Hingga sampai zaman kini alat
transportasi berupa bahtera atau kapal laut belum ada penggantinya walaupun ada
tapi bukan menggantikan peran bahtera tapi melengkapi sebagai sarana untuk
melakukan perjalanan dan pengangkutan dari satu negeri ke negeri lainnya. Bumi
kita ini sebagian besarnya diliputi oleh air atau laut yang luas terhampar,
alat transportasi yang efektif menuju satu pulau ke pulau lain adalah bahtera. Nabi
yang terkenal dengan bahteranya adalah Nabi Nuh As, sejarah mencatat hal
demikian yang diungkapkan Allah dalam beberapa firman-Nya sebagaimana yang
ditulis oleh Ulis Tofa, Lc
Adalah Nabi Nuh
alaihissalam, salah satu dari rasul yang memiliki sebutan ulul azmi,
yang memiliki ketegaran.Ia mendakwahi
kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Subhanallah, waktu
yang tidak sebentar. Ia sabar menghadapi celaan kaumnya, ia tegar menghadapi
penentangan mereka. Sisi lain, ia sangat menghendaki kebaikan dan keimanan
kaumnya. Akan tetapi mereka bukannya menerima seruan dakwah Nabi Nuh, justru
kian hari mereka kian menolak dan menentang.
Perihal penolakan kaumnya, Nabi Nuh alaihissalam mengadu kepada Allah swt.
Ia merasa tidak ada peluang kebaikan dan keimanan lagi dari kaumnya. Akhirnya
Allah swt. memberitahu Nuh bahwa kaumnya tidak akan ada yang mau beriman lagi.“Dan diwahyukan kepada
Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang
yang telah beriman (saja). Karena
itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”(Huud: 36)
Ketika
mengetahui bahwa Allah swt.telah memutuskan kalimat-Nya bahwa tidak akan ada
yang beriman seorang pun dari mereka setelah ini, Allah telah menutup kalbu
mereka dan menguncinya dengan gembok yang kuat, Nabi Nuh alaihissalam berkata,
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir
itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal,
niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan
melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh:
26-27)
Allah
swt.mengabulkan pengaduan Nabi Nuh dan memerintahkannya untuk bersiap-siap mengadakan
penyelamatan bila tiba saatnya. “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan
dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang
orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
(Huud: 37)
Melaksanakan
Perintah Tanpa Ragu
Nabi Nuh menjauh
dari pusat kota untuk membuat bahtera. Ia mulai bekerja. Sampai di sini, ia pun
tidak luput dari celaan dan hinaan kaumnya.
Sebagian mereka
mengatakan, “Wahai Nuh, kamu sebelum ini mengaku sebagai Nabi dan Rasul, bagaimana
sekarang kamu menjadi tukang kayu?Apakah kamu melepaskan kenabian?Ataukah kamu
lebih suka menjadi tukang kayu?”
Sebagian yang
lain mengatakan, “Kamu membuat bahtera di tempat yang jauh dari sungai dan
laut? Apakah kamu mengharapkan banjir akan menjalankan bahteramu? Atau kamu
paksa angin akan membawanya terbang?”
Nabi Nuh tidak
menggubris hinaan dan celaan mereka.Ia dengan santun melalui omong kosong
mereka, sambil berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami
(pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan
mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan
ditimpa azab yang kekal.” (Huud: 38-39)
Nabi Nuh
berkonsentrasi membuat bahtera.Ia menyusun kayu-kayu, mengguatkan
susunan-susunannya, sampai akhirnya jadilah bahtera besar dan kokoh. Nabi Nuh
menunggu keputusan Allah swt.sampai akhirnya Allah swt mewahyukan kepadanya:
“Jika sudah datang keputusan Kami, telah tampak tanda-tanda ayat-ayat Kami,
maka berlindunglah kamu di dalam bahtera, dan bawalah orang yang beriman dari
keluarga dan kaummu, dan bawalah setiap hewan dan tanaman masing-masing
sepasang.”
Tibalah putusan
Allah swt., yaitu ketika pintu-pintu langit terbuka dengan mengguyurkan hujan
yang sangat deras, sedangkan bumi memancarkan sumber air yang sangat kencang,
hingga menyebabkan air bah meluap, meninggi dan terus meninggi. Nabi Nuh
bergegas menuju bahteranya dengan melaksanakan segala perintah Tuhannya, yaitu
membawa manusia, hewan, dan tanaman berpasangan.
Tawakkal kepada Allah
Bahtera melaju dengan nama Allah swt., Dzat yang menjalankan dan
melepasnya. Kadang bahtera melaju dengan tenang, kadang melaju dengan goncangan
hebat.
Tsunami menggulung setiap yang diterjangnya. Ombak menggunung mengubur
orang-orang kafir. Busa air bah bak kain kafan yang menyelimuti mereka. Mereka
berjuang menyelamatkan diri dari maut, padahal maut mengejar dan mengalahkan
mereka. Mereka melawan ombak, justru ombak menggilas mereka.
Nabi Nuh dan kaumnya tenang di atas bahtera, sampai akhirnya ia melihat
putranya, Kan’an –penentang Allah, membenci dan menjauh dari ayahnya– berusaha
menyelamatkan diri dari gulungan ombak yang dahsyat. Ia terlihat berusaha
memegang tali agar selamat, atau menuju bukit agar terhindar dari tsunami. Akan tetapi maut
mengincar dirinya.
Melihat kejadian
itu, Nabi Nuh sebagai seorang ayah merasa kasihan.Cinta dan kasih-sayang
seorang ayah bergolak. Nabi Nuh memanggil putranya dengan harapan panggilan itu
sampai pada kalbu, sehingga ia mau beriman. Atau sampai pada perasaan yang
paling dalam sehingga ia mau mendengar seruan ayahnya. “Wahai putraku, mau ke
mana kamu?Kamu lari dari takdir Allah dan keputusan-Nya menuju
takdir dan keputusan-Nya yang lain. Kemari beriman, wahai putraku, kamu akan
bersatu lagi dengan keluargamu, dan kamu akan selamat dari tsunami ini.” ”Dan bahtera itu berlayar
membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya,
sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke
kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Huud: 42)
Seruan sang ayah rupanya tidak sampai pada lubuk hatinya, tidak sampai ke
relung kalbunya. Ia menyangka mampu menghindar dari keputusan Allah swt., ia
mengira bisa selamat dari takdir-Nya. Kan’an menjawab, ”Menjauhlah kamu dari
saya, karena saya akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat
menyelamatkanku dari air bah ini!”
Nabi Nuh menyeru dengan penuh kegalauan dan kekhawatiran, ”Wahai
putraku, tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja)
yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud: 43)
Melihat putranya tenggelam di depan mata kepalanya, Nabi Nuh berujar dengan
penuh kesedihan dan duka cita: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk
keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah
hakim yang seadil-adilnya.” (Huud: 45)
Allah swt. menegur Nabi Nuh, “Wahai Nuh, ia bukan dari anggota keluargamu,
ia juga bukan dari keluarga besarmu. Ia telah menentang, ia telah nyata-nyata
kufur, maka jangan kamu anggap ia sebagai keluargamu, kecuali orang yang telah
beriman kepadamu, mempercayai risalahmu, mengikuti dakwahmu. Itulah keluargamu
yang Aku janjikan akan selamat dan mendapatkan kemenangan. ”Dan Kami selalu
berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(Rum: 47)
Adapun orang-orang yang menentang risalahmu, mendustakan kalimat Tuhanmu,
ia keluar dari anggota keluargamu, jauh dari syafa’atmu, meskipun kalian ada
hubungan darah atau nasab. Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia
bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya
(perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon
kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku
memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak
berpengetahuan.” (Huud: 46)
Mengakui Kesalahan dan Segera Bertaubat
Seketika itu Nabi Nuh paham bahwa perasaannya telah menjerumuskan kepada
kesalahan. Dorongan cinta telah menutupinya dari kebenaran. Ia lebih pantas
menengadahkan tangan bersyukur kepada Allah swt. yang telah menyelamatkan
dirinya dan orang-orang beriman dari tsunami, dan atas ditimpakannya kehancuran
dan ditenggelamkannya orang-orang kafir. Nabi Nuh kembali kepada Allah swt.,
memohon ampun atas kesalahan dirinya seraya berlindung akan murka-Nya. Ia
berkata: ”Ya Tuhanku, sesungguhnya
aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada
mengetahui (hakekat)nya. dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan
(tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang
yang merugi.” (Huud: 47)
Ketika tsunami telah sampai puncaknya, dan orang-orang dzalim telah
tergilas olehnya, langit tidak lagi menurunkan hujan, bumi tidak lagi
memancarkan sumber air, dan bahtera pun selamat menepi di Bukit Judi. Bukit
Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia.“Dan difirmankan: Hai bumi
telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan air pun disurutkan,
perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan
dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Huud: 44).
Dikatakan kepada Nabi Nuh: “Hai
Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu
dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada
(pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia),
kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (Huud: 48) [Bahtera Nabi Nuh, Dakwatuna.com.6/5/2007
| 20 Rabiuts Tsani 1428 H].
Rasulullah
mengibaratkan hidup di dunia ini seperti sedang berlayar dengan bahtera,
kadangkala lajunya bahtera berjalan dengan baik, ada gelombang datang sang
kapal bergoyang hingga meliuk-liuk dan berderak-derik, adakalanya cuaca sedang
buruk, badai menghadang, gelombang tinggi hingga membuat kapal terdampar, oleng
dan terbalik yang mengancam keselamatan penumpangnya. Rasulullah bersabda, “Perbaharuilah kapalmu, sebab lautan yang
akan dilalui sangatlah dalamnya, perbanyaklah bekal karena perjalanan yang
engkau tempuh sangatlah jauhnya, kurangilah beban karena jalanan menakutkan,
ikhlaskan niat karena pengintai lebih tegas dan tajam pengamatannya…”
[Hadits]
Kalimat
diatas adalah wasiat Rasulullah kepada Mu’adz bin Jabbal ketika dia dilantik
sebagai Gubernur Yaman. Pada awal wasiat Rasulullah tersebut dinyatakan; agar
kapal diperbaharui, yang dimaksud dengan kapal adalah jiwa dan hati yang
bersarang di dalamnya iman dan taqwa, Allah berfirman dalam surat Al Hadid
57;16, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk
hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun [kepada
mereka] dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah
diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang fasiq”.
Lukmanul
Hakim, seorang pakar pendidikan yang namanya terangkum indah dalam Al Qur’an
memberikan pula nasehat kepada anaknya tentang kehidupan ini, “Sesungguhnya
dunia ini lautan yang dalam dan manusia telah banyak karam di dalamnya,
jadikanlah kapalmu berbakti kepada Allah dan muatannya iman dan layarnya
tawakkal pada Allah, mudah-mudahan engkau selamat”.
Pada
satu sisi manusia itu sendiri adalah kapal yang sedang berlayar, sedangkan
disisi lain dikatakan oleh Hukama, manusia sedang berada dalam sebuah kapal
yang sedang berlayar. Agar kapal sampai pada tujuan yang dikehendaki diperlukan
kehati-hatian, jangan sampai persinggahan dijadikan sebagai tujuan.
Imam
Al Ghazali mengibaratkan sebuah kapal yang sedang bergerak menuju pulau
harapan, di dalamnya terdapat sekian jumlah penumpang, tapi dapat dikelompokkan
pada tiga saja. Saat kapal sedang melaju, sang nakhoda berpesan bahwa sebentar
lagi kapal akan berhenti pada sebuah pulau, dalam waktu singkat kapal akan
berangkat lagi, artinya di pulau itu kita hanya sejenak, setelah semua
penumpang turun, ketika kapal akan berlayar kembali, peluit kapal dibunyikan
pertanda penumpang sudah berada di dalam kapal semuanya.
Penumpang
kelompok pertama, tahu dengan pesan nakhoda sehingga ketika pluit berbunyi
mereka sudah duduk dengan tenangnya di kursi empuk bagian vip, kelompok kedua,
rupanya agak terlena dengan keindahan pulau sehingga segala keindahan pulau
dinikmatinya, merekapun sibuk mengumpulkan bekal-bekal yang berserakan di
pulau, sehingga mereka hanya menempati tempat duduk kelas dua, sesak dan
sumpek, tapi Alhamdulillah keberangkatan masih menyertai mereka. Sedangkan
kelompok ketiga , saat di pulau dia
semakin jauh dari rombongan sehingga tidak tahu lagi jalan mana yang harus
ditempuh menuju kapal, ketika kapal berangkat otomatis mereka tinggal di dalam
pulau sebagai mangsa binatang buas. Kelompok ketiga ini bukan main ruginya,
beranggapan pulau dunia ini sebagai tujuan sehingga menyesatkannya ke lembah
kehinaan selama-lamanya.
Hidup
manusia itu sendiri ibarat kapal yang sedang berlayar menuju kampung yang abadi
yaitu akherat. Ada kapal yang berlayar sampai ke tujuan dengan selamat dan
tidak sedikit kapal yang karam di tengah lautan, hal ini disebabkan oleh
beberapa hal; sebuah kapal karam dikarenakan kapal tersebut tidak punya pedoman
[kompas] tujuan mana yang harus dicapai,
jalan mana yang harus dilalui. Kapal bisa pula
karam bila di tengah lautan mengalami patah kemudi sehingga terombang-ambing
kesana kemari. Karamnya sebuah kapal dikarenakan bocor dari dalam sehingga air
masuk ke dalam kapal tanpa dapat dikendalikan. Atau nakhoda dan awak kapal itu
menyimpang dari tujuan semula tanpa mengikuti peraturan yang telah ditentukan.
Manusia adalah ibarat sebuah kapal, dia bisa karam karena
tanpa pedoman; pedoman yang tetap orisinil hingga akhir zaman ialah Al Qur’an
dan Sunnah [2;2]. Manusia bisa karam dalam lautan kehidupan ini karena patah
kemudi, yaitu iman dan taqwa tidak dimiliki [4;59]. Manusia bisa karam dalam
kehidupan ini kalau kapal bocor dari dalam yaitu niat yang salah, bukan
dimotivasi untuk mencari ridha Allah [2;165]. Kapal bisa juga karam bila
nakhoda dan awak kapal menyimpang dari rel yang sebenarnya, artinya ulama dan
jamaahnya melalui jalan yang sesat. Untuk itu hati-hatilah dalam mengarungi
lautan kehidupan yang dahsyat ini, persiapkan kapal dan perbaharuilah.wallahu a’lam [Cubadak Solok, 07 Zulhijjah 1432.H/03
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar