Manusia dilahirkan
ke dunia ini dalam keadaan suci bersih, tidak bernoda dan tanpa dosa, disebut
juga dengan fithrah, sebagaimana yang disampaikan oleh Hadits Rasulullah.Dalam
sebuah hadits Nabi bersabda, ”Tidak dilahirkan
seseorang anak melainkan dalam keadaan suci dari dosa, tergantung
orangtuanyalah apakah anak jadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” [HR. Muslim].
Islam merupakan agama fithrah
yaitu agama yang sesuai dengan kesucian dan karakter manusia sehingga dengan
mengimani islam berarti telah menjadikan kesucian dirinya terjaga dengan baik.”Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetapkanlah atas fithrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu” [Ar Rum;30]
Secarafitri, manusiasepertijugamakhluk-makhluk Allahlainnya,
adalahdalamkeadaan Islam, tundukpatuhpadaaturanKhalikRabbulalamin. Jiwa
yang bersihdansucimanusiaberhakakandinullah. Jiwa yang
bersihdansucicondongpadakebenaran,hanif.
Karenanyapetunjuktentangkebenaran, jalan
yanglurus,merupakanhakfitrimanusia.
Dalamjalaninisajamanusiaakansampaipadatujuannya (ridla Allah).
Karenatidaklahdiciptakanmanusiakecualiuntukmenjadihamba Allah di bumi, untukmenjadikhalifah,
membesarkandanmenegakkankalimat Allah di bumi, untukberibadah.
Hanyadalamjalaninisaja, manusiaakandapatmemainkanperansebagaimana yang
telahdigariskanolehKhaliknya,
Rabbmanusia.
Hanyadalamjalaninisajamanusiaakanselamatdanmendapatkemenangan.
Karenanyamanusiamempunyaihakakanjalanini, din ini,
danhakinidatangdariPenciptanya.
Tanpa din
manusiaakankacau, takterarah, akanjatuhpadatingkatsekualitashewan. Tanpa din
manusiaakansalingmenghambakandiri, salingmenguasai. Karenanya din adalahhakfitri
yangmestiditegakkandalamdirimanusia, baiksebagaimakhlukpribadimaupunsosial. Dan
pembangunantidak lain dariupayamenyiapkanapa-apa yang
mestidisiapkan, untukmenegakkandinullahdalamkalbumanusia, untukmemberikanhakfitrimanusiaakan din.Lengkapnya.pembangunanadalah proses menegakkan,
menyuburkan,memelihara,
danmempertahankandinullah, fitrahutamamanusia,dalamgelorakalbuinsani.
Secarafitri,
manusiaberhakakanjiwa.
Karenanyasangatbesardosaseorangmuslim yang menumpahkandarahsaudaranya.Tanpajiwamanusiatidaklagiberwujudmanusia.
Untukmemenuhihaksekaliguskewajibanmenjadikhalifah di bumi, untukdapatmengabdikepadaRabb,
untukdapatmenegakkanrisalah Islam
dalamdada manusia,
sertamelaksanakantindakan lain
sebagaimakhlukAllah,
makasecarafitrijiwaatauruhadalahprasyaratdanhakbagimanusia.
Jiwademikianberhargabagimanusiadanmenempatiberhargaketimbanghidupdalamkekafirantanpa
din. Dengandemikian,
makapembangunanmestilahmemelihara,
melindungi,
danmempertahankanjiwamanusia, agar jiwainitetappekatdengan
dinullah.[KTPDI, abuZahra,MateriTarbiyyah, HakFitriManusia,].
Kehadiran manusia di dunia
ini sebagai makhluk yang dituntut untuk menjaga fithrahnya dengan keimanan dan
ibadah kepada agama fithrah agar selamat hidupnya hingga di akherat, tapi dunia
dan hiruk pikuknya berupaya pula untuk memasung manusia dengan berbagai pernak
perniknya, terlalu banyak yang terjerumus kepada jurang kebinasaan dan hanya
sedikit yang selamat dalam kesuciannya.
Kesucian manusia juga
didukung oleh ayat Allah dalam surat Al A’raf 7;172 ’’dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul
(Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Artinya sejak awal manusia, ketika masih berada dalam kandungan atau alam
ruh sudah berjanji kepada Allah untuk siap mengabdi kepada Khaliq dengan segala
konsekwensinya. Namun demikian kewajiban untuk merealisasikan pengabdian tadi
tidaklah lansung ketika lahir tapi memasuki tahap dewasa yang disebut dengan
baligh. Seseorang diwajibkan untuk menjalankan ibadah khususnya shalat harus
memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang diungkapkan oleh H.Sulaiman
Rasyid dalam bukunya yang berjudul Fiqh Islam yaitu;
1.
Islam
Orang yang bukan
Islam tidak diwajibkan shalat, berarti ia tidak dituntut untuk mengerjakannya
di dunia hingga ia masuk Islam, karena meskipun dikerjakannya, tetap tidak sah.
Tetap ia akan mendapatkan siksaan di akherat karena ia tidak shalat, sedangkan ia
dapat mengerjakan shalat dengan jalan masuk Islam terlebih dahulu. Begitulah
seterusnya hukum-hukum furu’ terhadap orang yang tidak Islam, firman Allah SWT;
” berada di
dalam syurga, mereka tanya menanya,tentang (keadaan) orang-orang yang
berdosa,"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"mereka
menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan
shalat,dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,[Al Mudatsir 74;40-44].
Apabila orang kafir masuk Islam, maka ia tidak diwajibkan
mengqada shalat sewaktu ia belum Islam, begitu juga puasa dan ibadah lainnya,
tetapi amal kebajikannya sebelum Islam tetap akan mendapat ganjaran yang baik,
Sabda Rasulullah Saw, ”Islam itu
menghapuskan segala kejahatan yang telah ada sebelum Islam [maksudnya yang
dilakukan seseorang sebelum Islam’’[HR.Muslim].
Beliau bersabda kepada Hakim bin Huzam,”Engkau Islam atas amal kebajikanmu yang
telah lalu” [HR. Muslim].
2.
Suci dari haid
[Kotoran] dan nifas
Sabda Rasulullah Saw,”Beliau berkata
kepada Fatimah binti Abu Hubaisy,”Apabila datang haid, tinggalkanlah shalat”
[HR. Bukhari].Nifas ialah kotoran yang berkumpul tertahan sewaktu perempuan
hamil.
3.
Berakal
Orang yang tidak berakal tidak diwajibkan shalat.
4.
Baligh [Dewasa]
Umur dewasa itu dapat diketahui melalui salah satu tanda
berikut;
a. Cukup umur lima belas tahun.
b. Keluar mani.
c. Mimpi bersetubuh.
d. Mulai keluar haid bagi perempuan, sabda Rasululllah,”Yang terlepas dari hukum ada tiga macam;
kanak-kanak hingga ia dewasa, orang tidur hingga ia bangun, orang gila hingga
ia sembuh” [HR.Abu Daud dan Ibnu Majah].
Orangtua atau wali wajib menyuruh anaknya shalat apabila ia sudah berumur
tujuh tahun. Apabila ia sudah berumur sepuluh tahun tetapi tidak shalat,
hendaklah dipukul, Sabda Rasulullah Saw,”Suruhlah
olehmu anak-anak itu untuk shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun. Apabila
ia sudah berumur sepuluh tahun, hendaklah ia kamu pukul jika ia meninggalkan
shalat” [HR. Tirmizi].
5.
Telah sampai dakwah
[Perintah Rasulullah kepadanya].
Orang yang belum
menerima perintah tidak dituntut dengan hukum. Firman Allah SWT, ”Agar tidak
ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu” [An
Nisa’ 4;165].
6.
Melihat atau
mendengar
Melihat atau mendengar menjadi syarat wajib mengerjakan shalat, walaupun pada suatu
waktu untuk kesempatan untuk mempelajari hukum-hukum syara’. Orang yang buta
dan tuli sejak dilahirkan tidak dituntut dengan hukum karena tidak ada jalan
baginya untuk belajar hukum-hukum syara’.
7.
Jaga.
Maka orang yang tidur tidak wajib shalat; begitu jugaorang yang lupa, sabda
Rasulullah Saw,”Yang terlepas dari hukum
ada tiga macam; kanak-kanak hingga ia dewasa, orang tidur hingga ia bangun,
orang gila hingga ia sembuh” [HR.Abu Daud dan Ibnu Majah].
Apabila seseorang meninggalkan shalat karena tidur atau lupa, maka ia wajib
shalat apabila ia bangun atau ingat, dan ia tidak berdosa, sabda Rasulullah
Saw, ”Apabila seseorang tertidur dalam waktu shalat atau lupa dari shalat,
hendaklah ia shalat apabila ingat. Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman,”Kerjakanlah
shalat karena ingat kepada-Ku” [HR. Muslim].
Begitu islam mengajarkan kepada kita tentang kewajiban
bagi manusia tentang pengabdian kepada Allah, apakah kewajiban itu yang
berkaitan dengan ibadah ataupun berkaitan dengan hukum-hukum yang lain, baligh
atau dewasa merupakan salah satu syarat seseorang memikul kewajiban, tapi bila
belum baligh segala kebaikan yang dilakukannya akan mendapat pahala dari Allah
yang dikumpulkan dengan amal kebaikan orangtuanya, selain itu ibadah yang dilakukan
apakah shalat dan puasa serta kebaikan lainnya dalam rangka memberikan didikan
dan pembelajaran kepada sianak, sebagaimana Lukmanul Hakim mengajari
anak-anaknya dalam seluruh asfek ibadah yang tergambar dalam firman Allah.
Beberapa akhlak mulia yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya, yang
digambarkan Allah dalam surat Lukman 31;13-19, diantaranya adalah;
13. dan (ingatlah) ketika
Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada
manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai
anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada
dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah
shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam
berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara
keledai.
Beberapa akhlak mulia yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya, yang
digambarkan Allah dalam surat Lukman 31;13-19, diantaranya adalah;
a.Berbuat
baik kepada kedua orangtua
Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’
dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian
Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman
sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan
seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang
sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].
b.Bersyukur
kepada Allah
Memangtidaksamarezeki
yang diterimaolehsemuamanusia, halitusudahmenjadirahasia Allah sejakzamanazali,
manusiahanyapunyakewajibanuntukberusahamengaisrezeki, bilamendapatkan yang
banyakmakawajibbersyukurdanbilamendapatkankekuranganmakabersabar, Dari Abu
HurairahRadliyallaahu 'anhubahwaRasulullahShallallaahu
'alaihiwaSallambersabda: "Lihatlah orang yang berada di
bawahmudanjanganmelihat orang yang berada di atasmukarenahalitulebihpatut agar
engkausekaliantiakmenganggaprendahnikmat Allah yang telahdiberikankepadamu."
MuttafaqAlaihi.
c.Mengikuti
jalan orang yang benar
Banyak di antaramanusia yang
terjerumuskedalamlubangkemaksiatandankesesatandikarenakanbergauldengantemanteman
yang jahatdanbanyak pula di antaramanusia yang
merekamendapatkanhidayahdisebabkanbergauldenganteman-teman yang
shalih.DidalamsebuahhaditsRasullullahShallallaahualaihiwa Salam
menyebutkantentangperanandandampakseorangteman:
“Perumpamaantemanduduk yang baikdengantemanduduk yang
jahatadalahsepertipenjualminyakwangidenganpandaibesi.Adapunpenjualminyakwangitidakmelewatkankamu,
baikengkauakanmembelinyaatauengkautidakmembelinya, engkaupastiakanmendapatkanbaunya
yang enak,
sementarapandaibesiiaakanmembakarbujumuatauengkauakanmendapatkanbaunya yang
tidakenak.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Berdasarkanhaditstersebutdapatdiambilfaedahpentingbahwasanyabergauldenganteman
yang shalihmempunyai 2 kemungkinan yang kedua-duanyabaik, yaitu:Kita
akanmenjadibaikataukitaakanmemperolehkebaikan yang dilakukantemankita.
Sedangbergauldenganteman yang jahatjugamempunyai 2 kemungkinan yang
kedua-duanyajelek,
yaitu:Kitaakanmenjadijelekataukitaakanikutmemperolehkejelekan yang dilakukantemankita.
d.MendirikanShalat
Ukuran
baiknya semua amal manusia diawali dari baiknya ibadah shalat yang yang
dilakukan, Rasulullah bersabda,"Yang pertama-tama
dipertanyakan (diperhitungkan)
terhadapseoranghambapadaharikiamatdariamalperbuatannyaadalahtentangshalatnya.
Apabilashalatnyabaikmakadiaberuntungdansuksesdanapabilashalatnyaburukmakadiakecewadanmerugi''
(HR. An-Nasaa'idanTirmidzi)
Shalat yang
dikerjakan merupakan ujud dari dua kebersihan yaitu kebersihan fisik dan
kebersihan mental seseorang "Perumpamaan shalat lima waktu seperti
sebuah sungai yang airnya mengalir dan melimpah dekat pintu rumah seseorang
yang tiap hari mandi di sungai itu lima kali" (HR. Bukhari dan Muslim)
e.Beramar
ma'ruf dan nahi mungkar
Allah memberi tugas berat kepada siapa saja yang telah
menyandang predikat muslim dan da’i untuk meluruskan pandangan ummat agar
berberak bersama islam dan berjalan menuju jalan Allah, dalam surat An Nahl
16;125 diterangkan, ”Ajaklah manusia itu
ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta beragumentasilah
dengan mereka dengan cara yang baik pula”.
Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima
dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah
demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat.
Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi
kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak
berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR.
Thahawi]
f.Jangan sombong
Rasulullah menyatakan
dalam hadits qudsi,”Allah Ta’ala berfirman,”Kesombongan adalah selendang-Ku dan
kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa menyamai-Ku salah satu dari
keduanya, maka pasti Ku lemparkan ia ke dalam jahanam dan tidak akan Ku
perlihatkan lagi”{HR.Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah].
Takabur atau
angkuh dan sombong itu terbagi menjadi dua, yaitu yang dalam batin dan yang
tampak lahir, yang batin ialah yang merupakan kelakuan-kelakuan yang keluar
dari anggota badan. Kelakuan – kelakuan ini amat banyak sekali bentuknya dan
oleh karena itu sukar untuk dihitung dan diperinci satu persatu. Bahaya sifat
ini besar sekali sedang kerusakan yang diakibatkannyapun sangat luar biasa
hebatnya. Bagaimanakah tidak akan besar bahayanya, sedangkan Rasululah Saw sendiri
pernah bersabda,”Tidak dapat masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat
seberat debu dari sifat ketakaburan”[HR.Muslim]
Begitu islam mengajarkan
kepada ummatnya agar anak-anak yang masih kanak-kanak atau yang belum baligh
walaupun tidak dan belum wajib menjalankan kewajiban-kewajiban sebagaimana
seorang muslim tapi mereka diajarkan melalui pendidikan kebiasaan-kebiasaan
yang baik agar kelak setelah dewasa atau saat kewajiban itu telah berada di
pundaknya mereka terbiasa melakukannya, tidak perlu lagi dipaksa apalagi
dipukul, hanya tinggal mengingatkan saja,
wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar