Islam mengajarkan
kepada ummatnya agar hidup berkualitas yaitu kuat, tegar, istiqamah, hal itu
berangkat dari berbagai ujian dan tempaan kehidupan yang dialaminya sepanjang
hayat.Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan dan
pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia ini,
seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang
diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.
Dalam menghadapi segala tempaan
ini, tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan,
tidak sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa
butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta
banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada
juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.
Manusia dalam
menyelesaikan hidup ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau
menguak makna yang terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik
bagi manusia, nampaknya baik tetapi terselip penderitaan.Kerugian dalam
perdagangan adalah hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya, tetapi
dibalik itu bagi kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya
dalam menggunakan modal.
Tidak lulus dalam ujian
bagi seorang pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan
menjadikan pelajar tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa
datang.
Terlalu sulit bagi manusia
untuk mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah, kegagalan dan
lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah yang besar,
Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].
Kepercayaan kepada
ketentuan Allah menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu
kegagalan, hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena
sebuah kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga
akan membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan
maupun kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan
mereka tidak diuji lagi ?”[Al Ankabut
29;2].
Dalam menghadapi ujian ini
harus pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan
At Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah
telah memberi dari orang-orang mukmin
diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang
di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji
yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih
menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah
orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang
rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar
dan memelihara hukum-hukum Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.
Fitnah adalah ujian, tempaan dan
pengkaderan yang diberikan kepada orang-orang beriman dalam rangka untuk
meningkatkan kualitas imannya, sedangkan ibtila' adalah menguji atau mengetes,
ujian yang datang dari Allah kepada hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan.
Fitnah dan ibtila' diberikan Allah kepada hamba-Nya ada dua macam yaitu
keburukan dan kebaikan sebagaimana firman Allah
dalam surat Al Anbiya' 21;35"Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu
dikembalikan".
Fitnah yang berupa kesenangan
seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, populeritas, cantik atau
tampan, luasnya ilmu dan lain-lain. Akibatnya banyak yang tidak bersyukur,
merasa lebih tinggi dari orang lain, jauh dari ajaran islam dan cendrung
sombong.
Fitnah yang berupa kesengsaraan
seperti kemiskinan, kelaparan, kematian, ketakutan, penyiksaan, kesedihan,
pengusiran, penindasan dan lain-lain, biasanya hal ini mudah dihadapi oleh
siapapun dengan kesabaran;"Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar"
[Al Baqarah 2;155]
Adapun cakupan fitnah itu secara
individu sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi ayub,
Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain. Sedangkan
secara komunal seperti yang dialami ummat islam di zaman jahiliyyah, ummat
islam di Moro, Bosnia, Kashmir, India, Afghanistan dan ummat islam lainnya yang
mengalami penindasan oleh bangsa lain.
Syaikh Mahdi Akif memberikan pesan kepada kaum muslimin berkaitan dengan
kualitas ummat islam sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah.
Kepada
seluruh umat Islam di manapun berada, saya tujukan risalah ini, sebagai
pengingat akan amanah aqidah yang telah diterima manusia. Firman Allah,
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (Q.S. Al-Ahzaab: 72)
Risalah
ini merupakan ajakan untuk sama-sama merenungi sabda Rasulullah saw.
“Bangsa-bangsa di dunia berlomba-lomba mengerubuni kalian layaknya mereka
mengerubungi makanan (untuk disantap).Kemudian sahabat bertanya, “Apa karena
kami saat itu sedikit yang Rasulullah?Rasulullah menjawab, “Tidak, bahkan
kalian berjumlah besar saat itu, tetapi kalian seperti buih (yang tidak
berbobot), seperti buih air sungai.”
Kenyataan
seperti ini menjadi dorongan bagi saya untuk menulis risalah kepedihan yang
menerpa umat Islam karena ibarat buih membuat kehormatan dan darah umat Islam
menjadi hina dina dan musuh-musuh Islam makin berani mengotori kehormatan dan
kesucian umat Islam.
Rasulullah
saw telah mengingatkan kita tentang nasib kita yang bagaikan “aklah”, makanan
yang siap disantap manusia yang rakus dan sangat jahat serta tidak mengenal
kebaikan bagi manusia lain. Manusialah yang membuat skenario pembantaian
manusia di dunia, terutama umat Islam.Kerakusan dan kedengkian orang-orang
Zionis yang hanya kenyang dengan darah umat Islam.
“Aklah”
yang disantap mereka dengan bertameng undang-undang zhalim yang dihasilkan oleh
organisasi-organisasi dunia.Penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang
dibalut slogan kemerdekaan, kadang dengan slogan reformasi atau dengan slogan
demokrasi.Pada gilirannya semua aksi dan tindakan yang bertentangan dengan
resolusi PBB selalu saja terus dilancarkan.Di tangan merekalah tangan-tangan
PBB.Hingga tiap kali mereka berlumuran darah, tiap kali itu pula PBB selalu
memberikan pengampunan atas segala kebrutalan dan kejahatan mereka, apalagi
mereka mempunyai senjata ampuh, yaitu demokrasi.
Dalam
semua peristiwa, Uni Eropa selalu segera mengusulkan upaya perundingan dalam
rangka memperkenalkan posisinya bahwa mereka selalu bergabung dengan kekuatan
sekutu internasional memberantas terorisme yang dilebelkan kepada orang-orang
Islam dan bangsa yang menentang kezhaliman dan kebrutalan Zionis dan Amerika,
meski yang menebar teror terhadap kemanusiaan itu adalah mereka.
Semua itu adalah awal dari pertarungan hakiki antara umat
Islam dengan tantangan dan perlawanan langsung musuh-musuh Islam setelah
sebelumnya mereka mengadakan invasi dan infiltrasi ideologi dan budaya kepada
generasi Islam.Allah berfirman, “Mereka
tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu
dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.Barangsiapa yang
murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka
itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah
penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 217)
Keberadaan musuh-musuh Islam di negeri muslim menjadi racun
bagi bangsa pendudukan yang mereka kotori dengan perilaku binatang dan tidak
berakhlaq yang cepat menular bagi bangsa dan generasi Islam di daerah
pendudukan. Di sisi lain gerakan misionaris terus bergulir di balik
organisasi-organisasi bantuan internasional.
Semua ini akan terus bergulir sepanjang masa di tubuh umat
Islam, kecuali kita menghidupkan ruh Islam, kita gelorakan semangat Islam dalam
jiwa umat Islam untuk melawan segala jenis serangan musuh-musuh Islam.
Ramaikanlah masjid dengan anak-anak, hiasi malamnya dengan
qiyamulail.Jadikanlah masjid sebagai pusat kegiatan para muslimah yang
kerudung-kerudungnya menjadi syiar Islam, memancarkan izzah
berislam.Hidupkanlah beragam syiar Islam agar manusia disejukkan dengan
fenomena Islam.Pada akhirnya semua konspirasi dan makar musuh-musuh Islam dapat
dipatahkan lebih telak lagi.Allah berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan
Allah menggagalkan tipu daya itu.Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
(Q.S. Al-Anfaal: 30)
Kebangkitan Islam dan maraknya bermunculan simbol-simbol
Islam hingga Islam menjadi lebih dikenal dan lebih menjanjikan.Kebangkitan ini
membuat musuh-musuh Islam merasa wajib memeranginya dan perlawanan mereka
selalu dilindungi dengan tameng legalitas dunia yang mereka genggam kuncinya
hingga semua resolusi dan kebijakan yang bergulir semata-mata untuk
kemaslahatan Barat.
Bagi Amerika yang terpenting baginya adalah memuaskan
hasratnya, berkuasa dan berpengaruh, layaknya sang koboi. Kupingnya hanya
mendengar ocehan-ocehan Zionis, sehingga masyarakat dunia tidak mengetahui tentang
tewasnya ribuan orang Islam di seantero negeri-negeri muslim.[Syaikh Mahdi Akif;Jangan Menjadi
Seperti Buih,eramuslim.com.Senin, 02/08/2010 09:45 WIB].
Orang yang terserang penyakit wahn adalah orang yang sudah
menjadikan dunia sebagai tujuan dari kehidupannya sehingga takut dikala disebutkan kata “mati” terhadap
dirinya, mereka berupaya menghilangkan peristiwa kematian dalam hidupnya,
padahal dunia ini bukanlah tempat kenikmatan, dunia hanya sementara sedangkan
akheratlah yang abadi. Sheikh Yusuf Qardawi
menyatakan dalam taujihnya;
Salah satu faktor yang
membantu manusia memiliki sikap sabar, khususnya terhadap musibah dan
kesulitan, adalah pandangannya terhadap dunia. Manusia yang memiliki pandangan
yang jelas tentang dunia, maka ia akan menjadi manusia yang sabar.
Hakekatnya dunia bukanlah
surga tempat kenikmatan dan juga bukan tempat yang abadi.Ia hanya berupa cobaan
dan pembebanan (taklif). Manusia diciptakan di dalamnya untuk diuji guna
memeprsiapkan kehidupan yang abadi di akhirat. Siapa yang telah mengetahui
watak kehidupan dunia seperti ini, maka ia tidak akan dikejutkan oleh
"malapetaka" dunia. Sesuatu yang datang dari dalam kehidupannya, maka
tak asing lagi bagi kehidupannya.
Tetapi bagi orang-orang yang
memandang kehidupan dunia ini sebagai jalan yang penuh ditaburi bunga dan
aroma, maka apabila ia tergelincir sedikit saja, akan dirasakannya sangat berat
dan sulit, karena sebelumnya tidak pernah membayangkannya. Al-Qur'an
mengisyarakatkan bahwa kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai kesengsaraan
dan derita. Firman Allah SWT:"Sungguh Kami telah ciptakan manusia
berada dalam susah payah." (QS. al-Balad [90] : 4)
Selain itu juga diisyaratkan
bahwa watak kehidupan ini tida pernah konstan dalam suatu keadaan. Hari membawa
kebaikan dan esok har membawa kesengsaraan.Allah Ta'ala berfirman :"Jika
kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat lukayang
serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara
manusia (agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Ali Imran [3] :
140)
Allah menciptakan kehidupan
ini dengan memasukkan antara kesenangan dan kesengsaraan, antara kecintaan dan
kebencian.Tidak ada kesenangan dan kenikmatan tanpa ada kesengsaraan dan
kepedihan, tidak ada kesehatan tanpa diganggu rasa sakit, atau kebahagiaan
tanpa kesedihan atau keamanan tanpa ketakutan.Sebab hal ini menyalahi kodrat
kehidupan dan peranan manusia di dalamnya.Kenyataan inilah yang disadari oelh
para filsuf, penyair dan pemikir sejak dahulu kala, sehingga banyak kita temui
ungkapan mereka yang mengenai hal ini.
Ali bin Ali Talib pernah
ditanya tentang dunia, kemudian menjawab, "Apa yang dapat aku katakan
tentang dunia yang awalnya tangis, tengahnya kesengsaraan, dan ujungnya ketidak
abadian ?"
Di dalam kitab Zadul Ma'ad,
Ibn Qayyim menjelaskan tentang 'obat' panas dan sedihnya musibah :
"Diantara penyembuhannya
ialah, hendaknya ia memadamkan api musibah itu dengan kesejukan meneledani
orang-orang yang mengalami musibah. Hendaknya diketahui bahwa di setiap lembah
itu mash terdapat orang-orang yang bahagia, tetapi hendaknya pula ia menoleh ke
kanan melihat kesengsaraan yang ada dan menoleh ke kiri melihat derita yang
menimpa. Kalau saja ia menjelejahi dunia, niscaya akan mendapati bahwa tidak
ada orang yang luput dari cobaan. Baik dengan kehilangan kekasih maupn
menderita sesuatu yang tidak disukai.
Sesungguhnya kebahagiaan dunia
itu laksana mimpi orang-orang yang sedang tidur seperti bayangan. Jika
membuatnya tertawa sejenak maka akan membuatnya bahagia sehari, maka akan
membuatnya sengsara setahun. Jika menghiburnya sebentar, maka akan
menyedihkannya secara berkepanjangan.[Sheikh
Yusuf Qardawi, Ketahuilah Dunia Bukan Tempat Kenikmatan,eramuslim.com.Senin,
18/04/2011 13:58 WIB].
Justru yang menjadikan umat islam itu lemah, tidak ada
kemampuan dan daya upaya untuk mengalahkan musuh-musuhnya dikala jumlahnya
sudah banyak, mayoritas tapi berada dalam kelemahan, tidak ada kekuatan lagi,
mudah sekali dimusnahkan oleh musuh-musuhnya sehingga ujian dan fitnah yang
dialami ummat ini sulit untuk diprediksi kapan berakhirnya, apalagi penyakit al
wahn sedang meradang pada ummat ini maka dibutuhkan waktu yang lama untuk
menyembuhkannya, ibarat fasien maka penyembuhan penyakit itu membutuhkan
kesabaran.
Suatu ketika tampillah
seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang kapan keberhasilan da’wah
ini dapat dirasakan padahal sudah habis dana, waktu dan usaha yang maksimal,
mana pertolongan Allah itu ? pinta mereka. Rasulullah lansung menjawab,”Dahulu orang-orang sebelum kamu ini karena
da’wah ada diantara mereka yang harus
disisir rambutnya dengan sisir yang terbuat dari besi sehingga
terkelupas kulit kepalanya, dipotong tangan dan kakinya, dicincang bahkan
nyaris dibunuh, tapi mereka tetap sabar, kalian terlalu terburu-buru”,
memang nampaknya sabar itu tidak ada batasnya dan keberhasilan da’wah tidak
tergantung dari usia generasi tapi sepanjang usia dunia ini. Perjuangan akan
berlansung hingga akhir hayat hingga fitrnah itu selesai sehingga dienullah ini
tegak di muka bumi tanpa adanya gangguan dari siapapun maka selama itu pula
segala kekuatan untuk meraihnya harus diupayakan apalagi kontrak sudah
ditandatangani dengan Allah sebagaimana firman-Nya;
“
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah
di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111].
Doktor
Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang
anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh
musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya dia akan
diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah
mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan
jihad kapan dibutuhkan.
Allahpun
sejak risalah ini diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang
merongrong kewibawaan islam; ”Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan
pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak
akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60].
Al wahn
adalah penyakit dengan indikasi, hubbuddunya wakarahiyatulmaut, yaitu terlalu
cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian, siapa saja terlalu cinta
kepada sesuatu maka pasti dia akan takut ditinggalkan atau meninggalkan sesuatu
itu, bahkan Rasul memprediksi pula, bahwa yang ditakuti terhadap ummatnya
bukanlah kemiskinan yang menyengsarakan, hal ini merupakan kehidupan yang sudah
biasa dilalui sejak dahulu sehingga ummat ini mampu tegar dan kuat menghadapi
berbagai ujian, tapi yang beliau takutkan kelak adalah dikala ummat islam sudah
mampu menguasai Romawi dan Persia, bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan,
dan realitanya memang begitu, orang yang sudah biasa hidup senang dengan segala
fasilitas serta kemewahan maka cendrung
lemah dalam beraktivitas, hilang kekuatan dan lemah pemikiran, wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar