Senin, 15 Februari 2016

220. Kontribusi Dakwah



Dakwah islamiyyah sudah digelar sejak Rasulullah Saw mendapat wahyu bahkan sebelumnyapun para nabi terdahulu sudah memulainya, begitu juga halnya untuk kemarin, hari ini bahkan besok hingga ratusan tahun ke depan dakwah akan terus bergulir yang dilakukan oleh para da’i dengan berbagai lembaga dakwah yang tergabung pada sebuah jamaah atau dakwah personal yang dilakukan oleh pribadi-pribadi muslim. Dengan bergulirnya dakwah tersebut sebagai muslim kita harus mempertanyakan diri ini, apakah kita punya kontribusi terhadap dakwah itu atau kita hanya sebagai penonton saja,karena dakwah bukan hanya diemban  oleh para ulama, kiyai, ustadz dan mubaligh saja tapi setiap muslim harus punya andil hendaknya.

Jalan dakwah adalah keniscayaan. Setiap diri yang mengaku muslim hendaknya berdakwah. Berdakwah bukan hanya berceramah seperti yang banyak orang pahami. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a, “Mengajak satu orang kepada hidayah Allah itu lebih baik bagimu dari harta yang sangat kau banggakan. Rasulullah saw. menegaskan bahwa mengajak satu orang kepada kebaikan adalah dakwah. Maka dengan ini kegiatan dakwah tidak hanya terbatas pada kegiatan berceramah. Melainkan ia lebih berupa kegiatan menggunakan segala kemampuan, fasilitas dan kemungkinan lainnya untuk mempengaruhi orang lain agar taat kepada Allah. Orang bisa berdakwah dengan segala kemampuannya, menulis buku, berkomunikasi dengan orang lain dan lain sebagainya.

Ingat, dakwah adalah keniscayaan. Tanpa dakwah agama akan hilang. Tanpa dakwah kemanusiaan akan hancur. Selamat di dunia maupun di akhirat tidak ada pilihan kecuali dengan berdakwah di jalan Allah.[Dakwah Suatu Keniscayaan, dakwatuna.com,14/2/2007 | 25 Muharram 1428 H

Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.

Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).

Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.[Sofyan Siroj Aw, Lc, MM, Kami Adalah Dai, dakwatuna.com 15/1/2007 | 25 Zulhijjah 1427 H].

Karena dakwah merupakan kerja besar tentu hanya bisa didukung oleh orang-orang punya jiwa besar pula, yang punya keberanian untuk menyampaikan kebenaran walaupun pahit akibatnya, orang-orang pengecut tidak akan mampu berdakwah, apalagi sudah membicarakan resiko yang akan dihadapi sebelum maju ke  gelanggang, memang dakwah itu penuh dengan resiko, tapi pekerjaan apa saja pasti ada resikonya apalagi dakwah yang akan berhadapan dengan orang-orang yang menentang dakwah ini.

Kehidupan dunia ini diiringi kesulitan demi kesulitan (Al-Balad:4). Sehingga kesulitan sesuatu yang tak bisa dielakkan.Ia adalah realita perjalanan dunia ini. Kesulitan menjadi sebuah resiko dalam hidup.Tak seorang pun yang lepas dari kenyataan itu.Namun yang acap kali terjadi adalah takut terhadap resiko yang bakal muncul.Lantaran kekerdilan jiwa untuk menghadapinya.Lalu timbullah ketakutan-ketakutan.Rasa ketakutan ini cuma menggiring seseorang menjadi pengecut.Dan akhirnya lari dari kenyataan.

Sifat pengecut dipandang sebagai sifat tercela yang tidak boleh dimiliki orang-orang yang beriman. Karena pengecut artinya ia tidak mau menanggung dan menghadapi resiko yang memang sudah menjadi konsekwensinya. Perilaku ini merupakan perilaku orang-orang yang setengah hati dalam keimanan, hanya ingin serba enak tanpa harus bersusah payah menghadapi masalah rumit. Sifat pengecut akan menjadi penghalang untuk maju dan pemberat langkah kesuksesan.

Saat ini, dunia dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki sifat pengecut. Sebuah hadits Nabi SAW. memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Memang, penyakit wahn-lah yang menyebabkan umat Islam banyak yang menjadi pengecut sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya yakni kaum kafir, musyrikin dan munafikin.

Islam memandang hina orang yang pengecut.Baik pengecut untuk mempertahankan hidup sehingga gampang putus asa.Pengecut lantaran takut dikucilkan dari komunitasnya.Pengecut karena berlainan dengan sikap banyak orang.Atau pengecut untuk membela sebuah nilai.Kemudian menjerumuskan pelakunya pada sikap yang plin-plan tanpa prinsip. Rasulullah SAW. bersabda: ‘Janganlah kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya.Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga.Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian.Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya.Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka’. (HR. Tirmidzi)

Allah SWT. selalu menggelorakan orang-orang yang beriman agar jangan takut, jangan pengecut. Karena rasa takut akan membawa kegagalan dan kekalahan. Akan tetapi keberanian menjadi seruan yang terus berulang-ulang dikumandangkan.Karena keberanian adalah tuntutan keimanan.Iman pada Allah SWT.mengajarkan menjadi orang-orang yang berani menghadapi beragam resiko dalam hidup ini terlebih lagi, resiko dalam memperjuangkan dakwah ini.

Syaja’ah atau keberanian merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dan sebagai izzah keimanan.Tak pernah boleh ada, kata gentar bagi aktivis dakwah saat mengemban tugas bila ingin meraih kegemilangan.Dari sisi inilah kaum yang beriman berada jauh di atas kebanyakan orang. Karena izzah keimanan menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikit pun.“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Q.S. Ali Imran: 139)

Dahulu yang membuat gentar musuh-musuh Islam adalah keberanian pejuang-pejuang Islam yang menghambur ke medan perang dengan suka cita karena pilihannya sama-sama baik yakni hidup mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah. Bahkan mereka jauh mencintai kemuliaan sebagai syahid sebagaimana kecintaan kaum kafir terhadap dunia. Dengan sikap ini kaum muslimin banyak memperoleh anugerah kemenangan dakwah di berbagai tempat.[Berdakwah, Siapa Takut?!Tim dakwatuna.com,5/12/2008 | 06 Zulhijjah 1429 H].

Selain sifat takut yang dapat menjadikan seseorang tidak mampu berdakwah, juga sikap manja yang akan menghalangi dakwah dan memang dakwah tidak bisa dipikul oleh orang-orang yang manja sebagaimana yang disampaikan dalamrenungan Drs. DH Al Yusni dibawah ini;

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan.Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya.Ada pula yang diusir dari kampung halamannya.Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini.Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt.meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot.Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun.Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini.Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini.Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian.Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi.Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang.Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia.Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar.Semua itu karunia yang Allah swt.berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt.dalam surat At-Taubah: 42.Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu.Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini.Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian.Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan.Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini.Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya.Setia dalam kesempitan dan kesukaran.Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh.Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.[Dakwah Tidak Dapat Dipikul Orang Manja, dakwatuna.com 6/4/2007 | 19 Rabiul Awwal 1428 H].

Dakwah hanya bisa dipikul oleh kader yang berani dan kader yang kuat dan kokoh dalam hidupnya, bukan kader yang manja, apalagi kader yang menamakan dirinya “anak mama” atau “anak papa” sehingga tidak mampu menerima beban dakwa yang demikian besarnya. Besar atau kecilnya resiko dan beban dakwah yang berada dipundak pendukungnya maka sifat sabar dalam berdakwah sangat diperlukan, bahkan Dr.Yusuf Al Qardhawi menjadikan Sabar dalam dakwah salah satu dari bentuk kesabaran yang lain, lebih jauh beliau menyatakan;

Menurut Al-Qur’an sabar yang keempat adalah sabar atas beban dakwah kepada Allah. Sebab para da’i menuntut menusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan kosong, adat kebiasaan mereka, memberontak kepada syahwat, sembahan nenek moyang, tradisi kaum, da superioritas kelas atau keturunan, memberikan sebagian yang mereka miliki kepada saudaranya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dalam bentuk perintah dan larangan, halal dan haram.

Sementara kebanyakan manusia menentang dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, seperti menghadapi perlawanan yang menggunakan segala bentuk senjata, harta, kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruh dan sebagainya.

Tidak ada jalan lain bagi para da’i kecuali harus berpegang teguh dengan keyakinan serta bersenjatakan kesabaran dalam menghadapi kekuatan dan kekuasaan tiran. Sabar di sini seperti dikatakan Imam Ali ra, merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan cahaya yang tak bisa redup. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan hadist shahih,“Sabar adalah cahaya”.
Inilah rahasia dikaitkannya antara tawashibish-shabri dan tawashi bil haqqi dalam surat al-Ashr,“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr [103] : 1-3)

Sebab, kebenaran tidak dapat dipertahankan kecuali dengan sabar. Juga merupakan rahasia dikaitkannya kesabaran dengan amar ma’ruf dan nahi munkar di dalam wasiat Lukman Hakim kepada anaknya,“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah manusia dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman [31] : 17)
Seolah-olah dia berpesan, selama engkau menyeru kepada manusia kepada kebaikan, memerintah mereka melakukan yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar, maka persiapkanlah dirimu yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.[Bersabarlah Atas Beban Dakwah, Eramuslim.com.Senin, 04/04/2011 09:48 WIB].

Orang-orang yang mampu menjadikan dirinya pribadi berani untuk berdakwah, kokoh mengemban beban dakwah dan sabar menghadapi segala resiko dakwah, maka orang-orang inilah yang mampu memberikan kontribusi dakwah terbaik untuk ummat ini sehingga segala potensi dirinya berdaya guna bagi ummat dan bangsa ini, sebenarnya semua da’i bahkan setiap muslim harus punya kontribusi terhadap dakwah tergantung besar atau kecilnya. 

Kontribusi dalam dakwah adalah memberikan sesuatu baik jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk sebuah cita-cita.Ini menjadi bentuk pengorbanan seorang kader terhadap dakwah.Perjuangan dan pengorbanan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Kontribusi dakwah, besar atau kecil memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menegakkan Islam. Melalui pengorbanan, bangunan ini dapat berdiri tegak dari komponen satu sama lain baik besar ataupun kecil. Demikian pula kedudukan status sosial seseorang yang dipandang rendah tatkala memberikan pengorbanannya maka ia sama kedudukannya dengan yang lain bahkan mungkin lebih tinggi lagi.

Sebagaimana Rasulullah saw. menggangap mulia seorang penyapu masjid. Karena kerjanya masjid menjadi bersih dan menarik.Dari kontribusinya itu beliau memberikan tempat di hatinya bagi tukang sapu tersebut.Beliau mengagumi pengorbanan yang telah diberikannya. Sehingga Rasulullah saw. melakukan shalat ghaib untuknya. Ini karena sewaktu tukang sapu masjid itu meningal dunia beliau tidak mengetahuinya.

Para sahabat memandang apalah artinya seorang tukang sapu bagi Rasulullah saw. Namun tidak demikian bagi Rasulullah saw. Tukang sapu itu telah memberikan pengorbanan yang luar biasa dalam dakwah ini. Semua itu karena ia telah memberikan potensi miliknya untuk dakwah.

Dalam Majmu’atur Rasail, Imam Hasan Al Banna rahimahullah, mengingatkan kepada seluruh kader dakwah untuk selalu berada di barisan terdepan dalam memberikan kontribusi dakwah, “Wahai Ikhwah, ingatlah baik-baik. Dakwah ini adalah dakwah suci, jamaah ini adalah jamaah mulia. Sumber keuangan dakwah ini dari kantong kita bukan dari yang lain. Nafkah dakwah ini disisihkan dari sebagian jatah makan anak dan keluarga kita.Sikap seperti ini hanya ada pada diri kita –para aktivis dakwah– dan tidak ada pada yang lainnya.Ingatlah dakwah ini menuntut pengorbanan.Minimal harta dan jiwa.”

Meskipun orang yang beriman meyakini bahwa pertolongan Allah pasti akan datang, tetapi pertolongan-Nya tidak boleh diartikan sebagai sebuah ‘keajaiban dari langit’ yang datang dengan tiba-tiba dan begitu saja. Sekalipun hal itu bisa saja terjadi menurut kehendak Allah swt.

Namun pertolongan Allah itu harus diartikan sebagai respon-Nya terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh para hamba-Nya dalam memberikan perhatian dan pengorbanannya kepada dakwah. Firman Allah swt., “Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kamu dan meneguhkan langkah-langkah kamu.” (Muhammad: 7)

Oleh karena itu, untuk meraih pertolongan Allah, perlu mencari penyebab datangnya.Salah satu yang melatarbelakanginya adalah dengan memberikan kontribusi terhadap dakwah ini.Apalagi di saat dakwah ini menghadapi rintangan dari musuh-musuhnya.Situasi seperti inilah kontribusi aktivis dakwah dapat menjadi pintu untuk pertolongan-Nya.[Drs. DH Al Yusni,Kontribusi Terhadap Dakwah, Dakwatuna.com.26/8/2007 | 13 Sya'ban 1428 H].

Dakwah akan tetap berjalan ada atau tidak ada kita di dalamnya, dakwah akan melaju ke depan hingga kemenangan itu berada ditangan ummat islam, dakwah tidak bisa dihentikan oleh kekuatan dan kekuasaan siapapun, dakwah ibarat air bah yang akan memporakporandakan segala kejahiliyyahan, menghanyutkannya ke pinggir dan menguburkannya sampai cahaya islam terang benderang di dunia ini, hingga agama tauhid ini bersih dari segala  syirik dan berjayalah ummat bersamanya, yang jadi pertanyaan, adakah kita punya kontribusi terhadap dakwah ini, atau kita hanya sebagai pecundang, memetik manisnya hasil dakwah tapi tidak berbuat apa-apa bersamanya, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 20 Zulhijjah 1432.H/ 16 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar