Dahulu kita hanya mengenal
pertunjukan Sandiwara pada panggung-panggung hiburan bahkan ketika ada di
Televisipun namanya masih sandiwara, karena kecanggihan metode penggarapan pada
layar kaca maka berganti nama dengan Film bahkan dapat juga disebut demgan Sinema
Elektronik atau Sinetron. Jarang orang tidak suka dengan satu acara ini, sejak
dari sinetron tradisional, hanya menampilkan gaya hidup masyarakat desa dengan
keadaan yang sangat sederhana hingga menayangkan peran hidup yang serba mewah
dan menyenangkan, ada sinetron religi karena didalamnya menampilkan tasbih,
masjid dan sajadah walaupun banyak adegan seram menakutkan penontonnya dan bertaburnya
nilai-nilai syirik dalam tayangan perdukunan.
Ketika TPI menayangkan secara
berseri kisah Maha Bharata, membius semua warga kota dan desa apalagi ibu-ibu
untuk menyaksikan film kolosan India itu sehingga banyak disebutkan dari kaum
wanita yang hamil kemudian melahirkan anak, bila anaknya perempuan diberi nama
Shinta dan bila lelaki akan melekat nama Arjuna, selain itu kita lebih kenal
tokoh fiktif Negara Hindu itu dari pada tokoh-tokoh Nasional atau dari agama
kita sendiri.
Banyak film dan sinetron yang
ditayangkan oleh stasiun televisi, untuk menghibur ummat islam dengan
menampilkan sinetron yang berani menyebutkan keislamannya seperti Ayat-ayat
Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Islam KTP, Pesantren dan Rock n Roll dan
lain-lainnya, semua film itu disenangi oleh masyarakat kita, selain romantic
dan humanis juga mengandung nilai-nilai islam yang dapat dijadikan sebagai
pelajaran.
Namun kita masih menyaksikan
banyaknya tayangan sinetron yang berbau kapitalis dan konsumeris dengan
mengumbar segala kemewahan, hidup berfoya-foya dan hedonis, seolah-olah dunia
ini milik mereka sendiri dan seolah-olah dunia ini sebagai syurga dengan segala
kesenangan yang mengaburkan hakekat syurga di akherat.yang kita lihat di
sinetron berupa syurga dengan kemewahan dan kesenangan, itu hanya adegan, itu
hanya rekayasa untuk memperindah tontotan tapi yang sebenarnya bukanlah
demikian, lihatlah begitu sang pemain yang memerankan segala kesenangan dan
kemewahan pada film sinetron, selesai adegan dia kecewa karena indahnya dunia
sinetron tidak ada yang ditemukan di dunia nyata, sebagaimana yang disampaikan
oleh Ahmad Albar bahwa dunia ini panggung sandiwara, adegan yang berlansung
didalamnya adalah rekayasa, keindahannya adalah semu, namun banyak banyak
manusia yang tertipu.
Dunia sengaja diciptakanNya
bukan dalam bentuk yang sempurna, dan itu menunjukkan agar manusia
mewujudkannya sebagai sesuatu yang diraih, bukan diberi, tapi diusahakan oleh
tangan manusia itu sendiri, agar dunia yang menjadi Surga walau hanya dalam
tanda kutip.
Berjalah kau, wahai manusia
dan jalan membentang di jalannya tidak mesti semulus jalan tol, pasti ada
kekurangannya dalam perjalanan hidupmu, hal itu biasa, tak ada manusia yang
luput dari suka dan duka, tak ada manusia yang murni 100% baik dan tak ada
manusia jahat 100%. Pada diri manusia seringkali di tengah-tengah keburukaya,
ada kebaikanya dan sebaliknya kita sering mengenal manusia yang di
tengah-tengah kebaikanya ada sisi buruknya.Itulah sebabnya ada pepatah “Tak ada
gading yang tak retak”. Pada gading yang retak itulah, gading menjadi lebih
indah!
Dunia bukan Surga, maka jangan
mengharap yang muluk-muluk terhadap apapun, terimalah hidup ini apa adanya.
Kebahagiaan hakiki tidak akan pernah kamu temukan di dunia ini, kebahagiaan di
dunia ini hanya semu, hanya bayangan. Jangan mengharap terlalu tinggi, pada
apapun yang bersamamu, kepada siapa saja, ya istrimu, ya anakmu, ya muridmu, ya
kepada teman dan sahabatmu serta kepada orang-orang yang ada disekelilingmu.
Dunia ini bukan Surga, terlalu
banyak apa yang kamu terima tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, jadi di
dunia yang bukan Surga ini harus selalu siap kecewa. Harus siap menerima yang
bukan kamu harapkan, harus siap menerima apa yang tidak kamu inginkan, harus
siap menerima yang kamu tidak kehendaki. Kecewa, wajar karena kamu manusia
biasa, bukan manusia super, bukan wali, bukan nabi, bukan rasul dan bukan orang
suci yang mampu begitu tabah dalam menjalani penderitaan betapapun dasyatnya.
Dunia bukan Surga,
disekelilingmu banyak sekali hal yang tidak berkenan dengan kepribadianmu,
dengan sikap dan watakmu, tapi ada disekelilingmu, ada bersamamu dan hidup
bertahun-tahun bersamamu.Apa kamu harus lari? Jangan! Hidup ini bukan Surga,
yang serba enak, yang serba mudah, yang tidak ada kesusahan sedikit pun di
dalamnya. Jadi jangan pernah bermimpi untuk hidup begitu enak, begitu nikmat,
begitu bahagia ....mimpi pun jangan!
Karena selagi kamu hidup di
dunia, kesusahan itu akan terus ada, kesulitan itu akan terus datang,
penderitaan itu akan terus menjelma, kekecewaan itu akan terus bergema di
dinding hati, di rumah-rumah mewah, apa lagi di rumah-rumah kumuh, di
wajah-wajah cantik apa lagi di wajah-wajah buruk, di wajah-wajah tanpa dosa dan
di wajah-wajah penuh maksiat.
Dunia bukan Surga, maka suka
dan duka akan terus saling berganti, tangis dan tawa akan terus berganti,
senyum dan sinis salin berbagi, jangan pernah mengharap hidup di dunia tanpa
penderitaan, tanpa kesusahan, tanpa ujian, tanpa cobaan, nonsen! Tidak akan
pernah terjadi hidup di dunia ini bahagia 100 %, enak 100 %, nikmat 100 % tanpa
ada kecewa sedikitpun.
Jangan pernah bermimpi di
dunia kamu akan dikelilingi oleh bidadari-bidadari yang cantiknya tak
terkirakan atau dikelilingi oleh sarana dan prasarana yang paripurna, yang
serba wah, serba mewah, serba mencukupi. Apapapun kenikmatan di dunia itu bukan
syurga, belum apa-apa.Kebahagian apapun di dunia belum ada apa-apanya
dibandingkan kebahagiaan di Surga. Dunia bukan Surga, dunia bukan Surga, dunia
bukan Surga...![Syaripudin Zuhri, Dunia
Bukan Sinetron Penjual Surga, eramuslim.com.Sabtu, 07/05/2011 13:37 WIB].
Sebenarnya film, sinetron,
sandiwara dan pertunjukan apapun yang kita saksikan tidak lepas dari konspirasi
untuk menghancurkan ummat islam, dengan sinetron kita menjadi terlena dan lalai
dengan tugas-tugas besar lainnya. Dengan adanya sinetron menjadikan kita orang
yang tasabuh yaitu meniru-niru gaya hidup para bintang. Sebuah riset menyatakan
bahwa sinetron atau sandiwara dan cerita-cerita yang dikemas dengan sedemikian
memikau penontonnya merupakan strategi orang-orang kafir untuk melumpuhkan
kekuatan ummat islam melalui program ghazwul fikri atau perang pemikiran.
Mereka ingin
agar ummat islam itu suka dengan Story
yaitu kisah dan cerita yang ditayangkan melalui media elektronik, cetak dan
radio yang intinya agar umat islam sibuk dengan itu, bahkan melalui story pula
nilai-nilai islam dikubur dengan menampilkan nilai-nilai yang tidak islami
seperti kisah Saur Sepuh, Nenek Lampir, Pokemon, Telletubies, Superman dan
sederet kisah lainnya.
Seorang anak usia 12 tahun naik ke gedung tingkat
sembilan di Singapura kemudian dengan ucapan ”Superman” dia terjunkan dirinya ke bawah. Di Jakarta
seorang anak menghadang modil di jalan raya sehingga mati seketika, rupanya di
punggung sianak tertulis Kura-Kura Ninja. Seorang anak naik ke lemari ibunya di
sebuah kamar, ketika disuruh turun dia lansung terjun dengan ucapan Satria Baja
Hijam. Solusi dari semua itu , paling tidak dan ringan bagaimana anak-anak kita
menyukai kisah-kisah islami dari pada kisah yang akan meracuni kehidupannya.
Bahkan film sinetron yang berbau islampun mengandung
hal-hal yang tidak sesuai dengan islam seperti sinetron Pesantren dan Rock n
Roll sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang pengamat film ini yaitu Yacong. B. Halike di Hidayatullah.com, dia mengatakan;
PADAawalnya
sebenarnya saya tidak sengaja menonton film ini, suatu malam.Selanjutnya
kemudian, dari beberapa kali saya menyaksikannya, saya ingin mengemukakan
beberapa keberatan.Tapi sebelumnya, saya juga harus mengakui bahwa film ini
agak sedikit berkualitas dengan kehadiran tokoh bernama Ustadz Mahmud dengan
nasihat nasihatnya yang bernas.
Secara
umum saya melihat, bahwa film ini lebih tampak sebagai sebuah penggambaran yang
memprihatinkan tentang dunia pesantren.Pesantren pada umumnya punya aturan yang
jelas dalam masalah hijab/batas pergaulan.Paling tidak ada batasan batasan
tertentu di mana santri dan santriwati bisa bertemu atau berbincang. Tapi
Pesantren Darussalam dalam film ini tampaknya lain dari yang lain.
Bagaimana
tidak, nama pesantrennya adalah Pesantren Darussalam. Mendengar ini, pikiran
kita langsung mengarah pada nama Pesantren Modern Darussalam Gontor. Seolah
nama ini mengasosiasi nama besar Pondok Pesantren Modern Gontor yang dikenal
sangat menjaga syariat yang telah berdiri berpuluh tahun lalu bahkan bisa
dikata sebagai pelopor pesantren di Indonesia.
Sementara
di film ini, saya melihat, susah sekali membedakan apakah ini pesantren atau
hanya sekedar wadah kongkow dengan lawan jenis. Memang ini hanyalah film
semata, sekedar hiburan.Tapi jangan lupa, laku yang ada dalam film ini bisa
dengan sangat dahsyat sekali menjejal ke pikiran jutaan orang yang menontonnya.
Dari situ kemudian akan muncul persepsi persepsi yang bisa saja keliru tentang
pesantren.
Tujuan
film ini barangkali dimaksudkan untuk menampilkan wajah pesantren yang lebih
modern, tapi di sisi lain ada sejumlah ambiguitas di sana. Di mana laki dan
perempuan yang bisa dikata hampir tak ada hijab.Mereka bebas bertemu kapan
saja.Ngobrol berduaan.Bersendau gurau dengan lihainya.
Mungkin
saja kita tidak habis pikir, bahwa dari film ini kemudian mencuatlah pandangan
bahwa inilah memang pesantren modern yang seharusnya diterapkan di negeri
ini.Bahkan dalam film ini ada kesan menghalalkan pacaran.Ini bagi saya adalah
aneh.
Bagi
yang punya TV sudah barang tentu tahu betul bahwa hari ini sangat banyak sekali
jam tayang film sinetron setiap program program televisi.Tak bisa dinafikkan,
film film remajalah yang mendominasi jagat raya perfileman nasional yang
dinujum akan semakin menggila di masa masa mendatang. Dan jelas, film film tak
bermutu bermuatan horor dan seks pun akan tambah menggurita.
Ada
juga yang mengusung semangat religius, khususnya Islam.Tapi entah kenapa,
sangat sedikit pesan bagus yang bisa dipetik dari film film itu. Yang saya
khawatirkan, jangan-jangan film seperti yang saya sebutkan di awal ini menjadi
semacam kampanye terselebung tentang pola yang dianggapnya adalah ideal,
mantap, modern, sesuai tuntutan zaman.
Padahal
sejak dahulu citra pesantren sesungguh-sungguhnya adalah sebagai madrasah atau
sekolah tempat belajar dan menerapkan nilai nilai ajaran Islam. Jadi, mohon
jangan rusak citra pesantren dengan khayalan nisbi dan tata nilai kehidupan
yang permisif.[Yacong. B. Halike, Pesantren dan Rock
n Roll, Hidayatullah.com].
Pada era
saat jaya-jayanya Rhoma Irama, dia juga terjun ke dunia film dengan berbagai
judul dia filmkan seperti Nada dan Dakwah, saya lupa pada sebuah judul filmnya,
tapi adegannya masih saya ingat, Rhoma Irama sedang menanti kekasihnya pada
sebuah taman, dengan sabar dia menanti sang pacar, tidak berapa lama dengan mengendap-endap
sang kekasih datang dari arah belakang sambil menutup mata Rhoma Irama dan
memeluknya, Raja Dangdut ini dengan senyum khasnya mengucapkan kalimat
”Alhamdulillah”, kesan yang tertanam adalah, pelukan sang pacar itu sebuah
nikmat yang perlu di syukuri.
Syaikh
Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum mendengarkan musik dan lagu
? Apa hukum menyaksikan sinetron yang di dalamnya terdapat para wanita pesolek,
jawabnya;
Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya.Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati.Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” [Luqman : 6]
Ibnu
Mas’ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Demi Allah yang tiada tuhan
selainNya, yang dimaksudkan adalah lagu”.
Penafsiran
seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di tingkat tiga dalam
tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga.Penafsiran Al-Qur’an dengan
ayat Al-Qur’an, Penafsiran Al-Qur’an dengan hadits dan ketiga Penafsiran
Al-Qur’an dengan penjelasan sahabat.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa
penafsiran sahabat mempunyai hukum rafa’ (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam).Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat tidak
mempunyai hukum rafa’, tetapi memang merupakan pendapat yang paling dekat
dengan kebenaran.
Mendengarkan
musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang diperingatkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.“Artinya : Akan ada
suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”Maksudnya,
menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh
menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits Riwayat Bukhari
dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu Amir Al-Asy’ari]
Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan.Rata-rata setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari sisi prilakunya dan akhlaknya. [almanhaj.or.idJumat, 18 Nopember 2005 15:49:41 WIB].
Televisi
sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok.Hampir semua rumah di Indonesia
mempunyai televisi.Bagi yang tidak memiliknya pun, bisa menumpang nonton di tetangga
atau saudara.Seperti halnya benda yang lain, televisi bisa mendatangkan
kebaikan dan keburukan bagi pemirsanya.Semua bergantung pada acara yang
ditayangkan di layar kaca tersebut.
Paling
tidak ada tiga manfaat yang hadir dari tayangan televisi.Pertama, manfaat yang
bersifat kognitif yaitu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi
dan ketrampilan.Tayangan bersifat kognitif ini antara lain berita, dialog,
wawancara, dan sejenisnya.Kedua, manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan
sikap dan emosi.Contohnya, acara-acara yang mendorong pada pemirsa memiliki
kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya.Ketiga, manfaat yang
bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang
positif.Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara
yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku atau merusak akhlak pada anak.[Bijak Menonton Televisi , Media
Ummat; Thursday, 14 April 2011 08:28].
Kita tidak bisa sepenuhnya meninggalkan media elektronik seperti Televisi dengan membuangnya dari rumah kita, karena banyak hal positif yang dapat diambil dari informasi yang ditayangkannya berupa berita atau dunia pendidikan, cukup bagus bila kita mampu mengatur jadwal anak-anak atau keluarga di depan televise, tapi bagi yang mampu untuk meniadakan TV di rumahnya sangat bagus sekali sehingga upaya untuk mencetak generasi shaleh dan shalehah dalam rumah tangga awalnya sangat mudah dilakukan.
Kita
memang tidak bisa melepaskan diri dari tayangan sinetron karena rata-rata semua
stasiun televise punya tayangan itu, bila tidak ada maka stasiun itu akan
ditinggalkan oleh penontonnya, tapi paling tidak kita ambil pelajaran yang ada
dalam perjalanan cerita sinetron itu
sebagai bekal ilmu pengetahuan, filter harus kita punyai untuk menyelamatkan
diri dan keluarga dari api neraka, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28 Agustus
2011.M/ 28 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar