Selasa, 09 Februari 2016

173. Penjara



Ketika kita menyebut kata “penjara” yang terbayang adalah sebuah tempat bagi orang-orang yang dianggap bersalah yang melanggar aturan sebuah negara, walaupun vonis belum dijatuhkan bagi status penghuninya tapi vonis social sudah melekat padanya yaitu orang yang berbuat salah, melakukan dosa, kejahatan dan segala macam kenakalan lainnya.

            Saya pernah mengunjungi sebuah penjara dalam rangka menyampaikan pengajian di malam Bulan Ramadhan, setelah shalat taraweh saya sempatkan berdialoq dengan penghuni penjara, dari sekian informasi yang diterima, tidaklah semua orang yang masuk penjara itu orang-orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan. Ada yang kena fitnah, ada yang direkayasa, ada yang melakukan kejahatan karena terpaksa, tidak sengaja dan motiv-motiv lainnya, artinya janganlah kita menganggap orang yang masuk penjara itu penjahat semua.

            Bahkan Proklamator kita yaitu Bung Karno pernah pula mendekam dalam penjara karena dianggap mengganggu stabilitas negara ketika itu.Kita tahu Soekarno sendiri pernah masuk penjara, bahkan tidak satu-dua kali.
Sejarah mencatat Soekarno pernah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Sukamiskin pada 1930.Ia divonis empat tahun penjara oleh persidangan Landraat Bandung.

Selain di Sukamiskin, Soekarno juga pernah mendekam di Penjara Bantjeuy (Banceuy) Bandung sekitar delapan bulan setelah ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 bersama Gatot Mangkupraja, Maskoen dan Soepriadinata dari Partai Nasional Indonesia (PNI).

Penjara Banceuy sendiri adalah penjara tingkat rendah di zaman Belanda.Penjara ini didirikan pada abad kesembilan belas, keadaannya kotor, bobrok dan tua.Disana ada dua macam sel. Yang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek. Pepetek — sebangsa ikan yang murah dan menjadi makanan orang yang paling miskin — adalah nama julukan untuk rakyat jelata. Pepetek tidur diatas lantai. Sedangkan para tahanan politik tingkat atas, seperti Soekarno, tidur di atas pelbed besi.[Kisah Aneh dan Unik Ketika Soekarno Dijadikan Nabi.Nahimungkar.com.Monday, 11/04/2011 14:51 WIB].

Begitu juga Soekarno juga menggunakan penjara untuk melumpuhkan orang-orang yang dianggap mengancam posisinya, seperti halnya Buya Hamka harus mendekam dalam penjara karena tidak sejalan dengan penguasa orde lama itu.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam.Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan.Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia.Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.[Haji Abdul Malik Karim Amrullah,Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas].

Para penegak dakwah dan penyeru kebenaran, ketika berbenturan dengan keinginan penguasa, banyak diantara mereka yaitu ulama yang mempertahankan kebenaran walaupun harus masuk dalam penjara karena kebenaran tidak dapat ditukar dengan apapun, tersebutlah ketika itu seorang Imam bernama Ahmad bin Hanbal.

Imam Ahmad juga ahli fiqh.Bahkan, termasuk salah satu dari empat ulama besar yang menjadi rujukan dalam bidang fiqh (madzhab arba’ah).Imam Ahmad belajar fiqh kepada Imam Asy-Syafi’i. Tentang keutamaan Imam Ahmad, gurunya imam Asy-Syafi’i mengatakan, ”Saya keluar dari Baghdad, demi Allah saya tidak meninggalkan seseorang yang lebih bertakwa pada Allah, lebih ‘alim tentang ajaran Allah, lebih zuhud karena Allah, lebih wara’ dari yang diharamkan Allah, dan yang paling saya cintai melebihi Imam Ahmad bin Hanbal.”

Ujian yang menimpa Imam Ahmad sungguh sangat besar, yaitu ujian dan fitnah penciptaan Al-Qur’an.Fitnah tentang penciptaan Al-Qur’an –yaitu pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk– muncul pertama kali pada masa Al-Ma’mun.Pendapat ini berasal dan diyakini oleh penganut paham Mu’tazilah, dimana Raja Al-Ma’mun merasa kagum dengan pendapat ini dan mengikutinya. Lebih dari itu Al-Ma’mun menggunakan pedangnya untuk memaksa rakyat mengikuti pendapatnya, dan yang menolak akan dibunuh. Al-Ma’mun membunuh sekitar 1.000 ulama yang menolak mengatakan Al-Qur’an itu makhluk.Dan penjara penuh dengan para ulama.

Imam Ahmad berada di barisan paling depan yang menolak bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan konsekuensinya imam Ahmad dipanggil ke istana. Imam Ahmad berkata, ”Saya diambil tengah malam pada saat saya shalat. Tangan dan kaki saya diborgol, dan berat borgol itu melebihi berat badan saya.Saya dinaikkan di atas kuda, saya berusaha pegangan tetapi saya tidak bisa.Saya hampir jatuh tiga kali, tetapi setiap mau jatuh saya membaca; Ya Allah peliharalah aku.Maka Allah menjaga saya sehingga tidak jatuh.Tatkala saya dimasukkan ke dalam penjara, muka saya diseret.Saya sampai di penjara di akhir malam.Saya tidak tahu di mana letak kiblat dan saya tidak tahu di mana saya waktu itu.Ketika saya menjulurkan tangan, tiba-tiba ada air yang sejuk, maka saya berwudhu dan shalat Fajar.

Ketika pagi saya dibawa dengan kuda untuk kedua kalinya, dan saya belum makan.Hampir saja saya jatuh karena sangat laparnya.Saya dimasukkan ke tempat Mu’tashim. Tatkala saya masuk ia mencabut pedang, ditempelkan ke leherku dan berkata, “Wahai Ahmad, demi Allah saya mencintaimu seperti saya mencintai anaknya Harun Al-Rasyid (Al-Ma’mun). Maka janganlah engkau tumpahkan darahmu di hadapanku.” Kemudian ia memaksa kepadaku agar mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Imam Ahmad menolak, maka Mu’tasim menyuruh tukang pukulnya untuk memukul Imam Ahmad.Imam Ahmad dicambuk 160 kali, sampai beliau pingsan.Kemudian beliau siuman kembali.

Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, tetapi beliau tetap menolak, sehingga dicambuk lagi berulang-ulang kali.Sampai punggungnya babak belur karena seringnya dicambuk.
Imam Ahmad kembali dinaikkan ke atas kuda dan dimasukkan ke dalam penjara.Beliau dipenjara selama 28 bulan.Selama di penjara beliau selalu berpuasa dan makanan untuk berbuka cuma roti dan air.Itulah yang dimakan Imam Ahmad selama 28 bulan.Dan terakhir Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, beliau tetap menolak.Sampai akhirnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan bosan, kemudian mengembalikan Imam Ahmad ke rumahnya dengan keadaan luka parah. Berkata putranya, Abdullah, ”Ayah kami pulang kembali ke rumah malam hari setelah di penjara, dan langsung jatuh sakit karena luka parah.”

Ulama lain yang mempertaruhkan nyawanya di penjara adalah Ibnu Taimiyah,Namanya adalah Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy. Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arab yang terletak antara sungai Dajlah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.

Keluasan ilmu Ibnu Taimiyah juga terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, hadits, ushul, fara’id, tafsir, mantiq, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga.Penguasaan nahwu sharafnya juga luar biasa.Namun ilmu tafsir adalah disiplin ilmu yang paling digandrunginya.Bila sudah berkutat dengan tafsir, beliau tampak asyik sekali.Lebih dari seratus kitab Tafsir Al-Qur’an dipelajarinya. Tak heran bila mengkaji satu ayat saja, dia akan menelaah puluhan tafsir.

Ibnu Taimiyah termasuk sedikit di antara ulama yang istiqamah memegang prinsip. Akibat keteguhannya itu, ia harus keluar masuk tahanan. Sampai akhir hayatnya ia tetap dalam posisinya seperti itu. Berkali-kali ia diisolir, berkali-kali diintimidasi, tapi ia tak goyah untuk mempertahankan pendiriannya yang diyakini kebenarannya. Tak sejengkalpun ia mundur. Dari lisan Ibnu Taimiyah akhirnya muncul kata-kata mutiara: “Penjaraku adalah berkhalwat, pembuanganku adalah tempat hijrahku, dan pembunuhanku adalah syahid.”
Ibnu Taimiyah adalah salah seorang ulama yang langka.Dalam mempertahankan keyakinannya, banyak pihak yang kagum.Namun demikian yang benci juga banyak.Sewaktu Ibnu Taimiyah menolak keras paham wihdatul wujud yang diusung Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi, banyak yang marah besar. Pada 5 Ramadhan 705 H, datanglah surat panggilan dari penguasa Mesir dan Syam, Sultan An-Nashir Muhammad bin Qulaun. Rupanya ini hanyalah jebakan para pengikut Ibnu Arabi.Buktinya, Ibnu Taimiyah ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan selepas ceramah di sebuah majelis.

Beberapa bulan kemudian ada tanda-tanda hendak dibebaskan.Syaratnya, Ibnu Taimiyah harus mencabut sikap kontranya terhadap paham akidah penguasa Mesir.Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. “Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka,” begitu jawaban Ibnu Taimiyah mengutip ayat 33 surat Yusuf.

Meski dipenjara, Ibnu Taimiyah tetap beraktivitas sebagaimana biasa.Ketegaran pribadinya mendorong terus beramar ma’ruf nahi munkar.Sewaktu para narapidana sibuk bermain catur, undian, judi, dan lain-lain sehingga melalaikan shalat, Ibnu Taimiyah tak segan-segan menegurnya.Dia perintahkan secara tegas agar mereka menjaga shalat, senantiasa bertasbih, istighfar, dan berdoa.Berbagai amalan ibadah diajarkan, sehingga para penghuni penjara itu larut dalam kegiatan agama.Bahkan banyak narapidana yang sebenarnya sudah bebas tapi memilih tetap tinggal bersama Ibnu Taimiyah.Akhirnya pada 23 Rabi’ul Awwal 707 H dia bebas berkat pertolongan seorang pejabat Arab.

Begitu bebas, Ibnu Taimiyah bukannya kembali ke Damaskus tetapi memilih tinggal di Mesir yang banyak dihuni orang-orang yang memusuhinya.Dia tetap aktif mengajar, memberikan nasihat, ceramah, dan membentuk majelis-majelis.Tidak lama kemudian beberapa sekolah di Kairo rutin memberi kesempatan ceramah, di antaranya Madrasah Ash-Shalihiyyah.Dari situlah kalangan ulama Mesir mulai terbuka matanya, bahwa ternyata Ibnu Taimiyah tidak sesat seperti mereka duga.

Dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang dengki terus berupaya memasang perangkap.Celakanya, pemerintah Mesir termakan agitasi itu. Ibnu Taimiyah diberi ultimatum: kembali ke Damaskus, tetap tinggal di Mesir dengan syarat tidak mendakwahkan ajarannya kepada masyarakat, atau dipenjara.
Ternyata pilihan ketiga yang dipilihnya: penjara. Namun murid-muridnya menghalangi, dan menyarankan agar Ibnu Taimiyah kembali ke Damaskus.Demi menjaga hati pengikutnya, pada 18 Syawal 770 H Ibnu Taimiyah kembali ke Damaskus. Namun sebentar saja, cuma beberapa jam di Damaskus. Penjara lebih ‘dirindukannya’.Meski begitu Ibnu Taimiyah tidak bisa serta merta masuk penjara sebab rupanya kalangan qadhi dan ulama Mesir berselisih pendapat tentang penahanan itu.Alasan memenjaranya tidak jelas. Melihat pertentangan pendapat itu, Ibnu Taimiyah akhirnya mengambil keputusan sendiri: masuk penjara.

Meski di penjara, Ibnu Taimiyah tetap dinanti-nanti fatwa dan nasihatnya.Berbondong-bondong orang menjenguknya.Pemandangan yang sungguh ganjil, sehingga akhirnya Ibnu Taimiyah dibebaskan.Murid-muridnya di Madrasah Ash-Shalihiyyah dan beberapa majelis kajian dapat kembali mendengar ceramah-ceramahnya.[Mochamad Bugi, Biografi Empat Pemimpin Dakwah Teladan.Eramuslim.com.6/4/2007 | 19 Rabiul Awwal 1428 H].

Sejarah mencatat bagaimana kisah Nabi Yusuf yang dipenjarakan oleh rezim yang berkuasa padahal sebuah bukti tidak ada yang menyatakan dia bersalah, kisah ini berawal dari simpatinya isteri Raja yang bernama Zulaikha kepadanya. Tapi Yusuf lebih suka dimasukkan dalam penjara dari pada dia dianggap melakukan dosa, tuturnya dalam Al Qur’an;
"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.'" (QS. Yusuf: 33)

Wanita-wanita mulai membicarakan Yusuf: tentang pengaruhnya, kewibawaannya, dan kemuliaannya. Mereka mulai menceritakan bagaimana mereka memotong tangan mereka dengan pisau ketika melihat Yusuf.Akhirnya, berita itu tersebar dari kelompok elit ke masyarakat bawah.Manusia mulai membicarakan tentang sosok pemuda yang menolak keinginan isteri seorang ketua menteri, dan isteri-isteri dari para menteri memotong tangan mereka kerana merasa kagum dengannya.Seandainya kasus ini diketahui secara terbatas di kalangan istana dan kamar-kamarnya yang tertutup nescaya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.Tetapi masalah ini kemudian menyebar kemana-mana sampai kelapisan masyarakat yang paling bawah.

Di sinilah kewibawaan pemerintah dipertaruhkan dan menjadi pertimbangan.Lalu, rejim yang berkuasa menangkap Yusuf. Yusuf dimasukkan dalam penjara untuk membungkam banyaknya gosip-gosip yang disampaikan berkenaan dengan sikapnya serta sebagai cara untuk menutup cerita itu. Yusuf telah berkata ketika wanita-wanita memanggilnya untuk melakukan kesalahan bahawa penjara baginya lebih ringan dan lebih disukainya daripada memenuhi ajakan mereka.Demikianlah Yusuf kemudian masuk ke dalam penjara. Meskipun sebenarnya Yusuf bebas dari segala tuduhan, ia tetap dimasukkan dalam penjara.

Yusuf masuk dalam penjara dalam keadaan memiliki hati yang kukuh.Dalam keadaan tenang beliau berada dalam penjara.Beliau tidak menampakkan kesedihan, namun sebaliknya.Beliau berhasil melalui ujian dari isteri al-Aziz, dari pertanyaan-pertanyaan para menteri, dari keusilan para dukun, dan dari pembicaraan para pembantu. Bagi Yusuf, penjara adalah suatu tempat yang damai di mana di dalamnya ia mampu menenangkan dirinya dan berfikir tentang Tuhannya. Nabi Yusuf memanfaatkan kesempatannya di penjara untuk berdakwah di jalan Allah s.w.t. Di dalam penjara, beliau mendapati orang-orang yang tidak berdosa yang juga dimasukkan di dalamnya. Ketika manusia mendapatkan perlakuan lalim dari sebahagian manusia yang lain, maka hati mereka akan lebih mudah untuk mendengarkan kebenaran dan menerima hidayah. Memang hati orang-orang yang menderita dan teraniaya lebih terbuka untuk memenuhi panggilan Allah s.w.t.

Yusuf bercerita kepada manusia tentang rahmat Sang Pencipta, kebesaran-Nya, dan kasih sayang-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Yusuf bertanya kepada mereka: "Mana yang lebih baik, apakah akal harus dikalahkan dan manusia menyembah tuhan yang bermacam-macam atau, akal dimenangkan dan manusia menyembah Tuhan Pengatur alam Yang Maha Besar." Yusuf menyampaikan argumentasi-argumentasi yang kuat melalui pertanyaan-pertanyaannya yang disampaikan dengan ketenangan dan kedamaian.Beliau berdialog dengan mereka secara sehat dan dengan fikiran yang jernih serta dengan niat yang tulus.

Kemudian masuklah bersama beliau dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah seorang di antara mereka adalah pimpinan petugas pembuat rod yang biasa bekerja di tempat raja, sedangkan yang lain pimpinan petugas pemberi minuman keras (khamer) yang biasa diminum oleh raja. Tukang roti itu menyaksikan dalam mimpinya bahawa ia berdiri di satu tempat dengan membawa roti di atas kepalanya yang kemudian dimakan oleh burung yang terbang, sementara orang yang memberikan minum para raja juga bermimpi, dan melihat dalam mimpinya bahawa ia memberikan minum khamer kepada raja.

Kedua orang itu pergi kepada Yusuf dan masing-masing mereka menceritakan mimpinya kepadanya serta meminta kepada beliau untuk menakwilkan atau mentafsirkan apa yang mereka lihat. Yusuf menggunakan kesempatan itu baik-baik dan kemudian ia berdoa kepada Allah s.w.t. Kemudian beliau memberitahu tukang roti itu, bahawa ia akan disalib dan akan mati, adapun pemberi minum raja, maka dia akan keluar dari penjara dan akan kembali bekerja di tempat raja. Yusuf berkata kepada pemberi minum itu: "Jika engkau pergi ke raja, maka jangan lupa menceritakan keadaanku padanya. Katakan kepadanya bahawa di sana terdapat seorang yang ditahan dalam keadaan teraniaya yang bernama Yusuf.

Akhirnya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf benar-benar terjadi. Tukang roti itu pun terbunuh sedangkan orang yang biasa memberi minum raja itu dimaafkan dan kembali ke istana tetapi ia lupa untuk menceritakan pesan Yusuf kepada raja. Setan telah melupakannya sehingga ia lupa untuk menyebut nama Yusuf di depan raja. Yusuf pun tinggal di dalam penjara selama beberapa tahun[Lt Kdr (B) Dahalan bin Che Mat (Pak Ndak).Kisah Nabi-nabi Allah].

Begitu  penjara memperlakukan orang yang tidak disukai oleh rezim, penjara sebagai tempat untuk membungkam dan memberi pelajaran, walaupun sebenarnya orang-orang yang hatinya jernih menjadikan penjara sebagai sarana untuk mengevaluasi diri, muhasabah, muraqabah dan mujahadah. Kita bisa menyaksikan ketika sejarah membentangkan kesaksiannya kepada orang-orang yang dimasukkan dengan paksa ke penjara bukan karena kejahatannya tapi karena keshalehannya, keinginannya untuk menjadikan agar ummat ini berada dalam kebenaran, sebagaimana yang dialami oleh Sayid Qutb, Aminah Qutb, Abu Bakar Ba’ashir dan lain-lainnya, nampaknya penjara bukanlah tempat yang mengerikan bagi mereka, yang mereka takutkan adalah kalau mereka meserikatkan Allah,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Agustus 2011.M/ 27 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar