Jumat, 18 Desember 2015

110. Kiamat



Kiamat, ini suatu kejadian yang luar biasa tentang kehancuran alam raya ini, manusia yang beriman kepada Allah meyakini bahwa dunia hanya sementara saja sedangkan yang abadi nanti di akherat kelak, peristiwa besar yang terjadi sebelum akherat dinamakan kiamat.

Allah mempunyai nama-nama indah yang terkandung dalam asma ul husna,salah satunya adalah Al Akhir. Makna dari “yang akhir”  ialahAllah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah. Karena memang bumi dan jagad raya yang diciptakan Allah ini diberi waktu tertentu untuk bertahan, semuanya tidak ada yang kekal tapi bersifat fana artinya hanya sementara.Kehancuaran semuanya disebut dengan peristiwa besar yang kita kenal dengan qiamat. Beberapa ayat mengungkapkan hal ini;
1. hari kiamat,
2. Apakah hari kiamat itu?
3. tahukah kamu Apakah hari kiamat itu?
4. pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
5.dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
[Al Qari’ah 101;1-5]

1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
6. pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,
[Al Zalzalah 99;1-6]

Begitu dahsyatnya awal kejadian qiamat itu, apalagi proses hingga hancurnya dunia ini tentu tidak mampu kita menyaksikannya, sedangkan suasana mendung yang pekat diiringi dengan hujan lebat, petir bersambar-sambaran dan angin kencang yang terjadi di sekitar kita membuat kiat panik tidak karuan, apatah lagi kiamat itu hadir di depan kita.

Dikala hancurnya dunia ini dengan segala isinya hingga tidak ada sisanya satupun, maka Allah tidaklah terpengaruh dengan kejadian itu karena memang Dia yang  menjadikan semua itu hancur, dan kelak masuk kepada kehidupan baru yang disebut dengan alam akherat. Disinilah manusia akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya selama di dunia.
 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”[Al  Zalzalah 99;7-8]

Meskipun kejadian HaRi Kiamat adalah sesuatu yang ghaib dan meRupakan Rahasia Allah, tetapi Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah membeRitahukan kepada kita semua tentang tanda-tandanya.Dan kalau kita mau menceRmati tanda-tanda HaRi Kiamat teRsebut, maka kita semua akan sepakat pada satu kesimpulan, yakni "HaRi Kiamat Sudah Semakin Dekat". 

Asy-Syaikh Muhammad bin IbRahim at-TuwaijiRi di dalam kitabnya MukhtashaR al-Fiqh al-Islami menyebutkan tentang tanda-tanda HaRi Kiamat dengan begitu sistimatis. Beliau membagi tanda-tanda teRjadinya HaRi Kiamat menjadi dua bagian, yaitu "asyRathus sa'ah as-sughRa" yakni tanda-tanda kiamat yang kecil dan "asyRathus sa'ah al-kubRa" yakni tanda-tanda kiamat yang besaR yang menunjukkan sudah sangat dekatnya kiamat. Beliau lalu membagi tanda-tanda kiamat yang kecil menjadi tiga bagian:

Yang peRtama yaitu tanda-tanda yang sudah teRjadi dan telah beRlalu, yaitu beRupa teRbelahnya Rembulan sebagaimana disebutkan dalam suRat al-QamaR, lalu diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus wafatnya beliau, kemudian penaklukan Baitul Maqdis dan keluaRnya api daRi negeRi Nejed.
Yang kedua: Tanda-tanda yang sedang teRjadi dan masih teRus beRlangsung, di antaRanya adalah teRsebaRnya fitnah (kekacauan dan kemungkaRan), munculnya ORang yang mengaku nabi, diangkatnya ilmu dan teRsebaRnya kebOdOhan, kezhaliman teRjadi di sana-sini, meRatanya alat-alat musik dan anggapan halal teRhadapnya, zina meRajalela, banyak ORang meminum khamaR, ORang-ORang melaRat saling beRlOmba membangun Rumah dan gedung, membangun masjid hanya untuk beRmegah-megahan, banyak teRjadi pembunuhan, kemudian waktu teRasa pendek, banyak teRjadi gempa bumi, pasaR-pasaR dan supeR maRket saling beRdekatan, uRusan tidak diseRahkan kepada ahlinya, kebuRukan mendOminasi, kesyiRikan menyebaR di tengah-tengah umat Islam. Juga banyak teRjadi kebOhOngan, pemutusan silatuRahim, pengkhianat justRu mendapat kepeRcayaan, ORang tidak peduli lagi halal-haRam dalam mencaRi Rizki, dan juga banyak wanita-wanita yang beRpakaian tetapi telanjang. 

Inilah di antaRa tanda-tanda kiamat yang saat ini sedang banyak teRjadi dan masih teRus teRjadi. Tanda-tanda ini telah disebutkan di dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih, dan tentunya bukan melalui fORum ini untuk menyebutkannya secaRa detail satu peR satu. Yang jelas -jama'ah sekalian- kita semua telah membuktikan sendiRi bahwa apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beRkenaan dengan tanda-tanda teRjadinya HaRi Kiamat adalah benaR adanya. Apa yang telah disebutkan di atas, kini telah menjadi fakta yang benaR-benaR teRjadi pada masa ini, dan kita semua tidak mengingkaRinya. 

Selajutnya yang ketiga adalah tanda Kiamat SughRa yang belum teRjadi dan akan teRjadi, di antaRanya yaitu: teRjadinya penaklukan KOnstantinOpel dengan tanpa pepeRangan, kemudian kaum Muslimin akan memeRangi bangsa at-TuRk, memeRangi Yahudi hingga mendapat kemenangan, munculnya seORang laki-laki daRi kabilah Qahthan yang mengajak manusia kepada ketaatan, lalu teRjadi dOminasi jumlah kaum wanita hingga seORang laki-laki beRbanding dengan lima puluh wanita. Selain itu adalah munculnya al-Mahdi atau Imam Mahdi, lalu setelah itu akan teRjadi penghan-cuRan Ka'bah Oleh seORang laki-laki daRi Habasyah yang disebut dengan Dzu as-Sawiqatain, dan inilah akhiR zaman yang menunjukkan sudah sangat dekatnya HaRi Kiamat yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda Kiamat KubRa.[Khutbah Jum’at,KhOlif Mutaqin DjawaRi HaRi Kiamat,DaRul Haq JakaRta).
Kapan kiamat itu terjadi?Sebuah pertanyaan sederhana, namun mustahil untuk dijawab oleh manusia.Pertanyaan ini pertama kali dilontarkan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw.saat Beliau sedang duduk-duduk bersama para Sahabatnya di awal-awal kerasulannya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang keempat setelah malaikat Jibril menanyakan tiga pertanyaan yang fundamental lainnya, yakni : 1. Apa iman itu? 2. Apa Islam itu?3. Apa Ihsan itu. Pertanyaan Jibril yang ke 4 adalah : Mata Assa’ah? (Kapan kiamat itu terjadi)?Tiga pertanyaan pertama dijawab oleh Rsul Saw.dengan baik sesuai yang Beliau pelajari dari wahyu Allah. Sedangkan pertanyaan yang ke 4 Beliau mengatakan : Yang ditanya bukanlah lebih tahu dari yang menanya.
Lalu Rasul Saw. meneruskan ucapannya : Akan tetapi saya akan ceritakan padamu indikasi-indikasinya, yakni bila budak telah melahirkan tuannya, maka yang demikian itu adalah indikasinya. Bila orang-orang yang bertelanjang kaki dan badan telah menjadi para pemimpin atau panutan manusia, maka yang demikian itu adalah indikasinya.Bila para pengembala binatang ternak berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, maka yang demikian itu juga adalah indikasinya.
Ada lima perkara yang tidak dapat diketahui kecuali hanya oleh Allah. Kemudian Rasul Saw. membaca ayat : “Sesungguhnya Allah, di sisi-Nyalah pengetahuan tentang kiamat itu, Dia menurunkan hujan, Dia mengetahui apa saja yang ada di dalam kandungan, seseorang tidak akan tahu dengan pasti apa yang akan dia lakukan esok hari, seseorang tidak akan tahu di belahan bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Berpengalaman”.(Q.S. Luqman/31 : 34)

Dalam diskusi dengan Rasul Saw.tersebut, malaikat Jibril muncul bagaikan seorang laki-laki. Setelah berpaling dan meninggalkan majlis Rasul Saw. Nabi Muhammad Saw. berkata: Datangkan lagi kepada saya laki -laki itu! Para sahabat mencoba untuk mendatangkannya, namun mereka tidak melihat apapun. Maka Rasul Saw. berkata : Dia adalah malaikat Jibril, datang untuk mengajarkan kepada manusia (dasar-dasar) agama mereka”. (Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Bab Al-Iman).

Dahulu, orang-orang kafir quraisy ingin mengetes kebenaran kenabian Nabi Muhammad Saw.dengan menanyakan kapan kiamat itu terjadi. Mereka beranggapan, jika Nabi Muhammad bisa menjawabnya, maka kenabian dan kerasulan Muhammad mungkin dapat diterima.Namun, jika Nabi Muhammad tidak bisa menjawabnya, berarti Muhammad bukanlah Nabi dan Rasul Allah.Anehnya, kaum kafir Quraiys itu tidak beriman kepada hari kiamat.Mereka bertanya hanya sekedar mengetes pengetahuan Nabi Muhammad Saw.dan ingin memperolok-olokan Beliau.
Seperti yang Allah jelaskan dalam ayat di atas, mustahil Nabi Muhammad mengetahui kiamat dengan pasti, karena pengetahuan tentang kapan persisnya kiamat itu terjadi hanya murni milik Allah dan tidak diberikan kepada siapapun dari hamba-Nya, kendati kepada Nabi Muhammad Saw. Sebab itu, Nabi Muhammad Saw.tidak menjawab pertanyaan orang-orang kafir Quraisy tersebut sampai Allah turunkan firman-Nya :
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba."Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mau tahu.” (Q.S. Al-A’raf/7 : 187)

Di samping tidak ada seorangpun yang mengetahuai kapan persisnya kiamat itu terjadi, bahwa peristiwa kiamat itu amatlah dahsyat, bukan seperti yang digambarkan dalam film 2012 itu?Kiamat itu adalah kehancuran alam semesta.Bukan hanya kehancuran bumi?Apalagi hanya sebagian bumi saja? Akan tetapi kehancuran alam dunia ini dengan segala isinya karena Allah akan menggantinya dengan alam lain bernama alam akhirat, seperti yang Allah firmankan :
 (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Q.S. Ibrahim / 14 : 48)[Eramuslim, Ustadz Fathuddin Ja'far, Kapan Kiamat Itu? Kamis, 03/12/2009 08:42 WIB ].

Hendaklah kita meRenungi haRi yang dahsyat ini, saat seluRuh manusia dikumpulkan di satu tempat untuk mempeRtanggungjawabkan amalnya di hadapan AllOh subhanahu wata’ala, satu haRi yang menyebabkan langit hancuR beRantakan, anak-anak yang baRu lahiR menjadi beRuban. Janji AllOh subhanahu wata’ala pasti akan teRlaksana.
Ingatlah haRi yang dinamai juga dengan haRi taghabun (haRi dinampakkannya kesalahan-kesalahan). HaRi ini meRupakan penyingkanpan yang hakiki, kaRena pada haRi manusia dikumpulkan sesuai dengan amal peRbuatannya. Di antaRa manusia ada yang beRtaqwa kepada AllOh subhanahu wata’ala. dan di antaRa manusia ada yang penuh beRlumuR dOsa. MeReka akan digiRing menuju neRaka jahannam dalam menahan haus yang menyiksa. Panas api neRaka menipu pandangan meReka, teRgambaR di pelupuk mata bahwa meReka dibawa menuju mata aiR yang akan menghilangakan Rasa haus, tetapi kenyataan beRkata lain. Yang ditemuinya teRnyata api yang menyala menungggu kedatangan meReka. Iyadzan billah.
Allah menggambaRkan kepada kita tentang dahsyatnya haRi itu dalam banyak ayat. Begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah beRfiRman,
“Dan pada haRi teRjadinya kiamat, di haRi itu meReka (manusia) beRgOlOng-gOlOngan. Adapun ORang-ORang yang beRiman dan mengeRjakan amal saleh, Maka meReka di dalam taman (suRga) beRgembiRa. Adapun ORang-ORang yang kafiR dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al QuRan) seRta (mendustakan) menemui haRi akhiRat, Maka meReka tetap beRada di dalam siksaan (neRaka).” (QS. aR-Rum: 14-16) 

Itulah bebeRapa gambaRan tentang haRi kiamat yang pasti akan kita alami. Maka haendaknya kita beRlOmba untuk melakukan amal akhiRat. Senatiasa beRdOa, semOga AllOh membeRikan kebaikan di dunia dan akhiRat. Janganlah sekali-kali kita menjual akhiRat dengan dunia yang singkat ini. BaRangsiapa yang menukaR akhiRat dengan dunia, maka dia pasti akan menyesal dan akan meRasakan keRugian tiada taRa.
Sebagai penutup khutbah yang peRtama ini, maRilah kita meRenungi fiRman AllOh,
“Maka apabila malapetaka yang sangat besaR (haRi kiamat) telah datang. Pada haRi (ketika) manusia teRingat akan apa yang telah dikeRjakannya. Dan dipeRlihatkan neRaka dengan jelas kepada Setiap ORang yang melihat. Adapun ORang yang melampaui batas,38. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka Sesungguhnya neRakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun ORang-ORang yang takut kepada kebesaRan Tuhannya dan menahan diRi daRi keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syuRgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at: 34-41) [Khutbah Jum’at HaRi AkhiR & Bekalnya,Majalah as-Sunnah, SOlO. Edisi 03/IX/1426H/2005M.].

Isu akan terjadinya kiamat di tahun 2012 begitu banyak menyedot perhatian manusia. Sampai-sampai, ada film berjudul 2012 yang bercerita tentang peristiwa mahadahsyat berupa kiamat.Film yang disutradari oleh Rolland Emmerich ini menggambarkan kejadian ‘akhir dunia’ dengan efek gambar yang cukup membelalakkan mata pemirsanya.

Gedung-gedung pencakar langit yang hancur melebur, hujan meteor, bumi yang terbelah, sampai luapan samudera yang meluluhlantahkkan permukaan bumi tergambar jelas di film tersebut. Saat itu, manusia sibuk dengan urusan masing-masing, menyelamatkan diri dari bencana akbar itu. Terlepas silang pendapat mengenai cerita di balik 2012, film tersebut cukup mampu menarik penonton untuk melihatnya.


Selain beberapa ayat di atas, masih banyak gambaran serupa dituliskan dalam Al Qur’an.Tak sekedar isapan jempol, kiamat yang Allah sebutkan ternyata diakui ilmuwan bakal benar-benar terjadi.Bahkan prakiraan dahsyatnya kejadian itu secara ilmiah berupaya dipaparkan para ilmuwan melalui berbagai penelitian mereka. Berikut bagian-bagian episode kiamat yang diramalkan para peneliti berdasarkan data-data ilmiah mereka.[Eramuslim, Syaefudin, Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012, Monday, 23 November 2009 20:18].

            Kiamat pasti akan terjadi, tentang waktunya kita tidak tahu, yang sangat  penting adalah bagaimana kita mempersiapkan iman yang kokoh dengan amal yang shaleh untuk memasuki proses kehidupan yang akan datang, yaitu kematian, alam barzakh dan akherat setelah terjadinya kiamat, wallahu a’lam,[Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].




109. Kurban



Agama Islam adalah agama yang menganjurkan dengan tegas agar pemeluknya suka berqurban dalam arti yang seluas-luasnya. Al Qur’an mendorong ummat islam untuk menanamkan watak kesediaan untuk senantiasa mengurbankan sebagian kepentingan kita, sebagian rezeki kita, sebagian kelonggaran kita untuk sesama manusia. Ibadah kurban terkait dengan ibadah haji yang ditunaikan pada bulan Zulhijjah yang kita kenal dengan hari raya Idul Adha.
Hari raya Idul Adha  merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allahmaka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)
Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata “qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.
Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca: mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah: evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt.[Dr. Attabiq Luthfi, MAdakwartuna.com;Khutbah Idul Adha 1429 H: Membangun Kembali Semangat Berqurban 19/11/2008 | 19 Zulqaedah 1429 H]
Hadis riwayat Jundab bin Sufyan ra., ia berkata: Aku pernah berhari raya kurban bersama Rasulullah saw. Beliau sejenak sebelum menyelesaikan salat. Dan ketika beliau telah menyelesaikan salat, beliau mengucapkan salam. Tiba-tiba beliau melihat hewan kurban sudah disembelih sebelum beliau menyelesaikan salatnya. Lalu beliau bersabda: Barang siapa telah menyembelih hewan kurbannya sebelum salat (salat Idul Adha), maka hendaklah ia menyembelih hewan lain sebagai gantinya. Dan barang siapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah. (Shahih Muslim ]

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:  Nabi saw. berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim )

            Kurban selain ujud ketaatan kepada Allah, dia juga merupakan ujud syukur seorang hamba atas nikmat yang sudah diterima dari Allah, diantara realisasinya adalah shalat dan kurban;

"Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[Al Kautsar 108;1-3]

Kurban merupakan implikasi dari nikmat-nikmat Allah yang sudah diterima seorang hamba, artinya pahalanya ada dua dimensi,  sebelum berkurban sudah lebih dahulu menerima pahala berupa kenikmatan dunia ,  hanya manusia penerima nikmat itu yang mengerti sudah berapa banyak nikmat dunia dia terima, sehingga dari itu semua dia juga ujudkan dengan kurban untuk mengejar pahala yang lebih besar lagi yang berdimensi akherat, ukuran pahalanya kata Rasulullah sebanyak bulu domba yang disembelih itu,

Ibadah kurban adalah sarana untuk menunjukan bukti cinta kita kepada-Nya.Benar sekali, terlalu murah rasanya bila cinta hanya diukur dengan seekor kambing.Apalagi bila cinta kepada Sang Maha Pencipta.Maka, ketulusan dan ketundukan atas perintah itulah yang menjadi ukurannya.Ikhlas. Dalam QS Al-Hajj:37 Allah SWT berfirman, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang mencapainya. Demikianlah Alloh telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang berbuat kebaikan!"

Apa hubungan kurban dengan takwa? Ternyata kurban bisa menjadi indikator bagi ketaqwaan seorang muslim? Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi dia tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami," (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Masjid tentulah tempat yang sangat dirindukan oleh kaum muslimin, apalagi masjidil haram. Lalu apa artinya menjadi muslim apa artinya shalat zakat dan shaumnya? Pengorbanan adalah wujud dari pengakuan cinta.Inilah yang ditunjukan Nabiyullah Ibrahim as ketika diuji kecintaan sejatinya terhadap Allah SWT dengan perintah menyembelih anak.Padahal Ismail adalah anak selama puluhan tahun dinanti-nanti.

Boleh bergabung dalam melaksanakan kurban. Karena Nabi saw ketika menyembelih kurban mengucapkan: "Bismillah, Wallahu Akbar, Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad, dan dari keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad" (HR. Muslim). Yang dilakukan para sahabat Nabi saw adalah sapi satu untuk tujuh orang (HR. Muslim).

Islam adalah rahmat bagi semesta.Banyak di antara umat Islam yang ingin berkurban tapi terbentur dengan harga hewan yang mahal.Karena itu dibolehkan untuk berpatungan. Selain itu akan terasa nilai ukhuwahnya. Rasulullah saw bersabda, "Sayangilah oleh kamu sekalian sesama manusia yang ada di muka bumi ini, maka pasti yang diatas langit akan menyayangi kamu." [Cyber  Sabili. Rela Berqurban Ciri Insan Bertakwa,Sabtu, 16 Oktober 2010 01:18]

Binatang kurban yang disebut udlhiyah atau nahar adalah simbolisasi tadlhiyah yakni pengorbanan. Baik udlhiyah maupun tadlhiyah posisinya sama sebagai ‘ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah (taqarruban wa qurbanan). Jika menyembelih udlhiyah merupakan ‘ibadah material yang ritual, maka taldhiyah/pengorbanan di jalan Allah merupakan ‘ibadah keadaban yang memajukan sektor-sektor kehidupan yang lebih luas.Tidak ada ruginya orang yang berudlhiyah dan bertadlhiyah, karena sesungguhnya termasuk dalam kerangka MULTI QURBAN/pendekatan diri dan MULTI INVESTASI.

- Bertadlhiah merupakan multi pendekatan diri/qurban, sebagaimana dinyatakan dalam ikrar seorang muslim yang bertaqarrub kepada Rabbnya melalui shalat : INNA SHALATI WA NUSUKI WA MAHYAYA WA MAMATI LILLAHOI RABBIL ‘ALAMIN LA SYARIKA LAH.
Kita diperintahkan untuk bertaqarrub kepada Maha Pencipta dengan shalat serta ‘ubudiah yang lain, dan bertaqarrub kepada Allah dalam segala aktivitas hidup ini.
- Bertadlhiyah bermakna multi investasi:
-         Merupakan investasi sosial (social investment) karena jelas, pengorbanan baik material maupun moral memberikan dampak sosial yang positif. Dalam Al Quran Surah Annisa ayat 114 disebutkan:  Bahwa tidak ada kebaikan dalam pembicaraan atau wacana yang diadakan, kecuali untuk mengajak orang bersedekah, memerintahkan yang ma’ruf, atau untuk mendamaikan sengketa di antara masyarakat. Dan barangsiapa melakukan itu karena ridha Allah niscaya berbalas pahala yang besar.

-         Bertadlhiah meruapakan investasi ekonomi (economic investment). Sebagaimana dinyatakan dalam QS al Lail, ayat 5- 10: “Barangsiapa memberi dan bertaqwa serta membenarkan balasan yang sebaik-baiknya, maka niscaya Kami beri kemudahan demi kemudahan. Dan barangsiapa yang kikir dan merasa tidak memerlukan orang lain serta mendustakan pahala yang lebih baik, maka niscaya Kami bukakan baginya pintu kesulitan”.

-         Bertadlhiah juga  merupakan bentuk moral investment, yang mampu mengikis kekikiran ” al syuhhu”. Sifat kikir sangat berbahaya, sebagaimana diperingatkan dalam sabda Rasulullah saw:
Artinya: ”Hati-hati dengan sifat kikir. Sebab sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian diakibatkan kekikiran, sifat kikir telah mendorong mereka untuk berlaku pelit, lalu mendorong mereka untuk memutus silaturahim dan akhirnya telah mendorong mereka melakukan kejahatan”.

-         Endingnya, pengorbanan di jalan Allah tentu saja sebagai investasi ukhrawi. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits bahwa ’ibadah  orang yang menyembelih binatang kurban sudah diterima Allah sebelum darahnya menetes ke tanah, dan merupakan seutama-utama ’ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.[DR. Surahman HidayatKhutbah Idul Adha 1430 H: Semangat Berkorban VS Mengorbankan;dakwatuna.com.20/11/2009 | 02 Zulhijjah 1430 H | Hits: 37.514]

Setiap datangnya Idul Adha kita tidak bisa melupakan jasa agung perjuangan seorang tokoh tauhid yaitu Ibrahim dan keluarganya;
Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah  tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.

Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.
Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat..maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).
Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:
“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)
Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:
“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)

Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.

“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surat Al Baqarah: 132).[Muhammad Anis Matta, Lc.Khutbah Idul Adha 1431 H: Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban dakwatuna.com.12/11/2010 | 05 Zulhijjah 1431 H]

            Pelajaran yang penting yang terdapat pada pelaksanaan ibadah haji dan hari raya Idul Adha adalah pengorbanan yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam rangka meninggikan kualitas iman dan ibadahnya kepada Allah, taqwa selain tingkat iman yang tinggi juga merupakan ujud kedekatan seorang hamba kepada Khaliqnya, hidup akan berjalan sebagaimana biasanya, adakah kurban berlansung padanya atau tidak sama sekali, tapi sia-sialah hidup bila tidak ada upaya untuk mengorbankan sesuatu untuk agama ini wallahu a’lam [Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 04 Rajab 1432.H/ 06 Juni 2011.M].

108. Lidah



Lidah adalah  senjata manusia untuk berbicara menyampaikan maksud dalam bentuk bahasa, dengan kemahiran lisah seseorang dapat terangkat derajatnya di masyarakat, karena mampu menyalurkan maksud serta jeritan hati umat, dengan lidah da’wah dapat dilakukan sampai kepada propaganda dan obral barang di  pasar. Efek positif memang banyak, tetapi banyak pula segi negatifnya, karena lidah ada orang terlempar jauh dari masyarakat sampai terbenam ke penjara.

            Ajaran Islam sangat menekankan pemeliharaan lidah, ucapan yang keluar tanpa kontrol akan mengakibatkan kerugian dalam melaksanakan ibadah, seperti halnya dalam berpuasa, bila tidak mampu menahan kata-kata akan dapat mengurangi nilai ibadah puasa, bahkan ibadah puasa tersebut sia-sia. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Orang yang tidak meninggalkan kata-kata bohong dan senantiasa berdusta, tidak ada faedahnya ia menahan diri dari makan dan minum”.

TeRmasuk bukti Rahmat Allah dalam Dinul Islam adalah wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sunnahnya tentang menjaga lisan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"BaRangsiapa yang beRiman kepada Allah dan HaRi AkhiR, maka hendaklah dia beRkata yang baik atau hendaklah diam." (HR. al-BukhaRi dan Muslim daRi sahabat Abu HuRaiRah).
Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut menunjukkan betapa pentingnya kedudukan lisan. Dengan lisan, seORang hamba bisa mencapai deRajat yang teRtinggi, bahkan mendapat kaRunia yang amat agung di sisi Allah. Namun sebaliknya, dengan lisan pula seORang hamba jatuh teRsungkuR ke dalam juRang kehinaan yang sedalam-dalamnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"Sesungguhnya seseORang mengucapkan kalimat daRi keRidhaan Allah yang tidak dipeRhatikannya, namun Allah mengangkatnya disebabkan kalimat itu bebeRapa deRajat, dan sesungguhnya seORang hamba mengucapkan kalimat daRi kemuRkaan Allah yang tidak di-peRhatikannya, sehingga Allah melempaRkannya disebabkan kalimat itu ke dalam NeRaka Jahanam." (HR. al-BukhaRi).

Itulah kekuatan lisan dalam menentukan kedudukan dan keselamatan seORang hamba. Kemudian maRilah kita Renungkan, bagaimana agaR kita secaRa pRibadi-pRibadi sekaligus secaRa maj-muk masyaRakat, mampu mempeRgunakan kekuatan lisan kita untuk mencapai kedudukan yang tinggi, deRajat yang teRhORmat, bahkan pangkat yang paling mulia, bukan hanya di kalangan manusia atau segenap makhluk, akan tetapi kemuliaan di sisi Allah juga, bagaimana caRanya?
Junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin yang paling mengasihi dan menyayangi umatnya, telah beRpesan seRta beRwasiat demi keselamatan, kemuliaan, seRta ketinggian deRajat kita, umat beliau, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau meneRangkan,
"Sesungguhnya seseORang daRi kalian beRkata dengan peRkataan yang diRidhai Allah, dia tidak menyangka bahwa kalimat itu bisa sampai pada apa yang dicapai (Oleh kalimat itu), kemudian Allah mencatat baginya disebabkan kalimat itu pada keRidhaanNya sampai haRi dia beRtemu denganNya." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi, an-Nasa`i, Ibnu Hibban daRi sahabat Bilal bin HaRits y). 

Sekali lagi, kita peRhatikan dalam wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam teRsebut, bahwa deRajat yang tinggi dapat dicapai dengan kalimat yang diRidhai Oleh Allah. Kalimat apakah itu? 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa kalimat yang diRidhai Oleh Allah Ta’ala, dijamin dapat menyelamatkan dan menjadikan kita bahagia bahkan mencapai deRajat yang setinggi-tingginya di sisi Allah adalah dzikiR kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,
"Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sebaik-baik amal kalian, yang paling beRsih di sisi MahaRaja kalian, amalan yang paling tinggi (yang mengangkat) deRajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daRipada menginfakkan emas maupun peRak, juga lebih baik (bagi kalian) daRipada kalian beRtemu musuh kalian, kemudian kalian memenggal leheR meReka atau meReka memenggal leheR kalian?" MeReka (paRa sahabat) menjawab, "Tentu (wahai Rasulullah)." Beliau beRsabda, "DzikiR kepada Allah Ta’ala." (HR. Ahmad, at-TiRmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim). [Waznin Mahfud, BeRkatalah yang Baik, atau Diamlah ,Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta].
Lidahmu adalah harimaumu, begitu kata pepatah.Ini mengandung makna betapa besar dampak dari setiap ucapan yang terlontar.Tak sedikit orang yang terjerumus ke jurang masalah karena mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.Dalam kaitan ini, agama Islam telah memberikan rambu-rambu.

Pada dasarnya, ucapan maupun perkataan merupakan cerminan jiwa.Maka itu, Nabi Muhammad SAW berpesan pilihlah kata-kata yang baik.Dalam hal ini, beliau merupakan teladan terbaik.Setiap saat, Rasulullah senantiasa menggunakan kata yang baik dan halus untuk umatnya.

Sebaliknya, beliau menjauhkan kata-kata yang jelek, kasar, dan keji.Bahkan, Rasulullah sangat membenci jika ada kalimat yang digunakan tidak pada tempatnya yang sesuai.Misalnya, ada kalimat yang baik dan bermakna mulia namun diucapkan kepada orang atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak menyandang kalimat itu.

Juga sebaliknya, jika ada kalimat jelek dan berarti hina, diarahkan untuk orang atau sesuatu yang mulia. "Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan panggilan tuan karena jika dia memang seorang tuan, maka dengan panggilan itu kalian telah membuat Tuhan kalian murka." Demikian sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Selain itu, umat diminta menjaga ucapan yang mengandung syirik.Seperti ucapan, "Aku meminta pertolongan kepada Allah dan kepadamu."Sesuai tuntutan Rasulullah, mereka yang mengucapkan kalimat-kalimat semacam itu berarti telah menyekutukan atau sepadan bagi Allah SWT.

Dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah,  Saleh Ahmad asy-Syaami menambahkan, kalimat bernada mencela juga sebaiknya dihindari. Peringatan itu juga disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Muttafaaq'alaih.

Rasulullah mengatakan, "Allah SWT berfirman, 'Anak keturunan Adam menyakiti-Ku, karena mereka mencela masa, padahal Aku adalah Zat yang menciptakan dan menguasai masa.Aku yang mempergantikan malam dan siang.''Asy-Syaami menyatakan, perkataan yang mencela melahirkan kesalahan besar.

Menurut dia, celaan yang diucapkan itu sebenarnya akan mengenai diri mereka sendiri. "Mereka telah berkata hal-hal yang tak patut," paparnya.

Asy-Syaami melanjutkan, ucapan-ucapan yang tak baik sama sekali tidak mendatangkan manfaat apa pun. Justru sebaliknya, menjerumuskan seseorang ke jalan kebatilan.Tak hanya itu, ucapan yang buruk itu juga mendatangkan perpecahan dan pertikaian antarsesama.

Termasuk yang perlu dijauhi adalah berkata bohong.Islam tidak memberikan keringanan bagi umatnya yang berbohong.Ibn Qayyim dalam kitab al-Fawa'id mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap kebohongan. Sebab, kebohongan akan merusak cara pandang umat terhadap fakta yang sebenarnya.

Menurut pandangan Mahmud al-Mishri melalui bukunya Ensiklopedia Akhlak Muhammad, seorang pembohong akan menyifati sesuatu yang nyata dengan sesuatu yang abstrak dan menyifati yang abstrak dengan yang nyata. Selain itu, mereka menyifati kebenaran dengan kebatilan demikian pula sebaliknya.

Rasulullah melalui hadis yang diriwayatkan

Bukhari dan Muslim mengatakan, kebohongan akan menggiring pelakunya pada kejahatan dan kejahatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Mari kita jauhkan diri kita dari api neraka dengan menjaga lidah kita.[Yusuf Assidiq
Lisan Terjaga Kebatilan Sirna,Selasa, 08 Februari 2011, 07:16 WIB]

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah!Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya.Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.”.Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka”.
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.”Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.”(HR.Muslim).
Kisah dalam hadis tersebut memberi pelajaran akan bahaya lidah. Betapa jika tidak dikontrol iman, lidah bisa menjerumuskan ke dalam neraka. Meskipun seseorang itu ahli ibadah, banyak shalat, puasa, akan tetapi bila tidak mampu menjaga lidahnya dari memfitnah, berbohong dan hasud – amalannya tersebut sia-sia.
Oleh sebab itu, lidah bisa menjadi media taat kepada Allah, dan bisa pula untuk memuaskan hawa nafsu. Lidah bisa digunakan untuk membaca al-Qur’an, hadis dan menasihati, lidah juga berubah seperti layaknya penyulut api. Memfitnah,bersaksi palsu, ghibah, namimah, dan memecah belah umat. Jika seperti ini seberapa banyak pun ibadah kita tak ada gunanya, semuanya gugur gara-gara lidah yang terselip.
Rasulullah SAW memperingatkan, bahwa bahaya lidah adalah salah satu perkara yang paling beliau khawatirkan. Sebabnya, semua amal akan berguguran jika lidah kita jahat. Suatu kali salah seorang sahabat Sufyan al-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!" Beliau menjawab: "Katakanlah, `Rabbku adalah Allah`, lalu istiqomahlah". Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?". Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Bentuk kejahatan lidah itu ada dua.Yaitu, lidah yang banyak bicara kebatilan dan lidah yang diam terhadap kebatilan.Kejahatan lidah memang bisa setajam pedang.Jika kita tidak hati-hati menggunakannya, maka ketajamannya bisa menumpahkan darah, sebagaimana pedang menusuk tubuh manusia.Bisa pula lidah itu membiarkan ‘api’ yang membakar semakin besar.
Maka, ada dua bahaya besar yang bisa menimpa lidah kita.Bisa karena banyak bicara yang tidak perlu dan menyesatkan atau diam terhadap kebenaran.Dua-duanya adalah sumber kerusakan.
Imam Abu 'Ali ad-Daqqaq pernah mengatakan: "Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu."
Gara-gara lidah, seseorang tergiring masuk neraka. Menjadi hamba yang merugi, sebab pahala orang yang berdosa karena kerusakan lidah akan dihadiahkan kepada orang yang didzalimi. Gara-gara lidah yang jahat kita bisa menjadi hamba yang bangkrut (muflis).
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang pada hari kiamat nanti datang membawa pahala shalat, zakat dan puasa, namun di samping itu ia membawa dosa mencela, memaki, menuduh zina, memakan harta dengan cara yang tidak benar, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.” (HR.Muslim)

Bahaya pertama adalah tersebarnya kebatilan agama yang diakibakan oleh lidah mengucapkan kata-kata yang batil ataupun banyak bicara pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Kedua-duanya merusak masyarakat dan hubungan baik dengan orang lain.
Oleh sebab itu, jika kita tidak tahu terhadap suatu persoalan sebaiknya diam terlebih dahulu sebelum memperoleh jawaban dari ahlu dzikri (orang yang ahli).Jika tidak, kata-kita kita yang tidak berdasarkan ilmu itu bisa menyesatkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).
Lebih baik diam jika dihadapkan terhadap persoalan yang belum kita ketahui.Akan tetapi, ingat tidak sekedar diam selamanya.Akan tetapi kita wajib mencari tahu jawaban yang belum kita ketahui.“Janganlah kamu bersikap terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Isra': 36).
Kita mesti bertanya kepada ahlinya terhadap suatu persoalan. Allah SWT memberi arahan: “Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43). Janganlah memberi fatwa, jika kita tidak tahu ilmunya, jangan pula menyebarkan informasi yang kita belum paham asal-usulnya.Sebab, ilmu adalah pondasi. Jika ilmu kita salah, maka akan gugurlah seluruh amal-ibadah kita.[Kerusakan Akibat Kejahatan Lidah, hidayatullah.com, Rabu, 09 Februari 2011].

Lidah memegang peranan penting dalam berkomunikasi, kata-kata yang tidak tepat penggunaannya akan mengundang salah faham dan sakit hati yang mendengarkannya, lidah memang mudah digunakan tapi sulit menyelesaikannya. Mulanya hanya kata tapi akhirnya bisa membinasakan manusia, dapat mengantarkan ke rumah sakit juga membawa ke penjara, itulahlidah, bentuknya yang kecil dan tipis, tersembunyi dalam mulut tapi yang dikeluarkan darinya lebih besar dari bentuknya.

Pernahkah Anda mempunyai pengalaman dibawa ke dokter ketika sakit.Lalu Anda langsung merasa sehat ketika kembali ke rumah, padahal obat belum diminum. Sebabnya, sang dokter mengatakan, “O, ini penyakit karena capek saja. Istirahat sebentar, nanti juga sembuh.”

Lalu, bagaimana kalau dokter mengatakan sebaliknya, "Penyakit Anda, berbahaya, menular dan tak bisa disembuhkan?"Seketika itu juga Anda sudah merasa mati, sebelum ajal menjemput.  

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa.Lidah lebih tajam daripada pedang.Betapa sering perang berkobar akibat kata.Begitu pula sebaliknya.Perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai.Oleh sepotong kata.

Seorang penulis wanita dari Jerman, Annemarie Schimmel, mengulas tentang kekuatan kata.“Kata yang baik laksana pohon yang baik.Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia.Katalah yang mengantarkan wahyu.Kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga; jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang lain kepada Allah agar taat dan beribadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata.Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat memengaruhi proses perubahan tak lain adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi tugas para nabi dan rasul.Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah),” (QS asy-Syura: 48).

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.

Soal berkomunikasi yang baik, al-Qur’an menyebutnya dengan qaulan sadidan (QS an-Nisa: 9). Qaulan sadidan bermakna "pembicaraan yang benar."  Karena itu, yang harus ditumbuhkan dalam pergaulan adalah rasa sikap saling percaya, agar terhindar sikap berpikir negatif (su-u zhan).

Dalam surah al-Israa' ayat 17 terdapat kalimat qaulan kariman yang bermakna perkataan yang mulia.Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti lawan bicara kita, khususnya mereka yang lebih tua dari kita.

Selanjutnya, dalam surah an-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’rufan (perkataan yang baik).Kebalikannya, perkataan yang baik harus kita ucapkan ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih rendah dari kita, seperti anak, pembantu dan bawahan.

Qaulan layyinan sebagaimana tersebut dalam surah Thaha ayat 44 adalah komunikasi yang harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut. Ketika lawan bicara kita emosional dan egois, maka hendaknya kita tidak bersikap bak api melawan api. Tapi, lawanlah api dengan air.

Lalu ada pula qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih), sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisaa ayat 63.Dengan begitu, pesan sampai sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehendak hawa nafsunya.Dengan perkataan yang jelas, maka tertutuplah ruang-ruang fitnah.

Komunikasi dakwah juga harus dilakukan dengan menggunakan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (QS al-Israa: 28). Sebagai manusia, kita pernah berjanji dan mungkin tidak bisa ditunaikan karena segala keterbatasan.Maka berilah perkataan yang pantas untuk menghapus kekecewaan. Jangan justru mencari-cari alasan yang malah akan lebih menyakitkan.   

Kata-kata yang kuat mencerminkan pribadi seseorang. Tak ada cara selain bersandar kepada Yang Maha Perkasa, Allah SWT.  Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah  dikenal mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit,” kata orang yang pernah menghadiri ceramahnya.[ Eman Mulyatman Cyber Sabili,Pada Mulanya Kata, Senin, 03 Agustus 2009].
Lidah selain dapat menyakitkan hati yang mendengarnya juga dapat digunakan untuk menipu dan membohongi rakyat dengan janji-janji yang disebarkan , kampanye yang menyenangkan dan propaganda untuk membohongi public.
Dusta dan bohong adalah salah satu sifat tercela yang wajib dihindari oleh setiap Muslim. Rasul SAW bersabda, "Sungguh kejujuran mengantarkan kepada kebajikan dan kebaikan akan

mengantarkan kepada surga. Seseorang yang selalu berkata benar (jujur), ia akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu berkata benar. Dan sungguh kebohongan mengantarkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan akan meng antarkan ke neraka. Seseorang yang selalu berbohong, ia akan selalu ditulis di sisi Allah sebagai seorang pembohong." (HR Bukhari-Muslim).

Sedemikian pentingnya berkata benar dan tidak bohong, baik menyangkut urusan personal apalagi publik, Rasul selalu mengaitkannya dengan sikap beragama yang benar. Anas bin Malik berkata, "Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan khutbah kepada kami kecuali beliau selalu bersabda: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya, dan tidak sempurna agama seseorang yang tidak bisa menepati janjinya." (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Dalam fikih jual-beli, yang ada kontrak antara penjual dan pembeli, dikenal konsep `khiyar', yaitu kebebasan memilih selama keduanya belum berpisah. Rasul pun menjelaskan, "Jika keduanya jujur dan jelas, jual beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya menyembunyikan (sesuatu) dan ber bohong maka dicabut keberkahan dari kontrak mereka." (HR Bukhari). Hemat saya, hadis tersebut juga berimplikasi nyata pada konteks politik dan kemaslahatan publik.[
Hikmah: Kebohongan Publik, Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah,Kamis, 20 Januari 2011, 08:28 WIB].

Lidah harus dipelihara agar orang lain selamat dari kejahatannya, lidah harus dijaga agar diri pemiliknya juga akan selamat dari segala hal yang dapat mencelakakan pribadi, itulah makanya Rasul memberikan isyarat bahwa orang yang dapat menjaga lidahnya akan masuk syurga karena orang tersebut telah menyelamatkan orang lain dari ucapannya, wallahu a’lam,[Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].