Jumat, 26 Februari 2016

288. Sawah Ladang



Banyak ujud kekayaan yang ada di dunia ini menjadi modal dan fasilitas hidup manusia sebagai pribadi, hidup berumah tangga maupun hidup dalam komunitas sosial, bahkan harta kekayaan itu sebagai simbol keberadaan seseorang seperti sawah dan ladang, tambak ikan dan perkebunan. Bahkan di India dalam  film-filmnya dikenal dengan seorang tokoh dengan nama Tuan Takhur yang punya lahan sawah  ladang sangat luas yang digarap oleh pekerja-pekerja yang mengandalkan upah dari tetesan keringatnya dari sang tuan, disamping itu Tuan Takhur juga dikenal keras, kasar dan pelit, tidak jarang penindasan fisik dan mental terjadi terhadap anak buahnya.

Negeri Indonesia begitu indah, lembah curam yang mendebarkan, bukit dan gunung biru begitu memukau keelokannya sebagian besar masih perawan belum terjamah investor , dataran luas membentang dengan aneka tanaman, bergelayut pada dahan-dahannya berbagai buah yang menjanjikan kelezatan dan kenikmatann bagi penikmatnya. Cuaca dan iklim yang serasi, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga cocok  untuk menyuburkan segala jenis tanaman, menyehatkan penduduknya karena udaranya masih terhindar dari polusi dan erosi.

Aktivitas bercocok tanam di sawah dan di ladang sudah berlansung sejak zaman dahulu, zaman pra sejarah mengajarkan kepada kita bahwa budaya bertani diawali dari  seorang lelaki yang mencari makanan pada hutan tempat tinggalnya,  mereka mengambil  buah-buahan apa saja pada semua pohon yang nampak, dipilah dan dipilih buah yang baik melalui rasa enak dan manis lalu dibawa pulang, di gubuk yang mereka huni atau gua-gua yang aman tempat berteduh dan berlindung.  Buah-buahan yang mereka nikmati itu tanpa difikirkan bagaimana menumbuhkannya, yang penting hari ini dan kini dimakan, kulit dan biji-bijinya dibuang saja ke depan gubuk atau agak jauh dari gua, tanpa disadari biji-biji itu tumbuh, dalam waktu relatif lama pohon itu membesar dan berbuah dan dapat dinikmati lagi tanpa harus mencari ke hutan yang agak jauh.

Dari peristiwa itu akhirnya manusia purba tadi bercocok tanam, berladang, bertani dan memulai kehidupan baru dari generasi ke generasi dengan memadukan aktivitas berburu, mereka sudah punya kepandaian membuat perkakas dari batu dan kayu sebagai alat untuk mengolah tanah, sesuai dengan panjangnya perjalanan waktu  kehidupan manusia semakin berubah membaik hingga memasuki kehidupan modern tapi bertani di sawah dan ladang tidak mungkin ditinggalkan bahkan pengolahanpun semakin modern pula.

Aktivitas masyarakat kita yang bertanah luas lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok dengan sawah dan ladang sebagai mata pencaharian utama yang sekaligus untuk kepentingan  masyarakatnya. Paling tidak tiap hari makanan pokok dari hasil jerih payah di sawah dan ladang yang dapat membantu peningkatan kesejahteraan keluarga, sekolah anak-anak dan kepentingan lainnya, apalagi kalau panen raya dan rezeki baik dapat untuk mencukupi kebutuhan primer dan sekunder, sehingga dapat dikatakan jual hasil sawah untuk beli sawah atau jual kol untuk beli colt.

Beruntung mereka yang punya lahan sawah dan ladang, baik dari usaha pembelian ataupun peninggalan warisan orangtua dan keluarga sehingga hanya membutuhkan tenaga dan biaya produksi saja sedangkan hasilnya dapat diambil seutuhnya tanpa ada biaya atau beban lain. Sedangkan bagi yang tidak punya lahan maka aktivitasnya hanya sebagai pekerja saja, menghabiskan segala potensinya dari pagi hingga sore bahkan malam harinya, ketika panen bagian tuan tanah atau majikan harus dikeluarkan ditambah lagi serangan hama sebagai musuh yang harus dihadapi sendiri. Kadangkala hasilnya tidak mencukupi dibandingkan panen tahun lalu  sehingga harus ditanggulangi dengan pinjam sana pinjam sini kepada masyarakat yang agak berpunya dengan jaminan tahun depan dibayar dari hasil penjualan panen dari sawah atau ladang.

Semakin berkembang kehidupan manusia, orangtua tidak mau lagi kelak anak-anaknya semenderita mereka yang berendam terus menerus di sawah dan ladang membanting tulang harus menahan dan menanggung lelah. Sehingga orangtua punya obsesi untuk menyekolahkan anaknya ke kota dengan harapan kelak hidup sang anak akan lebih baik dari ayahnya, kalau sudah tamat sekolah dan ada keberuntungan  bisa jadi pegawai negeri atau bekerja pada tempat-tempat yang lebih menjanjikan untuk masa depannya. Karena tidak mungkin anak dan cucunya kelak terjun ke sawah dan ladang yang semakin hari semakin sempit karena tidak ada  penambahan lahan sedangkan keturunannya semakin berkembang, mustahil sawah dan ladang yang hanya sekian luasnya diperebutkan oleh anak-anak, kemenakan dan cucu-cucunya, jalan keluarnya adalah urbanisasi secara lansung merantau ataupun dengan jalan sekolah ke kota.

Sebaliknya, karena lebih mudah mencari uang di kota dari pada membajak sawah dan mencangkul ladang di kampung lebih baik buka kounter HP atau buka jasa Internet atau jadi Satpam di sebuah instansi, apapun profesi tidak jadi masalah asal tinggal di kota dari pada di kampung. Seiring dengan waktu yang tua-tua semakin beranjak ke usia senja, sawah tidak sepenuhnya dapat dikelola lagi, tenaga tidak seperkasa waktu masih muda sehingga untuk sementara sawah diserahkan kepada orang lain untuk dikolola bagi hasil dan bila tidak tentu lahan akan kosong untuk waktu tertentu, sedangkan biaya hidup sehari-hari mengandalkan dari usaha anak-anak yang bekerja di kota. Setelah itu kita akan melihat lahan sawah dan ladang beransur kosong karena tidak tergarap lagi, akhirnya tumbuhlah semak-semak belukar hingga merimbun.

Di zaman Umar bin Khattab, tidak boleh ada lahan masyarakat yang kosong, semuanya harus digarap untuk kepentingan pertanian dan usaha dalam rangka meningkatkan perekonomian, bila ada lahan yang kosong lebih dari tiga bulan maka pemerintah bertindak dengan mengambilalih. Karena peran serta dari pemerintah inilah sehingga tidak ada lahan yang kosong, semuanya produktif untuk mencukupi kesejahteraan rakyat. Memang pemerintah seharusnya memberikan stimulan kepada masyarakat untuk memproduktifkan sawah dan ladang hingga perkebunan dengan memberikan bibit berbagai jenis, selain pupuk yang murah juga penyediaan bantuan kridit untuk pengolahan dan pemeliharaan tanaman hingga panen.

Ketika saya melancong ke Malaysia tahun 2009, dari perjalanan yang dilalui nampak bahwa di negeri jiran itu tidak ada lahan yang kosong, semuanya digunakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk tanaman yang kelak menghasilkan ringgit tidak sedikit. Kita tidak menemukan lelaki yang menghabiskan waktunya berjam-jam di kedai-kedai kopi, semuanya sibuk dengan urusan ekonomi dan pemakmuran hidup keluarga masing-masing. Kita bisa berdalih bahwa negara jiran itu mempunyai lahan tidak seluas Indonesia sehingga mudah bagi mereka untuk menggarapnya, sedangkan kita punya lahan yang luas, tenaga yang terbatas juga sikap mental ogah-ogahan bergerak di lahan ini.

Kita  akan menemukan dan melihat  sebuah ladang yang kita miliki dengan bermacam-macam tanaman yang serba sedikit, sebuah lahan yang hanya satu atau dua hektar tapi ditumbuhi oleh pohon kelapa sepuluh batang, pohon durian empat batang, disana juga tumbuh pohon jengkol, coklat agak sedikit, ada pula cengkeh dan kulit manis, dengan senang hati pula kita menanam pisang agak dua atau tiga batang, ada sayur-sayuran agak sedikit pula. Sehingga wajar dikala panen pisang hanya diperoleh beberapa sisir saja, tentu untuk keperluan makan sendiri, hasil panen hanya untuk menggulai saja, kulit manis juga tidak dapat dirupiahkan yang menjanjikan, kalau begini kapan kita akan bisa menghasilkan panen yang satu macam saja tapi dapat menyelesaikan segala keperluan hidup. Misalnya sebuah lahan ditanami durian semuanya, atau kelapa semuanya atau coklat semuanya dengan menyingkirkan tanaman lain, sehingga dikala panen dengan buah durian ribuan jumlahnya, atau panen kelapa sekian mobil hanya harus di bawa ke kota, atau hasil coklat ratusan kilo hasilnya.

Dalam sebuah perjalanan Rasulullah pernah melihat seorang petani melakukan pencangkokan tanaman satu dengan lainnya dengan maksud supaya buahnya lebih baik dari yang lalu dan itu berhasil, hal itu diinformasikan oleh Rasulullah kepada sahabatnya di Madinah, maka dicoba pulalah untuk melakukan pencangkokan itu tapi hasilnya tidak sebaik orang lain, mungkin ada kesalahan teknik sehingga Rasul menyatakan,"Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian", artinya walaupun hanya berkaitan dengan sawah dan ladang, tanaman dan pertanian maka semuanya akan menghasilkan yang unggul bila dikerjakan oleh para ahlinya, ingat kata Nabi, bila suatu pekerjaan tidak dikerjakan oleh ahlinya maka  tunggulah kehancurannya.

Sawah dan ladang yang produktif, dengan hasil yang baik dapat menanggulangi kehidupan rumah tangga hingga mampu mencetak anak-anak jadi sarjana dan dapat pula untuk membeli ladang-ladang lain di lokasi berbeda sehingga perekonomian masyarakat hidup dan menghidupkan perekonomian daerah itu. Sehingga terbukti negara kita negara agraris yang subur, tidak ada yang tidak tumbuh bila ditanam dengan baik, sedangkan  tongkat kayu saja yang ditancapkan bisa tumbuh jadi  tanaman. Namun kadangkala kesadaran untuk mawas diri terlambat karena terlena dengan hasil panen sawah berupa padi yang dapat dipastikan empat atau enam bulan sekali memetik hasilnya dan hasil ladang yang bisa dikumpulkan setiap waktu, lalu lupa untuk menjaga kelestarian alam, penebangan hutan-hutan lindung yang seharusnya untuk menyimpan persiapan air, perambahan hutan yang mendatangkan erosi, pembakaran hutan yang menimbulkan polusi yang tanpa diduga akhirnya jadi malapetaka berupa banjir dan  longsor yang diawali dari kelalaian dan keserakahan manusia yang hanya mengekplorasi alam tapi tidak menjaga kelestariannya. 

Keterlenaan terhadap hasil panenpun melupakan untuk menunaikan hak-hak yang harus dikeluarkan untuk kepentingan lain, zakat dan infaq jarang sekali terbayarkan oleh petani dengan alasan hasil panen tidak memadai, tahun depan sajalah kita berzakat dan berinfaq, waktu yang digunakanpun habis untuk menggarap lahan sementara kewajiban untuk sujud kepada Allah melalui shalat sering sekali diabaikan dengan alasan, pakaian dan badan dalam keadaan berkubang lumpur dan tanah, sehingga shalat tidak jadi dilaksanakan. Sehingga wajar bila ada sebuah cerita yang berkaitan dengan penggarapan sawah dan ladang ini, ketika pertengahan hari, pak tani istirahat membajak lahannya, sambil istirahat sang kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?' petani menjawab,"Sedang istirahat sejenak melepas lelah", sang kerbau berkata,"Sama, saya juga sedang istirahat". Waktu makan tiba, kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?" petani menjawab,"saya mau makan", kerbau berkata,"Sama, saya juga mau makan". Waktu  berkumandang adzan zhuhur, sang kerbau bertanya lagi, "Suara apa itu tuan?",maka dijawab,"Itu suara adzan zuhur untuk melaksanakan shalat", kerbau bertanya,"Apakah tuan shalat?", dijawab,"Tidak", kerbau yang aneh itu berkata pula,"Sama dong tuan dengan saya".

Masyarakat sebagai penduduk asli biasanya bangga dengan banyak lahan yang dimiliki walaupun lahan itu tidak digarap, dibiarkan kosong begitu saja sehingga tidak produktif. Produktifitas lahan akan dapat dipacu bagi mereka pendatang yang mendapat lahan sempit dari rasa kasihan orang atau mengikuti program pemerintah yaitu mengikuti transmigrasi yang disediakan lahan khusus oleh pemerintah untuk mereka berusaha di tempat baru itu, ketidakpunyaaan itulah yang membuat pendatang untuk bekerja keras, memeras keringat dengan sungguh-sungguh, untuk beberapa tahun sampai bisa mengalahkan penduduk asli yang cendrung malas dan lamban, lihatlah lahan-lahan produktif dilokasi transmigrasi seperti  Sitiuang Sawahlunto Sijunjung atau di  Darmasraya juga terjadi di Pasaman, semuanya dikerjakan oleh masyarakat pendatang dari Jawa yang akan hidup baru dan lebih baik dari daerah asalnya, hasil itu mereka rasakan beberapa tahun kemudian, namun atas keberhasilan itu akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial, rasa tidak senang dari masyarakat asli, terjadilah perselisihan, pengusiran dan perampasan lahan kembali yang berakhir dengan aparat yang berwajib.

Petani penggarap lahan tuan Thakhur saja tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan tepat karena mengejarkan targetnya, apalagi tuan Thakhur yang banyak mempunyai lahan, hanya berfikir bagaimana kekayaannya selalu bertambah, hasil panen selalu baik dan harga membubung tinggi yang akan membeli hasil pertanian dan perkebunannya. Bila hal ini terjadi maka akan berlaku pula musim yang berlansung pada kaum Saba', mereka orang-orang yang tidak bersyukur atas hasil pertanian dan perkebunan yang mereka peroleh, "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir" [Saba' 34;15-17].

Satu ketika Umar bin Khattab terlena dengan perkebunannya sedangkan maghrib sudah berkumandang, sehingga dia bergegas datang shalat ke Masjid, rupanya dia terlambat satu rakaat saja, dengan kejadian itu akhirnya kebunnya tadi dia jual dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan ummat islam. Pernah pula dia asyik menyaksikan tanam-tanaman yang ada di kebun yang lain, tanpa disadarinya waktu ashar sudah masuk, tanpa menunggu yang waktu lama, dia serahkan ladangnya itu kepada fakir-miskin yang sangat membutuhkan. Hal ini terjadi karena Umar menyadari bahwa sawah, ladang dan kebun yang dimilikinya dapat melalaikannya dari mengingat Allah, keterlenaan ini membuat jiwa pengabdiannya terganggu, maka dia mengambil sikap memberikan iqab atau sangsi kepada dirinya, itulah Umar yang tidak mau memanjakan kesalahan yang dilakukan dirinya, sekecil apapun harus diberikan sangsi dalam rangka efek jera terhadap keterlenaan dan godaan yang melenakan.

Lebih baik kesadaran timbul sebelum datangnya azab Allah bagi orang-orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan, sebuah gambaran yang diungkapkan Allah bagi pemilik kebun, yang punya sawah ladang tapi mereka tidak bersyukur tergambar kehancuran itu dalam surat Al Kahfi 18;32-43

''Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
 Dan dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia Berkata kepada Kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat"
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri[882]; ia berkata: "Aku kira kebun Ini tidak akan binasa selama-lamanya,
Dan Aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya Aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu".
Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
Tetapi Aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua Ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,
Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi".
Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia Telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai kiranya dulu Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku".
Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya".

Sukses sebagai petani memang membawa berkah kepada kehidupan bila asfek-asfek islam dilaksanakan, banyak kita saksikan orang yang mampu menunaikan ibadah haji tentu diiringi pula dengan pembayaran zakat dan infaq, bisa mempekerjakan tenaga kerja sekian orang, bisa membeli mobil, membangun rumah dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi karena hasil sawah  dan ladang yang digarap seitqan mungkin [manajemen yang rapi]  dan mujahadah [kesungguhan yang maksimal]. Apalagi mempunyai lahan yang luas, subur dan strategis untuk pertanian dan perkebunan sehingga ketika musimnya tiba sawahnya menguning dengan bulir-bulir padi yang bagus, senang dan bahagialah petani memanen hasil jerih payahnya dengan rasa syukur yang tiada terkira. Dilanjutkan pula panen sayur-sayuran pada ladang yang lain, belum lagi karet dan coklat sudah layak pula untuk diambil hasilnya.

Sampai kapan petani akan berhenti mengolah sawah dan berhenti menggarap ladang miliknya atau hanya sebagai pekerja karena sawah dan ladang itu milik orang lain dengan perjanjian bagi hasil, jangan disuruh mereka berhenti berbuat dan berkarya pada lahan itu karena pada ayunan cangkul, pada tetesan keringat dan kelelahan yang mereka rasakan setiap hari, sejak dari pagi buta hingga malam pekat dihabiskan untuk menanti hasil jerish payahnya, semuanya itu mengandung kebaikan, ada pahala dan berkah yang diberikan Allah, baik di dunia ini yang dapat dirasakan hasilnya atuapun di akherat kelak, Rasul menyatakan dalam hadistnya, seandainya kalian tahu bahwa besok akan terjadi kiamat, sedangkan di tangan kalian ada beberapa butir bibit kurma, maka tanamlah, karena dari usaha itu akan mendapatkan pahala, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/ 2010.M].



           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar