Selasa, 09 Februari 2016

167. Sinetron



Dahulu kita hanya mengenal pertunjukan Sandiwara pada panggung-panggung hiburan bahkan ketika ada di Televisipun namanya masih sandiwara, karena kecanggihan metode penggarapan pada layar kaca maka berganti nama dengan Film bahkan dapat juga disebut demgan Sinema Elektronik atau Sinetron. Jarang orang tidak suka dengan satu acara ini, sejak dari sinetron tradisional, hanya menampilkan gaya hidup masyarakat desa dengan keadaan yang sangat sederhana hingga menayangkan peran hidup yang serba mewah dan menyenangkan, ada sinetron religi karena didalamnya menampilkan tasbih, masjid dan sajadah walaupun banyak adegan seram menakutkan penontonnya dan bertaburnya nilai-nilai syirik dalam tayangan perdukunan.

Ketika TPI menayangkan secara berseri kisah Maha Bharata, membius semua warga kota dan desa apalagi ibu-ibu untuk menyaksikan film kolosan India itu sehingga banyak disebutkan dari kaum wanita yang hamil kemudian melahirkan anak, bila anaknya perempuan diberi nama Shinta dan bila lelaki akan melekat nama Arjuna, selain itu kita lebih kenal tokoh fiktif Negara Hindu itu dari pada tokoh-tokoh Nasional atau dari agama kita sendiri.

Banyak film dan sinetron yang ditayangkan oleh stasiun televisi, untuk menghibur ummat islam dengan menampilkan sinetron yang berani menyebutkan keislamannya seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Islam KTP, Pesantren dan Rock n Roll dan lain-lainnya, semua film itu disenangi oleh masyarakat kita, selain romantic dan humanis juga mengandung nilai-nilai islam yang dapat dijadikan sebagai pelajaran.

Namun kita masih menyaksikan banyaknya tayangan sinetron yang berbau kapitalis dan konsumeris dengan mengumbar segala kemewahan, hidup berfoya-foya dan hedonis, seolah-olah dunia ini milik mereka sendiri dan seolah-olah dunia ini sebagai syurga dengan segala kesenangan yang mengaburkan hakekat syurga di akherat.yang kita lihat di sinetron berupa syurga dengan kemewahan dan kesenangan, itu hanya adegan, itu hanya rekayasa untuk memperindah tontotan tapi yang sebenarnya bukanlah demikian, lihatlah begitu sang pemain yang memerankan segala kesenangan dan kemewahan pada film sinetron, selesai adegan dia kecewa karena indahnya dunia sinetron tidak ada yang ditemukan di dunia nyata, sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Albar bahwa dunia ini panggung sandiwara, adegan yang berlansung didalamnya adalah rekayasa, keindahannya adalah semu, namun banyak banyak manusia yang tertipu.

Dunia sengaja diciptakanNya bukan dalam bentuk yang sempurna, dan itu menunjukkan agar manusia mewujudkannya sebagai sesuatu yang diraih, bukan diberi, tapi diusahakan oleh tangan manusia itu sendiri, agar dunia yang menjadi Surga walau hanya dalam tanda kutip.

Berjalah kau, wahai manusia dan jalan membentang di jalannya tidak mesti semulus jalan tol, pasti ada kekurangannya dalam perjalanan hidupmu, hal itu biasa, tak ada manusia yang luput dari suka dan duka, tak ada manusia yang murni 100% baik dan tak ada manusia jahat 100%. Pada diri manusia seringkali di tengah-tengah keburukaya, ada kebaikanya dan sebaliknya kita sering mengenal manusia yang di tengah-tengah kebaikanya ada sisi buruknya.Itulah sebabnya ada pepatah “Tak ada gading yang tak retak”. Pada gading yang retak itulah, gading menjadi lebih indah!

Dunia bukan Surga, maka jangan mengharap yang muluk-muluk terhadap apapun, terimalah hidup ini apa adanya. Kebahagiaan hakiki tidak akan pernah kamu temukan di dunia ini, kebahagiaan di dunia ini hanya semu, hanya bayangan. Jangan mengharap terlalu tinggi, pada apapun yang bersamamu, kepada siapa saja, ya istrimu, ya anakmu, ya muridmu, ya kepada teman dan sahabatmu serta kepada orang-orang yang ada disekelilingmu.

Dunia ini bukan Surga, terlalu banyak apa yang kamu terima tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, jadi di dunia yang bukan Surga ini harus selalu siap kecewa. Harus siap menerima yang bukan kamu harapkan, harus siap menerima apa yang tidak kamu inginkan, harus siap menerima yang kamu tidak kehendaki. Kecewa, wajar karena kamu manusia biasa, bukan manusia super, bukan wali, bukan nabi, bukan rasul dan bukan orang suci yang mampu begitu tabah dalam menjalani penderitaan betapapun dasyatnya.

Dunia bukan Surga, disekelilingmu banyak sekali hal yang tidak berkenan dengan kepribadianmu, dengan sikap dan watakmu, tapi ada disekelilingmu, ada bersamamu dan hidup bertahun-tahun bersamamu.Apa kamu harus lari? Jangan! Hidup ini bukan Surga, yang serba enak, yang serba mudah, yang tidak ada kesusahan sedikit pun di dalamnya. Jadi jangan pernah bermimpi untuk hidup begitu enak, begitu nikmat, begitu bahagia ....mimpi pun jangan!

Karena selagi kamu hidup di dunia, kesusahan itu akan terus ada, kesulitan itu akan terus datang, penderitaan itu akan terus menjelma, kekecewaan itu akan terus bergema di dinding hati, di rumah-rumah mewah, apa lagi di rumah-rumah kumuh, di wajah-wajah cantik apa lagi di wajah-wajah buruk, di wajah-wajah tanpa dosa dan di wajah-wajah penuh maksiat.

Dunia bukan Surga, maka suka dan duka akan terus saling berganti, tangis dan tawa akan terus berganti, senyum dan sinis salin berbagi, jangan pernah mengharap hidup di dunia tanpa penderitaan, tanpa kesusahan, tanpa ujian, tanpa cobaan, nonsen! Tidak akan pernah terjadi hidup di dunia ini bahagia 100 %, enak 100 %, nikmat 100 % tanpa ada kecewa sedikitpun.

Jangan pernah bermimpi di dunia kamu akan dikelilingi oleh bidadari-bidadari yang cantiknya tak terkirakan atau dikelilingi oleh sarana dan prasarana yang paripurna, yang serba wah, serba mewah, serba mencukupi. Apapapun kenikmatan di dunia itu bukan syurga, belum apa-apa.Kebahagian apapun di dunia belum ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan di Surga. Dunia bukan Surga, dunia bukan Surga, dunia bukan Surga...![Syaripudin Zuhri, Dunia Bukan Sinetron Penjual Surga, eramuslim.com.Sabtu, 07/05/2011 13:37 WIB].

Sebenarnya film, sinetron, sandiwara dan pertunjukan apapun yang kita saksikan tidak lepas dari konspirasi untuk menghancurkan ummat islam, dengan sinetron kita menjadi terlena dan lalai dengan tugas-tugas besar lainnya. Dengan adanya sinetron menjadikan kita orang yang tasabuh yaitu meniru-niru gaya hidup para bintang. Sebuah riset menyatakan bahwa sinetron atau sandiwara dan cerita-cerita yang dikemas dengan sedemikian memikau penontonnya merupakan strategi orang-orang kafir untuk melumpuhkan kekuatan ummat islam melalui program ghazwul fikri atau perang pemikiran.

Mereka ingin agar ummat islam itu suka dengan   Story yaitu kisah dan cerita yang ditayangkan melalui media elektronik, cetak dan radio yang intinya agar umat islam sibuk dengan itu, bahkan melalui story pula nilai-nilai islam dikubur dengan menampilkan nilai-nilai yang tidak islami seperti kisah Saur Sepuh, Nenek Lampir, Pokemon, Telletubies, Superman dan sederet kisah lainnya.

            Seorang anak usia 12 tahun naik ke gedung tingkat sembilan di Singapura kemudian dengan ucapan ”Superman” dia  terjunkan dirinya ke bawah. Di Jakarta seorang anak menghadang modil di jalan raya sehingga mati seketika, rupanya di punggung sianak tertulis Kura-Kura Ninja. Seorang anak naik ke lemari ibunya di sebuah kamar, ketika disuruh turun dia lansung terjun dengan ucapan Satria Baja Hijam. Solusi dari semua itu , paling tidak dan ringan bagaimana anak-anak kita menyukai kisah-kisah islami dari pada kisah yang akan meracuni kehidupannya.

            Bahkan film sinetron yang berbau islampun mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan islam seperti sinetron Pesantren dan Rock n Roll sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang pengamat film ini yaitu Yacong. B. Halike di Hidayatullah.com, dia mengatakan;

PADAawalnya sebenarnya saya tidak sengaja menonton film ini, suatu malam.Selanjutnya kemudian, dari beberapa kali saya menyaksikannya, saya ingin mengemukakan beberapa keberatan.Tapi sebelumnya, saya juga harus mengakui bahwa film ini agak sedikit berkualitas dengan kehadiran tokoh bernama Ustadz Mahmud dengan nasihat nasihatnya yang bernas.

Secara umum saya melihat, bahwa film ini lebih tampak sebagai sebuah penggambaran yang memprihatinkan tentang dunia pesantren.Pesantren pada umumnya punya aturan yang jelas dalam masalah hijab/batas pergaulan.Paling tidak ada batasan batasan tertentu di mana santri dan santriwati bisa bertemu atau berbincang. Tapi Pesantren Darussalam dalam film ini tampaknya lain dari yang lain.

Bagaimana tidak, nama pesantrennya adalah Pesantren Darussalam. Mendengar ini, pikiran kita langsung mengarah pada nama Pesantren Modern Darussalam Gontor. Seolah nama ini mengasosiasi nama besar Pondok Pesantren Modern Gontor yang dikenal sangat menjaga syariat yang telah berdiri berpuluh tahun lalu bahkan bisa dikata sebagai pelopor pesantren di Indonesia.

Sementara di film ini, saya melihat, susah sekali membedakan apakah ini pesantren atau hanya sekedar wadah kongkow dengan lawan jenis. Memang ini hanyalah film semata, sekedar hiburan.Tapi jangan lupa, laku yang ada dalam film ini bisa dengan sangat dahsyat sekali menjejal ke pikiran jutaan orang yang menontonnya. Dari situ kemudian akan muncul persepsi persepsi yang bisa saja keliru tentang pesantren.
Tujuan film ini barangkali dimaksudkan untuk menampilkan wajah pesantren yang lebih modern, tapi di sisi lain ada sejumlah ambiguitas di sana. Di mana laki dan perempuan yang bisa dikata hampir tak ada hijab.Mereka bebas bertemu kapan saja.Ngobrol berduaan.Bersendau gurau dengan lihainya.

Mungkin saja kita tidak habis pikir, bahwa dari film ini kemudian mencuatlah pandangan bahwa inilah memang pesantren modern yang seharusnya diterapkan di negeri ini.Bahkan dalam film ini ada kesan menghalalkan pacaran.Ini bagi saya adalah aneh.

Bagi yang punya TV sudah barang tentu tahu betul bahwa hari ini sangat banyak sekali jam tayang film sinetron setiap program program televisi.Tak bisa dinafikkan, film film remajalah yang mendominasi jagat raya perfileman nasional yang dinujum akan semakin menggila di masa masa mendatang. Dan jelas, film film tak bermutu bermuatan horor dan seks pun akan tambah menggurita.

Ada juga yang mengusung semangat religius, khususnya Islam.Tapi entah kenapa, sangat sedikit pesan bagus yang bisa dipetik dari film film itu. Yang saya khawatirkan, jangan-jangan film seperti yang saya sebutkan di awal ini menjadi semacam kampanye terselebung tentang pola yang dianggapnya adalah ideal, mantap, modern, sesuai tuntutan zaman. 

Padahal sejak dahulu citra pesantren sesungguh-sungguhnya adalah sebagai madrasah atau sekolah tempat belajar dan menerapkan nilai nilai ajaran Islam. Jadi, mohon jangan rusak citra pesantren dengan khayalan nisbi dan tata nilai kehidupan yang permisif.[Yacong. B. Halike,  Pesantren dan Rock n Roll, Hidayatullah.com].

Pada era saat jaya-jayanya Rhoma Irama, dia juga terjun ke dunia film dengan berbagai judul dia filmkan seperti Nada dan Dakwah, saya lupa pada sebuah judul filmnya, tapi adegannya masih saya ingat, Rhoma Irama sedang menanti kekasihnya pada sebuah taman, dengan sabar dia menanti sang pacar, tidak berapa lama dengan mengendap-endap sang kekasih datang dari arah belakang sambil menutup mata Rhoma Irama dan memeluknya, Raja Dangdut ini dengan senyum khasnya mengucapkan kalimat ”Alhamdulillah”, kesan yang tertanam adalah, pelukan sang pacar itu sebuah nikmat yang perlu di syukuri.

Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum mendengarkan musik dan lagu ? Apa hukum menyaksikan sinetron yang di dalamnya terdapat para wanita pesolek, jawabnya;

Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya.Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati.Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.“Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” [Luqman : 6]

Ibnu Mas’ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Demi Allah yang tiada tuhan selainNya, yang dimaksudkan adalah lagu”.

Penafsiran seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di tingkat tiga dalam tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga.Penafsiran Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an, Penafsiran Al-Qur’an dengan hadits dan ketiga Penafsiran Al-Qur’an dengan penjelasan sahabat.Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa penafsiran sahabat mempunyai hukum rafa’ (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat tidak mempunyai hukum rafa’, tetapi memang merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran.

Mendengarkan musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.“Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu Amir Al-Asy’ari]

Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan.Rata-rata setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari sisi prilakunya dan akhlaknya.
[almanhaj.or.idJumat, 18 Nopember 2005 15:49:41 WIB].

Televisi sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok.Hampir semua rumah di Indonesia mempunyai televisi.Bagi yang tidak memiliknya pun, bisa menumpang nonton di tetangga atau saudara.Seperti halnya benda yang lain, televisi bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi pemirsanya.Semua bergantung pada acara yang ditayangkan di layar kaca tersebut.

Paling tidak ada tiga manfaat yang hadir dari tayangan televisi.Pertama, manfaat yang bersifat kognitif yaitu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan ketrampilan.Tayangan bersifat kognitif ini antara lain berita, dialog, wawancara, dan sejenisnya.Kedua, manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan emosi.Contohnya, acara-acara yang mendorong pada pemirsa memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya.Ketiga, manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang positif.Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku atau merusak akhlak pada anak.[Bijak Menonton Televisi , Media Ummat; Thursday, 14 April 2011 08:28].

Kita tidak bisa sepenuhnya meninggalkan media elektronik seperti Televisi dengan membuangnya dari rumah kita, karena banyak hal positif yang dapat diambil dari informasi yang ditayangkannya berupa berita atau dunia pendidikan, cukup bagus bila kita mampu mengatur jadwal anak-anak atau keluarga di depan televise, tapi bagi yang mampu untuk meniadakan TV di rumahnya sangat bagus sekali sehingga upaya untuk mencetak generasi shaleh dan shalehah dalam rumah tangga awalnya sangat mudah dilakukan.

            Kita memang tidak bisa melepaskan diri dari tayangan sinetron karena rata-rata semua stasiun televise punya tayangan itu, bila tidak ada maka stasiun itu akan ditinggalkan oleh penontonnya, tapi paling tidak kita ambil pelajaran yang ada dalam perjalanan cerita sinetron  itu sebagai bekal ilmu pengetahuan, filter harus kita punyai untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 28 Agustus 2011.M/ 28 Ramadhan 1432.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar