Pada diri manusia ada tiga unsur penting yang sangat mempengaruhi
kehidupannya yaitu jasmani, akal dan rohani, namun ada juga yang menyebutnya
hanya dua saja yaitu jasmani dan rohani, karena akal merupakan unsur yang
melekat pada jasmani manusia.
Jasmanimerupakan fisik manusia
diciptakan Allah dari tanah melalui proses yang panjang, perannya untuk
mengujudkan bentuk manusia berupa tubuh yang dapat dilihat dan dapat dirasa.Allah menerangkan beberapa versi kejadian manusia dalam
Al Qur’an:
- Berasal dari tanah
Dalam surat As Sajadah 32;7, Allah
berfirman ”Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulainya penciptaan manusia dari tanah”. Dalam surat
Al An’am 6;2, ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu
ditentukannya ajal [kematianmu]... ”
Tanah yang dimaksud adalah secara tidak
lansung yaitu segala yang dimakan manusia berasal dari tanah seperti
tumbuh-tumbuhan yang dimakan, tumbuh-tumbuhan hidup yang mencari makanan dari tanah.
- Berasal dari saripati tanah
Disini Allah lebih jelas menerangkan asal
kejadian manusia yaitu bukan dari tanah mutlak tapi saripati tanah yang
dihasilkan tumbuh-tumbuhan/hewan lalu dimakan oleh manusia, ”Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian
Kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh
[rahim]” [Al Mukminun 23;12-13].
- Berasal dari sel benih
Kalau disebut dati tanah atau saripati
tanah maka versi yang lain dikatakan dari sel benih, yaitu sel-sel pilihan yang
disiapkan untuk kejadian manusia, katakanlah bibit unggulnya manusia, inilah
yang disebut dengan mani atau sperma, ”Kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari saripati air yang hinan[air mani],” [As Sajadah 32;18].
- Berasal dari air terpancar
Walaupun sel benih atau mani tadi sudah
disiapkan untuk membuahi sel telur pada tubuh wanita, tidak akan berhasil bila
ari mani tersebut tidak mau dan tidak mampu terpancar menemui sasarannya.
Menurut penyelidikan dokter bahwa kekuatan pancar sperma mencari sel telur akan
mempengaruhi keberhasilan terciptanya generasi baru, bila tidak ada daya untuk
menembakkan sel benih ke sasarannya tentu saja tidak akan membuahi sel telur,
”Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan, dia
diciptakan dari air yang terpancar” [Ath Thariq 86;5-6].
- Berasal dari air yang tercampur
Bila kemampuan pancar tadi cukup kuat dia
akan menemui sasarannya dan bercampur dengan sel telur maka dalam waktu yang
telah ditentukan Allah percampuran sel telur dengan sperma akan membentuk jasad
manusia baru. Walaupun sperma tidak dapat terpancar dengan baik sehingga tidak
dapat menembus dinding rahim mencari sel telur dapat juga terjadi dengan jalan
mencampurkannya di luar proses koitus, inilah yang disebut dengan bayi tabung,
”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur”
[Al Insan 76;2].
- Berasal dari darah
Setelah percampuran sel lelaki dengan sel
perempuan akan beraksi dan bereaksi dalam waktu 40 hari lamanya, 40 hari kedua
air yang bertemu tadi akan mengental dan berkembang, inilah yang disebut dengan
darah,”Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”[Al Alaq 96;2].
Sedangkan rohani berasal dari Allah yang ditiupkan ketika
manusia baru berada dalam kandungan seorang ibu, unsur inilah sebenarnya yang
menentukan kelak apakah manusia akan masuk neraka akan masuk syurga, ketika
manusia meninggal maka jasad akan kembali ke tanah sedangakan ruh menuju alam
barzakh yaitu suatu alam tempat berkumpulnya ruh menanti saat datangnya kiamat,
selama dalam penantian itu ada ruh yang mendapatkan nikmat dari Allah karena
ruhaninya ketika di dunia dibekali dengan ibadah, sedangkan yang mendapat siksa
karena ruhani ketika di dunia bergelimang dengan maksiat.
Dua unsur manusia itu mempunyai kekuatan dan potensi
masing-masing, dengan jelas dan secara lahiriah kekuatan jasad manusia dapat
kita lihat kemampuannya tapi kekuatan jasad tidak akan bertahan lama tanpa
adanya kekuatan rohani yang mendukungnya walaupun kekuatan rohani itu tidak
nampak geraknya tapi dapat dirasakan ketahanannya, dalam hidup ini kita butuh
kekuatan untuk mengembangkan diri dan bertahan dari segala serangan yang akan
menghancurkan hidup kita, kekuatan itu berupa kekuatan fisik dan kekuatan
ruhani sebagaimana yang disampaikan oleh AA Gym dalam taujihnya berikut ini;
Ternyata kekuatan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh
siapapun yang ingin memperoleh kemenangan. Terbukti jikalau badan lemah,
ekonomi lemah, otak lemah, kepandaian lemah, kita tidak dapat berperan sebagai
makhluk unggul yang membawa manfaat banyak, bahkan justru sebaliknya kita
menjadi tertindas, baik oleh hawa nafsu, oleh syetan terkutuk, atau juga oleh
makhluk-makhluk yang tidak menyukai kebenaran. Karenanya sudah menjadi suatu
keharusan bagi siapapun untuk terus-menerus menggalang aneka potensi kekuatan
yang ada pada dirinya.
Hanya saja harus kita sadari pula bahwa kekuatan itu tidak
cukup hanya kekuatan lahir saja. Karena bagi siapapun yang berusaha membangun
kekuatan ekonomi dengan meyakini bahwa hanya dengan kekuatan ekonomi itulah
yang akan membuat dirinya menang, kuat, tanpa dibarengi kekuatan lain, maka
akan hancurlah dia.
Sudah terlalu banyak contohnya, tengok saja ketika zaman
masih ada Uni Soviet, pastilah saat itu di negara ini tidak kurang para
profesornya, ada ahli ekonomi, ada ahli keuangan, ada ahli perencanaan
pembangunan, ada juga ahli militer, dan ahli di berbagai bidang lainnya, tapi
ternyata Uni Soviet yang nampak begitu kokohnya bisa rontok seketika.
Begitu juga kalau kita menganggap bahwa hanya kekuatan
senjata sebagai satu-satunya kekuatan yang akan memenangkan pertempuran, kita
saksikan lagi bagaimana Rusia dengan peralatan dan perlengkapan tempurnya yang
begitu lengkap, begitu banyak personilnya, begitu kuat dukungan logistiknya,
ternyata dipermalukan di Afghanistan. Bahkan gempuran berikutnya ke Chechnya,
sebuah negeri yang begitu kecil mungil, ternyata Chechnya sampai saat ini masih
bisa bertahan.
Lalu, adakah kekuatan lain yang mampu memenangkan setiap
pertempuran? Ada! Kekuatan itu tiada lain kekuatan dari dalam diri kita
sendiri, yang kadang begitu saja kita melupakannya. Padahal kalau kita mampu
membangunnya dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi sebuah kekuatan yang
teramat dahsyat.
Inilah kekuatan tanpa biaya, tanpa memerlukan pertolongan
orang lain, tapi bila saja dibina dan dioptimalkan, maka ia adalah modal yang
luar biasa dahsyat dalam mengarungi kehidupan ini. Kekuatan apakah itu?!
Dikisahkan pada abad ke-7 Hijriah, di saat kekuatan
kekhalifahan Islam mulai meredup, terjadi pertempuran yang sangat dahsyat dan
monumental yaitu ketika bangsa Tartar dibawah pimpinan Jengis Khan, menyerbu
negeri-negeri Islam bagai air bah, bergelombang bagai badai yang garang,
menyapu dari segala penjuru, dan kemudian meluluhlantakan semua negeri-negeri
yang dilaluinya. Bahkan diceritakan sungai Dajlah di tengah kota Baghdad yang
begitu bening menjadi hitam kelam airnya oleh tinta dari ratusan buku
perpustakaan yang dibuang ke sungai itu oleh tentara Tartar.
Kita kenang masa ini sebagai masa kekhalifahan Islam yang
paling kelam, saat dimana sebagian besar negeri Islam dibasmi dan dilindas
habis oleh bangsa Tartar ini.Barisan bala tentaranya seakan-akan tidak pernah
terbendung dan terkalahkan.Pedang-pedang sepertinya menjadi tumpul tiada
berdaya menyentuh tubuh mereka.Sampai-sampai munculah mitos, "Tartar
takkan pernah terkalahkan".
Berselang beberapa tahun setelah kejatuhan petama kalinya
negeri-negeri Islam ini.Tersebutlah suatu kisah dimana ada seorang syeikh
bernama Syeikh Jamaludin dari Bukhara.Beliau adalah seorang yang bersih,
mursyid yang tulus, walaupun secara lahiriah fisiknya sudah berkurang
kemampuannya.
Suatu waktu ia berjalan-jalan bersama sahabat-sahabat dan
santri-santrinya, hingga tanpa disadari mereka telah memasuki wilayah kekuasan
bangsa Tartar, yang waktu itu dipimpin oleh seorang taklak (gubernur), yaitu
Taklak Timur Khan (Timur Lenk), seorang cucu Jengis Khan.
Begitu masuk wilayah bangsa Tartar ini yang kebetulan beliau
memasuki wilayah berburu Sang Taklak, maka serta merta ditangkaplah mereka, dan
langsung dibawa menghadap Sang Taklak yang cucu Jengis Khan ini.
Bertanyalah
Sang Taklak, "Engkau siapa dan
darimana …?"
"Saya dari Bukhara dan seorang Parsi"
Mendengar jawaban ini Sang Taklak serta merta tertawa
terkekeh-kekeh seraya berkata meremehkan,
"Oo, orang-orang Parsi ini lebih rendah dan
lebih hina dari seekor anjing"
ujarnya dengan pandangan mengejek.
"Ya, benar!Andaikata kami tidak diberi cahaya
kemuliaan dengan agama yang benar, niscaya kami lebih hina daripada seekor
anjing" Jawab Syeikh Jamaludin mantap.
Sebuah jawaban yang disertai nur kekuatan keyakinan, rupanya selalu membuat terngiang-ngiang
di telinga Sang Taklak. ‘Ya, Kami jauh lebih hina daripada seekor anjing,
andaikata tidak dimuliakan dengan agama yang benar’ Sang Taklak merenung
memikirkan kata-kata ini, "Ada apa dibalik kata-kata yang ringkas
ini?!" Pikirnya. Begitu menggelitiknya jawaban Syeikh Jamaludin ini
sehingga suatu saat dipanggillah ia kembali oleh Sang Taklak ke istana.
"Apa yang kau maksudkan dengan kata-kata yang
dulu pernah engkau ucapkan itu?"
Bertanyalah Sang Kaisar.
Dengan ijin ALLAH Syeikh Jamaludin ini menjelaskan dengan
begitu bersemangatnya tentang keindahan Islam.Penjelasan yang merupakan buah
dari perasaan dan kecintaannya kepada Islam.Uraiannya disertai pula dengan raut
muka, perilaku, yang sebanding dengan keindahan yang disampaikannya.Dijelaskan
pula, betapa kekufuran telah membawa martabat manusia merosot lebih hina
daripada seekor anjing.
Mendengar uraian ini, tergetarlah hati Sang Taklak hingga
akhirnya terbukalah pintu hatinya untuk menerima Islam, hanya saja pada saat
itu masih ada satu hal yang mengganjalnya, "Aku belum menjadi kaisar, saat ini masih orang tuaku yang menjadi
penguasa, aku berjanji seandainya aku nanti jadi penguasa, aku akan masuk
Islam." Janji Sang Taklak.
Waktupun berselang. Suatu saat menjelang Syeikh Jamaludin
wafat, diberitahukanlah perihal janji kaisar ini kepada anaknya yang bernama
Ryasidudin, "Wahai anakku, Taklak
Timur Khan akan menjadi kaisar, andaikata dia sudah resmi jadi kaisar,
datangilah dan sampaikan salam dariku serta ingatkan kepadanya akan janji yang
dulu pernah diucapkannya".
Ketika benar Syeikh Jamaludin wafat, puteranya sengaja
datang ke perkemahan Sang Taklak Timur Khan untuk melaksanakan wasiat orang
tuanya, namun karena ia dianggap orang asing yang tidak dikenal sampai disana
ia ditolak tidak boleh masuk. Seraya memohon pertolongan ALLAH, ia memutar
otaknya, sehingga munculah idenya.
Saat malam melepas gulitanya, dan fajar shubuh mulai
menyingsing, segera saja ia mengumandangkan azan dengan begitu kerasnya
sampai-sampai Sang Taklak Timur Khan yang berada di dalam kompleks perkemahan
tentaranya terbangun seraya bertanya-tanya, "Siapa itu yang berteriak-teriak di malam buta seperti ini? Siapa
dia berani kurang ajar mengganggu tidurku?"Begitu marahnya Sang
Kaisar ini. Putera Syeikh pun ditangkap sehingga kemudian dibawa menghadap pada
sang kaisar.
Begitu bertemu muka dengan sang kaisar, putera Syeikh
Jamaludin ini langsung memperkenalkan diri, "Saya putra Syeikh Jamaludin menyampaikan salam dari beliau".
Ketika mendengar nama ‘Syekh Jamaludin’--yang beberapa tahun lalu akrab ditelinganya--disebut,
Sang Kaisar tiba-tiba seperti api disiram air, reda marahnya dan luluh hatinya.
"Saya hanya akan
mengingatkan janji yang pernah tuan ucapkan dengan beliau" Lanjut putera Syeikh Jamaludin ini. Teringatlah sang kaisar
akan janjinya, sehingga pada saat itu juga Kaisar Timur Khan mengucap dua
kalimah syahadat sebagai tanda bahwa ia benar-benar masuk Islam.
Kala itulah bangsa Tartar benar-benar berubah dari yang
tadinya berwajah bengis, kejam, dan melindas habis menjadi bangsa yang
berakhlak mulia. Pada saat itulah seluruh penduduk kerajaannya menerima cahaya
kemuliaan Islam.
Sungguh luarbiasa, dari yang tadinya meluluhlantakan Islam
dengan kekuatan senjata, akhirnya menjadi luluh lantak hatinya hanya oleh
perkataan. Ratusan ribu orang menentangnya dengan kekuatan senjata, tidak ada
yang mampu mengalahkan, tapi hanya dengan beberapa patah kata yang menghunjam
ke hati telah membuat negeri yang tidak pernah terkalahkan malah masuk dalam
semburat cahaya Islam, bahkan menjadi benteng Islam yang begitu kokohnya saat
itu.
Bekasnya pun nampak sampai sekarang, seperti di Rusia,
Kaukasus, Asia Tengah dan sekitarnya ternyata adalah buah dari bangsa yang
tadinya menghancurkan Islam secara fisik karena kekuatannya memang tidak
tertahankan, namun akhirnya menjadi benteng Islam.Mengapa?
Ternyata karena ada satu kekuatan lain yang mampu
mengalahkannya, yaitu kekuatan ruhiah. Syeikh Jamaludin adalah seorang ulama
yang begitu tinggi cahaya ruhiahnya. Kata-katanya, sorot matanya, cara
berjalannya, sikapnya, dan semua dalam dirinya ternyata memancarkan energi yang
betul-betul membuat orang yang mendengar terbuka hatinya.
Satu patah kata atau dua patah kata dari orang yang sudah
tercahayai hatinya, maka kata-kata itu bagai gelombang-gelombang yang bisa
menyentuh, bagai magnet yang bisa menyedot, begitu hebat kekuatannya, sehingga
daya ubahnya pun sungguh luar biasa dahsyatnya.[Potensi Ruhiah ,K.H. Abdullah
Gymnastiar].
Kekuatan ruhiyah manusia tidaklah
datang dengan sendirinya tapi melalui latihan yang kontinyu dengan nilai-nilai ibadah yang
dikerjakan karena ibadah memang dalam rangka untuk menyuburkan rohaninya, dalam
menjalankan profesi apa saja apalagi dakwah maka ruhiyah yang baik akan
mendukung berhasilnya dakwah yang dijalankan, sebagaimana yang diungkapkan oleh
Dr. Attabiq Luthfi, MAberikut ini;
Dalam konteks dakwah, menjaga
dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan
dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan
bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga
ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang
beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian
lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar
jihad”. (Al-Hajj: 77-78)
Menurut susunannya, ayat di
atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala
prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah
yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian
diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad
yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan
urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh
aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah.
Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata
hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari
itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah
dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).
Peri pentingnya ruhiyah dalam
dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini
secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari
awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan
kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah
mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun
lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail
layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah
mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam
menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat
ruhiyah.Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban
amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.
Pada tataran aplikasinya,
stabilitas ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus, yaitu ujian nikmat
dan ujian cobaan atau musibah. Karena bisa jadi seseorang mampu mempertahankan
ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun
saat dalam keadaan lapang dan senang, bisa saja ia lengah dan lupa dengan tugas
utamanya. Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya,
“Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku
sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian,
kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti yang pernah
terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa
sebagaimana mereka juga binasa karenanya”.(Bukhari dan Muslim).
Maka seorang mukmin yang
kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan
sekaligus. Demikianlah yang pernah Rasulullah isyaratkan dalam sabdanya,
“Sungguh mempesona keadaan orang beriman itu; jika ia mendapat anugerah nikmat
ia bersyukur dan itu baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar
dan itu juga baik baginya. Sikap sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari
seorang mukmin”. (Al-Bukhari)[Ruhiyah, Bekal Berdakwah, Dakwatuna; 18/4/2007 |
01 Rabiuts Tsani 1428 H].
Para sahabat selalu berupaya
untuk memelihara rohaninya dengan mempelajari ajaran islam, mengingat kembali
pesan-pesan yang disampaikan oleh Rasulullah, mereka berupaya untuk menghindari
segala hal-hal yang dapat merusak rohaninya.Rohani yang tidak terjaga tidak
sensitive dengan kemaksiatan, seperti kulit yang luka tidak perih ketika
terkena air asam.
Diriwayatkan bahwa Utsman
pernah berkata,”Saya bersumpah kepada kalian dengan Allah Swt…” Tidak halal
[menumpahkan] darah seorang muslim kecuali jika ia berada dalam salah satu dari
tiga hal, berzina setelah menikah, murtad setelah beriman atau membunuh orang
lain tanpa alasan yang benar.”
Selanjutnya Utsman
berkata,”Demi Allah Swt, saya tidak pernah berzina, baik pada masa jahiliyyah
maupun setelah masuk islam. Saya juga tidak pernah murtad sejak berbaiat kepada
Rasulullah Saw. Selain itu, saya juga tidak pernah membunuh jiwa yang
diharamkan Allah Swt..oleh karena itu, atas dasar apa kalian hendak
membunuhku?”.
Diriwayatkan bahwa pada kesempatan
lain Utsman bin Affan juga pernah berkata,”Jauhilah minuman keras karena ia
adalah keburukan terbesar. Pada ummat dahulu yang datang sebelum kalian, ada
seorang lelaki yang sangat shaleh.Kemudian ada orang perempuan yang jatuh cinta
kepadanya.Perempuan itu lalu mengutus seorang pelawannya kepada laki-laki itu
seraya berkata,”Sesungguhnya kami bermaksud mengundangmu untuk menjadi saksi
terhadap suatu urusan”, keduanya selanjutnya pergi ke rumah perempuan
tadi.Sesampainya disana, setiap kali laki-laki shaleh itu melewati sebuah pintu
di dalam rumah itu maka pelayan tadi segera menguncinya.Pada akhirnya laki-laki
itu menjumpai di dalam rumah seorang perempuan dengan aroma yang sangat wangi.
Disamping wanita itu ada
seorang anak kecil dan sebuah bejana berisi minuman keras.Perempuan itu lalu
berkata,”Demi Allah, saya sebenarnya tidak mengundangmu dengan maksud menjadi
saksi tetapi agar engkau menyetubuhi saya.Jika engkau menolak maka engkau harus
meminum segelas minuman keras ini atau kalau tidak membunuh anak kecil
ini.Laki-laki shaleh tadi kemudian berkata,”Berikan kepada saya segelas minuman
keras itu”, ternyata setelah meminumnya, dia kemudian terus minta tambah sampai
akhirnya, dengan tidak menunggu lebih lama, dia kemudian menyetubuhi perempuan
itu sekaligus membunuh anak kecil.Oleh karena itu, jauhilah minuman keras. Demi
Allah Swt, iman tidak akan pernah bersatu pada diri seseorang yang memiliki
kebiasan meminum-minuman keras. Jika keduanya bertemu pada diri seseorang maka
salah satu diantaranya harus keluar.”[HR. An Nasa’i].[DR. Saad Riyadh, Jiwa
Dalam Bimbingan Rasulullah Saw, Gema Insani, 2007].
Ruhani harus dibimbing dengan
nilai-nilai ruhiyah agar iman yang dimiliki manusia semakin kokoh setiap waktu
karena bila tidak banyak sekali halangan dan rintangan hingga tantangan hidup
yang datang kepermukaan, lihatlah bagaimana iman yang tidak terjaga dengan baik
maka ruhaninya juga akan terpengaruh, sehingga wajar bila nabi menyatakan, iman
itu kadangkala naik dan kadangkala turun, bukti iman sedang naik maka banyak
ibadah yang dilakukan dan sebaliknya bila iman sedang turun maka ruhaniyahnya
akan turun pula karena banyak maksiat yang dikerjakan, dimanapun juga ruhani
kita disuburkan dengan nilai-nilai ruhiyah agar terlepas dari terkaman syaitan.
Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17
Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar