Banyak ujud kekayaan yang ada di dunia ini
menjadi modal dan fasilitas hidup manusia sebagai pribadi, hidup berumah tangga
maupun hidup dalam komunitas sosial, bahkan harta kekayaan itu sebagai simbol
keberadaan seseorang seperti sawah dan ladang, tambak ikan dan perkebunan.
Bahkan di India dalam film-filmnya
dikenal dengan seorang tokoh dengan nama Tuan Takhur yang punya lahan
sawah ladang sangat luas yang digarap
oleh pekerja-pekerja yang mengandalkan upah dari tetesan keringatnya dari sang
tuan, disamping itu Tuan Takhur juga dikenal keras, kasar dan pelit, tidak
jarang penindasan fisik dan mental terjadi terhadap anak buahnya.
Negeri Indonesia
begitu indah, lembah curam yang mendebarkan, bukit dan gunung biru begitu
memukau keelokannya sebagian besar masih perawan belum terjamah investor ,
dataran luas membentang dengan aneka tanaman, bergelayut pada dahan-dahannya
berbagai buah yang menjanjikan kelezatan dan kenikmatann bagi penikmatnya.
Cuaca dan iklim yang serasi, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin
sehingga cocok untuk menyuburkan segala
jenis tanaman, menyehatkan penduduknya karena udaranya masih terhindar dari
polusi dan erosi.
Aktivitas
bercocok tanam di sawah dan di ladang sudah berlansung sejak zaman dahulu,
zaman pra sejarah mengajarkan kepada kita bahwa budaya bertani diawali
dari seorang lelaki yang mencari makanan
pada hutan tempat tinggalnya, mereka
mengambil buah-buahan apa saja pada
semua pohon yang nampak, dipilah dan dipilih buah yang baik melalui rasa enak
dan manis lalu dibawa pulang, di gubuk yang mereka huni atau gua-gua yang aman
tempat berteduh dan berlindung. Buah-buahan yang mereka nikmati itu tanpa
difikirkan bagaimana menumbuhkannya, yang penting hari ini dan kini dimakan,
kulit dan biji-bijinya dibuang saja ke depan gubuk atau agak jauh dari gua,
tanpa disadari biji-biji itu tumbuh, dalam waktu relatif lama pohon itu
membesar dan berbuah dan dapat dinikmati lagi tanpa harus mencari ke hutan yang
agak jauh.
Dari
peristiwa itu akhirnya manusia purba tadi bercocok tanam, berladang, bertani
dan memulai kehidupan baru dari generasi ke generasi dengan memadukan aktivitas
berburu, mereka sudah punya kepandaian membuat perkakas dari batu dan kayu
sebagai alat untuk mengolah tanah, sesuai dengan panjangnya perjalanan waktu kehidupan manusia semakin berubah membaik
hingga memasuki kehidupan modern tapi bertani di sawah dan ladang tidak mungkin
ditinggalkan bahkan pengolahanpun semakin modern pula.
Aktivitas
masyarakat kita yang bertanah luas lebih banyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan
bahan pokok dengan sawah dan ladang sebagai mata pencaharian utama yang
sekaligus untuk kepentingan masyarakatnya. Paling tidak tiap hari makanan
pokok dari hasil jerih payah di sawah dan ladang yang dapat membantu
peningkatan kesejahteraan keluarga, sekolah anak-anak dan kepentingan lainnya,
apalagi kalau panen raya dan rezeki baik dapat untuk mencukupi kebutuhan primer
dan sekunder, sehingga dapat dikatakan jual hasil sawah untuk beli sawah atau
jual kol untuk beli colt.
Beruntung
mereka yang punya lahan sawah dan ladang, baik dari usaha pembelian ataupun
peninggalan warisan orangtua dan keluarga sehingga hanya membutuhkan tenaga dan
biaya produksi saja sedangkan hasilnya dapat diambil seutuhnya tanpa ada biaya
atau beban lain. Sedangkan bagi yang tidak punya lahan maka aktivitasnya hanya
sebagai pekerja saja, menghabiskan segala potensinya dari pagi hingga sore
bahkan malam harinya, ketika panen bagian tuan tanah atau majikan harus
dikeluarkan ditambah lagi serangan hama
sebagai musuh yang harus dihadapi sendiri. Kadangkala hasilnya tidak mencukupi
dibandingkan panen tahun lalu sehingga
harus ditanggulangi dengan pinjam sana
pinjam sini kepada masyarakat yang agak berpunya dengan jaminan tahun depan
dibayar dari hasil penjualan panen dari sawah atau ladang.
Semakin
berkembang kehidupan manusia, orangtua tidak mau lagi kelak anak-anaknya
semenderita mereka yang berendam terus menerus di sawah dan ladang membanting
tulang harus menahan dan menanggung lelah. Sehingga orangtua punya obsesi untuk
menyekolahkan anaknya ke kota
dengan harapan kelak hidup sang anak akan lebih baik dari ayahnya, kalau sudah
tamat sekolah dan ada keberuntungan bisa
jadi pegawai negeri atau bekerja pada tempat-tempat yang lebih menjanjikan
untuk masa depannya. Karena tidak mungkin anak dan cucunya kelak terjun ke
sawah dan ladang yang semakin hari semakin sempit karena tidak ada penambahan lahan sedangkan keturunannya
semakin berkembang, mustahil sawah dan ladang yang hanya sekian luasnya
diperebutkan oleh anak-anak, kemenakan dan cucu-cucunya, jalan keluarnya adalah
urbanisasi secara lansung merantau ataupun dengan jalan sekolah ke kota.
Sebaliknya,
karena lebih mudah mencari uang di kota dari pada membajak sawah dan mencangkul
ladang di kampung lebih baik buka kounter HP atau buka jasa Internet atau jadi
Satpam di sebuah instansi, apapun profesi tidak jadi masalah asal tinggal di
kota dari pada di kampung. Seiring dengan waktu yang tua-tua semakin beranjak
ke usia senja, sawah tidak sepenuhnya dapat dikelola lagi, tenaga tidak
seperkasa waktu masih muda sehingga untuk sementara sawah diserahkan kepada
orang lain untuk dikolola bagi hasil dan bila tidak tentu lahan akan kosong
untuk waktu tertentu, sedangkan biaya hidup sehari-hari mengandalkan dari usaha
anak-anak yang bekerja di kota.
Setelah itu kita akan melihat lahan sawah dan ladang beransur kosong karena
tidak tergarap lagi, akhirnya tumbuhlah semak-semak belukar hingga merimbun.
Di zaman
Umar bin Khattab, tidak boleh ada lahan masyarakat yang kosong, semuanya harus
digarap untuk kepentingan pertanian dan usaha dalam rangka meningkatkan
perekonomian, bila ada lahan yang kosong lebih dari tiga bulan maka pemerintah
bertindak dengan mengambilalih. Karena peran serta dari pemerintah inilah
sehingga tidak ada lahan yang kosong, semuanya produktif untuk mencukupi
kesejahteraan rakyat. Memang pemerintah seharusnya memberikan stimulan kepada
masyarakat untuk memproduktifkan sawah dan ladang hingga perkebunan dengan
memberikan bibit berbagai jenis, selain pupuk yang murah juga penyediaan
bantuan kridit untuk pengolahan dan pemeliharaan tanaman hingga panen.
Ketika
saya melancong ke Malaysia
tahun 2009, dari perjalanan yang dilalui nampak bahwa di negeri jiran itu tidak
ada lahan yang kosong, semuanya digunakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk
tanaman yang kelak menghasilkan ringgit tidak sedikit. Kita tidak menemukan
lelaki yang menghabiskan waktunya berjam-jam di kedai-kedai kopi, semuanya
sibuk dengan urusan ekonomi dan pemakmuran hidup keluarga masing-masing. Kita
bisa berdalih bahwa negara jiran itu mempunyai lahan tidak seluas Indonesia
sehingga mudah bagi mereka untuk menggarapnya, sedangkan kita punya lahan yang
luas, tenaga yang terbatas juga sikap mental ogah-ogahan bergerak di lahan ini.
Kita akan menemukan dan melihat sebuah ladang yang kita miliki dengan
bermacam-macam tanaman yang serba sedikit, sebuah lahan yang hanya satu atau
dua hektar tapi ditumbuhi oleh pohon kelapa sepuluh batang, pohon durian empat batang,
disana juga tumbuh pohon jengkol, coklat agak sedikit, ada pula cengkeh dan
kulit manis, dengan senang hati pula kita menanam pisang agak dua atau tiga
batang, ada sayur-sayuran agak sedikit pula. Sehingga wajar dikala panen pisang
hanya diperoleh beberapa sisir saja, tentu untuk keperluan makan sendiri, hasil
panen hanya untuk menggulai saja, kulit manis juga tidak dapat dirupiahkan yang
menjanjikan, kalau begini kapan kita akan bisa menghasilkan panen yang satu
macam saja tapi dapat menyelesaikan segala keperluan hidup. Misalnya sebuah
lahan ditanami durian semuanya, atau kelapa semuanya atau coklat semuanya
dengan menyingkirkan tanaman lain, sehingga dikala panen dengan buah durian
ribuan jumlahnya, atau panen kelapa sekian mobil hanya harus di bawa ke kota, atau hasil coklat
ratusan kilo hasilnya.
Dalam
sebuah perjalanan Rasulullah pernah melihat seorang petani melakukan
pencangkokan tanaman satu dengan lainnya dengan maksud supaya buahnya lebih
baik dari yang lalu dan itu berhasil, hal itu diinformasikan oleh Rasulullah
kepada sahabatnya di Madinah, maka dicoba pulalah untuk melakukan pencangkokan
itu tapi hasilnya tidak sebaik orang lain, mungkin ada kesalahan teknik
sehingga Rasul menyatakan,"Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian",
artinya walaupun hanya berkaitan dengan sawah dan ladang, tanaman dan pertanian
maka semuanya akan menghasilkan yang unggul bila dikerjakan oleh para ahlinya,
ingat kata Nabi, bila suatu pekerjaan tidak dikerjakan oleh ahlinya maka tunggulah kehancurannya.
Sawah dan
ladang yang produktif, dengan hasil yang baik dapat menanggulangi kehidupan
rumah tangga hingga mampu mencetak anak-anak jadi sarjana dan dapat pula untuk
membeli ladang-ladang lain di lokasi berbeda sehingga perekonomian masyarakat
hidup dan menghidupkan perekonomian daerah itu. Sehingga terbukti negara kita
negara agraris yang subur, tidak ada yang tidak tumbuh bila ditanam dengan
baik, sedangkan tongkat kayu saja yang
ditancapkan bisa tumbuh jadi tanaman. Namun
kadangkala kesadaran untuk mawas diri terlambat karena terlena dengan hasil
panen sawah berupa padi yang dapat dipastikan empat atau enam bulan sekali
memetik hasilnya dan hasil ladang yang bisa dikumpulkan setiap waktu, lalu lupa
untuk menjaga kelestarian alam, penebangan hutan-hutan lindung yang seharusnya
untuk menyimpan persiapan air, perambahan hutan yang mendatangkan erosi,
pembakaran hutan yang menimbulkan polusi yang tanpa diduga akhirnya jadi
malapetaka berupa banjir dan longsor
yang diawali dari kelalaian dan keserakahan manusia yang hanya mengekplorasi
alam tapi tidak menjaga kelestariannya.
Keterlenaan
terhadap hasil panenpun melupakan untuk menunaikan hak-hak yang harus
dikeluarkan untuk kepentingan lain, zakat dan infaq jarang sekali terbayarkan
oleh petani dengan alasan hasil panen tidak memadai, tahun depan sajalah kita
berzakat dan berinfaq, waktu yang digunakanpun habis untuk menggarap lahan
sementara kewajiban untuk sujud kepada Allah melalui shalat sering sekali
diabaikan dengan alasan, pakaian dan badan dalam keadaan berkubang lumpur dan
tanah, sehingga shalat tidak jadi dilaksanakan. Sehingga wajar bila ada sebuah
cerita yang berkaitan dengan penggarapan sawah dan ladang ini, ketika
pertengahan hari, pak tani istirahat membajak lahannya, sambil istirahat sang
kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?' petani menjawab,"Sedang istirahat
sejenak melepas lelah", sang kerbau berkata,"Sama, saya juga sedang
istirahat". Waktu makan tiba, kerbau bertanya,"Sedang apa tuan?"
petani menjawab,"saya mau makan", kerbau berkata,"Sama, saya juga
mau makan". Waktu berkumandang
adzan zhuhur, sang kerbau bertanya lagi, "Suara apa itu tuan?",maka
dijawab,"Itu suara adzan zuhur untuk melaksanakan shalat", kerbau
bertanya,"Apakah tuan shalat?", dijawab,"Tidak", kerbau
yang aneh itu berkata pula,"Sama dong tuan dengan saya".
Masyarakat
sebagai penduduk asli biasanya bangga dengan banyak lahan yang dimiliki
walaupun lahan itu tidak digarap, dibiarkan kosong begitu saja sehingga tidak
produktif. Produktifitas lahan akan dapat dipacu bagi mereka pendatang yang
mendapat lahan sempit dari rasa kasihan orang atau mengikuti program pemerintah
yaitu mengikuti transmigrasi yang disediakan lahan khusus oleh pemerintah untuk
mereka berusaha di tempat baru itu, ketidakpunyaaan itulah yang membuat
pendatang untuk bekerja keras, memeras keringat dengan sungguh-sungguh, untuk
beberapa tahun sampai bisa mengalahkan penduduk asli yang cendrung malas dan
lamban, lihatlah lahan-lahan produktif dilokasi transmigrasi seperti Sitiuang Sawahlunto Sijunjung atau di Darmasraya juga terjadi di Pasaman, semuanya
dikerjakan oleh masyarakat pendatang dari Jawa yang akan hidup baru dan lebih
baik dari daerah asalnya, hasil itu mereka rasakan beberapa tahun kemudian,
namun atas keberhasilan itu akhirnya menimbulkan kecemburuan sosial, rasa tidak
senang dari masyarakat asli, terjadilah perselisihan, pengusiran dan perampasan
lahan kembali yang berakhir dengan aparat yang berwajib.
Petani
penggarap lahan tuan Thakhur saja tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik
dan tepat karena mengejarkan targetnya, apalagi tuan Thakhur yang banyak
mempunyai lahan, hanya berfikir bagaimana kekayaannya selalu bertambah, hasil
panen selalu baik dan harga membubung tinggi yang akan membeli hasil pertanian
dan perkebunannya. Bila hal ini terjadi maka akan berlaku pula musim yang
berlansung pada kaum Saba', mereka orang-orang yang tidak bersyukur atas hasil
pertanian dan perkebunan yang mereka peroleh, "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman
mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada
mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan)
Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik
dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling,
Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun
mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon
Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah kami memberi balasan kepada
mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian
itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir" [Saba' 34;15-17].
Satu
ketika Umar bin Khattab terlena dengan perkebunannya sedangkan maghrib sudah
berkumandang, sehingga dia bergegas datang shalat ke Masjid, rupanya dia
terlambat satu rakaat saja, dengan kejadian itu akhirnya kebunnya tadi dia jual
dan hasilnya diserahkan untuk kepentingan ummat islam. Pernah pula dia asyik
menyaksikan tanam-tanaman yang ada di kebun yang lain, tanpa disadarinya waktu
ashar sudah masuk, tanpa menunggu yang waktu lama, dia serahkan ladangnya itu
kepada fakir-miskin yang sangat membutuhkan. Hal ini terjadi karena Umar
menyadari bahwa sawah, ladang dan kebun yang dimilikinya dapat melalaikannya dari
mengingat Allah, keterlenaan ini membuat jiwa pengabdiannya terganggu, maka dia
mengambil sikap memberikan iqab atau sangsi kepada dirinya, itulah Umar yang
tidak mau memanjakan kesalahan yang dilakukan dirinya, sekecil apapun harus
diberikan sangsi dalam rangka efek jera terhadap keterlenaan dan godaan yang
melenakan.
Lebih baik
kesadaran timbul sebelum datangnya azab Allah bagi orang-orang yang tidak
bersyukur atas nikmat yang diberikan, sebuah gambaran yang diungkapkan Allah
bagi pemilik kebun, yang punya sawah ladang tapi mereka tidak bersyukur
tergambar kehancuran itu dalam surat Al Kahfi 18;32-43
''Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan
dua orang laki-laki, kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir)
dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon
korma dan di antara kedua kebun itu kami buatkan ladang.
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya,
dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan kami alirkan sungai di
celah-celah kedua kebun itu,
Dan
dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia Berkata kepada Kawannya (yang mukmin)
ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu
dan pengikut-pengikutku lebih kuat"
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim
terhadap dirinya sendiri[882]; ia berkata: "Aku kira kebun Ini tidak akan
binasa selama-lamanya,
Dan Aku tidak mengira hari kiamat itu akan
datang, dan jika sekiranya Aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan
mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu".
Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya -
sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan)
yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia
menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
Tetapi Aku (percaya bahwa): dialah Allah,
Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu
memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas
kehendak Allah semua Ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah). sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan
keturunan,
Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi
kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan dia
mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu)
menjadi tanah yang licin; Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka
sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi".
Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia
membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia Telah
belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan
dia berkata: "Aduhai kiranya dulu Aku tidak mempersekutukan seorangpun
dengan Tuhanku".
Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan
menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya".
Sukses
sebagai petani memang membawa berkah kepada kehidupan bila asfek-asfek islam
dilaksanakan, banyak kita saksikan orang yang mampu menunaikan ibadah haji
tentu diiringi pula dengan pembayaran zakat dan infaq, bisa mempekerjakan
tenaga kerja sekian orang, bisa membeli mobil, membangun rumah dan
menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi karena hasil sawah dan ladang yang digarap seitqan mungkin
[manajemen yang rapi] dan mujahadah
[kesungguhan yang maksimal]. Apalagi mempunyai lahan yang luas, subur dan
strategis untuk pertanian dan perkebunan sehingga ketika musimnya tiba sawahnya
menguning dengan bulir-bulir padi yang bagus, senang dan bahagialah petani
memanen hasil jerih payahnya dengan rasa syukur yang tiada terkira. Dilanjutkan
pula panen sayur-sayuran pada ladang yang lain, belum lagi karet dan coklat
sudah layak pula untuk diambil hasilnya.
Sampai
kapan petani akan berhenti mengolah sawah dan berhenti menggarap ladang
miliknya atau hanya sebagai pekerja karena sawah dan ladang itu milik orang
lain dengan perjanjian bagi hasil, jangan disuruh mereka berhenti berbuat dan
berkarya pada lahan itu karena pada ayunan cangkul, pada tetesan keringat dan
kelelahan yang mereka rasakan setiap hari, sejak dari pagi buta hingga malam
pekat dihabiskan untuk menanti hasil jerish payahnya, semuanya itu mengandung
kebaikan, ada pahala dan berkah yang diberikan Allah, baik di dunia ini yang
dapat dirasakan hasilnya atuapun di akherat kelak, Rasul menyatakan dalam
hadistnya, seandainya kalian tahu bahwa besok akan terjadi kiamat, sedangkan di
tangan kalian ada beberapa butir bibit kurma, maka tanamlah, karena dari usaha
itu akan mendapatkan pahala, wallahu a'lam [Cubadak Solok, Ramadhan 1431.H/
2010.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar