Sejak di bangku Sekolah Dasar
sudah ditanamkan kepada kita sebagai bangsa yang memiliki kelebihan dari negara
lain, apakah kehebatan bangsa ini dalam menumpas penjajahan, hanya dengan bambu
runcing membuat penjajah lari tungganglanggang, apakah keelokan negeri kita
yang dikatakan sebagai zamrud di Katulistiwa demikian pula dengan ribuan budaya
yang terkandung di dalamnya dengan tidak ketinggalan kekayaan alamnya yang
melimpah ruah sehingga membuat bangsa lain tergiur untuk menaklukkannya, itulah
negara kita Indonesia.
Pada tanggal 9 Ramadhan 1364
H., bertepatan tanggal 17 Agustus 1945, para pendiri negara ini memproklamirkan
kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme. Bangsa Indonesia kembali
merayakan hari jadinya yang ke 65 tahun, persis jatuh pada bulan suci Ramadhan,
tepatnya hari Selasa, tanggal 7 Ramadhan 1431 H., kesan peringatan kali ini
lebih terlihat sederhana, khusyu’ dan jauh dari hura-hura.
Kalau kita tengok kembali
perjalanan sejarah bangsa besar ini, kita akan menemukan bahwa peran,
kontribusi dan perjuangan umat Islam terhadap kemerdekaan begitu besar.
Tercatat dalam buku sejarah kita, para pahlawan, syuhada’ dari berbagai pelosok
negeri ini adalah nota bene mereka muslim. Mereka berjihad membela tanah airnya
dan menegakkan agamanya sekaligus.Dengan jiwa dan raga mereka membela negeri
ini. Ada Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, ada Imam Bonjol di Sumatera, ada
Kapitan Pattimura Ahmad Lussy, ada Cut Nyak Dien, dan sederet nama-nama
pahlawan nasional lainnya, bahkan ada di antara kakek-nenek kita, orang tua
kita yang juga berjuang mengusir penjajah, namun mereka tidak tercatat sebagai
pahlawan dan tidak di makamkan di Taman Makam Pahlawan. Kemudian, para pendiri
negeri ini meneruskan perjuangan mereka dan memproklamirkan kemerdekaannya.[Negara
Bertauhid itu Bernama Indonesia , dakwatuna.com.18/8/2010 | 09 Ramadhan 1431
H].
Tidak
terasa 65 tahun sudah usia kemerdekaan Indonesia. Tidak ada lagi bangsa Jepang
atau Belanda sebagai penguasa dan pemerintah di negeri ini.Asumsi kemerdekaan
bagi sebuah bangsa adalah sebaliknya, yakni matang-matangnya capaian artikulasi
kemerdekaan yang meluberkan nilai-nilai ideal ke setiap relung nafas dan ruang
hidup warga negaranya.
Namun fakta berkata
sebaliknya. Negeri yang dulu jadi rebutan para penjajah, kini pun sama.
Indonesia jadi ajang jajahan dengan modus baru oleh bangsa imperialis tamak AS
dan sekutunya.Seperti pepatah, keluar dari mulut buaya masuk ke mulut
harimau.Maka pengibaran bendera tiap 17 Agustus, kehilangan esensi kemerde-kaan
yang hakiki.
Para pemimpin mabuk dengan
doktrin demokrasi, globalisasi dan liberalisasi. Tanpa sadar, dog-ma-dogma yang
dijadikan “topeng” penjajahan gaya baru itu menyebabkan lahirnya
kebijakan-kebijakan yang membuat kemerdekaan tak berarti untuk anak negeri.
Dengan kekuatan lobi dan
jejaring serta dominasi sain teknologinya, imperialis mengkooptasi semua
potensi yang ada diperut bumi negeri tercinta ini. Mereka mengoyak dan
menyedot semua isi bumi. Indonesia yang kaya, justru miskin.Bila standar
pendapatan 2 dolar/jiwa dipakai, maka lebih dari 100 juta penduduk Indonesia
terkategori miskin.[Harits Abu Ulya,65 Tahun Merdeka tidak Belajar dari
Pengalaman!Mediaummat.com.Wednesday, 27 October 2010].
Indonesia yang kita banggakan
ini bukan karena kita lahir dan besar disini saja tapi terpanggil untuk
mencintainya karena sebuah ungkapan menyatakan bahwa ujud iman itu juga
diaplikasikan dengan mencintai bangsa sendiri. Walaupun dari segi aqidah bagi
seorang muslim negaranya tidak mutlak hanya Indonesia, tapi semua negara dimana
saja ada ummat islam di dalamnya, apalagi mayoritas maka disanalah tanah
airnya, wajib untuk membela dan mempertahankannya dari aggressor kaum zionis,
salibis dan sebangsanya. Apalagi aggressor itu dari bangsa sendiri yang
dilakukan oleh para pemimpin, penguasa dan pejabatnya.
Di zaman imperialisme modern,
cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun
tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain.
Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akan hal ini. Mereka ingin agar
Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara
atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang
sangat besar dan berat.Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri.Selain
utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset
strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing
saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini
digoyang ?jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen
minyak, perusahaan minyak negara -- Pertamina-- kalah jauh dibandingkan dengan
Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar
(sekitar Rp 89 trilyun).
Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia. Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA ,Memerdekakan Kembali Indonesia,Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].
Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat?Jawabnya, tentu karena kita lemah.Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia.Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial.Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar.Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah.Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia. Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.[Adian Husaini, MA ,Memerdekakan Kembali Indonesia,Hidayatullah.com.Kamis, 08 Juli 2004].
Dasar tauhid itu berangkat dari keimanan yang mantap maka semua
komponen bangsa akan merasakan amannya hidup di negara Indonesia yang kita
cintai ini, factor iman itulah yang menjadikan bangsa ini hidup secara benar,
jujur dan amanah dalam mengemban tugas yang diberikan, bila iman sudah hilang
maka keberadaan rakyat hingga penguasanya jadi rusak.
Iman itu pada awalnya
diucapkan secara lisan (qaulun bi al-Lisan), kemudian disertai dengan keyakinan
di dalam hati (i'tiqadun bi al-Janan), dan lantas konsekuensi logisnya
dilanjutkan dalam bentuk amalan ('amalun bi al-Arkan).
Dari akar "iman" ini
pula ada kosakata "aman" yang mengisyaratkan pada kita bahwa iman itu
akan menghasilkan rasa aman, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Iman dan aman, ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi.Secara kimiawi
adalah merupakan dua entitas yang senyawa dan tak mungkin bertentangan.
Aman, rasa aman, dan keamanan
adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan setiap insan. Sebab,
tidaklah beriman seseorang yang tidak mampu memberikan rasa aman kepada orang
lain. Keamanan memang bukan segalanya, namun kehilangan rasa aman, orang bisa
kehilangan segalanya.
Kemudian, dari akar
kata"aman" ini juga ada istilah "amanat". Artinya,
seorang yang beriman (mukmin) sudah pasti dituntut harus berlaku amanat
(jujur).Antonim amanat adalah khianat (tidak jujur), yang tentu tidak senyawa
dengan sifat amanat yang baik dan membaikkan itu.
Apa yang terjadi saat ini di
negeri kita adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan. Karena pendidikan
keimanan gagal, rasa aman hilang di tengah-tengah kita.Di mana-mana telah
terjadi kerusuhan dan keonaran.Musibah berupa banjir, longsor, gempa bumi,
ataupun kebakaran terjadi bertubi-tubi membuat ketakutan semakin
mencekam-melengkapi penderitaan yang mendera masyarakat.
Karena iman yang tipis pula, amanat berubah menjadi khianat.Mereka yang diberi
kesempatan, bahkan kehormatan untuk mengelola bumi, ternyata telah melakukan
pelanggaran keimanan dengan berlaku tidak jujur.Korupsi dan penyelewengan
terjadi di sana-sini.Rakyat kecil yang tidak berdosa terkena imbasnya.Mereka
harus menanggung akibat yang ditimbulkan dari krisis iman dan amanat tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, orang
yang khianat dan curang itu akan kehilangan agama (HR Abu Dawud). Dan, sifat
pengkhianat berarti merusak iman (HR Muslim). Karena itu, Rasul menganjurkan
umatnya untuk senantiasa bersyukur dalam kondisi apa pun, karena hal itu
merupakan bagian dari iman.[Prof Dr HM Baharun, Apa yang Hilang di Negeri Ini, Republika.co.id.Ahad, 06 Juni 2010,
06:00 WIB].
Kita bisa menilai, alangkah
jauhnya tujuan kemerdekaan itu dari kehidupan kita sekarang.Kita menyaksikan,
begitu lemahnya kemampuan pemerintah RI untuk melindungi bangsa dan tumpah
darah NKRI.Jutaan warga Indonesia tidak mendapatkan perlindungan yang layak di
luar negeri.Puluhan trilyun rupiah hasil lautan kita dijarah kapal-kapal
asing.Sumber daya alam kita makin menipis, tanpa memberikan dampak yang berarti
bagi kehidupan bangsa Indonesia.
Kesejahteraan umum untuk kebanyakan
rakyat kita, kini terasa semakin menjauh. Kemiskinan begitu
merajalela.Kesulitan hidup ada dimana-mana.Angka kemiskinan 39 juta yang
dikeluarkan pemerintah sulit untuk dipercaya. Entah standar apa yang digunakan
sampai ketemu angka seperti itu. Jumlah buruh tani dan keluarganya saja sudah
lebih dari 20 juta jiwa.Betapa pilunya di negeri yang dikaruniai dengan
kekayaan alam yang melimpah ruah ini, justru kita menyaksikan rakyat kita antre
untuk mendapatkan minyak tanah, minyak goreng, beras murah, dan sebagainya.
Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa
juga bisa kita pertanyakan sekeras-kerasnya.Biaya pendidikan semakin
melambung.Untuk Fakultas Kedokteran di kampus-kampus negeri, mahasiswa
diwajibkan membayar puluhan juta.
Jika melalui jalur khusus bisa
berkisar pada angka ratusan juta rupiah.Pendidikan semakin mahal.Kita memang
menyaksikan sejumlah prestasi besar di dunia olimpiade fisika, matematika,
Biologi, dan sebagainya, tetapi itu diraih oleh beberapa gelintir pelajar.
Apakah kita sudah berperan dalam
melaksanakan ketertiban dunia?Tentu saja, dalam beberapa hal, kita sudah
melakukan hal itu. Tetapi, secara umum, harus kita akui, bahwa kewibawaan kita
sebagai sebuah bangsa yang dihuni 230 juta jiwa lebih, dengan komposisi Muslim
sekitar 87 persennya, masih belum dipandang sebelah mata oleh negara-negara
lain. Singapura saja yang begitu kecil, sama sekali tidak menampakkan keseganan
terhadap Indonesia.
Mengapa bangsa kita menjadi lemah
dan tidak berdaya?Mengapa kita menjadi lemah?Sebabnya jelas, karena kita tidak
mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Dalam pembukaan UUD 1945 yang
sebenarnya merupakan naskah Piagam Jakarta telah disebutkan dengan jelas, bahwa
kemerdekaan Indonesia terjadi ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.”
Jika kita menyadari bahwa kemerdekaan adalah rahmat Allah, maka seharusnya kita
memanfaatkan dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang diridhai oleh
Allah.
Seharusnya kita mensyukuri
kemerdekaan ini dengan menjadikan ajaran-ajaran Allah SWT sebagai pedoman dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara; bukan menjadikan hawa nafsu dan
aturan-aturan kolonial sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Allah SWT telah menjanjikan,
bahwa: “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka
pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka
mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan
mereka sendiri” (QS Al-A’raf:96).
Beberapa ayat al-Quran al-Karim
memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan al-Quran ini
sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kaum Muslimin di
Indonesia, agar mereka tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan
oleh umat terdahulu, yang dengan sombongnya menentang Allah dan para Rasul-Nya.
Bahkan sebagian mereka dengan terang-terangan menantang agar azab Allah
diturunkan atas mereka.Ketika mereka sudah durhaka dan lupa kepada Allah, maka
Allah membiarkan kaum yang durhaka itu untuk mengumbar hasa nafsu mereka, dan
kemudian Allah menghancurkan mereka dengan azab-Nya.[Adian Husaini,"Mensyukuri Kemerdekaan",Hidayatullah.com. Senin, 20 Agustus 2007].
Nampaknya
Indonesia yang kita cintai ini masih berada dalam penjajahan walaupun
penjajahan itu dari bangsa sendiri namun kekejaman dan dampaknya luar biasa
terhadap kehancuran rakyat dan bangsanya.Kemerdekaan yang merupakan jalan untuk
menghasilkan kemakmuran bagi rakyatnya ternyata berganti dengan kesengsaraan
dibawah kekuasaan penguasa bangsa sendiri.
Pada
dekade 1920-an atau sebelum datangnya masa depresi besar. Saat itu, Hindia Belanda
yang kemudian pada 1945 wilayahnya berganti nama menjadi Indonesia, mencapai
zaman keemasannya. Para leluhur saat itu menyebutnya sebagai 'zaman
normal'.Roti dan keju mudah didapat.Sandang pangan murah.Negara relatif
tenteram.Catatan arsip saat itu menyatakan, wilayah Hindia Belanda ini sangat
makmur. Seorang buruh yang datang dari pedalaman Batavia hanya perlu kerja
beberapa hari di kota untuk mencukupi kebutuhannya selama sebulan. Bahkan,
dikabarkan saking makmurnya, buah-buahan banyak yang terpaksa busuk di pohon
karena tidak ada yang berminat memetiknya.
Kenyataan
ini dapat dimengerti.Saat itu konsolidasi kekuasaan kolonial sudah
selesai.Jenderal Van Heutsz berhasil menyatukan wilayah yang dahulu
terpecah-pecah dalam banyak kerajaan.Tanah dari Sabang-Merauke memberikan
kemakmuran, bukan hanya bagi warganya tapi bagi pihak kolonialnya.Kota
Amsterdam dibangun sangat megah dari hasil kekayaan yang 'dirampok' dari Hindia
Belanda. Di Batavia, misalnya, kemudian dibangun kota satelit yang mewah, yakni
Menteng.
Tapi, situasi ini tak berlangsung lama.Depresi melanda dunia.Kemudian, muncul Perang Dunia II.Situasi makmur pun berbalik.Perlahan tapi pasti, wilayah Hindia Belanda bangkrut kembali.Keadaan ini memuncak pada zaman Jepang, di mana saat itu terjadi kelaparan yang akut di wilayah ini.Dan, kondisi keterpurukan terus berlangsung hingga pascakemerdekaan.Rezim Soekarno lebih asyik membangun politik, sementara kesejahteraan rakyat terabaikan. Rezim Soeharto sempat hendak bisa memakmurkan negara, tapi dia keburu jatuh ketika berteriak akan melakukan tinggal landas pada ujung dekade 90-an. Setelah itu, suasana terasa serba 'gelap' hingga sekarang.
Tapi, situasi ini tak berlangsung lama.Depresi melanda dunia.Kemudian, muncul Perang Dunia II.Situasi makmur pun berbalik.Perlahan tapi pasti, wilayah Hindia Belanda bangkrut kembali.Keadaan ini memuncak pada zaman Jepang, di mana saat itu terjadi kelaparan yang akut di wilayah ini.Dan, kondisi keterpurukan terus berlangsung hingga pascakemerdekaan.Rezim Soekarno lebih asyik membangun politik, sementara kesejahteraan rakyat terabaikan. Rezim Soeharto sempat hendak bisa memakmurkan negara, tapi dia keburu jatuh ketika berteriak akan melakukan tinggal landas pada ujung dekade 90-an. Setelah itu, suasana terasa serba 'gelap' hingga sekarang.
Lebih
tragis lagi, catatan semenjak 2005 oleh majalah Foregin Policy dengan bekerja
sama dengan lembaga think-thank-nya Amerika, The Fund for Peace, Indonesia
terus saja dimasukkan dalam kelompok negara yang terancam gagal. Indeksnya
berada pada peringkat ke-60.Indikasinya terlihat dari terus memburuknya
kualitas pelayanan pemerintahan, pelayanan umum, korupsi, kriminalitas, dan
ekonomi yang tetap tak kunjung membaik. Indonesia berada dalam satu jajaran
bersama sejumlah negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin seperti Myanmar,
Konggo, Haiti, Uganda, serta negara-negara pecahan Uni Sovyet.
Yang
paling celaka lagi, di tengah kondisi yang kontraproduktif, rakyat dan elite
politik jalan sendiri-sendiri.Posisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono terus merosot.Survei-survei malah menyatakan rakyat kini menganggp
kondisi rezim Soeharto jauh lebih baik.Mereka berkilah, saat itu harga-harga
kebutuhan pokok, pembiayaan kesehatan, dan ongkos pendidikan masih terjangkau.
"Ibaratnya
sekarang, karena kondisinya lebih buruk, apa pun yang dahulu dilakukan zaman
Pak Harto dianggap lebih baik. Padahal saat itu juga sebenarnya tak begitu
baik.Ibaratnya, dahulu ada rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga 10
persen dianggap baik, karena rentenir yang ada sekarang meminta bunga 20
persen.Ya itulah keadaannya," kata mantan Menteri Ekonomi semasa zaman
Orde Baru, Fuad Bawazier.
Yang
mengenaskan, di kala konstitusi mengamankan bahwa kekayaan negara dipergunakan
untuk menyejahterakan rakyat, kenyataan kondisinya kini jauh panggang dari api.
Hampir seluruh area pertambangan strategis dikuasai asing. Perbankan bahkan
banyak dibiarkan modalnya dikuasai 95 persen oleh asing.[Muhammad Subarkah,Negara
Gagal di Pelupuk Mata? Republika.co.id.Rabu, 15 Juni 2011 pukul 17:01:00].
Dengan kondisi Indonesia yang sedang
terpuruk ini seperti asset negara dimiliki asing, hutang negara kita tidak akan
lunas hingga tujuh keturunan, korupsi menunjukkan peringkat atas, hilangnya
ketidakadilan, para penguasa yang tidak amanah, yang semuanya itu disebabkan
hilangnya iman di hati ummat dan rakyat Indonesia karena telah menjauhkan islam
dari kehidupan, yang lebih berperan adalah hawa nafsu dan ambisius belaka
ditambah lagi usaha dari orientalis dan sekuleris untuk menghancurkan Indonesia
ini dengan berbagai isme seperti Liberalisme dan Pluralisme.
Sudah selayaknya kita kembali berjuang untuk
memerdekakan kembali bangsa ini dari segala bentuk penjajahan, bebaskan
Indonesia dari segala kolonialisme apapun bentuknya, bila tidak ada usaha untuk
itu maka dalam waktu dekat kita akan karam dalam lautan yang akan
menenggelamkan negeri Indonesia ini, wallahu a’lam wallahu a’lam [Takziyah
Ibuk Rosnidar 12082011 di Metro Lampung, 15 Agustus 2011.M/ 15 Ramadhan
1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar