Senin, 15 Februari 2016

214. Menyambut Ramadhan



Taqwa adalah derajat yang paling tinggi atau kualitas prima manusia dalam pengabdian kepada Allah.Derajat ini dapat dicapai salah satunya hanya melalui puasa yang dilandasi iman dan perhitungan yang matang dalam arti menjaga puasa jangan   sampai ternoda oleh prilaku yang tidak baik, puasa model inilah yang mendapat jaminan terhapus dari dosa, sebagaimana sabda Rasululah,”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”.

            Dibulan ini orang berpuasa mengendalikan segala sifat yang tercela dengan pengendalian dan kesabaran yang penuh, menjauhakan diri dari perkataan yang mengandung dan mengundang suatu keributan dan caci maki, siap menerima segala bentuk perlakuan yang tidak baik dari orang lain dengan kesabaran, karena nafsu syaithaniyah dapat ditaklukkan hanya dengan sabar. Rasa lapar berbaur haus walaupun dipanggang panasnya matahari akan terasa nikmat dengan perisai sabar. Bagaimana nafsu mengajak untuk melahap semua makanan dan minuman dikala berbuka, hal itu tidak dilakukan karena sabar dikendalikan diwaktu berbuka, mereka tidak akan makan dan minum berlebihan sehingga sulit untuk melakukan aktifitas amaliyah ibadah tarawih.

            Dalam melakukan ibadah tarawih juga dibutuhkan kesabaran apalagi dilakukan dengan berjamaah di masjid, kadangkala sang iman dengan kefasihannya membaca ayat panjang membuat makmum gelisah diiringi pula dengan ceramah Ramadhan yang mungkin lebih dari target waktu yang disediakan panitia, sang da’i over acting dan over dosis, hal ini membuat pendengar jemu dan resah apalagi materi yangg disampaikan tidak menyentuh, tapi bagi orang yang berpuasa hal ini akan dihadapi dengan kesabaran.

            Untuk mencapai derajat taqwa dengan balasan syurga tidaklah datang demikian saja tapi harus diperjuangkan sejak awal yaitu ketika menyambut bulan yang mulia ini.Ustadz Bukhari Yusuf MA mengungkapkan kesiapan kita menyambut bulan Ramadhan, dalam tulisannya disebutkan;

Persiapan menyambut kedatangan bulan Ramadhan, menjadi langkah awal yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam meraih berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya.

Paling tidak ada dua alasan mengapa kita harus mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.Pertama, merujuk kepada sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, dan generasi saleh terdahulu. Seperti disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Anas ra dengan sanad yang lemah bahwa ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah saw berdoa, "Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan Ramadhan."(HR al-Tirmidzi dan al-Darimi).

Bahkan, Ma'la bin Fadhal berkata, "Dulu sahabat Rasul SAW berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian, selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu."Jika demikian sudah semestinya kita juga mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Ramadhan.

Kedua, melihat posisi dan urgensi Ramadhan sebagai tamu Allah yang istimewa. Sebab, seperti diketahui Ramadhan dihadirkan untuk membentuk manusia yang bertakwa (lihat QS al-Baqarah [2]: 183). 

Dengan visi ketakwaan tersebut, Ramadhan menjadi media yang sangat penting untuk meng-upgrade kualitas manusia dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah (QS al-Hujurât [49]: 13). Dengan visi ketakwaan, Ramadhan juga menjadi media yang sangat efektif untuk mendapatkan berbagai kemudahan dan kelapangan hidup dari Allah SWT (QS ath-Thalaq [65]:2). Selain itu, Ramadhan juga menjadi media bagi lahirnya keberkahan, terbukanya pintu rahmat, dan solusi bagi bangsa dan negara (QS al-A'raf [7]: 96).

Melihat peran tersebut, Ramadhan tak ubahnya seperti wadah pembinaan yang memiliki fungsi strategis.Jika lembaga seperti Lemhanas diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan pejabat yang berkualitas, serta memberikan solusi bagi bangsa dan negara, Ramadhan juga demikian.Bahkan, lebih daripada itu, Ramadhan telah terbukti menjadi madrasah istimewa yang berhasil melahirkan generasi dan solusi terbaik sepanjang masa. 
    
Karena itu, Ramadhan harus disikapi dan disambut secara positif.Agar mencapai prestasi maksimal, dibutuhkan sejumlah persiapan.Di antaranya memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, melaksanakan shalat sunah terutama di waktu malam, membaca Alquran, berzikir dan berdoa, serta bersedekah. Selain itu, harus ada perencanaan dan rapat kerja keluarga untuk menetapkan target yang akan dicapai pada bulan Ramadhan, berikut cara pencapaiannya.[Inilah Dua Urgensi Sambut Ramadhan , Republika.co.id. Selasa, 26 Juli 2011 12:00 WIB].

Biasanya mengawali bulan Ramadhan ini ummat islam selalu berbeda pendapat dalam penentuan awal jatuhnya Ramadhan, bahkan ada yang melaksanakan awal puasa sementara yang lain sudah dua atau tiga hari melaksanakannya, pemandangan ini nampaknya sudah berlansung puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, penentuan awal Ramadhan ini kadangkala ada kepentingan-kepentingan bahkan bisa saja ada kepentingan politik, seharusnya kita bersama dan bersatu dalam mengawali Ramadhan sebagai ujud persatuan ummat ini.Berkaitan dengan hal itu Dr Zein An Najah menjelaskan kenapa terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadhan tersebut;

Para ulama berselisih pendapat di dalam menentukan awal bulan Ramadhan apakah dengan cara melihat bulan langsung (rukyat) atau dengan cara hisab.

Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'I, dan Ahmad).
Dalil mereka adalah sebagai berikut :

1.      Sabda Rasulullah saw :"Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh." (HR Muslim).

2.      Sabda Rasulullah saw :"Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan." (HR. Bukhari dan Muslim)

3.      Sabda Rasulullah saw:"Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) , maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka berbukalah." (HR Muslim).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat bulan secara langsung. Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari.Inilah maksud lafadh "faqduru lahu" dalam hadits di atas setelah menjama' beberapa riwayat yang ada.

Pendapat kedua mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Ini adalah pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah. Mereka berdalil dengan hadits riwayat muslim di atas (lihat hadits no 1), hanya saja kelompok ini menafsirkan lafadh " faqduru lahu " dengan ilmu hisab. Yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu hisab.

Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat). Boleh memakai alat bantu seperti teropong dan lain-lainnya. Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat.

Selain dalil-dalil yang telah diungkap di atas, ada dalil lain yang menguatkan pendapat mayoritas ulama, yaitu sabda Rasulullah saw:"Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau 30 hari." (HR Bukhari dan Muslim)

Artinya hadits di atas adalah  untuk menentuan awal bulan, umat Islam tidak diwajibkan untuk mempelajari ilmu hisab. Karena Allah telah memberikan cara yang lebih mudah dan bisa dilakukan oleh banyak orang, yaitu rukyat.  

Ini  bukan berarti umat Islam dilarang mempelajari ilmu tersebut, karena Allah swt telah memerintahkan kepada umatnya agar selalu menuntut ilmu pengetahuan selama hal itu membawa maslahat dalam kehidupan manusia ini.  Akan tetapi maknanya bahwa ajaran Islam ini mudah dan bisa dicerna oleh semua kalangan, dan bisa dipraktekan oleh semua orang.[Penentuan Awal Ramadhan, Hidayatullah.com.Rabu, 21 September 2011].

Ada beberapa hal dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang telah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia khususnya di Minangkabau, tetapi tidak sesuai dengan ajaran islam atau tidak ada tuntunannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh ChairuddinKetua MUI Padang Pariamanyaitu;

Pertama, membawa hidangan kekuburan untuk mendoa bersama, dipimpin seorang siak (ulama). Mendoakan orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, tidak diragui lagi, adalah syariat Islam, seperti tercantum dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 10, ”Dan, orang-orang yang datang sesudah mereka berkata (mendoa), hai Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan orang-orang beriman yang sudah mendahului kami …).”

Tapi, untuk duduk di atas kuburan, apalagi makan bersama di atasnya, perlu kiranya umat Islam memperhatikan hadis nabi, antara lain hadis riwayat Muslim artinya, ”Bahwa, bila seseorang duduk di atas bara api, lalu terbakar bajunya dan tembus sampai ke kulitnya, itu lebih baik dari pada duduk di atas kuburan”.

Larangan nabi yang kurang mendapat perhatian masyarakat antara lain; pertama, memakai alas kaki (sandal dan lainnya) di atas/di sela-sela kuburan. Kedua, HR Muslim, ”Nabi melarang menembok kubur, duduk di atasnya, dan juga membuat bangunan di atasnya”. Riwayat lain, nabi juga melarang melangkahi kubur, dan membuat tulisan di atasnya. Ketiga, HR Abi Daud kata Ibnu Abbas, ”Rasulullah mengutuki wanita peziarah kubur, orang yang mendirikan masjid di atasnya dan orang yang menyalakan lampu (cahaya)”. Khusus mengenai wanita ziarah kubur, ada dalil (hadis) lain yang memberi petunjuk untuk membolehkannya.

Kedua, menziarahi tokoh ulama tertentu menjelang Ramadhan. Terutama kelompok penganut Thariqat Syatthariah yang langsung penulis amati di Kabupaten Padangpariaman. Dengan mencarter beberapa bus di bawah pimpinan ulama Syatthariah mereka menziarahi tokoh ulama yang biasa mereka sebut ”Tuanku Aluma” di Kototuo (Agam). Di waktu penulis tanya apa saja yang dilakukan di tempat/di surau Tuanku tersebut? Jawabannya: hanya menemui beliau sambil berjabat tangan (wanita dengan memakai alas tangan), minta maaf, doa restu dan pamit dengan meninggalkan ”sesuatu”. Menurut penulis, menghormati guru jelas merupakan perbuatan terpuji.

Namun, kita perlu juga menoleh kepada hadis nabi tentang melakukan perjalanan jauh. Sabda Rasulullah: ”Tidak boleh diberat-berati melakukan perjalanan jauh kecuali mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah) dan Masjidil Aqsha”. HR Bukhari-Muslim. Artinya, untuk semata-mata berkunjung yang merupakan perjalan ibadah, hanya menuju ketiga masjid di atas.Kecuali dalam rangka menuntut ilmu, mengembangkan dakwah, mencari penghidupan, bahkan berperang, itu juga mendapatkan pahala berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, bukan semata-mata melawat jauh.

Ketiga, mandi balimau. Tradisi balimau sehari menjelang Ramadhan sudah pernah dibahas dalam muzakarah Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar pada Sabtu 9 Oktober 2004 lalu dengan kesimpulan, balimau bukanlah berdasarkan Al Quran dan Sunah.[Tradisi Sambut Ramadhan Ditinjau ,dari Syariat Islam, padangtoday; Jumat, 05/08/2011 - 04:22 WIB].

Ramadhan merupakan bulan suci, kita harus memulainya dengan kesucian pula, jangan Ramadhan dikotori dengan syirik, kurafat dan bid’ah agar ibadah yang kita lakukan berpahala dan target mencapai derajat taqwa bisa kita capai, Mochamad Bugi dalam tulisannyamengajak kita agar menyambut  Ramadhan itu dengan sikap positif sesuai dengan sunnah Rasulullah, ada sepuluh langkah menyambut Ramadhan katanya yaitu;

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.

3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa.Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadan.Mereka sangat gembira dengan kedatangannya.Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.

4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat.Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]

6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu.Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah.“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk.Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan.Ramadan adalah bulan taubat.“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]

8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa.Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.

9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
· buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
· membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.

10. Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi.Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.[Sepuluh Langkah menyambut Ramadhan,eramuslim.com.21/8/2007 | 08 Sya'ban 1428 H].

            Kesiapan menyambut Ramadhan akan mempengaruhi hasil perjuangan di bulan itu, segala sikap dalam menyambut, mengisi dan mengakhiri Ramadhan sesuai dengan sunnah dan syariat Allah maka insya Allah walaupun banyak rintangan dan tantangan dalam menjalankannya dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, Allah akan memberikan kemudahan kepada hamba-Nya yang mau mengikuti syariat-Nya, dan Rasulullah menyatakan bahwa berbahagialah orang yang menghidupkan sunnah dikala orang lain melupakannya, sambut Ramadhan dengan baik niscaya hasilnya akan baik, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 23 Zulhijjah 1432.H/ 19 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar