Untuk mengakses informasi secara tepat
dan akurat pada zaman sekarang tidaklah sulit karena banyaknya sarana yang
tersedia, sejak dari media cetak seperti Koran dan majalah dengan berbagai
jenis hingga media elektronik seperti televise dan internet. Seolah-olah kita
tidak boleh menyatakan “tidak tahu” terhadap satu kejadian di sekeliling kita,
sedangkan kejadian di dunia luar saja dapat kita ketahui dengan cepat, itulah
fungsi penting dari media massa.
Bahkan
sebuah berita yang tidak begitu penting akhirnya dianggap menjadi penting
karena pandainya pengelola media mempublikasikan berita itu, sebuah berita
kecil bisa menjadi besar karena disiarkan berulang-ulang dan ditanggapi banyak
orang dan sebaliknya berita besar dan penting bisa hilang dari fikiran manusia
karena tidak dimunculkan lagi, masa tayangnya sudah diputus oleh pihak-pihak
tertentu, itulah media massa. Seorang muslim harus berhati-hati terhadap media
massa yang memberitakan hal-hal yang dapat merusak bahkan memicu
kesalahfahaman, DR Abdul Azhim Al Badawi
menyampaikan pesannya kepada kita tentang bahaya sebuah berita yang disiarkan
media massa;
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya.Kadang dari suatu
peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau
sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim.
Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah
berita yang belum tentu benar.Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang
bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?
Bagaimana seharusnya sikap seorang
muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu. Allah berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan
teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu
itu". [Al Hujurat : 6].
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka.Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.(Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian.Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka.Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.(Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian.Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Allah berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti"
Maksudnya, janganlah kalian menerima
(begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan,
penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.
(Dalam ayat ini) Allah
memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia
dusta, akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan
tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah
diteliti.Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka
ditolak.
Kemudian Allah menyebutkan illat
(sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita-berita
tersebut.Allah berfirman."Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada
suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya".
Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu
dan kebersihan mereka."Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu
itu" [Al Hujurat : 6]
Terutama jika berita tersebut bisa
menyebabkan punggungmu terkena cambuk. Misalnya, jika masalah yang kalian
bicarakan bisa mengkibatkan hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang
sejenisnya.
Sungguh, betapa semua kaum muslimin
memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang
ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang
disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa
yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita
yang tidak benar!Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini.
Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini,
mencabik-cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.
Betapa banyak dua saudara berpisah
disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-istri berpisah karena berita yang
tidak benar! Betapa banyak kabilah-kabilah, dan kelompok-kelompok saling
memerangi, karena terpicu berita bohong!
Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut
dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaidah bagi umat ini untuk
memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga
untuk memelihara mereka dari api fitnah.[Berita Dan Bahayanya,almanhaj.or.id,Jumat, 22 Januari 2010 16:26:07 WIB].
Lihatlah bagaimana upaya pihak-pihak
tertentu untuk memojokkan islam melalui pemburuan berita terhadap teroris
bahkan berita tentang itu dibesar-besarkan demi kepentingan tertentu.
Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal
menilai pola pemberitaan yang dilakukan media dalam kasus terorisme terutama
penangkapan terorisme di Temanggung terlalu berlebihan.
Pemberitaan ini menyebabkan
teroris seperti Noordin M Top menjadi semakin merasa jadi jagoan dalam meneror
masyarakat.
“Noordin jadi setengah jagoan
dalam melakukan teror akibat lebih banyak diangkat oleh pers,” kata Prof Dr
Ichlasul Amal dalam diskusi “Mengukur Keberhasilan Penaganganan Teroris di
Indonesia,” di Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Terban,
Blimbingsari, Yogyakarta, Jumat (14/8/2009).
Sementara itu dosen Hubungan
Internasional (UGM) Dr Erick Hiarej menegaskan terorisme bukan masalah bom,
tapi melancarkan serangan teror kepada masyakat dalam bertahun-tahun. Dia hanya
khawatir dengan pemberitaan di media besar-besaran itu justru teroris akan
memanfaatakan media untuk meneror masyarakat.“Yang dicari pelaku adalah
publisitas dari media,” katanya.
Menurut dia, pemerintah harus
serius ingin melawan terorisme.Namun hal itu tidak cukup membuat kebijakan UU
anti teror.Karena para teroris juga menggunakan kecanggihan teknologi. Mereka
juga mengikuti perkembangan penanganan teroris yang dilakukan pemerintah.[dakwatuna.com, Media
Terlalu Berlebihan Meliput Teroris,15/8/2009 | 22 Sya'ban 1430 H].
Cara-cara pihak tertentu untuk
memojokkan islam melalui pemberitaan teroris itu juga dibenarkan oleh
orang-orang yang obyektif memandang islam, sudah terjadi pelecehan terhadap
islam melalui berita katanya, walaupun yang mengungkapkan hal itu bukan seorang
muslim.
Pakar Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kebebasan beragama, Heiner Bielefeldt, melontarkan
kritik pedas terhadap laporan-laporan awal media menyangkut pembunuhan massal
di Norwegia pekan lalu, yang langsung menghubungkan tragedi tersebut dengan
terorisme Islam.
Heiner Bielefeldt, yang
merupakan Pelapor Khusus PBB untuk Kebebasan Beragama dan Kepercayaan, menunjuk
laporan-laporan semacam itu sebagai contoh “memalukan” dan “terungkap jelas”
mengandung prasangka-prasangka.
“Cara para komentator publik
yang secara langsung menghubung-hubungkan pembunuhan massal di Norwegia pada
Jumat (22/7) lalu dengan terorisme Islam, merupakan contoh yang terungkap dan
benar-benar memalukan menyangkut dampak kuat dari adanya prasangka,” kata
Bielefeldt seperti dikutip Pusat Media PBB, di New York, Amerika Serikat,
Selasa.
“Sikap menghormati para korban
dan keluarga korban seharusnya didahulukan daripada mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang murni berdasarkan spekulasi,” kata Bielefedt.
Setidaknya 75 orang tewas
dalam dua serangan di Norwegia, yaitu ledakan di pusat ibukota negara, Oslo,
serta penembakan massal di kamp pemuda di Utoya, sebuah pulau dekat Oslo.
Seperti yang disebutkan Pusat
Media PBB, menyangkut serangan hari Jumt itu banyak laporan awal media yang
langsung memusatkan topik pada kontribusi pasukan Norwegia dalam perang di Irak
dan Afghanistan serta hubungannya dengan serangan hari Jumat di Norwegia.
Pada kenyataannya, tersangka
serangan pembunuhan massal itu ternyata adalah seorang pemuda non-Muslim yang
kemudian disebut-sebut media sebagai ekstrimis politik berkewarganegaraan
Norwegia.
Akhir pekan lalu, Sekretaris
Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Dewan Keamanan PBB secara berturut-turut
mengeluarkan kecaman terhadap aksi serangan membabi buta di Norwegia hingga
menewaskan puluhan orang.
Dewan Keamanan yang
beranggotakan 15 negara itu menegaskan tekad mereka untuk memerangi terorisme
dalam bentuk dan didasarkan atas motif apapun. [Pakar PBB Kritik Media
Tentang Pemberitaan Aksi Teroris Norwegia, dakwatuna.com 27/7/2011 | 26
Sya'ban 1432 H].
Pakar komunikasi Rogers & Shoemaker menyatakan bahwa
komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima.
Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal
(mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jk para tokoh
(opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain,
Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat
mempengaruhi masyarakat penerimanya.
Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV
terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sbb :
Aspek kehadirannya : Terjadinya perubahan penjadwalan
kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah,
waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan
belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat
atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja
atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taâlim atau membaca
buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton
TV.Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan
teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh
yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal
dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.
Aspek Isinya : Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh
media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media
massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan
menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi
terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK)
sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus
diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup
borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari
nilai2 agama. [Abi AbduLLAAH,Peran
Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan Al-Ikhwan.net
| 11 December 2005 | 9 Dzulqaidah 1426 H].
Apalagi acara-acara TV yang dikemas untuk anak-anak dan
remaja, semua menjanjikan kepopuleran bagi mereka, menanamkan kecintaan kepada
idola sehingga mampu membius generasi muda untuk bergelimang di dalamnya,
apakah lansung datang ke show di lapangan, nongkrong di studio atau duduk manis
di depan televise berjam-jam tanpa bosan menyaksikan acara spesil seperti
Program Idol.
“Sihir” program-program “Idol” di
televisi sungguh luar biasa.Ribuan orang bernafsu menjadi peserta.Jutaan orang
terlibat dalam acara itu melalui penghantaran SMS. Di AS, para peserta rela
menginap dua hari di lapangan terbuka, hanya untuk menunggu giliran audisi. Di
Malaysia, acara-acara sejenis, seperti Malaysian Idol, Akademi Fantasia, dan
Audition, mampu meraup jumlah SMS puluhan juta, melebihi jumlah penduduk
Malaysia. Di Indonesia, demam acara sejenis melanda sampai ke desa-desa.
T-Shirt AFI ada juga yang dipakai pekerja Indonesia di Malaysia.
Ujung dari berbagai program tersebut adalah upaya penciptaan
“idola”, “bintang pujaan”, khususnya dalam dunia bisnis hiburan (showbiz).
Tentu, acara-acara ini merupakan lahan basah untuk meraup keuntungan para
pemilik industri televisi.Iklan membanjiri acara-acara itu. Di Malaysia, acara
Malaysian Idol meraup iklan dari perusahaan-perusahaan besar, seperti Telekom,
Coca Cola, Revlon, dan sebagainya. “Idol” sudah menjadi kosa kata bahasa
Inggris, berasal dari bahasa Yunani “eidolon” yang berarti “image” atau “form”.
The American Heritage Dictionary mengartikan kata “idol” sebagai “An image
used as an object of worship”, atau “one who is adored”. “Dari kata
‘Idol’ berkembang kata “idolatry” kemudian dimaknai sebagai “The worship of
idol”, yakni ‘penyembahan satu idola’ atau “blind devotion”, yakni,
‘ketaatan yang membuta’.
Kekaguman, pemujaan, biasanya memang berujung pada ketaatan
yang membabi-buta. Itu tampak dari perilaku banyak remaja yang menggilai idola
pujaannya di kalangan selebritis, mulai drai perilaku mengoleksi album, foto,
tanda tangan, lalu meniru-niru perilaku dan model pakaiannya. Sebagian pak
turut buta ini sampai rela menyerahkan dirinya untuk diapakan saja oleh
idolanya.Berbagai acara TV yang mempertemukan antara idola dan pemujanya sudah
ditayangkan. Biasanya digambarkan, bagaimana histerisnya, ketika sang pemuja
berjumpa dengan sang idola. Satu bentuk kegetaran hati, kebahagiaan,
keterharuan, yang menurut al-Quran, harusnya dialami oleh seorang mukmin, saat
‘berjumpa’ dengan Allah, ketika sang mukmin melaksanakan ibadah salat.
Jadi, kata “idol” memang berkaitan dengan aspek “pemujaan”,
“penghormatan”, dan “penyembahan”. Para juara dalam program-program ini akan
ditampilkan sebagai “idol”, idola, yang dipuja, dihormati, dan mendapatkan
berbagai fasilitas hidup duniawi yang menggiurkan. Pesatnya perkembangan
industri showbiz membutuhkan banyak “idol”. Sebagaimana layaknya, dunia
showbiz, sosok-sosok pujaan dibangun di atas “realitas kamera” atau “realitas
semu”, yang sifatnya temporer, sesuai dengan kebutuhan dunia bisnis hiburan. Di
atas realitas inilah dibangun mitos-mitos. Mitos tentang idol, mitos tentang
sang pujaan, mitos tentang sang bintang, yang cantik/tampan, berbakat menyanyi,
berakting, dan beruntung.
Demam acara “Idol” di berbagai negara merupakan gambaran
yang tepat dari sebuah proses globalisasi di bidang “fun” atau hiburan. Pada
kenyataannya, globalisasi semakin mengarah kepada satu bentuk ‘imperialisme
budaya’ (cultural imperialism) Barat terhadap budaya-budaya lain.[Adian Husaini,Sihir
Idol, Hidayatullah.com.Senin, 30
Agustus 2004].
Itulah media massa, selain kita butuhkan untuk
mengakses berita dan ilmu yang bermanfaat, dia juga digunakan oleh orang-orang
tertentu untuk merusak, mengacau dan menghancurkan islam, tentu kita tidak
menafikan banyaknya media massa yang masih konsisten dengan keobyektifannya dan
tidak sedikit pula media massa islam yang keshahihan beritanya dapat
dipertanggungjawabkan, untuk itu hati-hatilah dalam menggunakan media massa
karena didalamnya terselip upaya untuk memerangi ummat islam melalui
program-program empat s yaitu song, sport, story dan seks.wallahu a’lam
[Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar