Rabu, 10 Februari 2016

181. Melancong



Ketika kita mendengarkan istilah “melancong” tentu lansung tertuju ke negara jiran kita yaitu Malaysia atau Singapura, yang artinya berkunjung atau melakukan perjalanan wisata. Banyak hikmah yang dapat dipetik bagi siapa yang suka melancong, selain untuk refreshing juga untuk menjadikan perjalanan itu sebagai studi banding, melihat kondisi orang lain, yang positif layaknya kita ambil untuk ditiru dan sebaliknya, yang tidak baik kita jadikan sebagai perbandingan saja.

            Selama ini kita mengenal dan  mendengar istilah-istilah yang seolah-olah berasal dari Malaysia, tapi ketika ditanyakan kepada mereka apakah memang demikian artinya, mereka tidak tahu sama sekali dengan istilah itu, seperti veteran disebut dengan Laskar Tak Berguna, latihan tentara yang disuruh tiarap diserukan setubuh bumi, latihan baris berbaris dengan sebutan injak-injak bumi, rumah bersalin dikatakan Rumah korban lelaki, tentara yang melakukan terjun payung dikatakan gayut-gayut bumi, dan banyak istilah lain yang kita kenal baik di Indonesia tapi sebenarnya itu bukanlah bahasa mereka, akhirnya kita tahu bahwa itu adalah slogan ujud ketidaksenangan kita kepada mereka, ganyang Malaysia.

            Lihatlah bagaimana semangatnya Soekarno untuk melontarkan ketidaksenangannya kepada Malaysia, dengan pidatonya yang berapi-api.Pada zaman pemerintahan Soekarno, beliau dengan tegas mengobarkan semangat membela harga diri bangsa dengan ungkapan terkenalnya “GANYANG MALAYSIA”.

Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.
Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963.
Berikut isi pidatonya yang menggelora itu:

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!


Namun, semangat ini tidak berlaku bagi Presiden SBY. Berbagai perlakuan Malaysia terhadap Indonesia diselesaikan dengan cara diplomasi. "Saya juga mengajak untuk menjauhi tindakan-tindakan yang berlebihan, seperti aksi-aksi kekerasan, karena hanya akan menambah masalah yang ada. Kekerasan sering memicu terjadinya kekerasan yang lain. Harapan untuk menyelesaikan masalah ini dengan serius dan tepat, tanpa disertai aksi-aksi yang destruktif, juga saya terima dari saudara-saudara kita rakyat Indonesia yang saat ini berada di Malaysia," kata SBY dalam pidatonya tadi malam, menanggapi memanasnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia belakangan ini.[Inilah Pidato Soekarno, "GANYANG MALAYSIA",Musfi Yendra -
Padang Today,Kamis, 02/09/2010 12:15 WIB].

Sebenarnya mereka juga punya istilah lain yang diterima dari warga Indonesia, istilah itu menjadi bahan lelucon belaka, seperti kita bertamu ke rumah orang, tuan rumah menyediakan minuman dan makanan, lalu kita berkata,’’jangan repot-repot buk’’ lansung sang suami menimpali, oh tidak repot, kalau repot nanti di balai polis saja, jadi mereka mengartikan repot itu laporan yang ditujukan ke kantor polisi.

            Banyak kelebihan dari bangsa jiran kita yang dapat dijadikan sebagai pelajaran, yang pelajaran itu bisa kita peroleh melalui perjalanan melancong ke Malaysia atau Singapura atau dari informasi lain yang dapat diakses.Prof Dr. H. Irwan Prayitno dalam tulisannya memberikan banyak wawasan kepada kita tentang negeri jiran ini.
Siapa yang tak marah jika bangsa mereka dilecehkan oleh bangsa lain? Di negara jiran kita Malaysia, bangsa Indonesia dianggap bangsa kelas tiga karena hanya mampu mengirim jutaan TKI berupa pembantu rumah tangga, atau buruh di perkebunan dan bangunan.
Malaysia juga merasa direpotkan dengan masuknya TKI ilegal yang populer dengan sebutan pendatang haram.Sambil mencibirkan mulut mereka menjuluki para pekerja kasar tersebut sebagai budak Indon.
Kemarahan itu bertambah lagi dengan munculnya kasus Blok Ambalat, Pulau Sipadan dan Ligitan, Tari Bali, Batik, Reog Ponorogo sampai rendang Padang yang diklaim sebagai khasanah budaya milik Malaysia. Masih banyak sederetan kasus lainnya yang cukup panjang jika diuraikan satu per satu.
Akumulasi kemarahan itu kemudian mencuat ke permukaan.Sejumlah media cetak dan elektonik ramai-ramai ikut angkat bicara.Sejumlah masyarakat dan pemuda ikut bereaksi.Kantor Kedubes Malaysia di Jakarta dilempari kotoran manusia.Bendera Malaysia disobek-sobek dan dibakar.

Dulu, hal yang sama juga dirasakan bangsa Malaysia. Rakyat Malaysia juga dilecehkan oleh negara jiran mereka Singapura.Dulu, penduduk Malaysia juga berebut mencari nafkah di Singapura, karena penghasilan di Singapura jauh lebih baik.Dulu, banyak masyarakat Malaysia bersekolah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, karena mereka sadar bahwa kualitas pendidikan di luar Malaysia jauh lebih baik.
Perdana menteri Malaysia geram dan marah besar dengan keadaan itu. Namun ia tak melempari gedung kedubes Singapura dengan kotoran, juga tak membakar bendera Singapura, apalagi mengeluarkan statemet "ganyang Singapura". Yang ia lakukan adalah memperbaiki ekonomi Malaysia, memperbaiki iklim investasi. Dengan demikian diharapkan rakyat Malaysia tak lagi berbondong-bondong menjadi buruh di Singapura.
Mahatir membuka peluang usaha sebesar besarnya, mempermudah dan memberikan fasilitas agar dunia usaha di Malaysia tumbuh dan berkebang.Ia juga memperkecil hutang luar negeri agar bangsanya tak terjerat hutang berkepanjangan.

Waktu bergulir, roda berputar, ekonomi Malaysia terus membaik dan makin membaik.Belakangan nyaris tak ada lagi penduduk Malaysia yang menjadi buruh di Singapura, karena mereka cukup makmur di negeri sendiri.Mereka memilih bekerja di negeri sendiri karena penghasilan di negeri sendiri sudah memad Singapura tak berani lagi menghina dan melecehkan Malaysia.Juga tak banyak lagi penduduk Malaysia yang menimba ilmu di Indonesia, sebaliknya justru warga Indonesia yang ramai-ramai menyekolahkan anak mereka ke Malaysia. Prof Dr. H. Irwan Prayitno, Jiran Kita Malaysia,www.irwanprayitno.com.Sabtu, 25/09/2010].

            Ketika melakukan kunjungan ke Singapura, Sulastomo menceritakan kisahnya tentang kelebihan negara itu dengan Indonesia, ungkapan itu dituangkan dalam tulisannya di Harian Pelita;

MENDARAT di Bandara Changi Singapura, terasa semuanya serba nyaman.Bandaranya sangat megah dan mewah, pelayanannya prima dan lancar.Sejak pemeriksaan paspor, sampai mengambil bagasi serta hendak naik taksi.Inilah yang membuat orang ingin kembali ke Singapura, serba terasa nyaman dan aman.Ngangeni kata orang Jawa.

Pertama kali ke Singapura?Tanya pengemudi taksi, yang kebetulan orang Melayu sambil memperhatikan alamat hotel kami.Pembicaraan menjadi sangat lancar.Sering, jawab kami, sambil memuji Singapura yang semuanya serba nyaman dan tertib.Itu berkat Datuk Lee Kuan Yew, yang digambarkannya sebagai pemimpin yang sangat berpandangan jauh kedepan.Singapura adalah negara kecil.Untuk bisa hidup, Singapura harus pandai. Ditengah perjalanan, ia mengatakan, bahwa jalan yang kami lalui ini dulu adalah rawa-rawa. Menjadi daratan yang nyaman berkat tanah dari Indonesia.

Demikian juga pepohonan yang menghiasi kanan-kiri jalan yang sangat rindang dan tertata rapi itu.Semuanya dari Indonesia, katanya membanggakan.

Mengenai tertib dan bersihnya Singapura, ia menceritakan, bagaimana disiplin ditegakkan. Meludah di jalanan saja, bisa dihukum 200 dolar Singapura, apalagi membuang sampah.Dulu, orang India suka meludah, sekarang sudah tidak ada orang India yang meludah di jalanan.Semuanya dimonitor melalui CCTV yang dipasang di mana-mana.Kebiasaan buruk, ternyata bisa diubah dengan penegakan disiplin. Bandingkan dengan ucapan seorang teman yang bekerja di Wisma Kosgoro Jalan MH Thamrin, Jakarta yang mengeluh ada orang kencing di pagar wisma itu, meskipun di tepi Jalan Thamrin yang ramai, di sore hari, setelah memarkir sepeda motornya. 

Singapura, pasti bisa membuat iri setiap orang Indonesia.Sopir taksi itu bercerita lebih jauh, Indonesia adalah negara yang kaya.Mengapa belum bisa makmur? Sementara Singapura, sebenarnya tidak punya apa-apa. Air saja kami ambil dari Malaysia.Sekarang, Singapura sedang berupaya mengubah air laut menjadi air minum.Meniru Saudi Arabia, kata sopir taksi itu.

Meskipun tarif air minum dinaikkan, kami tidak protes, kata sopir taksi itu sambil mengatakan pasti akan diprotes kalau hal itu terjadi di Indonesia. Sebab, dengan bekerja keras, kami bisa hidup di Singapura, sehingga tidak perlu demo.Iapun mengetahui, bahwa di Indonesia sulit mencari pekerjaan. Kalau di Indonesia, katanya lagi, kami tidak bisa hidup. Orang Indonesia itu hebat, bisa hidup dalam keadaan seperti itu, serba terbatas, katanya memuji orang Indonesia.

Kami merenung.Begitulah perbedaan (kesenjangan?) antara Singapura dan Indonesia.Berkat teknologi informasi, semuanya serba terbuka. Orang Singapura bisa mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Sebab, TV Indonesia bisa dinikmati di sana. Betapa ributnya Indonesia, semua orang tahu.Demikian juga kondisi perekonomian, kondisi sosial/budaya kita sekarang. Kita tidak bisa lagi menutup-nutupi apa yang terjadi di Indonesia, termasuk baik/buruknya kondisi Indonesia. Mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta, terasa semakin sedih. Meskipun hanya dibedakan sekitar satu jam terbang, kondisi Changi dan Cengkareng sangat berbeda. Mendekati ibarat bumi dan langit. Inilah tantangan yang harus kita jawab bersama.(Sulastomo,Percakapan dengan Sopir Taksi Singapura, harianpelita.com)

            Ketika saya dan isteri ke Singapura juga dapat pengalaman berharga, termasuk dari supir taksi asal Tionghoa, dengan logat melayunya dia menyatakan bahwa Jakarta jauh beda dengan Singapura, saya pernah ke Jakarta, uh Jakarta itu macet dan kotor. Dengan supir taksi juga asal Malaysia saya mendapat informasi bahwa di Singapura ini tidak boleh membunyikan klakson mobil kecuali dalam kondisi darurat.Semua orang disini tidak ada yang hidup santai, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.

            Karena kesibukan urusan dunia itulah maka jarang kita lihat orang yang duduk-duduk dimasjid untuk menanti masuknya waktu shalat, kalau mereka akan shalat menunggu benar masuknya waktu shalat bahkan sering sekali terlambat. Begitu juga halnya saya melihat sendiri keadaan warga kita yang tinggal di Malaysia baik yang melancong bahkan merantau disana rata-rata karena urusan dunia semata-mata, yang kehidupan mereka di kampung dalam keadaan susah dan menderita sehingga meninggalkan kampung halaman mencari sesuap nasi, tapi nyatanya banyak nasi yang bisa mereka peroleh tapi sedikit sekali diantara mereka yang mensyukuri nikmat itu, hal itu tidak Nampak dalam ujud ibadah yang mereka lakukan, wallahu a’lam, ini pemandangan sekilas yang saya lihat.

            Ketika kita melancong ke Malaysia, rupanya orang-orang sebelum kitapun sudah melakukan hal itu bahkan menetap sekian puluh tahun di Negeri ini, sebagaimana adanya Kampung Soeharto di Malaysia.Baharin Arsyad, 70, kepala desa di Kampong Soeharto, termasuk dari 600 kepala keluarga [KK] yang datang pertama kali di Kampong Soeharto.Dia salah seorang yang mengetahui sejarah kampong itu.“Dulu amanya Sungai Dusun ketika pertama kali pemerintah membuka ladang disini pada tahun 1966. Karena pak Harto telah menyelamatkan penduduk Malaysia saat konfrontasi, kami minta ditukar nama Sungai Dusun dengan nama Pak Harto. Beliau setuju-setuju saja, bahkan merasa sangat dihargai’ kata Baharin.

            Kampong Soeharto terletak di Hulu Selangor, kawasan utama Selangor. Secara Geografis, Hulu Selangor berada disebelah utara Lembah Klang dengan luas sekitar 174.o47 hektar. Pada tahun 2005 jumlah penduduknya 178.500 jiwa terdiri dari etnis Melayu [Kedah, Kelantan, Johor, Pulau Pinang, Perak], Jawa, Banjar dan India.Tidak mengherankan jika penduduk Kampong Soeharto ada yang berasal dari Pulau Jawa dan telah bermukim sejak 1960-an.

            Perubahan namaterjadi setelah kunjungan Presiden Soeharto bersama Ibu Siti Hartinah Soeharto yang disambut Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak pada 18 Maret 1970. Presiden Soeharto mengunjungi kawasan tersebut adalah untuk melihat keberhasilan perkebunan kelapa sawit.Lebih dari itu kunjungan tersebut merupakan momentum adanya normalisasi hubungan bilateral antara Republika Indonesia dengan Malaysia.Seperti diketahui pada era tahun 1960-an, hubungan Indonesia-Malaysia tidak harmonis.

            Perubahan nama dari Dusun menjadi Kampong Soeharto adalah untuk mengenang kunjungan tersebut. Menariknya, seluruh fasilitas umum di Kampong Soeharto.Seperti sekolah-sekolah dinamakan Soeharto.Begitu pula poliklinik dinamakanSoeharto. Presiden Soeharto di Masjid At Taufiqiah sempat menanam pohon manga. Prasasti sebagai tanda penanaman pohon, masih tertulis dengan jelas sampai sekarang.[Kampong Soeharto di Negeri Jiran, Tabloid Wanita Indonesia No. 1120, Juni 2011].

            Hubungan baik Indonesia-Malaysia juga diujudkan dengan pengiriman TKI ke negeri jiran itu, terlepas dari permasalahan yang ada, TKI merupakan pilar pembangunan kata salah seorang tokohnya.
Salah satu pilar pembangunan Malaysia adalah tenaga kerja dari Indonesia.Demikian pengakuan mantan Deputi Perdana Malaysia, Anwar Ibrahim, dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi swasta (Jumat, 24/6).Karena itu, kata Anwar, sejak lama dirinya meminta kepada pemerintah Malaysia agar tidak mempersulit tenaga kerja Indonesia (TKI). Anwar juga mendesak pemerintah Malaysia tidak mempersulit TKI yang sempat terjerat kasus.

Kita minta jangan merumitkan pembantu rumah tangga (PRT) apalagi dianggap kelas bawah. Saya minta (pada pemerintah Malaysia) jangan arogan," kata Anwar.Karena itu, lanjut Anwar, bila ada TKI yang bermasalah di Malaysia atau bertindak kriminal maka pengadilan harus memastikan proses hukumnya berjalan dengan adil.[Padangtoday.com.Jumat, 24/06/2011 - 09:45 WIB].

Malaysia terrnasuk Singapura dengan Indonesia adalah Negeri Serumpun, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, banyak hal yang dapat kita petik dari perjalanan melancong menjadi ibrah dan pelajaran bagi kita, silaturahim dan ukhuwah islamiyyah tentu perlu dipupuk sehingga kelak dari kekuatan antara negara itu akan membangkitkan suatu kekuatan Islam di Asean bahkan di Asia Tenggara sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah dalamfirman-Nya dalam surat Al Hujurat 49;13
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar