Ada dua sifat yang hampir sama tapi
maknanya jauh berbeda, yaitu nekat dengan berani, nampaknya orang yang nekat
itu berani padahal dia melakukan sesuatu itu diluar perhitungan, sedangkan
berani orang yang berbuat, sudah diperhitungkannya segala resiko yang akan
dilalui dan sudah dipersiapkan untuk mengantisipasinya. Begitu juga halnya
hemat dianggap sama dengan kikir, padahal hemat adalah orang yang mengeluarkan
segala biaya yang ditimbulkannya penuh perhitungan, dia tidak mau besar pasak
dari pada tiang, sedangkan kikir adalah orang yang tidak mau mengeluarkan
apapun untuk dirinya apalagi untuk orang lain yang menyebabkan miliknya
berkurang.
Sikap berani dan hemat dibenarkan
dalam islam karena segala sesuatunya itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya
agar kelak tidak jadi penyesalan, sedangkan sifat nekat dan kikir bukanlah
sifat terpuji karena sifat ini akan mendatangkan kerugian pada pemiliknya.
Islam mengajarkan kepada ummatnya
agar saling memberi, memperhatikan, mempedulikan orang lain yang berada dalam
kekurangan dengan memberikan bantuan, apakah bantuan itu berupa tenaga, waktu,
ilmu atau bantuan berupa materi, sifat ini disebut dengan dermawan atau muhsin
yaitu orang yang berbuat baik. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang sulit,
banyaknya pengangguran dan semakin bertambahnya orang-orang miskin, maka
orang-orang yang baik sebagai dermawan sangat diharapkan.
"Yang
kaya makin kaya, yang miskin makin miskin!"Syair lagu dangdut yang
didendangkan Rhoma Irama pada akhir dekade 80-an ini ternyata tetap aktual
hingga kini.Zaman berganti.Presiden naik dan turun takhta.Elite politik
bergiliran timbul tenggelam di panggung kekuasaan.Namun, sebagian besar rakyat
tetap merana, miskin, dan papa.
Pada
akhir Orde Baru, sempat ada setitik harapan bahwa bangsa ini akan segera
melakukan tinggal landas menuju kemakmuran. Saat itu, rakyat merasa hidupnya
sedikit tercukupi.Keamanan terjamin.Sandang-pangan murah dibeli.Pendidikan
murah dapat diakses seluruh rakyat.
Tapi,
kini, seiring ambruknya rezim Soeharto itu, impian rakyat yang saat itu sibuk
menggelorakan reformasi tetap tak terbukti.Yang muncul hanya hiruk-pikuk.Publik
hanya disuguhi adegan elite dan para petualangan demokrasi yang sangat tidak
sedap.Bunuh-membunuh terus meledak, suap-menyuap tak kunjung henti, penjara semakin
tak muat, pornografi merajalela, dan hukum dijadikan tong sampah.Sosok negara
yang muncul serbasempoyongan.Negara seolah tak ada harapan.
Dalam
sebuah rilis yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), awal
Mei lalu, terlihat jelas betapa klaim angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang
tinggi ternyata tidak terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Para
peneliti itu menilai kenyataan mengenaskan tersebut tecermin dengan membesarnya
kesenjangan antara kemiskinan dan pengangguran.
Latief
Adam, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, saat itu menegaskan
pemerintah setiap tahun memang bertekad mengurangi jumlah pengangguran dan
angka kemiskinan. Namun, bila kemudian ditelisik dari selisih persentase
penurunan kemiskinan dengan pengangguran, kenyataan itu sebenarnya tak punya
arti yang layak.Ini terlihat jelas dengan adanya kenyataan bahwa jumlah orang
yang bekerja namun berkategori miskin masih cukup besar.
"Contohnya
2010, angka kemiskinan 13,33 persen, sedangkan pengangguran 7,41 persen.
Artinya, ada selisih 5,94 persen dan itu adalah jumlah orang-orang yang
bekerja, tetapi masih miskin," kata Latief. Menurut dia, terjadi
deviasi yang cukup besar antara penciptaan lapangan kerja dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Padahal, idealnya, seperti di negara lain,
pengurangan pengangguran sudah otomatis menekan kemiskinan.[Muhammad Subarkah,Yang
Kaya Makin Kaya,Yang Miskin Makin Miskin ,Republika.online,Rabu, 15 Juni
2011 pukul 16:59:00].
Dengan
kondisi sulit demikian maka peluang bagi yang memiliki nilai lebih untuk
berbagi dengan sesama, menjauhkan sifat kikir atau pelit karena sifat ini
mendatangkan kebencian dari yang hidup susah dan menjadi beban fikiran bagi
yang empunya, sifat peduli kepada orang lain dapat dilakukan dengan berbagai
cara.Nilai lebih manusia tadi dapat berupa harta, ilmu dan
kedudukan. Bila si pemilik nilai lebih hanya memperbesar perut dan
kesenangannya saja berarti dia telah mengabaikan seruan Allah dan Rasul-Nya. Islam
tidak menginginkan harta kekayaan hanya beredar pada satu kaum atau golongan
saja, akan tetapi islam memberikan jalan keluarnya yang layak diikuti bagi
orang-orang yang telah meyakinkan kebenaran Risalah-Nya.
Jalan keluar tersebut dapat disebut dengan zakat, infaq,
wakaf ataupun sedekah, yaitu pemberian yang harus dikeluarkan kepada yang
berhak menerimanya. Harta yang dimiliki seseorang bukanlah mutlak semuanya
menjadi hak miliknya, dibalik tu terdapat harta anak yatim, harta fakir miskin,
serta untuk keperluan kaum muslimin lainnya.
Dua ayat dibawah ini merupakan pijakan untuk mengeluarkan nilai lebih yang kita
miliki yaitu;
1.Surat Al Baqarah 2;261
”Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan
harta mereka pada jalan Allah, adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. dan Allah melipatgandakan
kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu luas pemberian-Nya dan Dia
amat Mengetahui”.
2.Surat Ali Imran 3;92
”Kamu belum lagi mencapai kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa
yang kamu sukai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan [dermakan] itu Allah
Mengetahui”.
Harta yang dikeluarkan di jalan Allah seperti membantu
kelancaran suatu pendidikan, membebaskan fakir miskin dari kesengsaraan, membantu
anak yatim, maka itu bukanlah pengeluaran yang sia-sia, akan tetapi Allah akan
menghitung dan memperhitungkan pahalanya yang sangat banyak, yang diibaratkan
sebutir biji yang menghasilkan tujuh ratus kebaikan. Allah sendiri mengatakan
bukanlah atau belum mencapai suatu kebajikan seandainya orang yang beriman belum menafkahkan dari sebagian harta yang
paling dicintainya dan masih disukainya.
Sifat manusia yang tidak terpuji yaitu memberikan sesuatu
kepada orang lain barang yang tidak lagi disukainya, buah-buahan yang sudah
layu, makanan yang sudah basi, pakaian bekas yang sudah compang camping, yang
jelas tidak disukainya lagi baru
diberikan kepada orang lain.
Sehubungan dengan firman Allah pada ayat 92 surat Ali
Imran diatas, ada sebuah ilustras yang sangat menarik sebagai peringatan bagi
para da’i, mubaligh dan ummat islam umumnya, ilustrasi ini terjadi di daerah
antah berantah, seorang kiyai mengupas ayat diatas dengan berapi-api dalam
sebuah pengajian, dengan mengatakan bahwa tidaklah beriman kamu sebelum
memberikan harta yang dicintainya. Diantara peserta pengajian terdapat seorang
ibu yang kebetulan isteri pak kyai tersebut, serta merta ibu tadi meninggalkan
majlis pengajian menuju rumahnya. Sesampai di rumah, segala barang yang
berharga bagi keluarganya diserahkan kepada orang lain, termasuk jas suaminya
yang sangat disayangi dan kebetulan memang satu-satunya.
Ketika sang kiyai sampai di halaman rumahnya, dia heran
karena banyak orang berkumpul di rumah, dan kejadian ini tidak biasanya. Dia
semakin heran, setiap orang yang keluar dari rumah tersebut membawa barang
minimal gelas satu buah. Sang isteri ditanya dengan menahan emosi, tak tahu apa
yang harus dilakukannya, melihat kesibukan isteri memindahkan barang-barang.
Pak kiyai bertambah kaget ketika dilihat jas kesayangannya juga telah terbang
ke tetangga sebelah. Dihampirinya sang isteri tercinta dengan pertanyaan yang
sangat hati-hati, ada apa gerangan ? Isteri memberi jawaban polosnya, ”Pak,
saya hanya menjalankan perintah bapak di
pengajian tadi, ”Tidaklah atau belumlah dikatakan beriman atau mencapai
suatu kebajikan sebelum menafkahkan harta yang paling disukai”, dengan perasaan yang bermacam-macam
dan senyum dikulum pak kiyai menjelaskan, ”Buk, ayat yang saya sampaikan pada
pengajian tadi bukan untuk kita, ayat itu untuk orang lain”.
Itu hanya sebuah ilustrasi yang tidak akan terjadi
terutama bagi pada da’i. Mulailah dari diri, keluarga baru kepada orang lain.
Ketika Rasulullah Saw mengeluarkan fatwa untuk mendermakan harta di jalan
Allah, terdapata seorang sahabat yang sangat papa. Jangankan untuk sedekah,
sedangkan untuk diri sendiri dia tidak punya. Sahabat itu berkata, ”Ya,
Rasulullah, bolehlah Abu Bakar, Umar atau Usman bersenang hati untuk berderma
di jalan Allah, tapi kami ini ya Rasul, orang yang pada dan sangat miskin, apa
yang harus kami berikan ?”
Kemudian Rasulullah memberikan kabar gembira bahwa
sedekah bukan sebatas harta yang harus dimiliki, salah satu sabda beliau yang
diriwayatkan oleh Ahmad, ”Setiap diri diwajibkan sedekah kepadanya tiap hari
dikala terbitnya matahari, diantaranya;
1.Jika ia mendamaikan orang yang bermusuhan dengan adil,
itulah sedekah.
2.Bila ia menolong seseorang untuk menaiki binatang
tunggangannya, berarti sedekah.
3.Mengangkatkan barang-barang ke atas kendaraan itu juga
sedekah.
4.Menyingkirkan rintangan duri di jalan adalah sedekah.
5.Ucapan yang baik kepada keluarga dan orang lain adalah
sedekah.
6.Dan setiap langkah
seorang untuk mendirkan shalat adalah sedekah.
7.Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”
Disamping hadits diatas, juga terdapat sabda Rasulullah
Saw yang mengatakan,”Setiap tasbih, setiap tahmid, setiap takbir dan setiap
tahlil adalah sedekah”. Sebagai saluran nilai lebih dari yang dimiliki oleh
seorang hamba bila ia miskin, maka terlebih dahulu ialah dirinya sendiri, jika
ada kelebihan jalan keluarnya ialah buat keluarga, untuk kaum kerabat, setelah
itu barulah untuk keperluan lainnya, selama masih untuk membuktikan ketaatan kepada Allah.
Rasul memberikan pengarahan kepada ummatnya yang tidak
berpunya agar tetap berbuat baik walaupun pemberian itu bukan berujud materi,
intinya jangan ummat ini menjadikan kikir sebagai hiasan hidupnya, karena
untuk memberikan sesuatu kepada orang
lain tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu, dalam kondisi miskinpun hal itu
bisa dilakukan.
Sebuah
kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu
menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara
berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.Tetapi
tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.
Siapakah
kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu?Mereka bukanlah anak dan ibu atau
kakak beradik.Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang
majikan dan pembantunya.
Tanpa
diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang
diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara
logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari
sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu,
berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan
biaya pendidikan anak-anaknya.
Namun,
Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak,
ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.
Tentu
saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi
rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena
sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran: (QS Al-Baqarah: 261) juga
firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang
yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah
dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan
mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid: 18)
Demikianlah,
Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah
serupa.Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan
keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya.Di samping itu kita tidak
perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang
Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya.Kita pun tak
perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan
kemuliaan di hadapan-Nya.[Ratna Utami, Hikmah Pagi: Menjadi Mulia Tak Perlu
Menunggu Kaya,Republika OnLineJumat, 11 Maret 2011, 07:28 WIB].
Kisah
legendaris tentang kekikiran terjadi dizaman nabi Musa As, dengan tokohnya
bernama Qarun, sebagaimana kisah di bawah ini;
Qarun
adalah kaum Nabi Musa, berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi
(Gypsy, bangsa Mesir).Allah mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa
kepada Fir'aun dan Haman.Allah telah mengaruniai Qarun harta yang sangat banyak
dan perbendaharaan yang melimpah ruah yang banyak memenuhi lemari
simpanan.Perbendaharaan harta dan lemari-lemari ini sangat berat untuk diangkat
karena beratnya isi kekayaan Qarun.Walaupun diangkat oleh beberapa orang lelaki
kuat dan kekar pun, mereka masih kewalahan.
Qarun
mempergunakan harta ini dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta
membuatnya sombong.Hal ini merupakan musibah dan bencana bagi kaum kafir dan
lemah di kalangan Bani Israil.Dalam memandang Qarun dan harta kekayaannya, Bani
Israil terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang yang
beriman kepada Allah dan lebih mengutmakan apa yang ada di sisi-Nya. Karena itu
mereka tidak terpedaya oleh harta Qarun dan tidak berangan-angan ingin
memilikinya. Bahkan mereka memprotes kesombongan, kesesatan dan kerusakannya
serta berharap agar ia menafkahkan hartanya di jalan Allah dan memberikan
kontribusi kepada hamba-hamba Allah yang lain.Adapun kelompok kedua adalah yang
terpukau dan tertipu oleh harta Qarun karena mereka telah kehilangan tolok ukur
nilai, landasan dan fondasi yang dapat digunakan untuk menilai Qarun dan
hartanya. Mereka menganggap bahwa kekayaan Qarun merupakan bukti keridhaan dan
kecintaan Allah kepadanya.Maka mereka berangan-angan ingin bernasib seperti itu.
Qarun
mabuk dan terlena oleh melimpahnya darta dan kekayaan.Semua itu membuatnya buta
dari kebenaran dan tuli dari nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka
meminta Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas sedala nikmat harta kekayaan
dan memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat,kabaikan
dan hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak
seraya mengatakan "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu
yang ada padaku"
Suatu
hari, keluarlah ia kepada kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan
congkaknya. Maka hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka
seraya berkata, "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan
kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang
besar."Akan tetapi orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati
orang-orang yang tertipu seraya berkata, "Kecelakaan yang besarlah bagimu,
pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh…."
Berlakulah
sunnatullah atasnya dan murka Allah menimpanya.Hartanya menyebabkan Allah
murka, menyebabkan dia hancur, dan datangnya siksa Allah. Maka Allah
membenamkan harta dan rumahnya kedalam bumi, kemudian terbelah dan mengangalah
bumi, maka tenggelamlah ia beserta harta yang dimilikinya dengan disaksikan oleh
orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun yang dapat menolong dan menahannya
dari bencana itu, tidak bermanfaat harta kekayaan dan perbendaharannya.
Tatkala
Bani Israil melihat bencana yang menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah
keimanan orang-orang yang beriman dan sabar.Adapaun mereka yang telah tertipu
dan pernah berangan-angan seperti Qarun, akhirnya mengetahui hakikat yang
sebenarnya dan terbukalah tabir, lalu mereka memuji Allah karena tidak
mengalami nasib seperti Qarun.Mereka berkata, "Aduhai, benarlah Allah
melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan
menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita
benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung
orang-orang yang mengingkari [nikmat Allah[.
Kalaulah
orang-orang berada, yang punya nilai lebih pada dirinya, mengetahui tentang
firman Allah yang menyebutkan tentang keutamaan dan balasan bagi orang yang mau
berinfaq dan berzakat serta berbuat baik kepada orang lain, kemudian mereka
juga tahu bahwa sifat kikir itu mencelakakan senbagaimana yang dialami oleh
Qarun maka sungguh mereka tidak akan menambah dan memperbanyak deposito di
Bank, tidak menyimpang hartanya atau memamerkan hartanya dengan kemewahan dan
kemegahan karena dengan harta itu mereka bisa mencapai keberuntungan hidup di
dunia dan akherat sehingga harta itu berdaya guna bagi kepentingan ummat,
otomatis akan menyempitkan jurang antara sikaya dan simiskin, wallahu a’lam,
[Cubadak Solok, 20 Zulhijjah 1432.H/ 16 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar