Jumat, 26 Februari 2016

285. Dienullah



Dienullah artinya agama Allah, tentu yang kita maksud adalah agama Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, merupakan agama yang lengkap dan sempurna di akhir zaman, agama yang mengharamkan pemeluknya terlibat dengan praktek syirik karena Islam adalah agama tauhid yang hanya mengesakan Allah semata.

Di antara keistimewaan agama Islam adalah namanya. Berbeda dengan agama lain, nama agama ini bukan berasal dari nama pendirinya atau nama tempat penyebarannya. Tapi, nama Islam menunjukkan sikap dan sifat pemeluknya terhadap Allah.

Yang memberi nama Islam juga bukan seseorang, bukan pula suatu masyarakat, tapi Allah Ta’ala, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Jadi, Islam sudah dikenal sejak sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. dengan nama yang diberikan Allah.

Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai). Semua pengertian itu digunakan Alquran seperti di ayat-ayat berikut ini.

وَمَنْأَحْسَنُدِينًامِمَّنْأَسْلَمَوَجْهَهُلِلَّهِوَهُوَمُحْسِنٌوَاتَّبَعَمِلَّةَإِبْرَاهِيمَحَنِيفًاوَاتَّخَذَاللَّهُإِبْرَاهِيمَخَلِيلًا
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (An-Nisa’: 125)

أَفَغَيْرَدِينِاللَّهِيَبْغُونَوَلَهُأَسْلَمَمَنْفِيالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِطَوْعًاوَكَرْهًاوَإِلَيْهِيُرْجَعُونَ
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83)

إِلَّامَنْأَتَىاللَّهَبِقَلْبٍسَلِيمٍ
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’araa’: 89)

وَإِذَاجَاءَكَالَّذِينَيُؤْمِنُونَبِآَيَاتِنَافَقُلْسَلَامٌعَلَيْكُمْكَتَبَرَبُّكُمْعَلَىنَفْسِهِالرَّحْمَةَأَنَّهُمَنْعَمِلَمِنْكُمْسُوءًابِجَهَالَةٍثُمَّتَابَمِنْبَعْدِهِوَأَصْلَحَفَأَنَّهُغَفُورٌرَحِيمٌ
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum (Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu).” Tuhanmu Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’am: 54)

فَلَاتَهِنُواوَتَدْعُواإِلَىالسَّلْمِوَأَنْتُمُالْأَعْلَوْنَوَاللَّهُمَعَكُمْوَلَنْيَتِرَكُمْأَعْمَالَكُمْ
Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu. (Muhammad: 35)

Sementara sebagai istilah, Islam memiliki arti: tunduk dan menerima segala perintah dan larangan Allah yang terdapat dalam wahyu yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul yang terhimpun di dalam Alquran dan Sunnah. Manusia yang menerima ajaran Islam disebut muslim. Seorang muslim mengikuti ajaran Islam secara total dan perbuatannya membawa perdamaian dan keselamatan bagi manusia. Dia terikat untuk mengimani, menghayati, dan mengamalkan Alquran dan Sunnah.[Aus Hidayat Nur,Makna Islam,dakwatuna.com,20/3/2007 | 03 Rabiul Awwal 1428 H].

Mochamad Bugidalam tulisannya Islam Agama Sempurna menyebutkan tentang kesempurnaan Islam, demikian dakwatuna.com menampilkan goresan penanya dengan dalil-dalil yang lengkap.

Kata Islam punya dua makna. Pertama, nash (teks) wahyu yang menjelaskan din (agama) Allah. Kedua, Islam merujuk pada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash (teks) wahyu yang berisi ajaran din (agama) Allah.

Berdasarkan makna pertama, Islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan yang dibawa rasul lainnya, dalam hal keluasan dan keuniversalannya. Meskipun demikian dalam permasalah fundamental dan prinsip tetap sama. Islam yang dibawa Nabi Musa lebih luas dibandingkan yang dibawa Nabi Nuh.Karena itu, tak heran jika Al-Qur’an pun menyebut-nyebut tentang Taurat. Misalnya di ayat 145 surat Al-A’raf. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa di Luh-luh (Taurat) tentang segala sesuatu sebagai peringatan dan penjelasan bagi segala sesuatunya.…

Islam yang dibawa Nabi Muhammad lebih luas lagi daripada yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kaumnya sendiri.Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia.Oleh karena itu, Islam yang dibawanya lebih luas dan menyeluruh.Tak heran jika Al-Qur’an bisa menjelaskan dan menunjukkan tentang segala sesuatu kepada manusia.Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu. (An-Nahl: 89)

Dengan kesempurnaan risalah Nabi Muhammad saw., sempurnalah struktur kenabian dan risalah samawiyah (langit). Kita yang hidup setelah Nabi Muhammad diutus, telah diberi petunjuk oleh Allah tentang semua tradisi para nabi dan rasul yang sebelumnya.Allah swt.menyatakan hal ini di Al-Qur’an. Mereka orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.(Al-An’am: 90). Dan kamu diberi petunjuk tentang sunah-sunah orang-orang yang sebelum kamu.(An-Nisa: 20)

Sedangkan tentang telah sempurnanya risalah agama-Nya, Allah menyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 3. Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku, dan Aku ridha Islam sebagai agama bagimu sekalian….

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa risalah yang dibawanya adalah satu kesatuan dengan risalah yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. “Perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi sebelumku ibarat orang yang membangun sebuah rumah.Ia memperindah dan mempercantik rumah itu, kecuali letak batu bata pada salah satu sisi bangunannya. Kemudian manusia mengelilingi dan mengagumi rumah itu, lalu mengatakan: ‘Alangkah indah jika batu ini dipasang!’ Aku adalah batu bata tersebut dan aku adalah penutup para nabi,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari dan Muslim)[2/4/2007 | 15 Rabiul Awwal 1428 H].

Tidak semua manusia memeluk islam, agama ini disandang seseorang berangkat dari hidayah yang dikaruniakan Allah kepadanya, tanpa hidayah tidak mungkin kita memeluk islam, lihatlah bagaimana Abu Thalib yang membela Muhammad dari gangguan kaum Quraiys tapi dia meninggal dalam keadaan kafir, begitu juga halnya orang yang hidup di lingkungan kafir tapi akhirnya memeluk islam. Hidayah iman ini perlu kita syukuri kepada Allah.

Mensyukuri nikmat hidayah Islam itu dengan beberapa cara. Pertama, syukuri nikmat ini dengan menumbuhkan perasaan bahwa kita bangga dan mulia dengan beragama Islam.Kita harus merasa bangga, percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Katakan kepada semua orang dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam. Saya adalah umat tauhid.Saya adalah umat Al-Qur’an. Saya adalah umat Muhammad saw.”

Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam. Tiada lagi selain Islam.Apabila orang bangga dengan suku, bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian dari keluarga Muhammad saw.”
“Katakanlah, Hai Ahli kitab marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan suatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran (3) : 64).

“Maka tatkala ia merasakan keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia, Siapakah yang menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah ? Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab : Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri.” (QS. Ali Imran (3) : 52).

Kita harus bangga bahwa kita adalah muslim. Karena faktanya bahwa Islam itu diturunkan sebagai misi dimana Muhammad saw sebagai Rasulnya, juga diturunkan ke muka bumi dengan tujuan menyebarkan kasih sayang. Karena itu kita haruslah bangga, karena kitalah yang dinanti-nanti/dirindukan oleh umat manusia.Kita rahmat bagi alam semesta ini.Kita bagaikan air yang dirindukan oleh orang yang haus dahaga.Kita adalah makanan yang sedang dimimpikan oleh orang yang lapar.Kita adalah thabib yang ditunggu-tunggu para pasien.

Fakta lain, kita harus bangga menjadi muslim, adalah bahwa kita mempunyai kitab suci. Al-Qur’an sendiri telah menjamin bahwa kitab ini tidak mungkin ternodai. Tidak satu huruf atau titik pun yang akan merubah kesucian al-Qur’an yang sudah pasti di pelihara oleh Allah. Karena itu kebenaran al-Qur’an akan tetap abadi. Al-Qur’an yang ada di Indonesia adalah al-Qur’an yang ada dan dibaca oleh saudara-saudara kita di muka bumi lain. Al-Qur’an yang dicetak di Indonesia, Arab Saudi, Mesir adalah al-Qur’an yang dicetak di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita mempunyai alasan yang sangat kuat bahwa kitalah pihak yang paling berhak menyampaikan kebenaran dari Allah kepada seluruh umat manusia.[Shalih Hasyim,Agamamu adalah “Darah Dagingmu” [bagian 1],hidayatullah.com.Jum'at, 21 Januari 2011].

Selain bangga dengan islam maka kita juga harus mengamalkan islam itu secara baik sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah bahkan tuntutannya adalah seorang muslim itu masuk islam secara kaffah yaitu masuk islam secara total seluruh jiwa dan raganya, fikiran dan perasaan, pengakuan dan kelakuannya harus sejalan, sesuai dengan firmanAllah SWT :“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya” (QS. Al-Baqarah: 208).

Terkait dengan “Islam Kaffah” terkadang memunculkan isykal (problem pemahaman) pada sebagian orang, hal ini dikarenakan agama Islam memiliki 5 hukum, yaitu: wajib, sunnat, mubah, makruh dan haram, lalu bagaimana implementasi dari ke-kaffah-an ke-lima hukum ini?

Maksud ayat secara global adalah orang-orang beriman diperintahkan oleh Allah SWT agar masuk ke dalam Islam secara keseluruhan atau totally, lalu:

1. Jika ajaran Islam berhukum wajib ‘ain, maka maksudnya adalah setiap muslim (‘ain) berkewajiban untuk melaksanakannya.

2. Jika ajaran Islam berhukum wajib kifa-i, maka maksudnya adalah setiap muslim berkewajiban untuk meyakininya sebagai kewajiban dan melaksanakannya jika status wajib kifa-i itu berkenaan dengan dirinya, atau, melaksanakannya sebagai bentuk “sukarela”-nya untuk memikul tanggung jawab wajib kifa-i meskipun – sebenarnya – tidak berkenaan dengan dirinya. Misalnya, seseorang yang mempunyai takhashshush (spesialisasi) seorang dokter, maka ia berkewajiban secara ‘aini untuk menjalankan perannya sebagai dokter, meskipun mempelajari kedokteran sendiri hukumnya fardhu kifayah, namun bisa saja dengan “sukarela” ia menambahkan spesialisasinya dengan mempelajari ilmu fiqih, walaupun untuk ilmu fiqih sudah ada yang mengisinya.

3. Jika ajaran Islam berhukum sunnat, maka maksudnya adalah setiap muslim meyakini hukum sunnat-nya, dan berkeinginan serta senang untuk melaksanakannya.

4. Jika ajaran Islam berhukum makruh, maka maksudnya adalah setiap muslim meyakini ke-makruh-annya dan berkeinginan serta merasa senang untuk meninggalkannya, juga hatinya tidak menyukainya.

5. Jika ajaran Islam berhukum haram, maka maksudnya adalah setiap muslim meyakini ke-haram-annya dan menghalangi dirinya agar tidak sampai melakukannya. Perlu diketahui bahwa secara bahasa haram bermakna menghalangi.[Musyafa Ahmad Rahim, Lc, Islam Kaffah, dakwatuna.com 28/7/2011 | 27 Sya'ban 1432 H].

            Dengan tegas Sayyid Quthb menyatakan ambil islam seluruhnya atau tinggalkan sama sekali, karena tidak akan bisa hidup islam bila bercampur dengan yang lainnya begitu juga halnya yang lain itu tidak akan berkembang menurut nafsu mereka bila masih ada kecendrungan kepada Islam, sehingga Sayid Quthb menjelaskan tentang masyarakat islam yang seharusnya;

Islam adalah suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi-bagi.Jadi Islam dapat diambil sebagai suatu keseluruhan dan dapat pula ditinggalkan sebagai suatu keseluruhan. Tetapi kalau Islam diminta untuk mengeluarkan pendapat dalam urusan yang kecil-kecil, tetapi sama sekali tidak diperhatikan dalam masalah prinsip yang besar-besar yang menjadi dasar kehidupan dan masyarakat, maka masalah-masalah kecil seperti ini tidak boleh diterima oleh seorang Islam, jangankan oleh seorang ulama, oleh umat pun tidak boleh.

Dalam masyarakat Islam tidak terdapat pemudi-pemudi yang berbaju mini atau bertelanjang, wanita-wanita yang suka menggoda orang lain atau digoda, yang berkeliaran di setiap tempat, menyebarluaskan fitnah dan kekacauan, dan semuanya itu untuk keuntungan setan. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat gambar-gambar telanjang, film-film cabul dan nyanyian cabul. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat koran yang menyiarkan gambar-gambar telanjang, kata-kata yang cabul dan lelucon yang cabul, yang dapat dijumpai di setiap tempat. Dalam masyarakat Islam tidak terdapat minuman-minuman keras yang mendorong manusia untuk berbuat hal-hal yang tidak sopan, yang dapat menghilangkan kehendak dan pemikirannya. Akhirnya masyarakat Islam itu akan mempersiapkan pemuda untuk dapat hidup bersuami-isteri dengan cepat, karena perbendaharaan negara akan membantu orang-orang yang ingin hidup baik dalam sebuah rumah tangga.[Ambil Islam Seluruhnya Atau Tinggalkan Sama Sekali, Eramuslim.com.Senin, 16/05/2011 17:13 WIB].

Islam bukan sekedar rumusan abstrak yang mengendap di otak, tetapi menuntut bukti perjuangan, pengorbanan pemeluknya.Islam bukan sebatas kaya serimonial tetapi miskin aplikasi.Islam adalah gabungan iman dan amal shalih.Iman bagaikan pohon, amal shalih adalah buahnya.

Rekamlah kehidupan perjuangan para nabi dan rasul hingga junjungan kita Rasulullah SAW para sahabat, para syuhada, mujahidin dan shalihin.Tak seorangpun diantara mereka yang sepi dari perjuangan dan pengorbanan, baik dalam bentuk moril maupun material, spiritual dan finansial, jiwa dan harta.Mereka telah menyerahkan secara all out seluruh potensi yang mereka miliki untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin.

Khadijah mengorbankan jiwa dan hartanya untuk mensupport misi suaminya, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya untuk Islam, Ali bin Abi Thalib berani mempertaruhkan nyawanya untuk meniduri ranjang Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah. Pada malam harinya dikeluarkan keputusan akan membunuh Nabi SAW oleh para pemuda pilihan dari setiap kabilah.

Imam Malik dipenjara, diikat, dan dicambuk oleh penguasa yang zhalim hingga ruas-ruas tulangnya nyaris putus. Imam Syafii dimasukkan di balik jeruji karena fitnah ulama jahat, bahkan beliau diperintah berjalan kaki diterik padang pasir dua bulan lamanya, dari Yaman ke Baghdad. Imam Nawawi penyusun kitab hadits Arbain dan Riyadhus Shalihin diusir dari tanah kelahirannya Syam, karena berpegang teguh pada aturan Allah dan menentang kebijakan penguasa yang serakah dan represif.

Imam Abu Hanifah tewas karena dipaksa minum racun, setelah sebelumnya dipenjara dalam keadaan dirantai besi yang berat pada lehernya. Imam Ahmad Ibnu Hambal disiksa dan dipenjara bertahun-tahun lamanya karena keteguhan sikapnya dalam mempertahankan aqidah, beliau menolak Al Quran disebut makhluk (ciptaan) karena firman Allah Al Khaliq adalah Allah SWT

Hasan Al Banna yang membentuk milisi Mujahidin yang memerangi Yahudi dan penjajah Inggris di Mesir, syahid diberondong peluru. Sayid Qutub yang terkenal di Indonesia dengan karya spektakulernya “Tafsir Fi Zhilalil Quran” dan Abdul Aziz Badri yang terkenal karyanya ‘Ulama dan Penguasa’ keduanya syahid di tiang gantungan.[Shalih Hasyim,Islam Dan Jiwa Patriotisme, Keteladanan Salafus Shalih, hidayatullah.com.Kamis, 23 Desember 2010].

Dienullah yaitu Islam akan bermakna kesempurnaannya bagi kehidupan manusia bila diamalkan dalam praktek sehari-hari pada seluruh asfek aktivitas, karena iman itu bukanlah angan-angan tapi merupakan amal yang juga nampak pada ucapan lisan dan cetusan hati nurani, islam bukanlah fatamorgana tapi realitas kehidupan, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar