Taqwa adalah
derajat yang paling tinggi atau kualitas prima manusia dalam pengabdian kepada
Allah.Derajat ini dapat dicapai salah satunya hanya melalui puasa yang
dilandasi iman dan perhitungan yang matang dalam arti menjaga puasa jangan sampai ternoda oleh prilaku yang tidak baik,
puasa model inilah yang mendapat jaminan terhapus dari dosa, sebagaimana sabda
Rasululah,”Barangsiapa yang berpuasa
Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan maka akan diampuni dosanya yang
telah lalu”.
Dibulan ini orang berpuasa
mengendalikan segala sifat yang tercela dengan pengendalian dan kesabaran yang
penuh, menjauhakan diri dari perkataan yang mengandung dan mengundang suatu
keributan dan caci maki, siap menerima segala bentuk perlakuan yang tidak baik
dari orang lain dengan kesabaran, karena nafsu syaithaniyah dapat ditaklukkan
hanya dengan sabar. Rasa lapar berbaur haus
walaupun dipanggang panasnya matahari akan terasa nikmat dengan perisai sabar.
Bagaimana nafsu mengajak untuk melahap semua makanan dan minuman dikala
berbuka, hal itu tidak dilakukan karena sabar dikendalikan diwaktu berbuka,
mereka tidak akan makan dan minum berlebihan sehingga sulit untuk melakukan
aktifitas amaliyah ibadah tarawih.
Dalam melakukan ibadah tarawih juga dibutuhkan kesabaran
apalagi dilakukan dengan berjamaah di masjid, kadangkala sang iman dengan
kefasihannya membaca ayat panjang membuat makmum gelisah diiringi pula dengan
ceramah Ramadhan yang mungkin lebih dari target waktu yang disediakan panitia,
sang da’i over acting dan over dosis, hal ini membuat pendengar jemu dan resah
apalagi materi yangg disampaikan tidak menyentuh, tapi bagi orang yang berpuasa
hal ini akan dihadapi dengan kesabaran.
Untuk mencapai derajat taqwa dengan balasan syurga
tidaklah datang demikian saja tapi harus diperjuangkan sejak awal yaitu ketika
menyambut bulan yang mulia ini.Ustadz Bukhari Yusuf MA mengungkapkan kesiapan kita
menyambut bulan Ramadhan, dalam tulisannya disebutkan;
Persiapan menyambut kedatangan bulan
Ramadhan, menjadi langkah awal yang sangat menentukan berhasil tidaknya
seseorang dalam meraih berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya.
Paling tidak ada dua alasan mengapa kita
harus mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.Pertama, merujuk kepada sikap yang
ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, dan generasi saleh terdahulu. Seperti
disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Anas ra dengan sanad yang lemah
bahwa ketika memasuki bulan Rajab, Rasulullah saw berdoa, "Ya Allah berkahi
kami pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Serta sampaikan kami ke dalam bulan
Ramadhan."(HR al-Tirmidzi dan al-Darimi).
Bahkan, Ma'la bin Fadhal berkata,
"Dulu sahabat Rasul SAW berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk
Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu.
Kemudian, selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah
terima semua amal ibadah mereka di bulan itu."Jika demikian sudah
semestinya kita juga mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Ramadhan.
Kedua, melihat posisi dan urgensi
Ramadhan sebagai tamu Allah yang istimewa. Sebab, seperti diketahui Ramadhan
dihadirkan untuk membentuk manusia yang bertakwa (lihat QS al-Baqarah [2]:
183).
Dengan visi ketakwaan tersebut, Ramadhan
menjadi media yang sangat penting untuk meng-upgrade kualitas manusia dan
meningkatkan derajatnya di sisi Allah (QS al-Hujurât [49]: 13). Dengan visi
ketakwaan, Ramadhan juga menjadi media yang sangat efektif untuk mendapatkan
berbagai kemudahan dan kelapangan hidup dari Allah SWT (QS ath-Thalaq [65]:2).
Selain itu, Ramadhan juga menjadi media bagi lahirnya keberkahan, terbukanya
pintu rahmat, dan solusi bagi bangsa dan negara (QS al-A'raf [7]: 96).
Melihat peran tersebut, Ramadhan tak
ubahnya seperti wadah pembinaan yang memiliki fungsi strategis.Jika lembaga
seperti Lemhanas diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan pejabat
yang berkualitas, serta memberikan solusi bagi bangsa dan negara, Ramadhan juga
demikian.Bahkan, lebih daripada itu, Ramadhan telah terbukti menjadi madrasah
istimewa yang berhasil melahirkan generasi dan solusi terbaik sepanjang
masa.
Karena itu, Ramadhan harus disikapi dan
disambut secara positif.Agar mencapai prestasi maksimal, dibutuhkan sejumlah
persiapan.Di antaranya memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, melaksanakan shalat
sunah terutama di waktu malam, membaca Alquran, berzikir dan berdoa, serta
bersedekah. Selain itu, harus ada perencanaan dan rapat kerja keluarga untuk
menetapkan target yang akan dicapai pada bulan Ramadhan, berikut cara
pencapaiannya.[Inilah Dua Urgensi Sambut Ramadhan , Republika.co.id. Selasa,
26 Juli 2011 12:00 WIB].
Biasanya mengawali bulan Ramadhan ini ummat islam
selalu berbeda pendapat dalam penentuan awal jatuhnya Ramadhan, bahkan ada yang
melaksanakan awal puasa sementara yang lain sudah dua atau tiga hari
melaksanakannya, pemandangan ini nampaknya sudah berlansung puluhan bahkan
ratusan tahun yang lalu, penentuan awal Ramadhan ini kadangkala ada
kepentingan-kepentingan bahkan bisa saja ada kepentingan politik, seharusnya
kita bersama dan bersatu dalam mengawali Ramadhan sebagai ujud persatuan ummat
ini.Berkaitan dengan hal itu Dr Zein An Najah menjelaskan
kenapa terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadhan tersebut;
Para ulama berselisih pendapat
di dalam menentukan awal bulan Ramadhan apakah dengan cara melihat bulan
langsung (rukyat) atau dengan cara hisab.
Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'I, dan Ahmad).
Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'I, dan Ahmad).
Dalil mereka adalah sebagai
berikut :
1. Sabda
Rasulullah saw :"Jangan kalian berpuasa sampai kalian
melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut
tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh."
(HR Muslim).
2. Sabda
Rasulullah saw :"Berpuasalah karena kalian melihat
bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan." (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Sabda
Rasulullah saw:"Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) ,
maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka
berbukalah." (HR Muslim).
Hadits-hadits di atas
menunjukkan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat
bulan secara langsung. Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya
disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari.Inilah maksud lafadh
"faqduru lahu" dalam hadits di atas setelah menjama' beberapa riwayat
yang ada.
Pendapat kedua mengatakan
bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Ini adalah
pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah. Mereka
berdalil dengan hadits riwayat muslim di atas (lihat hadits no 1), hanya saja
kelompok ini menafsirkan lafadh " faqduru lahu " dengan ilmu hisab.
Yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu
hisab.
Dari dua pendapat di atas,
maka pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa
untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan cara melihat
bulan secara langsung (rukyat). Boleh memakai alat bantu seperti teropong dan
lain-lainnya. Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi
hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat.
Selain dalil-dalil yang telah
diungkap di atas, ada dalil lain yang menguatkan pendapat mayoritas ulama,
yaitu sabda Rasulullah saw:"Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah
umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau
30 hari." (HR Bukhari dan Muslim)
Artinya hadits di atas
adalah untuk menentuan awal bulan, umat Islam tidak diwajibkan untuk
mempelajari ilmu hisab. Karena Allah telah memberikan cara yang lebih mudah dan
bisa dilakukan oleh banyak orang, yaitu rukyat.
Ini bukan berarti umat
Islam dilarang mempelajari ilmu tersebut, karena Allah swt telah memerintahkan
kepada umatnya agar selalu menuntut ilmu pengetahuan selama hal itu membawa
maslahat dalam kehidupan manusia ini. Akan tetapi maknanya bahwa ajaran
Islam ini mudah dan bisa dicerna oleh semua kalangan, dan bisa dipraktekan oleh
semua orang.[Penentuan Awal Ramadhan,
Hidayatullah.com.Rabu, 21 September 2011].
Ada beberapa hal dalam menyambut kedatangan bulan
Ramadhan yang telah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia khususnya di
Minangkabau, tetapi tidak sesuai dengan ajaran islam atau tidak ada
tuntunannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh ChairuddinKetua MUI Padang Pariamanyaitu;
Pertama, membawa hidangan kekuburan
untuk mendoa bersama, dipimpin seorang siak (ulama).
Mendoakan orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal, tidak diragui lagi, adalah syariat Islam, seperti tercantum dalam Al
Quran surat Al Hasyr ayat 10, ”Dan, orang-orang yang datang sesudah mereka
berkata (mendoa), hai Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan orang-orang beriman
yang sudah mendahului kami …).”
Tapi, untuk duduk di atas kuburan, apalagi makan bersama di
atasnya, perlu kiranya umat Islam memperhatikan hadis nabi, antara lain hadis
riwayat Muslim artinya, ”Bahwa, bila seseorang duduk di atas bara api, lalu
terbakar bajunya dan tembus sampai ke kulitnya, itu lebih baik dari pada duduk
di atas kuburan”.
Larangan nabi yang kurang mendapat perhatian masyarakat
antara lain; pertama, memakai alas kaki (sandal dan lainnya) di atas/di
sela-sela kuburan. Kedua, HR Muslim, ”Nabi melarang menembok kubur, duduk di
atasnya, dan juga membuat bangunan di atasnya”. Riwayat lain, nabi juga
melarang melangkahi kubur, dan membuat tulisan di atasnya. Ketiga, HR Abi Daud
kata Ibnu Abbas, ”Rasulullah mengutuki wanita peziarah kubur, orang yang
mendirikan masjid di atasnya dan orang yang menyalakan lampu (cahaya)”. Khusus
mengenai wanita ziarah kubur, ada dalil (hadis) lain yang memberi petunjuk
untuk membolehkannya.
Kedua, menziarahi tokoh ulama
tertentu menjelang Ramadhan. Terutama
kelompok penganut Thariqat Syatthariah yang langsung penulis amati di Kabupaten
Padangpariaman. Dengan mencarter beberapa bus di bawah pimpinan ulama
Syatthariah mereka menziarahi tokoh ulama yang biasa mereka sebut ”Tuanku
Aluma” di Kototuo (Agam). Di waktu penulis tanya apa saja yang dilakukan di
tempat/di surau Tuanku tersebut? Jawabannya: hanya menemui beliau sambil
berjabat tangan (wanita dengan memakai alas tangan), minta maaf, doa restu dan
pamit dengan meninggalkan ”sesuatu”. Menurut penulis, menghormati guru jelas
merupakan perbuatan terpuji.
Namun, kita perlu juga menoleh kepada hadis nabi tentang
melakukan perjalanan jauh. Sabda Rasulullah: ”Tidak boleh diberat-berati
melakukan perjalanan jauh kecuali mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram,
Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah) dan Masjidil Aqsha”. HR Bukhari-Muslim.
Artinya, untuk semata-mata berkunjung yang merupakan perjalan ibadah, hanya
menuju ketiga masjid di atas.Kecuali dalam rangka menuntut ilmu, mengembangkan
dakwah, mencari penghidupan, bahkan berperang, itu juga mendapatkan pahala
berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, bukan semata-mata melawat jauh.
Ketiga, mandi balimau. Tradisi balimau sehari menjelang Ramadhan sudah pernah
dibahas dalam muzakarah Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar pada
Sabtu 9 Oktober 2004 lalu dengan kesimpulan, balimau bukanlah berdasarkan Al
Quran dan Sunah.[Tradisi Sambut Ramadhan Ditinjau ,dari Syariat Islam, padangtoday;
Jumat, 05/08/2011 - 04:22 WIB].
Ramadhan merupakan bulan suci, kita harus memulainya dengan
kesucian pula, jangan Ramadhan dikotori dengan syirik, kurafat dan bid’ah agar
ibadah yang kita lakukan berpahala dan target mencapai derajat taqwa bisa kita
capai, Mochamad Bugi dalam tulisannyamengajak kita agar
menyambut Ramadhan itu dengan sikap
positif sesuai dengan sunnah Rasulullah, ada sepuluh langkah menyambut Ramadhan
katanya yaitu;
1.
Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu
dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita
bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat,
tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw.
apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa
sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada
bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan
Tabrani)
Para
salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan
Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal
Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu
alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa
tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini
keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik
agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.
2.
Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada
kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi
setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan
untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan
pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang
diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan
untuk melakukan ibadah dan ketaatan.Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita
dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai
bentuk syukur.
3.
Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu
memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan,
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah
mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa.Pada bulan itu Allah membuka
pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).
Salafush-shalih
sangat memperhatikan bulan Ramadan.Mereka sangat gembira dengan
kedatangannya.Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan
Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.
4.
Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan
Ramadan. Ramadhan sangat singkat.Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan
yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.
5.
Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur
kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya
dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau
mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
[Q.S. Muhamad (47): 21]
6.
Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap
mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu.Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum
berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh
Allah.“Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada
mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
7. Sambut
Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk.Bertaubatlah secara
benar dari segala dosa dan kesalahan.Ramadan adalah bulan taubat.“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya
kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
8. Siapkan jiwa
dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri
majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa.Sehingga
secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.
9. Siapkan diri
untuk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:
· buat catatan
kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.
· membagikan
buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.
10.
Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah,
dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah
dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan
karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi.Kepada masyarakat,
dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang
paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.[Sepuluh Langkah
menyambut Ramadhan,eramuslim.com.21/8/2007 | 08 Sya'ban 1428 H].
Kesiapan
menyambut Ramadhan akan mempengaruhi hasil perjuangan di bulan itu, segala
sikap dalam menyambut, mengisi dan mengakhiri Ramadhan sesuai dengan sunnah dan
syariat Allah maka insya Allah walaupun banyak rintangan dan tantangan dalam
menjalankannya dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, Allah akan memberikan
kemudahan kepada hamba-Nya yang mau mengikuti syariat-Nya, dan Rasulullah
menyatakan bahwa berbahagialah orang yang menghidupkan sunnah dikala orang lain
melupakannya, sambut Ramadhan dengan baik niscaya hasilnya akan baik, wallahu
a’lam, [Cubadak Solok, 23 Zulhijjah 1432.H/ 19 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar