Selasa, 16 Februari 2016

239. Tsunami



Ketika kita menyebut Tsunami maka bayangan kita terarah ke Aceh [26 Desember 2004] dan Jepang  [2010] yang mengalami peristiwa itu sehingga meluluhlantakkan negeri itu dengan korban tidak terhitung jumlahnya. Memang peristiwa ini  peristiwa alami yang sejak dunia tercipta banyak kejadian serupa melanda dunia, tapi semua itu dari kaca mata islam merupakan rekayasa Allah dengan ketentuannya selain menguji hamba-Nya juga merupakan azab bagi penghuni alam ini karena kedurhakaan yang dilakukan.

Bumipun bergoncang dahsyat kemudian timbul setelahnya badai besar Tsunami dan angin topan yang melumat berbagai kota dan banyak desa. Bahkan sebagian tenggelam tertutup air sama sekali, seketika itulah meninggal ratusan bahkan ribuan jiwa. Data terakhir menyebutkan bahwa korban mencapai 120 ribu jiwa. Mereka meninggal dalam satu waktu akibat tenggelam oleh air yang menerjang rumah, sawah, dan berbagai sarana hidup mereka!.Data ini bukanlah data final.Sebab diprediksi bahwa jumlah korban jauh lebih besar dari jumlah ini. Di samping itu, puluhan ribu orang luka-luka, serta jutaan yang lain kehilangan harta benda dan tempat tinggal.

Ini adalah sebuah peristiwa besar yang semestinya menggerakkan hati kita.Karenanya, dunia seisinya membicarakannya dan mengikuti berita serta perkembangannya. Seorang mukmin yang dikaruniai taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam kejadian dan musibah besar seperti ini, harus melakukan berbagai renungan keimanan, sehingga akan menambah keshalihan dan kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menambah rasa takutnya untuk bertemu dan berhadapan dengan-Nya. Selain itu ia juga akan mengambil hikmah dan pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Syaikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr, Ada apa dibalik gempa tsunami?Almanhaj.or.id.Sabtu, 27 Mei 2006 17:06:21 WIB]. 

Dengan kejadian itu, diseluruh dunia mengucapkan rasa belasungkawa dan menyampaikan bantuan moril ataupun material, seluruh komponen bangsa menyalurkan bantuan dari berbagai sumber untuk meringankan korban tsunami tersebut.

Rabu, (12/1), sekitar 17 duta besar dari negara-negara Islam berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta.Mereka berkomitmen untuk membantu memulihkan kondisi Aceh pasca bencana. Para duta besar yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut antara lain dari; Malaysia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Tunisia, Aljazair, Bosnia, Lebanon, Afghanistan, Maroko, Jordania, Kuwait, Yaman, Uzbekistan dan Suriname.

Perhatian pemerintahan Saudi terhadap musibah di Aceh memang tidak sedikit. Bahkan orang nomor satu di negeri itu, Khadimul Haramain Al-Syarifain Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud dan dari Putra Mahkota Negeri Saudi Arabia memimpin acara penggalangan dana bagi para korban bencana gempa dan gelombang tsunami yang menimpa negara-negara Asia.

Tak tanggung-tanggung, hingga musibah telah berlangsung dua minggu, total sumbangan rakyat Saudi dan pihak kerajaan telah mencapai jumlah yang cukup fantastis, 800 juta dolar AS atau sekitar Rp7,2 triliun (kurs Rp9. 000 per 1 dolar AS). Sumbangan sebesar Rp7,2 triliun dari Arab Saudi tersebut jauh lebih besar dibanding sumbangan dari negara-negara asing termasuk AS sebesar US$ 350 juta.

Yang tidak kalah fantastiknya, sumbangan sebesar 800 juta dolar AS atau sekitar Rp. 7,2 triliun dari Arab Saudi itu diberikan dalam bentuk hibah alias tunai. Bukan utang.Berbeda dengan bantuan beberapa negara asing termasuk AS yang berupa pinjaman.Dan itupun baru rencana, belum semua disalurkan hingga kini.
Instruksi Raja Fahd terhadap televisi Arab Saudi untuk mengorganisir telethon dalam rangka pengalangan dana bantuan bagi korban bencana alam di Asia, yang diselengarakan pada hari kamis, tanggal 6 Januari 2005 dari pagi hingga malam tentunya tidak untuk sekedar menangapi tuduhan-tuduhan media massa terutama TV Barat. Tetapi memang simpati seorang saudara. [Arif Rahman Aiman Muchtar Tsunami dan Spontanitas Arab,Hidayatullah.com.Rabu, 02 Pebruari 2005].

Tsunami tidak bisa difahami hanya sebatas kejadian alam saja seperti yang melanda Aceh dan Jepang tapi pada pengertian lain tsunami juga dapat dimaknai,sebagaimana baru-baru ini tsunami telah melanda istana sehingga SBY dan keluarganya nyaris jadi korban sebagaimana yang diungkapkan oleh media umat di bawah ini;
Bertepatan dengan peringatan Supersemar 11 Maret, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kado istimewa. Dua harian terkemuka di Australia The Age dan Sydney Morning Herald menurunkan tulisan dari sumber yang sama, menohok jantung istana.

The Age di halaman utamanya memuat judul berita: Yudhoyono 'Abused Power' (Yudhoyono ‘Selewengkan Kekuasaan’). Bahan berita itu berasal dari bocoran Wikileaks berupa kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta ke pemerintah pusatnya di Washington.

Presiden SBY dituding telah menyalahgunakan kekuasaannya dan  melakukan korupsi besar, hal yang bisa menjatuhkan reputasinya sebagai politikus bersih dan pembaharu. Menurut bocoran itu, SBY menggunakan kekuasannya untuk mempengaruhi jaksa dan hakim bagi melindungi tokoh politik korup dan tekanan musuh.Ia juga menggunakan layanan intelijen Indonesia untuk memata-matai saingan politik dan seorang menteri senior dalam pemerintahan sendiri.

Tidak hanya menyangkut SBY, bocoran itu pun menampar banyak pihak.Yang terkena palu godam adalah istri Presiden SBY, Kristiani Herawati atau yang sering disebut Bu Ani. Ia dituding memiliki peran  besar dalam menentukan berbagai kebijakan negara maupun partai. Ani pun ditulis: “Pada awal 2006 kedutaan berkomentar ke Washington bahwa "Ibu Negara Kristiani Herawati semakin berusaha mencari keuntungan pribadi dengan bertindak sebagai broker atau fasilitator untuk usaha bisnis... Kontak banyak juga memberitahu kita bahwa anggota keluarga Kristiani telah membangun perusahaan dalam rangka mengkomersialkan pengaruh keluarga mereka." Bahkan kedutaan AS menggambarkan Ani  sebagai "kabinet satu" dan "penasihat tak terbantahkan atas Presiden". Keluarga SBY pun dikabarkan berhubung-an dengan pengusaha Tomy Winata.

Tokoh lain yang disinggung dalam laporan itu adalah suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas. Bocoran itu menyebut Taufik Kiemas sebenarnya terjerat kasus korupsi tapi kemudian dilindungi oleh SBY melalui tangan Hendarman Supandji sehingga kasusnya tak sampai disidik.
Laporan itu pun menyinggung sepak terjang mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bagaimana ia mengeluarkan jutaan dolar bagi memenangi kursi Partai Golkar. Termasuk pula disinggung peran Agung Laksono yang menyediakan uang  untuk itu.

Selain itu, Wikileaks pun menyoroti langkah Presiden SBY memata-matai Mensesnegnya sendiri Yusril Ihza Mahendra yang saat itu sedang pergi ke Singapura untuk bertemu para pengusaha Cina.SBY minta BIN 'menguntit' Yusril.

Tudingan-tudingan itu menggegerkan Istana.Hari itu juga Presiden SBY memanggil pejabat terkait mulai Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Kepala BIN Sutanto, dan Menko Polhukam Djoko Sutanto.Setelah itu, koor bantahan pun digelontorkan.  Menlu memanggil Dubes AS untuk Indonesia Scott Marciel dan menyampaikan protes.Seperti biasa, Amerika tak mengonfirmasi dan membantah berita tersebut.Marciel hanya menyesalkan terhadap pemberitaan tersebut.

Hak jawab pun dilayangkan ke kedua media Australia. Sabtu (12/3), kedua media tersebut memuat bantahan Istana dengan judul  President rejects corruption claim (Presiden Tolak Klaim Korupsi).  Tanggapan itu disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparingga. SBY menyesalkan pemberitaan tentang dirinya dan menyebut koran Australia ini melanggar kode etik jurnalisme universal, dengan memuat berita tanpa meminta tanggapannya terlebih dulu.

Lepas dari polemik benar tidaknya berita tersebut, sebenarnya bocoran ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari pengamatan dan pengawasan Amerika sebagai negara penjajah yang bercokol secara tidak langsung di negeri ini.Tak ada peristiwa satu pun yang luput dari Amerika. Fungsi kedutaan besar mereka yang menempati jantung kota Jakarta tak lain adalah memata-matai para penguasa dan penduduk negeri ini.

Data-data yang mereka dapatkan kemudian bisa digunakan untuk menekan para penguasa antek tersebut agar lebih tunduk terhadap kebijakan politik Amerika.  Ibarat kartu, data tersebut adalah kartu 'truf' yang bisa dimainkan sesuai dengan kepentingan Amerika.[Tsunami Hantam Istana, Media ummat; Wednesday, 20 April 2011 17:08].

Terlebih dari benar dan tidaknya gelombang tsunami yang menerjang SBY, seharusnya bisa dijadikan sebagai koreksi diri dan mawas diri, karena bila hal itu benar maka tsunami sebenarnya akan terjadi, bukan hanya menghanyutkan kekuasaannya saja tapi juga akan menyengsarakan diri dan keluarganya ke depan.

Tsunami juga sedang melanda Amerika Serikat dengan besarnya gelombang islam di negara itu, yang akan menghancurkan hegemoni negara Paman Sam itu, sebagaimana yang diinformasikan oleh dakwatuna berikut ini;
“Islam berrencana untuk mengambil alih peradaban Barat,” David Rubin memperingatkan, “Dan kita perlu mengenali untuk apa itu.”
Rubin adalah warga asli New York yang menjabat sebagai walikota kota Shiloh, Israel. Dia berbicara kepada The Washington Times tentang buku barunya, The Islamic Tsunami: Israel and America in the Age of Obama (2010, Shiloh Israel Press).

Menurut Rubin, gelombang pertama tsunami adalah terorisme Islam, yang menurutnya adalah “strategi dimaksudkan untuk mengintimidasi orang sehingga mereka tidak akan berbicara keluar ketika hits gelombang kedua.” Rubin mengaku memiliki pengalaman langsung dengan kekerasan teroris, ia dan anaknya yang berusia 3 tahun, Ruby Rubin, luka-luka dalam serangan teroris 18 Desember 2001 di Yerusalem. Setelah itu, ia mendirikan Shiloh Israel Children’s Fund yang didedikasikan untuk membantu meringankan trauma yang diderita oleh anak korban terorisme.

Gelombang kedua dan lebih mengancam adalah pengambilalihan secara halus lembaga-lembaga politik dan sosial Barat, sesuatu disebut Rubin sebagai “tsunami diam.” Ujung tombak gerakan ini adalah “kolusi antara ideologi Islam dan paling kiri untuk mempromosikan ide relativisme moral,” katanya, “bahwa semua nilai dan ideologi adalah sama, tapi nilai mreka tidak. Publik AS tak pernah percaya ini.”

Salah satu manifestasi berbahaya dari sudut pandang ini, demikian bunyi editorial itu, adalah gerakan intelektual untuk menyusup interpretasi syariah hukum menjadi yurisprudensi Amerika, sesuatu yang tidak perlu dan tidak ada preseden dan yang bertentangan dengan norma-norma Amerika dan tradisi. Gagasan untuk menciptakan Konstitusi syariah di AS dan cara ini benar-benar merupakan cara mengakhiri idealisme Amerika.

Presiden Obama kata mereka, dengan tegas menolak.Rubin mencatat bahwa kebanggaan penjangkauan Obama dalam upaya merengkuh umat Muslim di dunia telah gagal total dalam menghasilkan penghormatan dari Yahudi-Kristen.“Presiden terus menjangkau, tetapi Islam tidak pernah terjangkau.”

Rubin mengatakan Amerika Serikat perlu menemukan kembali akar-akarnya.“Amerika Serikat adalah negara yang dibangun di atas dasar Alkitab,” katanya.“Amerika Serikat perlu berhenti meminta maaf.”
Menurutnya, Amerika adalah bangsa yang majemuk yang dibangun pada cita-cita tertentu yang memungkinkan budaya pluralistik berakar.“Islamisme merupakan ancaman mematikan bagi cita-cita, seperti fasisme dan komunisme lakukan untuk generasi-generasi sebelumnya.”

“Amerika dibangun di atas kebebasan ibadah, tetapi akar agama tertentu,” katanya. Kata Rubin, Amerika Serikat harus memperoleh memperoleh kembali dan membela peradaban yang menjadi dasar atau berisiko menurun ke dalam status kelas dua dan menjadi kewalahan oleh “tsunami” yang tengah terus bangunan di cakrawala.[Editorial Washington Times Sebut Tengah Terjadi Tsunami Islam di AS,27/12/2010 | 20 Muharram 1432 H].

            Pada satu sisi tsunami membuat kita waspada karena sedang melanda istana, disisi lain tsunami membuat kita bangga karena kebangkitan islam ibarat gelombang besar di Barat, sedangkan tsunami alam yang kita alami membuat kita harus menyikapi dengan iman dan introsfeksi diri karena Allah akan berbuat sekehendak-Nya.Sebagaimana yang  dipesankan oleh Syaikh. Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al Badr
Sebab itu, setelah peristiwa besar ini kita harus merenungi beberapa hal yang harus senantiasa diingat dan disadari sepenuhnya oleh setiap muslim:

Pertama:Peristiwa ini dan semisalnya akan membimbing seorang muslim pada suatu perkara –yang telah dia yakini- yaitu bertambahnya keimanan dia akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meyakini bahwa Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Ia inginkan. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak keputusan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. "Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)".[Al An'am : 65]

Kedua:Peristiwa ini betul-betul salah satu tanda-tanda agung kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengannya Dia menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:" Dan tidaklah kami mengirimkan tanda-tanda itu kecuali untuk menakuti". [Al Isra : 59]

Maksudnya ; Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkankan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya dengan tanda-tanda yang agung itu.

Berkata Qatadah rahimahullah: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat dan kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)". Adapun penisbatan peristiwa ini kepada alam, itu termasuk dalam kejahiliyahan.

Maka hendaknya seorang mu'min takut, merenung dan mengambil pelajaran ; bahwasanya Yang telah menimpakan musibah kepada saudara-saudaranya, Maha Kuasa untuk menimpakan hal yang serupa atau lebih kepada selain mereka. Jatuh korban 120.000 jiwa atau lebih dalam satu waktu!. Adakah di antara kita yang mengambil hikmah dan pelajaran?.

Ketiga:Setelah kejadian ini mari kita renungi bersama nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa menetapnya bumi, sebagaimana firman-Nya:"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tetap". [Ghafir : 64]

.Mari kita renungi dari sini, betapa besar Dzat yang memegang bumi ini, sehingga dia menetap dan tidak bergoncang atau bergoyang. Bayangkan bagaimana jika bumi yang kita berjalan di atas permukaannya selalu bergoncang dan bergetar, bisakah kita hidup di atasnya?, bisakah kita tidur?, bisakah kita bekerja? (tentu jawabnya adalah : tidak -pent). Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita berupa ketenangan dan menetapnya bumi ini. Maka hendaknya kita mengambil pelajaran dari nikmat ini, lantas kita bandingkan dengan gempa yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari waktu ke waktu ; hingga kita bisa mengambil kesimpulan : Betapa besar karunia ketenangan bumi dan alangkah sempurnanya nikmat ini. Jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, telah memakan korban 120 ribu jiwa, bagaimana jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya???

.Keempat :Bumi adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia-lah yang telah menciptakannya dan menjadikannya ada. Dia pula yang telah menciptakan manusia dia atasnya.Maka Dia pula-lah yang berhak untuk bertindak sekehendak-Nya. Perhatikanlah sebagian perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap bumi-Nya dalam ayat: " Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya ; Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya". [Ar-Ra'd: 41]

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami kurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya" adalah dengan tenggelamnya (sebagian bumi -pent), gempa dan berbagai macam bencana. Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurangi bumi dari tepi-tepinya sesuai dengan kehendak-Nya, tidak ada yang bisa menolak keputusan-Nya.[Ada apa dibalik gempa tsunami?Almanhaj.or.id.Sabtu, 27 Mei 2006 17:06:21 WIB]. 

Tsunami apapun yang datang pada sebuah tempat, apakah tsunami berupa gempa bumi dan gelombang laut yang merupakan musibah dan bencana sebagai pelajaran bagi manusia untuk kembali bertaubat ke jalan Allah, sedangkan tsunami berupa kebangkitan islam adalah sunnatullah yang berkaitan dengan kemenangan dakwah yang dialami oleh islam dan ummatnya, namun tsunami ini akan membawa  ketenangan dan keamanan bagi ummat manusia seluruhnya,  Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 20 Desember 2011.M/ 24 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar