Dakwah islamiyyah sudah digelar sejak
Rasulullah Saw mendapat wahyu bahkan sebelumnyapun para nabi terdahulu sudah
memulainya, begitu juga halnya untuk kemarin, hari ini bahkan besok hingga
ratusan tahun ke depan dakwah akan terus bergulir yang dilakukan oleh para da’i
dengan berbagai lembaga dakwah yang tergabung pada sebuah jamaah atau dakwah
personal yang dilakukan oleh pribadi-pribadi muslim. Dengan bergulirnya dakwah
tersebut sebagai muslim kita harus mempertanyakan diri ini, apakah kita punya
kontribusi terhadap dakwah itu atau kita hanya sebagai penonton saja,karena
dakwah bukan hanya diemban oleh para
ulama, kiyai, ustadz dan mubaligh saja tapi setiap muslim harus punya andil
hendaknya.
Jalan dakwah adalah
keniscayaan. Setiap diri yang mengaku muslim hendaknya berdakwah. Berdakwah
bukan hanya berceramah seperti yang banyak orang pahami. Rasulullah saw. pernah
bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a, “Mengajak satu orang kepada hidayah
Allah itu lebih baik bagimu dari harta yang sangat kau banggakan. Rasulullah
saw. menegaskan bahwa mengajak satu orang kepada kebaikan adalah dakwah. Maka
dengan ini kegiatan dakwah tidak hanya terbatas pada kegiatan berceramah.
Melainkan ia lebih berupa kegiatan menggunakan segala kemampuan, fasilitas dan
kemungkinan lainnya untuk mempengaruhi orang lain agar taat kepada Allah. Orang
bisa berdakwah dengan segala kemampuannya, menulis buku, berkomunikasi dengan
orang lain dan lain sebagainya.
Ingat, dakwah adalah keniscayaan.
Tanpa dakwah agama akan hilang. Tanpa dakwah kemanusiaan akan hancur. Selamat
di dunia maupun di akhirat tidak ada pilihan kecuali dengan berdakwah di jalan
Allah.[Dakwah Suatu Keniscayaan, dakwatuna.com,14/2/2007 | 25
Muharram 1428 H
Setiap muslim adalah dai.
Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak
ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa
nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia
untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan
Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak
bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh
rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas
yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga
hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak
dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar
daripada kebaikan yang diperbuat.
Disini menjadi jelas akan
pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama,
bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap
makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak
terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh
terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan
namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya”
dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam
menyampaikan, mengapa?
Pertama; ia akan menyesatkan
kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan
menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan
bungkusannya).
Adalah fiqh dakwah merupakan
sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam
didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas
dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas
para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia
dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.[Sofyan Siroj Aw, Lc, MM, Kami Adalah Dai, dakwatuna.com 15/1/2007
| 25 Zulhijjah 1427 H].
Karena dakwah merupakan kerja
besar tentu hanya bisa didukung oleh orang-orang punya jiwa besar pula, yang
punya keberanian untuk menyampaikan kebenaran walaupun pahit akibatnya, orang-orang
pengecut tidak akan mampu berdakwah, apalagi sudah membicarakan resiko yang
akan dihadapi sebelum maju ke
gelanggang, memang dakwah itu penuh dengan resiko, tapi pekerjaan apa
saja pasti ada resikonya apalagi dakwah yang akan berhadapan dengan orang-orang
yang menentang dakwah ini.
Kehidupan dunia ini diiringi
kesulitan demi kesulitan (Al-Balad:4). Sehingga kesulitan sesuatu yang tak bisa
dielakkan.Ia adalah realita perjalanan dunia ini. Kesulitan menjadi sebuah
resiko dalam hidup.Tak seorang pun yang lepas dari kenyataan itu.Namun yang
acap kali terjadi adalah takut terhadap resiko yang bakal muncul.Lantaran
kekerdilan jiwa untuk menghadapinya.Lalu timbullah ketakutan-ketakutan.Rasa
ketakutan ini cuma menggiring seseorang menjadi pengecut.Dan akhirnya lari dari
kenyataan.
Sifat pengecut dipandang
sebagai sifat tercela yang tidak boleh dimiliki orang-orang yang beriman.
Karena pengecut artinya ia tidak mau menanggung dan menghadapi resiko yang
memang sudah menjadi konsekwensinya. Perilaku ini merupakan perilaku
orang-orang yang setengah hati dalam keimanan, hanya ingin serba enak tanpa
harus bersusah payah menghadapi masalah rumit. Sifat pengecut akan menjadi
penghalang untuk maju dan pemberat langkah kesuksesan.
Saat ini, dunia dipenuhi
dengan orang-orang yang memiliki sifat pengecut. Sebuah hadits Nabi SAW.
memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan
empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn,
yakni cinta dunia dan takut mati. Memang, penyakit wahn-lah yang menyebabkan
umat Islam banyak yang menjadi pengecut sehingga tidak lagi disegani oleh
musuh-musuhnya yakni kaum kafir, musyrikin dan munafikin.
Islam memandang hina orang
yang pengecut.Baik pengecut untuk mempertahankan hidup sehingga gampang putus
asa.Pengecut lantaran takut dikucilkan dari komunitasnya.Pengecut karena
berlainan dengan sikap banyak orang.Atau pengecut untuk membela sebuah
nilai.Kemudian menjerumuskan pelakunya pada sikap yang plin-plan tanpa prinsip.
Rasulullah SAW. bersabda: ‘Janganlah kamu menjadi orang yang tidak
punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya.Namun
bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga.Akan tetapi
jadilah orang yang punya sikap dan keberanian.Jika orang melakukan kebaikan
maka aku melakukannya.Namun jika orang melakukan keburukan maka aku tinggalkan
sikap buruk mereka’. (HR. Tirmidzi)
Allah SWT. selalu
menggelorakan orang-orang yang beriman agar jangan takut, jangan pengecut.
Karena rasa takut akan membawa kegagalan dan kekalahan. Akan tetapi keberanian
menjadi seruan yang terus berulang-ulang dikumandangkan.Karena keberanian
adalah tuntutan keimanan.Iman pada Allah SWT.mengajarkan menjadi orang-orang
yang berani menghadapi beragam resiko dalam hidup ini terlebih lagi, resiko
dalam memperjuangkan dakwah ini.
Syaja’ah
atau keberanian merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dan sebagai izzah
keimanan.Tak pernah boleh ada, kata gentar bagi aktivis dakwah saat mengemban
tugas bila ingin meraih kegemilangan.Dari sisi inilah kaum yang beriman berada
jauh di atas kebanyakan orang. Karena izzah
keimanan menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikit pun.“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”. (Q.S. Ali Imran: 139)
Dahulu yang membuat gentar
musuh-musuh Islam adalah keberanian pejuang-pejuang Islam yang menghambur ke
medan perang dengan suka cita karena pilihannya sama-sama baik yakni hidup
mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah. Bahkan mereka
jauh mencintai kemuliaan sebagai syahid sebagaimana kecintaan kaum kafir
terhadap dunia. Dengan sikap ini kaum muslimin banyak memperoleh anugerah kemenangan
dakwah di berbagai tempat.[Berdakwah, Siapa Takut?!Tim dakwatuna.com,5/12/2008 | 06 Zulhijjah
1429 H].
Selain
sifat takut yang dapat menjadikan seseorang tidak mampu berdakwah, juga sikap
manja yang akan menghalangi dakwah dan memang dakwah tidak bisa dipikul oleh
orang-orang yang manja sebagaimana yang disampaikan dalamrenungan Drs. DH Al Yusni dibawah ini;
Perjalanan dakwah yang kita
lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan
kesenangan.Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan
berat.
Telah banyak sejarah
orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan
dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya.Ada
pula yang diusir dari kampung halamannya.Dan sederetan kisah perjuangan lainnya
yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini.Mereka
telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.
Cobalah kita tengok kisah
Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya
–semoga Allah swt.meridhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki
mereka robek dan kuku tercopot.Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu
tanpa mengeluh sedikitpun.Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena
keikhlasan dalam perjuangan ini.Keikhlasan membuat mereka gigih dalam
pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini.Buat selamanya.
Pengorbanan yang telah mereka
berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita
sekalian.Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh
bersemi.Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang.Kawasan Islam
telah tersebar ke seluruh pelosok dunia.Umat Islam telah mengalami populasi
dalam jumlah besar.Semua itu karunia yang Allah swt.berikan melalui kesungguhan
dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.
Renungkanlah pengalaman mereka
sebagaimana yang difirmankan Allah swt.dalam surat At-Taubah: 42.Kalau yang
kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan
yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju
itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah,
“Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan
diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar
orang-orang yang berdusta.
Mereka juga telah melihat
siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat
itu.Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini.Kesetiaan
yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian.Menjadikan
mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih
kesuksesan.Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada
barisan terdepan dalam perjuangan ini.Kesetiaan yang membuat pelakunya
berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya.Setia dalam kesempitan dan
kesukaran.Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.
Sebaliknya orang-orang yang
rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka
mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh.Mereka pun menolak untuk
menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak
ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran
satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.[Dakwah Tidak Dapat
Dipikul Orang Manja, dakwatuna.com 6/4/2007 | 19 Rabiul Awwal 1428 H].
Dakwah hanya bisa dipikul oleh
kader yang berani dan kader yang kuat dan kokoh dalam hidupnya, bukan kader
yang manja, apalagi kader yang menamakan dirinya “anak mama” atau “anak papa”
sehingga tidak mampu menerima beban dakwa yang demikian besarnya. Besar atau
kecilnya resiko dan beban dakwah yang berada dipundak pendukungnya maka sifat
sabar dalam berdakwah sangat diperlukan, bahkan Dr.Yusuf Al Qardhawi menjadikan
Sabar dalam dakwah salah satu dari bentuk kesabaran yang lain, lebih jauh
beliau menyatakan;
Menurut Al-Qur’an sabar yang
keempat adalah sabar atas beban dakwah kepada Allah. Sebab para da’i menuntut
menusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan kosong, adat
kebiasaan mereka, memberontak kepada syahwat, sembahan nenek moyang, tradisi
kaum, da superioritas kelas atau keturunan, memberikan sebagian yang mereka
miliki kepada saudaranya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dalam bentuk
perintah dan larangan, halal dan haram.
Sementara kebanyakan manusia
menentang dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa
sallam, seperti menghadapi perlawanan yang menggunakan segala
bentuk senjata, harta, kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruh dan sebagainya.
Tidak ada jalan lain bagi para
da’i kecuali harus berpegang teguh dengan keyakinan serta bersenjatakan
kesabaran dalam menghadapi kekuatan dan kekuasaan tiran. Sabar di sini seperti
dikatakan Imam Ali ra, merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan cahaya yang
tak bisa redup. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan hadist shahih,“Sabar
adalah cahaya”.
Inilah rahasia dikaitkannya
antara tawashibish-shabri dan tawashi bil haqqi
dalam surat al-Ashr,“Demi masa, sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”.
(QS. Al-Ashr [103] : 1-3)
Sebab, kebenaran tidak dapat
dipertahankan kecuali dengan sabar. Juga merupakan rahasia dikaitkannya
kesabaran dengan amar ma’ruf dan nahi munkar di dalam wasiat Lukman Hakim
kepada anaknya,“Hai anakku, dirikanlah shalat dan
suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah manusia dari perbuatan yang
mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS.
Lukman [31] : 17)
Seolah-olah dia berpesan,
selama engkau menyeru kepada manusia kepada kebaikan, memerintah mereka melakukan
yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar, maka persiapkanlah dirimu
yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.[Bersabarlah Atas Beban
Dakwah, Eramuslim.com.Senin, 04/04/2011 09:48 WIB].
Orang-orang yang mampu
menjadikan dirinya pribadi berani untuk berdakwah, kokoh mengemban beban dakwah
dan sabar menghadapi segala resiko dakwah, maka orang-orang inilah yang mampu
memberikan kontribusi dakwah terbaik untuk ummat ini sehingga segala potensi
dirinya berdaya guna bagi ummat dan bangsa ini, sebenarnya semua da’i bahkan
setiap muslim harus punya kontribusi terhadap dakwah tergantung besar atau
kecilnya.
Kontribusi dalam dakwah adalah
memberikan sesuatu baik jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang
dipunyai oleh seseorang untuk sebuah cita-cita.Ini menjadi bentuk pengorbanan
seorang kader terhadap dakwah.Perjuangan dan pengorbanan dua hal yang tidak
dapat dipisahkan.
Kontribusi dakwah, besar atau
kecil memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menegakkan Islam. Melalui
pengorbanan, bangunan ini dapat berdiri tegak dari komponen satu sama lain baik
besar ataupun kecil. Demikian pula kedudukan status sosial seseorang yang
dipandang rendah tatkala memberikan pengorbanannya maka ia sama kedudukannya
dengan yang lain bahkan mungkin lebih tinggi lagi.
Sebagaimana Rasulullah saw.
menggangap mulia seorang penyapu masjid. Karena kerjanya masjid menjadi bersih
dan menarik.Dari kontribusinya itu beliau memberikan tempat di hatinya bagi
tukang sapu tersebut.Beliau mengagumi pengorbanan yang telah diberikannya.
Sehingga Rasulullah saw. melakukan shalat ghaib untuknya. Ini karena sewaktu
tukang sapu masjid itu meningal dunia beliau tidak mengetahuinya.
Para sahabat memandang apalah
artinya seorang tukang sapu bagi Rasulullah saw. Namun tidak demikian bagi
Rasulullah saw. Tukang sapu itu telah memberikan pengorbanan yang luar biasa
dalam dakwah ini. Semua itu karena ia telah memberikan potensi miliknya untuk
dakwah.
Dalam Majmu’atur
Rasail, Imam Hasan Al Banna rahimahullah, mengingatkan kepada
seluruh kader dakwah untuk selalu berada di barisan terdepan dalam memberikan
kontribusi dakwah, “Wahai Ikhwah, ingatlah baik-baik. Dakwah
ini adalah dakwah suci, jamaah ini adalah jamaah mulia. Sumber keuangan dakwah
ini dari kantong kita bukan dari yang lain. Nafkah dakwah ini disisihkan dari
sebagian jatah makan anak dan keluarga kita.Sikap seperti ini hanya ada pada
diri kita –para aktivis dakwah– dan tidak ada pada yang lainnya.Ingatlah dakwah
ini menuntut pengorbanan.Minimal harta dan jiwa.”
Meskipun orang yang beriman
meyakini bahwa pertolongan Allah pasti akan datang, tetapi pertolongan-Nya
tidak boleh diartikan sebagai sebuah ‘keajaiban dari langit’ yang datang dengan
tiba-tiba dan begitu saja. Sekalipun hal itu bisa saja terjadi menurut kehendak
Allah swt.
Namun pertolongan Allah itu
harus diartikan sebagai respon-Nya terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh
para hamba-Nya dalam memberikan perhatian dan pengorbanannya kepada dakwah.
Firman Allah swt., “Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya
Allah akan menolong kamu dan meneguhkan langkah-langkah kamu.”
(Muhammad: 7)
Oleh karena itu, untuk meraih
pertolongan Allah, perlu mencari penyebab datangnya.Salah satu yang
melatarbelakanginya adalah dengan memberikan kontribusi terhadap dakwah
ini.Apalagi di saat dakwah ini menghadapi rintangan dari musuh-musuhnya.Situasi
seperti inilah kontribusi aktivis dakwah dapat menjadi pintu untuk
pertolongan-Nya.[Drs. DH Al Yusni,Kontribusi Terhadap Dakwah, Dakwatuna.com.26/8/2007 | 13
Sya'ban 1428 H].
Dakwah akan tetap berjalan ada
atau tidak ada kita di dalamnya, dakwah akan melaju ke depan hingga kemenangan
itu berada ditangan ummat islam, dakwah tidak bisa dihentikan oleh kekuatan dan
kekuasaan siapapun, dakwah ibarat air bah yang akan memporakporandakan segala
kejahiliyyahan, menghanyutkannya ke pinggir dan menguburkannya sampai cahaya
islam terang benderang di dunia ini, hingga agama tauhid ini bersih dari
segala syirik dan berjayalah ummat
bersamanya, yang jadi pertanyaan, adakah kita punya kontribusi terhadap dakwah
ini, atau kita hanya sebagai pecundang, memetik manisnya hasil dakwah tapi
tidak berbuat apa-apa bersamanya, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 20 Zulhijjah
1432.H/ 16 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar