan, dikala seseorang punya jabatan yang paling rendah, dia hanya mampu berkata, ”Apa makan kita sekarang?”, sudah bisa memilih lauk pauk dan pangan untuk setiap makan, statusnya mulai diperhitungkan orang dengan posisi dan fasilitas yang dimiliki, diapun bertanya lain, ”Makan dimana kita sekarang ?”, tidak puas hanya menikmati masakan isteri tersayang, tapi rumah makan dan restoran silih berganti jadi langganannya, dia sudah bisa memilih rumah makan model apa yang harus dikunjungi untuk pejabat seperti dia.

Bukan itu saja, saat posisi itu betul-betul kuat, titelnya membuat orang takut, jabatannya membuat orang salud, diapun bertindah sewenang-wenang dengan mengatakan, ”Makan siapa kita sekarang?”, tidak masalah walaupun rakyat kecil yang didera oleh kesusahan dan kepedihan hidup jadi sasaran tembaknya. Itulah gambarannya arogansi kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh iman, bangsa sendiri dimakan, bila perlu anak kemenakan sendiri ditelan demi kekuasaan.

7.Kekuatan dan ketangkasan
            Kemampuan manusia dan ketangkasannya tidaklah sama sehingga kekuatan dan ketangkasan bisa menjadikan seseorang sombong, bila ketangkasan digunakan untuk membela kebenaran dan menegakkan agama Allah maka hal itu dibenarkan tapi cendrung ketangkasan digunakan untuk berbuat diluar aturan islam.

            Rasulullah senang dengan ummatnya yang punya kekuatan dan ketangkasan, itulah makanya pendidikan sejak awal disampaikan beliau agar diajarkan kepada anak dengan pandai memanah, berenang dan berkuda. Seharusnya kekuatan dan ketangkasan yang kita miliki tidak dibanggakan dengan kesombongan yang iseng tapi kesombongan untuk menghadapi orang-orang kafir, fasiq dan zhalim melalui jihad fi sabilillah.

Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan. Allahpun sejak risalah ini diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap  siaga menghadapi segala kemungkinan yang merongrong kewibawaan islam;

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60]

8.Banyak pengikut, penolong dan kerabat
            Banyak pengikut, penolong dan kerabat  bisa menjadikan orang sombong sehingga merendahkan orang lain, karena mereka merasa aman dari segala gangguan orang lain, dia punya prajurit yang bisa mengerjakan pekerjaan apa saja semua bisa dikerahkan, dengan banyak kerabat dia tidak merasa canggung untuk pergi kemanapun sebab sudah ada orang yang siap menolong dan mendukungnya.

            Namun jumlah yang banyak apalagi dengan kesombongan dapat dikalahkan oleh jumlah yang sedikit, sebagai mana perang Uhud, setelah menang dalam perang Badr ada rasa bangga di hati ummat islam sehingga perang Uhud agak diabaikan, waktu Rasul memberi nasehat agar pasukan pemanah yang ada di atas bukit jangan meninggalkan lokasi sebelum perang usai, perang masih berkecamuk dengan dahsyatnya sudah nampak tanda-tanda kemenangan itu, musuh banyak yang tewas dan ghanimah sudah berjatuhan di bawah bukit, keyakinan yang bercampur baur dengan kesombongan akhirnya mereka meninggalkan bukit, saat itulah Khalid bin Walid dari balik bukit dengan kekuatan pasukannya menghantam pertahanan ummat islam sehingga perang itu berakhir dengan kekalahan ummat islam,    perang Tabuk juga demikian, ummat islam yang ketika itu jumlah mereka sudah banyak dengan perlengkapan senjata yang  cukup memadai, karena kesombongan mereka yakin akan menang tapi akhirnya kucar kacir dihantam pasukan kafir.

Sombong tidaklah berdiri sendiri demikian saja, orang yang punya watak ini tidaklah aman dari kemurkaan Allah, karena sebagai hamba apa yang dapat dibanggakan sebab semua adalah titipan Allah semata, adapun akibat-akibat sombong itu adalah;

1.Menerima siksa dari Allah                                                        
            Karena kesombongan itu merendahkan orang lain padahal manusia dihadapan Allah sama saja kecuali karena nilai taqwanya, dan merasa lebih dari orang lain adalah sikap yang tidak terpuji maka kelak mereka akan menerima siksa dari Allah

"Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, Maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, Maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah" [An Nisa' 4;173].


2.Amalnya sia-sia
            Bagaimanapun kebaikan dan amal yang dimiliki sangat banyak tapi dibangga-banggakan bahkan disombongkan kepada manusia maka amal itu akan sia-sia sebab keshalehan amal seseorang harus diujudkan dalam ketundukan dan tawadhu'. Amal yang sia-sia karena sombong  akan mengantar seseorang ke neraka.

"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan" [Al A'raf 7;40]

3.Kekal dalam neraka
            Kesombongan tidak hanya masuk neraka saja karena amal sia-sia  tapi dalam nerakapun mereka tidak sebentar bahkan kekal di dalamnya, hanya izin Allah dan Syafaat dari Rasulullah saja mereka akan keluar dari neraka itu.

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya'' [Al A'raf 7;36]

Begitu banyaknya resiko watak sombong bagi kehidupan kita, maka sebaiknya janganlah dipelihara ke sombongan itu, sombong itu adalah pakaian Allah sedangkan manusia hanya makhluk yang menyandarkan seluruh hidupnya dari kemahagagahan Allah semata, wallahu a'lam. [Cubadak Solok, 15 Ramadhan 1431.H/ 25 Agustus 2010]. 

293. Presiden



Orang nomor satu di sebuah daerah di sebut Bupati, di Provinsi dinamakan Gubernur, di negeri ini disebut dengan Presiden. Ini adalah jabatan yang mengandung prestise bagi seseorang sehingga setiap lima tahun kita tidak kekurangan kandidat yang mencalonkan diri sebagai calon Presiden, selain itu ini merupakan kekuasaan yang mampu menghitamputihkan negeri ini dengan kebijakannya. Kita semua punya hak yang sama untuk memilih dan dipilih sebagai penguasa di negeri yang makmur ini, bila salah pilih akan mengakibatkan penderitaan minimal lima tahun, untuk itu bijaklah dalam memilih.

Lima hari setelah majalah Sabili edisi 26-XVI terbit, negeri kita menggelar pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya sepanjang sejarah.Siapa yang Anda pilih tergantung hati nurani masing-masing. Apakah akan memilih mantan presiden, presiden yang masih berkuasa, atau “calon” presiden.

Semua terserah Anda, tak ada yang memaksa. Jikalau keterpaksaan yang mendesak Anda menentukan salah satu kandidat, maka pilihan Anda akan ‘ternodai’. Proses yang bermula dari sebuah noda akan menghasilkan noda pula. Beberapa pekan sejak KPU menetapkan pasangan calon presiden-wakil presiden, kita dijejali beragam rupa dan corak unjuk diri mereka. Di televisi, koran, majalah, radio dan di jalanan. Potret yang memasang senyum, menjual tampang, mengobral janji, mengharap dukungan, memenuhi otak di tengah kesulitan hidup yang kian mendera.

Masing-masing calon mengaku punya resep jitu guna menyejahterakan rakyat, mengangkat harkat dan martabat bangsa, menciptakan keadilan, juga memberantas  korupsi. Semuanya masih berupa janji, masih sekedar “jika”, “seandainya”, “seumpama” dan cucu moyangnya. Padahal salah satu calon pernah berkuasa, dua lainnya malah kini sedang berkuasa. Lantas apa yang dilakukan? Kenapa harus menunggu terpilih lagi untuk melakukan perubahan?Kenapa tidak berbuat ketika tengah berkuasa?Lima tahun lalu, janji serupa pernah diikrarkan. Namun, apa hasilnya?

Sebagian besar rakyat negeri ini masih berkubang dalam kemiskinan dan serba kekurangan.Sementara kesenjangan antara si kaya dan si miskin begitu mengangga.Jaraknya melebihi panjangnya Jembatan Suramadu yang baru saja diresmikan.Lalu apa yang diharapkan dari proses demokratisasi yang katanya mulai membaik. Dimana rakyat bisa memilih langsung presiden yang diinginkannya.Dimana vox populi vox dei adalah sistem ‘terbaik’ pemerintahan manusia.

Padahal kata-kata Alcuinus, sang sejarawan dan rohaniawan, dalam suratnya kepada Charlemagne, Raja Frank itu; ada awal dan akhirnya. Tidak hanya pada ‘populi’ dan ‘dei’.Ia menulis, “Nec audiendi qui solent dicere, Vox populi, vox Dei, quum tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit.”“Jangan dengar kata-kata orang yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, karena kericuhan massa selalu dekat dengan kegilaan!”Kita tentu saja tak ingin disebut gila karena ribut mengurusi pencontrengan, dan menganggapnya sebagai ‘titah’ Tuhan.[Calon Presiden, Cyber Sabili, Jumat, 10 Juli 2009 17:09].

            Sebenarnya sejak zaman dahulu, jabatan apapun yang disandang oleh seorang pemimpin haruslah amanah, yaitu menjalankan kekuasaan sesuai dengan kehendak yang memberi kekuasaan yaitu Allah sehingga intinya untuk mensejahterakan rakyat, menegakkan keadilan dan menjalankan hukum-hukum-Nya, sehingga kehadiran mereka menjadi pemimpin yang agamawan dan negarawan.
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73)

Ayat ini berbicara pada tataran ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.

Ayat yang berbicara tentang kriteria pemimpin yang ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah As-Sajdah: 24: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. Kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini yang menjadi pembeda dengan ayat Al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan kebenaran dengan tetap komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar karena akan berdepan dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebathilan dan kemaksiatan di tengah-tengah umat.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah bahwa para pemimpin itu senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Allah dan kemudian secara aplikatif mereka memberikan keteladanan dengan terlebih dahulu mencontohkan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ yang senantiasa tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah swt dengan merealisasikan ajaran-ajaranNya yang mensejahterakan.

‘Wakanu Lana Abidin bukan Wakanu Abidin’ merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang mereka perbuat lahir dari rasa iman kepada Allah dan jauh dari kepentingan politis maupun semata-mata malu dengan jabatannya.Maka kata ‘lana (hanya kepada Kami)’ adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat kebaikan selama masa kepemimpinannya.

Asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi’lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.

Yang sangat menarik untuk dicermati secara redaksional adalah pilihan kata ‘aimmah’ dalam kedua ayat di atas.Kepemimpinan umumnya menggunakan terminologi khalifah atau Amir. Tentu pilihan kata tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa Al-Qur’an sebagai bagian dari kemu’jizatan al-qur’an, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah isyarat tentang sosok pemimpin yang sesungguhnya diharapkan, yaitu sosok pemimpin dalam sebuah negara atau masyarakat idealnya adalah juga layak menjadi pemimpin dalam kehidupan beragama bagi mereka. Mereka bukan hanya tampil di depan dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan dalam urusan agama. Inilah yang sering diistilahkan dengan agamawan yang negarawan atau negarawan yang agamawan.[Dr. Attabiq Luthfi, MAPemimpin yang Agamawan dan NegarawanDakwatuna.com, 5/1/2011 | 29 Muharram 1432 H]


Itulah makanya sebelum diangkat jadi penguasa rakyat dan penguasa harus ada kontrak sebagai pegangan dalam mengelola kekuasaan, tapi sangat ironi memang ketika jabatan itu diraih komitmen yang dijanjikan kepada rakyat dan bangsa ini akan luntur dan lentur, karena jabatan itu mengasyikkan pemangkunya sehingga mau untuk berlama-lama menduduki kursi rakyat yang mengamanahkannya, sehingga secara jujur mereka tidak mau dan tidak akan tahun turun dari jabatan sebelum habis masanya,bahkan yang sudah habis masa jabatan itupun dibuat aturan baru untuk mempertahankan sang penguasa menikmati jabatan yang menggiurkan tersebut.

Sebenarnya, perubahan pertama UUD 1945 yang digelar pada 1999 sudah memberikan konsep substansi yang cukup matang dan akomodatif terkait dengan masa jabatan kepala negara. Menurut pasal 7 UUD 1945 bahwa ''Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan''.

Sebelum berlangsungnya amandemen terhadap UUD 1945, pengaturan masa jabatan presiden dan wakil presiden tidak diuraikan secara eksplisit.Ketika itu, ketentuan masa jabatan kepala negara hanya menyatakan, ''Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali''.Hal itulah yang mengakibatkan masa jabatan Presiden pertama Soekarno dan penerusnya, Soeharto, hampir tidak memiliki batasan yang konkret.

Ketika itu, tampaknya, para penguasa sengaja men-setting model pengaturan masa jabatan kepala negara dalam ruang semu.Tidak ada kepastian terkait dengan masa jabatan kepala negara ketika itu.Secara substansial, ketentuan masa jabatan kepala negara sebelum amandemen tidak menegaskan berapa lama seseorang dapat dipilih kembali.

Ketika dibaca secara berulang, khususnya pada saat pemilu tiba, makna yang tersirat dalam ketentuan awal itu memang selalu membuka ruang bagi setiap kandidat kepala negara yang pernah menduduki jabatan yang sama. Hal itulah yang melanggengkan mantan Presiden Soeharto bercokol dalam jabatan RI 1 selama enam periode.

Memang, kala ini terjadi pro kontra terkait dengan ketentuan masa jabatan kepala negara.Di satu pihak mengartikulasikan bahwa ketentuan itu tidak membatasi masa jabatan kepala negara. Namun, di pihak lain berargumen bahwa maksud dari UUD 1945 hanyalah memberikan ruang untuk dapat dipilih kembali dalam satu periode berikutnya.

Munculnya multitafsir terkait dengan masa jabatan presiden kala itu telah mengakibatkan kepemimpinan bangsa ini menjadi mengambang dan penuh ketidakpastian.Hal itulah salah satu yang melatarbelakangi dilakukannya amandemen terhadap UUD 1945.

Pengalaman yang sama juga pernah terjadi dalam konstitusi Amerika Serikat. Ketika itu, salah seorang mantan presiden Amerika pernah menduduki tampuk kekuasaan hingga empat periode sehingga kemudian negara superpower itu mengamandemen konstitusinya dalam rangka membatasi jabatan presiden Amerika.

Berdasar pengalaman di tanah air, kelengseran mantan Presiden Soekarno dan Soeharto bukan masalah batasan masa jabatan dalam konstitusi, melainkan karena faktor lain yang hampir di luar perkiraan banyak pihak sebelumnya. Bahkan, Soeharto yang sudah hampir menjadi presiden seumur hidup di negeri ini sama sekali tidak pernah tersentuh oleh mekanisme masa jabatan sebagaimana diatur dalam konstitusi.

Langgengnya pemerintahan dalam waktu yang cukup lama juga sudah membuktikan bahwa ternyata roda pemerintahan tidak dapat berjalan efektif.Pengalaman bangsa ini selama tampuk kekuasaan dipegang oleh mantan Presiden Soeharto selama kurang lebih 32 tahun justru hanya menyisakan sejumlah persoalan besar.Terpuruknya bangsa Indonesia hingga di ulang tahun yang ke-65 RI, antara lain, disumbang oleh kekuasaan yang terlalu lama menumpuk kepada satu orang.

Kekuasaan yang besar dan bertahan terlalu lama justru cenderung korup dan rentan dengan berbagai bentuk penyimpangan. Terkuncinya saluran politik kekuasaan dalam pemerintahan juga akan berdampak buruk dalam pencapaian perubahan yang lebih baik.[Janpatar Simamora, Luka Lama Jabatan Presiden, Republika online, Jumat, 20/08/2010 13:42 WIB].

Hadirnya orang nomor satu yaitu Presiden di negeri ini karena dukungan besar dari ummat islam yang menghendaki negeri ini dipimpin oleh Presiden yang muslim, tapi sangat disesalkan masalah umat islam tidak dapat diselesaikan dengan baik, walaupun Presidennya umat islam, apalagi yang menjadi nomor satu bukan muslim maka kondisi ummat islam di negeri ini lebih binasa lagi keadaannya.

Berbagai kasus keumatan sepanjang 2010 tak jelas juntrungannya.Jangankan diselesaikan secara baik, transparan, dan akuntabel, kasus-kasus yang membuat sebagian umat Islam ini menderita justru diambangkan, tak diselesaikan, menjadi misteri sepanjang zaman. 

Di antaranya adalah kasus terorisme, khususnya pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat dalam menangani kasus terorisme.Puluhan orang yang masih dalam status diduga dan menjadi DPO, harus meregang nyawa di ujung timah panas Densus 88. Orang-orang malang ini dibunuh tanpa proses hukum, layaknya kasus Petrus (Penembak Misterius) masa Orba. Ini adalah pelanggaran HAM berat yang harus diungkap pada saatnya kelak. 

Masih terkait terorisme, meski pemerintah berdalih bahwa pemberantasan terorsime bukan memberangus Islam, tapi faktanya Islamlah yang tetap diintimidasi.Islamlah yang tetap menjadi tertuduh, sebagai ideologi penyebar teror.Ini semua karena standar yang diterapkan pemerintah salah dalam mengkaji persoalan terorisme. 

Terkait aliran sesat, sampai detik ini, persoalan Ahmadiyah juga tidak kunjung kelar.Ketidaktegasan pemerintah menjadi akar penyebabnya, karena ciut nyalinya berhadapan dengan pemerintah Inggris sebagai pelindung Ahmadiyah.Demikian juga dengan aliran sesat lainnya, Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) misalnya, juga tak jelas penyelesaiannya hingga kini. 

Kita, umat Islam, tidak bisa menggantungkan harapan penyelesaian berbagai kasus yang menimpa umat Islam pada pemerintah.Tidak bisa nasib kita diletakkan pada pemerintah.Umat Islam harus menentukan sendiri nasib dan masa depannya di negeri ini, karena pemerintah saat ini kondisinya kita sendiri sudah mengetahui.Apalagi, asing masih berkepentingan dengan pemerintah kita agar terus melemahkan umat Islam.Mereka tidak menghendaki umat Islam di Indonesia besar, dan negara ini juga menjadi negara besar yang berpengaruh di dunia.Karenanya, mereka selalu berusaha memecah bela negara ini. 

Dalam konteks penanganan terorisme, saya berpandangan negara kita bukan negara demokrasi.Karena negara kita secara sengaja melakukan pelanggaran HAM berat dalam menangani terorisme. Bahkan, pelanggaran ini dibiarkan tanpa penyelesaian dan proses hukum. Karenanya, wajar jika negara ini dipersoalkan pada lembaga HAM Dunia seperti Amesti Internasional, Lembaga HAM PBB, dan lainnya. Persoalannya, siapa yang akan membawa masalah ini ke tingkat Internasional? Di sinilah kita perlu kebersamaan antar semua komponen umat Islam. [Dr Mohammad Noer: "Umat, Jangan Gantungkan Harapan ke Pemerintah"Cyber Sabili, Kamis, 09 Desember 2010 20:18 Dwi Hardianto].

Kekuasaan itu sangat efektif untuk membangun ummat dan bangsa, memajukan ekonomi dan pendidikan, mensejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan apabila para penguasa sejak dari kepala desa hingga Presiden menjadikan jabatan itu dengan baik dan sebaliknya. Dengan tampilnya orang-orang baik sebagai penguasa timbul rasa tidak senang dari kalangan sekuler hingga orang kafir untuk merusaknya dengan berbagai cara.

Orang-orang Yahudi yang sudah sangat paham dengan kelemahan orang-orang mukmin, tak perlu dengan berbagai macam theori, tetapi cukup dengan memberikan harta sebanyak-banyaknya kepada para pengausa atau orang yang berkuasa dikalangan orang mukmin, dan sudah akan tunduk, dan mengikutinya apa yang menjadi kehendak orang-orang Yahudi kafir. (QS: 2:120). Orang mukmin yang sudah mengikuti hawa nafsu Yahudi, maka mereka akan menjadi budak kaum Yahudi, dan hidupnya penuh dengan kehinaan, tanpa memiliki izzah dan marwah.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, memiliki izzah dan marwah, karena Beliau tidak sedikitpun terpengaruh oleh bujukan yang busuk dari Abu Sofyan, yang akan memberikan tiga ‘t’ kepada Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam, dan diminta menghentikan dakwahnya.

Tetapi, generasi baru Islam, yang sekarang ini banyak terlibat pergerakan, banyak diantara mereka yang luruh, dan masuk ke jurang kehinaan, serta jatuh ke dalam pelukan Yahudi dan musuh-musuh Allah, karena mereka sudah kehilangan orientasi dan tanpa ada tujuan yang jelas. Akhirnya mereka hanya menjadi orang-orang yang mengabdi kepada tiga ‘t’, bukan lagi mencari ridha Allah. Harapan untuk mendapatkan kemenangan semakin jauh, karena mereka secara sadar menukar ayat-ayat Allah yang mulia dengan tiga ‘t’, demi memenuhi hawa nafsu, dan keserakahan terhadap kehidupan dunia. Mereka berbicara dengan nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an, tetapi dalam praktek hidup yang mereka jalankan adalah kehidupan ‘la diniyah’ seperti orang-orang Yahudi. [Mashadi, Mengapa Engkau Mengejar Kekuasaan?, eramuslim.com,Jumat, 25/06/2010 14:52 WIB]

Sebagai seorang Presiden, sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan sebenarnya itu merupakan jabatan sangat strategis untuk memajukan pendidikan, lihatlah begitu banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu melanjutkan pendidikannya, untung mereka ditampung oleh LSM atau orang-orang yang peduli terhadap anak-anak terlantar. Banyak sebenarnya yang perlu dikerjakan oleh seorang Presiden yang terfokus untuk membangun anak bangsa ini menjadi terdidik dan berkualitas, tapi sayang sang Presiden hanya menikmati kursi empuknya dengan kegiatan yang tidak menyentuh rakyat, entahlah kalau saja saya atau anda jadi Presiden tentu tidak akan terulang demikian, wallahu a’lam [Baloi Indah Batam, 11 Rajab 1432.H/ 13 Juni 2011.M].