Ketika
kita menyebut Tsunami maka bayangan kita terarah ke Aceh [26 Desember 2004] dan
Jepang [2010] yang mengalami peristiwa
itu sehingga meluluhlantakkan negeri itu dengan korban tidak terhitung
jumlahnya. Memang peristiwa ini
peristiwa alami yang sejak dunia tercipta banyak kejadian serupa melanda
dunia, tapi semua itu dari kaca mata islam merupakan rekayasa Allah dengan
ketentuannya selain menguji hamba-Nya juga merupakan azab bagi penghuni alam
ini karena kedurhakaan yang dilakukan.
Bumipun
bergoncang dahsyat kemudian timbul setelahnya badai besar Tsunami dan angin
topan yang melumat berbagai kota dan banyak desa. Bahkan sebagian tenggelam
tertutup air sama sekali, seketika itulah meninggal ratusan bahkan ribuan jiwa.
Data terakhir menyebutkan bahwa korban mencapai 120 ribu jiwa. Mereka meninggal
dalam satu waktu akibat tenggelam oleh air yang menerjang rumah, sawah, dan
berbagai sarana hidup mereka!.Data ini bukanlah data final.Sebab diprediksi
bahwa jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah ini. Di samping itu, puluhan
ribu orang luka-luka, serta jutaan yang lain kehilangan harta benda dan tempat
tinggal.
Ini
adalah sebuah peristiwa besar yang semestinya menggerakkan hati kita.Karenanya,
dunia seisinya membicarakannya dan mengikuti berita serta perkembangannya.
Seorang mukmin yang dikaruniai taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam
kejadian dan musibah besar seperti ini, harus melakukan berbagai renungan
keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan kedekatannya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, juga menambah rasa takutnya untuk bertemu dan berhadapan
dengan-Nya. Selain itu ia juga akan mengambil hikmah dan pelajaran dari
tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Syaikh. Prof. Dr. Abdurrazzak
bin Abdul Muhsin Al Badr, Ada apa dibalik gempa tsunami?Almanhaj.or.id.Sabtu,
27 Mei 2006 17:06:21 WIB].
Dengan
kejadian itu, diseluruh dunia mengucapkan rasa belasungkawa dan menyampaikan
bantuan moril ataupun material, seluruh komponen bangsa menyalurkan bantuan
dari berbagai sumber untuk meringankan korban tsunami tersebut.
Rabu, (12/1), sekitar 17 duta besar
dari negara-negara Islam berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta.Mereka
berkomitmen untuk membantu memulihkan kondisi Aceh pasca bencana. Para duta
besar yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut
antara lain dari; Malaysia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Tunisia, Aljazair,
Bosnia, Lebanon, Afghanistan, Maroko, Jordania, Kuwait, Yaman, Uzbekistan dan
Suriname.
Perhatian pemerintahan Saudi
terhadap musibah di Aceh memang tidak sedikit. Bahkan orang nomor satu di
negeri itu, Khadimul Haramain Al-Syarifain Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud dan
dari Putra Mahkota Negeri Saudi Arabia memimpin acara penggalangan dana bagi
para korban bencana gempa dan gelombang tsunami yang menimpa negara-negara
Asia.
Tak tanggung-tanggung, hingga
musibah telah berlangsung dua minggu, total sumbangan rakyat Saudi dan pihak
kerajaan telah mencapai jumlah yang cukup fantastis, 800 juta dolar AS atau
sekitar Rp7,2 triliun (kurs Rp9. 000 per 1 dolar AS). Sumbangan sebesar Rp7,2
triliun dari Arab Saudi tersebut jauh lebih besar dibanding sumbangan dari
negara-negara asing termasuk AS sebesar US$ 350 juta.
Yang tidak kalah fantastiknya,
sumbangan sebesar 800 juta dolar AS atau sekitar Rp. 7,2 triliun dari Arab
Saudi itu diberikan dalam bentuk hibah alias tunai. Bukan utang.Berbeda dengan
bantuan beberapa negara asing termasuk AS yang berupa pinjaman.Dan itupun baru
rencana, belum semua disalurkan hingga kini.
Instruksi Raja Fahd terhadap
televisi Arab Saudi untuk mengorganisir telethon dalam rangka pengalangan dana
bantuan bagi korban bencana alam di Asia, yang diselengarakan pada hari kamis,
tanggal 6 Januari 2005 dari pagi hingga malam tentunya tidak untuk sekedar
menangapi tuduhan-tuduhan media massa terutama TV Barat. Tetapi memang simpati
seorang saudara. [Arif Rahman Aiman
Muchtar Tsunami dan Spontanitas Arab,Hidayatullah.com.Rabu, 02 Pebruari 2005].
Tsunami
tidak bisa difahami hanya sebatas kejadian alam saja seperti yang melanda Aceh
dan Jepang tapi pada pengertian lain tsunami juga dapat dimaknai,sebagaimana
baru-baru ini tsunami telah melanda istana sehingga SBY dan keluarganya nyaris
jadi korban sebagaimana yang diungkapkan oleh media umat di bawah ini;
Bertepatan dengan peringatan
Supersemar 11 Maret, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kado istimewa.
Dua harian terkemuka di Australia The Age dan Sydney Morning Herald menurunkan
tulisan dari sumber yang sama, menohok jantung istana.
The Age di halaman utamanya memuat
judul berita: Yudhoyono 'Abused Power' (Yudhoyono ‘Selewengkan Kekuasaan’).
Bahan berita itu berasal dari bocoran Wikileaks berupa kawat diplomatik Kedubes
AS di Jakarta ke pemerintah pusatnya di Washington.
Presiden SBY dituding telah
menyalahgunakan kekuasaannya dan melakukan korupsi besar, hal yang bisa
menjatuhkan reputasinya sebagai politikus bersih dan pembaharu. Menurut bocoran
itu, SBY menggunakan kekuasannya untuk mempengaruhi jaksa dan hakim bagi
melindungi tokoh politik korup dan tekanan musuh.Ia juga menggunakan layanan
intelijen Indonesia untuk memata-matai saingan politik dan seorang menteri
senior dalam pemerintahan sendiri.
Tidak hanya menyangkut SBY, bocoran
itu pun menampar banyak pihak.Yang terkena palu godam adalah istri Presiden
SBY, Kristiani Herawati atau yang sering disebut Bu Ani. Ia dituding memiliki
peran besar dalam menentukan berbagai kebijakan negara maupun partai. Ani
pun ditulis: “Pada awal 2006 kedutaan berkomentar ke Washington bahwa "Ibu
Negara Kristiani Herawati semakin berusaha mencari keuntungan pribadi dengan
bertindak sebagai broker atau fasilitator untuk usaha bisnis... Kontak banyak
juga memberitahu kita bahwa anggota keluarga Kristiani telah membangun
perusahaan dalam rangka mengkomersialkan pengaruh keluarga mereka." Bahkan
kedutaan AS menggambarkan Ani sebagai "kabinet satu" dan
"penasihat tak terbantahkan atas Presiden". Keluarga SBY pun
dikabarkan berhubung-an dengan pengusaha Tomy Winata.
Tokoh lain yang disinggung dalam
laporan itu adalah suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas.
Bocoran itu menyebut Taufik Kiemas sebenarnya terjerat kasus korupsi tapi
kemudian dilindungi oleh SBY melalui tangan Hendarman Supandji sehingga
kasusnya tak sampai disidik.
Laporan itu pun menyinggung sepak terjang mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bagaimana ia mengeluarkan jutaan dolar bagi memenangi kursi Partai Golkar. Termasuk pula disinggung peran Agung Laksono yang menyediakan uang untuk itu.
Laporan itu pun menyinggung sepak terjang mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bagaimana ia mengeluarkan jutaan dolar bagi memenangi kursi Partai Golkar. Termasuk pula disinggung peran Agung Laksono yang menyediakan uang untuk itu.
Selain itu, Wikileaks pun menyoroti
langkah Presiden SBY memata-matai Mensesnegnya sendiri Yusril Ihza Mahendra
yang saat itu sedang pergi ke Singapura untuk bertemu para pengusaha Cina.SBY
minta BIN 'menguntit' Yusril.
Tudingan-tudingan itu menggegerkan
Istana.Hari itu juga Presiden SBY memanggil pejabat terkait mulai Menteri Luar
Negeri Marty Natalegawa, Kepala BIN Sutanto, dan Menko Polhukam Djoko
Sutanto.Setelah itu, koor bantahan pun digelontorkan. Menlu memanggil
Dubes AS untuk Indonesia Scott Marciel dan menyampaikan protes.Seperti biasa,
Amerika tak mengonfirmasi dan membantah berita tersebut.Marciel hanya
menyesalkan terhadap pemberitaan tersebut.
Hak jawab pun dilayangkan ke kedua
media Australia. Sabtu (12/3), kedua media tersebut memuat bantahan Istana
dengan judul President rejects corruption claim (Presiden Tolak Klaim
Korupsi). Tanggapan itu disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang
Komunikasi Politik, Daniel Sparingga. SBY menyesalkan pemberitaan tentang
dirinya dan menyebut koran Australia ini melanggar kode etik jurnalisme
universal, dengan memuat berita tanpa meminta tanggapannya terlebih dulu.
Lepas dari polemik benar tidaknya
berita tersebut, sebenarnya bocoran ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di
Indonesia tidak lepas dari pengamatan dan pengawasan Amerika sebagai negara
penjajah yang bercokol secara tidak langsung di negeri ini.Tak ada peristiwa
satu pun yang luput dari Amerika. Fungsi kedutaan besar mereka yang menempati
jantung kota Jakarta tak lain adalah memata-matai para penguasa dan penduduk
negeri ini.
Data-data yang mereka dapatkan
kemudian bisa digunakan untuk menekan para penguasa antek tersebut agar lebih
tunduk terhadap kebijakan politik Amerika. Ibarat kartu, data tersebut
adalah kartu 'truf' yang bisa dimainkan sesuai dengan kepentingan Amerika.[Tsunami
Hantam Istana, Media ummat; Wednesday, 20 April 2011 17:08].
Terlebih
dari benar dan tidaknya gelombang tsunami yang menerjang SBY, seharusnya bisa
dijadikan sebagai koreksi diri dan mawas diri, karena bila hal itu benar maka
tsunami sebenarnya akan terjadi, bukan hanya menghanyutkan kekuasaannya saja
tapi juga akan menyengsarakan diri dan keluarganya ke depan.
Tsunami
juga sedang melanda Amerika Serikat dengan besarnya gelombang islam di negara
itu, yang akan menghancurkan hegemoni negara Paman Sam itu, sebagaimana yang
diinformasikan oleh dakwatuna berikut ini;
“Islam berrencana untuk
mengambil alih peradaban Barat,” David Rubin memperingatkan, “Dan kita perlu
mengenali untuk apa itu.”
Rubin adalah warga asli New
York yang menjabat sebagai walikota kota Shiloh, Israel. Dia berbicara kepada
The Washington Times tentang buku barunya, The Islamic Tsunami: Israel and
America in the Age of Obama (2010, Shiloh Israel Press).
Menurut Rubin, gelombang
pertama tsunami adalah terorisme Islam, yang menurutnya adalah “strategi
dimaksudkan untuk mengintimidasi orang sehingga mereka tidak akan berbicara
keluar ketika hits gelombang kedua.” Rubin mengaku memiliki pengalaman langsung
dengan kekerasan teroris, ia dan anaknya yang berusia 3 tahun, Ruby Rubin,
luka-luka dalam serangan teroris 18 Desember 2001 di Yerusalem. Setelah itu, ia
mendirikan Shiloh Israel Children’s Fund yang didedikasikan untuk membantu
meringankan trauma yang diderita oleh anak korban terorisme.
Gelombang kedua dan lebih
mengancam adalah pengambilalihan secara halus lembaga-lembaga politik dan
sosial Barat, sesuatu disebut Rubin sebagai “tsunami diam.” Ujung tombak
gerakan ini adalah “kolusi antara ideologi Islam dan paling kiri untuk
mempromosikan ide relativisme moral,” katanya, “bahwa semua nilai dan ideologi
adalah sama, tapi nilai mreka tidak. Publik AS tak pernah percaya ini.”
Salah satu manifestasi
berbahaya dari sudut pandang ini, demikian bunyi editorial itu, adalah gerakan
intelektual untuk menyusup interpretasi syariah hukum menjadi yurisprudensi
Amerika, sesuatu yang tidak perlu dan tidak ada preseden dan yang bertentangan
dengan norma-norma Amerika dan tradisi. Gagasan untuk menciptakan Konstitusi
syariah di AS dan cara ini benar-benar merupakan cara mengakhiri idealisme
Amerika.
Presiden Obama kata mereka,
dengan tegas menolak.Rubin mencatat bahwa kebanggaan penjangkauan Obama dalam
upaya merengkuh umat Muslim di dunia telah gagal total dalam menghasilkan
penghormatan dari Yahudi-Kristen.“Presiden terus menjangkau, tetapi Islam tidak
pernah terjangkau.”
Rubin mengatakan Amerika
Serikat perlu menemukan kembali akar-akarnya.“Amerika Serikat adalah negara
yang dibangun di atas dasar Alkitab,” katanya.“Amerika Serikat perlu berhenti
meminta maaf.”
Menurutnya, Amerika adalah
bangsa yang majemuk yang dibangun pada cita-cita tertentu yang memungkinkan
budaya pluralistik berakar.“Islamisme merupakan ancaman mematikan bagi
cita-cita, seperti fasisme dan komunisme lakukan untuk generasi-generasi
sebelumnya.”
“Amerika dibangun di atas kebebasan ibadah,
tetapi akar agama tertentu,” katanya. Kata Rubin, Amerika Serikat harus
memperoleh memperoleh kembali dan membela peradaban yang menjadi dasar atau
berisiko menurun ke dalam status kelas dua dan menjadi kewalahan oleh “tsunami”
yang tengah terus bangunan di cakrawala.[Editorial Washington Times Sebut
Tengah Terjadi Tsunami Islam di AS,27/12/2010 | 20 Muharram 1432 H].
Pada
satu sisi tsunami membuat kita waspada karena sedang melanda istana, disisi
lain tsunami membuat kita bangga karena kebangkitan islam ibarat gelombang
besar di Barat, sedangkan tsunami alam yang kita alami membuat kita harus
menyikapi dengan iman dan introsfeksi diri karena Allah akan berbuat
sekehendak-Nya.Sebagaimana yang
dipesankan oleh Syaikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr
Sebab itu, setelah peristiwa
besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang harus senantiasa diingat dan
disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:
Pertama:Peristiwa ini dan
semisalnya akan membimbing seorang muslim pada suatu perkara –yang telah dia
yakini- yaitu bertambahnya keimanan dia akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meyakini bahwa Allah-lah yang mengatur alam
ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Ia inginkan. Tidak ada
seorangpun yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman. "Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu
atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang
saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan
sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda
kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".[Al An'am : 65]
Kedua:Peristiwa
ini betul-betul salah satu tanda-tanda agung kekuasaan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya.Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:" Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda
itu kecuali untuk menakuti". [Al Isra : 59]
Maksudnya
; Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkankan rasa takut dalam jiwa
hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung itu.
Berkata
Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar
mereka mengambil pelajaran, ingat dan kembali (kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala)". Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam
kejahiliyahan.
Maka
hendaknya seorang mu'min takut, merenung dan mengambil pelajaran ; bahwasanya
Yang telah menimpakan musibah kepada saudara-saudaranya, Maha Kuasa untuk
menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka. Jatuh korban
120.000 jiwa atau lebih dalam satu waktu!. Adakah di antara kita yang mengambil
hikmah dan pelajaran?.
Ketiga:Setelah
kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa
menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya:"Allah-lah yang menjadikan bumi
bagi kalian tetap". [Ghafir : 64]
.Mari
kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang bumi ini, sehingga dia
menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang. Bayangkan bagaimana jika bumi yang
kita berjalan di atas permukaannya selalu bergoncang dan bergetar, bisakah kita
hidup di atasnya?, bisakah kita tidur?, bisakah kita bekerja? (tentu jawabnya
adalah : tidak -pent). Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan
karunia-Nya kepada kita berupa ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka
hendaknya kita mengambil pelajaran dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan
gempa yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari waktu ke waktu ; hingga
kita bisa mengambil kesimpulan : Betapa besar karunia ketenangan bumi dan
alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja,
telah memakan korban 120 ribu jiwa, bagaimana jika bergoncang sehari penuh,
atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya???
.Keempat
:Bumi adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia-lah yang telah menciptakannya
dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia dia atasnya.Maka
Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. Perhatikanlah sebagian
perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap bumi-Nya dalam ayat: " Dan
apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu kami
kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan
hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya ;
Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya". [Ar-Ra'd: 41]
Sebagian
ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami kurangi bumi itu (sedikit
demi sedikit) dari tepi-tepinya" adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi
-pent), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang
bisa menolak keputusan-Nya.[Ada apa dibalik gempa tsunami?Almanhaj.or.id.Sabtu,
27 Mei 2006 17:06:21 WIB].
Tsunami
apapun yang datang pada sebuah tempat, apakah tsunami berupa gempa bumi dan
gelombang laut yang merupakan musibah dan bencana sebagai pelajaran bagi
manusia untuk kembali bertaubat ke jalan Allah, sedangkan tsunami berupa
kebangkitan islam adalah sunnatullah yang berkaitan dengan kemenangan dakwah
yang dialami oleh islam dan ummatnya, namun tsunami ini akan membawa ketenangan dan keamanan bagi ummat manusia
seluruhnya, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 20 Desember 2011.M/ 24
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar