Jumat, 26 Februari 2016

274. Al Wahn



Islam mengajarkan kepada ummatnya agar hidup berkualitas yaitu kuat, tegar, istiqamah, hal itu berangkat dari berbagai ujian dan tempaan kehidupan yang dialaminya sepanjang hayat.Manusia akan ditempa oleh waktu, lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya selama mengontrak sebidang kehidupan di dunia ini, seorang Nabi lebih dahsyat tempaannya daripada manusia biasa, cobaan yang diterimanya akan menentukan sampai dimana mutu manusia itu.

            Dalam menghadapi segala tempaan ini, tidak sedikit manusia yang gugur dan gagal, putus asa dalam kehampaan, tidak sanggup menerimanya ibarat padi dalam satu tangkai yang memiliki beberapa butir, setelah datang berbagai bencana seperti serangan hama, angin serta banjir maka tidaklah semuanya akan jadi padi yang montok dan berisi, tentu ada juga butir yang hampa hingga tidak masuk dalam hitungan.

            Manusia dalam menyelesaikan hidup ini cendrung kepada apa yang nampak lahir saja, tidak mau menguak makna yang terkandung di balik itu, setiap yang lahir belum tentu baik bagi manusia, nampaknya baik tetapi terselip penderitaan.Kerugian dalam perdagangan adalah hal yang tidak diinginkan manusia siapapun orangnya, tetapi dibalik itu bagi kita akan menjadikan selalu berhati-hati, tidak seenaknya dalam menggunakan modal.

            Tidak lulus dalam ujian bagi seorang pelajar adalah beban yang memusingkan namun dibalik itu akan menjadikan pelajar tadi semakin tekun dan rajin mengikuti pelajaran dimasa datang.

            Terlalu sulit bagi manusia untuk mencintai hal-hal yang tidak disukai seperti musibah, kegagalan dan lain-lainnya walaupun disebelah kejadian itu terkandung hikmah yang besar, Allah berfirman, ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” [Al Baqarah 2;216].

            Kepercayaan kepada ketentuan Allah menimbulkan keseimbangan jiwa, tidak putus asa bertemu suatu kegagalan, hidupnya selalu optimis dan tidak pula membanggakan diri karena sebuah kemujuran sebab segala sesuatu bukanlah hasil usahanya sendiri. Juga akan membawa manusia kepada peningkatan ketaqwaan bahkan segala keberuntungan maupun kegagalan dapat dijadikan sebagai ujian dari Allah, ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji lagi   ?”[Al Ankabut 29;2].

            Dalam menghadapi ujian ini harus pula terujud sikap-sikap keimanan bagi seorang muslim yaitu sesuai dengan At Taubah 9;111-112,”Sesungguhnya Allah telah memberi dari  orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka, mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah lebih menepati janjinya selain Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum Allah, dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.

Fitnah adalah ujian, tempaan dan pengkaderan yang diberikan kepada orang-orang beriman dalam rangka untuk meningkatkan kualitas imannya, sedangkan ibtila' adalah menguji atau mengetes, ujian yang datang dari Allah kepada hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan. Fitnah dan ibtila' diberikan Allah kepada hamba-Nya ada dua macam yaitu keburukan dan kebaikan sebagaimana firman Allah  dalam surat Al Anbiya' 21;35"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan".

Fitnah yang berupa kesenangan seperti harta yang banyak, jabatan yang tinggi, populeritas, cantik atau tampan, luasnya ilmu dan lain-lain. Akibatnya banyak yang tidak bersyukur, merasa lebih tinggi dari orang lain, jauh dari ajaran islam dan cendrung sombong.

Fitnah yang berupa kesengsaraan seperti kemiskinan, kelaparan, kematian, ketakutan, penyiksaan, kesedihan, pengusiran, penindasan dan lain-lain, biasanya hal ini mudah dihadapi oleh siapapun dengan kesabaran;"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" [Al Baqarah 2;155]

Adapun cakupan fitnah itu secara individu sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi ayub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain. Sedangkan secara komunal seperti yang dialami ummat islam di zaman jahiliyyah, ummat islam di Moro, Bosnia, Kashmir, India, Afghanistan dan ummat islam lainnya yang mengalami penindasan oleh bangsa lain.

            Syaikh Mahdi Akif memberikan pesan kepada kaum muslimin berkaitan dengan kualitas ummat islam sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah.
Kepada seluruh umat Islam di manapun berada, saya tujukan risalah ini, sebagai pengingat akan amanah aqidah yang telah diterima manusia. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (Q.S. Al-Ahzaab: 72)
Risalah ini merupakan ajakan untuk sama-sama merenungi sabda Rasulullah saw. “Bangsa-bangsa di dunia berlomba-lomba mengerubuni kalian layaknya mereka mengerubungi makanan (untuk disantap).Kemudian sahabat bertanya, “Apa karena kami saat itu sedikit yang Rasulullah?Rasulullah menjawab, “Tidak, bahkan kalian berjumlah besar saat itu, tetapi kalian seperti buih (yang tidak berbobot), seperti buih air sungai.”
Kenyataan seperti ini menjadi dorongan bagi saya untuk menulis risalah kepedihan yang menerpa umat Islam karena ibarat buih membuat kehormatan dan darah umat Islam menjadi hina dina dan musuh-musuh Islam makin berani mengotori kehormatan dan kesucian umat Islam.
Rasulullah saw telah mengingatkan kita tentang nasib kita yang bagaikan “aklah”, makanan yang siap disantap manusia yang rakus dan sangat jahat serta tidak mengenal kebaikan bagi manusia lain. Manusialah yang membuat skenario pembantaian manusia di dunia, terutama umat Islam.Kerakusan dan kedengkian orang-orang Zionis yang hanya kenyang dengan darah umat Islam.
“Aklah” yang disantap mereka dengan bertameng undang-undang zhalim yang dihasilkan oleh organisasi-organisasi dunia.Penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dibalut slogan kemerdekaan, kadang dengan slogan reformasi atau dengan slogan demokrasi.Pada gilirannya semua aksi dan tindakan yang bertentangan dengan resolusi PBB selalu saja terus dilancarkan.Di tangan merekalah tangan-tangan PBB.Hingga tiap kali mereka berlumuran darah, tiap kali itu pula PBB selalu memberikan pengampunan atas segala kebrutalan dan kejahatan mereka, apalagi mereka mempunyai senjata ampuh, yaitu demokrasi.
Dalam semua peristiwa, Uni Eropa selalu segera mengusulkan upaya perundingan dalam rangka memperkenalkan posisinya bahwa mereka selalu bergabung dengan kekuatan sekutu internasional memberantas terorisme yang dilebelkan kepada orang-orang Islam dan bangsa yang menentang kezhaliman dan kebrutalan Zionis dan Amerika, meski yang menebar teror terhadap kemanusiaan itu adalah mereka.
Semua itu adalah awal dari pertarungan hakiki antara umat Islam dengan tantangan dan perlawanan langsung musuh-musuh Islam setelah sebelumnya mereka mengadakan invasi dan infiltrasi ideologi dan budaya kepada generasi Islam.Allah berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 217)

Keberadaan musuh-musuh Islam di negeri muslim menjadi racun bagi bangsa pendudukan yang mereka kotori dengan perilaku binatang dan tidak berakhlaq yang cepat menular bagi bangsa dan generasi Islam di daerah pendudukan. Di sisi lain gerakan misionaris terus bergulir di balik organisasi-organisasi bantuan internasional.

Semua ini akan terus bergulir sepanjang masa di tubuh umat Islam, kecuali kita menghidupkan ruh Islam, kita gelorakan semangat Islam dalam jiwa umat Islam untuk melawan segala jenis serangan musuh-musuh Islam.

Ramaikanlah masjid dengan anak-anak, hiasi malamnya dengan qiyamulail.Jadikanlah masjid sebagai pusat kegiatan para muslimah yang kerudung-kerudungnya menjadi syiar Islam, memancarkan izzah berislam.Hidupkanlah beragam syiar Islam agar manusia disejukkan dengan fenomena Islam.Pada akhirnya semua konspirasi dan makar musuh-musuh Islam dapat dipatahkan lebih telak lagi.Allah berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Q.S. Al-Anfaal: 30)

Kebangkitan Islam dan maraknya bermunculan simbol-simbol Islam hingga Islam menjadi lebih dikenal dan lebih menjanjikan.Kebangkitan ini membuat musuh-musuh Islam merasa wajib memeranginya dan perlawanan mereka selalu dilindungi dengan tameng legalitas dunia yang mereka genggam kuncinya hingga semua resolusi dan kebijakan yang bergulir semata-mata untuk kemaslahatan Barat.

Bagi Amerika yang terpenting baginya adalah memuaskan hasratnya, berkuasa dan berpengaruh, layaknya sang koboi. Kupingnya hanya mendengar ocehan-ocehan Zionis, sehingga masyarakat dunia tidak mengetahui tentang tewasnya ribuan orang Islam di seantero negeri-negeri muslim.[Syaikh Mahdi Akif;Jangan Menjadi Seperti Buih,eramuslim.com.Senin, 02/08/2010 09:45 WIB].

Orang yang terserang penyakit wahn adalah orang yang sudah menjadikan dunia sebagai tujuan dari kehidupannya sehingga takut  dikala disebutkan kata “mati” terhadap dirinya, mereka berupaya menghilangkan peristiwa kematian dalam hidupnya, padahal dunia ini bukanlah tempat kenikmatan, dunia hanya sementara sedangkan akheratlah yang abadi. Sheikh Yusuf Qardawi menyatakan dalam taujihnya;

Salah satu faktor yang membantu manusia memiliki sikap sabar, khususnya terhadap musibah dan kesulitan, adalah pandangannya terhadap dunia. Manusia yang memiliki pandangan yang jelas tentang dunia, maka ia akan menjadi manusia yang sabar.

Hakekatnya dunia bukanlah surga tempat kenikmatan dan juga bukan tempat yang abadi.Ia hanya berupa cobaan dan pembebanan (taklif). Manusia diciptakan di dalamnya untuk diuji guna memeprsiapkan kehidupan yang abadi di akhirat. Siapa yang telah mengetahui watak kehidupan dunia seperti ini, maka ia tidak akan dikejutkan oleh "malapetaka" dunia. Sesuatu yang datang dari dalam kehidupannya, maka tak asing lagi bagi kehidupannya.

Tetapi bagi orang-orang yang memandang kehidupan dunia ini sebagai jalan yang penuh ditaburi bunga dan aroma, maka apabila ia tergelincir sedikit saja, akan dirasakannya sangat berat dan sulit, karena sebelumnya tidak pernah membayangkannya. Al-Qur'an mengisyarakatkan bahwa kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai kesengsaraan dan derita. Firman Allah SWT:"Sungguh Kami telah ciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. al-Balad [90] : 4)

Selain itu juga diisyaratkan bahwa watak kehidupan ini tida pernah konstan dalam suatu keadaan. Hari membawa kebaikan dan esok har membawa kesengsaraan.Allah Ta'ala berfirman :"Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat lukayang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Ali Imran [3] : 140)

Allah menciptakan kehidupan ini dengan memasukkan antara kesenangan dan kesengsaraan, antara kecintaan dan kebencian.Tidak ada kesenangan dan kenikmatan tanpa ada kesengsaraan dan kepedihan, tidak ada kesehatan tanpa diganggu rasa sakit, atau kebahagiaan tanpa kesedihan atau keamanan tanpa ketakutan.Sebab hal ini menyalahi kodrat kehidupan dan peranan manusia di dalamnya.Kenyataan inilah yang disadari oelh para filsuf, penyair dan pemikir sejak dahulu kala, sehingga banyak kita temui ungkapan mereka yang mengenai hal ini.

Ali bin Ali Talib pernah ditanya tentang dunia, kemudian menjawab, "Apa yang dapat aku katakan tentang dunia yang awalnya tangis, tengahnya kesengsaraan, dan ujungnya ketidak abadian ?"

Di dalam kitab Zadul Ma'ad, Ibn Qayyim menjelaskan tentang 'obat' panas dan sedihnya musibah :
"Diantara penyembuhannya ialah, hendaknya ia memadamkan api musibah itu dengan kesejukan meneledani orang-orang yang mengalami musibah. Hendaknya diketahui bahwa di setiap lembah itu mash terdapat orang-orang yang bahagia, tetapi hendaknya pula ia menoleh ke kanan melihat kesengsaraan yang ada dan menoleh ke kiri melihat derita yang menimpa. Kalau saja ia menjelejahi dunia, niscaya akan mendapati bahwa tidak ada orang yang luput dari cobaan. Baik dengan kehilangan kekasih maupn menderita sesuatu yang tidak disukai.

Sesungguhnya kebahagiaan dunia itu laksana mimpi orang-orang yang sedang tidur seperti bayangan. Jika membuatnya tertawa sejenak maka akan membuatnya bahagia sehari, maka akan membuatnya sengsara setahun. Jika menghiburnya sebentar, maka akan menyedihkannya secara berkepanjangan.[Sheikh Yusuf Qardawi, Ketahuilah Dunia Bukan Tempat Kenikmatan,eramuslim.com.Senin, 18/04/2011 13:58 WIB].

Justru yang menjadikan umat islam itu lemah, tidak ada kemampuan dan daya upaya untuk mengalahkan musuh-musuhnya dikala jumlahnya sudah banyak, mayoritas tapi berada dalam kelemahan, tidak ada kekuatan lagi, mudah sekali dimusnahkan oleh musuh-musuhnya sehingga ujian dan fitnah yang dialami ummat ini sulit untuk diprediksi kapan berakhirnya, apalagi penyakit al wahn sedang meradang pada ummat ini maka dibutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya, ibarat fasien maka penyembuhan penyakit itu membutuhkan kesabaran. 

Suatu ketika tampillah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang kapan keberhasilan da’wah ini dapat dirasakan padahal sudah habis dana, waktu dan usaha yang maksimal, mana pertolongan Allah itu ? pinta mereka. Rasulullah lansung menjawab,”Dahulu orang-orang sebelum kamu ini karena da’wah ada diantara mereka yang harus  disisir rambutnya dengan sisir yang terbuat dari besi sehingga terkelupas kulit kepalanya, dipotong tangan dan kakinya, dicincang bahkan nyaris dibunuh, tapi mereka tetap sabar, kalian terlalu terburu-buru”, memang nampaknya sabar itu tidak ada batasnya dan keberhasilan da’wah tidak tergantung dari usia generasi tapi sepanjang usia dunia ini. Perjuangan akan berlansung hingga akhir hayat hingga fitrnah itu selesai sehingga dienullah ini tegak di muka bumi tanpa adanya gangguan dari siapapun maka selama itu pula segala kekuatan untuk meraihnya harus diupayakan apalagi kontrak sudah ditandatangani dengan Allah sebagaimana firman-Nya;

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111].

Doktor Abdullah Azzam seorang motor jihad di Afghanistan yang syahid bersama dua orang anak lelakinya, pernah menyatakan kepada keluarga muslim,”Jadikanlah keluargamu seperti sarang harimau sehingga ditakuti oleh musuh-musuhmu, jangan kau jadikan sebagai sarang domba niscaya dia akan diterkam srigala”, artinya rumah tangga muslim sejak awal sudah mempersiapkan kandidat mujahid dalam keluarganya yang siap dikirim ke medan jihad kapan dibutuhkan.

Allahpun sejak risalah ini diturunkan telah menyampaikan agar ummat ini siap  siaga menghadapi segala kemungkinan yang merongrong kewibawaan islam; ”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”[Al Anfal 8;60].

Al wahn adalah penyakit dengan indikasi, hubbuddunya wakarahiyatulmaut, yaitu terlalu cinta kepada dunia dan terlalu takut dengan kematian, siapa saja terlalu cinta kepada sesuatu maka pasti dia akan takut ditinggalkan atau meninggalkan sesuatu itu, bahkan Rasul memprediksi pula, bahwa yang ditakuti terhadap ummatnya bukanlah kemiskinan yang menyengsarakan, hal ini merupakan kehidupan yang sudah biasa dilalui sejak dahulu sehingga ummat ini mampu tegar dan kuat menghadapi berbagai ujian, tapi yang beliau takutkan kelak adalah dikala ummat islam sudah mampu menguasai Romawi dan Persia, bergelimang dengan kesenangan dan kemewahan, dan realitanya memang begitu, orang yang sudah biasa hidup senang dengan segala fasilitas serta kemewahan  maka cendrung lemah dalam beraktivitas, hilang kekuatan dan lemah pemikiran, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].







Tidak ada komentar:

Posting Komentar