Senin, 15 Februari 2016

206. Salibisme



Ketika kita menyebut “salib” maka yang terbayang adalah tentang kisah yang dialami oleh Yesus yang diyakini oleh ummat Nasrani, beliau mati di tiang salib yang  diperlakukan kejam oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya yaitu bangsa Romawi, berbeda dengan faham Islam, yang menyebutnya sebagai nabi Isa, yang disalib tersebut bukanlah Isa tapi orang lain yang diserupakan dengan Isa.

Sebenarnya pertanyaan : …..benarkah Yesus mati di tiang salib…?....telah menjadi pertanyaan yang selalu menyelinap kedalam akal para kristanis diseluruh dunia.

Cerita mengenai penyaliban, hanya ada di kitab yang diklaim sebagai kitab suci oleh umat Kristen.Bukkti-bukti sejarah tidak menunjukkan adanya kematian itu.Mari kita review apa kata injil :Lihat Yohannes 20: 11 – 17

(11) Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, (12) dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. (13) Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." (14) Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. (15) Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." (16) Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (17) Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.".

Sampai disini, cerita dari injil jelas menyatakan bahwa Yesus belum mati.

Mari kita telusuri cerita ini selanjutnya :Yohanes 20 : 19:20(19) Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" (20) Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.

Yesus menunjukkan tangan dan lambungnya. Kenapa tangan dan lambung ?.Karena tangan itulah yg dipakukan ke tiang salib dan lambungnya yang ditusuk dengan tombak oleh tentara Romawi.(Ini pun, dengan asumsi, cerita penyaliban itu, benar adanya).

Sampai disini......, Yesus juga belum mati........!!!.Dan yang perlu dicatat, meskipun kita semua tahu, bahwa Yesus, dipanggil Tuhan oleh murid-muridnya setelah bangkit dari kubur.Kita juga perlu menggaris bawahi kata-kata “bangkit dari kubur” ini, karena kata-kata itu adalah kata-kata yang didramatisir sedemikian rupa oleh para penulis injil.Padahal sebenarnya, Yesus berada dalam masa penyembuhan dari luka-lukanya.

Kepercayaan dogmatis penebusan dosa ditiang salib, adalah rekaan para murtadin ajaran Yesus.Yesus atau yang kita kenal dengan Isa Al-Masih, tidak mati ditiang salib.Tetapi beliau mengembara jauh ke Timur, seperti yang dilakukannya ketika muda selama 18 tahun dari umur 12 sampai 30 tahun.

Yesus tidak mati…!!!. Doktrin Penebusan Dosa ditiang Salib gugur….!!!.
[Siapa bilang Yesus mati di tiang salib, Emerde, Forumsuaramuslimnet,01 Aug 05 - 2:53 pm].

            Penyaliban yang merupakan keyakinan bagi agama Nasrani sehingga mereka disebut dengan kaum Salib, bahkan gerakan mereka yang mempromosikan ajaran ini menghabiskan waktu, tenaga dan bahkan dana tidak sedikit, akan tetapi perjuangan ini tidak mengenal henti. Orang-orang salib gigih sekali memperjuangkan agamanya melalui penyebaran kepada ummat islam, targetnya agar ummat islam murad, kemudian masuk keagama mereka, hal ini sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu, melalui gerakan Salibisme, Misionaris dan Kristenisasi.

            Banyak kasus radikal yang dilakukan oleh kaum salibis dalam rangka untuk memerangi ummat islam sebagaimana konflik yang terjadi di Ambon;
Kalangan ulama di Indonesia rupanya geram juga dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menanggapi secara berlebihan atas kejadian bom di Solo baru-baru ini.Sikap Presiden yang begitu reaktif dan cepat itu sangat berbeda ketika terjadi Tragedi Ambon, 11 September lalu.Saat itu tak ada konferensi pers dari SBY, apalagi sampai meminta agar dilakukan pengusutan dan perlindungan terhadap rakyat.SBY seolah diam seribu bahasa.
Sikap ulama itu disampaikan oleh Ketua MUI Pusat, KH Ahmad Cholil Ridwan dalam forum audiensi antara MUI Pusat dengan Forum Umat Islam (FUI) di Kantor MUI, Jl. Proklamasi, Jakarta, Selasa (27/9).
“Saya heran dengan sikap SBY.Ketika terjadi bom di Solo, langsung muncul di TV.Tapi saat Tragedi Ambon, tidak ada komentar apa-apa.Presiden kita ini beragama Islam, tetapi tidak berpihak pada umat Islam”, kata Kiyai Cholil yang diamini sejumlah pengurus MUI lainnya.
Selain heran terhadap sikap SBY, Cholil Ridwan juga mencatat beberapa keanehan dari Tragedi Ambon.Pertama, peristiwa itu terjadi bertepatan dengan Tragedi WTC, 9/11. “Kenapa kok tanggalnya persis dengan Kasus WTC”, tanya Cholil.

Kedua, ditengarai di tubuh kepolisian saat ini ada masalah soal kekuatan jaringan kelompok Kristen.“Sejak zaman kemerdekaan kelompok Kristen sudah membangun kekuatan jaringan di kepolisian, tetapi Islam tidak. Jenderalnya memang muslim, tapi Kombes ke bawah banyak yang non muslim”, kata pengasuh PP Husanayain itu.

Karena itu Cholil menyarankan, dalam kasus Ambon, agar informasi dari kepolisian tidak sepenuhnya dipercaya. Sehingga MUI Pusat harus membentuk tim investigasi sendiri. “Pembentukan tim investigasi ini adalah suatu keniscayaan”, tandasnya.[Ketua MUI: Beliau Islam, tapi Tidak Berpihak pada Umat Islam, nahimunkar.com, Rep: Shodiq Ramadhan, Tuesday, 27 September 2011 14:18].

            Allah telah menyebutkan kepada kita dalam surat Al Baqarah 2;120 bahwa Yahudi dan Nasrani sampai kapanpun tidak akan senang kepada ummat islam sampai mereka murtad dari agamanya, itulah targetnya, mereka siap untuk melakukan apa saja untuk itu, dalam sejarah kita melihat betapa gigihnya kaum Nasrani memurtadkan ummat islam sehingga keterlibatan seorang rajapun tidak mau ketinggalan.

Yang paling afdhal dan mulia, hendaklah seorang Muslim tetap pada agamanya, walaupun dia diancam dengan pembunuhan, seperti yang telah disebutkan oleh Al-Hafidh bin Asakir dalam riwayat hidup Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy, salah seorang sahabat Nabi saw: Bahwa sesungguhnya dia ditawan oleh tentara Romawi. Kemudian dia dibawa ke raja mereka, maka berkatalah raja itu:
   “ Masuklah kamu ke agama Nasrani, aku akan bagikan untukmu sebagian kerajaanku, dan aku nikahkan kamu dengan anak puteriku.”

 Maka ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) berkata kepada raja itu:
    “Seandainya kamu memberiku semua yang kamu miliki, dan semua yang dimiliki orang-orang Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad saw sekejap mata saja, aku tidak akan melakukannya.”
    Kemudian raja berkata: “Kalau begitu aku akan membunuhmu!”
    Maka ia menjawab: Engkau (bisa memilih ini dan) itu.

     Al-Hafidh (yang meriwayatkan kisah ini) berkata, maka raja memerintahkan agar ia (Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy) disalib, dan raja memerintahkan pasukan panah, maka mereka memanahnya dekat kedua tangan dan kedua kakinya, sedangkan raja menawarinya dengan agama Nasrani. Maka ia (Abdullah As-Sahmy) menolak. Kemudian raja memerintahkan agar ia diturunkan. Lalu raja memerintahkan agar didatangkan panci --dalam riwayat lain disebutkan, bejana besar dari tembaga-- kemudian dipanasi, kemudian salah seorang tawanan dari kaum Muslimin didatangkan dan dilemparkan ke dalamnya, ia (Abdullah As-Sahmy) pun melihatnya, maka (Muslim yang dilemparkan ke bejana panas itu kemudian) tinggallah tulang-tulang. Raja tetap menawar Abdullah, dan ia pun menolak. Maka raja memerintahkan agar ia dilemparkan ke dalam bejana itu, akan tetapi diundur sampai esok hari. Lalu menangislah ia (Abdullah As-Sahmy). Maka raja mengira bahwa ada harapan darinya, lalu raja memanggilnya. Maka ia (Abdullah) berkata:
   “Sesungguhnya aku menangis hanyalah karena menyesali kenapa jiwaku hanya satu, yang akan dilempar ke bejana ini.Dalam waktu sesaat aku akan bertemu Allah, maka aku lebih senang kalau setiap rambut di tubuhku dihitung satu jiwa, yang disiksa dengan siksaan seperti ini dalam rangka memperjuangkan agama Allah.”
   Dan di sebagian riwayat, bahwa raja memasukkannya dalam penjara, dan tidak memberinya makan dan minum berhari-hari, kemudian ia dikirimi arak (khamr) dan daging babi, namun ia (Abdullah) tidak mau mendekatinya. Kemudian raja memanggilnya, dan bertanya kepadanya: “Apa yang melarangmu untuk makan?”
   Maka ia (Abdullah) menjawab: “Kalaupun makanan itu telah dibolehkan untukku, akan tetapi aku tidak mau menyenangkan kamu.”
   Raja berkata kepadanya: “Kalau begitu ciumlah kepalaku, nanti akan aku bebaskan kamu.”
   Lalu ia (Abdullah) berkata: “Dan kamu juga harus membebaskan tawanan-tawanan Muslim seluruhnya.”
   Maka raja menjawab: “Ya”. Maka ia (Abdullah) mencium kepala raja, kemudian Abdullah dibebaskan dan juga tawanan-tawanan muslim semuanya. Dan ketika telah pulang (dari Romawi ke Madinah, pen), Umar bin Al-Khatthab berkata:
   “Setiap Muslim berhak untuk  mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan aku orang yang memulainya, maka dia berdiri dan mencium kepalanya. Mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya [Pemurtadan dan Cara Menghadapinya, Nahimungkar.com].

            Salah satu kegiatan yang selalu menyeret keterlibatan ummat islam adalah Natal, sehingga ada  yang menjadikan kegiatan ini sebagai jalan mewujudkan toleransi sesama ummat beragama.

Perayaan semakin meriah karena mereka memang yang “pegang” uang dan menguasai perekonomian.Pengusaha politik dan ekonomi yang non Muslim cukup banyak di negeri ini, dan kesadaran mereka terhadap agamanya juga tinggi sehingga membuat peryaan semakin meriah dan semarak.Apalagi, natal itu dirayakan seluruh dunia. Jika semua ini hanya dirayakan oleh umat Kristiani sendiri dan tidak melibatkan umat lain (umat Islam) tidak ada masalah. Akan menjadi masalah kalau umat Islam ikut-ikutan, karenanya kita harus merujuk pada Fatwa Buya Hamka yang sudah banyak lupa.

Buya Hamka memfatwakan: umat Islam tidak boleh menghadiri perayaan natal baik yang dirayakan di gereja, di gedung, atau bahkan di lapangan, karena itu adalah sebuah ritualnya mereka. Saat ini, ada orang berargumen begini, kalau upacara di gereja tidak boleh hadir, tapi kalau perayaan di lapangan atau di gedung boleh. Orang ini membandingkannya dengan Islam, yakni shalat ied itu ritual, tapi halal bi halal kan budaya. Dalam hal ini, tidak bisa disamakan, karena dalam Islam antara ritual dan budaya dipisahkan dengan jelas, bisa kita bedakan mana ritual dan budaya. 

 Tapi di Kristen tidak dibedakan, bagi mereka semuanya ritual.Walaupun dilaksanakan di gereja, di lapangan, atau di gedung semua ritual.Karenanya umat Islam tidak boleh menghadirinya.Termasuk umat Islam yang bekerja di perusahaan milik orang Kristen, pegawai yang Muslim sebaiknya jangan dilibatkan.Selain itu, Sinter Klas juga merupakan simbol agama, karenanya pegawai Muslim jangan dilibatkan untuk ikut serta mengenakan pakaian atau topi Sinter Klas apalagi dilibatkan dalam perayaan. 

Toleransi harus dipahami dengan benar, toleransi itu saling menghormati anta pemeluk agama, tidak saling mengganggu, tapi bukan kompromi dalam ritual atau ibadah.Kalau umat Islam mengadakan syawalan, kemudian orang Kristen datang itu terserah mereka, tapi kalau natalan kita tidak datang jangan marah, karena Islam punya keyakinan sendiri.Di sini umat Kristiani harus memahami, yang namaya toleransi tidak boleh merubah ritual.  

Pemurtadan bukan hanya berjalan pada bulan Desember, tapi berjalan setiap waktu. Nabi saw pernah menyatakan, domba yang keluar dari jamaah akan diterkam oleh srigala. Karenanya, yang menjadi sasaran permutadan selama ini adalah: dhuafa, berpendidikann rendah, tidak ikut majelis taklim manapun, tidak aktif di ormas manapun. Tapi jika mereka miskin tapi aktif di majelis taklim atau lembaga dakwah, insya Allah akan terlindungi. [Prof Dr Yunahar Ilyas Lc: “Umat Islam Jangan Hadiri Perayaan Natal”Cyber Sabili. Sabtu, 25 Desember 2010 12:28 Dwi Hardianto].

Sebagai sebuah realitas di masyarakat muslim yang sedang diserang gerakan pemurtadan, hal ini patut dicermati. Dan seiring dengan isu-isu yang memojokkan umat Islam semacam kasus GKI Yasmin Bogor, HKBP Ciketing Bekasi, dll, kegiatan Kristenisasi alias pemurtadan semakin digencarkan. International Cirisis Gorup (ICG) pernah membuat laporan bahwa pemicu terjadinya berbagai bentrokan antara umat Islam dengan Kristen di Indonesia adalah adanya aktivitas Kristenisasi yang sangat agresif, khususnya di daerah Jawa Barat yang merupakan basis umat Islam terkuat di Indonesia. ICG dalam laporannya mencantumkan berbagai lembaga Kristen yang aktif melakukan pemurtadan terhadap suku Sunda di Jawa Barat, seperti Joshua Project, Yayasan Beja Kabungahan (Lampstand) sebuah  lembaga misionaris Amerika; Partners International (Mitra Internasional), berbasis di Spokane, Washington; Frontiers, berbasis di Arizona AS. Dua lembaga Kristen yang melakukan penginjilan secara radikal di Bekasi Jawa Barat adalah Yayasan Mahanaim dan Yayasan Bethmidrash Talmiddin. Baru-baru ini misionaris Kristen membajak program Mobil Pintar Ani Yudhoyono untuk aksi pemurtadan kepada anak-anak sekolah  SD negeri bahkan SD Islam. Masyaallah!

Sebenarnya sudah ada peraturan yang melarang penyiaran agama kepada warga negara Indonesia yang telah beragama (SK Menteri Agama nomor 70 tahun 1978).  Namun SK itu tak pernah ditaati oleh pihak Kristen, bahkan mereka menyasar daerah-daerah Islam.Aktivitas pemurtadan di kantong-kantong miskin dengan kedok sosial (diakonia) kerap kali mereka lakukan.  Kegiatan membawa anak-anak muslim ke Gereja di daerah basis Islam di Jawa Timur seperti Pasuruan sudah dilakukan sejak tahun 1970-an.  Anak-anak kaum miskin di kota Pasuruan diajak bersama-sama naik becak setiap minggu ke Gereja dan pulang diberi oleh-oleh kue-kue dan permen masing-masing satu kantong. Rekaman video penyiaran Kristen oleh misionaris Amerika dengan pembagian al Kitab (Kitab Injil) dan uang kepada korban Gempa Padang Pariaman 2009 jelas menunjukkan pelanggaran peraturan menteri di atas, sebab penyiaran Kristen itu dilakukan terhadap komunitas Islam yang ditunjukkan oleh gambar penduduk muslimah yang mengenakan kerudung sebagai obyek penyiaran.  Di Bekasi mereka melakukan program Bekasi Berbagi yang ujung-ujungnya adalah pembaptisan seorang nenek berbusana muslimah.  Itu semua sekedar contoh diakonia yang mereka jalankan untuk memurtadkan umat Islam dan menarik mereka ke dalam agama Kristen.  Dan sejalan dengan penyiaran Kristen dan pemurtadan yang mereka lakukan di kantong-kantong umat Islam, peningkatan jumlah gereja berkali-kali lipat. Litbang Depag mencatat bahwa pertumbuhan Gereja sejak tahun 1990 hingga tahun 2008, meningkat sekitar 300 persen, sementara masjid hanya meningkat sekitar 60%. 
Kenapa pemurtadan dalam bentuk Kristenisasi ini semakin merajalela?  Sebab disamping didukung oleh militansi Kristen dan sokongan dana dalam dan luar negeri, juga ada sokongan opini kebebasan agama dari tokoh dan media sekuler liberal.  Melihat situasi dan kondisi yang terus mendesak dan memojokkan Islam dan umat Islam, serta menggerus aqidah umat Islam, maka hanya satu kata yang harus dilakukan oleh umat Islam, yaitu: LAWAN! 
Kenapa kita harus melawan?  Pertama, kita mempertahankan hak kita untuk beragama Islam dan menjalankan kebebasan serta kekhusyu’an kita untuk menjalankan agama Islam yang haq yang dijamin konstitusi dan Undang-undang. Juga Allah  SWT memerintahkan kita untuk mempertahankan aqidah Islam kita sampai titik darah yang penghabisan. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(QS. Ali Imran 102).

Kedua,  Allah SWT memberikan warning kepada kita akan bahaya peperangan yang dilakukan oleh orang-orang non Islam yang tujuannya adalah memurtadkan kita, paling tidak membuat kita tidak lagi berpegang teguh pada agama kita, alias menjadi muslim yang tidak taat, yang biasa-biasa saja, yang melempem, yang lembek, yang toleran terhadap kemusyrikan dan kemaksiatan, yang semua itu menggerus aqidah kita yang kalau tidak disadari akan menghilangkannya sama sekali.  Na’udzubillahi mindzalik.  Allah SWT berfirman: Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup...(QS. Al Baqarah 217).

Padahal dalam lanjutan ayat di atas Allah SWT memperingatkan kepada umat Islam tentang betapa bahayanya orang yang keluar alias murtad dari Islam, orang yang kembali kafir setelah memeluk agama Islam, yakni sia-sia amalannya dan dipastikan kekal di neraka.  Tentu ini adalah kerugian dan kemalangan yang sangat besar bagi seorang muslim dan umat Islam. Allah SWT berfirman:
  Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(QS. Al Baqarah 217).  

Oleh karena itu, bagi kita umat Islam yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya serta percaya kepada kebenaran kitab suci Al Quran sebagai kalamullah, firman Allah SWT, dan yakin bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, mempertahankan iman, aqidah Islam, adalah harga mati!  Menolak dan melawan pemurtadan adalah jihad yang mulia!  Allahu Akbar!

Bagaimana caranya umat Islam mewalan Kristenisasi yang merupakan perang terhadap umat Islam yang bertujuan untuk memurtadkan umat Islam agar kembali kafir itu?  Secara umum umat Islam harus menempuh lima strategi induk:

(1) Konsolidasi pemikiran dan perasaan umat Islam serta perlunya mempraktekkan kehidupan Islam secara berjamaah;

(2) Menanamkan perasaan yakin dan bangga dengan ajaran Islam yang diridloi Allah dalam diri umat serta tidak minder menghadapi orang Kristen dan kaum kafir lainnya

(3)  Membuka hakikat Kristen menurut Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw. serta realitas historis maupun sosial politik keberadaan mereka di Indonesia;

(4) Membuka makar Kristen dan Kristenisasi di Indonesia;

(5) Membentuk kesatuan opini dan gerakan umat Islam menghadapi berbagai serangan dan manuver Kristen dan Kristenisasi di Indonesia. 

Gereja yang mereka dirikan bukan sebagai sarana ritual untuk melaksanakan ibadah setiap hari Minggu tapi juga sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensinya pada sebuah daerah, ketika saya melakukan KKN tahun 1989 di Desa Tiuh Balak Pasar Baradatu Lampung Utara, di sebelah desa itu terdapat Gereja besar, tinggi lagi megah padahal penduduknya mayoritas muslim, tapi paa hari Minggu ratusan kaum salibis datang ke Gereja itu untuk melakukan ritual. Pengakuan masyarakat disana bahwa dahulu mereka beragama Islam, tapi ketika datang saat sulit,susah dari segi ekonomi, kaum salibis memberikan bantuian berupa beras, mie, minyak goring dan bantuan lainnya, ujung-ujungnya mereka harus masuk keagama itu, yang otomatis meninggalkan islam. wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 30 Zulhijjah 1432.H/ 26 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar