Pada diri manusia ada dua unsur penting
yang dimiliki yaitu rohani dan jasmani, kedua unsur ini tidak bisa diabaikan
demikian saja, keduanya harus diperhatikan, dijaga kesehatannya agar tidak
sakit. Kita banyak yang menganggap bahwa sakit hanya diderita oleh fisik atau
jasmani saja sementara sakitnya rohani tidak diperhatikan, padahal sakit
jasmani akibatnya hanya di dunia ini saja sedangkan sakit rohani membawa
seseorang ke akherat dengan kesengsaraan, penyakit jasmani mudah sekali
pengobatannya karena ketika diagnose sang fasien tanpa ragu-ragu menyebutkan
keluhan penyakit yang dirasakannya seperti sakit mag, sakit kepala bahkan
hingga kangker, tapi untuk mendiagnosa penyakit rahoni sangat sulit sekali
karena fasien tidak tahu penyakitnya walaupun tahu tapi enggan mengatakan,
apakah ada orang yang sakit rohani, ketika mendatangi dokter dia menyatakan
bahwa penyakit itu seperti sombong, kikir, khianat, korup dan segudang penyakit
rohani lainnya.
Penyakit
rohani, penyakit jiwa diantaranya diderita manusia karena rendahnya voltase
iman dan sedikit volume amal sehingga menyerang seluruh potensi rohaninya, yang
berkuasa ketika itu adalah hawa nafsu dan didominasi oleh bisikan syaitan.
Walaupun demikian manusia itu tidaklah sama imunitas jiwanya terhadap penyakit
sehingga ada yang sudah kronis penyakitnya baru dia sadar tapi tidak sedikit pula
yang merasakan lansung kalau jiwanya sedang diserang virus yang berbahaya
sehingga timbul usaha untuk menangkalnya.
Imam al-Ghazali
menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam hal ini.Pertama, orang yang dikuasai
oleh hawa nafsu dan bahkan menjadikannya tuhan sesembahannya (lihat QS. 25:43
dan QS. 45:23). Mereka yang terbelenggu oleh hawa nafsunya ini akan cenderung
pada kesesatan, karena pendengaran dan kalbunya sudah terkunci. Mereka
diibaratkan seperti anjing (QS. 7:176), oleh karena itu tidak layak dijadikan
pemimpin.
Kedua, orang
yang selalu berkompetisi dengan hawa nafsunya. Maka terkadang ia mampu
mengendalikannya dan terkadang tidak. Mereka ini tergolong mujahidin. Jika saat
kematian datang menjemputnya, sedangkan ia dalam usaha mengendalikan hawa
nafsunya, maka ia tergolong syuhada'. Sebab ia sedang menyibukkan dirinya
menjalankan perintah Rasulullah SAW untuk memerangi hawa nafsu seperti
memerangi musuhnya.
Ketiga, golongan
yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkannya dalam kondisi
apapun.Mereka inilah golongan penguasa sejati yang telah terbebas dari belenggu
hawa nafsu. Umar bin Khattab merupakan salah satu contoh orang yang menduduki
peringkat ini, hingga Nabi pun bersabda bahwa setan akan mengambil jalan yang
tidak dilalui Umar.
Oleh sebab itu,
dalam rangka melepaskan belenggu nafsu dan untuk meraih kebahagiaan hakiki,
beliau menjelaskan empat kiat, yaitu mengenal diri, mengenal Pencipta, mengenal
hakekat dunia dan mengenal hakekat akherat. Dalam proses mengenali diri, Imam
al-Ghazali memberikan bahan introspeksi harian (muhasabah). Misalnya: Anda itu
apa? Anda datang ke tempat ini dari mana? Untuk tujuan apa Anda diciptakan?
Karena apa Anda berbahagia? Dan kenapa juga Anda harus merasa sengsara?
Masih dalam
rangka mengenali diri, Imam al-Ghazali menjelaskan adanya empat potensi dalam
diri manusia, dimana masing-masing memiliki kebahagiannya sendiri.Keempat
potensi tersebut adalah sifat binatang ternak, sifat binatang buas, sifat setan
dan sifat malaikat. Beliau pun menguraikan sebagai berikut: "Sesungguhnya
kebahagiaan binatang ternak itu di saat makan, minum, tidur dan melampiaskan
hasrat seksnya. Jika Anda termasuk golongan mereka, maka bersungguh-sungguhlah
dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan. Kebahagiaan binatang buas itu
dikala ia berhasil memukul dan membunuh.
Kebahagiaan
setan itu ketika ia berhasil melakukan makar, kejahatan dan tipu muslihat. Jika
Anda berasal dari golongan mereka, maka sibukkanlah diri Anda dengan kesibukan
setan. Sedangkan kebahagiaan malaikat itu tatkala ia menyaksikan indahnya
kehadiran Tuhan. Maka jika Anda termasuk golongan malaikat,
bersungguh-sungguhlah dalam mengenali asal-usul Anda, hingga mengetahui jalan
menuju kepada-Nya dan terbebas dari belenggu syahwat dan amarah". (lihat:
Kimiya al-Sa'adah).[Henri Shalahuddin, Jiwa yang Sehat Menurut Imam al-Ghazali,Republika.co.id.Selasa, 23 Maret 2010 08:07]
Suatu hari, seorang laki-laki
menemui Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah, berwasiatlah
kepadaku."Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu
marah!"Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, "Janganlah
kamu marah." (HR Bukhari)
Hadis yang diriwayatkan Abu
Hurairah RA di atas berisi wasiat Rasulullah kepada umatnya agar menjauhi
berbagai penyakit hati, seperti marah, dendam, iri, serta dengki kepada
sesama.Ada dua jenis penyakit yang senantiasa melekat pada tubuh manusia, yaitu
penyakit fisik dan penyakit hati.
Penyakit fisik terkadang
mendapat perhatian lebih ketimbang penyakit hati.Padahal, penyakit hati pun
berpotensi menimbulkan efek yang luar biasa. Banyak yang tak menyadari
bahwa penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya.
Berbeda dengan penyakit fisik
yang kasat mata dan dapat dirasakan, penyakit hati justru tersembunyi. Meski
tak terlihat, penyakit hati akan melahirkan gangguan psikologis yang
berpengaruh pada kesehatan fisik. Salah satu penyakit hati yang sering
kali muncul pada seorang manusia adalah dendam.
Dendam merupakan kumpulan
marah dan amarah yang bisa menggerogoti kebersihan hati. Seorang yang menyemai
dendam dalam hatinya, tak akan mengalami ketidaktenangan diri, sebelum
kemarahannya terlampiaskan. Sering kali orang mengabaikan penyakit hati ini.Padahal,
tidak sedikit masalah yang besar lahir justru berawal dari penyakit hati ini.
Ada dua dampak yang akan
dialami oleh orang-orang yang memiliki penyakit hati. Pertama, orang yang
memiliki penyakit hati, ketika menguasai ilmu, maka ilmunya tidak bermanfaat
dan tidak menjadikannya lebih dekat kepada Allah SWT.Kedua, tidak bisa fokus
atau khusyuk dalam beraktivitas.Dalam menjalankan ibadah, misalnya, tidak bisa
mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati keajaiban amalan ibadah
yang dilakukannya.
Ketika hati sudah sakit dan
rusak, maka sangat sulit bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT.Sang Khalik menciptakan hati pada diri manusia sebagai tempat bersemayam
diri-Nya."Langit dan bumi tidak dapat meliputi-Ku, hanya hati yang dapat
meliputi-Ku,'' demikian bunyi salah satu Hadis Qudsi.
Hadis itu menunjukkan betapa
hati memiliki fungsi yang penting untuk mengenal, mencintai, dan menemui
Allah SWT. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin dari
penglihatan-penglihatan ruhaniah. Manusia tak akan menemukan kepuasan dan
kebahagiaan puncak, jika hatinya tertutup berbagai penyakit hati.[Menjauhi
Penyakit Hati,Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010,
09:32 WIB].
Makna sakit hati bukanlah hati
secara fisik tapi hati secara jiwa, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu
berinteraksi dengan orang lain, maka peluangnya besar untuk disakiti hati kita
oleh orang lain itu dan besar juga peluangnya bagi kita untuk membalas sakit
hati itu dengan menyakiti hati yang lain, kalau sudah demikian maka rasanya
sudah lepas sakit hati, agak lega katanya kalau sudah membalas sakit hati,
sifat ini juga menandakan orang yang
hatinya yang sedang sakit.
Tidak
semua orang di antara kita berjiwa besar untuk melepaskan sakit hati
tersebut.Meskipun demikian, usahakan untuk melepaskan sakit itu secepat
mungkin sebelum meracuni jiwa kita.Pengalaman di sepanjang hidup saya
memberikan pelajaran berharga bahwa memelihara sakit hati hanya menimbulkan
kerugian dan kesulitan belaka.
Sebuah
kisah berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran yang lebih jelas betapa
tidak enaknya menyimpan rasa sakit hati.Dikisahkan tentang seorang guru
yang memberikan tugas cukup unik kepada para anak didiknya untuk mata pelajaran
budi pekerti.Hari itu siswanya di kelas 3 SD diminta untuk memasukkan kentang
ke dalam sebuah kantong plastik, sesuai dengan jumlah orang yang tidak disukai.
Jika siswa membenci banyak orang, maka semakin banyak pula kentang yang ia
masukkan ke dalam plastiknya.
Tugas
selanjutnya adalah para siswa diwajibkan membawa kentang-kentang tersebut ke
mana pun mereka pergi selama satu minggu.Hari pertama, kedua dan ketiga para
siswa masih belum banyak mengeluh.Tetapi menginjak hari ke-4 sampai hari ke-6,
hampir seluruh siswa itu mengeluh, karena merasa sangat tersiksa membawa beban
yang cukup berat apalagi kentang-kentang itu mulai membusuk dan berbau.Setelah
satu minggu barulah kentang-kentang itu dilepaskan, murid-murid itu pun merasa
sangat lega.
Kisah
tersebut mengisyaratkan alangkah ruginya menyimpan rasa sakit hati
terus-menerus.Salah satunya mungkin sakit hati itu menyebabkan tubuh kita
menjadi cepat letih dan sakit.Selanjutnya, menyimpan rasa sakit
hati dapat menghambat upaya kita mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan
usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Sebaliknya,
bila kita berbesar hati melepaskan sakit hati itu maka kita akan lebih mudah
memetik manfaat darinya. Meskipun usaha itu tidak mudah, tetapi selama Anda
berkemauan maka tidak akan ada yang sulit.
Rasulullah
mengingatkan kepada kita bahwa dalam tubuh kita itu ada segumpal darah, bila
darah itu sehat maka sehatlah seluruh anggota tubuh yang lain, tapi bila segumpal
darah itu sakit maka sakitlah semuanya, segumpal darah itu kata Rasulullah
adalah hati. Hidup memang harus menjaga hati agar hidup kita lepas dari segala
penyakit hati, atau dengan usaha lain agar penyakit hati itu sirna sebagaimana
kiat dibawah ini yaitu;
•
Jernihkanlah hati kita agar dapat memandang persoalan dengan jernih pula lalu
koreksilah diri sendiri, bersihkan hati dari kotoran temasuk iri, dengki,
sirik, pelit, culas, dan lain sebagainya. Pastikan bukan diri Anda sebenarnya
yang keliru atau terlalu sensitif, sehingga orang lain berbuat sesuatu yang
wajar saja tetapi bagi Anda sudah menyakitkan hati.
• Tersenyumlah tulus dan selalu menampilkan
wajah ceria untuk melepaskan sakit hati terhadap orang yang sudah menyakiti
hati Anda. Karena tanpa mereka sadari sebenarnya sikap buruk mereka justru
mengasah hati nurani Anda semakin tajam. Anda sudah merasakan betapa tidak
enaknya dihina, dihasut, difitnah, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, sehingga
Anda tidak akan berani melakukan sikap buruk yang sama. Secara tidak langsung
mereka sudah menyebabkan kebaikan-kebaikan di dalam hati nurani Anda semakin
indah terpancar dalam sikap maupun perbuatan Anda.
• Berusahalah bersikap manis sebagai bentuk
terima kasih kepada orang yang sudah menyebabkan Anda sakit hati. Bagaimanapun
juga, mereka sudah menginspirasi Anda untuk mendidik diri sendiri maupun
keturunan Anda untuk tidak melakukan sikap serupa. Sehingga, diri Anda maupun
keturunan Anda nanti lebih terkontrol untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti
orang lain.
• Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa
orang-orang yang sudah menyakiti hati Anda itu memiliki andil yang sangat besar
membesarkan tekad dan kemampuan Anda. Mereka sudah membuat Anda memiliki
pribadi yang kuat dan sabar. Sehingga, Anda tidak mudah goyah menghadapi
situasi sesulit apa pun dalam upaya mengejar cita-cita dan menjadi orang yang
hebat.
• Tumpahkan seluruh kekesalan dan kebencian
pada selembar kertas lalu bakarlah..Anda harus bertekad bahwa kebencian Anda
harus lenyap seperti hancurnya kertas itu dimakan api. Rubahlah kekecewaan dan
kebecian menjadi semangat untuk memperbaiki keadaan.[dari berbagai sumber internet].
Selain hal diatas Luqman
Hakim, M.HI.dalam khutbah jum’at menyampaikan obat untuk menghilangkan sakit
hati yaitu;
Obat hati yang peRtama adalah
al-QuR`an al-KaRim. Allah Ta’ala beRfiRman,"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaRan daRi Rabbmu
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang beRada) dalam dada dan petunjuk
seRta Rahmat bagi ORang-ORang yang beRiman." (Yunus: 57).
Al-QuR`an adalah pelajaRan yang paling menyentuh hati bagi ORang-ORang yang
beRakal atau mau mendengaR. Al-QuR`an meRupakan Obat yang paling mujaRab bagi
penyakit-penyakit yang ada di dalam dada dan hati. Al-QuR`an mengandung penawaR
bagi penyakit syahwat, syubhat, dan lalai.
Ibnul Qayyim peRnah beRkata, "Inti
penyakit hati adalah penyakit syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-QuR`an
adalah penawaR bagi kedua penyakit itu, kaRena di dalamnya teRdapat
penjelasan-penjelasan yang qath'i yang membedakan yang haq dan yang batil,
sehingga penyakit syubhat akan hilang. Adapun al-QuR`an membeRikan penawaR
teRhadap penyakit nafsu syahwat, kaRena di dalam al-QuR`an teRdapat hikmah,
nasihat yang baik, mengajak zuhud teRhadap dunia, dan mengutamakan kehidupan
akhiRat.
Di antaRa hal penting bagi setiap ORang yang ingin menyelamatkan dan
mempeRbaiki hatinya adalah hendaknya dia mengetahui bahwa caRa beRObat dengan
al-QuR`an itu tidak bisa hanya sekedaR dengan membaca al-QuR`an, melainkan
haRus memahami dan mengambil pelajaRan daRi beRita-beRita yang teRkandung di
dalamnya dan mematuhi hukum-hukumnya.
Obat kedua adalah cinta kepada
Allah. Cinta kepada Allah meRupakan teRapi yang paling mujaRab bagi hati.
Apalagi cinta itu meRupakan akaR ibadah dan pengabdian. Allah Ta’laa beRfiRman,
"Dan di antaRa manusia ada
ORang-ORang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; meReka
mencintainya sebagaimana meReka mencintai Allah. Adapan ORang-ORang yang
beRiman, meReka amat sangat cinta kepada Allah." (Al-BaqaRah: 165).
Ketiga, selalu mengingat
Allah Ta’ala dalam setiap keadaan, dengan lisan, hati, dan peRbuatan. Jadi,
bagian yang dipeROlehnya daRi cinta adalah sesuai dengan kadaR dzikiRnya.
Keempat, mengutamakan
cinta Allah Ta’ala kepada sesuatu daRipada cinta diRi sendiRi kepada sesuatu
yang lain yang didOminasi Oleh hawa nafsu, dan beRusaha mencapai cinta kepada
apa yang dicintai Oleh Allah Ta’ala walaupun jaluR menuju ke sana sangat sulit.
Kelima, menelaah asma dan
sifat Allah Ta’ala dengan hati, mem-peRsaksikannya, dan mengenalnya. Hati
teRus-meneRus menelaah hal itu di dalam medan Olah makRifah ini. Maka
baRangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya
seRta peRbuatan-peRbuatanNya, maka dia pasti mencintaiNya.
Keenam, menyaksikan
kebaikan, ihsan, dan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, seRta nikmat-nikmatNya yang
lahiRiyah ataupun batiniyah. KaRena semua itu membangkitkan cinta kepada Allah
Ta’ala.
Ketujuh, yaitu beRmunajat
kepadaNya, membaca kitabNya, menghadiRkan hati di hadapanNya, beRadab dengan adab
ibadah dan penghambaan di hadapan Allah Ta’ala, kemudian diakhiRi dengan
beRistighfaR dan beRtaubat.
Kedelapan, beRgaul dengan
ORang-ORang yang mencintai Allah Ta’ala dan ORang-ORang yang jujuR, kemudian
memetik buah peRkataan meReka yang teRbaik sebagaimana memetik buah yang
teRbaik dan paling Ranum. Dan Anda tidak beRbicaRa melainkan bila pembica-Raan
itu memiliki kemaslahatan, dan Anda mengetahui pasti bahwa peRnyataan Anda
menambah kebaikan kOndisi Anda dan manfaat bagi ORang lain.[Penyakit Hati dan Obat PenawaRnya, Kumpulan Khutbah
Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta. Telp.(021)84998039.
DipOsting Oleh: Abu Nabiel:: COmpiled by oRiDo™
::].
Imam
Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun
shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).
Seseorang yang memiliki hati sehat
tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat.Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu
memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang
akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan
hati nurani yang bersih.
Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat
mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan
semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki
mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub
dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang
yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin
rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu
dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata.
Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia
kehendaki.
Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai
apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua
ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan
takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS,
tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli
Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini
termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah
kufur atas nikmat-Nya.
Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya
bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang
menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini.
Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan
merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang
membuat seseorang semakin bermutu.[Memperindah Hati, Abdullah Gymnastiar,
Manajemen Qalbu].
Hanya dengan selalu bertobat, berzikir,
dan mengerjakan berbagai amalan ibadah dan aktivitas yang sesuai syariat-Nya,
hati ini akan bersih. Sesungguhnya hati ini adalah taman yang harus
senantiasa dibersihkan dan ditata."Hai anak Adam, Aku telah menciptakan
taman bagimu, dan sebelum kamu bisa masuk ke taman ciptaan-Ku, Aku usir setan
dari dalamnya. Dan dalam dirimu ada hati, yang seharusnya menjadi taman yang
engkau sediakan bagi-Ku." (Hadis Qudsi).wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28
Agustus 2011.M/ 28 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar