Jumat, 12 Februari 2016

197. Indonesia



Sejak di bangku Sekolah Dasar sudah ditanamkan kepada kita sebagai bangsa yang memiliki kelebihan dari negara lain, apakah kehebatan bangsa ini dalam menumpas penjajahan, hanya dengan bambu runcing membuat penjajah lari tungganglanggang, apakah keelokan negeri kita yang dikatakan sebagai zamrud di Katulistiwa demikian pula dengan ribuan budaya yang terkandung di dalamnya dengan tidak ketinggalan kekayaan alamnya yang melimpah ruah sehingga membuat bangsa lain tergiur untuk menaklukkannya, itulah negara kita Indonesia.

Pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H., bertepatan tanggal 17 Agustus 1945, para pendiri negara ini memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme. Bangsa Indonesia kembali merayakan hari jadinya yang ke 65 tahun, persis jatuh pada bulan suci Ramadhan, tepatnya hari Selasa, tanggal 7 Ramadhan 1431 H., kesan peringatan kali ini lebih terlihat sederhana, khusyu’ dan jauh dari hura-hura.

Kalau kita tengok kembali perjalanan sejarah bangsa besar ini, kita akan menemukan bahwa peran, kontribusi dan perjuangan umat Islam terhadap kemerdekaan begitu besar. Tercatat dalam buku sejarah kita, para pahlawan, syuhada’ dari berbagai pelosok negeri ini adalah nota bene mereka muslim. Mereka berjihad membela tanah airnya dan menegakkan agamanya sekaligus.Dengan jiwa dan raga mereka membela negeri ini. Ada Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, ada Imam Bonjol di Sumatera, ada Kapitan Pattimura Ahmad Lussy, ada Cut Nyak Dien, dan sederet nama-nama pahlawan nasional lainnya, bahkan ada di antara kakek-nenek kita, orang tua kita yang juga berjuang mengusir penjajah, namun mereka tidak tercatat sebagai pahlawan dan tidak di makamkan di Taman Makam Pahlawan. Kemudian, para pendiri negeri ini meneruskan perjuangan mereka dan memproklamirkan kemerdekaannya.[Negara Bertauhid itu Bernama Indonesia , dakwatuna.com.18/8/2010 | 09 Ramadhan 1431 H].

Tidak terasa 65 tahun sudah usia kemerdekaan Indonesia. Tidak ada lagi bangsa Jepang atau Belanda sebagai penguasa dan pemerintah di negeri ini.Asumsi kemerdekaan bagi sebuah bangsa adalah sebaliknya, yakni matang-matangnya capaian artikulasi kemerdekaan yang meluberkan nilai-nilai ideal ke setiap relung nafas dan ruang hidup warga negaranya.

Namun fakta berkata sebaliknya. Negeri yang dulu jadi rebutan para penjajah, kini pun sama. Indonesia jadi ajang jajahan dengan modus baru oleh bangsa imperialis tamak AS dan sekutunya.Seperti pepatah, keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau.Maka pengibaran bendera tiap 17 Agustus, kehilangan esensi kemerde-kaan yang hakiki.

Para pemimpin mabuk dengan doktrin demokrasi, globalisasi dan liberalisasi. Tanpa sadar, dog-ma-dogma yang dijadikan “topeng” penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri. 

Dengan kekuatan lobi dan jejaring serta dominasi sain teknologinya, imperialis mengkooptasi semua potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini. Mereka  mengoyak dan menyedot semua isi bumi. Indonesia yang kaya, justru miskin.Bila standar pendapatan 2 dolar/jiwa dipakai, maka lebih dari 100 juta penduduk Indonesia terkategori miskin.[Harits Abu Ulya,65 Tahun Merdeka tidak Belajar dari Pengalaman!Mediaummat.com.Wednesday, 27 October 2010].

Indonesia yang kita banggakan ini bukan karena kita lahir dan besar disini saja tapi terpanggil untuk mencintainya karena sebuah ungkapan menyatakan bahwa ujud iman itu juga diaplikasikan dengan mencintai bangsa sendiri. Walaupun dari segi aqidah bagi seorang muslim negaranya tidak mutlak hanya Indonesia, tapi semua negara dimana saja ada ummat islam di dalamnya, apalagi mayoritas maka disanalah tanah airnya, wajib untuk membela dan mempertahankannya dari aggressor kaum zionis, salibis dan sebangsanya. Apalagi aggressor itu dari bangsa sendiri yang dilakukan oleh para pemimpin, penguasa dan pejabatnya.

Di zaman imperialisme modern, cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain. Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akan hal ini. Mereka ingin agar Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang sangat besar dan berat.Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri.Selain utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini digoyang ?jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen minyak, perusahaan minyak negara -- Pertamina-- kalah jauh dibandingkan dengan Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar (sekitar Rp 89 trilyun).

Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia. Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA ,Memerdekakan Kembali Indonesia,Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].

Dasar tauhid itu berangkat dari keimanan yang mantap maka semua komponen bangsa akan merasakan amannya hidup di negara Indonesia yang kita cintai ini, factor iman itulah yang menjadikan bangsa ini hidup secara benar, jujur dan amanah dalam mengemban tugas yang diberikan, bila iman sudah hilang maka keberadaan rakyat hingga penguasanya jadi rusak.

Iman itu pada awalnya diucapkan secara lisan (qaulun bi al-Lisan), kemudian disertai dengan keyakinan di dalam hati (i'tiqadun bi al-Janan), dan lantas konsekuensi logisnya dilanjutkan dalam bentuk amalan ('amalun bi al-Arkan).

Dari akar "iman" ini pula ada kosakata "aman" yang mengisyaratkan pada kita bahwa iman itu akan menghasilkan rasa aman, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Iman dan aman, ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi.Secara kimiawi adalah merupakan dua entitas yang senyawa dan tak mungkin bertentangan.

Aman, rasa aman, dan keamanan adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan setiap insan. Sebab, tidaklah beriman seseorang yang tidak mampu memberikan rasa aman kepada orang lain. Keamanan memang bukan segalanya, namun kehilangan rasa aman, orang bisa kehilangan segalanya.

Kemudian, dari akar kata"aman" ini juga ada istilah "amanat".  Artinya, seorang yang beriman (mukmin) sudah pasti dituntut harus berlaku amanat (jujur).Antonim amanat adalah khianat (tidak jujur), yang tentu tidak senyawa dengan sifat amanat yang baik dan membaikkan itu.

Apa yang terjadi saat ini di negeri kita adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan. Karena pendidikan keimanan gagal, rasa aman hilang di tengah-tengah kita.Di mana-mana telah terjadi kerusuhan dan keonaran.Musibah berupa banjir, longsor, gempa bumi, ataupun kebakaran terjadi bertubi-tubi membuat ketakutan semakin mencekam-melengkapi penderitaan yang mendera masyarakat.

        Karena iman yang tipis pula, amanat berubah menjadi khianat.Mereka yang diberi kesempatan, bahkan kehormatan untuk mengelola bumi, ternyata telah melakukan pelanggaran keimanan dengan berlaku tidak jujur.Korupsi dan penyelewengan terjadi di sana-sini.Rakyat kecil yang tidak berdosa terkena imbasnya.Mereka harus menanggung akibat yang ditimbulkan dari krisis iman dan amanat tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, orang yang khianat dan curang itu akan kehilangan agama (HR Abu Dawud). Dan, sifat pengkhianat berarti merusak iman (HR Muslim). Karena itu, Rasul menganjurkan umatnya untuk senantiasa bersyukur dalam kondisi apa pun, karena hal itu merupakan bagian dari iman.[Prof Dr HM Baharun, Apa yang Hilang di Negeri Ini, Republika.co.id.Ahad, 06 Juni 2010, 06:00 WIB].

Kita bisa menilai, alangkah jauhnya tujuan kemerdekaan itu dari kehidupan kita sekarang.Kita menyaksikan, begitu lemahnya kemampuan pemerintah RI untuk melindungi bangsa dan tumpah darah NKRI.Jutaan warga Indonesia tidak mendapatkan perlindungan yang layak di luar negeri.Puluhan trilyun rupiah hasil lautan kita dijarah kapal-kapal asing.Sumber daya alam kita makin menipis, tanpa memberikan dampak yang berarti bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Kesejahteraan umum untuk kebanyakan rakyat kita, kini  terasa semakin menjauh. Kemiskinan begitu merajalela.Kesulitan hidup ada dimana-mana.Angka kemiskinan 39 juta yang dikeluarkan pemerintah sulit untuk dipercaya. Entah standar apa yang digunakan sampai ketemu angka seperti itu. Jumlah buruh tani dan keluarganya saja sudah lebih dari 20 juta jiwa.Betapa pilunya di negeri yang dikaruniai dengan kekayaan alam yang melimpah ruah ini, justru kita menyaksikan rakyat kita antre untuk mendapatkan minyak tanah, minyak goreng, beras murah, dan sebagainya.

Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa juga bisa kita pertanyakan sekeras-kerasnya.Biaya pendidikan semakin melambung.Untuk Fakultas Kedokteran di kampus-kampus negeri, mahasiswa diwajibkan membayar puluhan juta.

Jika melalui jalur khusus bisa berkisar pada angka ratusan juta rupiah.Pendidikan semakin mahal.Kita memang menyaksikan sejumlah prestasi besar di dunia olimpiade fisika, matematika, Biologi, dan sebagainya, tetapi itu diraih oleh beberapa gelintir pelajar.

Apakah kita sudah berperan dalam melaksanakan ketertiban dunia?Tentu saja, dalam beberapa hal, kita sudah melakukan hal itu. Tetapi, secara umum, harus kita akui, bahwa kewibawaan kita sebagai sebuah bangsa yang dihuni 230 juta jiwa lebih, dengan komposisi Muslim sekitar 87 persennya, masih belum dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain. Singapura saja yang begitu kecil, sama sekali tidak menampakkan keseganan terhadap Indonesia.  

Mengapa bangsa kita menjadi lemah dan tidak berdaya?Mengapa kita menjadi lemah?Sebabnya jelas, karena kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Dalam pembukaan UUD 1945 yang sebenarnya merupakan naskah Piagam Jakarta telah disebutkan dengan jelas, bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”  Jika kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah rahmat Allah, maka seharusnya kita memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang diridhai oleh Allah.

Seharusnya kita mensyukuri kemerdekaan ini dengan menjadikan ajaran-ajaran Allah SWT sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; bukan menjadikan hawa nafsu dan aturan-aturan kolonial sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Allah SWT telah menjanjikan, bahwa:  “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al-A’raf:96). 

Beberapa ayat al-Quran al-Karim memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Quran ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin di Indonesia, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang dengan sombongnya menentang Allah dan para Rasul-Nya. Bahkan sebagian mereka dengan terang-terangan menantang agar azab Allah diturunkan atas mereka.Ketika mereka sudah durhaka dan lupa kepada Allah, maka Allah membiarkan kaum yang durhaka itu untuk mengumbar hasa nafsu mereka, dan kemudian Allah menghancurkan mereka dengan azab-Nya.[Adian Husaini,"Mensyukuri Kemerdekaan",Hidayatullah.com. Senin, 20 Agustus 2007].

Nampaknya Indonesia yang kita cintai ini masih berada dalam penjajahan walaupun penjajahan itu dari bangsa sendiri namun kekejaman dan dampaknya luar biasa terhadap kehancuran rakyat dan bangsanya.Kemerdekaan yang merupakan jalan untuk menghasilkan kemakmuran bagi rakyatnya ternyata berganti dengan kesengsaraan dibawah kekuasaan penguasa bangsa sendiri.

Pada dekade 1920-an atau sebelum datangnya masa depresi besar. Saat itu, Hindia Belanda yang kemudian pada 1945 wilayahnya berganti nama menjadi Indonesia, mencapai zaman keemasannya. Para leluhur saat itu menyebutnya sebagai 'zaman normal'.Roti dan keju mudah didapat.Sandang pangan murah.Negara relatif tenteram.Catatan arsip saat itu menyatakan, wilayah Hindia Belanda ini sangat makmur. Seorang buruh yang datang dari pedalaman Batavia hanya perlu kerja beberapa hari di kota untuk mencukupi kebutuhannya selama sebulan. Bahkan, dikabarkan saking makmurnya, buah-buahan banyak yang terpaksa busuk di pohon karena tidak ada yang berminat memetiknya.

Kenyataan ini dapat dimengerti.Saat itu konsolidasi kekuasaan kolonial sudah selesai.Jenderal Van Heutsz berhasil menyatukan wilayah yang dahulu terpecah-pecah dalam banyak kerajaan.Tanah dari Sabang-Merauke memberikan kemakmuran, bukan hanya bagi warganya tapi bagi pihak kolonialnya.Kota Amsterdam dibangun sangat megah dari hasil kekayaan yang 'dirampok' dari Hindia Belanda. Di Batavia, misalnya, kemudian dibangun kota satelit yang mewah, yakni Menteng.

Tapi, situasi ini tak berlangsung lama.Depresi melanda dunia.Kemudian, muncul Perang Dunia II.Situasi makmur pun berbalik.Perlahan tapi pasti, wilayah Hindia Belanda bangkrut kembali.Keadaan ini memuncak pada zaman Jepang, di mana saat itu terjadi kelaparan yang akut di wilayah ini.Dan, kondisi keterpurukan terus berlangsung hingga pascakemerdekaan.Rezim Soekarno lebih asyik membangun politik, sementara kesejahteraan rakyat terabaikan. Rezim Soeharto sempat hendak bisa memakmurkan negara, tapi dia keburu jatuh ketika berteriak akan melakukan tinggal landas pada ujung dekade 90-an. Setelah itu, suasana terasa serba 'gelap' hingga sekarang.

Lebih tragis lagi, catatan semenjak 2005 oleh majalah Foregin Policy dengan bekerja sama dengan lembaga think-thank-nya Amerika, The Fund for Peace, Indonesia terus saja dimasukkan dalam kelompok negara yang terancam gagal. Indeksnya berada pada peringkat ke-60.Indikasinya terlihat dari terus memburuknya kualitas pelayanan pemerintahan, pelayanan umum, korupsi, kriminalitas, dan ekonomi yang tetap tak kunjung membaik. Indonesia berada dalam satu jajaran bersama sejumlah negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin seperti Myanmar, Konggo, Haiti, Uganda, serta negara-negara pecahan Uni Sovyet.

Yang paling celaka lagi, di tengah kondisi yang kontraproduktif, rakyat dan elite politik jalan sendiri-sendiri.Posisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus merosot.Survei-survei malah menyatakan rakyat kini menganggp kondisi rezim Soeharto jauh lebih baik.Mereka berkilah, saat itu harga-harga kebutuhan pokok, pembiayaan kesehatan, dan ongkos pendidikan masih terjangkau.

"Ibaratnya sekarang, karena kondisinya lebih buruk, apa pun yang dahulu dilakukan zaman Pak Harto dianggap lebih baik. Padahal saat itu juga sebenarnya tak begitu baik.Ibaratnya, dahulu ada rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga 10 persen dianggap baik, karena rentenir yang ada sekarang meminta bunga 20 persen.Ya itulah keadaannya," kata mantan Menteri Ekonomi semasa zaman Orde Baru, Fuad Bawazier.

Yang mengenaskan, di kala konstitusi mengamankan bahwa kekayaan negara dipergunakan untuk menyejahterakan rakyat, kenyataan kondisinya kini jauh panggang dari api. Hampir seluruh area pertambangan strategis dikuasai asing. Perbankan bahkan banyak dibiarkan modalnya dikuasai 95 persen oleh asing.[Muhammad Subarkah,Negara Gagal di Pelupuk Mata? Republika.co.id.Rabu, 15 Juni 2011 pukul 17:01:00].

Dengan kondisi Indonesia yang sedang terpuruk ini seperti asset negara dimiliki asing, hutang negara kita tidak akan lunas hingga tujuh keturunan, korupsi menunjukkan peringkat atas, hilangnya ketidakadilan, para penguasa yang tidak amanah, yang semuanya itu disebabkan hilangnya iman di hati ummat dan rakyat Indonesia karena telah menjauhkan islam dari kehidupan, yang lebih berperan adalah hawa nafsu dan ambisius belaka ditambah lagi usaha dari orientalis dan sekuleris untuk menghancurkan Indonesia ini dengan berbagai isme seperti Liberalisme dan Pluralisme.

Sudah selayaknya kita kembali berjuang untuk memerdekakan kembali bangsa ini dari segala bentuk penjajahan, bebaskan Indonesia dari segala kolonialisme apapun bentuknya, bila tidak ada usaha untuk itu maka dalam waktu dekat kita akan karam dalam lautan yang akan menenggelamkan negeri Indonesia ini, wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar