Rabu, 10 Februari 2016

188. Khalifah



Kelahiran manusia di dunia ini mengemban tugas mulia yaitu sebagai hamba Allah sekaligus sebagai Khalifah Allah yang berkewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al An’am 6;165, ”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.

            Tugas ini hendaklah dilaksanakan dengan kesungguhan hati sehingga segala apa yang diamanatkan Allah berhasil sesuai dengan tujuan, surat Al Haj 22;78 Allah berfirman, ”Dan berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan berjuang yang sungguh-sungguh”.

            Kekhalifahan yang disandang manusia memiliki sekup dan tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada yang mampu sebagai pemimpin suatu negara, mengepalai suatu perusahaan dan jabatan bos, sebagai kepala sebuah rumah tangga atau minimal memimpin diri sendiri. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah pernah mengatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin, isteri adalah pemimpin rumah tangga dan harta suaminya, suami adalah pemimpin keluarga, seorang budak memimpin amanat yang disampaikan oleh majikannya yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah”.

            Dalam HR Ibnu Hibban beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa –apa yang ia pimpin, apakah ia memeliharanya ataukah menyia-nyiakan, sehingga seseorang akan ditanyai tentang urusan keluarganya”.

            Sebagai khalifah yang menguasai bumi ini, Allah memberikan perlengkapan kepada manusia berupa jasmani sebagai tenaga untuk mengolah alam, akal untuk menyibak misteri alam sehingga kepemimpinan berjalan dengan baik, alam adalah bekal yang harus diolah sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. Bekal ini tidak cukup bila tidak diturunkan agama [islam] sebagai perlengkapan yang amat penting untuk mengarahkan jasmani, akal dan alam yang harus manusia pimpin sesuai dengan aturan islam agar mendapatkan jalan keselamatan. Islam bukan sekedar ucapan bibir tapi harus dipelajari, diamalkan dalam ujud ibadah, disyiarkan serta dipertahankan.[Mukhlis Denros, Ibadah Menyukseskan Tugas Khalifah, Buletin Risalah Da’wah Al Furqon Solok No. 13/ 1994].

Kata lain dari pemimpin atau khalifah yaitu imam atau a’imah, sebagaimana yang dijelaskan dalam ensiklopedi fiqih berikut ini;

1. A'immah secara bahasa: siapa saja yang diikuti, baik itu ketua, kepala, pemimpin atau yang lainnya. Mufrod-nya (kata tunggal): Imam. Tak jauh bedanya antara makna istilah dan makna secara bahasa (linguistik), diikuti secara umum dalam hal yang positif maupun negatif, dengan sukarela atau terpaksa.
Beberapa pengertian secara istilah:
2. Para nabi mutlak disebut "imam" karena setiap makhluk wajib mengikuti mereka. Allah berfirman tentang para nabi, "Dan kami jadikan mereka pemimpin (imam) yang dipandu oleh perintah kami." (QS Al-Anbiya: 73).
3. Para khalifah juga disebut "imam" karena mereka mengurus kepentingan rakyat dan wajib bagi rakyat untuk mengikutinya, menerima hukum dan aturannya. Dan kepemimpinan mereka disebut juga kepemimpinan besar.
Ada juga "imam" dalam shalat jamaah, dan kepemimpinan ini disebut juga dengan pemimpin kecil.Karena siapa pun yang ikut shalat di belakang mereka, maka mereka harus mengikuti gerakan imam.Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti, jika ia rukuk maka rukuklah, dan jika ia sujud maka bersujudlah, jangan (melakukan gerakan) berbeda imam kalian." (HR Ahmad).

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama yang satu dengan ulama yang lain dalam mendefinisikan "imam".
Para ulama madzhb yang empat juga disebut "imam". Dan jika disebut "Imam yang empat", maka hal itu merujuk pada Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali.[Ensiklopedi Fikih: A'immah (Imam), Republika.co.id.Tuesday, 03 May 2011 19:04 WIB].
            Manusia pada umumnya adalah khalifah atau pemimpin di dunia ini, kepemimpinan itu memiliki tingkat dan level tertentu, ada kepemimpinan level keluarga, masyarakat hingga kepemimpinan sebuah negara, semuanya memiliki tanggungjawab kepada yang dipimpinnya dan kepada Allah sebagai pemberi kekuasaan kepemimpinan.
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73)

Ayat ini berbicara pada tataran ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.

Ayat yang berbicara tentang kriteria pemimpin yang ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah As-Sajdah: 24: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. Kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini yang menjadi pembeda dengan ayat Al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan kebenaran dengan tetap komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar karena akan berdepan dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebathilan dan kemaksiatan di tengah-tengah umat.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah bahwa para pemimpin itu senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Allah dan kemudian secara aplikatif mereka memberikan keteladanan dengan terlebih dahulu mencontohkan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ yang senantiasa tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah swt dengan merealisasikan ajaran-ajaranNya yang mensejahterakan.

‘Wakanu Lana Abidin bukan Wakanu Abidin’ merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang mereka perbuat lahir dari rasa iman kepada Allah dan jauh dari kepentingan politis maupun semata-mata malu dengan jabatannya.Maka kata ‘lana (hanya kepada Kami)’ adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat kebaikan selama masa kepemimpinannya.

Asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi’lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.

Yang sangat menarik untuk dicermati secara redaksional adalah pilihan kata ‘aimmah’ dalam kedua ayat di atas.Kepemimpinan umumnya menggunakan terminologi khalifah atau Amir. Tentu pilihan kata tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa Al-Qur’an sebagai bagian dari kemu’jizatan al-qur’an, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah isyarat tentang sosok pemimpin yang sesungguhnya diharapkan, yaitu sosok pemimpin dalam sebuah negara atau masyarakat idealnya adalah juga layak menjadi pemimpin dalam kehidupan beragama bagi mereka. Mereka bukan hanya tampil di depan dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan dalam urusan agama. Inilah yang sering diistilahkan dengan agamawan yang negarawan atau negarawan yang agamawan.[Dr. Attabiq Luthfi, MA,Pemimpin yang Agamawan dan Negarawan, eramuslim.com. 5/1/2011 | 29 Muharram 1432 H].

Khalifah yang pernah tampil dalam panggung kepemimpinan adalah para pemimpin islam setelah wafatnya Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar,Usman dan Ali serta lainnya, mereka tampil memperjuangkan kepentingan rakyat dan kepentingan agama sehingga tampil sebagai negarawan juga agamawan, tugas inilah yang pernah dicontohkan oleh Umar bin Khattab.
Sepulang dari pembebasan Yaman, tentara Muslim membawa sejumlah ghanimah (rampasan perang) ke Madinah dan langsung menyerahkannya kepada Khalifah Umar bin al-Khattab. Umar lalu membagikan sehelai pakaian hasil rampasan perang itu kepada setiap penduduk Madinah.
Setelah dibagi rata, Umar kebagian sehelai pakaian.Karena kekecilan, pakaian itu hanya sampai menutupi pahanya.Ia kemudian meminta putranya, Abdullah, untuk memberikan pakaian jatahnya. Umar pun memermak kedua pakaian itu, hingga menutup di atas mata kakinya.
Ia lalu naik mimbar, "Wahai kalian semua, dengarlah apa yang akan kusampaikan .…" Tiba-tiba, Salman al-Farisi menginterupsi, "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan mendengar dan mematuhi kata-katamu!"Umar bertanya, "Mengapa begitu?"
"Engkau mengenakan dua helai pakaian, sementara kami hanya satu pakaian; di mana letak keadilan?Anda telah berlaku zalim kepada rakyatmu?" ujar Salman protes.Mendengar kritik Salman, Umar tak marah.Ia hanya tersenyum simpul. "Hai Abdullah, berdirilah dan jelaskan duduk persoalannya kepada mereka," ungkap Umar.
Abdullah lalu berkata, "Postur tubuh ayahku itu tinggi.Pakaian jatahnya tidak cukup, lalu jatahku kuberikan kepadanya.Ia lalu menyambungkannya agar bisa menutupi auratnya."Semua sahabat terdiam.Salman kembali berkata, "Kalau begitu, sampaikanlah pesan-pesanmu wahai Amirul Mukminin, kami akan mendengarnya.Instruksimu akan kami laksanakan."
Kisah tentang keteladanan seorang pemimpin juga pernah dicontohkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz berada di suatu majelis. Ketika tiba siang hari, ia gelisah dan merasa bosan. Ia lalu berkata kepada yang hadir, "Kalian tetap di tempat sampai saya kembali."
Ia lantas masuk ke peraduannya untuk beristirahat. Tiba-tiba anaknya, Abdul Malik, mengingatkannya, "Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan engkau masuk kamar?"Khalifah menjawab, "Saya ingin beristirahat sejenak."
Putranya kemudian bertanya lagi, "Yakinkah engkau bahwa setiap kematian akan datang, sedangkan rakyatmu menunggu di depan pintumu, sementara engkau tidak melayani mereka?" Sang Khalifah pun terkejut."Engkau benar, wahai anakku."Ia lalu bangun dan menemui rakyat yang sedang menunggunya.
Kisah kepemimpinan dua Umar di atas telah membuktikan kepada sejarah bahwa pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah yang mampu mengesampingkan egoisme pribadi serta kelompoknya.Hati nurani rakyat dan nurani dirilah yang menjadi "pengawal" kepemimpinannya.
Hanya pemimpin berhati nurani yang mau "mewakafkan" jiwa dan raganya untuk berdedikasi demi kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan umat serta bangsanya. Pemimpin berhati nurani dan tulus akan selalu memberi layanan prima bagi rakyatnya. Nabi SAW pernah bersabda, "Mintalah fatwa kepada hati nuranimu." (HR Muslim). Termasuk, dalam memimpin dan mengambil kebijakan.[Muhbib Abdul Wahab, Pemimpin yang Dicintai Rakyatnya, Republika.co.id.Selasa, 23 November 2010, 09:48 WIB].
Kepemimpinan demikian yang dikader oleh nilai-nilai islam, mereka adalah orang-orang yang tidak ambisi apalagi ambisius terhadap jabatan tapi dikala mereka diberi kepercayaan kepemimpinan dijalan dengan amanah sehingga semua rakyat merasa diayomi oleh kebijakan yang dikeluarkan, pemimpin amanahlah yang didambakan oleh rakyat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah berkhianat kepada umat.”(Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Kekuasaan adalah amanah.Amanah adalah taklif hukum dari Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.  Sebaliknya, jika ia melanggar taklif  tersebut maka ia akan memperoleh siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).
Sikap amanah seorang penguasa terlihat dari tatacaranya dalam mengurusi masyarakat berdasarkan aturan-aturan Allah.Ia juga berusaha dengan keras untuk menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur dan sifat-sifat kepemimpinan. Penguasa amanah tidak akan membiarkan berlakunya sistem kufur seperti demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Ia pun tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslim.[Mendambakan Penguasa Amanah, Media Ummat.com. ; Sunday, 22 November 2009 19:48].

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, menegaskan pada masa sekarang ini pemimpin negara dituntut memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa pamrih.

Ketika bertindak selaku khatib sholat Idul Adha 1413 H di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Rabu (17/11), dia mengatakan, kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompok tidak boleh dijadikan sebagai kepentingan utama dalam menjalankan roda kepemimpinan. "Kepentingan utama (ketika menjalankan kepemimpinan) adalah pada Allah, pengorbanan kepada bangsa dan negara," kata Wakil Ketua DPR RI periode 1999-2004 itu.

Pengorbanan kepada bangsa dan negara tanpa pamrih tersebut, merupakan penerapan nilai-nilai berkorban sebagaimana diajarkan Nabi Ibrahim dan Ismail.Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya Ismail, dengan iman yang tinggi dilaksanakanlah perintah tersebut.

Karena ketaatan dan kesalehan Ibrahim dan Ismail maka Allah mengganti korban tersebut dengan kambing dan memerintahkan dagingnya untuk dibagi-bagikan kepada umat.Sikap kedua nabi yang tanpa pamrih dalam berkorban tersebut, tambahnya, seharusnya menjadi landasan para pemimpin bangsa dan negara dalam melaksanakan kepemimpinan.

Pada kesempatan itu Ketua Umum DPP PKB ini juga mengajak masyarakat terutama umat Islam untuk menegakkan kesalehan sosial serta berkorban untuk kepentingan bersama.Ia menyatakan, secara fitrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri, melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya.Namun demikian, manusia pada dasarnya adalah makhluk zoon politicon yang cenderung untuk saling bekerja sama, memilih bermasyarakat dibandingkan menyendiri yang pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain.

"Oleh karena itu, berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain menjadi bagian keharusan dalam masyarakat. Tanpa itu semua masyarakat tidak akan hidup bahagia," katanya.[Pemimpin Harus Beri Pengabdian Tanpa Pamrih, Republika.co.id.Rabu, 17 November 2010, 10:40 WIB].

Ironinya, ketika tampil pemimpin yang baik, amanah, jujur dan berbuat tanpa pamrih ada upaya untuk menyingkirkannya, ada upaya untuk menjatuhkan posisinya karena semua orang yang tidak baik, curang dan pasiq merasa terganggu dengan kebijakannya, sehingga wajar orang yang terlibat korupsi, manipulasi dan kejahatan lainnya berhasil meraih jabatan kepemimpinan karena yang memilihnya orang-orang yang sekualitasnya, jangan harapkan akan tampil khalifah yang beriman kepada Allah selama rakyatnya tidak begitu.
Satu ketika Tar Tar An Nahar bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, sejak Umar berkuasa negeri Madinah ini aman, tentram dan rakyatnya sejahtera, tapi ketika anda yang berkuasa banyak sekali kekacuan hadir. Mendengar itu Ali bin Abi Thalib menjawab, ketika Umar berkuasa saat itu rakyatnya seperti saya, sedangkan sekarang saya yang berkuasa, rakyatnya seperti anda semua, wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17 Ramadhan 1432.H]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar