Dalam kehidupan sehari-hari kita
menemukan istilah “kepala sama hitam tapi pendapat berbeda-beda” artinya setiap
manusia punya pemikiran yang tidak sama walaupun rambutnya sama-sama hitam,
apalagi ada pula yang sudah beruban tentu perbedaan pendapat pasti terjadi, ada
pula istilah lain yang mengatakan, beda pendapat tidak jadi masalah karena bisa
diselesaikan tapi yang tidak dan sulit menyelesaikannya adalah beda pendapatan.
Ikhtilaf adalah jalan setiap
orang yang berbeda dengan orang lain baik dari sikap dan ucapannya. Adapun
khilaf cakupannya lebih umum dari sekadar berbeda, karena setiap yang berbeda
pasti saling berseberangan/berselisih, sedangkan perselisihan dan perbedaan
yang terjadi di antara sebagian manusia dalam ucapan mereka kadang dapat
mengakibatkan pertikaian, maka di ambillah kata tersebut dengan pengertian
pertikaian dan perdebatan, sebagaimana Allah SWT berfirman: (Maryam:37),
(Hud:118), (Adz-Dzariyat:8), (Yunus:93)
Dari sini dapat kita simpulkan
bahwa kalimat Khilaf dan ikhtilaf berarti perbedaan yang mutlak dalam ucapan,
pendapat, keadaan, gerakan atau sikap. Adapun yang dipahami oleh sebagian pakar
ilmu khilaf adalah ilmu yang dapat menjaga dan melestarikan berbagai perkara
yang telah diambil intisarinya oleh seorang imam dari para imam yang lainnya,
dan menghilangkan sesuatu yang bertentangan tanpa bersandarkan pada dalil
khusus, karena kalau masih bergantung pada dalil tertentu, dan mengambil dalil
dengannya maka disebut mujtahid dan ahli usul fiqih. Semestinya dalam perbedaan
pendapat pembahasannya bukan pada masalah dalil-dalil fiqih namun cukup
berpegang pada ucapan imamnya karena adanya permasalahan-permasalahan hukum
secara global sebagaimana yang diduga olehnya.Hal ini cukup baginya untuk
menetapkan hukum, sebagaimana ucapan imam sebagai hujah baginya guna
menghilangkan/membatalkan hukum yang bertentangan seperti yang telah dilakukan
oleh imamnya.[Syarifuddin Mustafa, MA,Ikhtilaf, dakwatuna.com 14/2/2007
| 25 Muharram 1428 H].
Perbedaan pendapat pasti
terjadi dikalangan ummat ini karena banyaknya informasi yang diterima dari
sekian sumber, bahkan tentang jahar atau sir saja ketika membaca bismillah saat
bertindak sebagai iman pada waktu shalat para sahabat berbeda pendapat padahal
mereka sama-sama hidup dizaman Rasul dan lansung menyaksikan shalat itu, tapi
ketika diperiksa satu persatu ada yang mendengar bahwa Rasul membaca Bismillah
dengan jahar, sedangkan yang lain tidak mendengarnya secara jahar berarti sir,
tapi intinya Nabi membaca Billahirrahmanirrahim sebelum membaca Al Fatihah.
Dari sekian perpedaan pendapat
yang tampil di tengah masyarakat, tidaklah semuanya dapat diterima karena
kebenarannya disebabkan dari sumber yang berbeda pula.
Para ulama telah meneliti
dalil-dalil tentang ikhtilaf, sehingga nampak jelas bahwa ikhtilaf itu ada dua
macam, masing-masing terdiri dari beberapa jenis.
1. IKHTILAF TERCELA
1. IKHTILAF TERCELA
Jenis-jenisnya adalah sebagai
berikut
[a]. Ikhtilaf yang kedua belah
pihak dicela, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang ikhtilafnya
orang-orang Nashara."Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan
kebencian sampai hari kiamat" [Al-Maidah : 14]
Firman Allah dalam menerangkan
ikhtilaf nya orang-orang Yahudi"Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan
kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api
peperangan, Allah memadamkannya" [Al-Maidah : 64]
Demikian juga ikhtilaf nya
ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid'ah dalam hal-hal yang mereka
perselisihkan.Allah berfirman."Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah
agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun
tanggung jawabmu terhadap mereka" [Al-An'am : 159]
Juga termasuk kedalam ikhtilaf
jenis ini adalah ikhtilaf antara dua kelompok kaum muslim dalam masalah
ikhtilaf tanawwu' (fariatif) dan masing-masing mengingkari kebenaran yang
dimiliki oleh kelompok lain.
[b]. Ikhtilaf yang salah satu
pihak dicela dan satu lagi dipuji (karena benar).Ini disebut dengan ikhtilaf
tadhadh (kontradiktif) yaitu salah satu dari dua pendapat adalah haq dan yang
satu lagi adalah bathil. Allah telah berfirman " Akan tetapi mereka
berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula) diantara
mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka
berbunuh-bunuhan" [Al-Baqarah : 253]
Ini (ayat di atas) adalah
pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan kekufuran.Adapun pembeda antara al-haq
(kebenaran) dengan bid'ah adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam hadits iftiraq."Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 firqah (kelompok),
kaum Nashara menjadi 72 firqah, dan ummat ini akan terpecah menjadi 73 firqah,
semuanya (masuk) didalam neraka kecuali satu. Ditanyakan : "Siapakah dia
wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab : "orang yang berada diatas jalan
seperti jalan saya saat ini beserta para sahabatku" dalam sebagian riwayat
: "dia adalah jama'ah" [Lihat "Silsilah Ash-Shahihah 204 Susunan
Syaikh Nashiruddin Al-Albani]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua firqah ini akan binasa, kecuali yang berada diatas manhaj salaf ash-shaleh. Imam Syathibi berkata : "Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [illa waahidah] telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, Rasul tidak akan mengucapkan ; [illa waahidah] dan juga dikarenakan bahwa ikhtilaf itu di-nafi (ditiadakan) dari syari'ah secara mutlak, karena syari'ah itu adalah hakim antara dua orang yang berikhtilaf. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya)". [An-Nisaa : 59]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua firqah ini akan binasa, kecuali yang berada diatas manhaj salaf ash-shaleh. Imam Syathibi berkata : "Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [illa waahidah] telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, Rasul tidak akan mengucapkan ; [illa waahidah] dan juga dikarenakan bahwa ikhtilaf itu di-nafi (ditiadakan) dari syari'ah secara mutlak, karena syari'ah itu adalah hakim antara dua orang yang berikhtilaf. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala."Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya)". [An-Nisaa : 59]
Jenis ikhtilaf inilah yang
dicela oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.
2. IKHTILAF YANG BOLEH
Ini juga ada dua macam yaitu :
[a]. Iktilafnya dua orang
mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya. Sesungguhnya
termasuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada umat ini. Dia menjadikan dien
(agama) ummat ini ringan dan tidak sulit.Dia juga telah mengutus Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa hanifiyah (agama lurus) yang lapang.Allah
berfirman."Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama
suatu kesempitan" [Al-Hajj : 78]
Diantara rahmat ini adalah
tidak memberikan beban dosa kepada seorang mujtahid yang salah bahkan ia
mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari hukum Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Allah berfirman."Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu
salah padanya" [Al-Ahzab : 5]
Dari Amr bin Al-'Ash
Radhiyallahu 'anhu, berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda." Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia
benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apabila ia mengadili
maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala" [Hadits
Riwayat Imam Bikhari]
[b]. Ikhtilaf Tanawwu. Contohnya
adalah ikhtilaf sahabat dalam masalah bacaan (Al-Qur'an) pada masa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Abdullah bin Mas'ud
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :"Saya mendengar seseorang membaca ayat
yang saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membacanya
berbeda dengan orang itu, maka saya pegang tangannya lalu saya bahwa kehadapan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya laporkan hal itu kepada beliau,
namun saya melihat tanda tidak suka pada wajah beliau, dan beliau bersabda."Kalian
berdua bagus (bacaannya), jangan berselisih !Sesungguhnya umat sebelum kalian
berselisih lalu mereka binasa".
Ulama yang paling baik menulis
masalah ikhtilaf tanawwu ini dan menjelaskannya adalah Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah Rahimahullah, yaitu ketika beliau berkata : "Ikhtilaf tanawwu'
ada beberapa macam, diantaranya adalah ikhtilaf yang masing-masing dari kedua
perkataan (pendapat) atau perbuatan itu benar sesuai syari'at, seperti bacaan
(Al-Qur'an) yang diperselisihkan itu dicegah oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Kalian
berdua bagus/benar (bacaannya)"
Misalnya lagi adalah ikhtilaf
dalam macam-macam sifat adzan, iqamah, do'a iftitah, tasyahhud, shalat khauf,
takbir ied, takbir jenazah dan lain-lain yang semuanya disyari'atkan, meskipun
dikatakan bahwa sebagiannya lebih afdhal.Kemudian kita dapatkan banyak umat
Islam yang terjerumus dalam ikhtilaf hingga menyebabkan terjadinya peperangan
(pertengkaran) antar golongan diantara mereka.hanya karena masalah menggenapkan
lafazh iqamah atau mengganjilkannya, atau masalah-masalah semisal lainnya. Ini
adalah substansi keharaman itu sendiri. Sementara orang yang tidak sampai
ketingkat ini (yaitu tingkat peperangan/pertengkaran), banyak diantaranya yang
kedapatan fanatik terhadap salah satu cara (adzan, iqamahm dst) tersebut karena
mengikuti hawa nafsu, dan berpaling dari cara lain, atau melarang cara lain
yang sebenarnya masuk dalam salah satu cara. Hal yang tentu dilarang oleh
Nabi.[Salim bin Shalih Al-Marfadi, Macam-macam Ikhtilaf,Senin, almanhaj.or.id 12
Juli 2004 23:09:30 WI].
Salim bin Shalih al-Marfadi
memberikan gambaran yang adil kepada kita bagaimana menyikapi ikhtilaf dalam
kehidupan bersaudara sesama muslim, dia bingkai tulisannya dengan temu
“adab-adab Ikhtilaf” sebagaimana keterangan dibawah ini;
Islam telah meletakkan
sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang muslim yang berjalan diatas manhaj
Sunnah, dalam pergaulannya bersama saudara-saudaranya ketika berselisih faham
dengan mereka dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk."Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang
mulia".[Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam 'Adabul Mufrad' dan Imam
Ahmad. Lihat 'Silsilah Ash-shahihah 15']
Di antara adab-adab itu ialah
[1]. Lapang Dada Menerima
Kritik Yang Sampai Kepada Anda Untuk Membetulkan Kesalahan, Dan Hendaklah Anda
Ketahui Bahwa Ini Adalah Nasehat Yang Dihadiahkan Oleh Saudara Seiman Anda.
Ketahuilah !Bahwa penolakan
anda terhadap kebenaran dan kemarahan anda karena pembelaan terhadap diri
adalah kesombongan -A'aadzanallah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
bersabda."Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang
lain". [Hadits Riwayat Muslim]
Banyak sekali contoh sekitar
adab yang mulia ini yang telah dijelaskan oleh para salafus shalih, dianaaranya
adalah :Kisah yang diceritakan oleh al-Hafizh Ibnu Abdil Bar, beliau berkata :
"Banyak orang telah membawa berita kepada saya, berasal dari Abu Muhammad
Qasim bin Ashbagh, dia berkata : "Ketika saya melakukan perjalanan ke
daerah timur, saya singgah di Qairawan. Disana saya mempelajari hadits Musaddad
dari Bakr bin Hammad. Kemudian saya melakukan perjalanan ke Baghdad dan saya temui
banyak orang (Ulama) disana.Ketika saya pergi (dari Baghdad), saya kembali lagi
kepada Bakr bin Hammad (di Qairawan-red) untuk menyempurnakan belajar hadits
Musaddad.
Suatu hari saya membacakan
hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dihadapan beliau (untuk
mempelajarinya) :"Sungguh telah datang satu kaum dari Muldar yang
(Mujtaabin Nimar)"
Beliau (Bakr bin Hammad)
berkata kepadaku "Sesungguhnya yang benar adalah Mujtabits Tsimar. Aku
katakan padanya Mujtaabin Nimar, demikianlah aku membacanya setiap kali aku
membacakannya di hadapan setiap orang yang aku temui di Andalusia dan
Irak"
Beliau berkata kepadaku :
"Karena enngkau pergi ke Irak, maka kini engkau (berani) menentang aku dan
menyombongkan diri dihadapanku ?" Kemudian dia berkata kepadaku (lagi) :
"Ayolah kita bersama-sama bertanya kepada syaikh itu (menunjuk seorang
syaikh yang berada di Masjid), dia punya ilmu dalam hal seperti ini" Kami
pun pergi ke syaikh tersebut dan kami menanyainya tentang hal ini.
Beliau berkata :
"Sesungguhnya yang benar adalah [Mujtaabin Nimar]" seperti yang aku
baca. Artinya adalah : Orang-orang yang memakai pakaian, bagian depannya
terbelah, kerah bajunya ada di depan. Nimar adalah bentuk jama' dari Namrah.
Bakr bin Hammad berkata sambil memegangi hidungnya : "Aku tunduk kepada
al-haq, aku tunduk kepada al-haq !" lalu ia pergi. [Mukhtasyar Jaami'
Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal.123 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar
al-Mahmashaani]
Saudaraku, cobalah anda
perhatikan -semoga Allah senantiasa menjaga anda- betapa menakjubkan sikap Adil
ini ! Alangkah perlunya kita pada sikap adil seperti sekarang ! Akan tetapi
mana mungkin hal itu terjadi kecuali bagi orang yang ikhlas niatnya karena
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah dia Imam Malik rahimahullah (pada masa
hidupnya-red) pernah berkata : "Tidak ada sesuatupun yang lebih sedikit
dibandingkan dengan sifat adil pada zaman sekarang ini" [Mukhtasyar Jaami'
Bayanil Ilmi wa Fadlihi, hal . 120 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar
al-Mahmashaani]
Maka apa lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah demikian berkecamuknya hawa nafsu!! -Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang menyesatkan-.
Maka apa lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah demikian berkecamuknya hawa nafsu!! -Kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang menyesatkan-.
[2]. Hendaklah Memilih Ucapan
Yang Terbaik Dan Terbagus Dalam Berdiskusi Dengan Sesama Saudara Muslim.
Allah berfirman."Serta
ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" [Al-Baqarah : 83]
Dari Abu Darda' Radhiyallahu
'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Tidak ada
sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat
dibanding akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keji
dan jelek (akhlaqnya)". [Hadits Riwayat Tirmidzi).
[3]. Hendaklah Diskusi Yang
Dilakukan Terhadap Saudara Sesama Muslim, Dengan Cara-Cara Yang Bagus Untuk
Menuju Suatu Yang Lebih Lurus.
Yang menjadi motif dalam
berdiskusi hendaklah kebenaran, bukan untuk membela hawa nafsu yang sering
memerintahkan pada kejelekan.Akhlak anda ketika berbicara terletak pada
keikhlasan anda. Jika diskusi (tukar fikiran) sampai ketingkat adu mulut, maka
katakanlah : "salaam/selamat berpisah !" dan bacakanlah kepadanya
sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam."Saya adalah pemimpin di sebuah
rumah di pelataran sorga bagi orang yang meninggalkan adu mulut meskipun ia
benar" [Hadits Riwayat Abu Daud dari Abu Umamah al-Bahily]
Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar
menyebutkan dari Zakaria bin Yahya yang berkata : "Saya telah mendengar
Al-Ashma'i berkata : "Abdullah bin Hasan berkata : Adu mulut akan merusak
persahabatan yang lama, dan mencerai beraikan ikatan (persaudaraan) yang kuat,
minimal (adu mulut) akan menjadikan mughalabah (keinginan untuk saling
mengalahkan) dan mughalabah adalah sebab terkuat putusnya ikatan persaudaraan.
[Mukhtasyar Jaami' Bayan al-Ilmi wa Fadlihi hal. 278][adab-adab ikhtilaf, almanhaj.or.id,Senin,
5 Juli 2004 17:28:57 WIB].
Islam terdiri dari aqidah,
syariah dan akhlak yang merupakan pokok-pokok ajaran islam, selama aqidah,
syariah dan akhlak yang kita yakini serta kita jalani sesuai dengan ajaran yang
diteladankan oleh Rasulullah yang mengacu kepada Al Qur’an dan Sunnah maka kita
masih berada dalam jalan yang lurus, bila ada perbedaan dalam hal-hal furu’
ajaran islam maka hal itu disebut dengan khilafiyah yang tidak merusak aqidah,
maka sifat tasamuh atau toleransi harus dijaga, jangan hanya karena perbedaan
rakaat dalam shalat taraweh lalu kita pindah ke masjid lain, tapi bila ada
keyakinan yang menyatakan bahwa ada nabi sesudah nabi Muhammad maka orang yang
demikian perlu diperangi karena mereka telah mencabik-cabik aqidah tauhid Islam, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 09 Zulhijjah
1432.H/05 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar