Rabu, 10 Februari 2016

182. Media Massa



Untuk mengakses informasi secara tepat dan akurat pada zaman sekarang tidaklah sulit karena banyaknya sarana yang tersedia, sejak dari media cetak seperti Koran dan majalah dengan berbagai jenis hingga media elektronik seperti televise dan internet. Seolah-olah kita tidak boleh menyatakan “tidak tahu” terhadap satu kejadian di sekeliling kita, sedangkan kejadian di dunia luar saja dapat kita ketahui dengan cepat, itulah fungsi penting dari media massa.

Bahkan sebuah berita yang tidak begitu penting akhirnya dianggap menjadi penting karena pandainya pengelola media mempublikasikan berita itu, sebuah berita kecil bisa menjadi besar karena disiarkan berulang-ulang dan ditanggapi banyak orang dan sebaliknya berita besar dan penting bisa hilang dari fikiran manusia karena tidak dimunculkan lagi, masa tayangnya sudah diputus oleh pihak-pihak tertentu, itulah media massa. Seorang muslim harus berhati-hati terhadap media massa yang memberitakan hal-hal yang dapat merusak bahkan memicu kesalahfahaman, DR Abdul Azhim Al Badawi menyampaikan pesannya kepada kita tentang bahaya sebuah berita yang disiarkan media massa;
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya.Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar.Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?

Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu. Allah berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka.Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.(Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian.Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Allah berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti"
Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian mengadakan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.

(Dalam ayat ini) Allah memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti.Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.
Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita-berita tersebut.Allah berfirman."Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya".
Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka."Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" [Al Hujurat : 6]

Terutama jika berita tersebut bisa menyebabkan punggungmu terkena cambuk. Misalnya, jika masalah yang kalian bicarakan bisa mengkibatkan hukum had, seperti qadzaf (menuduh) dan yang sejenisnya.
Sungguh, betapa semua kaum muslimin memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang disebarkan orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang terampas, kehormatan yang terkoyakkan, akibat berita yang tidak benar!Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan persatuan umat ini, mencabik-cabiknya dan mengobarkan api permusuhan diantara umat Islam.

Betapa banyak dua saudara berpisah disebabkan berita bohong! Betapa banyak suami-istri berpisah karena berita yang tidak benar! Betapa banyak kabilah-kabilah, dan kelompok-kelompok saling memerangi, karena terpicu berita bohong!

Allah Azza wa Jalla Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui, telah meletakkan satu kaidah bagi umat ini untuk memelihara mereka dari perpecahan, dan membentengi mereka dari pertikaian, juga untuk memelihara mereka dari api fitnah.[Berita Dan Bahayanya,almanhaj.or.id,Jumat, 22 Januari 2010 16:26:07 WIB].

Lihatlah bagaimana upaya pihak-pihak tertentu untuk memojokkan islam melalui pemburuan berita terhadap teroris bahkan berita tentang itu dibesar-besarkan demi kepentingan tertentu.
Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal menilai pola pemberitaan yang dilakukan media dalam kasus terorisme terutama penangkapan terorisme di Temanggung terlalu berlebihan.
Pemberitaan ini menyebabkan teroris seperti Noordin M Top menjadi semakin merasa jadi jagoan dalam meneror masyarakat.
“Noordin jadi setengah jagoan dalam melakukan teror akibat lebih banyak diangkat oleh pers,” kata Prof Dr Ichlasul Amal dalam diskusi “Mengukur Keberhasilan Penaganganan Teroris di Indonesia,” di Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Terban, Blimbingsari, Yogyakarta, Jumat (14/8/2009).

Sementara itu dosen Hubungan Internasional (UGM) Dr Erick Hiarej menegaskan terorisme bukan masalah bom, tapi melancarkan serangan teror kepada masyakat dalam bertahun-tahun. Dia hanya khawatir dengan pemberitaan di media besar-besaran itu justru teroris akan memanfaatakan media untuk meneror masyarakat.“Yang dicari pelaku adalah publisitas dari media,” katanya.
Menurut dia, pemerintah harus serius ingin melawan terorisme.Namun hal itu tidak cukup membuat kebijakan UU anti teror.Karena para teroris juga menggunakan kecanggihan teknologi. Mereka juga mengikuti perkembangan penanganan teroris yang dilakukan pemerintah.[dakwatuna.com, Media Terlalu Berlebihan Meliput Teroris,15/8/2009 | 22 Sya'ban 1430 H].

Cara-cara pihak tertentu untuk memojokkan islam melalui pemberitaan teroris itu juga dibenarkan oleh orang-orang yang obyektif memandang islam, sudah terjadi pelecehan terhadap islam melalui berita katanya, walaupun yang mengungkapkan hal itu bukan seorang muslim.

Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kebebasan beragama, Heiner Bielefeldt, melontarkan kritik pedas terhadap laporan-laporan awal media menyangkut pembunuhan massal di Norwegia pekan lalu, yang langsung menghubungkan tragedi tersebut dengan terorisme Islam.
Heiner Bielefeldt, yang merupakan Pelapor Khusus PBB untuk Kebebasan Beragama dan Kepercayaan, menunjuk laporan-laporan semacam itu sebagai contoh “memalukan” dan “terungkap jelas” mengandung prasangka-prasangka.

“Cara para komentator publik yang secara langsung menghubung-hubungkan pembunuhan massal di Norwegia pada Jumat (22/7) lalu dengan terorisme Islam, merupakan contoh yang terungkap dan benar-benar memalukan menyangkut dampak kuat dari adanya prasangka,” kata Bielefeldt seperti dikutip Pusat Media PBB, di New York, Amerika Serikat, Selasa.
“Sikap menghormati para korban dan keluarga korban seharusnya didahulukan daripada mengambil kesimpulan-kesimpulan yang murni berdasarkan spekulasi,” kata Bielefedt.
Setidaknya 75 orang tewas dalam dua serangan di Norwegia, yaitu ledakan di pusat ibukota negara, Oslo, serta penembakan massal di kamp pemuda di Utoya, sebuah pulau dekat Oslo.

Seperti yang disebutkan Pusat Media PBB, menyangkut serangan hari Jumt itu banyak laporan awal media yang langsung memusatkan topik pada kontribusi pasukan Norwegia dalam perang di Irak dan Afghanistan serta hubungannya dengan serangan hari Jumat di Norwegia.
Pada kenyataannya, tersangka serangan pembunuhan massal itu ternyata adalah seorang pemuda non-Muslim yang kemudian disebut-sebut media sebagai ekstrimis politik berkewarganegaraan Norwegia.
Akhir pekan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Dewan Keamanan PBB secara berturut-turut mengeluarkan kecaman terhadap aksi serangan membabi buta di Norwegia hingga menewaskan puluhan orang.
Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara itu menegaskan tekad mereka untuk memerangi terorisme dalam bentuk dan didasarkan atas motif apapun. [Pakar PBB Kritik Media Tentang Pemberitaan Aksi Teroris Norwegia, dakwatuna.com 27/7/2011 | 26 Sya'ban 1432 H].

Pakar komunikasi Rogers & Shoemaker menyatakan bahwa komunikasi adalah proses pesan yg disampaikan dari sumber kepada penerima. Komunikasi yg menyebar melalui media massa akan memiliki dampak vertikal (mengalami taraf internalisasi/penghayatan) apalagi jk para tokoh (opinion-leaders) ikut menebarkannya. Sementara pakar komunikasi lain, Lazarfield menyatakan bahwa jalannya pesan melalui media massa akan sangat mempengaruhi masyarakat penerimanya.

Peran merusak dari media komunikasi modern, khususnya TV terhadap sebuah generasi menurut penulis dapat dilihat dari dua aspek sbb :
Aspek kehadirannya : Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari2 dalam keluarga muslim dan muslimah. Sebagai contoh adalah, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak2 muslim/ah untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara2 yang kebanyakan tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Sementara bagi para remaja dan orangtua, selepas bekerja atau sekolah dibandingkan datang ke pengajian dan majlis2 taâlim atau membaca buku, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV.Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa, sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian seseorang maupun masyarakat, asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai2 yg Islami.
Aspek Isinya : Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa diantaranya adalah mengenai penokohan/orang2 yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama ataupun ilmuwan serta orang2 yang dapat mendorong bagi terbangunnya bangsa agar dapat mencapai kemajuan (baik IMTAK maupun IPTEK) sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur2kan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai2 agama. [Abi AbduLLAAH,Peran Media Komunikasi Modern (TV) sebagai Sarana untuk Menghancurkan Al-Ikhwan.net | 11 December 2005 | 9 Dzulqaidah 1426 H].

Apalagi acara-acara TV yang dikemas untuk anak-anak dan remaja, semua menjanjikan kepopuleran bagi mereka, menanamkan kecintaan kepada idola sehingga mampu membius generasi muda untuk bergelimang di dalamnya, apakah lansung datang ke show di lapangan, nongkrong di studio atau duduk manis di depan televise berjam-jam tanpa bosan menyaksikan acara spesil seperti Program Idol.

“Sihir” program-program “Idol” di televisi sungguh luar biasa.Ribuan orang bernafsu menjadi peserta.Jutaan orang terlibat dalam acara itu melalui penghantaran SMS. Di AS, para peserta rela menginap dua hari di lapangan terbuka, hanya untuk menunggu giliran audisi. Di Malaysia, acara-acara sejenis, seperti Malaysian Idol, Akademi Fantasia, dan Audition, mampu meraup jumlah SMS puluhan juta, melebihi jumlah penduduk Malaysia. Di Indonesia, demam acara sejenis melanda sampai ke desa-desa. T-Shirt AFI ada juga yang dipakai pekerja Indonesia di Malaysia.

Ujung dari berbagai program tersebut adalah upaya penciptaan “idola”, “bintang pujaan”, khususnya dalam dunia bisnis hiburan (showbiz). Tentu, acara-acara ini merupakan lahan basah untuk meraup keuntungan para pemilik industri televisi.Iklan membanjiri acara-acara itu. Di Malaysia, acara Malaysian Idol meraup iklan dari perusahaan-perusahaan besar, seperti Telekom, Coca Cola, Revlon, dan sebagainya. “Idol” sudah menjadi kosa kata bahasa Inggris, berasal dari bahasa Yunani “eidolon” yang berarti “image” atau “form”. The American Heritage Dictionary mengartikan kata “idol” sebagai “An image used as an object of worship”, atau “one who is adored”. “Dari kata ‘Idol’ berkembang kata “idolatry” kemudian dimaknai sebagai “The worship of idol”, yakni ‘penyembahan satu idola’ atau “blind devotion”, yakni, ‘ketaatan yang membuta’.

Kekaguman, pemujaan, biasanya memang berujung pada ketaatan yang membabi-buta. Itu tampak dari perilaku banyak remaja yang menggilai idola pujaannya di kalangan selebritis, mulai drai perilaku mengoleksi album, foto, tanda tangan, lalu meniru-niru perilaku dan model pakaiannya. Sebagian pak turut buta ini sampai rela menyerahkan dirinya untuk diapakan saja oleh idolanya.Berbagai acara TV yang mempertemukan antara idola dan pemujanya sudah ditayangkan. Biasanya digambarkan, bagaimana histerisnya, ketika sang pemuja berjumpa dengan sang idola. Satu bentuk kegetaran hati, kebahagiaan, keterharuan, yang menurut al-Quran, harusnya dialami oleh seorang mukmin, saat ‘berjumpa’ dengan Allah, ketika sang mukmin melaksanakan ibadah salat.

Jadi, kata “idol” memang berkaitan dengan aspek “pemujaan”, “penghormatan”, dan “penyembahan”. Para juara dalam program-program ini akan ditampilkan sebagai “idol”, idola, yang dipuja, dihormati, dan mendapatkan berbagai fasilitas hidup duniawi yang menggiurkan. Pesatnya perkembangan industri showbiz membutuhkan banyak “idol”. Sebagaimana layaknya, dunia showbiz, sosok-sosok pujaan dibangun di atas “realitas kamera” atau “realitas semu”, yang sifatnya temporer, sesuai dengan kebutuhan dunia bisnis hiburan. Di atas realitas inilah dibangun mitos-mitos. Mitos tentang idol, mitos tentang sang pujaan, mitos tentang sang bintang, yang cantik/tampan, berbakat menyanyi, berakting, dan beruntung.

Demam acara “Idol” di berbagai negara merupakan gambaran yang tepat dari sebuah proses globalisasi di bidang “fun” atau hiburan. Pada kenyataannya, globalisasi semakin mengarah kepada satu bentuk ‘imperialisme budaya’ (cultural imperialism) Barat terhadap budaya-budaya lain.[Adian Husaini,Sihir Idol, Hidayatullah.com.Senin, 30 Agustus 2004].

 Itulah media massa, selain kita butuhkan untuk mengakses berita dan ilmu yang bermanfaat, dia juga digunakan oleh orang-orang tertentu untuk merusak, mengacau dan menghancurkan islam, tentu kita tidak menafikan banyaknya media massa yang masih konsisten dengan keobyektifannya dan tidak sedikit pula media massa islam yang keshahihan beritanya dapat dipertanggungjawabkan, untuk itu hati-hatilah dalam menggunakan media massa karena didalamnya terselip upaya untuk memerangi ummat islam melalui program-program empat s yaitu song, sport, story dan seks.wallahu a’lam [Dukuh Pinggir, Tanah Abang, Jakarta, 19 Agustus 2011.M/ 19 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar