Pada usia remaja seseorang dituntut untuk
belajar di bangku sekolah hingga dapat menyelesaikan pendidikan tinggi,
tentu pendidikan yang kelak menjanjikan
pekerjaan yang memadai dan bergengsi, hingga lepas masa remaja dunia kerja
dimasuki dengan segala suka dan duka,
intinya kerja itu untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan keluarga, tamat
kuliah atau tidak sekolah lagi kita dituntut pula dengan penghasilan dari hasil
kerja yang dilakukan, kerja apa saja yang penting menghasilkan. Dari ajaran
Islam seorang muslim boleh beraktivitas apa saja sebagai pekerjaannya yang
halal, halal memperolehnya dan juga dengan cara halal membelanjakannya.
Salah
satu bentuk kecenderungan yang dimiliki manusia adalah keinginan untuk
mengumpulkan, memiliki dan menikmati harta. Dengan kata lain, keinginan
terhadap harta merupakan bagian dari fitrah kemanusiaan itu sendiri.
Dengan
hartalah manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, baik berupa kebutuhan
primer, sekunder maupun tertier. Konsekuensinya manusia akan selalu berusaha
untuk mengumpulkan harta tersebut dengan berbagai cara. Adakalanya manusia
dalam usaha mencariharta tersebut memperhatikan norma-norma agama, social, adat
dan kesusilaan, namun tidak jarang pula ada di antara manusia yang bersedia
melakukan apa saja demi memperoleh harta.
Dalam
konteks ajaran Islam, pentingnya persoalan harta ini terlihat dari banyaknya
ayat-ayat yang berbicara tentang harta. Kata mal dalam al-Qur,an disebut
sebanyak 86 kali pada 79 ayat dalam 38 surah, satu jumlah yang cukup banyak
menghiasi sepertiga surah-surah al-Qur’an.
Jumlah
ini belum lagi termasuk kata-kata yang semakna dengan mal seperti rizq, mata’,
qintar dan kanz (perbendaharaan).Perhatian al-Qur’an yang begitu besar terhadap
harta membuktikan bahwa sebenarnya harta merupakan satu kebutuhan manusia yang
sangat penting sehingga al-Qur’an memandang perlu untuk memberikan
garisan-garisan yang dapat dikatakan rinci.
Hikmahnya
adalah agar manusia tidak terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan baik pada
taraf pengumpulan harta ataupun pada pemanfaatannya.Kesalahan dalam dua hal di
atas dapat menimbulkan kerugian tidak saja bagi individu yang bersangkutan
tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya.
Pada
sisi lain, penekanan al-Qur‘an yang begitu kuat dalam proses pengumpulan harta
(dengan cara yang halal) bisa dipahami karena pengaruhnya yang sangat kuat
terhadap kesejahteraan manusia dan kenyamanannya dalam mengabdi kepada Allah
SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini, diciptakan
Allah SWT untuk kepentingan dan kebahagian manusia. Kendati demikian bukan
berarti manusia bebas untuk menikmatinya.[ Azhari Akmal Tarigan, Menghindari
Harta Haram,Minggu, Republika.co.id.30/01/2011 - 10:20 WI].
Sikap
mengumpulkan harta dari berbagai sisi dan bentuknya pada manusia menunjukkan
sikap bahwa harta itu harus selalu ada walaupun kelak pencari harta itu tidak
ada lagi, kepentingan harta yang demikian dalam rangka untuk warisan bagi
keluarga yang ditinggal, jangankan itu bahwa sifat manusia juga ingin agar
harta itu selalu ada dan bertambah karena masih panjangnya program hidup yang
dilalui paling tidak dikala tua kelak atau dikala saat tidak mampu lagi untuk
berusaha masih ada harta yang bisa digunakan untuk menopang hidup, harta yang
begitu umumnya sudah diinvestasikan pada berbagai usaha dan bentuk nilai tukar
uang, apakah berupa saham pada sekian perusahaan, apakah membuka perkebunan
atau disimpan saja dalam bentuk emas karena nilai tukar emas sampai kapanpun
tidak akan berubah bahkan harga jualnya yang selalu bertambah.
Berinvestasi dalam bentuk
usaha apapun boleh saja selama tidak ada mengandung dosa dan praktek haram,
karena halal merupakan prinsif bagi kehidupan muslim yang berangkat dari firman
Allah dan Hadits Nabi yang mengabarkan bahwa sedikit saja barang haram yang
masuk ke dalam tubuh seseorang maka api neraka layak untuk membakarnya, maka
investasi apa saja haruslah sesuai dengan ajaran islam. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa
berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan
memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(QS. An-Nisa’ :29-30)
Dan Allah berfirman :“Dan
janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada
hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu
dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah
:188)
Dalam khutbah agung pada Hari
Arafah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ Sesungguhnya
darah dan harta kalian adalah haram bagi kalian seperti haramnya hari kalian
ini di negeri kalian ini.” (HR. Al-Bukhari, 6 )
Imam Ahmad dan lain-lain
meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“ tidak
halal harta seorang muslim (bagi orang lain) kecuali diberikannya dengan senang
hati.” (HR. Ahmad,5/72 dan Abu Ya’laa, 1570 )
Imam muslim meriwayatkan dari
Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda :“Sesungguhnya
Allah Maha Baik. Dia tidak mau menerima kecuali sesuatu yang baik.Dan
sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang baik. Dan sesungguhnya
Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman apa yang dia perintahkan kepada
para Rasul. Lalu dia berfirman :“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan
yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu’minun :51) Dan juga
berfirman : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang
baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika
benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS.Al-Baqarah :172) Kemudian
beliau menyebut orang yang bepergian lama, rambutnya dekil, pakaiannya kumal
(berdebu), mengangkat kedua tangannya ke langit : ‘Ya Rabb ! Ya Rabb !sementara
makanannya haram, pakaiannya haram, dan diberi nutrisi yang haram. Mana mungkin
doa orang semacam itu akan dikabulkan.”( Shahih Muslim, 1015)
Setiap muslim harus
menyesuaikan diri dengan syari’at Allah yang sempurna dalam menjalankan
muamalah, seperti jual beli, sewa menyewa, hutang-piutang, dan sebagainya,
Banyak orang yang tersesat karena memiliki anggapan yang sempit tentang agama
yang menyeluruh ini. Mereka menganggap bahwa agama ini hanya mengatur urusan
ibadah.Mereka secara sengaja atau tidak memisahkan agama dari kehidupan dan
peri hidup masyarakat.Mereka mengelola harta Allah tanpa hak.Mereka tidak
peduli apakah harta yang mereka kumpulkan itu halal atau haram. Bagi mereka
yang disebut halal adalah apa yang ada di tangan mereka, entah dari mana
sumbernya. Mereka tidak hati-hati terhadap peraktik-peraktik muamalah yang
diharamkan. Dan mereka suka menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta.
Mereka sudah dikuasai oleh watak cinta dunia, terlena oleh kilauan materi,
terpedaya oleh uang, dan tergila-gila pada harta.Terkadang mereka rela
mengabaikan aturan agama agamanya dengan uang recehan.
Tidak jarang mereka menjual
agamanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi.Riba adalah jalannya, menipu
adalah kebiasaannya, berkhianat adalah simbolnya, mengelabuhi adalah
kebiasaannya, sumpah palsu adalah tunggangannya, berbuatzalim dan memalsu
adalah caranya, dan berbohong adalah kendaraannya.Mereka berjuang mati-matian
untuk mendapatkan harta. Mereka rela mengorbankan apa saja demi menambah
pundi-pundi kekayaannya. Mereka tidak berfikir sedikitpun tentang resiko.Mereka
tidak takut pada tanggung jawab. Mereka tidak pernah mengevaluasi dirinya,
tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian, dan tidak pernah memikirkan
hisab di Akhirat.[Dua Penghasilan Yang Bertolak Belakang,assunnah.com.Rabu,
19 Januari 2011].
Bagi sebagian orang,
berinvestasi reksa dana sudah bukan berita baru lagi. Namun tak sedikit juga
orang yang masih khawatir atau ragu berinvestasi karena perasaan tak nyaman.Kenyamanan
dan perasaan aman berinvestasi juga dipengaruhi penyedia jasa keuangan yang
menawarkan produk investasi.
Haviez Gautama, Chief of
Marketing and Communications PT Bank Commonwealth menyarankan, pastikan Anda
bertransaksi reksa dana dengan agen berlisensi. Selain itu, katanya, bagi
pemula dalam berinvestasi reksa dana, sebaiknya Anda mendatangi langsung bank
yang dipercaya untuk mendapatkan informasi lengkap dan utuh mengenai produk
investasi. Saran lain yang juga diberikannya adalah pastikan Anda tak
terburu-buru memilih produk investasi reksa dana.
"Setelah mendapatkan
informasi mengenai produk reksa dana di bank, nasabah juga perlu mencari
referensi dan informasi dari luar agar merasa lebih aman. Panduan yang jelas
dari agen berlisensi juga memberikan rasa aman kepada nasabah untuk mulai
berinvestasi reksa dana," jelas Haviez kepada Kompas Female di
Jakarta, baru-baru ini.
Haviez menjelaskan, bagi
nasabah yang belum memahami seluk beluk investasi reksa dana, langkah awal yang
perlu dilakukannya adalah berkonsultasi langsung dengan agen penjual reksa dana
berlisensi.
Datangi bank yang Anda
percaya, lalu sebagai langkah awal, kata Haviez, adalah membuka akun khusus
investasi, di luar rekening bank biasa. Lalu Anda bisa membeli produk reksa
dana, setelah sebelumnya berkonsultasi mengenai kebutuhan dan kemampuan
keuangan. "Meski memiliki akun investasi terpisah, namun pembelian reksa
dana bisa langsung diambil dari saldo pada akun tabungan di bank Anda,"
jelas Haviez.
Sebelum membeli atau memilih
produk reksa dana, biasanya agen berlisensi akan menganalisa profil risiko.
Dengan menjawab sejumlah pertanyaan kuesioner, Anda bisa dianalisa masuk dalam
kategori profil risiko seperti apa. Mereka yang termasuk profil risiko
konservatif berbeda dengan mereka yang masuk kategori risk taker.
"Produk reksa dana tak
asal dijual begitu saja oleh agen. Ada 40-50 produk reksa dana di Commonwealth.
Untuk membelinya perlu dikenali profil risiko nasabah.Misal profil konservatif,
biasanya adalah para pemula yang baru memulai berinvestasi atau mereka yang
berusia matang. Mereka ini tidak akan diusulkan membeli reksa dana saham.
Produk investasi yang tepat untuk profil risiko ini biasanya reksa dana pasar
uang, dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun," jelasnya. Fund managerakan
membantu nasabah untuk mengenali profil risiko dan jenis produk reksa dana yang
tepat untuknya. Dalam berinvestasi, rasa aman muncul ketika nasabah merasa
dibimbing dengan baik untuk memahami produk investasi, hingga saat membelinya,
tandas Haviez.[Cara Aman Berinvestasi Reksa Dana, Wardah
Fazriyati | wawa | KOMPAS.comSabtu, 18 Juni 2011 | 16:13 WIB].
Kita memandang investasi hanya
berupa uang dan harta, padahal banyak investasi yang lebih bermanfaat dari uang
dan harta walaupun kita tidak bisa melepaskan uang dan harta untuk investasi
lainnya, seperti pendidikan merupakan investasi besar yang akan menghasilkan
manusia berkualitas dikemudian hari, berdakwah juga merupakan investasi yang
tidak kalah pentingnya untuk diri sendiri dikemudian hari, artinya banyak jenis
investasi yang perlu kita fikirkan ke depan,
Tentang pendidikan, apakah
seseorang harus menginvestasikan uangnya terlebih dahulu atau melanjutkan
pendidikan ke jenjang lebih tinggi walaupun kedua-duanya sama-sama diperlukan,
maka tentu memakai skala prioritas sebagaimana sebuah pertanyaan yang diajukan
pada kompas.com di bawah ini.
Tanya: Saya sekarang masih sendiri
dan telah bekerja. Saya sedang memikirkan untuk mengambil S-2 di sebuah
universitas ternama di Jakarta, dan setelah memeroleh informasi, saya cukup
kaget juga mengetahui besarnya dana pendidikan yang dibutuhkan. Saya jadi ragu,
apakah saya harus meneruskan niat mengambil S-2 dengan "mengorbankan"
dana investasi, dan untuk sementara tidak bisa melanjutkan cicilan investasi
masa depan? Baiknya bagaimana ya, pendidikan atau investasi masa depan? (Nancy,
Jakarta)
Jawab:Sebelum
memutuskan untuk meneruskan rencana pendidikan atau tidak, sebaiknya Anda kaji
dan pertimbangkan kembali. Apakah pendidikan S-2 ini akan menambah peluang karier
di masa depan? Apa manfaat yang mungkin akan Anda peroleh setelah meraih S-2?
Bila
peluang karier dan pekerjaan akan lebih baik di masa depan dengan mengambil
pendidikan S-2 ini, maka biaya dana pendidikan yang akan Anda bayarkan, dapat
dikategorikan sebagai "Investasi Diri".
Investasi
diri merupakan investasi yang paling berharga dan akan memberikan tingkat
pengembalian (return) yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis
investasi mana pun. Jadi, manfaatkan dana investasi yang Anda miliki dan keleluasaan
waktu saat ini (saat lajang) untuk menimba ilmu dan memperkuat kompetensi diri
demi masa depan cemerlang. Pendidikan adalah investasi terbaik.
[Melanjutkan Investasi atau Pendidikan Tinggi?wawa | Senin, 12 September 2011 | 10:48 WIB].
[Melanjutkan Investasi atau Pendidikan Tinggi?wawa | Senin, 12 September 2011 | 10:48 WIB].
Investasi lain yang sulit dipercaya banyak orang
adalah investasi berupa dakwah karena dakwah hasilnya tidak lansung diterima di
dunia tapi akan diterima di akherat kelak, hasil di dunia dari dakwah
kadangkala memang tidak Nampak sebagaimana yang dialami oleh para nabi dan
rasul.
Sebuah kaidah dakwah
menegaskan bahwa: “Pahala didapat karena melaksanakan dakwah ilallah, bukan
tergantung penerimaan dakwah itu sendiri.”
Kaidah ini menjawab kesalah
kaprahan anggapan banyak orang, bahwa pahala bergantung dengan hasil duniawi
yang kasat mata.Bila seperti itu, maka kebanyakan para Nabi tervonis gagal
dalam dakwahnya, sebutan yang tidak pantas bagi para nabi Allah.
Meskipun Nabi Nuh sangat
sedikit pengikutnya dari kalangan orang-orang beriman, tetapi Ia telah
mendakwahkan kaumnya dan menetap bersama mereka 950 tahun lamanya. Sebagaimana
firman Allah :“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh
tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang
zalim.” (QS. Al-Ankabut : 14)
Zahir ayat tersebut – menurut
Ibnu katsir – menerangkan bahwasanya nabi Nuh tinggal bersama kaumnya dan
senantiasa mendakwahkan mereka kepada Allah selama 950 tahun.Walaupun Nabi Nuh
tinggal bersama kaumnya cukup lama, tetapi yang beriman kepadanya hanya sedikit
saja. Firman Allah Ta’ala :“Hingga apabila perintah Kami datang dan
dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu
dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu
kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula)
orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali
sedikit.” (QS. Hud : 40)
Bila diperhatikan pengecualian
pada ayat ( ومن آمن ) sehingga tidak dapat dipahami bahwa jumlah orang
berimannya banyak, oleh karenanya Allah memperjelas dengan ayat berikutnya (
وما آمن معه إلا قليل ).
Begitulah permasalahan dakwah
yang dihadapi kebanyakan para Nabi, mereka nanti akan dkumpulkan pada hari kiamat,
sebagian mereka ada yang mempunyai pengikut satu dua tiga orang saja, sebagian
mereka bahkan sama sekali tidak ada seorangpun orng beriman yang menjadi
pengikutnya, Imam tirmidzi mentakhrij dari jalur Ibnu Abbas Semoga Allah
meridhoi keduanya seraya berkata : “Tatkala Nabi diisra’kan Nabi melewati
beberapa Nabi bersamanya pengikut yang banyak, beberapa Nabi lainnya sedikit
jumlah pengikutnya dan beberapa nabi lagi tidak mempunyai satu orang
pengikutpun. Karena itu Allah telah mengarahakan Rasul-NYA Muhammad SAW kepada
pengertian tersebut di atas, ketika beliau diperintahkan berdakwah dan
menyampaikan risalah, Allah tidak menuntut hasilnya. Allah berfirman :
“Jika mereka berpaling
maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak
lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan
kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu.
Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri
(niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada
ni`mat).” (QS. Syura : 48)
“Maka tidak ada
kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan
terang.” (QS. An-nahl : 35)
“Dan tidak lain
kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”
(QS. An-Nur : 54)
Adapun urusan hidayah
sepenuhnya ada di tangan Allah. Sebagaimana firman-NYA :“Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash
: 56).[Berdakwah Investasi Kebaikan Berkesinambungan, Dakwatuna27/11/2008 | 27
Zulqaedah 1429 H].
Tak ada orang yang mau
berinvestasi yang membuat rugi atau mengalami kegagalan, semuanya ingin
memperoleh keuntungan gemilang walaupun keuntungan itu berupa kesenangan di
dunia yang tidak ada jaminan untuk memperoleh balasan di akherat, tapi
investasi yang berupa ukhrawi dapat dipastikan balasannya, dia adalah bisnis
yang berbuah syurga, inilah bisnis hamba dengan Khaliqnya sebagaimana yang
disebutkan oleh Rasulullah bentuk-bentuk investasi yang menguntungkan itu.Baginda
Nabi SAW pernah ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman
kepada Allah dan Rasul-Nya.”“Lalu apa lagi?”“Jihad fi sabilillah?”“Kemudian apa
lagi?”“Haji mabrur,” jawab Baginda Nabi SAW. (HR Muslim).
Melalui hadits ini, baginda
Nabi SAW bahkan menempatkan amalan jihad lebih tinggi di atas amalan haji
mabrur. Jadi, jika haji mabrur saja bisa memasukkan pela-kunya ke dalam surga,
maka jihad pasti juga akan memasukkan pelakunya ke dalam surga, yang
tingkatannya lebih tinggi lagi.[Bisnis yang Berbuah Surga,Media Ummat; Tuesday,
01 March 2011 08:50].
Perspektif seorang muslim
adalah akherat dengan tidak melupakan dunia bahkan dunia merupakan awal
investasi yang dapat dilanjutkan dengan berinvestasi akherat, uang atau harta
yang kita miliki bisa digunakan untuk investasi, apakah hanya berskala dunia maka
hanya dunia saja yang akan diperoleh, tapi investasi yang berskala akherat
pasti akan mendapatkan dunia juga, beruntunglah orang yang punya kelebihan
harta sehingga dengan harta itu dia mampu untuk memperdayakan potensinya,
potensi harta, ilmu, jiwa dan tenaga, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 14
Zulhijjah 1432.H/ 10 November 2011.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar