Selasa, 09 Februari 2016

180. Mualaf



Orang yang baru masuk islam dinamakan dengan mualaf artinya orang yang dilunakkan hatinya, banyak sebab seseorang masuk ke dalam islam, sepanjang sejarah kehidupan sebanyak itu pula silih bergantinya orang yang dapat hidayah dari Allah, apakah awalnya hanya sekedar membaca buku-buku islam karena rasa ingin tahu saja, atau karena penasaran yang tinggi karena islam selalu dimusuhi dan ada pula karena sering mendengarkan suara adzan, bahkan seorang astronot Amerika yang bernama Niel Amstrong masuk islam karena pernah mendengar suara adzan di angkasa, begitu juga penyanyi terkenal ketika kecilnya di tahun 1970 yaitu Chicha Koeswoyo tersentuh islam karena mendengarkan adzan di kamar saat dia sedang bermasalah dengan mamanya.

            Lucy Bushill-Matthews, Muslimah mualaf dan ibu dari tiga orang anak, membawa khazanah baru dalam dunia Islam. Ia wanita berpendidikan, dan gemar menulis. Beberapa tulisannya dibukukan, yang terbaru tentang hal-hal keseharian menjadi Muslimah, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Lentera Hati menjadi "AKU SEORANG MUSLIMAH MUALLAF: Kisah Lucu dan Sedih Menjadi Muslimah di Tanah Eropa".
 
Kepada Majalah Wanita
 Emel, dia menuliskan refleksinya tentang pilihan berislam.Berikut ini buah pikirannya:

Berita terbaru adalah tentang bersyahadatnya  Lauren Booth, ipar Tony Blair. Muslim hampir secara universal gembira bahwa 'saudara perempuan' lain telah memilih untuk memeluk Islam. Walau diakui Booth: banyak yang suka, banyak pula yang tak suka dengan pilihannya.

 Alquran menjunjung tinggi prinsip: "Tak ada paksaan dalam menganut Islam." (2:256) Pasal 18 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 menyatakan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, mengikuti hati nurani dan tuntunan agama." Hal ini termasuk kebebasan untuk memilih agama, kebebasan untuk memilih bagaimana untuk menjalani hidup kita dengan iman sebagai kompas penuntun, kebebasan untuk membesarkan anak-anak kita dalam kerangka itu, dan - dari sudut kontroversial - kebebasan meninggalkan agama itu.

Ketika Nabi Muhammad mulai berkhotbah kepada masyarakat sekitar dia tahun 610 M, hanya dia  sendiri sebagai seorang Muslim. Meskipun telah ada sepanjang sejarah kaum muslim (dengan 'm' kecil), secara harfiah berarti orang-orang yang beriman kepada Tuhan, namun belum ada yang percaya pada kredo lengkap, "Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya".
 Di era itu, setiap Muslim setelah Muhammad adalah mualaf. Muslim bersukacita ketika orang lain menerima Islam, dan para pemimpin suku politeistik dari Quraisy menjadi semakin gelisah, pada satu titik mengusir seluruh masyarakat Muslim ke sebuah lembah tandus selama tiga tahun.

Hari ini, mengubah juga disambut dengan reaksi campuran, meskipun tanpa koreaksi yang sama dilontarkan jika ada Muslim baru. Masing-masing berlomba-lomba mencari tahu mengapa ia menerima Islam. Saya terkesan dengan jawaban Yusuf Islam alias Cat Stevens tiap kali ditanya tentang mengapa ia masuk Islam, "Yah mengapa Anda mengikuti Islam? Saya seorang Muslim untuk alasan yang sama seperti Anda."

Sayangnya, banyak umat Islam yang tak menyadari, mengapa ia beragama Islam. Banyak Muslim yang menjadi Muslim hanya karena orang tua mereka Muslim. 

Bagaimanapun, adalah wajar bagi orangtua untuk memilih  membesarkan mereka dalam iman mereka sendiri. Sayangnya, jika kita mengalami pendidikan budaya yang ketat, ini bisa bingung dengan dan menyalahkan semua pada agama kita.

Anak-anak saya sudah protes pada cara saya mendidik mereka, yang mencoba untuk memasukkan nilai-nilai moral dan kebiasaan serta dasar teologis Islam. "Saya ingin memiliki kehendak bebas saya," kata putri saya yang menginjak pra-remaja, saat tertekan dengan desakan orangtuanya untuk memastikan kamarnya rapi.  "Hidupku akan sangat jauh lebih baik jika aku bukan Muslim," lanjutnya."Islam menyuruh aku harus berdoa dan memberi makan kelinci, membaca Alquran dan kamarku rapi."

Sebuah kasus baru-baru di AS melibatkan remaja Fatimah Rafiqah Barry yang memilih agama Kristen, kemudian melarikan diri dari orang tuanya yang Muslim.Ia menyatakan akan dibunuh jika ia kembali. Namun dikatakan dalam Alquran (4: 80) "Dan orang-orang yang berpaling, kami tidak mengutus kamu sebagai wali mereka" .

Ubaydallah ibn Jahsh pada zaman Rasulullah meninggalkan Islam dan menganut Kristen.Ia hidup bebas sebagai seorang Kristen sampai dia meninggal. Kita mungkin tidak setuju dengan pilihannya, tetapi dalam hal ini setiap orang bertanggung jawab pada akhirnya kepada Allah, dan bukan untuk orang lain.

Alquran menantang kita, "Jika telah menjadi kehendak Tuhanmu bahwa semua orang di dunia harus beriman, maka semua orang di bumi akan beriman!"(10:99) Saya hanya bisa terus berdoa, semoga anak-anak saya tetap tumbuh dalam keimanan, dan ketika besar, tetap memilih Islam sebagai agamanya. [Refleksi Mualaf Lucy Bushill-Mathews: Kita Tak Bisa Memaksa Orang untuk Masuk atau Keluar dari Islam, Republika.co.id.Rabu, 15 Juni 2011 01:00 WIB].

Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, apakah akan beriman atau kafir, semuanya ada konsekwensinya.Siapa yang mau maka berimanlah, dan siapa yang mau maka kafirlah.”[ Al Kahfi 18:29].
Untuk Yayasan Pengelola Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu (28/5)
Pernikahan mereka sengaja digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT.Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan sang pengantin.

Syekh As'ad, Imam Masjid Al-Istiqlal di Haifa bertindak sebagai penghulu. Ia mendoakan kedua mempelai agar pernikahan yang mereka jalani diberkahi Allah SWT. Ia juga berharap keduanya dapat menjalani kehidupan sebagai suami istri selama mungkin, dalam kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan.
"Pernikahan di masjid ini (Aqsha) adalah pernikahan mubarak (yang diberkahi), dan tugas kita untuk memakmurkannya selama-lamanya," kata Syekh As'ad dalam khutbah nikahnya.

"Selama ini Masjid Aqsha menyelenggarakan pernikahan untuk pemuda dan pemudi Palestina, namun hari ini kedua mempelainya berasal dari Haifa, Israel. Kami meminta para pemuda dan pemudi agar menikah dengan cara penuh berkah seperti pernikahan ini," pesan As'ad.

Pernikahan Ghalib dan Zainab ini menjadi istimewa karena, sang mempelai putri adalah mualaf yang baru dua tahun lalu memeluk Islam. Kedekatan dan keterikatan Zainab dengan Islam bermula empat tahun lalu saat ia tertarik mendengar bacaan kitab suci Al-Qur'an, dan mengikuti tayangan program agama Islam di televisi satelit.

Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba.Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat."Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen.Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.

Setelah itu, keluarga ini kian intensif mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan mengikuti kajian-kajian keislaman yang ditayangkan di televisi kabel.Inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk segera bersyahadat."Ini seperti firman Allah dalam Al-Qur'an; "Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar," kata Zainab seraya mengutip surah Ali Imran ayat 176 dengan fasih.

Adapun Ghalib, dengan mata berkaca-kaca menuturkan kisah pernikahannya dengan Zainab. "Tiga pekan sebelum menikah, saya dan tunangan saya membaca surah Al-Isra' bersama-sama.Setelah itu saya berziarah ke Masjid Al-Aqsha," ujarnya.

"Dan entahlah, saya tidak tahu apa yang mendorong langkah saya untuk mendirikan shalat di Masjid Qubbatush Shahra (Kubah Emas). Setelah shalat dua rakaat, saya membaca surat Al-Isra' hingga selesai. Di sana pula kami berdoa dan bertekad untuk menikah," tutur Ghalib.

Menurut Ghalib, sebelumnya ia dan Zainab tidak mengetahui jika di Masjid Al-Aqsha juga bisa dilakukan pernikahan. Suatu ketika, usai melaksanakan shalat di Masjid Al-Istiqlal, ia langsung menemui Syekh As'ad—imam masjid—dan menyatakan keinginannya menikah.[Subhanallah, Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam, Republika.co.id.Senin, 30 Mei 2011 21:18 WIB].

Sebenarnya peluang untuk mempelajari islam secara intensif bagi calon mualaf banyak sekali tersedia, buku-buku dan kitab apa saja dalam islam termasuk Al Qur’an dapat dibaca dalam berbagai bahasa, sebagaimana ketika adik iparnya telah masuk islam, Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris itu rajin membaca Al Qur’an, semoga ini akan mengantarkannya sebagai mualaf yang mendapat hidayah dari Allah.
Sejak tak lagi menjabat sebagai perdana menteri Inggris, Tony Blair lebih terbuka terhadap agama. Ia mengaku membaca Al Quran setiap hari karena membuatnya lebih melek iman.“Untuk menjadi melek iman itu sangat penting dalam dunia global,” katanya seperti yang dilaporkan Daily Mail, Senin 13 Juni 2011.Ia membaca Al Quran setiap hari untuk memahami hal-hal yang terjadi di dunia, karena Al Quran memberikan perintah-perintah yang jelas atau instruktif.

Ia juga meyakini pengetahuannya tentang iman membantu perannya sebagai utusan di Timur Tengah mewakili PBB, Amerika, Uni Eropa dan Rusia. Sebelumnya ia juga pernah menyatakan iman umat muslim itu indah, dan Nabi Muhammad merupakan figur yang mendorong peradaban.

Pada tahun 2006 ia pernah menyatakan Al Quran merupakan kitab reformasi yang inklusif.  Al Quran juga mengagungkan ilmu dan pengetahuan, dan membenci tahkyul.  “Kitab (Al Quran)  itu memberikan arahan praktis tentang pernikahan, perempuan, dan pemerintahan, ” ujarnya.

Meski demikian, Tony juga mengakui juga melihat bagaimana para pelaku jihad menerjemahkan Al Quran sebagai panggilan untuk mengangkat senjata. Ketika terjadi serangan bom bunuh diri di London pada 2005 yang menewaskan 52 orang, saat itu ia masih menjabat sebagai perdana menteri.

Membaca Al Quran membantunya dalam menunaikan tugas sebagai utusan perdamaian. Selain itu, membaca Al-Quran juga membuat ia terbiasa dengan pandangan adik iparnya Lauren Booth yang menjadi mualaf.[Tony Blair Membaca Al-Qur’an Setiap Hari,Dakwatuna.com.13/6/2011 | 12 Rajab 1432 H].

Dengan masuknya adik ipar Tony Blair ke dalam islam mempengaruhi wanita-wanita Inggris lainnya sehingga banyak dari mereka yang tertarik mempelajari islam secara intensif yang kemudian masuk islam sebagai muslimah.

Masuk Islamnya adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth, membuat Islam semakin dibicarakan di Inggris. Kevin Brice, ahli dari Swansea University, mengatakan setiap perempuan kulit putih yang masuk Islam punya cerita yang berbeda, tapi memiliki satu tema yang sama yaitu persepsi bahwa Islam menawarkan perlindungan terhadap perempuan dan memberikan rasa identitas.

Kevin Brice, pakar yang meneliti orang kulit putih yang masuk Islam di Inggris, menemu-kan wanita kulit putih terdidik lebih cenderung masuk Islam daripada kelompok-kelompok lain. Brice mengatakan ada sekitar 60 banding 40 yang mendukung perempuan masuk Islam, dan mereka cenderung menampilkan “profil pendidikan yang lebih baik” daripada populasi rata-rata.

Terdapat pula peningkatan jumlah perempuan muda yang berpen-didikan universitas yang masuk Islam di usia dua puluhan dan tiga puluhan. "Mereka mencari spiritualitas, arti kehidupan yang lebih tinggi, dan cenderung menjadi pemikir yang mendalam," ujar Brice.

Pada sensus tahun 2001, 30 ribu orang Inggris masuk Islam. Menurut Brice, angka ini sekarang mendekati 50 ribu, di mana ma-yoritasnya adalah kaum wanita. Jumlah wanita yang masuk Islam melebihi jumlah laki-laki yang masuk Islam pada kebanyakan negara-negara Barat. Di Amerika, wanita merupakan 75 persen dari jumlah semua orang yang pindah agama tersebut (menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam atau Council on American-Islamic Relations).

Brice menambahkan tema umum dalam pindah agama para wanita di Inggris adalah bahwa Islam menawarkan perlindungan kepada perempuan dan rasa iden-titas. Uniknya, wanita yang pindah agama itu lebih mungkin untuk memakai pakaian Muslimah dari-pada mereka yang terlahir Mus-lim. "Melalui pemakaian pakaian yang sederhana, dengan semua cara untuk berjilbab, hal ini tidak lagi tentang bagaimana Anda terlihat... Sudah mulai terbebas dari ide bahwa Anda ditentukan oleh ukuran baju Anda," tambah Brice

Dr Nazreen Nawaz, Perwakil-an Muslimah Hizbut Tahrir Inggris menyatakan, "Selama berabad-abad subyek wanita dan Islam telah diliputi penyesatan infor-masi, kesalahpahaman, dan salah pengertian. Di banyak negara Barat, ide Islam menindas perem-puan seakan-akan telah menjadi fakta yang tak terbantahkan.  Namun tren yang terus tumbuh masuk Islamnya para wanita berpendidikan di Barat telah meruntuhkan mitos tentang per-lakuan semena-mena Islam atas kaum wanita.Hal ini meruntuhkan cerita-cerita yang populer di Barat yang menempatkan Islam sebagai antitesis hak-hak wanita wanita modern, dan terpelajar.
 Nazreen menambahkan bagi orang-orang yang bisa keluar dari mitos akibat tuduhan-tuduh-an negatif terhadap Islam (yang gencar dilakukan para politisi, wartawan, akademisi) dan orang-orang yang mempelajari agama dengan independen, tulus, de-ngan pikiran tidak memihak, akan menemukan suatu keyakinan yang menanamkan perasaan tentang tujuan hidup manusia, yang jauh dari kehidupan hedonistik dan materialistik.

  Mereka akan menemukan Islam sebagai ideologi yang mengangkat status wanita dalam masyarakat dan mereka selalu diperlakukan dengan hormat oleh kaum laki-laki; suatu sistem yang berdiri sebagai antitesis dari kapitalisme dan eksploitasi seksu-al dan penilaian rendah atas wanita untuk meningkatkan mar-gin keuntungan. Suatu cara hidup yang mendefinisikan martabat wanita sebagai sesuatu yang suci, yang melarang menjadikan wanita sebagai obyek dan komoditas nafsu kaum laki-laki, dan yang memelopori persa-maan hak kewarganegaraan bagi kaum wanita sejak 1400 tahun yang lalu

Berbeda dengan istilah 'pe-nindasan (subjugation)' yang  se-ring dikaitkan dengan pakaian jilbab, wanita Muslimah yang me-makai pakaian itu justru melihat jilbab sebagai pembebasan. Membebaskan mereka dari nilai harga diri yang ditentukan berda-sarkan ukuran pinggang mereka, bentuk tubuh mereka, dan menu-rut pandangan (seksual) orang lain.

Pakaian Muslimah membe-baskan mereka dari batasan ma-syarakat liberal sekuler, belenggu standar keindahan kaum wanita dan fashion, di mana menjadi gemuk atau terlihat tua dipan-dang sebagai kejahatan. Mitos kecantikan yang membuat wanita menjadi tidak realistis dan melum-puhkan harga diri untuk mengejar 'standar kecantikan semu': wanita sempurna tanpa cacat secara fisik.

Pakaian Muslimah (jilbab dan kerudung), menurut Nazreen, justru memberdayakan wanita dengan lebih memfokuskan pada hal-hal penting di luar penam-pilan fisik.Memusatkan pening-katan intelektualistas dan ke-trampilan wanita.Bukan disibukkan oleh tubuh mereka. “Mitos kecantikan liberal Barat justru  mencerminkan keyakinan bahwa penampilan seorang wanita-bu-kan kemampuannya- sebagai pas-por menuju sukses," tegas Naz-reen.

Tren peningkatan yang 'tak terbantahkan' kaum wanita terdi-dik yang masuk Islam di Barat tentu saja paling tidak memberi-kan manfaat untuk mengkritisi stereotip negatif. Kebohongan atas masalah ini selama berabad-abad perlu segera diatasi, karena sebagaimana yang sering terjadi masalahnya adalah kebenaran telah tersembunyi jauh tertanam di bawah propaganda negatif.[Wanita Inggris Ramai-ramai Masuk Islam, Mediaummat.com.; Tuesday, 01 March 2011 15:40].

Mualaf adalah orang-orang yang harus dijaga hatinya dengan pembinaan yang prima, setelah mereka masuk islam sebaiknya dibina dengan baik, jangan dibiarkan saja karena bisa saja mereka karena kurang sentuhan dan tidak ada pembinaan akhirnya kembali keagama semula. Untuk pembinaan mualaf kita bisa mencontoh negara tetangga kita yaitu Malaysia.

Pola pembinaan mualaf yang dilakukan pemerintah Malaysia boleh dibilang lebih baik ketimbang Indonesia. Kondisi itu tidak terlepas dari besarnya kesadaran pemerintah Malaysia terhadap pentingnya keberadaan mualaf bagi masa depan umat Islam.

Seperti diberitakan Kantor Berita Malaysia, Bernama, Kamis (7/7), pemerintah Malaysia tengah berencana membangun rumah pembinaan terhadap para mualaf.Tak hanya itu mereka juga menyiapkan anggaran untuk tabungan, tunjangan kesehatan dan pekerjaan bagi mualaf.

Menanggapi langkah yang dilakukan Malaysia, Kepala Bidang Pembinaan Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Anwar Sujana mengatakan pemerintah Indonesia, utamanya umat Islam tidak memiliki kesadaran seperti yang dimiliki Malaysia. "Kesadaran, itu yang kurang dari kita," kata dia.

Menurut Anwar, selama ini, umat Islam sudah memiliki kepedulian. Hanya saja, lebih menitik beratkan pada kaum dhuafa. Dianggapnya, mualaf itu tidak memiliki masalah yang sama.

Ke depan, Anwar berharap umat Islam bisa menumbuhkan kesadaran itu dengan cara melihat langsung kondisi mualaf. "Jangan hanya senang saudaranya masuk Islam, habis itu selesai sudah," pungkas dia.[Soal Pembinaan Mualaf, Indonesia Masih Perlu Belajar dari Malaysia, Republika.co.id.Jumat, 08 Juli 2011 18:39 WIB].

Ketika Rasulullah kembali dari jihad dengan kemenangan gemilang, banyak harta rampasan perang yang diperoleh, semuanya dibagikan menurut ketentuan dari Rasul, namun sayang tidak semua sahabat menerimanya, Rasul lebih banyak memberikan pembagian rampasan perang itu kepada kaum Muhajirin yang baru masuk islam, sehingga menimbulkan rasa tidak senang dan protes dari sahabat yang berasal dari Anshor, keluarlah kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan  seperti “Nabi Muhammad sudah melupakan kaum Anshor, dia mengutamakan kaumnya dari Mekkah, padahal kitalah yang ikut berjuang dan membantunya, tapi ketika ada pembagian ghanimah beliau lebih mengutamakan kaum muhajirin, kita tidak dianggap lagi’’, lebih kurang itu jeritan hati mereka yang diungkapkan oleh beberapa orang sahabat.

Mendengar itu Rasulullah sedih, beliau berkata,”Ghanimah itu aku berikan kepada Muhajirin karena mereka para mualaf, yang masih dilunakkan hatinya dengan harta dan pemberian, kalau kalau kalian menghendaki harta itu silahkan ambil, tapi perlu kalian ketahui bahwa ku berikan kepada mereka harta tapi mereka tidak bersamaku, sedangkan kalian sampai kapanpun akan tetap bersamaku di Madinah ini”, dengan terharu sahabat membenarkan sikap Rasulullah yang menyantuni para mualaf. wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar