Orang yang baru masuk islam dinamakan
dengan mualaf artinya orang yang dilunakkan hatinya, banyak sebab seseorang
masuk ke dalam islam, sepanjang sejarah kehidupan sebanyak itu pula silih
bergantinya orang yang dapat hidayah dari Allah, apakah awalnya hanya sekedar
membaca buku-buku islam karena rasa ingin tahu saja, atau karena penasaran yang
tinggi karena islam selalu dimusuhi dan ada pula karena sering mendengarkan
suara adzan, bahkan seorang astronot Amerika yang bernama Niel Amstrong masuk
islam karena pernah mendengar suara adzan di angkasa, begitu juga penyanyi
terkenal ketika kecilnya di tahun 1970 yaitu Chicha Koeswoyo tersentuh islam
karena mendengarkan adzan di kamar saat dia sedang bermasalah dengan mamanya.
Lucy Bushill-Matthews, Muslimah mualaf dan ibu dari tiga
orang anak, membawa khazanah baru dalam dunia Islam. Ia wanita berpendidikan,
dan gemar menulis. Beberapa tulisannya dibukukan, yang terbaru tentang hal-hal
keseharian menjadi Muslimah, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh
penerbit Lentera Hati menjadi "AKU SEORANG MUSLIMAH MUALLAF: Kisah Lucu
dan Sedih Menjadi Muslimah di Tanah Eropa".
Kepada Majalah Wanita Emel, dia menuliskan refleksinya tentang pilihan berislam.Berikut ini buah pikirannya:
Berita
terbaru adalah tentang bersyahadatnya Lauren Booth, ipar Tony Blair.
Muslim hampir secara universal gembira bahwa 'saudara perempuan' lain telah
memilih untuk memeluk Islam. Walau diakui Booth: banyak yang suka, banyak pula
yang tak suka dengan pilihannya.
Alquran
menjunjung tinggi prinsip: "Tak ada paksaan dalam menganut Islam."
(2:256) Pasal 18 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 menyatakan:
"Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, mengikuti hati nurani dan
tuntunan agama." Hal ini termasuk kebebasan untuk memilih agama, kebebasan
untuk memilih bagaimana untuk menjalani hidup kita dengan iman sebagai kompas
penuntun, kebebasan untuk membesarkan anak-anak kita dalam kerangka itu, dan -
dari sudut kontroversial - kebebasan meninggalkan agama itu.
Ketika
Nabi Muhammad mulai berkhotbah kepada masyarakat sekitar dia tahun 610 M, hanya
dia sendiri sebagai seorang Muslim. Meskipun telah ada sepanjang sejarah
kaum muslim (dengan 'm' kecil), secara harfiah berarti orang-orang yang beriman
kepada Tuhan, namun belum ada yang percaya pada kredo lengkap, "Tidak ada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya".
Di era itu,
setiap Muslim setelah Muhammad adalah mualaf. Muslim bersukacita ketika orang
lain menerima Islam, dan para pemimpin suku politeistik dari Quraisy menjadi
semakin gelisah, pada satu titik mengusir seluruh masyarakat Muslim ke sebuah
lembah tandus selama tiga tahun.
Hari
ini, mengubah juga disambut dengan reaksi campuran, meskipun tanpa koreaksi
yang sama dilontarkan jika ada Muslim baru. Masing-masing berlomba-lomba
mencari tahu mengapa ia menerima Islam. Saya terkesan dengan jawaban Yusuf
Islam alias Cat Stevens tiap kali ditanya tentang mengapa ia masuk Islam,
"Yah mengapa Anda mengikuti Islam? Saya seorang Muslim untuk alasan yang
sama seperti Anda."
Sayangnya,
banyak umat Islam yang tak menyadari, mengapa ia beragama Islam. Banyak Muslim
yang menjadi Muslim hanya karena orang tua mereka Muslim.
Bagaimanapun, adalah wajar bagi orangtua untuk memilih membesarkan mereka dalam iman mereka sendiri. Sayangnya, jika kita mengalami pendidikan budaya yang ketat, ini bisa bingung dengan dan menyalahkan semua pada agama kita.
Bagaimanapun, adalah wajar bagi orangtua untuk memilih membesarkan mereka dalam iman mereka sendiri. Sayangnya, jika kita mengalami pendidikan budaya yang ketat, ini bisa bingung dengan dan menyalahkan semua pada agama kita.
Anak-anak
saya sudah protes pada cara saya mendidik mereka, yang mencoba untuk memasukkan
nilai-nilai moral dan kebiasaan serta dasar teologis Islam. "Saya ingin
memiliki kehendak bebas saya," kata putri saya yang menginjak pra-remaja,
saat tertekan dengan desakan orangtuanya untuk memastikan kamarnya rapi.
"Hidupku akan sangat jauh lebih baik jika aku bukan Muslim,"
lanjutnya."Islam menyuruh aku harus berdoa dan memberi makan kelinci,
membaca Alquran dan kamarku rapi."
Sebuah
kasus baru-baru di AS melibatkan remaja Fatimah Rafiqah Barry yang memilih
agama Kristen, kemudian melarikan diri dari orang tuanya yang Muslim.Ia
menyatakan akan dibunuh jika ia kembali. Namun dikatakan dalam Alquran (4: 80)
"Dan orang-orang yang berpaling, kami tidak mengutus kamu sebagai wali
mereka" .
Ubaydallah
ibn Jahsh pada zaman Rasulullah meninggalkan Islam dan menganut Kristen.Ia
hidup bebas sebagai seorang Kristen sampai dia meninggal. Kita mungkin tidak
setuju dengan pilihannya, tetapi dalam hal ini setiap orang bertanggung jawab
pada akhirnya kepada Allah, dan bukan untuk orang lain.
Alquran
menantang kita, "Jika telah menjadi kehendak Tuhanmu bahwa semua orang di
dunia harus beriman, maka semua orang di bumi akan beriman!"(10:99) Saya hanya bisa terus berdoa, semoga anak-anak saya tetap
tumbuh dalam keimanan, dan ketika besar, tetap memilih Islam sebagai agamanya. [Refleksi
Mualaf Lucy Bushill-Mathews: Kita Tak Bisa Memaksa Orang untuk Masuk atau
Keluar dari Islam, Republika.co.id.Rabu, 15 Juni 2011 01:00 WIB].
Islam memberikan kebebasan kepada
manusia untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, apakah akan beriman atau
kafir, semuanya ada konsekwensinya.“Siapa yang mau maka berimanlah, dan siapa
yang mau maka kafirlah.”[ Al Kahfi 18:29].
Untuk Yayasan Pengelola
Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan
dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu
(28/5)
Pernikahan mereka sengaja
digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari
Allah SWT.Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan
sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan
sang pengantin.
Syekh As'ad, Imam Masjid
Al-Istiqlal di Haifa bertindak sebagai penghulu. Ia mendoakan kedua mempelai
agar pernikahan yang mereka jalani diberkahi Allah SWT. Ia juga berharap
keduanya dapat menjalani kehidupan sebagai suami istri selama mungkin, dalam
kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan.
"Pernikahan di masjid ini
(Aqsha) adalah pernikahan mubarak (yang diberkahi), dan tugas kita untuk
memakmurkannya selama-lamanya," kata Syekh As'ad dalam khutbah nikahnya.
"Selama ini Masjid Aqsha
menyelenggarakan pernikahan untuk pemuda dan pemudi Palestina, namun hari ini
kedua mempelainya berasal dari Haifa, Israel. Kami meminta para pemuda dan
pemudi agar menikah dengan cara penuh berkah seperti pernikahan ini,"
pesan As'ad.
Pernikahan Ghalib dan Zainab
ini menjadi istimewa karena, sang mempelai putri adalah mualaf yang baru dua
tahun lalu memeluk Islam. Kedekatan dan keterikatan Zainab dengan Islam bermula
empat tahun lalu saat ia tertarik mendengar bacaan kitab suci Al-Qur'an, dan
mengikuti tayangan program agama Islam di televisi satelit.
Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba.Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat."Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen.Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.
Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba.Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat."Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen.Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.
Setelah itu, keluarga ini kian
intensif mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan mengikuti kajian-kajian keislaman
yang ditayangkan di televisi kabel.Inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk
segera bersyahadat."Ini seperti firman Allah dalam Al-Qur'an; "Janganlah
kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka
tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.Allah
berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di
hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar," kata Zainab
seraya mengutip surah Ali Imran ayat 176 dengan fasih.
Adapun Ghalib, dengan mata
berkaca-kaca menuturkan kisah pernikahannya dengan Zainab. "Tiga pekan
sebelum menikah, saya dan tunangan saya membaca surah Al-Isra'
bersama-sama.Setelah itu saya berziarah ke Masjid Al-Aqsha," ujarnya.
"Dan entahlah, saya tidak
tahu apa yang mendorong langkah saya untuk mendirikan shalat di Masjid
Qubbatush Shahra (Kubah Emas). Setelah shalat dua rakaat, saya membaca surat
Al-Isra' hingga selesai. Di sana pula kami berdoa dan bertekad untuk
menikah," tutur Ghalib.
Menurut Ghalib, sebelumnya ia
dan Zainab tidak mengetahui jika di Masjid Al-Aqsha juga bisa dilakukan
pernikahan. Suatu ketika, usai melaksanakan shalat di Masjid Al-Istiqlal, ia
langsung menemui Syekh As'ad—imam masjid—dan menyatakan keinginannya menikah.[Subhanallah,
Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam, Republika.co.id.Senin,
30 Mei 2011 21:18 WIB].
Sebenarnya peluang untuk
mempelajari islam secara intensif bagi calon mualaf banyak sekali tersedia,
buku-buku dan kitab apa saja dalam islam termasuk Al Qur’an dapat dibaca dalam
berbagai bahasa, sebagaimana ketika adik iparnya telah masuk islam, Tony Blair,
mantan Perdana Menteri Inggris itu rajin membaca Al Qur’an, semoga ini akan
mengantarkannya sebagai mualaf yang mendapat hidayah dari Allah.
Sejak tak lagi menjabat sebagai perdana menteri Inggris,
Tony Blair lebih terbuka terhadap agama. Ia mengaku membaca Al Quran setiap
hari karena membuatnya lebih melek iman.“Untuk menjadi melek iman itu sangat
penting dalam dunia global,” katanya seperti yang dilaporkan Daily Mail, Senin
13 Juni 2011.Ia membaca Al Quran setiap hari untuk memahami hal-hal yang terjadi
di dunia, karena Al Quran memberikan perintah-perintah yang jelas atau
instruktif.
Ia juga meyakini pengetahuannya tentang iman membantu
perannya sebagai utusan di Timur Tengah mewakili PBB, Amerika, Uni Eropa dan
Rusia. Sebelumnya ia juga pernah menyatakan iman umat muslim itu indah, dan
Nabi Muhammad merupakan figur yang mendorong peradaban.
Pada tahun 2006 ia pernah menyatakan Al Quran merupakan
kitab reformasi yang inklusif. Al Quran juga mengagungkan ilmu dan
pengetahuan, dan membenci tahkyul. “Kitab (Al Quran) itu memberikan
arahan praktis tentang pernikahan, perempuan, dan pemerintahan, ” ujarnya.
Meski demikian, Tony juga mengakui juga melihat bagaimana
para pelaku jihad menerjemahkan Al Quran sebagai panggilan untuk mengangkat
senjata. Ketika terjadi serangan bom bunuh diri di London pada 2005 yang
menewaskan 52 orang, saat itu ia masih menjabat sebagai perdana menteri.
Membaca Al Quran membantunya
dalam menunaikan tugas sebagai utusan perdamaian. Selain itu, membaca Al-Quran
juga membuat ia terbiasa dengan pandangan adik iparnya Lauren Booth yang
menjadi mualaf.[Tony Blair Membaca
Al-Qur’an Setiap Hari,Dakwatuna.com.13/6/2011 | 12 Rajab 1432 H].
Dengan masuknya adik ipar Tony
Blair ke dalam islam mempengaruhi wanita-wanita Inggris lainnya sehingga banyak
dari mereka yang tertarik mempelajari islam secara intensif yang kemudian masuk
islam sebagai muslimah.
Masuk Islamnya adik ipar
mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth, membuat Islam
semakin dibicarakan di Inggris. Kevin Brice, ahli dari Swansea University,
mengatakan setiap perempuan kulit putih yang masuk Islam punya cerita yang
berbeda, tapi memiliki satu tema yang sama yaitu persepsi bahwa Islam
menawarkan perlindungan terhadap perempuan dan memberikan rasa identitas.
Kevin Brice, pakar yang meneliti orang kulit putih yang masuk Islam di Inggris, menemu-kan wanita kulit putih terdidik lebih cenderung masuk Islam daripada kelompok-kelompok lain. Brice mengatakan ada sekitar 60 banding 40 yang mendukung perempuan masuk Islam, dan mereka cenderung menampilkan “profil pendidikan yang lebih baik” daripada populasi rata-rata.
Kevin Brice, pakar yang meneliti orang kulit putih yang masuk Islam di Inggris, menemu-kan wanita kulit putih terdidik lebih cenderung masuk Islam daripada kelompok-kelompok lain. Brice mengatakan ada sekitar 60 banding 40 yang mendukung perempuan masuk Islam, dan mereka cenderung menampilkan “profil pendidikan yang lebih baik” daripada populasi rata-rata.
Terdapat pula peningkatan
jumlah perempuan muda yang berpen-didikan universitas yang masuk Islam di usia dua
puluhan dan tiga puluhan. "Mereka mencari spiritualitas, arti kehidupan
yang lebih tinggi, dan cenderung menjadi pemikir yang mendalam," ujar
Brice.
Pada sensus tahun 2001, 30
ribu orang Inggris masuk Islam. Menurut Brice, angka ini sekarang mendekati 50
ribu, di mana ma-yoritasnya adalah kaum wanita. Jumlah wanita yang masuk Islam
melebihi jumlah laki-laki yang masuk Islam pada kebanyakan negara-negara Barat.
Di Amerika, wanita merupakan 75 persen dari jumlah semua orang yang pindah
agama tersebut (menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam atau Council on
American-Islamic Relations).
Brice menambahkan tema umum
dalam pindah agama para wanita di Inggris adalah bahwa Islam menawarkan
perlindungan kepada perempuan dan rasa iden-titas. Uniknya, wanita yang pindah
agama itu lebih mungkin untuk memakai pakaian Muslimah dari-pada mereka yang
terlahir Mus-lim. "Melalui pemakaian pakaian yang sederhana, dengan semua
cara untuk berjilbab, hal ini tidak lagi tentang bagaimana Anda terlihat...
Sudah mulai terbebas dari ide bahwa Anda ditentukan oleh ukuran baju
Anda," tambah Brice
Dr Nazreen Nawaz, Perwakil-an
Muslimah Hizbut Tahrir Inggris menyatakan, "Selama berabad-abad subyek
wanita dan Islam telah diliputi penyesatan infor-masi, kesalahpahaman, dan
salah pengertian. Di banyak negara Barat, ide Islam menindas perem-puan
seakan-akan telah menjadi fakta yang tak terbantahkan. Namun tren yang
terus tumbuh masuk Islamnya para wanita berpendidikan di Barat telah
meruntuhkan mitos tentang per-lakuan semena-mena Islam atas kaum wanita.Hal ini
meruntuhkan cerita-cerita yang populer di Barat yang menempatkan Islam sebagai
antitesis hak-hak wanita wanita modern, dan terpelajar.
Nazreen menambahkan bagi orang-orang yang bisa
keluar dari mitos akibat tuduhan-tuduh-an negatif terhadap Islam (yang gencar
dilakukan para politisi, wartawan, akademisi) dan orang-orang yang mempelajari
agama dengan independen, tulus, de-ngan pikiran tidak memihak, akan menemukan
suatu keyakinan yang menanamkan perasaan tentang tujuan hidup manusia, yang
jauh dari kehidupan hedonistik dan materialistik.
Mereka akan menemukan
Islam sebagai ideologi yang mengangkat status wanita dalam masyarakat dan
mereka selalu diperlakukan dengan hormat oleh kaum laki-laki; suatu sistem yang
berdiri sebagai antitesis dari kapitalisme dan eksploitasi seksu-al dan
penilaian rendah atas wanita untuk meningkatkan mar-gin keuntungan. Suatu cara
hidup yang mendefinisikan martabat wanita sebagai sesuatu yang suci, yang
melarang menjadikan wanita sebagai obyek dan komoditas nafsu kaum laki-laki,
dan yang memelopori persa-maan hak kewarganegaraan bagi kaum wanita sejak 1400
tahun yang lalu
Berbeda dengan istilah
'pe-nindasan (subjugation)' yang se-ring dikaitkan dengan pakaian jilbab,
wanita Muslimah yang me-makai pakaian itu justru melihat jilbab sebagai
pembebasan. Membebaskan mereka dari nilai harga diri yang ditentukan
berda-sarkan ukuran pinggang mereka, bentuk tubuh mereka, dan menu-rut
pandangan (seksual) orang lain.
Pakaian Muslimah membe-baskan
mereka dari batasan ma-syarakat liberal sekuler, belenggu standar keindahan
kaum wanita dan fashion, di mana menjadi gemuk atau terlihat tua dipan-dang
sebagai kejahatan. Mitos kecantikan yang membuat wanita menjadi tidak realistis
dan melum-puhkan harga diri untuk mengejar 'standar kecantikan semu': wanita
sempurna tanpa cacat secara fisik.
Pakaian Muslimah (jilbab dan
kerudung), menurut Nazreen, justru memberdayakan wanita dengan lebih
memfokuskan pada hal-hal penting di luar penam-pilan fisik.Memusatkan
pening-katan intelektualistas dan ke-trampilan wanita.Bukan disibukkan oleh
tubuh mereka. “Mitos kecantikan liberal Barat justru mencerminkan
keyakinan bahwa penampilan seorang wanita-bu-kan kemampuannya- sebagai pas-por
menuju sukses," tegas Naz-reen.
Tren peningkatan yang 'tak terbantahkan'
kaum wanita terdi-dik yang masuk Islam di Barat tentu saja paling tidak
memberi-kan manfaat untuk mengkritisi stereotip negatif. Kebohongan atas
masalah ini selama berabad-abad perlu segera diatasi, karena sebagaimana yang
sering terjadi masalahnya adalah kebenaran telah tersembunyi jauh tertanam di
bawah propaganda negatif.[Wanita Inggris Ramai-ramai Masuk Islam, Mediaummat.com.;
Tuesday, 01 March 2011 15:40].
Mualaf adalah orang-orang yang
harus dijaga hatinya dengan pembinaan yang prima, setelah mereka masuk islam
sebaiknya dibina dengan baik, jangan dibiarkan saja karena bisa saja mereka
karena kurang sentuhan dan tidak ada pembinaan akhirnya kembali keagama semula.
Untuk pembinaan mualaf kita bisa mencontoh negara tetangga kita yaitu Malaysia.
Pola pembinaan mualaf yang
dilakukan pemerintah Malaysia boleh dibilang lebih baik ketimbang Indonesia.
Kondisi itu tidak terlepas dari besarnya kesadaran pemerintah Malaysia terhadap
pentingnya keberadaan mualaf bagi masa depan umat Islam.
Seperti diberitakan Kantor
Berita Malaysia, Bernama, Kamis (7/7), pemerintah Malaysia tengah berencana
membangun rumah pembinaan terhadap para mualaf.Tak hanya itu mereka juga
menyiapkan anggaran untuk tabungan, tunjangan kesehatan dan pekerjaan bagi
mualaf.
Menanggapi langkah yang
dilakukan Malaysia, Kepala Bidang Pembinaan Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK),
Anwar Sujana mengatakan pemerintah Indonesia, utamanya umat Islam tidak
memiliki kesadaran seperti yang dimiliki Malaysia. "Kesadaran, itu yang
kurang dari kita," kata dia.
Menurut Anwar, selama ini,
umat Islam sudah memiliki kepedulian. Hanya saja, lebih menitik beratkan pada
kaum dhuafa. Dianggapnya, mualaf itu tidak memiliki masalah yang sama.
Ke depan, Anwar berharap umat
Islam bisa menumbuhkan kesadaran itu dengan cara melihat langsung kondisi
mualaf. "Jangan hanya senang saudaranya masuk Islam, habis itu selesai
sudah," pungkas dia.[Soal Pembinaan Mualaf, Indonesia Masih Perlu Belajar
dari Malaysia, Republika.co.id.Jumat, 08 Juli 2011 18:39 WIB].
Ketika Rasulullah kembali dari
jihad dengan kemenangan gemilang, banyak harta rampasan perang yang diperoleh,
semuanya dibagikan menurut ketentuan dari Rasul, namun sayang tidak semua
sahabat menerimanya, Rasul lebih banyak memberikan pembagian rampasan perang itu
kepada kaum Muhajirin yang baru masuk islam, sehingga menimbulkan rasa tidak
senang dan protes dari sahabat yang berasal dari Anshor, keluarlah
kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan
seperti “Nabi Muhammad sudah melupakan kaum Anshor, dia mengutamakan kaumnya
dari Mekkah, padahal kitalah yang ikut berjuang dan membantunya, tapi ketika
ada pembagian ghanimah beliau lebih mengutamakan kaum muhajirin, kita tidak
dianggap lagi’’, lebih kurang itu jeritan hati mereka yang diungkapkan oleh
beberapa orang sahabat.
Mendengar itu Rasulullah
sedih, beliau berkata,”Ghanimah itu aku berikan kepada Muhajirin karena mereka
para mualaf, yang masih dilunakkan hatinya dengan harta dan pemberian, kalau
kalau kalian menghendaki harta itu silahkan ambil, tapi perlu kalian ketahui
bahwa ku berikan kepada mereka harta tapi mereka tidak bersamaku, sedangkan
kalian sampai kapanpun akan tetap bersamaku di Madinah ini”, dengan terharu
sahabat membenarkan sikap Rasulullah yang menyantuni para mualaf. wallahu a’lam
[Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar