Kamis, 18 Februari 2016

247. Ruhiyyah



Pada diri manusia ada tiga unsur penting yang sangat mempengaruhi kehidupannya yaitu jasmani, akal dan rohani, namun ada juga yang menyebutnya hanya dua saja yaitu jasmani dan rohani, karena akal merupakan unsur yang melekat pada jasmani manusia.

Jasmanimerupakan fisik manusia diciptakan Allah dari tanah melalui proses yang panjang, perannya untuk mengujudkan bentuk manusia berupa tubuh yang dapat dilihat dan dapat dirasa.Allah menerangkan beberapa versi kejadian manusia dalam Al Qur’an:

  1. Berasal dari tanah
      Dalam surat As Sajadah 32;7, Allah berfirman ”Yang membuat segala sesuatu yang Dia  ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulainya  penciptaan manusia dari tanah”. Dalam surat Al An’am 6;2, ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal [kematianmu]... ”

      Tanah yang dimaksud adalah secara tidak lansung yaitu segala yang dimakan manusia berasal dari tanah seperti tumbuh-tumbuhan yang dimakan, tumbuh-tumbuhan hidup yang  mencari makanan dari tanah.

  1. Berasal dari saripati tanah
      Disini Allah lebih jelas menerangkan asal kejadian manusia yaitu bukan dari tanah mutlak tapi saripati tanah yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan/hewan lalu dimakan oleh manusia, ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh [rahim]” [Al Mukminun 23;12-13].

  1. Berasal dari sel benih
      Kalau disebut dati tanah atau saripati tanah maka versi yang lain dikatakan dari sel benih, yaitu sel-sel pilihan yang disiapkan untuk kejadian manusia, katakanlah bibit unggulnya manusia, inilah yang disebut dengan mani atau sperma, ”Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hinan[air mani],” [As Sajadah 32;18].

  1. Berasal dari air terpancar
      Walaupun sel benih atau mani tadi sudah disiapkan untuk membuahi sel telur pada tubuh wanita, tidak akan berhasil bila ari mani tersebut tidak mau dan tidak mampu terpancar menemui sasarannya. Menurut penyelidikan dokter bahwa kekuatan pancar sperma mencari sel telur akan mempengaruhi keberhasilan terciptanya generasi baru, bila tidak ada daya untuk menembakkan sel benih ke sasarannya tentu saja tidak akan membuahi sel telur, ”Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan, dia diciptakan dari air yang terpancar” [Ath Thariq 86;5-6].

  1. Berasal dari air yang tercampur
      Bila kemampuan pancar tadi cukup kuat dia akan menemui sasarannya dan bercampur dengan sel telur maka dalam waktu yang telah ditentukan Allah percampuran sel telur dengan sperma akan membentuk jasad manusia baru. Walaupun sperma tidak dapat terpancar dengan baik sehingga tidak dapat menembus dinding rahim mencari sel telur dapat juga terjadi dengan jalan mencampurkannya di luar proses koitus, inilah yang disebut dengan bayi tabung, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur” [Al Insan 76;2].

  1. Berasal dari darah
      Setelah percampuran sel lelaki dengan sel perempuan akan beraksi dan bereaksi dalam waktu 40 hari lamanya, 40 hari kedua air yang bertemu tadi akan mengental dan berkembang, inilah yang disebut dengan darah,”Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”[Al Alaq 96;2].

Sedangkan rohani berasal dari Allah yang ditiupkan ketika manusia baru berada dalam kandungan seorang ibu, unsur inilah sebenarnya yang menentukan kelak apakah manusia akan masuk neraka akan masuk syurga, ketika manusia meninggal maka jasad akan kembali ke tanah sedangakan ruh menuju alam barzakh yaitu suatu alam tempat berkumpulnya ruh menanti saat datangnya kiamat, selama dalam penantian itu ada ruh yang mendapatkan nikmat dari Allah karena ruhaninya ketika di dunia dibekali dengan ibadah, sedangkan yang mendapat siksa karena ruhani ketika di dunia bergelimang dengan maksiat.

Dua unsur manusia itu mempunyai kekuatan dan potensi masing-masing, dengan jelas dan secara lahiriah kekuatan jasad manusia dapat kita lihat kemampuannya tapi kekuatan jasad tidak akan bertahan lama tanpa adanya kekuatan rohani yang mendukungnya walaupun kekuatan rohani itu tidak nampak geraknya tapi dapat dirasakan ketahanannya, dalam hidup ini kita butuh kekuatan untuk mengembangkan diri dan bertahan dari segala serangan yang akan menghancurkan hidup kita, kekuatan itu berupa kekuatan fisik dan kekuatan ruhani sebagaimana yang disampaikan oleh AA Gym dalam taujihnya berikut ini;

Ternyata kekuatan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin memperoleh kemenangan. Terbukti jikalau badan lemah, ekonomi lemah, otak lemah, kepandaian lemah, kita tidak dapat berperan sebagai makhluk unggul yang membawa manfaat banyak, bahkan justru sebaliknya kita menjadi tertindas, baik oleh hawa nafsu, oleh syetan terkutuk, atau juga oleh makhluk-makhluk yang tidak menyukai kebenaran. Karenanya sudah menjadi suatu keharusan bagi siapapun untuk terus-menerus menggalang aneka potensi kekuatan yang ada pada dirinya.

Hanya saja harus kita sadari pula bahwa kekuatan itu tidak cukup hanya kekuatan lahir saja. Karena bagi siapapun yang berusaha membangun kekuatan ekonomi dengan meyakini bahwa hanya dengan kekuatan ekonomi itulah yang akan membuat dirinya menang, kuat, tanpa dibarengi kekuatan lain, maka akan hancurlah dia. 

Sudah terlalu banyak contohnya, tengok saja ketika zaman masih ada Uni Soviet, pastilah saat itu di negara ini tidak kurang para profesornya, ada ahli ekonomi, ada ahli keuangan, ada ahli perencanaan pembangunan, ada juga ahli militer, dan ahli di berbagai bidang lainnya, tapi ternyata Uni Soviet yang nampak begitu kokohnya bisa rontok seketika. 

Begitu juga kalau kita menganggap bahwa hanya kekuatan senjata sebagai satu-satunya kekuatan yang akan memenangkan pertempuran, kita saksikan lagi bagaimana Rusia dengan peralatan dan perlengkapan tempurnya yang begitu lengkap, begitu banyak personilnya, begitu kuat dukungan logistiknya, ternyata dipermalukan di Afghanistan. Bahkan gempuran berikutnya ke Chechnya, sebuah negeri yang begitu kecil mungil, ternyata Chechnya sampai saat ini masih bisa bertahan.

Lalu, adakah kekuatan lain yang mampu memenangkan setiap pertempuran? Ada! Kekuatan itu tiada lain kekuatan dari dalam diri kita sendiri, yang kadang begitu saja kita melupakannya. Padahal kalau kita mampu membangunnya dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi sebuah kekuatan yang teramat dahsyat.

Inilah kekuatan tanpa biaya, tanpa memerlukan pertolongan orang lain, tapi bila saja dibina dan dioptimalkan, maka ia adalah modal yang luar biasa dahsyat dalam mengarungi kehidupan ini. Kekuatan apakah itu?!

Dikisahkan pada abad ke-7 Hijriah, di saat kekuatan kekhalifahan Islam mulai meredup, terjadi pertempuran yang sangat dahsyat dan monumental yaitu ketika bangsa Tartar dibawah pimpinan Jengis Khan, menyerbu negeri-negeri Islam bagai air bah, bergelombang bagai badai yang garang, menyapu dari segala penjuru, dan kemudian meluluhlantakan semua negeri-negeri yang dilaluinya. Bahkan diceritakan sungai Dajlah di tengah kota Baghdad yang begitu bening menjadi hitam kelam airnya oleh tinta dari ratusan buku perpustakaan yang dibuang ke sungai itu oleh tentara Tartar. 

Kita kenang masa ini sebagai masa kekhalifahan Islam yang paling kelam, saat dimana sebagian besar negeri Islam dibasmi dan dilindas habis oleh bangsa Tartar ini.Barisan bala tentaranya seakan-akan tidak pernah terbendung dan terkalahkan.Pedang-pedang sepertinya menjadi tumpul tiada berdaya menyentuh tubuh mereka.Sampai-sampai munculah mitos, "Tartar takkan pernah terkalahkan".

Berselang beberapa tahun setelah kejatuhan petama kalinya negeri-negeri Islam ini.Tersebutlah suatu kisah dimana ada seorang syeikh bernama Syeikh Jamaludin dari Bukhara.Beliau adalah seorang yang bersih, mursyid yang tulus, walaupun secara lahiriah fisiknya sudah berkurang kemampuannya.

Suatu waktu ia berjalan-jalan bersama sahabat-sahabat dan santri-santrinya, hingga tanpa disadari mereka telah memasuki wilayah kekuasan bangsa Tartar, yang waktu itu dipimpin oleh seorang taklak (gubernur), yaitu Taklak Timur Khan (Timur Lenk), seorang cucu Jengis Khan. 

Begitu masuk wilayah bangsa Tartar ini yang kebetulan beliau memasuki wilayah berburu Sang Taklak, maka serta merta ditangkaplah mereka, dan langsung dibawa menghadap Sang Taklak yang cucu Jengis Khan ini.
Bertanyalah Sang Taklak, "Engkau siapa dan darimana …?"
"Saya dari Bukhara dan seorang Parsi"
Mendengar jawaban ini Sang Taklak serta merta tertawa terkekeh-kekeh seraya berkata meremehkan,
"Oo, orang-orang Parsi ini lebih rendah dan lebih hina dari seekor anjing" ujarnya dengan pandangan mengejek.
"Ya, benar!Andaikata kami tidak diberi cahaya kemuliaan dengan agama yang benar, niscaya kami lebih hina daripada seekor anjing" Jawab Syeikh Jamaludin mantap.
Sebuah jawaban yang disertai nur kekuatan keyakinan, rupanya selalu membuat terngiang-ngiang di telinga Sang Taklak. ‘Ya, Kami jauh lebih hina daripada seekor anjing, andaikata tidak dimuliakan dengan agama yang benar’ Sang Taklak merenung memikirkan kata-kata ini, "Ada apa dibalik kata-kata yang ringkas ini?!" Pikirnya. Begitu menggelitiknya jawaban Syeikh Jamaludin ini sehingga suatu saat dipanggillah ia kembali oleh Sang Taklak ke istana.
"Apa yang kau maksudkan dengan kata-kata yang dulu pernah engkau ucapkan itu?" Bertanyalah Sang Kaisar.
Dengan ijin ALLAH Syeikh Jamaludin ini menjelaskan dengan begitu bersemangatnya tentang keindahan Islam.Penjelasan yang merupakan buah dari perasaan dan kecintaannya kepada Islam.Uraiannya disertai pula dengan raut muka, perilaku, yang sebanding dengan keindahan yang disampaikannya.Dijelaskan pula, betapa kekufuran telah membawa martabat manusia merosot lebih hina daripada seekor anjing.

Mendengar uraian ini, tergetarlah hati Sang Taklak hingga akhirnya terbukalah pintu hatinya untuk menerima Islam, hanya saja pada saat itu masih ada satu hal yang mengganjalnya, "Aku belum menjadi kaisar, saat ini masih orang tuaku yang menjadi penguasa, aku berjanji seandainya aku nanti jadi penguasa, aku akan masuk Islam." Janji Sang Taklak.

Waktupun berselang. Suatu saat menjelang Syeikh Jamaludin wafat, diberitahukanlah perihal janji kaisar ini kepada anaknya yang bernama Ryasidudin, "Wahai anakku, Taklak Timur Khan akan menjadi kaisar, andaikata dia sudah resmi jadi kaisar, datangilah dan sampaikan salam dariku serta ingatkan kepadanya akan janji yang dulu pernah diucapkannya".

Ketika benar Syeikh Jamaludin wafat, puteranya sengaja datang ke perkemahan Sang Taklak Timur Khan untuk melaksanakan wasiat orang tuanya, namun karena ia dianggap orang asing yang tidak dikenal sampai disana ia ditolak tidak boleh masuk. Seraya memohon pertolongan ALLAH, ia memutar otaknya, sehingga munculah idenya. 

Saat malam melepas gulitanya, dan fajar shubuh mulai menyingsing, segera saja ia mengumandangkan azan dengan begitu kerasnya sampai-sampai Sang Taklak Timur Khan yang berada di dalam kompleks perkemahan tentaranya terbangun seraya bertanya-tanya, "Siapa itu yang berteriak-teriak di malam buta seperti ini? Siapa dia berani kurang ajar mengganggu tidurku?"Begitu marahnya Sang Kaisar ini. Putera Syeikh pun ditangkap sehingga kemudian dibawa menghadap pada sang kaisar.

Begitu bertemu muka dengan sang kaisar, putera Syeikh Jamaludin ini langsung memperkenalkan diri, "Saya putra Syeikh Jamaludin menyampaikan salam dari beliau". Ketika mendengar nama ‘Syekh Jamaludin’--yang beberapa tahun lalu akrab ditelinganya--disebut, Sang Kaisar tiba-tiba seperti api disiram air, reda marahnya dan luluh hatinya.

"Saya hanya akan mengingatkan janji yang pernah tuan ucapkan dengan beliau" Lanjut putera Syeikh Jamaludin ini. Teringatlah sang kaisar akan janjinya, sehingga pada saat itu juga Kaisar Timur Khan mengucap dua kalimah syahadat sebagai tanda bahwa ia benar-benar masuk Islam.
Kala itulah bangsa Tartar benar-benar berubah dari yang tadinya berwajah bengis, kejam, dan melindas habis menjadi bangsa yang berakhlak mulia. Pada saat itulah seluruh penduduk kerajaannya menerima cahaya kemuliaan Islam.

Sungguh luarbiasa, dari yang tadinya meluluhlantakan Islam dengan kekuatan senjata, akhirnya menjadi luluh lantak hatinya hanya oleh perkataan. Ratusan ribu orang menentangnya dengan kekuatan senjata, tidak ada yang mampu mengalahkan, tapi hanya dengan beberapa patah kata yang menghunjam ke hati telah membuat negeri yang tidak pernah terkalahkan malah masuk dalam semburat cahaya Islam, bahkan menjadi benteng Islam yang begitu kokohnya saat itu.

Bekasnya pun nampak sampai sekarang, seperti di Rusia, Kaukasus, Asia Tengah dan sekitarnya ternyata adalah buah dari bangsa yang tadinya menghancurkan Islam secara fisik karena kekuatannya memang tidak tertahankan, namun akhirnya menjadi benteng Islam.Mengapa?
Ternyata karena ada satu kekuatan lain yang mampu mengalahkannya, yaitu kekuatan ruhiah. Syeikh Jamaludin adalah seorang ulama yang begitu tinggi cahaya ruhiahnya. Kata-katanya, sorot matanya, cara berjalannya, sikapnya, dan semua dalam dirinya ternyata memancarkan energi yang betul-betul membuat orang yang mendengar terbuka hatinya. 

Satu patah kata atau dua patah kata dari orang yang sudah tercahayai hatinya, maka kata-kata itu bagai gelombang-gelombang yang bisa menyentuh, bagai magnet yang bisa menyedot, begitu hebat kekuatannya, sehingga daya ubahnya pun sungguh luar biasa dahsyatnya.[Potensi Ruhiah ,K.H. Abdullah Gymnastiar].
Kekuatan ruhiyah manusia tidaklah datang dengan sendirinya tapi melalui latihan yang  kontinyu dengan nilai-nilai ibadah yang dikerjakan karena ibadah memang dalam rangka untuk menyuburkan rohaninya, dalam menjalankan profesi apa saja apalagi dakwah maka ruhiyah yang baik akan mendukung berhasilnya dakwah yang dijalankan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Attabiq Luthfi, MAberikut ini;

Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)

Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).

Peri pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah.Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.

Pada tataran aplikasinya, stabilitas ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus, yaitu ujian nikmat dan ujian cobaan atau musibah. Karena bisa jadi seseorang mampu mempertahankan ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun saat dalam keadaan lapang dan senang, bisa saja ia lengah dan lupa dengan tugas utamanya. Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya”.(Bukhari dan Muslim).

Maka seorang mukmin yang kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan sekaligus. Demikianlah yang pernah Rasulullah isyaratkan dalam sabdanya, “Sungguh mempesona keadaan orang beriman itu; jika ia mendapat anugerah nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya. Sikap sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari seorang mukmin”. (Al-Bukhari)[Ruhiyah, Bekal Berdakwah, Dakwatuna; 18/4/2007 | 01 Rabiuts Tsani 1428 H].

Para sahabat selalu berupaya untuk memelihara rohaninya dengan mempelajari ajaran islam, mengingat kembali pesan-pesan yang disampaikan oleh Rasulullah, mereka berupaya untuk menghindari segala hal-hal yang dapat merusak rohaninya.Rohani yang tidak terjaga tidak sensitive dengan kemaksiatan, seperti kulit yang luka tidak perih ketika terkena air asam.
Diriwayatkan bahwa Utsman pernah berkata,”Saya bersumpah kepada kalian dengan Allah Swt…” Tidak halal [menumpahkan] darah seorang muslim kecuali jika ia berada dalam salah satu dari tiga hal, berzina setelah menikah, murtad setelah beriman atau membunuh orang lain tanpa alasan yang benar.”

Selanjutnya Utsman berkata,”Demi Allah Swt, saya tidak pernah berzina, baik pada masa jahiliyyah maupun setelah masuk islam. Saya juga tidak pernah murtad sejak berbaiat kepada Rasulullah Saw. Selain itu, saya juga tidak pernah membunuh jiwa yang diharamkan Allah Swt..oleh karena itu, atas dasar apa kalian hendak membunuhku?”.

Diriwayatkan bahwa pada kesempatan lain Utsman bin Affan juga pernah berkata,”Jauhilah minuman keras karena ia adalah keburukan terbesar. Pada ummat dahulu yang datang sebelum kalian, ada seorang lelaki yang sangat shaleh.Kemudian ada orang perempuan yang jatuh cinta kepadanya.Perempuan itu lalu mengutus seorang pelawannya kepada laki-laki itu seraya berkata,”Sesungguhnya kami bermaksud mengundangmu untuk menjadi saksi terhadap suatu urusan”, keduanya selanjutnya pergi ke rumah perempuan tadi.Sesampainya disana, setiap kali laki-laki shaleh itu melewati sebuah pintu di dalam rumah itu maka pelayan tadi segera menguncinya.Pada akhirnya laki-laki itu menjumpai di dalam rumah seorang perempuan dengan aroma yang sangat wangi.

Disamping wanita itu ada seorang anak kecil dan sebuah bejana berisi minuman keras.Perempuan itu lalu berkata,”Demi Allah, saya sebenarnya tidak mengundangmu dengan maksud menjadi saksi tetapi agar engkau menyetubuhi saya.Jika engkau menolak maka engkau harus meminum segelas minuman keras ini atau kalau tidak membunuh anak kecil ini.Laki-laki shaleh tadi kemudian berkata,”Berikan kepada saya segelas minuman keras itu”, ternyata setelah meminumnya, dia kemudian terus minta tambah sampai akhirnya, dengan tidak menunggu lebih lama, dia kemudian menyetubuhi perempuan itu sekaligus membunuh anak kecil.Oleh karena itu, jauhilah minuman keras. Demi Allah Swt, iman tidak akan pernah bersatu pada diri seseorang yang memiliki kebiasan meminum-minuman keras. Jika keduanya bertemu pada diri seseorang maka salah satu diantaranya harus keluar.”[HR. An Nasa’i].[DR. Saad Riyadh, Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah Saw, Gema Insani, 2007].

Ruhani harus dibimbing dengan nilai-nilai ruhiyah agar iman yang dimiliki manusia semakin kokoh setiap waktu karena bila tidak banyak sekali halangan dan rintangan hingga tantangan hidup yang datang kepermukaan, lihatlah bagaimana iman yang tidak terjaga dengan baik maka ruhaninya juga akan terpengaruh, sehingga wajar bila nabi menyatakan, iman itu kadangkala naik dan kadangkala turun, bukti iman sedang naik maka banyak ibadah yang dilakukan dan sebaliknya bila iman sedang turun maka ruhaniyahnya akan turun pula karena banyak maksiat yang dikerjakan, dimanapun juga ruhani kita disuburkan dengan nilai-nilai ruhiyah agar terlepas dari terkaman syaitan. Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar