Kelahiran manusia di
dunia ini mengemban tugas mulia yaitu sebagai hamba Allah sekaligus sebagai
Khalifah Allah yang berkewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam
ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al An’am 6;165, ”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.
Tugas ini hendaklah dilaksanakan dengan kesungguhan hati
sehingga segala apa yang diamanatkan Allah berhasil sesuai dengan tujuan, surat
Al Haj 22;78 Allah berfirman, ”Dan
berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan berjuang yang sungguh-sungguh”.
Kekhalifahan yang disandang manusia memiliki sekup dan
tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada yang
mampu sebagai pemimpin suatu negara, mengepalai suatu perusahaan dan jabatan
bos, sebagai kepala sebuah rumah tangga atau minimal memimpin diri sendiri.
Dalam sebuah sabdanya Rasulullah pernah mengatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin, isteri adalah pemimpin rumah tangga dan
harta suaminya, suami adalah pemimpin keluarga, seorang budak memimpin amanat
yang disampaikan oleh majikannya yang harus dipertanggungjawabkan kelak di
hadapan Allah”.
Dalam HR Ibnu Hibban beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap
pemimpin tentang apa –apa yang ia pimpin, apakah ia memeliharanya ataukah
menyia-nyiakan, sehingga seseorang akan ditanyai tentang urusan keluarganya”.
Sebagai khalifah yang menguasai bumi ini, Allah
memberikan perlengkapan kepada manusia berupa jasmani sebagai tenaga untuk
mengolah alam, akal untuk menyibak misteri alam sehingga kepemimpinan berjalan
dengan baik, alam adalah bekal yang harus diolah sesuai dengan kehendak dan
tuntunan Allah. Bekal ini tidak cukup bila tidak diturunkan agama [islam]
sebagai perlengkapan yang amat penting untuk mengarahkan jasmani, akal dan alam
yang harus manusia pimpin sesuai dengan aturan islam agar mendapatkan jalan
keselamatan. Islam bukan sekedar ucapan bibir tapi harus dipelajari, diamalkan
dalam ujud ibadah, disyiarkan serta dipertahankan.[Mukhlis Denros, Ibadah
Menyukseskan Tugas Khalifah, Buletin Risalah Da’wah Al Furqon Solok No. 13/
1994].
Kata lain dari
pemimpin atau khalifah yaitu imam atau a’imah, sebagaimana yang dijelaskan
dalam ensiklopedi fiqih berikut ini;
1. A'immah secara bahasa: siapa saja yang diikuti, baik itu ketua, kepala, pemimpin atau yang lainnya. Mufrod-nya (kata tunggal): Imam. Tak jauh bedanya antara makna istilah dan makna secara bahasa (linguistik), diikuti secara umum dalam hal yang positif maupun negatif, dengan sukarela atau terpaksa.
Beberapa pengertian secara istilah:
2. Para nabi mutlak disebut "imam" karena
setiap makhluk wajib mengikuti mereka. Allah berfirman tentang para nabi, "Dan
kami jadikan mereka pemimpin (imam) yang dipandu oleh perintah kami."
(QS Al-Anbiya: 73).
3. Para khalifah juga disebut "imam" karena mereka
mengurus kepentingan rakyat dan wajib bagi rakyat untuk mengikutinya, menerima
hukum dan aturannya. Dan kepemimpinan mereka disebut juga kepemimpinan besar.
Ada juga "imam" dalam
shalat jamaah, dan kepemimpinan ini disebut juga dengan pemimpin kecil.Karena
siapa pun yang ikut shalat di belakang mereka, maka mereka harus mengikuti
gerakan imam.Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya imam ditunjuk untuk
diikuti, jika ia rukuk maka rukuklah, dan jika ia sujud maka bersujudlah,
jangan (melakukan gerakan) berbeda imam kalian." (HR Ahmad).
Terdapat perbedaan pendapat antara ulama yang satu dengan ulama yang lain dalam mendefinisikan "imam".
Terdapat perbedaan pendapat antara ulama yang satu dengan ulama yang lain dalam mendefinisikan "imam".
Para ulama madzhb yang empat juga
disebut "imam". Dan jika disebut "Imam yang empat", maka
hal itu merujuk pada Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali.[Ensiklopedi
Fikih: A'immah (Imam), Republika.co.id.Tuesday, 03 May 2011 19:04 WIB].
Manusia pada umumnya adalah khalifah atau pemimpin di
dunia ini, kepemimpinan itu memiliki tingkat dan level tertentu, ada
kepemimpinan level keluarga, masyarakat hingga kepemimpinan sebuah negara,
semuanya memiliki tanggungjawab kepada yang dipimpinnya dan kepada Allah
sebagai pemberi kekuasaan kepemimpinan.
“Kami
telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka
untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.” (QS.
Al-Anbiya’: 73)
Ayat ini berbicara pada tataran
ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam
kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi
manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah
ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh
keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan
bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan
prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan
keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.
Ayat yang berbicara tentang
kriteria pemimpin yang ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah
As-Sajdah: 24: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah
mereka meyakini ayat-ayat Kami”. Kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini
yang menjadi pembeda dengan ayat Al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan
kebenaran dengan tetap komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan
Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran
membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar karena akan berdepan
dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebathilan dan kemaksiatan di
tengah-tengah umat.
Menurut Ibnu Katsir dalam
Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang
berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah bahwa para pemimpin itu senantiasa
mengajak rakyatnya kepada jalan Allah dan kemudian secara aplikatif mereka
memberikan keteladanan dengan terlebih dahulu mencontohkan pengabdian dalam
kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan
zakat, sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ yang senantiasa tunduk dan patuh
mengabdi kepada Allah swt dengan merealisasikan ajaran-ajaranNya yang
mensejahterakan.
‘Wakanu Lana
Abidin bukan Wakanu Abidin’ merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang
mereka perbuat lahir dari rasa iman kepada Allah dan jauh dari kepentingan
politis maupun semata-mata malu dengan jabatannya.Maka kata ‘lana (hanya kepada
Kami)’ adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat
kebaikan selama masa kepemimpinannya.
Asy-Syaukani dalam Tafsir
Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah
keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah
menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk
senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi’lal khairat yang senantiasa
mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara
integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.
Yang sangat menarik untuk
dicermati secara redaksional adalah pilihan kata ‘aimmah’ dalam kedua ayat di
atas.Kepemimpinan umumnya menggunakan terminologi khalifah atau Amir. Tentu
pilihan kata tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa
Al-Qur’an sebagai bagian dari kemu’jizatan al-qur’an, tetapi lebih dari itu
merupakan sebuah isyarat tentang sosok pemimpin yang sesungguhnya diharapkan,
yaitu sosok pemimpin dalam sebuah negara atau masyarakat idealnya adalah juga
layak menjadi pemimpin dalam kehidupan beragama bagi mereka. Mereka bukan hanya
tampil di depan dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan
dalam urusan agama. Inilah yang sering diistilahkan dengan agamawan yang
negarawan atau negarawan yang agamawan.[Dr. Attabiq Luthfi, MA,Pemimpin yang Agamawan dan Negarawan,
eramuslim.com. 5/1/2011 | 29 Muharram 1432 H].
Khalifah yang pernah tampil
dalam panggung kepemimpinan adalah para pemimpin islam setelah wafatnya
Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar,Usman dan Ali serta lainnya, mereka tampil
memperjuangkan kepentingan rakyat dan kepentingan agama sehingga tampil sebagai
negarawan juga agamawan, tugas inilah yang pernah dicontohkan oleh Umar bin
Khattab.
Sepulang
dari pembebasan Yaman, tentara Muslim membawa sejumlah ghanimah (rampasan
perang) ke Madinah dan langsung menyerahkannya kepada Khalifah Umar bin
al-Khattab. Umar lalu membagikan sehelai pakaian hasil rampasan perang itu
kepada setiap penduduk Madinah.
Setelah
dibagi rata, Umar kebagian sehelai pakaian.Karena kekecilan, pakaian itu hanya
sampai menutupi pahanya.Ia kemudian meminta putranya, Abdullah, untuk
memberikan pakaian jatahnya. Umar pun memermak kedua pakaian itu, hingga
menutup di atas mata kakinya.
Ia lalu
naik mimbar, "Wahai kalian semua, dengarlah apa yang akan kusampaikan
.…" Tiba-tiba, Salman al-Farisi menginterupsi, "Wahai Amirul
Mukminin, aku tidak akan mendengar dan mematuhi kata-katamu!"Umar
bertanya, "Mengapa begitu?"
"Engkau
mengenakan dua helai pakaian, sementara kami hanya satu pakaian; di mana letak
keadilan?Anda telah berlaku zalim kepada rakyatmu?" ujar Salman
protes.Mendengar kritik Salman, Umar tak marah.Ia hanya tersenyum simpul.
"Hai Abdullah, berdirilah dan jelaskan duduk persoalannya kepada
mereka," ungkap Umar.
Abdullah
lalu berkata, "Postur tubuh ayahku itu tinggi.Pakaian jatahnya tidak
cukup, lalu jatahku kuberikan kepadanya.Ia lalu menyambungkannya agar bisa
menutupi auratnya."Semua sahabat terdiam.Salman kembali berkata,
"Kalau begitu, sampaikanlah pesan-pesanmu wahai Amirul Mukminin, kami akan
mendengarnya.Instruksimu akan kami laksanakan."
Kisah
tentang keteladanan seorang pemimpin juga pernah dicontohkan Khalifah Umar bin
Abdul Aziz. Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz berada di suatu majelis. Ketika
tiba siang hari, ia gelisah dan merasa bosan. Ia lalu berkata kepada yang
hadir, "Kalian tetap di tempat sampai saya kembali."
Ia lantas
masuk ke peraduannya untuk beristirahat. Tiba-tiba anaknya, Abdul Malik,
mengingatkannya, "Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan engkau masuk
kamar?"Khalifah menjawab, "Saya ingin beristirahat sejenak."
Putranya
kemudian bertanya lagi, "Yakinkah engkau bahwa setiap kematian akan
datang, sedangkan rakyatmu menunggu di depan pintumu, sementara engkau tidak
melayani mereka?" Sang Khalifah pun terkejut."Engkau benar, wahai
anakku."Ia lalu bangun dan menemui rakyat yang sedang menunggunya.
Kisah
kepemimpinan dua Umar di atas telah membuktikan kepada sejarah bahwa pemimpin
yang dicintai rakyatnya adalah yang mampu mengesampingkan egoisme pribadi serta
kelompoknya.Hati nurani rakyat dan nurani dirilah yang menjadi
"pengawal" kepemimpinannya.
Hanya
pemimpin berhati nurani yang mau "mewakafkan" jiwa dan raganya untuk
berdedikasi demi kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan umat serta bangsanya.
Pemimpin berhati nurani dan tulus akan selalu memberi layanan prima bagi
rakyatnya. Nabi SAW pernah bersabda, "Mintalah fatwa kepada hati
nuranimu." (HR Muslim). Termasuk, dalam memimpin dan mengambil kebijakan.[Muhbib Abdul Wahab, Pemimpin yang
Dicintai Rakyatnya, Republika.co.id.Selasa, 23
November 2010, 09:48 WIB].
Kepemimpinan demikian yang dikader oleh nilai-nilai islam, mereka
adalah orang-orang yang tidak ambisi apalagi ambisius terhadap jabatan tapi
dikala mereka diberi kepercayaan kepemimpinan dijalan dengan amanah sehingga
semua rakyat merasa diayomi oleh kebijakan yang dikeluarkan, pemimpin amanahlah
yang didambakan oleh rakyat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang penguasa diserahi
urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan
tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya.” (HR al-Bukhari dan
Muslim).
Terkait dengan hadits ini, Imam Fudhail bin Iyadh
menuturkan, “Hadits ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah
SWT untuk mengurus urusan kaum Muslim, baik urusan agama maupun
dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan
yang telah diserahkan kepadanya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan
dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan
urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur
yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan
mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).Penelantaran itu juga bisa berwujud
pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad
untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di
tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah
berkhianat kepada umat.”(Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).
Kekuasaan adalah amanah.Amanah adalah taklif hukum dari
Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif
(syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, dengan cara
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia melaksanakan
taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.
Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh
siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).
Sikap amanah seorang penguasa terlihat dari tatacaranya
dalam mengurusi masyarakat berdasarkan aturan-aturan Allah.Ia juga berusaha
dengan keras untuk menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur dan
sifat-sifat kepemimpinan. Penguasa amanah tidak akan membiarkan berlakunya
sistem kufur seperti demokrasi yang bertentangan dengan Islam. Ia pun tidak
mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada Islam dan kaum
Muslim.[Mendambakan Penguasa Amanah, Media Ummat.com. ; Sunday, 22 November
2009 19:48].
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Muhaimin Iskandar, menegaskan pada masa sekarang ini pemimpin negara dituntut
memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara tanpa pamrih.
Ketika bertindak selaku khatib sholat
Idul Adha 1413 H di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Rabu (17/11), dia
mengatakan, kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompok tidak boleh dijadikan
sebagai kepentingan utama dalam menjalankan roda kepemimpinan.
"Kepentingan utama (ketika menjalankan kepemimpinan) adalah pada Allah,
pengorbanan kepada bangsa dan negara," kata Wakil Ketua DPR RI periode
1999-2004 itu.
Pengorbanan kepada bangsa dan negara
tanpa pamrih tersebut, merupakan penerapan nilai-nilai berkorban sebagaimana
diajarkan Nabi Ibrahim dan Ismail.Ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim diperintahkan
Allah untuk menyembelih anaknya Ismail, dengan iman yang tinggi dilaksanakanlah
perintah tersebut.
Karena ketaatan dan kesalehan Ibrahim
dan Ismail maka Allah mengganti korban tersebut dengan kambing dan
memerintahkan dagingnya untuk dibagi-bagikan kepada umat.Sikap kedua nabi yang
tanpa pamrih dalam berkorban tersebut, tambahnya, seharusnya menjadi landasan
para pemimpin bangsa dan negara dalam melaksanakan kepemimpinan.
Pada kesempatan itu Ketua Umum DPP PKB
ini juga mengajak masyarakat terutama umat Islam untuk menegakkan kesalehan
sosial serta berkorban untuk kepentingan bersama.Ia menyatakan, secara fitrah,
manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri, melihat
kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya.Namun demikian, manusia pada
dasarnya adalah makhluk zoon politicon yang cenderung untuk saling
bekerja sama, memilih bermasyarakat dibandingkan menyendiri yang pada
gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang
lain.
"Oleh karena itu, berkorban dan
mendahulukan kepentingan orang lain menjadi bagian keharusan dalam masyarakat.
Tanpa itu semua masyarakat tidak akan hidup bahagia," katanya.[Pemimpin Harus Beri Pengabdian Tanpa
Pamrih,
Republika.co.id.Rabu, 17 November 2010, 10:40 WIB].
Ironinya, ketika tampil pemimpin yang baik, amanah, jujur dan berbuat
tanpa pamrih ada upaya untuk menyingkirkannya, ada upaya untuk menjatuhkan
posisinya karena semua orang yang tidak baik, curang dan pasiq merasa terganggu
dengan kebijakannya, sehingga wajar orang yang terlibat korupsi, manipulasi dan
kejahatan lainnya berhasil meraih jabatan kepemimpinan karena yang memilihnya
orang-orang yang sekualitasnya, jangan harapkan akan tampil khalifah yang
beriman kepada Allah selama rakyatnya tidak begitu.
Satu ketika Tar Tar An Nahar bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, sejak
Umar berkuasa negeri Madinah ini aman, tentram dan rakyatnya sejahtera, tapi
ketika anda yang berkuasa banyak sekali kekacuan hadir. Mendengar itu Ali bin
Abi Thalib menjawab, ketika Umar berkuasa saat itu rakyatnya seperti saya,
sedangkan sekarang saya yang berkuasa, rakyatnya seperti anda semua, wallahu a’lam
[Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 17 Agustus 2011.M/ 17
Ramadhan 1432.H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar