Jumat, 26 Februari 2016

279. Bahtera



Hingga sampai zaman kini alat transportasi berupa bahtera atau kapal laut belum ada penggantinya walaupun ada tapi bukan menggantikan peran bahtera tapi melengkapi sebagai sarana untuk melakukan perjalanan dan pengangkutan dari satu negeri ke negeri lainnya. Bumi kita ini sebagian besarnya diliputi oleh air atau laut yang luas terhampar, alat transportasi yang efektif menuju satu pulau ke pulau lain adalah bahtera. Nabi yang terkenal dengan bahteranya adalah Nabi Nuh As, sejarah mencatat hal demikian yang diungkapkan Allah dalam beberapa firman-Nya sebagaimana yang ditulis oleh Ulis Tofa, Lc

Adalah Nabi Nuh alaihissalam, salah satu dari rasul yang memiliki sebutan ulul azmi, yang memiliki ketegaran.Ia mendakwahi kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Subhanallah, waktu yang tidak sebentar. Ia sabar menghadapi celaan kaumnya, ia tegar menghadapi penentangan mereka. Sisi lain, ia sangat menghendaki kebaikan dan keimanan kaumnya. Akan tetapi mereka bukannya menerima seruan dakwah Nabi Nuh, justru kian hari mereka kian menolak dan menentang.
Perihal penolakan kaumnya, Nabi Nuh alaihissalam mengadu kepada Allah swt. Ia merasa tidak ada peluang kebaikan dan keimanan lagi dari kaumnya. Akhirnya Allah swt. memberitahu Nuh bahwa kaumnya tidak akan ada yang mau beriman lagi.Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(Huud: 36)
Ketika mengetahui bahwa Allah swt.telah memutuskan kalimat-Nya bahwa tidak akan ada yang beriman seorang pun dari mereka setelah ini, Allah telah menutup kalbu mereka dan menguncinya dengan gembok yang kuat, Nabi Nuh alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh: 26-27)
Allah swt.mengabulkan pengaduan Nabi Nuh dan memerintahkannya untuk bersiap-siap mengadakan penyelamatan bila tiba saatnya. “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (Huud: 37)
Melaksanakan Perintah Tanpa Ragu
Nabi Nuh menjauh dari pusat kota untuk membuat bahtera. Ia mulai bekerja. Sampai di sini, ia pun tidak luput dari celaan dan hinaan kaumnya.
Sebagian mereka mengatakan, “Wahai Nuh, kamu sebelum ini mengaku sebagai Nabi dan Rasul, bagaimana sekarang kamu menjadi tukang kayu?Apakah kamu melepaskan kenabian?Ataukah kamu lebih suka menjadi tukang kayu?”
Sebagian yang lain mengatakan, “Kamu membuat bahtera di tempat yang jauh dari sungai dan laut? Apakah kamu mengharapkan banjir akan menjalankan bahteramu? Atau kamu paksa angin akan membawanya terbang?”
Nabi Nuh tidak menggubris hinaan dan celaan mereka.Ia dengan santun melalui omong kosong mereka, sambil berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (Huud: 38-39)
Nabi Nuh berkonsentrasi membuat bahtera.Ia menyusun kayu-kayu, mengguatkan susunan-susunannya, sampai akhirnya jadilah bahtera besar dan kokoh. Nabi Nuh menunggu keputusan Allah swt.sampai akhirnya Allah swt mewahyukan kepadanya: “Jika sudah datang keputusan Kami, telah tampak tanda-tanda ayat-ayat Kami, maka berlindunglah kamu di dalam bahtera, dan bawalah orang yang beriman dari keluarga dan kaummu, dan bawalah setiap hewan dan tanaman masing-masing sepasang.”
Tibalah putusan Allah swt., yaitu ketika pintu-pintu langit terbuka dengan mengguyurkan hujan yang sangat deras, sedangkan bumi memancarkan sumber air yang sangat kencang, hingga menyebabkan air bah meluap, meninggi dan terus meninggi. Nabi Nuh bergegas menuju bahteranya dengan melaksanakan segala perintah Tuhannya, yaitu membawa manusia, hewan, dan tanaman berpasangan.
Tawakkal kepada Allah
Bahtera melaju dengan nama Allah swt., Dzat yang menjalankan dan melepasnya. Kadang bahtera melaju dengan tenang, kadang melaju dengan goncangan hebat.
Tsunami menggulung setiap yang diterjangnya. Ombak menggunung mengubur orang-orang kafir. Busa air bah bak kain kafan yang menyelimuti mereka. Mereka berjuang menyelamatkan diri dari maut, padahal maut mengejar dan mengalahkan mereka. Mereka melawan ombak, justru ombak menggilas mereka.
Nabi Nuh dan kaumnya tenang di atas bahtera, sampai akhirnya ia melihat putranya, Kan’an –penentang Allah, membenci dan menjauh dari ayahnya– berusaha menyelamatkan diri dari gulungan ombak yang dahsyat. Ia terlihat berusaha memegang tali agar selamat, atau menuju bukit agar terhindar dari tsunami. Akan tetapi maut mengincar dirinya.
Melihat kejadian itu, Nabi Nuh sebagai seorang ayah merasa kasihan.Cinta dan kasih-sayang seorang ayah bergolak. Nabi Nuh memanggil putranya dengan harapan panggilan itu sampai pada kalbu, sehingga ia mau beriman. Atau sampai pada perasaan yang paling dalam sehingga ia mau mendengar seruan ayahnya. “Wahai putraku, mau ke mana kamu?Kamu lari dari takdir Allah dan keputusan-Nya menuju takdir dan keputusan-Nya yang lain. Kemari beriman, wahai putraku, kamu akan bersatu lagi dengan keluargamu, dan kamu akan selamat dari tsunami ini.” Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Huud: 42)
Seruan sang ayah rupanya tidak sampai pada lubuk hatinya, tidak sampai ke relung kalbunya. Ia menyangka mampu menghindar dari keputusan Allah swt., ia mengira bisa selamat dari takdir-Nya. Kan’an menjawab, ”Menjauhlah kamu dari saya, karena saya akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini!”
Nabi Nuh menyeru dengan penuh kegalauan dan kekhawatiran, ”Wahai putraku, tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 43)
Melihat putranya tenggelam di depan mata kepalanya, Nabi Nuh berujar dengan penuh kesedihan dan duka cita: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” (Huud: 45)
Allah swt. menegur Nabi Nuh, “Wahai Nuh, ia bukan dari anggota keluargamu, ia juga bukan dari keluarga besarmu. Ia telah menentang, ia telah nyata-nyata kufur, maka jangan kamu anggap ia sebagai keluargamu, kecuali orang yang telah beriman kepadamu, mempercayai risalahmu, mengikuti dakwahmu. Itulah keluargamu yang Aku janjikan akan selamat dan mendapatkan kemenangan. ”Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Rum: 47)
Adapun orang-orang yang menentang risalahmu, mendustakan kalimat Tuhanmu, ia keluar dari anggota keluargamu, jauh dari syafa’atmu, meskipun kalian ada hubungan darah atau nasab. Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Huud: 46)
Mengakui Kesalahan dan Segera Bertaubat
Seketika itu Nabi Nuh paham bahwa perasaannya telah menjerumuskan kepada kesalahan. Dorongan cinta telah menutupinya dari kebenaran. Ia lebih pantas menengadahkan tangan bersyukur kepada Allah swt. yang telah menyelamatkan dirinya dan orang-orang beriman dari tsunami, dan atas ditimpakannya kehancuran dan ditenggelamkannya orang-orang kafir. Nabi Nuh kembali kepada Allah swt., memohon ampun atas kesalahan dirinya seraya berlindung akan murka-Nya. Ia berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Huud: 47)
Ketika tsunami telah sampai puncaknya, dan orang-orang dzalim telah tergilas olehnya, langit tidak lagi menurunkan hujan, bumi tidak lagi memancarkan sumber air, dan bahtera pun selamat menepi di Bukit Judi. Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia.Dan difirmankan: Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Huud: 44).
Dikatakan kepada Nabi Nuh: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud: 48) [Bahtera Nabi Nuh, Dakwatuna.com.6/5/2007 | 20 Rabiuts Tsani 1428 H].
Rasulullah mengibaratkan hidup di dunia ini seperti sedang berlayar dengan bahtera, kadangkala lajunya bahtera berjalan dengan baik, ada gelombang datang sang kapal bergoyang hingga meliuk-liuk dan berderak-derik, adakalanya cuaca sedang buruk, badai menghadang, gelombang tinggi hingga membuat kapal terdampar, oleng dan terbalik yang mengancam keselamatan penumpangnya. Rasulullah bersabda, “Perbaharuilah kapalmu, sebab lautan yang akan dilalui sangatlah dalamnya, perbanyaklah bekal karena perjalanan yang engkau tempuh sangatlah jauhnya, kurangilah beban karena jalanan menakutkan, ikhlaskan niat karena pengintai lebih tegas dan tajam pengamatannya…” [Hadits]
Kalimat diatas adalah wasiat Rasulullah kepada Mu’adz bin Jabbal ketika dia dilantik sebagai Gubernur Yaman. Pada awal wasiat Rasulullah tersebut dinyatakan; agar kapal diperbaharui, yang dimaksud dengan kapal adalah jiwa dan hati yang bersarang di dalamnya iman dan taqwa, Allah berfirman dalam surat Al Hadid 57;16, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun [kepada mereka] dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasiq”.

Lukmanul Hakim, seorang pakar pendidikan yang namanya terangkum indah dalam Al Qur’an memberikan pula nasehat kepada anaknya tentang kehidupan ini, “Sesungguhnya dunia ini lautan yang dalam dan manusia telah banyak karam di dalamnya, jadikanlah kapalmu berbakti kepada Allah dan muatannya iman dan layarnya tawakkal pada Allah, mudah-mudahan engkau selamat”.

Pada satu sisi manusia itu sendiri adalah kapal yang sedang berlayar, sedangkan disisi lain dikatakan oleh Hukama, manusia sedang berada dalam sebuah kapal yang sedang berlayar. Agar kapal sampai pada tujuan yang dikehendaki diperlukan kehati-hatian, jangan sampai persinggahan dijadikan sebagai tujuan.

Imam Al Ghazali mengibaratkan sebuah kapal yang sedang bergerak menuju pulau harapan, di dalamnya terdapat sekian jumlah penumpang, tapi dapat dikelompokkan pada tiga saja. Saat kapal sedang melaju, sang nakhoda berpesan bahwa sebentar lagi kapal akan berhenti pada sebuah pulau, dalam waktu singkat kapal akan berangkat lagi, artinya di pulau itu kita hanya sejenak, setelah semua penumpang turun, ketika kapal akan berlayar kembali, peluit kapal dibunyikan pertanda penumpang sudah berada di dalam kapal semuanya.

Penumpang kelompok pertama, tahu dengan pesan nakhoda sehingga ketika pluit berbunyi mereka sudah duduk dengan tenangnya di kursi empuk bagian vip, kelompok kedua, rupanya agak terlena dengan keindahan pulau sehingga segala keindahan pulau dinikmatinya, merekapun sibuk mengumpulkan bekal-bekal yang berserakan di pulau, sehingga mereka hanya menempati tempat duduk kelas dua, sesak dan sumpek, tapi Alhamdulillah keberangkatan masih menyertai mereka. Sedangkan kelompok   ketiga , saat di pulau dia semakin jauh dari rombongan sehingga tidak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh menuju kapal, ketika kapal berangkat otomatis mereka tinggal di dalam pulau sebagai mangsa binatang buas. Kelompok ketiga ini bukan main ruginya, beranggapan pulau dunia ini sebagai tujuan sehingga menyesatkannya ke lembah kehinaan selama-lamanya.

Hidup manusia itu sendiri ibarat kapal yang sedang berlayar menuju kampung yang abadi yaitu akherat. Ada kapal yang berlayar sampai ke tujuan dengan selamat dan tidak sedikit kapal yang karam di tengah lautan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal; sebuah kapal karam dikarenakan kapal tersebut tidak punya pedoman [kompas]  tujuan mana yang harus dicapai, jalan mana yang harus dilalui. Kapal bisa pula karam bila di tengah lautan mengalami patah kemudi sehingga terombang-ambing kesana kemari. Karamnya sebuah kapal dikarenakan bocor dari dalam sehingga air masuk ke dalam kapal tanpa dapat dikendalikan. Atau nakhoda dan awak kapal itu menyimpang dari tujuan semula tanpa mengikuti peraturan yang telah ditentukan.

Manusia adalah ibarat sebuah kapal, dia bisa karam karena tanpa pedoman; pedoman yang tetap orisinil hingga akhir zaman ialah Al Qur’an dan Sunnah [2;2]. Manusia bisa karam dalam lautan kehidupan ini karena patah kemudi, yaitu iman dan taqwa tidak dimiliki [4;59]. Manusia bisa karam dalam kehidupan ini kalau kapal bocor dari dalam yaitu niat yang salah, bukan dimotivasi untuk mencari ridha Allah [2;165]. Kapal bisa juga karam bila nakhoda dan awak kapal menyimpang dari rel yang sebenarnya, artinya ulama dan jamaahnya melalui jalan yang sesat. Untuk itu hati-hatilah dalam mengarungi lautan kehidupan yang dahsyat ini, persiapkan kapal dan perbaharuilah.wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03 November 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar