PAUD
adalah singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini, selain merupakan program
Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia juga
seharusnya program semua keluarga agar anak-anaknya kelak menjadi generasi yang
baik, semuanya berawal dari pendidikan yang digelar sejak dini. Anak yang baik
tidaklah datang dengan sendirinya tapi harus diusakan oleh orangtuanya dengan
berbagai upaya untuk memberikan perhatian maksimal, anak berkualitas bukan
hanya untuk kepentinga anak itu saja tapi dia merupakan asset orangtua dan
bangsa.
Umumnya orang tua menginginkan
agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak yang shalih, agar setelah dewasa
mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya.Namun obsesi orang tua kadang
tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya.Padahal usaha merupakan salah satu
faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter anak. Obsesi
tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.
Bahkan sebagian orang tua
akibat pandangan yang keliru menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi
bintang film (Artis), bintang iklan, fotomodel dan lain-lain. Mereka
beranggapan dengan itu semua kelak anak-anak mereka dapat hidup makmur seperti
kaum selebritis yang terkenal itu. Padahal dibalik itu semua mereka kering akan
informasi tentang perihal kehidupan kaum selebritis yang mereka puja-puja. Hal
ini terjadi akibat orang tua yang sering mengkonsumsi berbagai macam
acara-acara hiburan diberbagai media cetak dan elektronik, karena itu opininya
terbangun atas apa yang mereka lihat selama ini.
Banyak orang tua yang
mementingkan perkembangan anak dari segi intelektual, fisik dan ekonomi semata
dan mengabaikan perkembangan iman.Orang tua terkadang berani melakukan hal
apapun yang penting kebutuhan pendidikan anak-anaknya dapat terpenuhi,
sementara untuk memasukkan anak-anak mereka pada TK-TP Al-Qur’an terasa begitu
enggan.Padahal aspek iman merupakan kebutuhan pokok yang bersifat mendasar bagi
anak.
Ada juga orang tua yang
menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka dari keempat masalah pokok
di atas, namun usaha yang dilakukannya kearah tersebut sangat diskriminatif dan
tidak seimbang. Sebagai contoh: Ada orang tua yang dalam usaha mencerdaskan
anaknya dari segi intelektual telah melaksanakan usahanya yang cukup maksimal,
segala sarana dan prasarana kearah tercapainya tujuan tersebut dipenuhinya
dengan sungguh-sungguh namun dalam usahanya memenuhi kebutuhan anak dari hal
keimanan, orang tua terlihat setengah hati, padahal mereka telah memperhatikan
anaknya secara bersungguh-sungguh dalam segi pemenuhan otaknya.
Karena itu sebagian orang tua
yang bijaksana, mesti mampu memperhatikan langkah-langkah yang harus di tempuh
dalam merealisasikan obsesinya dalam melahirkan anak yang shalih.[Muh. S.
Darwis, Anak Shalih Adalah Aset Orang
Tua, www.alsofwah.or.id/khutbah].
Jauh
sebelum adanya lembaga pendidikan dengan nama PAUD, pendidikan anak dalam islam
sudah menjadi hal yang penting diberikan sejak dini bahkan semenjak sang bayi
berada dalam kandungan ibunya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam telah beRsabda,"Tidaklah anak manusia dilahiRkan melainkan pasti lahiR di atas
fitRahnya, maka kemudian ORang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau
NasRani atau Majusi."(HR. al-BukhaRi dan Muslim).
BeRdasaRkan hadits ini kita mengetahui, bahwa anak lahiR dalam keadaan
fitRah (beRtauhid dan beRpOtensi baik). Jika kemudian anak menjadi menyimpang,
ia menjadi Yahudi/NasRani/ Majusi, dan ahli maksiat, maka ORang tua memiliki
andil besaR sebagai penyebabnya. Mengapa?
Sebabnya adalah: PeRtama, ORang tua adalah pihak yang sejak awal paling
dekat dan beRpengaRuh langsung kepada anak.
Kedua, ORang tua tidak membeRikan peRawatan dan pendidikan yang tepat
sejak usia dini. ORang tua justRu membeRikan pendidikan yang menyimpang daRi
Tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jika ORang tua mencaRi Rizki (nafkah) dengan caRa yang batil (hasil menipu,
mencuRi, kORupsi, Riba, memeRas, dan sejenisnya), maka nafkah teRsebut tidak
beRkah (tidak mengandung kebaikan). Lantas, anak dan istRi, juga diRi ayah
teRsebut tumbuh daRi peRa-watan fisik/jasad (nafkah) yang haRam.PengaRuhnya,
hati manusia menjadi keRas untuk meneRima kebenaRan daRi Allah Ta’ala dan
RasulNya.
Hal itu akan
dipeRpaRah lagi dengan caRa, haRta daRi hasil yang haRam teRsebut dibelanjakan
untuk makanan, minuman, dan hal-hal lain yang haRam (untuk meROkOk, beRjudi,
khamaR, naRkOba, membeli daging babi dan maRus/daRah binatang dan sejenisnya).
Maka tumbuhlah jasmani yang tidak sehat.Inilah bentuk peRawatan yang
menyimpang.
Adapun
pendidikan yang menyimpang teRlihat dengan jelas, manakala ORang tua
menyeRahkan pendidikan anak meReka pada sekOlah-sekOlah yang tidak menghaRgai
pendidikan Agama secaRa memadai. Hal itu dipeRbuRuk dengan pendidikan agama
yang di-ajaRkan itu pun menyimpang daRi sumbeR Rujukan Islam (al-QuR`an dan
as-Sunnah).
BeRbaRengan dengan hal itu, anak dicekOki dengan beRbagai acaRa di TV,
RadiO, dan sejenisnya selama beRjam-jam setiap haRinya. Demikian halnya
di masyaRakat maRak sekali adanya acaRa panggung-panggung hibuRan yang jauh
daRi tuntunan Islam.Dileng-kapi dengan peRgaulan yang dialami anak, baik di
lingkungan keluaRga besaRnya, di masyaRakat, dan di beRbagai kesempatan, jauh
daRi akhlak Islami. DisempuRnakan dengan bahan bacaan (majalah, suRat kabaR,
tablOid, nOvel, puisi, kaset/CD/DVD, dan sejenisnya) yang mengumbaR kemaksiatan
(pORnOgRafi dan sejenisnya), maka genap lengkap dan sempuRnalah pendidikan anak
yang menyimpang menjadi menu/pROgRam/kuRikulum yang mengaRahkan anak menjadi
Yahudi, NasRani, atau Majusi.
Sungguh besaR pengaRuh ORang tua teRhadap anak. Pepatah mengatakan, "Mangga jatuh tidak jauh daRi pOhOnnya."
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah beRsabda,"Agama seseORang teRgantung
kepada siapa yang menjadi ORang yang paling dicintainya. Maka cOba peRhatikan
siapa ORang yang paling dicintai Oleh salah seORang daRi kalian." (HR. Ahmad).
SadaR atau pun tidak, ORang
tua dan masyaRakat yang demi-kian telah dengan mulus membeRikan jalan kepada
pROgRam-pROgRam keRja Yahudi, NasRani, dan Majusi, yang dengan gigih
menyediakan semua waktu, tenaga, dan pikiRan, pROgRam hibuRan, seRta haRtanya
di dalam pROgRam pemuRtadan umat Islam dalam bentuk 'tidak haRus beRpindah
agama'. [SuROsO Abd. Salam, M.Pd.,Mendidik Anak Menjawab Tantangan Zaman::
COmpiled by ORiDO™ ::].
Kita bersyukur dengan adanya
lembaga pendidikan PAUD untuk anak-anak berarti ada sinerji pendidikan anak
yang diberikan di PAUD dengan pendidikan
dirumah, Prof Dr Haryono Suyono menyebutkan urgensi PAUD
bagi perkembangan anak-anak usia dini sebagaimanb tulisan beliau yang dimuat
pada harianpelita.com.
Masa
anak-anak usia 0 hingga 6 tahun, atau bahkan 0 hingga 8 tahun biasanya dianggap
sebagai masa yang paling berharga dalam perkembangan anak. Inilah masa yang
paling penting untuk mengembangkan dasar-dasar pengembangan kemampuan fisik,
bahasa, sosial-emosional, konsep diri, seni, moral dan, nilai-nilai agama
sehingga seluruh potensi anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.Anak
pada masa yang biasa disebut sebagai “golden period” tersebut bisa mengalami
pertumbuhan kemajuan yang sangat pesat apabila memperoleh rangsangan yang tepat
dari keluarga dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Oleh karena itulah, pada waktu ini,
pengembangan anak sejak usia dini telah ditetapkan sebagai hak anak yang harus
dipenuhi agar anak tidak mengalami hambatan dalam perkembangan selanjutnya.
Dalam
upaya pembangunan yang berkeadilan, sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden
Nomor 3 Tahun 2010, disebutkan bahwa upaya pembangunan pro rakyat adalah
memihak kepada keadilan untuk anak dan kaum perempuan. Untuk mengoptimalkan
usaha tersebut, kita menyambut pengembangan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya)
di seluruh Indonesia yang memberi bobot yang sangat tinggi terhadap upaya
pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD.
Dalam
gerakan pemberdayaan tersebut, keberadaan PAUD dianggap sangat vital agar
tumbuh kembang anak pada masa emas dapat dituntun secara profesional melalui
upaya pemahaman, pembinaan, dan pengembangan potensi anak sedini mungkin,
sesuai dengan tahap perkembangan anaknya.
Secara nasional, upaya ini didasarkan pula
pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal
1 angka 14 yang mengamanatkan pembinaan anak sejak lahir sampai dengan usia
enam tahun. Di samping itu, pendidikan dalam PAUD tersebut merupakan persiapan
yang sangat baik untuk anak sejak dini dalam rangka pendidikan yang lebih baik
di masa selanjutnya.
Karena
itu, dalam proses pemberdayaan keluarga yang paripurna melalui Pos Pemberdayaan
Keluarga (Posdaya), dianjurkan agar setiap Posdaya segera membentuk PAUD
sebagai sarana untuk menampung semua anak balita di dalamnya. Dianjurkan agar
orang tua anak balita, khususnya ibu anak balita, tidak menunggu anaknya
mengikuti kegiatan PAUD tetapi menyerahkannya kepada guru
pengasuhnya.Anak-anak, melalui keikutsertaan dalam PAUD, dapat bergaul dengan
teman sebaya dan merasa nyaman. Orang tuanya menyerahkan sosialisasi anaknya
selama mengikuti kegiatan PAUD kepada guru pembimbingnya tanpa rasa khawatir
apa pun. Dengan demikian, anak dilatih untuk percaya kepada diri sendiri dan
juga percaya kepada temannya seakan saudaranya sendiri. Rasa percaya diri sejak
dini tersebut akan sangat membekas sampai dewasa nanti.
[Pendidikan Usia Dini Cikal Bakal Anak Cerdas Senin 2 Mei
2011 | 01:24].
Pendidikan anak usia dini yang ada di tengah masyarakat apakah pemerintah yang mengelolanya ataupun lembaga pendidikan swasta sudah ada sejak dahulu diantaranya Play Group, Taman Kanak-Kanak, Taman Al Qur’an dan Taman bermain lainnya, pada usia ini dan di lembaga ini anak memang belum belajar tapi mereka bermain bersama teman dan gurunya yang permainan tadi mengandung nilai-nilai pendidikan, melatih kemandirian dan disiplinan. Anak-anak yang bergabung dalam Play Group, PAUD dan TK ini luar biasa hasilnya, hal itu nampak kelak ketika mereka sudah masuk SD berbeda dengan mereka yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan prasekolah sebelumnya, disini pentingnya PAUD bagi anak-anak kita.
Usia 0-2 bulan merupakan periode golden age, dimana otak anak akan mulai berkembang. Mendidik anak dengan cara yang benar pada masa-masa ini akan membuat anak terbiasa untuk belajar dan mulai mengenal lingkungan sekitarnya sedikit demi sedikit.
Di usia sekitar 18 bulan-4
tahun, otak anak pun akan turut berkembang dan memiliki rasa ingin tahu yang
semakin besar. Di usia ini, anak-anak sudah mulai mulai bisa bicara per
kalimat, dan sudah mengenal banyak hal. Namun, sayangnya jika tak diarahkan
dengan benar, pengetahuan anak tak akan bertambah.
"Di usia ini, anak sudah
mulai paham dengan berbagai hal di sekitarnya, cara berkomunikasinya pun sudah
berkembang. Sayang sekali jika harus terhambat karena penanganan yang kurang
tepat," tukas Lely Tobing, Direktur Twinkle Stars, saat open house di
lembaga pendidikannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (10/9/2011).
Di sinilah letak pentingnya
pendidikan prasekolah.Di lingkungan prasekolah, otak anak distimulasi untuk
siap belajar di jenjang selanjutnya, kemandirian mereka dilatih dalam format
bermain yang terarah."Bermain juga merupakan salah satu mediator untuk
mendapatkan informasi dengan rileks dan menyenangkan untuk anak," tambah
Lely.
Dengan adanya pendidikan prasekolah,
anak-anak mulai usia 18 bulan-6 tahun dididik untuk belajar berbagai hal sesuai
dengan usia dan kemampuan perkembangan otaknya. Mereka juga dilatih untuk
mempersiapkan diri memasuki masa sekolah. Misalnya, di usia 3 tahun, anak yang
mengikuti pendidikan prasekolah sudah diperkenalkan dengan alat tulis, dan cara
menggunakannya. Dengan demikian, ketika sudah duduk di sekolah dasar, ia sudah
mengerti cara memegang alat tulis dan menulis dasar. Sehingga, biasanya anak
yang mendapatkan pendidikan prasekolah lebih siap melanjutkan proses
belajarnya.
Pendidikan prasekolah selain
mendidik anak sambil bermain, umumnya juga berfokus pada pengembangan
kemandirian, kedisiplinan, dan yang paling penting adalah kehidupan sosial pada
anak.Di sini, anak-anak juga diajarkan bagaimana hidup bermasyarakat sembari
bermain berkelompok dan teman-teman lainnya.
"Dengan demikian,
anak-anak bisa mengambil pelajaran bahwa manusia hidup bersama dengan manusia
lainnya, dan harus saling membantu serta bisa hidup mandiri," tukasnya.[Pendidikan
Pra Sekolah, Pentingkah?Christina Andhika Setyanti
|KOMPAS.comSabtu, 10 September 2011 | 23:44 WIB].
Ada beberapa nilai pendidikan
yang harus ditanamkan oleh orangtua di rumah tangga, begitu juga seharusnya
nilai pendidikan itu diberikan saat anak mengikuti pendidikan pra sekolah
dengan metode yang dikemas secara bermain, yang penting nilai-nilainya tertanam
dan terbiasakan pada kehidupan anak kelak, nilai-nilai itu sesuai dengan konsep
pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah sebagaimana yang dikutip dari www.mediaummat.com berikut ini;
Memang, tak mudah membesarkan anak hingga menjadi pribadi
ideal, meraih sukses dunia-akhirat.Butuh kesabaran, kerja keras, keikhlasan,
dan masih banyak lagi. Tanpa bermaksud menyederhanakan, berikut beberapa tips
yang diaplikasikan oleh orang tua yang disarikan dari tata cara mendidik anak
ala Rasulullah SAW:
1. Menanamkan Nilai-nilai Tauhid
Mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal
beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya,
tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah.Selain itu, orang tua harus menekankan
bahwa setiap langkah manusia selalu dalam pengawasan Allah Swt. dan penerapan
konsep tersebut adalah dengan berusaha menaati peraturan dan menjauhi
larangan-Nya.Orang tua selaku guru pertama bagi anak-anaknya harus mampu menyesuaikan
tingkah lakunya dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.Ini adalah
pendidikan yang paling penting di atas hal-hal penting lainnya.
2. Menjadi Sahabat dan Mendidik
dengan Keteladanan
Setiap anak akan belajar dari lingkungannya dan dalam hal ini
lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya.
Orang-orang di sekelilingnya akan menjadi model dan contoh dalam bersikap.
Orang tua harus menjadi teladan anak-anaknya.Beri contoh yang baik sesuai
nasihat dan ucapannya kepada para anak.Akan lucu jika yang disampaikan orang
tua kepada anak-anaknya ternyata tidak dilakukan oleh orang tua itu
sendiri.Keteladanan sangat menentukan, terlebih di zaman sekarang media
tontonan tidak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan
akhlak anak-anak Muslim.
3. Mendidik dengan Kebiasaan
Kebaikan harus dimulai dengan pembiasaan.Anak harus
dibiasakan bangun pagi agar mereka gemar melaksanakan shalat subuh.Anak harus
dibiasakan ke masjid agar mereka gemar melakukan berbagai ritual ibadah di
masjid.Pembiasaan itu harus dimulai sejak dini, bahkan pembiasaan membaca
Alquran pun bisa dimulai sejak dalam kandungan.Pembiasaan shalat pada anak
harus sudah dimulai sejak anak berumur tujuh tahun.
4. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Anak
Sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak, Rasulullah
SAW menggunakan beberapa cara berikut. Saat sedang berpuasa, Rasulullah
mengajak anak-anak bermain sehingga siang yang panjang terasa cepat. Anak-anak
akan menyongsong waktu berbuka dengan gembira. Hal ini juga membuat anak
memiliki kepercayaan diri sehingga sanggup berpuasa sehari penuh.Sering membawa
anak-anak ke majelis orang dewasa, resepsi, atau bersilaturahim ke rumah
saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya.Mengajari Alquran
dan Sunnah serta menceritakan sirah nabi untuk meningkatkan kepercayaan diri
ilmiahnya.Menanamkan kebiasaan berjual-beli untuk meningkatkan kepercayaan diri
anak terkait ekonomi dan bisnis. Di samping itu, sejak dini anak akan terlatih
mandiri secara ekonomi.
5. Memotivasinya Anak Berbuat Baik
Seorang anak, meski kecil, juga terdiri atas jasad dan hati.
Mereka dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci sehingga hatinya yang putih dan
lembut itu pun akan mudah tersentuh dengan kata-kata yang hikmah. Anak-anak,
terutama pada usia emas (golden age), cenderung lebih mudah tersentuh
oleh motivasi ketimbang ancaman. Karenanya, hendaknya orang tua tidak
mengandalkan ancaman untuk mendidik buah hati. Lebih baik orang tua memotivasi
anak dengan mengatakan bahwa kebaikan akan mendapat balasan surga dengan segala
kenikmatannya. Itu pulalah yang dicontohkan Rasulullah kepada kita ketika
beliau mendidik para sahabat.[kholda,Mendidik
Anak Cara RasullulahThursday, 03 November 2011 19:04].
Tujuan akhir dari pendidikan
yang ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak di rumah pada masa pra sekolah
dengan mengikutinya pada PAUD atau TK yang ada agar sang anak kelak jadi anak
yang shaleh dengan segala prestasi
menarik lainnya, bahkan seharusnya keinginan untuk menjadikan anak shaleh itu
melalui pendidikan yang diberikan saat
sang ibu mulai hamil dengan keteladan dan melaksanakan nilai-nilai yang islami.Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 16
Desember 2011.M/ 20 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar