Selasa, 09 Februari 2016

169. Sakit Hati



Pada diri manusia ada dua unsur penting yang dimiliki yaitu rohani dan jasmani, kedua unsur ini tidak bisa diabaikan demikian saja, keduanya harus diperhatikan, dijaga kesehatannya agar tidak sakit. Kita banyak yang menganggap bahwa sakit hanya diderita oleh fisik atau jasmani saja sementara sakitnya rohani tidak diperhatikan, padahal sakit jasmani akibatnya hanya di dunia ini saja sedangkan sakit rohani membawa seseorang ke akherat dengan kesengsaraan, penyakit jasmani mudah sekali pengobatannya karena ketika diagnose sang fasien tanpa ragu-ragu menyebutkan keluhan penyakit yang dirasakannya seperti sakit mag, sakit kepala bahkan hingga kangker, tapi untuk mendiagnosa penyakit rahoni sangat sulit sekali karena fasien tidak tahu penyakitnya walaupun tahu tapi enggan mengatakan, apakah ada orang yang sakit rohani, ketika mendatangi dokter dia menyatakan bahwa penyakit itu seperti sombong, kikir, khianat, korup dan segudang penyakit rohani lainnya.

            Penyakit rohani, penyakit jiwa diantaranya diderita manusia karena rendahnya voltase iman dan sedikit volume amal sehingga menyerang seluruh potensi rohaninya, yang berkuasa ketika itu adalah hawa nafsu dan didominasi oleh bisikan syaitan. Walaupun demikian manusia itu tidaklah sama imunitas jiwanya terhadap penyakit sehingga ada yang sudah kronis penyakitnya baru dia sadar tapi tidak sedikit pula yang merasakan lansung kalau jiwanya sedang diserang virus yang berbahaya sehingga timbul usaha untuk menangkalnya.

Imam al-Ghazali menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam hal ini.Pertama, orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan bahkan menjadikannya tuhan sesembahannya (lihat QS. 25:43 dan QS. 45:23). Mereka yang terbelenggu oleh hawa nafsunya ini akan cenderung pada kesesatan, karena pendengaran dan kalbunya sudah terkunci. Mereka diibaratkan seperti anjing (QS. 7:176), oleh karena itu tidak layak dijadikan pemimpin.

Kedua, orang yang selalu berkompetisi dengan hawa nafsunya. Maka terkadang ia mampu mengendalikannya dan terkadang tidak. Mereka ini tergolong mujahidin. Jika saat kematian datang menjemputnya, sedangkan ia dalam usaha mengendalikan hawa nafsunya, maka ia tergolong syuhada'. Sebab ia sedang menyibukkan dirinya menjalankan perintah Rasulullah SAW untuk memerangi hawa nafsu seperti memerangi musuhnya.

Ketiga, golongan yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkannya dalam kondisi apapun.Mereka inilah golongan penguasa sejati yang telah terbebas dari belenggu hawa nafsu. Umar bin Khattab merupakan salah satu contoh orang yang menduduki peringkat ini, hingga Nabi pun bersabda bahwa setan akan mengambil jalan yang tidak dilalui Umar.

Oleh sebab itu, dalam rangka melepaskan belenggu nafsu dan untuk meraih kebahagiaan hakiki, beliau menjelaskan empat kiat, yaitu mengenal diri, mengenal Pencipta, mengenal hakekat dunia dan mengenal hakekat akherat. Dalam proses mengenali diri, Imam al-Ghazali memberikan bahan introspeksi harian (muhasabah). Misalnya: Anda itu apa? Anda datang ke tempat ini dari mana? Untuk tujuan apa Anda diciptakan? Karena apa Anda berbahagia? Dan kenapa juga Anda harus merasa sengsara?

Masih dalam rangka mengenali diri, Imam al-Ghazali menjelaskan adanya empat potensi dalam diri manusia, dimana masing-masing memiliki kebahagiannya sendiri.Keempat potensi tersebut adalah sifat binatang ternak, sifat binatang buas, sifat setan dan sifat malaikat. Beliau pun menguraikan sebagai berikut: "Sesungguhnya kebahagiaan binatang ternak itu di saat makan, minum, tidur dan melampiaskan hasrat seksnya. Jika Anda termasuk golongan mereka, maka bersungguh-sungguhlah dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan. Kebahagiaan binatang buas itu dikala ia berhasil memukul dan membunuh. 

Kebahagiaan setan itu ketika ia berhasil melakukan makar, kejahatan dan tipu muslihat. Jika Anda berasal dari golongan mereka, maka sibukkanlah diri Anda dengan kesibukan setan. Sedangkan kebahagiaan malaikat itu tatkala ia menyaksikan indahnya kehadiran Tuhan. Maka jika Anda termasuk golongan malaikat, bersungguh-sungguhlah dalam mengenali asal-usul Anda, hingga mengetahui jalan menuju kepada-Nya dan terbebas dari belenggu syahwat dan amarah". (lihat: Kimiya al-Sa'adah).[Henri Shalahuddin, Jiwa yang Sehat Menurut Imam al-Ghazali,Republika.co.id.Selasa, 23 Maret 2010 08:07]

Suatu hari, seorang laki-laki menemui Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku."Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu marah!"Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, "Janganlah kamu marah." (HR Bukhari)

Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA di atas berisi wasiat Rasulullah kepada umatnya agar menjauhi berbagai penyakit hati, seperti marah, dendam, iri, serta dengki kepada sesama.Ada dua jenis penyakit yang senantiasa melekat pada tubuh manusia, yaitu penyakit fisik dan penyakit hati.

Penyakit fisik terkadang mendapat perhatian lebih ketimbang penyakit hati.Padahal, penyakit hati pun berpotensi menimbulkan efek yang luar biasa.  Banyak yang tak menyadari bahwa penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya.

Berbeda dengan penyakit fisik yang kasat mata dan dapat dirasakan, penyakit hati justru tersembunyi. Meski tak terlihat, penyakit hati akan melahirkan gangguan psikologis yang berpengaruh pada kesehatan fisik.  Salah satu penyakit hati yang sering kali muncul pada seorang manusia adalah dendam.

Dendam merupakan kumpulan marah dan amarah yang bisa menggerogoti kebersihan hati. Seorang yang menyemai dendam dalam hatinya, tak akan mengalami ketidaktenangan diri, sebelum kemarahannya terlampiaskan. Sering kali orang mengabaikan penyakit hati ini.Padahal, tidak sedikit masalah yang besar lahir justru berawal dari penyakit hati ini.

Ada dua dampak yang akan dialami oleh orang-orang yang memiliki penyakit hati. Pertama, orang yang memiliki penyakit hati, ketika menguasai ilmu, maka ilmunya tidak bermanfaat dan tidak menjadikannya lebih dekat kepada Allah SWT.Kedua, tidak bisa fokus atau khusyuk dalam beraktivitas.Dalam menjalankan ibadah, misalnya, tidak bisa mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati keajaiban amalan ibadah yang dilakukannya.

Ketika hati sudah sakit dan rusak, maka sangat sulit bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Sang Khalik menciptakan hati pada diri manusia sebagai tempat bersemayam diri-Nya."Langit dan bumi tidak dapat meliputi-Ku, hanya hati yang dapat meliputi-Ku,'' demikian bunyi salah satu Hadis Qudsi.
Hadis itu menunjukkan betapa hati memiliki fungsi yang penting  untuk mengenal, mencintai, dan menemui Allah SWT. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin dari penglihatan-penglihatan ruhaniah. Manusia tak akan menemukan kepuasan dan kebahagiaan puncak, jika hatinya tertutup berbagai penyakit hati.[Menjauhi Penyakit Hati,Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010, 09:32 WIB].

Makna sakit hati bukanlah hati secara fisik tapi hati secara jiwa, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan orang lain, maka peluangnya besar untuk disakiti hati kita oleh orang lain itu dan besar juga peluangnya bagi kita untuk membalas sakit hati itu dengan menyakiti hati yang lain, kalau sudah demikian maka rasanya sudah lepas sakit hati, agak lega katanya kalau sudah membalas sakit hati, sifat  ini juga menandakan orang yang hatinya yang sedang sakit.

Tidak semua orang di antara kita berjiwa besar untuk melepaskan sakit hati tersebut.Meskipun demikian, usahakan untuk melepaskan sakit itu secepat mungkin sebelum meracuni jiwa kita.Pengalaman di sepanjang hidup saya memberikan pelajaran berharga bahwa memelihara sakit hati hanya menimbulkan kerugian dan kesulitan belaka.

Sebuah kisah berikut ini mungkin dapat memberikan gambaran yang lebih jelas betapa tidak enaknya menyimpan rasa sakit hati.Dikisahkan tentang seorang guru yang memberikan tugas cukup unik kepada para anak didiknya untuk mata pelajaran budi pekerti.Hari itu siswanya di kelas 3 SD diminta untuk memasukkan kentang ke dalam sebuah kantong plastik, sesuai dengan jumlah orang yang tidak disukai. Jika siswa membenci banyak orang, maka semakin banyak pula kentang yang ia masukkan ke dalam plastiknya.

Tugas selanjutnya adalah para siswa diwajibkan membawa kentang-kentang tersebut ke mana pun mereka pergi selama satu minggu.Hari pertama, kedua dan ketiga para siswa masih belum banyak mengeluh.Tetapi menginjak hari ke-4 sampai hari ke-6, hampir seluruh siswa itu mengeluh, karena merasa sangat tersiksa membawa beban yang cukup berat apalagi kentang-kentang itu mulai membusuk dan berbau.Setelah satu minggu barulah kentang-kentang itu dilepaskan, murid-murid itu pun merasa sangat lega.

Kisah tersebut mengisyaratkan alangkah ruginya menyimpan rasa sakit hati terus-menerus.Salah satunya mungkin sakit hati itu menyebabkan tubuh kita menjadi cepat letih dan sakit.Selanjutnya, menyimpan rasa sakit hati dapat menghambat upaya kita mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila kita berbesar hati melepaskan sakit hati itu maka kita akan lebih mudah memetik manfaat darinya. Meskipun usaha itu tidak mudah, tetapi selama Anda berkemauan maka tidak akan ada yang sulit.
Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa dalam tubuh kita itu ada segumpal darah, bila darah itu sehat maka sehatlah seluruh anggota tubuh yang lain, tapi bila segumpal darah itu sakit maka sakitlah semuanya, segumpal darah itu kata Rasulullah adalah hati. Hidup memang harus menjaga hati agar hidup kita lepas dari segala penyakit hati, atau dengan usaha lain agar penyakit hati itu sirna sebagaimana kiat dibawah ini yaitu;

• Jernihkanlah hati kita agar dapat memandang persoalan dengan jernih pula lalu koreksilah diri sendiri, bersihkan hati dari kotoran temasuk iri, dengki, sirik, pelit, culas, dan lain sebagainya. Pastikan bukan diri Anda sebenarnya yang keliru atau terlalu sensitif, sehingga orang lain berbuat sesuatu yang wajar saja tetapi bagi Anda sudah menyakitkan hati.

 • Tersenyumlah tulus dan selalu menampilkan wajah ceria untuk melepaskan sakit hati terhadap orang yang sudah menyakiti hati Anda. Karena tanpa mereka sadari sebenarnya sikap buruk mereka justru mengasah hati nurani Anda semakin tajam. Anda sudah merasakan betapa tidak enaknya dihina, dihasut, difitnah, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, sehingga Anda tidak akan berani melakukan sikap buruk yang sama. Secara tidak langsung mereka sudah menyebabkan kebaikan-kebaikan di dalam hati nurani Anda semakin indah terpancar dalam sikap maupun perbuatan Anda.

 • Berusahalah bersikap manis sebagai bentuk terima kasih kepada orang yang sudah menyebabkan Anda sakit hati. Bagaimanapun juga, mereka sudah menginspirasi Anda untuk mendidik diri sendiri maupun keturunan Anda untuk tidak melakukan sikap serupa. Sehingga, diri Anda maupun keturunan Anda nanti lebih terkontrol untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.

 • Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa orang-orang yang sudah menyakiti hati Anda itu memiliki andil yang sangat besar membesarkan tekad dan kemampuan Anda. Mereka sudah membuat Anda memiliki pribadi yang kuat dan sabar. Sehingga, Anda tidak mudah goyah menghadapi situasi sesulit apa pun dalam upaya mengejar cita-cita dan menjadi orang yang hebat.

 • Tumpahkan seluruh kekesalan dan kebencian pada selembar kertas lalu bakarlah..Anda harus bertekad bahwa kebencian Anda harus lenyap seperti hancurnya kertas itu dimakan api. Rubahlah kekecewaan dan kebecian menjadi semangat untuk memperbaiki keadaan.[dari berbagai sumber  internet].

Selain hal diatas Luqman Hakim, M.HI.dalam khutbah jum’at menyampaikan obat untuk menghilangkan sakit hati yaitu;

Obat hati yang peRtama adalah al-QuR`an al-KaRim. Allah Ta’ala beRfiRman,"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaRan daRi Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang beRada) dalam dada dan petunjuk seRta Rahmat bagi ORang-ORang yang beRiman." (Yunus: 57). 

Al-QuR`an adalah pelajaRan yang paling menyentuh hati bagi ORang-ORang yang beRakal atau mau mendengaR. Al-QuR`an meRupakan Obat yang paling mujaRab bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada dan hati. Al-QuR`an mengandung penawaR bagi penyakit syahwat, syubhat, dan lalai. 

Ibnul Qayyim peRnah beRkata, "Inti penyakit hati adalah penyakit syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-QuR`an adalah penawaR bagi kedua penyakit itu, kaRena di dalamnya teRdapat penjelasan-penjelasan yang qath'i yang membedakan yang haq dan yang batil, sehingga penyakit syubhat akan hilang. Adapun al-QuR`an membeRikan penawaR teRhadap penyakit nafsu syahwat, kaRena di dalam al-QuR`an teRdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud teRhadap dunia, dan mengutamakan kehidupan akhiRat.

Di antaRa hal penting bagi setiap ORang yang ingin menyelamatkan dan mempeRbaiki hatinya adalah hendaknya dia mengetahui bahwa caRa beRObat dengan al-QuR`an itu tidak bisa hanya sekedaR dengan membaca al-QuR`an, melainkan haRus memahami dan mengambil pelajaRan daRi beRita-beRita yang teRkandung di dalamnya dan mematuhi hukum-hukumnya. 

Obat kedua adalah cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah meRupakan teRapi yang paling mujaRab bagi hati. Apalagi cinta itu meRupakan akaR ibadah dan pengabdian. Allah Ta’laa beRfiRman, "Dan di antaRa manusia ada ORang-ORang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; meReka mencintainya sebagaimana meReka mencintai Allah. Adapan ORang-ORang yang beRiman, meReka amat sangat cinta kepada Allah." (Al-BaqaRah: 165). 

Ketiga, selalu mengingat Allah Ta’ala dalam setiap keadaan, dengan lisan, hati, dan peRbuatan. Jadi, bagian yang dipeROlehnya daRi cinta adalah sesuai dengan kadaR dzikiRnya. 

Keempat, mengutamakan cinta Allah Ta’ala kepada sesuatu daRipada cinta diRi sendiRi kepada sesuatu yang lain yang didOminasi Oleh hawa nafsu, dan beRusaha mencapai cinta kepada apa yang dicintai Oleh Allah Ta’ala walaupun jaluR menuju ke sana sangat sulit. 

Kelima, menelaah asma dan sifat Allah Ta’ala dengan hati, mem-peRsaksikannya, dan mengenalnya. Hati teRus-meneRus menelaah hal itu di dalam medan Olah makRifah ini. Maka baRangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya seRta peRbuatan-peRbuatanNya, maka dia pasti mencintaiNya. 

Keenam, menyaksikan kebaikan, ihsan, dan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, seRta nikmat-nikmatNya yang lahiRiyah ataupun batiniyah. KaRena semua itu membangkitkan cinta kepada Allah Ta’ala. 

Ketujuh, yaitu beRmunajat kepadaNya, membaca kitabNya, menghadiRkan hati di hadapanNya, beRadab dengan adab ibadah dan penghambaan di hadapan Allah Ta’ala, kemudian diakhiRi dengan beRistighfaR dan beRtaubat. 

Kedelapan, beRgaul dengan ORang-ORang yang mencintai Allah Ta’ala dan ORang-ORang yang jujuR, kemudian memetik buah peRkataan meReka yang teRbaik sebagaimana memetik buah yang teRbaik dan paling Ranum. Dan Anda tidak beRbicaRa melainkan bila pembica-Raan itu memiliki kemaslahatan, dan Anda mengetahui pasti bahwa peRnyataan Anda menambah kebaikan kOndisi Anda dan manfaat bagi ORang lain.[Penyakit Hati dan Obat PenawaRnya, Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta. Telp.(021)84998039. DipOsting Oleh: Abu Nabiel:: COmpiled by oRiDo™ ::].

Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).
Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat.Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

            Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.

            Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

            Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.[Memperindah Hati, Abdullah Gymnastiar, Manajemen Qalbu].

Hanya dengan selalu bertobat, berzikir, dan mengerjakan berbagai amalan ibadah dan aktivitas yang sesuai syariat-Nya, hati ini akan bersih.  Sesungguhnya hati ini adalah taman yang harus senantiasa dibersihkan dan ditata."Hai anak Adam, Aku telah menciptakan taman bagimu, dan sebelum kamu bisa masuk ke taman ciptaan-Ku, Aku usir setan dari dalamnya. Dan dalam dirimu ada hati, yang seharusnya menjadi taman yang engkau sediakan bagi-Ku." (Hadis Qudsi).wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28 Agustus 2011.M/ 28 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar