Selasa, 09 Februari 2016

168. Seks



Tidak semua orang mau diajak bicara tentang seks karena hal ini dianggap tabu, tidak sesuai dengan norma adat dan agama, tapi tidak semua orang menolak tentang seks karena hal ini merupakan fithrah manusia yang lahir sempurna, bahkan kesempurnaan kita lahir diberikan perangkat seperti nafsu biologis, cinta dan organ tubuh yang mendukung terjadinya aktivitas seks. Bukti bahwa kita senang dengan seks dapat dilihat dalam pembicaraan yang berlansung dimana saja, pembicaraan itu hanya murni dan bersih selama sepuluh menit, menit berikutnya banyak pembicaraan yang dibumbui oleh seks.

Sebagai contoh ketika sebuah Diskusi yang penulis ikuti di Jogjakarta, pemateri dari kalangan intelektual apalagi acara berlansung di UGM, acara itu berkaitan dengan kinerja Legislatif, dalam mengawali makalahnya sang pemateri karena melihat audiensnya sudah pada mengantuk karena hari menjelang siang, entah dari mana mulainya dia menyatakan bahwa bayi wanita beda dengan bayi laki-laki, dimana bedanya ?peserta tidak ada yang memberikan jawaban, dengan tenang sang pemateri menyatakan, kalau bayi perempuan menyusunya hanya paling lama dua tahun, tapi bayi laki-laki menyusunya sampai tua, tentu ruangan jadi geeeer.

Kalaulah tidak ada norma adat dan aturan agama tentang pengaturan yang berkaitan dengan seks maka akan terjadi kehidupan manusia tidak bedanya dengan hewan yang akan bermain seks dimana saja dan dengan siapa saja tanpa adanya kendali yang membatasinya. Sedangkan dengan adanya aturanpun kehidupan seks melabrak semua norma dan etika agama, wanita dijadikan alat eksploitasi seks dan diperjual belikan auratnya kesembarang tempat, nampaknya seks itu sudah bebas dilakukan oleh siapa saja walaupun sebenarnya bukan dengan orang yang bukan isterinya, ini yang disebut seks bebas atau bebas berbuat seks.

Seks bebas biasa dilembutkan menjadi seks pra-nikah.Sebenarnya ada hal yang pantas dilembutkan, namun ada pula yang tidak pantas, termasuk di antaranya seks bebas itu.Juga seperti misalnya PSK pekerja seks komersiel untuk pelacur serta kata-kata lainnya yang menunjukkan perbuatan ataupun status yang hina lainnya.Biarkanlah semua kata-kata yang menunjukkan kehinaan itu tidak dilembutkan.Gaya lembut (euphemism) jangan dibiarkan iiberal, semua ada batasnya.Bahkan bila perlu kata itu dialihkan menjadi bernuansa ejekan, seperti misalnya kondom disebutlah jas-mani. Demikianlah sekarang ini masyarakat digiring ke arah rasa bahasa bernuansa tidak enak mengenai kata "keras", bahwa keras itu tidak baik, sehingga kata-kata itu perlu dilembutkan, sebab keras itu tidak baik.

Tidak boleh menghukum anak dengan pukulan, karena itu keras, itu tidak baik.Dalam hal ilmu logam keras itu baik.Dalam Syari'at kita disuruh menghukum dengan pukulan jika anak kita sudah berumur sepuluh tahun malas shalat.Pukulan mendidik menurut Syari'at itu jangan disamakan dengan menganiaya.Pukulan mendidik menurut Syari'at itu terasa sakit tetapi tidak berbahaya, seperti misalnya telapak tangan, betis, dipukul pakai mistar, atau daun telinga dipiting bagian atasnya, jangan bagian bawah.Pukulan yang tidak menurut Syari'at adalah pukulan yang menganiaya yang menyebabkan anak cedera, dan itu bisa ditangkap dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Perlindungan Terhadap Anak. Lihatlah akibatnya metode pendidikan yang menganggap menghukum dengan pukulan itu tidak baik, karena itu keras, lalu apa hasilnya? Anak-anak menjadi liberal, kurang ajar terhadap orang tua dan gurunya, bahkan perilaku yang liberal berupa bernakoba dan berseks bebas yang semakin buas di negeri ini.

Hasil pendidikan bergaya lembut yang menghasilkan perilaku liberal itu ibarat tanaman yang diberi pupuk berupa bacaan sampah pornografi dan tayangan erotis pornoaksi yang menimbulkan hasrat nafsu hewani, serta disiram air berupa kondom yang menimbulkan rasa aman dan berani untuk berbuat hina berseks bebas.Bangsa ini sudah babak belur dengan citra negara terkorup no 2.Dan itu semua di alamatkan kepada ummat Islam, karena ummat Islam yang mayoritas di negara ini. Lalu apa jadinya bangsa ini jika kemudian menjadi negara seks bebas no 2 juga di dunia?

Seks bebas dan narkoba adalah dua sejoli dalam menyebarkan HIV.Mengapa?Karena baik seks bebas maupun narkoba masing-masing pakai mekanisme jarum suntik.Pada seks bebas jarum suntiknya tumpul sedangkan pada narkoba ada yang pakai jarum suntik yang runcing. Namun ada bedanya, yaitu jarum suntik yang tumpul "katanya" ada alat proteksi yang disebut kondom, sedangkan jarum suntik yang runcing tidak ada proteksinya.[H.Muh.Nur AbdurrahmanSeks Bebas, Narkoba HIV dan Kondom,Makassar 29 Januari 2006].

Perempuan dalam industri kapitalis makin telanjang.Tak afdhal rasanya tanpa memasang tubuh molek mereka, baik dalam iklan, musik, sinetron maupun film.Perempuan dalam ideologi kapitalis memang begitu direndahkan.Hanya dinilai dari kemolekan tubuhnya, dieksploitasi setiap inchi tubuhnya demi rupiah.Makin seksi, makin berani buka-bukaan, makin menggiurkan bayarannya.

Berjejalanlah kaum perempuan untuk antre dieksploitasi.Hal ini mengundang kesimpulan, lenyapnya harga diri mereka.Sayangnya, sebagian juga Muslimah. Ini terjadi karena rendahnya kesadaran kaum perempuan akan harkat dan martabat dirinya. Mereka sudah termakan racun ideologi kapitalis yang mendefinisikan perempuan ideal sebagai: perempuan mandiri, bebas berekspresi dan menjunjung tinggi hak asasi.

Perempuan seperti ini memahami kebahagiaan dari materi.Mereka memandang kecantikan dan kemolekan tubuhnya sebagai aset berharga yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia.

Tentu saja, pihak yang merendahkan perempuan, sejatinya memiliki harga diri lebih rendah.Ya, pengeksploitasi tubuh perempuan adalah manusia hina, baik laki-laki maupun perempuan.Mereka adalah pihak yang suka mempermainkan perempuan, menjadikannya barang mainan.Mereka bukanlah orang yang pantas dihargai, karena tidak menghargai perempuan.

Mereka lupa bahwa ibu, istri, nenek, adik atau kakak mereka perempuan.Bahkan di antara mereka juga punya anak perempuan.Relakah jika para perempuan suci di sekelilingnya itu dieksploitasi?Relakah bila ibu, istri atau anak gadis mereka sendiri ditelanjangi dan ditonton jutaan mata?Orang tak waras saja yang menjawab iya.Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “tidak akan memuliakan perempuan kecuali lelaki yang mulia, tidak merendahkan perempuan kecuali lelaki yang rendah pula.”[Stop Eksploitasi Tubuh Perempuan!Media Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:15].

Pada tahun 2002, pernah dipublikasikan hasil survei Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) terhadap mahasiswa Jogjakarta. Penelitian itu dilakukan selama tiga tahun, mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Jogjakarta. Dari 1.660 responden itu, 97,05 persen mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah, karena pernah melakukan seks berpasangan atau berzina. Ditinjau dari tempat mereka melakukan seks bebas, sebanyak 63 persen melakukan seks bebas di tempat kos pria pasangannya. Sebanyak 14 persen dilakukan di tempat kos putri atau rumah kontrakannya. Selanjutnya 21 persen di hotel kelas melati yang tersebar di Jogjakarta dan 2 persen lagi di tempat wisata yang terbuka.Data di atas menujukkan bahwa tempat kos-kosan telah menjadi sarang kumpul kebo (seks bebas).

Harian Surya pernah menelusuri perilaku seks bebas (kumpul kebo) yang dilakoni para mahasiswa-mahasiswi di kota Malang, tahun 2007. Beberapa mahasiswa yang ditemui harian Surya di pemondokannya (kos-kosan) mengaku terbiasa melakukan seks bebas dengan pacarnya, antara lain karena akibat terlalu sering melihat adegan mesum di situs porno internet.[Maraknya Kumpul Kebo dan Zina di Kos-kosan Meresahkan Masyarakat, nahimunkar.com,17 February 2009].

Ustadz DR. Yusuf Al Qardhawi memberikan taujihnya dengan panjang lebar kepada kita agar berhati-hati terhadap syahwat atau nafsu biologis ini dengan istilah iffah. Taujih ini disadur oleh Eramuslim.com sebagai berikut;
Betapa banyaknya manusia yang tergelincir ke lembah kehinaan, akibat tidak dapat menjaga nafsu perut dan kemaluan.Mereka menjadi budak perut dan kemaluannya.Mereka dikatakan sebagai binatang ternak oleh al-Qur'an, karena hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsu yang bersumber dari perut dan kemaluannya.
Manusia yang sabar dan dapat menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan disebut dengan iffah. Manusia yang memiliki iffah, dan sabar atas segala bentuk syahwat, terutama yang berasal dari syahwat perut dan kemaluan akan menjadi manusia yang memiliki iffah yang tinggi, sehingga Allah akan selalu menjaganya, dan diselamatkan dari segala kehinaan di dunia dan akhirat.
Manusia yang sudah menjadi budak syahwat perut dan kemaluan itu, dia akan kehilangan rasa malunya, dan tidak lagi sensitif terhadap perbuatannya, serta membiarkan dirinya bergelimangan dengan dosa. Rasa iffah menjadi sirna dan pupus, tak ada lagi yang tersisa dalam dirinya. Kebaikan yang tersisa di dalam dirinya punah seketika, dan selalu bangga dengan dosa dan kedurhakaannya yang dilakukannya terhadap Allah Azza Wa Jalla. Semuanya itu merupakan buah dari sifatnya yang sudah dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluan.

Manusia yang sudah dikendalikan hawa nafsunya akan selalu berkeluh kesah, yaitu dengan meperturutkan hawa hafsunya, dan terkadang dengan melepaskan amarahnya dengan suara yang tinggi. Ini repleksi dari amarah dan nafsu yang sudah tidak terkendeali lagi oleh orang-orang yang sudah dikendalikan hawa nafsunya.Terkadang berbuat melanggar batas-batas yang sudah ditentukan oleh Allah Ta'ala, dan berbuat dengan kianat, serta membabi buta, dan kehilangan kontrol atas dirinya.

Dalam kehidupan yang paling berat bagi manusia, terutama yang dibutuhkan kesabaran, saat manusia itu dalam kondisi kecukupan secara materi.Manusia yang tercukupi secara materi sangat berat mengendalikan hawa nafsunya.Karena yang sering terjadi ialah manusia yang tercukupi secara materi dengan sangat mudah ditundukan oleh syahwat perut dan kemaluan. Orang-orang yang secara materi kecukupan akan selalu terdorong melalukan perbuatan maksiat. Menjadi lupa diri.Banyaknya materi yang dimiliki itu, sering membuat orang menjadi tidak sabar.Kemudian terjungkal ke dalam perbuatan yang durhaka kepada Allah.
Kekayaan yang dimiliki digunakan untuk memenuhi syahwat perut dan kemaluan.Akal dan lamunan terus mengerogoti jiwanya yang kosong, dan menyebabkannya berangan-angan panjang, terutama untuk memenuhi syahwat perut dan kemaluannya.Karena itu, orang-orang yang tercukupi secara materi itu, berubah manjadi manusia yang sombong (al bathr), dan tidak mau lagi mengingat Allah, yang telah memberikan kenikmatan kepadanya berupa rezeki yang banyak. Tetapi, rezeki yang diterimanya itu, justru menciptakan bala' (malapetak) dan musibah bagi dirinya dan kehidupan.[DR.Yusuf Al Qardhawi, Bersikap Iffahlah Terhadap Perut dan Kemaluan, Selasa, Eramuslim.com.12/04/2011 10:04 WIB].

Karena hubungan biologis yang disebut dengan seks itu merupakan fithrah manusia maka Islam membolehkan hal itu sesuai dengan aturan. Kalau tidak mau mengikuti aturan maka hubungan seks itu dinamakan dengan seks bebas atau kumpul kebo, hal ini selain merusak kepribadian juga merusak tatanan kehidupan masyarakat selain dosa besar sebagai hadangannya, sedangkan jalan yang baik dan benar adalah melalui pernikahan, solusi terbaik dari rusaknya kehidupan seks masyarakat adalah dengan nikah.

Islam telah menetapkan pengakuan bagi fitrah manusia dan dorongannya akan seksual, serta ditentangnya tindakan ekstrim yang condong menganggap hal itu kotor. Oleh karena itu, Islam melarang bagi orang yang hendak menghilangkan dan memfungsikannya dengan cara menentang orang yang berkehendak untuk selamanya menjadi bujang dan meninggalkan sunnah Nabi SAW, yaitu menikah.

Nabi SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu melaksanakan pernikahan, maka hendaknya menikah.Sesungguhnya hal itu menundukkan penglihatan dan memelihara kemaluan.”

Nabi SAW telah menyatakan sebagai berikut: “Aku lebih mengenal Allah daripada kamu dan aku lebih khusyuk, kepada Allah daripada kamu. Tetapi aku bangun malam, tidur, berpuasa, tidak berpuasa dan menikahi wanita.Maka barangsiapa yang tidak senang (mengakui) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”
Islam telah menerangkan terhadap kedua pasangan setelah pernikahan, mengenai hubungannya dan masalah-masalah seksual.Bahkan mengerjakannya dianggap suatu ibadat.

Sebagaimana dikatakan Nabi SAW, “Di kemaluan kamu ada sedekah (pahala).”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ketika kami bersetubuh dengan istri akan mendapat pahala?”Rasulullah SAW menjawab, “Ya.Andaikata bersetubuh pada tempat yang dilarang (diharamkan) itu berdosa.Begitu juga dilakukan pada tempat yang halal, pasti mendapat pahala.Kamu hanya menghitung hal-hal yang buruk saja, akan tetapi tidak menghitung hal-hal yang baik.”

Berdasarkan tabiat dan fitrah, biasanya pihak laki-laki yang lebih agresif, tidak memiliki kesabaran dan kurang dapat menahan diri.Sebaliknya wanita itu bersikap pemalu dan dapat menahan diri.
Karenanya diharuskan  bagi  wanita  menerima  dan  menaati panggilan suami. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Jika si istri dipanggil oleh suaminya karena perlu, maka supaya segera datang, walaupun dia sedang masak.” (HR Tirmidzi)

Nabi SAW menganjurkan supaya si istri jangan sampai menolak kehendak suaminya tanpa alasan, yang dapat menimbulkan kemarahan atau menyebabkannya menyimpang ke jalan yang tidak baik, atau membuatnya gelisah dan tegang.
Nabi SAW bersabda, “Jika suami mengajak tidur si istri lalu dia menolak, kemudian suaminya marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat dia sampai pagi.” (Muttafaq Alaih).
Keadaan yang demikian itu jika dilakukan tanpa uzur dan alasan yang masuk akal, misalnya sakit, letih, berhalangan, atau hal-hal yang layak.Bagi suami, supaya menjaga hal itu, menerima alasan tersebut, dan sadar bahwa Allah SWT adalah Tuhan bagi hamba-hamba-Nya Yang Maha Pemberi Rezeki dan Hidayat, dengan menerima uzur hambaNya.Dan hendaknya hamba-Nya juga menerima uzur tersebut.

Selanjutnya, Islam telah melarang bagi seorang istri yang berpuasa sunnah tanpa seizin suaminya, karena baginya lebih diutamakan untuk memelihara haknya daripada mendapat pahala puasa. Nabi SAW bersabda, “Dilarang bagi si istri (puasa sunnah) sedangkan suaminya ada, kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq Alaih)
Disamping dipeliharanya hak kaum laki-laki (suami) dalam Islam, tidak lupa hak wanita (istri) juga harus dipelihara dalam segala hal.Nabi SAW menyatakan kepada laki-laki (suami) yang terus-menerus puasa dan bangun malam.Beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi jasadmu ada hak dan bagi keluargamu (istrimu) ada hak.”[Hubungan Seksual Suami-Istri,dakwatuna.com5/8/2011 | 06 Ramadhan 1432 H].

Allah telah menyediakan segala-galanya fasilitas hidup di dunia ini yang dapat dinikmati secara baik dan halal, bila hal ini dilakukan maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia hingga akherat, tapi karena dorongan nafsu, pengaruh lingkungan dan bisikan syaitan, tidak sedikit yang melakukan seks diluar aturan, sehingga wajar bila Rasulullah menyatakan bahwa ketika beliau Isra’ Mi’raj dahulu, Nampak olehnya orang-orang yang ada dalam neraka, ada yang disediakan makanan di dalam piring yang bersih lagi halal, tapi yang dimakannya malah bangkai yang menjijikkan, kotor dan haram, Rasul menyatakan bahwa itu adalah gambaran orang yang sudah disediakan baginya wanita-wanita shalehah untuk dinikahi tapi dia tidak mau menikah tapi malah mencari wanita-wanita yang tidak benar, atau mereka sudah punya isteri yang halal untuk disetubuhi kapan maunya tapi masih mencari juga wanita-wanita haram walaupun dengan menghabiskan uang tidak sedikit.

Seks itu bukanlah segala-galanya tapi dengan seks akan terjadi segala-galanya, dengan seks akan terbina dengan baik dan rukun rumah tangga muslim, karena seks pulaterjadinya selingkuh dan pelacuran. Dengan seks yang dilakukan sesuai aturan akan mengantarkan pelakunya ke syurga, karena seks yang haram akan membawa orang ke neraka, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28 Agustus 2011.M/ 28 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar