Bilal bin Rabah adalah sahabat Rasulullah
yang lahir dilingkungan perbudakan, ketika ia masuk islam, majikannya melakukan
penyiksaan yang luar biasa kepadanya, dipukul, dicambuk, dijemur di terik
matahari kemudian ditindih dengan batu besar, tapi keinginannya untuk masuk
agama islam tidaklah surut bahkan semakin kuat keimanannya, hal itu membuat
murka majikannya, hingga sampai satu ketika Abu Bakar datang membeli dan
membebaskannya, maka mulai saat itu dia hibup merdeka dengan sahabat lainnya.
Dialah
orang yang pertama sekali mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu
shalat, walaupun dia seorang bekas budak yang berkulit hitam tapi dia dekat
dengan Rasulullah, dengan suaranya yang merdu dan lantang tidak segan-segan
mengumandangkan adzan setiap waktu shalat tiba, sehingga sampai sekarang di
negara kita orang yang mengumandangkan adzan selain disebut sebagai muadzin
juga disebut sebagai Bilal. Selain Bilal, sahabat nabi berikutnya bernama
Abdullah bin Umi Mahtum juga seorang muadzin yang mengumandangkan adzan pertama
sebelum datangnya waktu subuh.
Orang yang mengumandangkan adzan, selain
memberikan isyarat masuknya waktu shalat, menjadi syiarnya islam maka mereka
juga mendapat pujian dan pahala dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah,''Tuhan
kalian mengagumi seorang penggembala kambing yang ada di atas bukit. (Karena)
ia mengumandangkan panggilan untuk shalat. Kemudian Allah berfirman: Lihatlah hamba-Ku ini. Ia adzan
dan iqamat serta mendirikan shalat. Ia takut kepadaku. Karena itu Aku
mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga.” [HR.Abu Dawud]
Demikian banyaknya kebaikan yang
diberikan oleh Allah kepada seorang muadzin karena dia sudah terbiasa
menyuarakan suaranya untuk mengumandangkan kalimat Allah di masjid kota besar
ataupun surau buruk di perkampungan, tidak semua orang mau dan mampu mengambil
sikap lansung adzan dikala waktu shalat masuk, kemudian dilanjutkan dengan
iqamat saat akan menunaikan shalat, sampai-sampai Rasulullah memberikan target
dua belas tahun bagi muadzin yang secara kontinyu mengumandangkan adzan
dipastikan masuk syurga, sebagaimana sabda beliau;“Orang yang adzan (menjadi
mu’adzin) selama dua belas tahun, maka ia wajib masuk surga. Setiap kali adzan
ditulis untuknya enam puluh kebaikan.Dan setiap kali iqamat, ditulis untuknya
tiga puluh kebaikan.” [Ibnu Majah dan Al-Hakim]
Hadits ini mengandung pemberitaan
tentang keutamaan bagi seorang mu’adzin yang menetapi jangka waktu tersebut.
Tetapi untuk memperoleh keutamaan itu tentu saja harus disertai dengan niat
yang ikhlas, tidak mengharapkan imbalan, pujian maupun kesombongan, karena
adanya beberapa hadits yang menerangkan bahwa Allah hanya akan menerima amal
yang ikhlas untuk-Nya.
Ada riwayat yang menjelaskan bahwa
seorang laki-laki datang menghadap kepada Ibnu Umar seraya berkata: “Saya
amat mencitaimu karena Allah.” Kemudian Ibnu Umar menajawab: “Persaksikanlah
bahwa aku membencimu karena Allah.” Ia bertanya, “Mengapa begitu?” Ibnu Umar
menjawab: “Karena kamu membuat cacat adzanmu dengan mengambil imbalan!”.
Bukan hanya ibadah adzan saja yang harus
dilakukan dengan ikhlas, semua ibadah yang dikerjakan seorang mukmim haruslah
ikhlas, yaitu ibadah yang hanya dimotivasi mencari ridha Allah walaupun dia
mendapatkan pula ridha dari yang lain tapi tidaklah dia harapkan.
Namun yang perlu disesalkan adalah bahwa
kenyataannya ibadah yang agung ini serta syi’arnya tidak diperhatikan oleh
mayoritas ulama.Di beberapa masjid adzan hanya dilakukan sekehendak hati,
bahkan kadang-kadang merasa enggan untuk mengumandangkan-nya.Mereka justru
memperebutkan kedudukan sebagai imam, bahkan hingga terjadi ketegangan di
antara mereka.Hanya kepada Allah-lah kita mengadukan keanehan zaman ini.
Padahal kedudukan sebagai muadzin
demikian mulianya di hadapan Allah dan Rasul-Nya dengan imbalan luar biasa,
tapi memang kadangkala posisi muadzin di masyarakat kurang diperhatikan bahkan
dianggap biasa-biasa saja dibandingkan posisi imam dan khatib. Sudah seharusnya
pengurus masjid memposisikan muadzin sama dengan posisi imam dan khatib karena
ketiga orang ini sama-sama berperan besar dalam rangka menegakkan shalat dan
syiarkan agama islam.
Begitu pula halnya, masyarakat
menghargai muadzin yang sudah memberitahukan kepada kita tentang tanda telah
masuknya waktu shalat setiap waktu, maka penghargaan kepada muadzin tapi yaitu
segeralah mengerjakan shalat berjamaah ke masjid, dengan demikian terobati pula
hati sang Bilal yang sudah menyuarakan kalimat tauhid melalui adzannya tapi
tidak ada masyarakat yang datang untuk memenuhi panggilannya, sehingga jangan
heran bila waktu-waktu shalat hanya
dihadiri oleh dua atau tiga orang saja yang datang memenuhi panggilan suara
adzan.
Bahkan
ada muadzin yang hampir berputus asa pada sebuah masjid yang sudah
bertahun-tahun dikumandangkan adzan tapi jamaah yang datang tidaklah seberapa
sehingga ada keinginan mencari masjid lain yang mungkin akan ramai jamaahnya
dan resfon terhadap suara adzan, tapi nyatanya sama saja. Itulah kondisi umat
kita pada masa-masa sekarang, bagaimanapun juga seorang muadzin tugasnya hanya
mengumandangkan adzan melalui suaranya yang merdu, indah dan ikhlas, dan itu
sudah cukup, masalah kehadiran jamaah untuk shalat di masjid yang tidak
seberapa bukanlah urusannya, itu pula letak ujian keikhlasan seorang muadzin,
dia akan tetap mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, ada ataupun tidak ada
orang yang memenuhi panggilan itu untuk shalat jamaah, maka dia akan selalu
tampil dengan adzannya. Ada ataupun tidak orang yang memuji bahkan mungkin
mencacinya maka tidak akan menyurutkannya menggemakan kalimat tauhid ke tengah
masyarakat.
Ada 4.000-an masjid di kota
Kairo, Mesir. Terbayang bukan, jika masing-masing masjid mengumandangkan adzan
dalam waktu yang berbeda dengan irama yang beraneka ragam?
Tak heran jika pemerintah
Mesir merancang proyek ambisius untuk menyatukan waktu dan suara panggilan
adzan di kota berpenghuni 18 juta orang itu. Proyek ini telah dirancang sejak
enam tahun lalu dan akan diujicoba pada Ramadhan kali ini. Mestinya, sejak awal
Ramadhan, namun karena ada gangguan sistem komunikasi maka tertunda beberapa
hari
"Mesir memiliki masalah
dengan waktu," kata Sheik Abdel-Galil Salem, pejabat di Departemen Agama
dan Wakaf."Tujuan proyek kami adalah untuk secara akurat mengatur waktu
doa sehingga disebut pada waktu yang sama dari setiap masjid, dan untuk
mengontrol kualitas suara dalam panggilan adzan," katanya kepada
Associated Press.Meskipun secara teknis memiliki suara yang indah digariskan
bagi muadzin, banyak yang melakukan panggilan sekenanya."Ada yang suaranya
tercekik, bahkan kacau pengucapannya," katanya.
Melalui proyek senilai 175
ribu dolar AS, setiap masjid akan dilengkapi dengan semacam alat penerima yang
akan menyiarkan adzan yang sudah terprogram dari studio di sebuah masjid yang
menjadi sentral. Abdel-Galil menyatakan, setiap masjid di kota itu diharapkan
sudah mengadopsi sistem pada akhir bulan Ramadan ini."Kita sekarang hidup
di era laptop dan komputer, teknologi maju bisa dimanfaatkan untuk kelancaran
ibadah," ujarnya.
Namun pengembangan sistem
terpadu ini bukan tanpa kendala. Selain masjid, di Kairo banyak zawya,
semacam mushala.Tiap-tiap zawya, dilengkapi pula dengan
pengeras suara.
Ashraf Tawfiq, penduduk daerah
pinggiran utara Nasr City, mengatakan zawya kecil di lingkungannya masih melakukan
panggilan sendiri untuk berdoa, tapi masjid yang lebih besar memilih beralih ke
sistem terpadu baru, yang katanya sangat indah. "Tetap saja suara sistem
bertabrakan dengan suara adzan dari zawya,"
ujarnya. Selain itu, beberapa muadzin juga menentang sistem ini karena akan
merampas "mata pencaharian" pahala mereka.
"Orang-orang di sini
bersaing untuk melakukan panggilan shalat, sistem ini merampas pahala dari
orang yang suka cita melakukannya," Sheik Youssef Salah, yang biasa
memimpin doa di Masjid Al-Noor.[Mesir Siap Terapkan Sentralisasi Adzan, Republika.co.id.Sabtu,
14 Agustus 2010 00:28 WIB].
Keberadaan muadzin pada sebuah masjid
ataupun surau bukanlah sendiri saja, mereka meramaikan suaranya di dunia ini
dengan muadzin lainnya yang saling bersahut-sahutan setiap waktu sehingga dunia
ini tidak pernah sunyi dari kumandang
adzan.
"Subhanallah, begitu banyak
tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta ini, adzan sudah dikumandangkan dari
beribu surau dan masjid, dunia memiliki perbedaan waktu, antara
satu wilayah dengan wilayah yang lain, sebelum adzan Subuh sempat
berkumandang, di wilayah terbarat Benua Afrika, adzan Zuhurpun telah
berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya, sementara kumandang adzan Zuhur
belum sempat terdengar kembali di bagian Timur Indonesia, adzan Ashar telah
siap menjelajah belahan dunia lainnya, saat gema adzan Ashar belum selesai,
adzan Maghrib telah merambah bumi lain, selang beberapa saat adzan Isyapun siap
melanjutkan, ketika gema adzan Isya belum selesai di Benua Amerika, adzan Subuh
sudah kembali terdengar disebagian wilayah Indonesia, seiring bergantinya siang
dan malam, ternyata adzan akan selalu berkumandang di bumi ini, tanpa kita
sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia, tak henti-hentinya
bersahutan mengumandangkan adzan,
Insya Allah gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir
zaman" [Kumandang Adzan di Metro TV, 25 Nofember 2010 jam 17.50 ].
Banyak hal yang dapat mendatangkan pahala bagi seorang muslim kalau
pandai mencari peluang untuk itu termasuk mengumandangkan adzan pada
waktu-waktu tertentu yaitu saat tibanya waktu melaksanakan ibadah shalat,
bahkan dengan kumandang adzan pula ada orang yang mendapat hidayah ketika
mendengarkannya sehingga memeluk islam, sebagaimana pengakuan Cica Koeswoyo
sebelum dia masuk islam; Perihal keislaman saya, beberapa majalah ibukota
pernah mengakatnya. Itu terjadi tahun 1985.Singkatnya, saya tergugah mendengar
suara azan dari TVRI studio pusat Jakarta.
Sebetulnya saya hampir tiap hari mendengar suara azan.Terutama pada saat saya melakukan olah raga jogging (lari pagi).Saat itu, saya tidak merasakan getaran apapun pada batin saya. Saya memperhatikannya sepintas lalu saja
Tetapi,
ketika saya sedang mempunyai masalah dengan papa saya, saya melakukan aksi
protes dengan jalan mengurung diri di dalam kamar selama beberapa hari.Saya
tidak mau sekolah.Saya tidak mau berbicara kepada siapapun.Saya tidak mau
menemui siapapun.Pokoknya saya ngambek.
Pada saat saya mengurung diri itulah, saya menjadi lebih menghabiskan waktu menonton teve.Kurang lebih pulul 18.00 WIB.siara teve di hentikan sejenak untuk mengumandangkan azan magrib.
Biasanya setiap kali disiarkan azan magrib, pesawat teve langsung saya matikan.Tetapi pada saat itu saya betul-betul sedang malas, dan membiarkan saja siaran azan magrib kumandang sampai selesai.Begitulah sampai berlangsung dua hari.
Pada hari ketiga, saya mulai menikmati alunan azan tersebut.Apalagi ketika saya membaca teks terjemahannya di layar teve. Sungguh, selama ini saya telah lalai, tidak perhatikan betapa dalam arti dari panggilan azan tersebut
Saya yang sedang bermasalah seperti diingatkan, bahwa ada satu cara untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yaitu dengan shalat. Di sisi lain, suara azan yang mengalun syahdu, sanggup menggetarkan relung hati saya yang paling dalam. Hati saya yang resah, seperti di sirami kesejukan. Batin terasa damai dan tenteram.[ Journey to Islam Swaramuslim.net Jul 2003 - feb 2006
Kompilasi chm: pakdenono [ wewewepakdenonodotkom ].
Petunjuk Allah
bisa datang dari mana saja. Khusus bagi Ahui, hidayah itu ia peroleh dari
serangkaian mimpi. Pada usia 39, adalah awal pria keturunan Tionghoa itu
mengalami serangkaian peristiwa yang akhirnya membawanya ke Islam. Saat itu ia
bermimpi memasuki sebuah gedung dan mengaji di dalam gedung tersebut. Tapi ia
tak memandang mimpi itu istimewa. Ahui tidak tergelitik."Saya tidak tahu
mengapa bisa mendapat mimpi itu, jadi saya abaikan saja," katanya.
Selang satu bulan,
Ahui kembali bermimpi. Kali ini ia menyuarakan adzan di atas kabah. Seperti
mimpi pertama, ia juga tak menghiraukanya. Lagi-lagi, berjarak satu bulan dari
mimpi kedua, dalam tidurnya, Ahui melihat dirinya berwudhu dan mengucapkan
kalimat syahadat.
Hingga mimpi
ketiga, pikiran Ahui tetap tidak terusik.Ia masih menanggap semuanya sekedar
kembang tidur.
Ketika
mimpi-mimpi itu datang, Ahui tengah mencoba peruntungan dalam wirausaha yang ia
rintis sejak muda. Bukan mendapat untung, ia merugi hingga bangkrut. Semua
harta bendanya habis dan kondisi Ahui saat itu, tuturnya, sangat menyedihkan.Pada
tahun berikut, tepatnya 1998, Istri Ahui sakit keras.Ia divonis mengidap
penyakit kanker stadium 4. Selang beberapa bulan, istrinya pun meninggal.
Sebelum jatuh sakit, rupanya istri Ahui pernah pula bermimpi membawa Al Qur'an lalu kitab itu terjatuh."Dalam mimpinya, istri saya memasuki sebuah Masjid mengikuti sebuah pengajian.Setelah keluar dari masjid itu istri saya mendapat hadiah sebuah Al-Quran.Ketika membawa Al-Quran tersebut istri saya tersenggol oleh seseorang dan Al-Quran itu jatuh hingga terbelah menjadi dua”, tuturnya.
Ahui tak bisa
lagi mengabaikan rentetan peristiwa yang ia alami. Ia mencoba mengaitkan satu
demi satu kejadian tersebut. Ahui sempat kebingungan, mengapa di saat
kehilangan semua harta dan orang kesayangannya, ia malah mendapatkan
mimpi-mimpi yang berkaitan dengan Islam.“Saat saya mengalami kebangkrutan saya
bermimpi mengenai Islam, ketika Istri saya meninggal, isti saya juga mengalami
mimpi yang berkaitan dengan Islam.Saya sendiri waktu itu tidak tahu apa itu
Islam”, ungkapnya.
Ahui memang
tidak pernah mengenal agama dan memeluk agama sejak ia dilahirkan. Keluarganya
pun setali tiga uang.Tapi, sebagai persyaratan membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP),
Ahui mencatumkan agama Budha.Begitupun dengan keluarganya. “KTP kan harus ada
agamanya, ya udah saya cantumkan saja agama Budha," kata Ahui.
Karena hanya
agama KTP, ia pun mengaku tak pernah mengerti dan tahu bagaimana cara beribadah
umat Budha. Ahui hanya mengikuti gerakan dan ritual yang dilakukan oleh umat
Budha.“Saya melihatat orang membakar dupa, ya saya ikut bakar duha, orang
berdoa ya saya ikut berdoa, padahal saya tak tahu bagaimana bacaan doanya”, aku
Ahui.
Akhirnya Ahui
terdorong untuk mencari tahu tentang Islam.Ia mendatangai ustad dan melakukan
diskusi tentang Islam. Bahkan ia mendatangi pula beberapa orang yang ahli
agama. Ia juga membaca sedikit-sedikit buku mengenai islam.
Setelah kurang
lebih tiga tahun ia mencari tahu tentang Islam, Ahui memutuskan untuk memeluk
agama tersebut pada akhir Febuari tahun 2001. Dari sinilah ia mulai menyusun
hidup barunya.
Setelah masuk
Islam, Ahui mengubah namanya menjadi Muhamad Abdul Ahui.Keputusannya memeluk
Islam tak mendapat pertentangan dari keluarga. Sebaliknya, ia malah disambut
baik, terutama oleh ibundanya. Ibu Ahui merasa bangga dengan anaknya yang telah
memiliki agama dan berubah menjadi lebih baik setelah beragama Islam.[Salah
Satu Hidayah Ahui, Mimpi Beradzan di Atas Kabah,Republika.co.id.Rabu, 30 Maret
2011 08:38 WIB].
Kita
masih bersyukur kepada Allah, pada setiap desa dan kampung masih terdengar
suara adzan dikumandangkan oleh muadzin yang menandakan masih adanya syiar
islam di kampung itu walaupun jamaahnya tidaklah seberapa, semoga dengan sekian
kali, sekian ribu kali kumandang adzan itu menggerakkan ummat untuk
melaksanakan shalat dengan berjamaah di masjid yang menandakan umat sudah
resfon dengan panggilan shalat melalui suara lantang sang muadzin, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 13 Desember 2011.M/ 17
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar