Selasa, 16 Februari 2016

231. Investasi



Pada usia remaja seseorang dituntut untuk belajar di bangku sekolah hingga dapat menyelesaikan pendidikan tinggi, tentu   pendidikan yang kelak menjanjikan pekerjaan yang memadai dan bergengsi, hingga lepas masa remaja dunia kerja dimasuki dengan segala suka  dan duka, intinya kerja itu untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga, tamat kuliah atau tidak sekolah lagi kita dituntut pula dengan penghasilan dari hasil kerja yang dilakukan, kerja apa saja yang penting menghasilkan. Dari ajaran Islam seorang muslim boleh beraktivitas apa saja sebagai pekerjaannya yang halal, halal memperolehnya dan juga dengan cara halal membelanjakannya.

Salah satu bentuk kecenderungan yang dimiliki manusia adalah keinginan untuk mengumpulkan, memiliki dan menikmati harta. Dengan kata lain, keinginan terhadap harta merupakan bagian dari fitrah kemanusiaan itu sendiri.

Dengan hartalah manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, baik berupa kebutuhan primer, sekunder maupun tertier. Konsekuensinya manusia akan selalu berusaha untuk mengumpulkan harta tersebut dengan berbagai cara. Adakalanya manusia dalam usaha mencariharta tersebut memperhatikan norma-norma agama, social, adat dan kesusilaan, namun tidak jarang pula ada di antara manusia yang bersedia melakukan apa saja demi memperoleh harta.

Dalam konteks ajaran Islam, pentingnya persoalan harta ini terlihat dari banyaknya ayat-ayat yang berbicara tentang harta. Kata mal dalam al-Qur,an disebut sebanyak 86 kali pada 79 ayat dalam 38 surah, satu jumlah yang cukup banyak menghiasi sepertiga surah-surah al-Qur’an.

Jumlah ini belum lagi termasuk kata-kata yang semakna dengan mal seperti rizq, mata’, qintar dan kanz (perbendaharaan).Perhatian al-Qur’an yang begitu besar terhadap harta membuktikan bahwa sebenarnya harta merupakan satu kebutuhan manusia yang sangat penting sehingga al-Qur’an memandang perlu untuk memberikan garisan-garisan yang dapat dikatakan rinci.

Hikmahnya adalah agar manusia tidak terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan baik pada taraf pengumpulan harta ataupun pada pemanfaatannya.Kesalahan dalam dua hal di atas dapat menimbulkan kerugian tidak saja bagi individu yang bersangkutan tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya.

Pada sisi lain, penekanan al-Qur‘an yang begitu kuat dalam proses pengumpulan harta (dengan cara yang halal) bisa dipahami karena pengaruhnya yang sangat kuat terhadap kesejahteraan manusia dan kenyamanannya dalam mengabdi kepada Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini, diciptakan Allah SWT untuk kepentingan dan kebahagian manusia. Kendati demikian bukan berarti manusia bebas untuk menikmatinya.[ Azhari Akmal Tarigan, Menghindari Harta Haram,Minggu, Republika.co.id.30/01/2011 - 10:20 WI]. 

Sikap mengumpulkan harta dari berbagai sisi dan bentuknya pada manusia menunjukkan sikap bahwa harta itu harus selalu ada walaupun kelak pencari harta itu tidak ada lagi, kepentingan harta yang demikian dalam rangka untuk warisan bagi keluarga yang ditinggal, jangankan itu bahwa sifat manusia juga ingin agar harta itu selalu ada dan bertambah karena masih panjangnya program hidup yang dilalui paling tidak dikala tua kelak atau dikala saat tidak mampu lagi untuk berusaha masih ada harta yang bisa digunakan untuk menopang hidup, harta yang begitu umumnya sudah diinvestasikan pada berbagai usaha dan bentuk nilai tukar uang, apakah berupa saham pada sekian perusahaan, apakah membuka perkebunan atau disimpan saja dalam bentuk emas karena nilai tukar emas sampai kapanpun tidak akan berubah bahkan harga jualnya yang selalu bertambah.

Berinvestasi dalam bentuk usaha apapun boleh saja selama tidak ada mengandung dosa dan praktek haram, karena halal merupakan prinsif bagi kehidupan muslim yang berangkat dari firman Allah dan Hadits Nabi yang mengabarkan bahwa sedikit saja barang haram yang masuk ke dalam tubuh seseorang maka api neraka layak untuk membakarnya, maka investasi apa saja haruslah sesuai dengan ajaran islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’ :29-30) 

Dan Allah berfirman :“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah :188) 

Dalam khutbah agung pada Hari Arafah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram bagi kalian seperti haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini.” (HR. Al-Bukhari, 6 )

Imam Ahmad dan lain-lain meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ tidak halal harta seorang muslim (bagi orang lain) kecuali diberikannya dengan senang hati.” (HR. Ahmad,5/72 dan Abu Ya’laa, 1570 ) 

Imam muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda :“Sesungguhnya Allah Maha Baik. Dia tidak mau menerima kecuali sesuatu yang baik.Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman apa yang dia perintahkan kepada para Rasul. Lalu dia berfirman :“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu’minun :51) Dan juga berfirman : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS.Al-Baqarah :172) Kemudian beliau menyebut orang yang bepergian lama, rambutnya dekil, pakaiannya kumal (berdebu), mengangkat kedua tangannya ke langit : ‘Ya Rabb ! Ya Rabb !sementara makanannya haram, pakaiannya haram, dan diberi nutrisi yang haram. Mana mungkin doa orang semacam itu akan dikabulkan.”( Shahih Muslim, 1015) 

Setiap muslim harus menyesuaikan diri dengan syari’at Allah yang sempurna dalam menjalankan muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa, hutang-piutang, dan sebagainya, Banyak orang yang tersesat karena memiliki anggapan yang sempit tentang agama yang menyeluruh ini. Mereka menganggap bahwa agama ini hanya mengatur urusan ibadah.Mereka secara sengaja atau tidak memisahkan agama dari kehidupan dan peri hidup masyarakat.Mereka mengelola harta Allah tanpa hak.Mereka tidak peduli apakah harta yang mereka kumpulkan itu halal atau haram. Bagi mereka yang disebut halal adalah apa yang ada di tangan mereka, entah dari mana sumbernya. Mereka tidak hati-hati terhadap peraktik-peraktik muamalah yang diharamkan. Dan mereka suka menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta. Mereka sudah dikuasai oleh watak cinta dunia, terlena oleh kilauan materi, terpedaya oleh uang, dan tergila-gila pada harta.Terkadang mereka rela mengabaikan aturan agama agamanya dengan uang recehan.

Tidak jarang mereka menjual agamanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi.Riba adalah jalannya, menipu adalah kebiasaannya, berkhianat adalah simbolnya, mengelabuhi adalah kebiasaannya, sumpah palsu adalah tunggangannya, berbuatzalim dan memalsu adalah caranya, dan berbohong adalah kendaraannya.Mereka berjuang mati-matian untuk mendapatkan harta. Mereka rela mengorbankan apa saja demi menambah pundi-pundi kekayaannya. Mereka tidak berfikir sedikitpun tentang resiko.Mereka tidak takut pada tanggung jawab. Mereka tidak pernah mengevaluasi dirinya, tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian, dan tidak pernah memikirkan hisab di Akhirat.[Dua Penghasilan Yang Bertolak Belakang,assunnah.com.Rabu, 19 Januari 2011].

Bagi sebagian orang, berinvestasi reksa dana sudah bukan berita baru lagi. Namun tak sedikit juga orang yang masih khawatir atau ragu berinvestasi karena perasaan tak nyaman.Kenyamanan dan perasaan aman berinvestasi juga dipengaruhi penyedia jasa keuangan yang menawarkan produk investasi.

Haviez Gautama, Chief of Marketing and Communications PT Bank Commonwealth menyarankan, pastikan Anda bertransaksi reksa dana dengan agen berlisensi. Selain itu, katanya, bagi pemula dalam berinvestasi reksa dana, sebaiknya Anda mendatangi langsung bank yang dipercaya untuk mendapatkan informasi lengkap dan utuh mengenai produk investasi. Saran lain yang juga diberikannya adalah pastikan Anda tak terburu-buru memilih produk investasi reksa dana.

"Setelah mendapatkan informasi mengenai produk reksa dana di bank, nasabah juga perlu mencari referensi dan informasi dari luar agar merasa lebih aman. Panduan yang jelas dari agen berlisensi juga memberikan rasa aman kepada nasabah untuk mulai berinvestasi reksa dana," jelas Haviez kepada Kompas Female di Jakarta, baru-baru ini. 

Haviez menjelaskan, bagi nasabah yang belum memahami seluk beluk investasi reksa dana, langkah awal yang perlu dilakukannya adalah berkonsultasi langsung dengan agen penjual reksa dana berlisensi.

Datangi bank yang Anda percaya, lalu sebagai langkah awal, kata Haviez, adalah membuka akun khusus investasi, di luar rekening bank biasa. Lalu Anda bisa membeli produk reksa dana, setelah sebelumnya berkonsultasi mengenai kebutuhan dan kemampuan keuangan. "Meski memiliki akun investasi terpisah, namun pembelian reksa dana bisa langsung diambil dari saldo pada akun tabungan di bank Anda," jelas Haviez.

Sebelum membeli atau memilih produk reksa dana, biasanya agen berlisensi akan menganalisa profil risiko. Dengan menjawab sejumlah pertanyaan kuesioner, Anda bisa dianalisa masuk dalam kategori profil risiko seperti apa. Mereka yang termasuk profil risiko konservatif berbeda dengan mereka yang masuk kategori risk taker.

"Produk reksa dana tak asal dijual begitu saja oleh agen. Ada 40-50 produk reksa dana di Commonwealth. Untuk membelinya perlu dikenali profil risiko nasabah.Misal profil konservatif, biasanya adalah para pemula yang baru memulai berinvestasi atau mereka yang berusia matang. Mereka ini tidak akan diusulkan membeli reksa dana saham. Produk investasi yang tepat untuk profil risiko ini biasanya reksa dana pasar uang, dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun," jelasnya. Fund managerakan membantu nasabah untuk mengenali profil risiko dan jenis produk reksa dana yang tepat untuknya. Dalam berinvestasi, rasa aman muncul ketika nasabah merasa dibimbing dengan baik untuk memahami produk investasi, hingga saat membelinya, tandas Haviez.[Cara Aman Berinvestasi Reksa Dana, Wardah Fazriyati | wawa | KOMPAS.comSabtu, 18 Juni 2011 | 16:13 WIB].

Kita memandang investasi hanya berupa uang dan harta, padahal banyak investasi yang lebih bermanfaat dari uang dan harta walaupun kita tidak bisa melepaskan uang dan harta untuk investasi lainnya, seperti pendidikan merupakan investasi besar yang akan menghasilkan manusia berkualitas dikemudian hari, berdakwah juga merupakan investasi yang tidak kalah pentingnya untuk diri sendiri dikemudian hari, artinya banyak jenis investasi yang perlu kita fikirkan ke depan,

Tentang pendidikan, apakah seseorang harus menginvestasikan uangnya terlebih dahulu atau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi walaupun kedua-duanya sama-sama diperlukan, maka tentu memakai skala prioritas sebagaimana sebuah pertanyaan yang diajukan pada kompas.com di bawah ini.

Tanya: Saya sekarang masih sendiri dan telah bekerja. Saya sedang memikirkan untuk mengambil S-2 di sebuah universitas ternama di Jakarta, dan setelah memeroleh informasi, saya cukup kaget juga mengetahui besarnya dana pendidikan yang dibutuhkan. Saya jadi ragu, apakah saya harus meneruskan niat mengambil S-2 dengan "mengorbankan" dana investasi, dan untuk sementara tidak bisa melanjutkan cicilan investasi masa depan? Baiknya bagaimana ya, pendidikan atau investasi masa depan? (Nancy, Jakarta)

Jawab:Sebelum memutuskan untuk meneruskan rencana pendidikan atau tidak, sebaiknya Anda kaji dan pertimbangkan kembali. Apakah pendidikan S-2 ini akan menambah peluang karier di masa depan? Apa manfaat yang mungkin akan Anda peroleh setelah meraih S-2?

Bila peluang karier dan pekerjaan akan lebih baik di masa depan dengan mengambil pendidikan S-2 ini, maka biaya dana pendidikan yang akan Anda bayarkan, dapat dikategorikan sebagai "Investasi Diri".

Investasi diri merupakan investasi yang paling berharga dan akan memberikan tingkat pengembalian (return) yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis investasi mana pun. Jadi, manfaatkan dana investasi yang Anda miliki dan keleluasaan waktu saat ini (saat lajang) untuk menimba ilmu dan memperkuat kompetensi diri demi masa depan cemerlang. Pendidikan adalah investasi terbaik.
[Melanjutkan Investasi atau Pendidikan Tinggi?wawa | Senin, 12 September 2011 | 10:48 WIB].

Investasi lain yang sulit dipercaya banyak orang adalah investasi berupa dakwah karena dakwah hasilnya tidak lansung diterima di dunia tapi akan diterima di akherat kelak, hasil di dunia dari dakwah kadangkala memang tidak Nampak sebagaimana yang dialami oleh para nabi dan rasul.

Sebuah kaidah dakwah menegaskan bahwa: “Pahala didapat karena melaksanakan dakwah ilallah, bukan tergantung penerimaan dakwah itu sendiri.”

Kaidah ini menjawab kesalah kaprahan anggapan banyak orang, bahwa pahala bergantung dengan hasil duniawi yang kasat mata.Bila seperti itu, maka kebanyakan para Nabi tervonis gagal dalam dakwahnya, sebutan yang tidak pantas bagi para nabi Allah.

Meskipun Nabi Nuh sangat sedikit pengikutnya dari kalangan orang-orang beriman, tetapi Ia telah mendakwahkan kaumnya dan menetap bersama mereka 950 tahun lamanya. Sebagaimana firman Allah :“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut : 14)

Zahir ayat tersebut – menurut Ibnu katsir – menerangkan bahwasanya nabi Nuh tinggal bersama kaumnya dan senantiasa mendakwahkan mereka kepada Allah selama 950 tahun.Walaupun Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya cukup lama, tetapi yang beriman kepadanya hanya sedikit saja. Firman Allah Ta’ala :“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud : 40)
Bila diperhatikan pengecualian pada ayat ( ومن آمن ) sehingga tidak dapat dipahami bahwa jumlah orang berimannya banyak, oleh karenanya Allah memperjelas dengan ayat berikutnya ( وما آمن معه إلا قليل ).

Begitulah permasalahan dakwah yang dihadapi kebanyakan para Nabi, mereka nanti akan dkumpulkan pada hari kiamat, sebagian mereka ada yang mempunyai pengikut satu dua tiga orang saja, sebagian mereka bahkan sama sekali tidak ada seorangpun orng beriman yang menjadi pengikutnya, Imam tirmidzi mentakhrij dari jalur Ibnu Abbas Semoga Allah meridhoi keduanya seraya berkata : “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati beberapa Nabi bersamanya pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang pengikutpun. Karena itu Allah telah mengarahakan Rasul-NYA Muhammad SAW kepada pengertian tersebut di atas, ketika beliau diperintahkan berdakwah dan menyampaikan risalah, Allah tidak menuntut hasilnya. Allah berfirman :
“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada ni`mat).” (QS. Syura : 48)

“Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl : 35)

“Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-Nur : 54)

Adapun urusan hidayah sepenuhnya ada di tangan Allah. Sebagaimana firman-NYA :“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56).[Berdakwah Investasi Kebaikan Berkesinambungan, Dakwatuna27/11/2008 | 27 Zulqaedah 1429 H].

Tak ada orang yang mau berinvestasi yang membuat rugi atau mengalami kegagalan, semuanya ingin memperoleh keuntungan gemilang walaupun keuntungan itu berupa kesenangan di dunia yang tidak ada jaminan untuk memperoleh balasan di akherat, tapi investasi yang berupa ukhrawi dapat dipastikan balasannya, dia adalah bisnis yang berbuah syurga, inilah bisnis hamba dengan Khaliqnya sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah bentuk-bentuk investasi yang menguntungkan itu.Baginda Nabi SAW pernah ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”“Lalu apa lagi?”“Jihad fi sabilillah?”“Kemudian apa lagi?”“Haji mabrur,” jawab Baginda Nabi SAW. (HR Muslim).

Melalui hadits ini, baginda Nabi SAW bahkan menempatkan amalan jihad lebih tinggi di atas amalan haji mabrur. Jadi, jika haji mabrur saja bisa memasukkan pela-kunya ke dalam surga, maka jihad pasti juga akan memasukkan pelakunya ke dalam surga, yang tingkatannya lebih tinggi lagi.[Bisnis yang Berbuah Surga,Media Ummat; Tuesday, 01 March 2011 08:50].

Perspektif seorang muslim adalah akherat dengan tidak melupakan dunia bahkan dunia merupakan awal investasi yang dapat dilanjutkan dengan berinvestasi akherat, uang atau harta yang kita miliki bisa digunakan untuk investasi, apakah hanya berskala dunia maka hanya dunia saja yang akan diperoleh, tapi investasi yang berskala akherat pasti akan mendapatkan dunia juga, beruntunglah orang yang punya kelebihan harta sehingga dengan harta itu dia mampu untuk memperdayakan potensinya, potensi harta, ilmu, jiwa dan tenaga, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14 Zulhijjah 1432.H/ 10 November 2011.H].


 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar