Selasa, 16 Februari 2016

221. Kikir



Ada dua sifat yang hampir sama tapi maknanya jauh berbeda, yaitu nekat dengan berani, nampaknya orang yang nekat itu berani padahal dia melakukan sesuatu itu diluar perhitungan, sedangkan berani orang yang berbuat, sudah diperhitungkannya segala resiko yang akan dilalui dan sudah dipersiapkan untuk mengantisipasinya. Begitu juga halnya hemat dianggap sama dengan kikir, padahal hemat adalah orang yang mengeluarkan segala biaya yang ditimbulkannya penuh perhitungan, dia tidak mau besar pasak dari pada tiang, sedangkan kikir adalah orang yang tidak mau mengeluarkan apapun untuk dirinya apalagi untuk orang lain yang menyebabkan miliknya berkurang.

            Sikap berani dan hemat dibenarkan dalam islam karena segala sesuatunya itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya agar kelak tidak jadi penyesalan, sedangkan sifat nekat dan kikir bukanlah sifat terpuji karena sifat ini akan mendatangkan kerugian pada pemiliknya.

            Islam mengajarkan kepada ummatnya agar saling memberi, memperhatikan, mempedulikan orang lain yang berada dalam kekurangan dengan memberikan bantuan, apakah bantuan itu berupa tenaga, waktu, ilmu atau bantuan berupa materi, sifat ini disebut dengan dermawan atau muhsin yaitu orang yang berbuat baik. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang sulit, banyaknya pengangguran dan semakin bertambahnya orang-orang miskin, maka orang-orang yang baik sebagai dermawan sangat diharapkan.

 "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin!"Syair lagu dangdut yang didendangkan Rhoma Irama pada akhir dekade 80-an ini ternyata tetap aktual hingga kini.Zaman berganti.Presiden naik dan turun takhta.Elite politik bergiliran timbul tenggelam di panggung kekuasaan.Namun, sebagian besar rakyat tetap merana, miskin, dan papa.

Pada akhir Orde Baru, sempat ada setitik harapan bahwa bangsa ini akan segera melakukan tinggal landas menuju kemakmuran. Saat itu, rakyat merasa hidupnya sedikit tercukupi.Keamanan terjamin.Sandang-pangan murah dibeli.Pendidikan murah dapat diakses seluruh rakyat.

Tapi, kini, seiring ambruknya rezim Soeharto itu, impian rakyat yang saat itu sibuk menggelorakan reformasi tetap tak terbukti.Yang muncul hanya hiruk-pikuk.Publik hanya disuguhi adegan elite dan para petualangan demokrasi yang sangat tidak sedap.Bunuh-membunuh terus meledak, suap-menyuap tak kunjung henti, penjara semakin tak muat, pornografi merajalela, dan hukum dijadikan tong sampah.Sosok negara yang muncul serbasempoyongan.Negara seolah tak ada harapan.

Dalam sebuah rilis yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), awal Mei lalu, terlihat jelas betapa klaim angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi ternyata tidak terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Para peneliti itu menilai kenyataan mengenaskan tersebut tecermin dengan membesarnya kesenjangan antara kemiskinan dan pengangguran.

Latief Adam, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, saat itu menegaskan pemerintah setiap tahun memang bertekad mengurangi jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Namun, bila kemudian ditelisik dari selisih persentase penurunan kemiskinan dengan pengangguran, kenyataan itu sebenarnya tak punya arti yang layak.Ini terlihat jelas dengan adanya kenyataan bahwa jumlah orang yang bekerja namun berkategori miskin masih cukup besar.

"Contohnya 2010, angka kemiskinan 13,33 persen, sedangkan pengangguran 7,41 persen. Artinya, ada selisih 5,94 persen dan itu adalah jumlah orang-orang yang bekerja, tetapi masih miskin," kata Latief.  Menurut dia, terjadi deviasi yang cukup besar antara penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Padahal, idealnya, seperti di negara lain, pengurangan pengangguran sudah otomatis menekan kemiskinan.[Muhammad Subarkah,Yang Kaya Makin Kaya,Yang Miskin Makin Miskin ,Republika.online,Rabu, 15 Juni 2011 pukul 16:59:00].

Dengan kondisi sulit demikian maka peluang bagi yang memiliki nilai lebih untuk berbagi dengan sesama, menjauhkan sifat kikir atau pelit karena sifat ini mendatangkan kebencian dari yang hidup susah dan menjadi beban fikiran bagi yang empunya, sifat peduli kepada orang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara.Nilai lebih manusia tadi dapat berupa harta, ilmu dan kedudukan. Bila si pemilik nilai lebih hanya memperbesar perut dan kesenangannya saja berarti dia telah mengabaikan seruan Allah dan Rasul-Nya. Islam tidak menginginkan harta kekayaan hanya beredar pada satu kaum atau golongan saja, akan tetapi islam memberikan jalan keluarnya yang layak diikuti bagi orang-orang yang telah meyakinkan kebenaran Risalah-Nya.

            Jalan keluar tersebut dapat disebut dengan zakat, infaq, wakaf ataupun sedekah, yaitu pemberian yang harus dikeluarkan kepada yang berhak menerimanya. Harta yang dimiliki seseorang bukanlah mutlak semuanya menjadi hak miliknya, dibalik tu terdapat harta anak yatim, harta fakir miskin, serta untuk keperluan kaum muslimin lainnya.

            Dua ayat dibawah ini merupakan pijakan  untuk mengeluarkan nilai lebih yang kita miliki yaitu;
1.Surat Al Baqarah 2;261
      ”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia amat Mengetahui”.

2.Surat Ali Imran 3;92  
      ”Kamu belum lagi mencapai kebajikan  sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah Mengetahui”.

            Harta yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu kelancaran suatu pendidikan, membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan, membantu anak yatim, maka itu bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi Allah akan menghitung dan memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang diibaratkan sebutir biji yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri mengatakan bukanlah atau belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang beriman  belum menafkahkan dari sebagian harta yang paling dicintainya dan masih disukainya.

            Sifat manusia yang tidak terpuji yaitu memberikan sesuatu kepada orang lain barang yang tidak lagi disukainya, buah-buahan yang sudah layu, makanan yang sudah basi, pakaian bekas yang sudah compang camping, yang jelas tidak disukainya  lagi baru diberikan kepada orang lain.

            Sehubungan dengan firman Allah pada ayat 92 surat Ali Imran diatas, ada sebuah ilustras yang sangat menarik sebagai peringatan bagi para da’i, mubaligh dan ummat islam umumnya, ilustrasi ini terjadi di daerah antah berantah, seorang kiyai mengupas ayat diatas dengan berapi-api dalam sebuah pengajian, dengan mengatakan bahwa tidaklah beriman kamu sebelum memberikan harta yang dicintainya. Diantara peserta pengajian terdapat seorang ibu yang kebetulan isteri pak kyai tersebut, serta merta ibu tadi meninggalkan majlis pengajian menuju rumahnya. Sesampai di rumah, segala barang yang berharga bagi keluarganya diserahkan kepada orang lain, termasuk jas suaminya yang sangat disayangi dan kebetulan memang satu-satunya.

            Ketika sang kiyai sampai di halaman rumahnya, dia heran karena banyak orang berkumpul di rumah, dan kejadian ini tidak biasanya. Dia semakin heran, setiap orang yang keluar dari rumah tersebut membawa barang minimal gelas satu buah. Sang isteri ditanya dengan menahan emosi, tak tahu apa yang harus dilakukannya, melihat kesibukan isteri memindahkan barang-barang. Pak kiyai bertambah kaget ketika dilihat jas kesayangannya juga telah terbang ke tetangga sebelah. Dihampirinya sang isteri tercinta dengan pertanyaan yang sangat hati-hati, ada apa gerangan ? Isteri memberi jawaban polosnya, ”Pak, saya hanya menjalankan perintah bapak di  pengajian tadi, ”Tidaklah atau belumlah dikatakan beriman atau mencapai suatu kebajikan sebelum menafkahkan harta yang paling  disukai”, dengan perasaan yang bermacam-macam dan senyum dikulum pak kiyai menjelaskan, ”Buk, ayat yang saya sampaikan pada pengajian tadi bukan untuk kita, ayat itu untuk orang lain”.

            Itu hanya sebuah ilustrasi yang tidak akan terjadi terutama bagi pada da’i. Mulailah dari diri, keluarga baru kepada orang lain. Ketika Rasulullah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan Allah, terdapata seorang sahabat yang sangat papa. Jangankan untuk sedekah, sedangkan untuk diri sendiri dia tidak punya. Sahabat itu berkata, ”Ya, Rasulullah, bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenang hati untuk berderma di jalan Allah, tapi kami ini ya Rasul, orang yang pada dan sangat miskin, apa yang harus kami berikan ?”

            Kemudian Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa sedekah bukan sebatas harta yang harus dimiliki, salah satu sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ahmad, ”Setiap diri diwajibkan sedekah kepadanya tiap hari dikala terbitnya matahari, diantaranya;
1.Jika ia mendamaikan orang yang bermusuhan dengan adil, itulah sedekah.
2.Bila ia menolong seseorang untuk menaiki binatang tunggangannya, berarti sedekah.
3.Mengangkatkan barang-barang ke atas kendaraan itu juga sedekah.
4.Menyingkirkan rintangan duri  di jalan adalah sedekah.
5.Ucapan yang baik kepada keluarga dan orang lain adalah sedekah.
6.Dan setiap langkah  seorang untuk mendirkan shalat adalah sedekah.
7.Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

            Disamping hadits diatas, juga terdapat sabda Rasulullah Saw yang mengatakan,”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap takbir dan setiap tahlil adalah sedekah”. Sebagai saluran nilai lebih dari yang dimiliki oleh seorang hamba bila ia miskin, maka terlebih dahulu ialah dirinya sendiri, jika ada kelebihan jalan keluarnya ialah buat keluarga, untuk kaum kerabat, setelah itu barulah untuk keperluan lainnya, selama masih  untuk membuktikan ketaatan kepada Allah.

            Rasul memberikan pengarahan kepada ummatnya yang tidak berpunya agar tetap berbuat baik walaupun pemberian itu bukan berujud materi, intinya jangan ummat ini menjadikan kikir sebagai hiasan hidupnya, karena untuk  memberikan sesuatu kepada orang lain tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu, dalam kondisi miskinpun hal itu bisa  dilakukan.

Sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.

Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu?Mereka bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik.Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.

Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak, ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran: (QS Al-Baqarah: 261) juga firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid: 18)

Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah serupa.Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya.Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya.Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.[Ratna Utami, Hikmah Pagi: Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya,Republika OnLineJumat, 11 Maret 2011, 07:28 WIB].

Kisah legendaris tentang kekikiran terjadi dizaman nabi Musa As, dengan tokohnya bernama Qarun, sebagaimana kisah di bawah ini;

Qarun adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir).Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir'aun dan Haman.Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari simpanan.Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk diangkat karena beratnya isi kekayaan Qarun.Walaupun diangkat oleh beberapa orang lelaki kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.

Qarun mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong.Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan lemah di kalangan Bani Israil.Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani Israil terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang beriman kepada Allah dan lebih mengutmakan apa yang ada di sisi-Nya. Karena itu mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak berangan-angan ingin memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan dan kerusakannya serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain.Adapun kelompok kedua adalah yang terpukau dan tertipu oleh harta Qarun karena mereka telah kehilangan tolok ukur nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan hartanya. Mereka menganggap bahwa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan kecintaan Allah kepadanya.Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.

Qarun mabuk dan terlena oleh melimpahnya darta dan kekayaan.Semua itu membuatnya buta dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas sedala nikmat harta kekayaan dan memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat,kabaikan dan hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya mengatakan "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku"

Suatu hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkaknya. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."Akan tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati orang-orang yang tertipu seraya berkata, "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh…."

Berlakulah sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya.Hartanya menyebabkan Allah murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah bumi, maka tenggelamlah ia beserta harta yang dimilikinya dengan disaksikan oleh orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya.

Tatkala Bani Israil melihat bencana yang menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan sabar.Adapaun mereka yang telah tertipu dan pernah berangan-angan seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat yang sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah karena tidak mengalami nasib seperti Qarun.Mereka berkata, "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari [nikmat Allah[.

Kalaulah orang-orang berada, yang punya nilai lebih pada dirinya, mengetahui tentang firman Allah yang menyebutkan tentang keutamaan dan balasan bagi orang yang mau berinfaq dan berzakat serta berbuat baik kepada orang lain, kemudian mereka juga tahu bahwa sifat kikir itu mencelakakan senbagaimana yang dialami oleh Qarun maka sungguh mereka tidak akan menambah dan memperbanyak deposito di Bank, tidak menyimpang hartanya atau memamerkan hartanya dengan kemewahan dan kemegahan karena dengan harta itu mereka bisa mencapai keberuntungan hidup di dunia dan akherat sehingga harta itu berdaya guna bagi kepentingan ummat, otomatis akan menyempitkan jurang antara sikaya dan simiskin, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 20 Zulhijjah 1432.H/ 16 November 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar