Ketika kita mendengar kata “uhud” maka
yang tergambar pada fikiran kita adalah sebuah peristiwa besar yang dialami
oleh umat Islam setelah Perang Badr yaitu perang Uhud yang memporakporandakan pasukan islam dengan
kekalahan yang menyedihkan. Benar kita akan membicarakan perang Uhud tersebut
sebagaimana yang dituangkan dalam tulisannya pada buku Sejarah Muhammad karangan
Muhammad Husein Haikal, penulis mengajak pembaca untuk rihlah [tamasya] di masa
Rasul dan para sahabat memperjuangkan
tegaknya dienul islam ini, dalam rangka meningkatkan iman dan ghirah
[kecemburuan] kita terhadap islam.
Hari
itu hari Jum’at. Nabi memimpin sembahyang jamaah, dan kepada mereka
diberitahukan, bahwa atas ketabahan hati mereka itu, mereka akan beroleh
kemenangan. Lalu dimintanya mereka bersiap-siap menghadapi musuh.
Selesai
sembahyang Asar Muhammad masuk kedalam rumahnya diikuti oleh Abu Bakr dan Umar.
Kedua orang ini memakaikan sorban dan baju besinya dan ia mengenakan pula
pedangnya. Sementara ia tak ada di tempat itu orang di luar sedang ramai
bertukar pikiran. Usaid b. Hudzair dan Sa’d b. Mu’adh - keduanya termasuk orang
yang berpendapat mau bertahan dalam kota berkata kepada mereka yang berpendapat
mau menyerang musuh di luar:“Tuan-tuan mengetahui, Rasulullah berpendapat mau
bertahan dalam kota, lalu tuan-tuan berpendapat lain lagi, dan memaksanya
bertempur ke luar. Dia sendiri enggan berbuat demikian.Serahkan sajalah soal
ini di tangannya.Apa yang diperintahkan kepadamu, jalankanlah. Apabila ada
sesuatu yang disukainya atau ada pendapatnya, taatilah.”
Mendengar
keterangan itu mereka yang menyerukan supaya menyerang saja, jadi lebih
lunak.Mereka menganggap telah menentang Rasul mengenai sesuatu yang mungkin itu
datang dari Tuhan. Setelah kemudian Nabi datang kembali ke tengah-tengah
mereka, dengan memakai baju besi dan sudah pula mengenakan pedangnya, mereka
yang tadinya menghendaki supaya mengadakan serangan berkata:“Rasulullah, bukan
maksud kami hendak menentang tuan. Lakukanlah apa yang tuan kehendaki. Juga
kami tidak bermaksud memaksa tuan. Soalnya pada Tuhan, kemudian pada tuan.”
“Kedalam
pembicaraan yang semacam inilah saya ajak tuan-tuan tapi tuan-tuan menolak,”
kata Muhammad.“Tidak layak bagi seorang nabi yang apabila sudah mengenakan
pakaian besinya lalu akan menanggalkannya kembali, sebelum Tuhan memberikan
putusan antara dirinya dengan musuhnya. Perhatikanlah apa yang saya perintahkan
kepada kamu sekalian, dan ikuti. Atas ketabahan hatimu, kemenangan akan berada
di tanganmu.”
Sekarang
Muhammad berangkat memimpin kaum Muslimin menuju Uhud. Di Syaikhahia
berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya
belum dikenal.Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka
itu orang-orang Yahudi sekutu Abdullah b. Ubayy. Lalu kata Nabi ‘alaihi’ssalam:
“Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, -
sebelum mereka masuk Islam.”
Dalam pada itu orang-orang Yahudi itupun
kembali ke Medinah.
Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:“Kau sudah menasehatinya dan sudah kauberikan pendapatmu berdasarkan pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia sependapat dengan kau.Lalu dia menolak dan menuruti kehendak pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya.”
Lalu kata sekutu Ibn Ubayy itu:“Kau sudah menasehatinya dan sudah kauberikan pendapatmu berdasarkan pengalaman orang-orang tua dahulu. Sebenarnya dia sependapat dengan kau.Lalu dia menolak dan menuruti kehendak pemuda-pemuda yang menjadi pengikutnya.”
Percakapan mereka itu sangat
menyenangkan hati Ibn Ubayy. Keesokan harinya ia berbalik menggabungkan diri
dengan pasukan teman-temanya itu. Tinggal lagi Alabi dengan orang-orang yang
benar-benar beriman, yang berjumlah 700 orang, akan berperang menghadapi 3000
orang terdiri dan orang-orang Quraisy Mekah, yang kesemuanya sudah memikul
dendam yang tak terpenuhi ketika di Badr. Semua mereka ingin menuntut balas.
Pagi-pagi sekali; kaum Muslimin
berangkat menuju Uhud.Lalu mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak
musuh itu berada di belakang mereka.Selanjutnya Muhammad mengatur barisan para
sahabat. Limapuluh orang barisan pemanah ditempatkan di lereng-lereng gunung,
dan kepada mereka diperintahkan:
“Lindungi kami dan belakang, sebab kita
kuatir mereka akan mendatangi kami dari belakang.Dan bertahanlah kamu di tempat
itu, jangan ditinggalkan.Kalau kamu melihat kami dapat menghancurkan mereka
sehingga kami memasuki pertahanan mereka, kamu jangan meninggalkan tempat
kamu.Dan jika kamu lihat kami yang diserang jangan pula kami dibantu, juga
jangan kami dipertahankan.Tetapi tugasmu ialah menghujani kuda mereka dengan
panah, sebab dengan serangan panah kuda itu takkan dapat maju.”
Selain pasukan pemanah, yang lain tidak
diperbolehkan menyerang siapapun, sebelum ia memberi perintah menyerang.
Adapun pihak Quraisy merekapun juga sudah menyusun barisan.Barisan kanan dipimpin oleh Khalid bin’l-Walid sedang sayap kiri dipimpin oleh ‘Ikrima b. Abi Jahl.Bendera diserahkan kepada Abd’l ‘Uzza Talha b. Abi Talha.Wanita-wanita Quraisy sambil memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah barisan itu. Kadang mereka di depan barisan, kadang di belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun bt. ‘Utba, isteri Abu Sufyan, seraya bertenak-teriak:
Hayo,
Banu Abd’d-Dar
Hayo,
hayo pengawal barisan belakang
Hantamlah
dengan segala yang tajam.
Kamu maju kami peluk
Dan kami hamparkan kasur yang empuk
Atau kamu mundur kita berpisah
Berpisah tanpa cinta.
Kedua belah pihak sudah siap bertempur.Masing-masing sudah mengerahkan pasukannya.Yang selalu teringat oleh Quraisy ialah peristiwa Badr dan korban-korbannya.Yang selalu teringat oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolonganNya.Muhammad berpidato dengan memberi semangat dalam menghadapi pertempuran itu.Ia menjanjikan pasukannya akan mendapat kemenangan apabila mereka tabah. Sebilah pedang dipegangnya sambil ia berkata:“Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”
Beberapa
orang tampil.Tapi pedang itu tidak pula diberikan kepada mereka. Kemudian Abu
Dujana Simak b. Kharasya dari Banu Sa’ida tampil seraya berkata:“Apa tugasnya,
Rasulullah?”“Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada musuh sampai ia
bengkok,” jawabnya.
Abu
Dujana seorang laki-laki yang sangat berani.Ia mengenakan pita (kain) merah.
Apabila pita merah itu sudah diikatkan orangpun mengetahui, bahwa ia sudah siap
bertempur dan waktu itupun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.
Pedang
diambilnya, pita dikeluarkan lalu diikatkannya di kepala. Kemudian ia berlagak
di tengah-tengah dua barisan itu seperti biasanya apabila ia sudah siap
menghadapi pertempuran.“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali
dalam bidang ini,” kata Muhammad setelah dilihatnya orang itu berlagak.
Orang
pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak itu adalah Abu ‘Amir ‘Abd
‘Amr b. Shaifi al-Ausi (dari Aus).Orang ini sengaja pindah dari Medinah ke
Mekah hendak membakar semangat Quraisy supaya memerangi Muhammad.Ia belum
pernah ikut dalam perang Badr. Sekarang ia menerjunkan diri dalam perang Uhud
dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus. Ada juga budak-budak dari
penduduk Mekah yang juga dibawanya. Menurut dugaannya, apabila nanti ia
memanggil-manggil orang-orang Islam dari golongan Aus yang ikut berjuang di
pihak Muhammad, niscaya mereka akan memenuhi panggilannya, akan berpihak kepadanya
dan membantu Quraisy.“Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu ‘Amir!”
teriaknya memanggil-manggil.
Tetapi
Muslimin dari kalangan Aus itu membalas:“Tuhan takkan memberikan kesenangan
kepadamu, durhaka!”
Perangpun
lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta ‘Ikrima b. Abi Jahl yang berada di sayap
kiri, berusaha hendak menyerang Muslimin dari samping, tapi pihak Muslimin
menghujani mereka dengan batu sehingga Abu ‘Amir dan pengikut-pengikutnya lari
tunggang-langgang. Ketika itu juga Hamzah b. Abd’l-Muttalib berteriak, membawa
teriakan perang Uhud:“Mati, mati!” Lalu ia terjun ketengah-tengah tentara
Quraisy itu. Ketika itu Talha b. Abi Talha, yang membawa bendera tentara Mekah
berteriak pula:“Siapa yang akan duel?”
Lalu
Ali b. Abi Talib tampil menghadapinya.Dua orang dari dua barisan itu
bertemu.Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan, yang membuat kepala lawannya
itu belah dua.Nabi merasa lega dengan itu.Ketika itu juga kaum Muslimin
bertakbir dan melancarkan serangannya.Dengan pedang Nabi di tangan dan
mengikatkan pita maut di kepala, Abu Dujane pun terjun kedepan.Dibunuhnya
setiap orang yang dijumpainya.Barisan orang-orang musyrik jadi kacau-balau. Kemudian
ia melihat seseorang sedang mencencang-cencang sesosok tubuh manusia dengan
keras sekali. Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya kepada orang itu. Tetapi
ternyata orang itu adalah Hindun bt. ‘Utba. Ia mundur. Terlalu mulia rasanya
pedang Rasul akan dipukulkan kepada seorang wanita.
Dengan
secara keras sekali pihak Quraisypun menyerbu pula ke tengah-tengah pertempuran
itu. Darahnya sudah mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan
pemuka-pemuka mereka yang sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan
yang tidak seimbang itu, baik jumlah orang maupun perlengkapan, sekarang
berhadap-hadapan.Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya adalah
balas-dendam, yang sejak perang Badr tidak pernah reda. Sedang jumlah yang
lebih kecil motifnya adalah: pertama mempertahankan akidah, mempertahankan iman
dan agama Allah, kedua mempertahankan tanah air dan segala kepentingannya.
Mereka yang menuntut bela itu terdiri dari orang-orang yang lebih kuat dan
jumlah pasukan yang lebih besar.
Di
belakang mereka itu kaum wanita turut pula mengobarkan semangat. Tidak sedikit
di antara mereka yang membawa budak-budak itu menjanjikan akan memberikan
hadiah yang besar apabila mereka dapat membalaskan dendam atas kematian seorang
bapa, saudara, suami atau orang-orang yang dicintai lainnya, yang telah
terbunuh di Badr. Hamzah b. Abd’l-Muttalib adalah seorang pahlawan Arab
terbesar dan paling berani.Ketika terjadi perang Badr dialah yang telah
menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak sedikit orang-orang yang
dicintainya yang telah ditewaskan.Seperti juga dalam perang Badr, dalam perang
Uhud inipun Hamzah adalah singa dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta
b. ‘Abd Syurahbil, Siba’ b. ‘Abd’l-‘Uzza al-Ghubsyani, dan setiap musuh yang
dijumpainya nyawa mereka tidak luput dari renggutan pedangnya.
Sementara
itu Hindun bt. ‘Utba telah pula menjanjikan Wahsyi, orang Abisinia dan budak
Jubair (b. Mut’im) akan memberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh
Hamzah. Begitu juga Jubair b. Mut’im sendiri, tuannya, yang pamannya telah
terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:“Kalau Hamzah paman Muhammad itu kau
bunuh, maka engkau kumerdekakan.”.
Sebaliknya
mereka yang benar-benar beriman, jumlahnya tidak lebih dari 700 orang.Mereka
bertempur melawan 3000 orang.Kita sudah melihat, tindakan Hamzah dan Abu Dujana
yang telah memperlihatkan suatu teladan dalam arti kekuatan moril yang tinggi
pada mereka itu. Suatu kekuatan yang telah membuat barisan Quraisy jadi lemas
seperti rotan, membuat pahlawan-pahlawan Quraisy, yang tadinya di kalangan Arab
keberaniannya dijadikan suri teladan, telah mundur dan surut. Setiap panji
mereka lepas dari tangan seseorang, panji itu diterima oleh yang lain di
belakangnya. Setelah Talha b. Abi Talha tewas di tangan Ali datang ‘Uthman b.
Abi Talha menyambut bendera itu, yang juga kemudian menemui ajalnya di tangan
Hamzah. Seterusnya bendera itu dibawa oleh Abu Sa’d b. Abi Talha sambil
berkata:“Kamu mendakwakan bahwa koban-korban kamu dalam surga dan korban-korban
kami dalam neraka! Kamu bohong! Kalau kamu benar-benar orang beriman majulah
siapa saja yang mau melawanku”:
Entah
Ali atau Sa’d b. Abi Waqqash ketika itu menghantamkan pedangnya dengan sekali
pukul hingga kepala orang itu terbelah. Kemenangan Muslimin dalam perang Uhud
pada pagi hari itu sebenarnya adalah suatu mujizat.Adakalanya orang
menafsirkan, bahwa kemenangan itu disebabkan oleh kemahiran Muhammad mengatur
barisan pemanah di lereng bukit, merintangi pasukan berkuda dengan anak panah
sehingga mereka tidak dapat maju, juga tidak dapat menyergap Muslimin dari
belakang.Ini memang benar. Tetapi juga tidak salah, bahwa 600 orang Muslimin
yang menyerbu jumlah sebanyak lima kali lipat itupun, dengan perlengkapan yang
juga demikian, motifnya adalah iman, iman yang sungguh-sungguh, bahwa mereka
dalam kebenaran.
Inilah
yang membawa mujizat kepahlawanan melebihi kepandaian pimpinan. Barangsiapa
yang telah beriman kepada kebenaran, ia takkan goncang oleh kekuatan materi,
betapapun besarnya. Semua kekuatan batil yang digabungkan sekalipun, takkan
dapat menggoyahkan kebulatan tekadnya itu.Dapatkah kita menganggap cukup dengan
kepandaian pimpinan itu saja, padahal barisan pemanah yang oleh Nabi
ditempatkan di lereng bukit itu jumlahnya tidak lebih dari 50 orang? Andaikata
sekalipun mereka itu terdiri dari 200 orang atau 300 orang, mendapat serbuan
dari mereka yang sudah bertekad mati, niscaya mereka tidak akan dapat bertahan.
Tetapi kekuatan yang terbesar, ialah kekuatan konsepsi, kekuatan akidah,
kekuatan iman yang sungguh-sungguh akan adanya Kebenaran Tertinggi. Kekuatan
inilah yang takkan dapat ditaklukkan selama orang masih teguh berpegang kepada
kebenaran itu.
Karena
itulah, 3000 orang pasukan berkuda Quraisy jadi hancur menghadapi serangan 600
orang Muslimin. Dan hampir-hampir pula wanita-wanita merekapun akan menjadi
tawanan perang yang hina dina.
Muslimin
kini mengejar musuh itu sampai mereka meletakkan senjata dimana saja asal jauh
dari bekas markas mereka.Kaum Muslimin sekarang mulai memperebutkan rampasan
perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka
lupa mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi.
Mereka
ini ternyata dilihat oleh pasukan pemanah yang oleh Rasul diminta jangan
meninggalkan tempat di gunung itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya
diserang.Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, kepada satu
sama lain mereka berkata:“Kenapa kita masih tinggal disini juga dengan tidak
ada apa-apa. Tuhan telah menghancurkan musuh kita.Mereka, saudara-saudara kita
itu, sudah merebut markas musuh.Kesanalah juga kita, ikut mengambil rampasan
itu.”
Yang
seorang lagi tentu menjawab:“Bukankah Rasulullah sudah berpesan jangan
meninggalkan tempat kita ini? Sekalipun kami diserang janganlah kami dibantu.”Yang
pertama berkata lagi:“Rasulullah tidak menghendaki kita tinggal disini
terus-menerus, setelah Tuhan menghancurkan kaum musyrik itu.”
Lalu
mereka berselisih. Ketika itu juga tampil Abdullah bin Jubair berpidato agar
jangan mereka itu melanggar perintah Rasul. Tetapi mereka sebahagian besar
tidak patuh.Mereka berangkat juga.Yang masih tinggal hanya beberapa orang saja,
tidak sampai sepuluh orang. Seperti kesibukan Muslimin yang lain, mereka yang
ikut bergegas itu pun sibuk pula dengan harta rampasan. Pada waktu itulah
Khalid bin’l-Walid mengambil kesempatan - dia sebagai komandan kavaleri Mekah -
pasukannya dikerahkan ke tempat pasukan pemanah, dan mereka inipun berhasil
dikeluarkan dari sana.
Tindakan ini
tidak disadari oleh pihak Muslimin. Mereka sangat sibuk untuk memperhatikan
soal itu atau soal apapun, karena sedang menghadapi harta rampasan perang yang
mereka keduk habis-habisan itu, sehingga tiada seorangpun yang membiarkan apa
saja yang dapat mereka ambil. Sementara mereka sedang dalam keadaan serupa itu,
tiba-tiba Khalid bin’l-Walid berseru sekuat-kuatnya, dan sekaligus pihak
Quraisypun mengerti, bahwa ia telah dapat membalikkan anak buahnya ke belakang
tentara Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul mundur sekarang kembali
lagi maju dan mendera Muslimin dengan pukulan maut yang hebat sekali.Di sinilah
giliran bencana itu berbalik.Setiap Muslim telah melemparkan kembali hasil
renggutan yang sudah ada di tangan itu, dan kembali pula mereka mencabut pedang
hendak bertempur lagi.
Tetapi
sayang, sayang sekali! Barisan sudah centang-perenang, persatuan sudah
pecah-belah, pahlawan-pahlawan teladan dari kalangan Muslimin telah dihantam
oleh pihak Quraisy.Mereka yang tadinya berjuang dengan perintah Tuhan hendak
mempertahankan iman, sekarang berjuang hendak menyelamatkan diri dari cengkaman
maut, dari lembah kehinaan.Mereka yang tadinya berjuang dengan bersatu-padu,
sekarang mereka berjuang dengan bercerai-berai.Tak tahu lagi haluan hendak
kemana.Tadinya mereka berjuang di bawah satu pimpinan yang kuat dan teguh,
sekarang berjuang tanpa pimpinan lagi.Jadi tidak heran, apabila ada seorang
Muslim menghantamkan pedangnya kepada sesama Muslim dengan tiada disadarinya.
Dalam
pada itu terdengar pula ada suara orang berteriak-teriak, bahwa Muhammad sudah
terbunuh.Keadaan makin panik, makin kacau-balau. Kaum Muslimin jadi berselisih,
jadi saling bunuh-membunuh, satu sama lain saling hantam-menghantam, dengan
tiada mereka sadari lagi karena mereka sudah tergopoh-gopoh, sudah kebingungan.
Kaum Muslimin telah membunuh sesama Muslim, Husail b. Jabir membunuh Abu
Hudhaifa karena sudah tidak diketahuinya lagi.Yang paling penting bagi setiap
Muslim ialah menyelamatkan diri; kecuali mereka yang telah mendapat
perlindungan Tuhan, seperti Ali b. Abi Talib misalnya.
Akan
tetapi begitu Quraisy mendengar Muhammad telah terbunuh, seperti banjir mereka
terjun mengalir ke jurusan tempat dia tadinya berada. Masing-masing ingin
supaya dialah yang membunuhnya atau ikut memegang peranan didalamnya, suatu hal
yang akan dibanggakan oleh generasi kemudian. Ketika itulah Muslimin yang dekat
sekali dengan Nabi bertindak mengelilinginya, menjaga dan melindunginya.Iman
mereka telah tergugah kembali memenuhi jiwa, mereka kembali mendambakan mati,
dan hidup duniawi ini dirasanya sudah tak ada arti lagi.Iman mereka makin
besar, keberanian mereka makin bertambah bilamana mereka melihat batu yang
dilemparkan Quraisy itu telah mengenai diri Nabi.Gigi gerahamnya yang setelah
terkena, wajahnya pecah-pecah dan bibirnya luka-luka.Dua keping lingkaran rantai
topi besi yang menutupi wajahnya, telah menusuk pula menembusi
pipinya.Batu-batu yang menimpanya itu dilemparkan oleh ‘Utba b. Abi Waqqash.
Sekarang
Rasul dapat menguasai diri.Ia berJalan sambil dikelilingi oleh sahabat-sahabat.
Tetapi tiba-tiba ia terperosok kedalam sebuah lubang yang sengaja digali oleh
Abu ‘Amir guna menjerumuskan kaum Muslimin. Cepat-cepat Ali b. Abi Talib
menghampirinya, dipegangnya tangannya, dan Talha bin ‘Ubaidillah mengangkatnya
hingga ia berdiri kembali.Ia meneruskan perjalanan dengan sahabat-sahabatnya
itu, terus mendaki Gunung Uhud, dan dengan demikian dapat menyelamatkan diri
dari kejaran musuh.
Adapun
mereka yang mengira Muhammad telah tewas termasuk diantara mereka itu Abu Bakr
dan Umar pergi ke arah gunung dan mereka ini sudah pasrah. Hal ini diketahui
oleh Anas bin’n-Nadzr yang lalu berkata kepada mereka:“Kenapa kamu duduk-duduk
di sini?”“Rasulullah sudah terbunuh,” jawab mereka.“Perlu apa lagi kita hidup
sesudah itu? Bangunlah! Dan biarlah kita juga mati untuk tujuan yang sama.”
Kemudian
ia maju menghadapi musuh. Ia bertempur mati-matian, bertempur tiada taranya.
Akhimya ia baru menemui ajalnya setelah mengalami tujuhpuluh pukulan musuh,
sehingga ketika itu orang tidak dapat lagi mengenalnya, kalau tidak karena
saudara perempuannya yang datang dan dapat mengenal dia dari ujung jarinya.
Karena
sudah percaya sekali akan kematian Muhammad, bukan main girangnya pihak Quraisy
waktu itu, Abu Sufyanpun sibuk pula mencarinya di tengah-tengah para korban.
Soalnya ialah mereka yang telah menjaga keselamatan Rasulullah tidak membantah
berita kematiannya itu, sebab memang diperintahkan demikian oleh Rasul, dengan
maksud supaya pihak Quraisy jangan sampai memperbanyak lagi jumlah pasukannya
yang berarti akan memberikan kemenangan kepada mereka.
Akan
tetapi tatkala Ka’b bin Malik datang mendekati Abu Dujana dan anak buahnya, ia
segera mengenal Muhammad waktu dilihatnya sinar matanya yang berkilau dan balik
topi besi penutup mukanya itu. Ia memanggil-manggil dengan suara yang
sekeras-kerasnya:“Saudara-saudara kaum Muslimin! Selamat, selamat! Ini
Rasulullah!”
Ketika
itu Nabi memberi isyarat kepadanya supaya diam. Tetapi begitu Muslimin
mengetahui hal itu, Nabi segera mereka angkat dan iapun berjalan pula bersama
mereka ke arah celah bukit didampingi oleh Abu Bakr, Umar, Ali b. Abi Talib,
Zubair bin’l-‘Awwam dan yang lain. Teriakan Ka’b itu pada pihak Quraisy juga
ada pengaruhnya.Memang benar, bahwa sebahagian besar mereka tidak mempercayai
teriakan itu, sebab menurut anggapan mereka itu hanya untuk memperkuat semangat
kaum Muslimin saja.Tetapi dari mereka itu ada juga yang lalu segera pergi
mengikuti Muhammad dan rombongannya itu dari belakang. Ubayy b. Khalaf kemudian
dapat menyusul mereka, dan lalu bertanya:“Mana Muhammad?! Aku tidak akan
selamat kalau dia yang masih selamat,” katanya.
Waktu
itu juga oleh Rasul ia ditetaknya dengan tombak Harith bin’sh-Shimma demikian
rupa, sehingga ia terhuyung-huyung diatas kudanya dan kembali pulang untuk
kemudian mati di tengah jalan.
Sesampainya
Muslimin di ujung bukit itu, Ali pergi lagi mengisi air ke dalam perisai
kulitnya.Darah yang di wajah Muhammad dibasuhnya serta menyirami kepalanya
dengan air.Dua keping pecahan rantai besi penutup muka yangmenembus wajah Rasul
itu oleh Abu ‘Ubaida bin’l-Jarrah dicabut sampai dua buah gigi serinya tanggal.
Selama
mereka dalam keadaan itu tiba-tiba Khalid bin’l-Walid dengan pasukan berkudanya
sudah berada di atas bukit.Tetapi Umar bin’l-Khattab dengan beberapa orang
sahabat Rasul segera menyerang dan berhasil mengusir mereka.Sementara itu
orang-orang Islam sudah makin tinggi mendaki gunung. Tetapi keadaan mereka
sudah begitu payah, begitu letih tampaknya, sampai-sampai Nabi melakukan salat
lohor sambil duduk - juga karena luka-luka yang dideritanya, - demikian juga
kaum Muslimin yang lain melakukan salat makmum di belakangnya, sambil duduk
pula.
Sebaliknya
pihak Quraisy dengan kemenangannya itu mereka sudah girang sekali.Terhadap
peristiwa perang Badr mereka merasa sudah sungguh-sungguh dapat membalas
dendam. Seperti kata Abu Sufyan: “Yang sekarang ini untuk peristiwa perang
Badr. Sampai jumpa lagi tahun depan!”wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 03 Muharam
1433.H/ 29 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar