Jumat, 26 Februari 2016

280. Baligh



Manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci bersih, tidak bernoda dan tanpa dosa, disebut juga dengan fithrah, sebagaimana yang disampaikan oleh Hadits Rasulullah.Dalam sebuah hadits Nabi bersabda, ”Tidak dilahirkan seseorang anak melainkan dalam keadaan suci dari dosa, tergantung orangtuanyalah apakah anak jadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” [HR. Muslim].

Islam merupakan agama fithrah yaitu agama yang sesuai dengan kesucian dan karakter manusia sehingga dengan mengimani islam berarti telah menjadikan kesucian dirinya terjaga dengan baik.”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetapkanlah atas fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu” [Ar Rum;30]

               Secarafitri,   manusiasepertijugamakhluk-makhluk  Allahlainnya,  adalahdalamkeadaan Islam, tundukpatuhpadaaturanKhalikRabbulalamin. Jiwa yang bersihdansucimanusiaberhakakandinullah. Jiwa yang bersihdansucicondongpadakebenaran,hanif.  Karenanyapetunjuktentangkebenaran, jalan  yanglurus,merupakanhakfitrimanusia. Dalamjalaninisajamanusiaakansampaipadatujuannya (ridla Allah). Karenatidaklahdiciptakanmanusiakecualiuntukmenjadihamba Allah di bumi, untukmenjadikhalifah, membesarkandanmenegakkankalimat Allah di bumi, untukberibadah. Hanyadalamjalaninisaja, manusiaakandapatmemainkanperansebagaimana yang telahdigariskanolehKhaliknya,  Rabbmanusia.  Hanyadalamjalaninisajamanusiaakanselamatdanmendapatkemenangan. Karenanyamanusiamempunyaihakakanjalanini, din ini, danhakinidatangdariPenciptanya.

Tanpa   din manusiaakankacau, takterarah, akanjatuhpadatingkatsekualitashewan. Tanpa din manusiaakansalingmenghambakandiri, salingmenguasai. Karenanya din adalahhakfitri yangmestiditegakkandalamdirimanusia, baiksebagaimakhlukpribadimaupunsosial. Dan pembangunantidak lain dariupayamenyiapkanapa-apa  yang  mestidisiapkan, untukmenegakkandinullahdalamkalbumanusia,  untukmemberikanhakfitrimanusiaakan  din.Lengkapnya.pembangunanadalah proses  menegakkan,  menyuburkan,memelihara,  danmempertahankandinullah, fitrahutamamanusia,dalamgelorakalbuinsani.

Secarafitri,   manusiaberhakakanjiwa.  Karenanyasangatbesardosaseorangmuslim yang  menumpahkandarahsaudaranya.Tanpajiwamanusiatidaklagiberwujudmanusia.  Untukmemenuhihaksekaliguskewajibanmenjadikhalifah di bumi,  untukdapatmengabdikepadaRabb, untukdapatmenegakkanrisalah Islam  dalamdada  manusia, sertamelaksanakantindakan lain  sebagaimakhlukAllah,  makasecarafitrijiwaatauruhadalahprasyaratdanhakbagimanusia. Jiwademikianberhargabagimanusiadanmenempatiberhargaketimbanghidupdalamkekafirantanpa din. Dengandemikian,  makapembangunanmestilahmemelihara,  melindungi,  danmempertahankanjiwamanusia, agar jiwainitetappekatdengan
dinullah.[KTPDI, abuZahra,MateriTarbiyyah, HakFitriManusia,]. 

            Kehadiran manusia di dunia ini sebagai makhluk yang dituntut untuk menjaga fithrahnya dengan keimanan dan ibadah kepada agama fithrah agar selamat hidupnya hingga di akherat, tapi dunia dan hiruk pikuknya berupaya pula untuk memasung manusia dengan berbagai pernak perniknya, terlalu banyak yang terjerumus kepada jurang kebinasaan dan hanya sedikit yang selamat dalam kesuciannya.

            Kesucian manusia juga didukung oleh ayat Allah dalam surat Al A’raf 7;172 ’’dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

            Artinya sejak awal manusia, ketika masih berada dalam kandungan atau alam ruh sudah berjanji kepada Allah untuk siap mengabdi kepada Khaliq dengan segala konsekwensinya. Namun demikian kewajiban untuk merealisasikan pengabdian tadi tidaklah lansung ketika lahir tapi memasuki tahap dewasa yang disebut dengan baligh. Seseorang diwajibkan untuk menjalankan ibadah khususnya shalat harus memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang diungkapkan oleh H.Sulaiman Rasyid dalam bukunya yang berjudul Fiqh Islam yaitu;
1.      Islam
Orang yang bukan Islam tidak diwajibkan shalat, berarti ia tidak dituntut untuk mengerjakannya di dunia hingga ia masuk Islam, karena meskipun dikerjakannya, tetap tidak sah. Tetap ia akan mendapatkan siksaan di akherat karena ia tidak shalat, sedangkan ia dapat mengerjakan shalat dengan jalan masuk Islam terlebih dahulu. Begitulah seterusnya hukum-hukum furu’ terhadap orang yang tidak Islam, firman Allah SWT;
” berada di dalam syurga, mereka tanya menanya,tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,[Al Mudatsir 74;40-44].

Apabila orang kafir masuk Islam, maka ia tidak diwajibkan mengqada shalat sewaktu ia belum Islam, begitu juga puasa dan ibadah lainnya, tetapi amal kebajikannya sebelum Islam tetap akan mendapat ganjaran yang baik, Sabda Rasulullah Saw, ”Islam itu menghapuskan segala kejahatan yang telah ada sebelum Islam [maksudnya yang dilakukan seseorang sebelum Islam’’[HR.Muslim].

Beliau bersabda kepada Hakim bin Huzam,”Engkau Islam atas amal kebajikanmu yang telah lalu” [HR. Muslim].

2.      Suci dari haid [Kotoran] dan nifas
Sabda Rasulullah Saw,”Beliau berkata kepada Fatimah binti Abu Hubaisy,”Apabila datang haid, tinggalkanlah shalat” [HR. Bukhari].Nifas ialah kotoran yang berkumpul tertahan sewaktu perempuan hamil.

3.      Berakal
Orang yang tidak berakal tidak diwajibkan shalat.

4.      Baligh [Dewasa]
Umur dewasa itu dapat diketahui melalui salah satu tanda berikut;
a.       Cukup umur lima belas tahun.
b.      Keluar mani.
c.       Mimpi bersetubuh.
d.      Mulai keluar haid bagi perempuan, sabda Rasululllah,”Yang terlepas dari hukum ada tiga macam; kanak-kanak hingga ia dewasa, orang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga ia sembuh” [HR.Abu Daud dan Ibnu Majah].

Orangtua atau wali wajib menyuruh anaknya shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun. Apabila ia sudah berumur sepuluh tahun tetapi tidak shalat, hendaklah dipukul, Sabda Rasulullah Saw,”Suruhlah olehmu anak-anak itu untuk shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun. Apabila ia sudah berumur sepuluh tahun, hendaklah ia kamu pukul jika ia meninggalkan shalat” [HR. Tirmizi].

5.      Telah sampai dakwah [Perintah Rasulullah kepadanya].
Orang yang belum menerima perintah tidak dituntut dengan hukum. Firman Allah SWT, ”Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu” [An Nisa’ 4;165].

6.      Melihat atau mendengar
Melihat atau mendengar menjadi syarat  wajib mengerjakan shalat, walaupun pada suatu waktu untuk kesempatan untuk mempelajari hukum-hukum syara’. Orang yang buta dan tuli sejak dilahirkan tidak dituntut dengan hukum karena tidak ada jalan baginya untuk belajar hukum-hukum syara’.

7.      Jaga.
Maka orang yang tidur tidak wajib shalat; begitu jugaorang yang lupa, sabda Rasulullah Saw,”Yang terlepas dari hukum ada tiga macam; kanak-kanak hingga ia dewasa, orang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga ia sembuh” [HR.Abu Daud dan Ibnu Majah].

Apabila seseorang meninggalkan shalat karena tidur atau lupa, maka ia wajib shalat apabila ia bangun atau ingat, dan ia tidak berdosa, sabda Rasulullah Saw, ”Apabila seseorang tertidur dalam waktu shalat atau lupa dari shalat, hendaklah ia shalat apabila ingat. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman,”Kerjakanlah shalat karena ingat kepada-Ku” [HR. Muslim].

Begitu islam mengajarkan kepada kita tentang kewajiban bagi manusia tentang pengabdian kepada Allah, apakah kewajiban itu yang berkaitan dengan ibadah ataupun berkaitan dengan hukum-hukum yang lain, baligh atau dewasa merupakan salah satu syarat seseorang memikul kewajiban, tapi bila belum baligh segala kebaikan yang dilakukannya akan mendapat pahala dari Allah yang dikumpulkan dengan amal kebaikan orangtuanya, selain itu ibadah yang dilakukan apakah shalat dan puasa serta kebaikan lainnya dalam rangka memberikan didikan dan pembelajaran kepada sianak, sebagaimana Lukmanul Hakim mengajari anak-anaknya dalam seluruh asfek ibadah yang tergambar dalam firman Allah.

Beberapa akhlak mulia yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya, yang digambarkan Allah dalam surat Lukman 31;13-19, diantaranya adalah;

13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Beberapa akhlak mulia yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya, yang digambarkan Allah dalam surat Lukman 31;13-19, diantaranya adalah;

a.Berbuat baik kepada kedua orangtua
Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].

b.Bersyukur kepada Allah
Memangtidaksamarezeki yang diterimaolehsemuamanusia, halitusudahmenjadirahasia Allah sejakzamanazali, manusiahanyapunyakewajibanuntukberusahamengaisrezeki, bilamendapatkan yang banyakmakawajibbersyukurdanbilamendapatkankekuranganmakabersabar, Dari Abu HurairahRadliyallaahu 'anhubahwaRasulullahShallallaahu 'alaihiwaSallambersabda: "Lihatlah orang yang berada di bawahmudanjanganmelihat orang yang berada di atasmukarenahalitulebihpatut agar engkausekaliantiakmenganggaprendahnikmat Allah yang telahdiberikankepadamu." MuttafaqAlaihi.

c.Mengikuti jalan orang yang benar
Banyak di antaramanusia yang terjerumuskedalamlubangkemaksiatandankesesatandikarenakanbergauldengantemanteman yang jahatdanbanyak pula di antaramanusia yang merekamendapatkanhidayahdisebabkanbergauldenganteman-teman yang shalih.DidalamsebuahhaditsRasullullahShallallaahualaihiwa Salam menyebutkantentangperanandandampakseorangteman:
“Perumpamaantemanduduk yang baikdengantemanduduk yang jahatadalahsepertipenjualminyakwangidenganpandaibesi.Adapunpenjualminyakwangitidakmelewatkankamu, baikengkauakanmembelinyaatauengkautidakmembelinya, engkaupastiakanmendapatkanbaunya yang enak, sementarapandaibesiiaakanmembakarbujumuatauengkauakanmendapatkanbaunya yang tidakenak.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Berdasarkanhaditstersebutdapatdiambilfaedahpentingbahwasanyabergauldenganteman yang shalihmempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanyabaik, yaitu:Kita akanmenjadibaikataukitaakanmemperolehkebaikan yang dilakukantemankita. Sedangbergauldenganteman yang jahatjugamempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanyajelek, yaitu:Kitaakanmenjadijelekataukitaakanikutmemperolehkejelekan yang dilakukantemankita.

d.MendirikanShalat
Ukuran  baiknya semua amal manusia diawali dari baiknya ibadah shalat yang yang dilakukan, Rasulullah bersabda,"Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadapseoranghambapadaharikiamatdariamalperbuatannyaadalahtentangshalatnya. Apabilashalatnyabaikmakadiaberuntungdansuksesdanapabilashalatnyaburukmakadiakecewadanmerugi'' (HR. An-Nasaa'idanTirmidzi)

Shalat yang dikerjakan merupakan ujud dari dua kebersihan yaitu kebersihan fisik dan kebersihan mental seseorang "Perumpamaan shalat lima waktu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali" (HR. Bukhari dan Muslim)

e.Beramar ma'ruf dan nahi mungkar
Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl 16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah dengan mereka dengan cara yang baik pula”.

Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat.

Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]

f.Jangan sombong
Rasulullah menyatakan dalam hadits qudsi,”Allah Ta’ala berfirman,”Kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Ku lemparkan ia ke dalam jahanam dan tidak akan Ku perlihatkan lagi”{HR.Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah].

Takabur atau angkuh dan sombong itu terbagi menjadi dua, yaitu yang dalam batin dan yang tampak lahir, yang batin ialah yang merupakan kelakuan-kelakuan yang keluar dari anggota badan. Kelakuan – kelakuan ini amat banyak sekali bentuknya dan oleh karena itu sukar untuk dihitung dan diperinci satu persatu. Bahaya sifat ini besar sekali sedang kerusakan yang diakibatkannyapun sangat luar biasa hebatnya. Bagaimanakah tidak akan besar bahayanya, sedangkan Rasululah Saw sendiri pernah bersabda,”Tidak dapat masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat seberat debu dari sifat ketakaburan”[HR.Muslim]

            Begitu islam mengajarkan kepada ummatnya agar anak-anak yang masih kanak-kanak atau yang belum baligh walaupun tidak dan belum wajib menjalankan kewajiban-kewajiban sebagaimana seorang muslim tapi mereka diajarkan melalui pendidikan kebiasaan-kebiasaan yang baik agar kelak setelah dewasa atau saat kewajiban itu telah berada di pundaknya mereka terbiasa melakukannya, tidak perlu lagi dipaksa apalagi dipukul, hanya tinggal mengingatkan saja,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar