Jumat, 19 Februari 2016

263. Muadzin



Bilal bin Rabah adalah sahabat Rasulullah yang lahir dilingkungan perbudakan, ketika ia masuk islam, majikannya melakukan penyiksaan yang luar biasa kepadanya, dipukul, dicambuk, dijemur di terik matahari kemudian ditindih dengan batu besar, tapi keinginannya untuk masuk agama islam tidaklah surut bahkan semakin kuat keimanannya, hal itu membuat murka majikannya, hingga sampai satu ketika Abu Bakar datang membeli dan membebaskannya, maka mulai saat itu dia hibup merdeka dengan sahabat lainnya.

      Dialah orang yang pertama sekali mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat, walaupun dia seorang bekas budak yang berkulit hitam tapi dia dekat dengan Rasulullah, dengan suaranya yang merdu dan lantang tidak segan-segan mengumandangkan adzan setiap waktu shalat tiba, sehingga sampai sekarang di negara kita orang yang mengumandangkan adzan selain disebut sebagai muadzin juga disebut sebagai Bilal. Selain Bilal, sahabat nabi berikutnya bernama Abdullah bin Umi Mahtum juga seorang muadzin yang mengumandangkan adzan pertama sebelum datangnya waktu subuh.

Orang yang mengumandangkan adzan, selain memberikan isyarat masuknya waktu shalat, menjadi syiarnya islam maka mereka juga mendapat pujian dan pahala dari Allah, sebagaimana sabda Rasulullah,''Tuhan kalian mengagumi seorang penggembala kambing yang ada di atas bukit. (Karena) ia mengumandangkan panggilan untuk shalat. Kemudian Allah  berfirman: Lihatlah hamba-Ku ini. Ia adzan dan iqamat serta mendirikan shalat. Ia takut kepadaku. Karena itu Aku mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga.” [HR.Abu Dawud]

Demikian banyaknya kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada seorang muadzin karena dia sudah terbiasa menyuarakan suaranya untuk mengumandangkan kalimat Allah di masjid kota besar ataupun surau buruk di perkampungan, tidak semua orang mau dan mampu mengambil sikap lansung adzan dikala waktu shalat masuk, kemudian dilanjutkan dengan iqamat saat akan menunaikan shalat, sampai-sampai Rasulullah memberikan target dua belas tahun bagi muadzin yang secara kontinyu mengumandangkan adzan dipastikan masuk syurga, sebagaimana sabda beliau;“Orang yang adzan (menjadi mu’adzin) selama dua belas tahun, maka ia wajib masuk surga. Setiap kali adzan ditulis untuknya enam puluh kebaikan.Dan setiap kali iqamat, ditulis untuknya tiga puluh kebaikan.” [Ibnu Majah dan Al-Hakim]

Hadits ini mengandung pemberitaan tentang keutamaan bagi seorang mu’adzin yang menetapi jangka waktu tersebut. Tetapi untuk memperoleh keutamaan itu tentu saja harus disertai dengan niat yang ikhlas, tidak mengharapkan imbalan, pujian maupun kesombongan, karena adanya beberapa hadits yang menerangkan bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas untuk-Nya.

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa seorang laki-laki datang menghadap kepada Ibnu Umar seraya berkata: “Saya amat mencitaimu karena Allah.” Kemudian Ibnu Umar menajawab: “Persaksikanlah bahwa aku membencimu karena Allah.” Ia bertanya, “Mengapa begitu?” Ibnu Umar menjawab: “Karena kamu membuat cacat adzanmu dengan mengambil imbalan!”.

Bukan hanya ibadah adzan saja yang harus dilakukan dengan ikhlas, semua ibadah yang dikerjakan seorang mukmim haruslah ikhlas, yaitu ibadah yang hanya dimotivasi mencari ridha Allah walaupun dia mendapatkan pula ridha dari yang lain tapi tidaklah dia harapkan.

Namun yang perlu disesalkan adalah bahwa kenyataannya ibadah yang agung ini serta syi’arnya tidak diperhatikan oleh mayoritas ulama.Di beberapa masjid adzan hanya dilakukan sekehendak hati, bahkan kadang-kadang merasa enggan untuk mengumandangkan-nya.Mereka justru memperebutkan kedudukan sebagai imam, bahkan hingga terjadi ketegangan di antara mereka.Hanya kepada Allah-lah kita mengadukan keanehan zaman ini.

Padahal kedudukan sebagai muadzin demikian mulianya di hadapan Allah dan Rasul-Nya dengan imbalan luar biasa, tapi memang kadangkala posisi muadzin di masyarakat kurang diperhatikan bahkan dianggap biasa-biasa saja dibandingkan posisi imam dan khatib. Sudah seharusnya pengurus masjid memposisikan muadzin sama dengan posisi imam dan khatib karena ketiga orang ini sama-sama berperan besar dalam rangka menegakkan shalat dan syiarkan agama islam.

Begitu pula halnya, masyarakat menghargai muadzin yang sudah memberitahukan kepada kita tentang tanda telah masuknya waktu shalat setiap waktu, maka penghargaan kepada muadzin tapi yaitu segeralah mengerjakan shalat berjamaah ke masjid, dengan demikian terobati pula hati sang Bilal yang sudah menyuarakan kalimat tauhid melalui adzannya tapi tidak ada masyarakat yang datang untuk memenuhi panggilannya, sehingga jangan heran bila waktu-waktu shalat  hanya dihadiri oleh dua atau tiga orang saja yang datang memenuhi panggilan suara adzan.

      Bahkan ada muadzin yang hampir berputus asa pada sebuah masjid yang sudah bertahun-tahun dikumandangkan adzan tapi jamaah yang datang tidaklah seberapa sehingga ada keinginan mencari masjid lain yang mungkin akan ramai jamaahnya dan resfon terhadap suara adzan, tapi nyatanya sama saja. Itulah kondisi umat kita pada masa-masa sekarang, bagaimanapun juga seorang muadzin tugasnya hanya mengumandangkan adzan melalui suaranya yang merdu, indah dan ikhlas, dan itu sudah cukup, masalah kehadiran jamaah untuk shalat di masjid yang tidak seberapa bukanlah urusannya, itu pula letak ujian keikhlasan seorang muadzin, dia akan tetap mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, ada ataupun tidak ada orang yang memenuhi panggilan itu untuk shalat jamaah, maka dia akan selalu tampil dengan adzannya. Ada ataupun tidak orang yang memuji bahkan mungkin mencacinya maka tidak akan menyurutkannya menggemakan kalimat tauhid ke tengah masyarakat.  

Ada 4.000-an masjid di kota Kairo, Mesir. Terbayang bukan, jika masing-masing masjid mengumandangkan adzan dalam waktu yang berbeda dengan irama yang beraneka ragam?

Tak heran jika pemerintah Mesir merancang proyek ambisius untuk menyatukan waktu dan suara panggilan adzan di kota berpenghuni 18 juta orang itu. Proyek ini telah dirancang sejak enam tahun lalu dan akan diujicoba pada Ramadhan kali ini. Mestinya, sejak awal Ramadhan, namun karena ada gangguan sistem komunikasi maka tertunda beberapa hari

"Mesir memiliki masalah dengan waktu," kata Sheik Abdel-Galil Salem, pejabat di Departemen Agama dan Wakaf."Tujuan proyek kami adalah untuk secara akurat mengatur waktu doa sehingga disebut pada waktu yang sama dari setiap masjid, dan untuk mengontrol kualitas suara dalam panggilan adzan," katanya kepada Associated Press.Meskipun secara teknis memiliki suara yang indah digariskan bagi muadzin, banyak yang melakukan panggilan sekenanya."Ada yang suaranya tercekik, bahkan kacau pengucapannya," katanya.

Melalui proyek senilai 175 ribu dolar AS, setiap masjid akan dilengkapi dengan semacam alat penerima yang akan menyiarkan adzan yang sudah terprogram dari studio di sebuah masjid yang menjadi sentral. Abdel-Galil menyatakan, setiap masjid di kota itu diharapkan sudah mengadopsi sistem pada akhir bulan Ramadan ini."Kita sekarang hidup di era laptop dan komputer, teknologi maju bisa dimanfaatkan untuk kelancaran ibadah," ujarnya.

Namun pengembangan sistem terpadu ini bukan tanpa  kendala. Selain masjid, di Kairo banyak zawya, semacam mushala.Tiap-tiap zawya, dilengkapi pula dengan pengeras suara.

Ashraf Tawfiq, penduduk daerah pinggiran utara Nasr City, mengatakan zawya kecil di lingkungannya masih melakukan panggilan sendiri untuk berdoa, tapi masjid yang lebih besar memilih beralih ke sistem terpadu baru, yang katanya sangat indah. "Tetap saja suara sistem bertabrakan dengan suara adzan dari zawya," ujarnya. Selain itu, beberapa muadzin juga menentang sistem ini karena akan merampas "mata pencaharian" pahala mereka. 

"Orang-orang di sini bersaing untuk melakukan panggilan shalat, sistem ini merampas pahala dari orang yang suka cita melakukannya," Sheik Youssef Salah, yang biasa memimpin doa di Masjid Al-Noor.[Mesir Siap Terapkan Sentralisasi Adzan, Republika.co.id.Sabtu, 14 Agustus 2010 00:28 WIB]. 

Keberadaan muadzin pada sebuah masjid ataupun surau bukanlah sendiri saja, mereka meramaikan suaranya di dunia ini dengan muadzin lainnya yang saling bersahut-sahutan setiap waktu sehingga dunia ini tidak  pernah sunyi dari kumandang adzan.

"Subhanallah, begitu banyak tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta ini, adzan sudah dikumandangkan dari beribu surau dan masjid, dunia memiliki perbedaan waktu,  antara  satu wilayah dengan wilayah yang lain, sebelum adzan Subuh sempat berkumandang, di wilayah terbarat Benua Afrika, adzan Zuhurpun telah berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya, sementara kumandang adzan Zuhur belum sempat terdengar kembali di bagian Timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah belahan dunia lainnya, saat gema adzan Ashar belum selesai, adzan Maghrib telah merambah bumi lain, selang beberapa saat adzan Isyapun siap melanjutkan, ketika gema adzan Isya belum selesai di Benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar disebagian wilayah Indonesia, seiring bergantinya siang dan malam, ternyata adzan akan selalu berkumandang di bumi ini, tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia, tak henti-hentinya bersahutan    mengumandangkan adzan, Insya Allah gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman" [Kumandang Adzan di Metro TV, 25 Nofember 2010 jam 17.50 ].

       Banyak hal yang dapat mendatangkan pahala bagi seorang muslim kalau pandai mencari peluang untuk itu termasuk mengumandangkan adzan pada waktu-waktu tertentu yaitu saat tibanya waktu melaksanakan ibadah shalat, bahkan dengan kumandang adzan pula ada orang yang mendapat hidayah ketika mendengarkannya sehingga memeluk islam, sebagaimana pengakuan Cica Koeswoyo sebelum dia masuk islam; Perihal keislaman saya, beberapa majalah ibukota pernah mengakatnya. Itu terjadi tahun 1985.Singkatnya, saya tergugah mendengar suara azan dari TVRI studio pusat Jakarta.

Sebetulnya saya hampir tiap hari mendengar suara azan.Terutama pada saat saya melakukan olah raga jogging (lari pagi).Saat itu, saya tidak merasakan getaran apapun pada batin saya. Saya memperhatikannya sepintas lalu saja

Tetapi, ketika saya sedang mempunyai masalah dengan papa saya, saya melakukan aksi protes dengan jalan mengurung diri di dalam kamar selama beberapa hari.Saya tidak mau sekolah.Saya tidak mau berbicara kepada siapapun.Saya tidak mau menemui siapapun.Pokoknya saya ngambek.

Pada saat saya mengurung diri itulah, saya menjadi lebih menghabiskan waktu menonton teve.Kurang lebih pulul 18.00 WIB.siara teve di hentikan sejenak untuk mengumandangkan azan magrib.

Biasanya setiap kali disiarkan azan magrib, pesawat teve langsung saya matikan.Tetapi pada saat itu saya betul-betul sedang malas, dan membiarkan saja siaran azan magrib kumandang sampai selesai.Begitulah sampai berlangsung dua hari.

Pada hari ketiga, saya mulai menikmati alunan azan tersebut.Apalagi ketika saya membaca teks terjemahannya di layar teve. Sungguh, selama ini saya telah lalai, tidak perhatikan betapa dalam arti dari panggilan azan tersebut

            Saya yang sedang bermasalah seperti diingatkan, bahwa ada satu cara untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yaitu dengan shalat. Di sisi lain, suara azan yang mengalun syahdu, sanggup menggetarkan relung hati saya yang paling dalam. Hati saya yang resah, seperti di sirami kesejukan. Batin terasa damai dan tenteram.[ Journey to Islam Swaramuslim.net Jul 2003 -  feb 2006
Kompilasi chm: pakdenono  [
wewewepakdenonodotkom ].

Petunjuk Allah bisa datang dari mana saja. Khusus bagi Ahui, hidayah itu ia peroleh dari serangkaian mimpi. Pada usia 39, adalah awal pria keturunan Tionghoa itu mengalami serangkaian peristiwa yang akhirnya membawanya ke Islam. Saat itu ia bermimpi memasuki sebuah gedung dan mengaji di dalam gedung tersebut. Tapi ia tak memandang mimpi itu istimewa. Ahui tidak tergelitik."Saya tidak tahu mengapa bisa mendapat mimpi itu, jadi saya abaikan saja," katanya.

Selang satu bulan, Ahui kembali bermimpi. Kali ini ia menyuarakan adzan di atas kabah. Seperti mimpi pertama, ia juga tak menghiraukanya. Lagi-lagi, berjarak satu bulan dari mimpi kedua, dalam tidurnya, Ahui melihat dirinya berwudhu dan mengucapkan kalimat syahadat.

Hingga mimpi ketiga, pikiran Ahui tetap tidak terusik.Ia masih menanggap semuanya sekedar kembang tidur.

Ketika mimpi-mimpi itu datang, Ahui tengah mencoba peruntungan dalam wirausaha yang ia rintis sejak muda. Bukan mendapat untung, ia merugi hingga bangkrut. Semua harta bendanya habis dan kondisi Ahui saat itu, tuturnya, sangat menyedihkan.Pada tahun berikut, tepatnya 1998, Istri Ahui sakit keras.Ia divonis mengidap penyakit kanker stadium 4. Selang beberapa bulan, istrinya pun meninggal.

Sebelum jatuh sakit, rupanya istri Ahui pernah pula bermimpi membawa Al Qur'an lalu kitab itu terjatuh."Dalam mimpinya, istri saya memasuki sebuah Masjid mengikuti sebuah pengajian.Setelah keluar dari masjid itu istri saya mendapat hadiah sebuah Al-Quran.Ketika membawa Al-Quran tersebut istri saya tersenggol oleh seseorang dan Al-Quran itu jatuh hingga terbelah menjadi dua”, tuturnya.

Ahui tak bisa lagi mengabaikan rentetan peristiwa yang ia alami. Ia mencoba mengaitkan satu demi satu kejadian tersebut. Ahui sempat kebingungan, mengapa di saat kehilangan semua harta dan orang kesayangannya, ia malah mendapatkan mimpi-mimpi yang berkaitan dengan Islam.“Saat saya mengalami kebangkrutan saya bermimpi mengenai Islam, ketika Istri saya meninggal, isti saya juga mengalami mimpi yang berkaitan dengan Islam.Saya sendiri waktu itu tidak tahu apa itu Islam”, ungkapnya.

Ahui memang tidak pernah mengenal agama dan memeluk agama sejak ia dilahirkan. Keluarganya pun setali tiga uang.Tapi, sebagai persyaratan membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), Ahui mencatumkan agama Budha.Begitupun dengan keluarganya. “KTP kan harus ada agamanya, ya udah saya cantumkan saja agama Budha," kata Ahui.

Karena hanya agama KTP, ia pun mengaku tak pernah mengerti dan tahu bagaimana cara beribadah umat Budha. Ahui hanya mengikuti gerakan dan ritual yang dilakukan oleh umat Budha.“Saya melihatat orang membakar dupa, ya saya ikut bakar duha, orang berdoa ya saya ikut berdoa, padahal saya tak tahu bagaimana bacaan doanya”, aku Ahui.

Akhirnya Ahui terdorong untuk mencari tahu tentang Islam.Ia mendatangai ustad dan melakukan diskusi tentang Islam. Bahkan ia mendatangi pula beberapa orang yang ahli agama. Ia juga membaca sedikit-sedikit buku mengenai islam.

Setelah kurang lebih tiga tahun ia mencari tahu tentang Islam, Ahui memutuskan untuk memeluk agama tersebut pada akhir Febuari tahun 2001. Dari sinilah ia mulai menyusun hidup barunya.

Setelah masuk Islam, Ahui mengubah namanya menjadi Muhamad Abdul Ahui.Keputusannya memeluk Islam tak mendapat pertentangan dari keluarga. Sebaliknya, ia malah disambut baik, terutama oleh ibundanya. Ibu Ahui merasa bangga dengan anaknya yang telah memiliki agama dan berubah menjadi lebih baik setelah beragama Islam.[Salah Satu Hidayah Ahui, Mimpi Beradzan di Atas Kabah,Republika.co.id.Rabu, 30 Maret 2011 08:38 WIB].

          Kita masih bersyukur kepada Allah, pada setiap desa dan kampung masih terdengar suara adzan dikumandangkan oleh muadzin yang menandakan masih adanya syiar islam di kampung itu walaupun jamaahnya tidaklah seberapa, semoga dengan sekian kali, sekian ribu kali kumandang adzan itu menggerakkan ummat untuk melaksanakan shalat dengan berjamaah di masjid yang menandakan umat sudah resfon dengan panggilan shalat melalui suara lantang sang muadzin, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 13 Desember 2011.M/ 17 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar