Kamis, 18 Februari 2016

250. Profesional



Pekerjaan yang digeluti manusia disebut dengan profesi, mengerjakan profesi dengan baik, hasil yang berkualitas, penuh tanggung jawab maka kerja itu disebut dengan professional. Pekerjaan yang dilakukan dengan professional merupakan prinsip islam yang harus dilakukan oleh seorang muslim, apapun pekerjaan yang digelutinya.

Profesional.Secara kata memang terdiri dari 11 huruf. Tapi bila dihayati dan diterjemahkan dalam tindakan nyata, akan tercipta hasil luar biasa! Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya.Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalammelaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas, Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti

Dan kata profesional bukan hanya kata baku yang diperuntukkan bagi mereka yang kerja dikantoran. Bekerja di dalam ruang berAC, memakai kemeja, jas mahal, celana bahan bagi laki-lakinya, atau memakai blazer, rok mini, berkutat dengan orang-orang penting yang biasa disebut dengan istilah “meeting”. Tidak! kata professional berlaku untuk setiap profesi. Termasuk guru.

Guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Bila ia tak punya keahlian menjadi guru maka tidak dapat disebut sebagai guru. Oleh karnanya tidak semua orang bisa menjadi guru.[Nessa Morena Menjadi Guru Profesional ,Republika.co.id.Rabu, 07 April 2010 06:32].

Orang yang bekerja secara professional sangat tidak nyaman bila berhadapan dengan lingkungan pekerja asal jadi karena mereka ingin agar kerjanya berhasil dengan kualitas yang baik, sehingga sangatlah menyesakkan bila dia dipekerjakan bukan pada bidangnya.

Seorang insinyur (misalnya) mengeluh, oleh karena ia ditempatkan di suatu jabatan yang tidak sesuai dengan profesinya. Jabatan lamanya, yang sesuai dengan profesinya, digantikan orang lain. Ia mengeluh, bahwa penempatan jabatan di daerahnya banyak berbau politik. Sebagai seorang profesional, ia menjadi sangat tidak nyaman melaksanakan tugasnya. Alhamdulillah, ia bisa menerima kenyataan itu dengan ikhlas, sehingga tidak merasa perlu untuk mengundurkan diri. Mungkin juga setengah terpaksa, mau apa? Sebab, ia menjelang pensiun. Jabatan, ternyata telah menjadi perebutan politik.Bilamana perlu, mengabaikan aspek profesionalisme.Semua itu terjadi, ketika good governance sedang digalakkan.Tidakkah hal itu merupakan sebuah ironi?

Kasus itu, mungkin tergolong kasus kecil.Sebab, terjadi di tingkat daerah.Adapun kasus yang besar, yang berdampak politik nasional adalah kasusnya Sri Mulyani dan Anggito Abimanyu.Tanpa menyentuh mazhab pemikiran ekonominya dapat dikatakan keduanya sebagai akademisi dan profesional.Setia pada pemikirannya dan bersedia mempertaruhkan kehormatan profesinya.Keduanya, kesandung politik.Sri Mulyani merasa tidak nyaman bekerja secara profesional di lingkungan politik yang dikatakannya sebagai politik kartel, sementara Anggito Abimanyu merasa kehormatan profesionalnya terganggu.Sri Mulyani terpental ke Washington, sementara Anggito pulang kampung ke Yogya untuk kembali sebagai dosen dan bermain musik. Dengan cara begitu, keduanya merasa lebih nyaman. Dapat bersikap independen didalam menjalani profesi dan kehidupannya.[Sulastomo, Politik, Profesionalisme, dan Demokrasi,Pelita Hari Harian Pelita.com.].

Selain dari dua tokoh tersebut sebenarnya banyak professional Indonesia yang tidak menempati profesinya karena tidak dimanfaatkan oleh pasar sebagaimana yang dikatakan oleh Habibie bahwa sebagai bangsa kita sudah mendidik ribuan tenaga professional di bidang sains tapi dimanfaatkan oleh orang lain sehingga di Indonesia tinggal tenaga-tenaga ahli yang tidak ahli di bidangnya , lebih jauh dia mengatakan;

Sebanyak 48 ribu tenaga ahli berbagai bidang dari S2 (master) hingga S3 (doktor) yang dipersiapkan pemerintah sejak zaman Soeharto oleh Menristek Prof Dr BJ Habibie waktu itu, tidak diketahui lagi keberadaannya.Saat ini, sebagian besar mereka bekerja di beberapa negara Eropa dan Amerika.
“15 Tahun lalu, sebanyak 48 ribu insinyur berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal laut, dan bidang science lainnya yang kita sekolahkan ke luar negeri itu pada kemana? Tidak banyak yang diketahui sekarang ini,” kata Habibie saat menyampaikan orasi budaya di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY, Sabtu (5/2/2011).

Menurutnya, sebagian besar dari mereka yang pernah disekolahkan ke luar negeri oleh pemerintah Indonesia, saat ini banyak yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga ahli bidang pesawat terbang, perkapalan, dan industri strategis lainnya.

“Kita yang menyekolahkan mereka lima belas tahun lalu, tapi negara lain yang panen. Mereka banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brazil,” kata mantan presiden ketiga Indonesia itu.[48 Ribu Tenaga Ahli Indonesia Dimanfaatkan Negara Lain,Cyber SabiliMinggu, 06 Februari 2011 10:30 Dwi Hardianto].

Kerja yang professional merupakan tuntutan amal dalam ajaran Islam yang seharusnya jadi jatidiri ummatnya, kerja yang professional dalam istilah Islam disebut dengan ihsan dan itqan.Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc menjelaskan bekerja secara ihsan dan itqan ini dalam uraiannya di bawah ini;
Ihsan dan itqan adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini.Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya, kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.

Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui."
Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR Thabrani).

Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.[Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas,Republika.co.id.Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].

Allah juga mengajarkan kepada hamba-Nya agar melakukan sesuatu itu secara baik, rapi dan professional dalam seluruh pekerjaan, kejadian langit dan bumi bahkan alam jagat raya ini diciptakan oleh Allah melalui proses yang professional sehingga hasilnya rapi, baik dan tidak ditemukan cacat dalam penciptaannya.DR. Amir Faishol Fathmengungkapkan firman Allah dan menjelaskan makna professional sebagaimana kutipan berikut ini;

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”Al Mulk:3-4

Kata profesional (itqaan) artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna.Tidak ada di dalamnya main-main.Semua perbuatan Allah mutqin.Maka ciptaan-Nya sangat sempurna.Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan Allah. Imam Ash Shuyuthi menulis sebuah buku berjudul ”Al Itqaan fii uluumil Qur’an”. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar tahu bahwa buku tersebut mencerminkan judulnya.Apa saja yang berkenaan dengan ilmu-ilmu Al Qur’an dibahasa oleh Imam Ash shuyuthi secara mendalam. Tidak hanya itu, buku ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan dengan Ulumul Qur’an –ilmu-ilmu tentang Al Qur’an-.Para ulama mengatakan bahwa buku inilah yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an.Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Qur’an, sangat di anjurkan –kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.

Allah Tidak Pernah Main-main
Ayat di atas menggambarkan betapa Alah swt.dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun.Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat sekali lagi.Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih. Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak beberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:

Pertama, bahwa Allah swt.tidak pernah main-main dalam segala ciptaan-Nya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan.Maka sungguh tidak masuk akal jika kamudian manusia main-main.Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt.

Coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengatakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa, makan-minum-tidur?Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam di bawahnya tidak pernah memperhatikannya. Kalaupun memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal Pencipta-Nya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dokumentasi pengetahuan belaka….

Kedua, bahwa Allah menantang ”challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaan-Nya. Mengapa?Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan main-main.Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas manusia yang main-main.Karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan asal-asalan.Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt.menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam buknya ”Majmu’ Fatawa”, bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt.dalam surat Al Mu’minun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’.[Amal Dakwah Yang Profesional,dakwatuna.com 9/4/2008 | 02 Rabiuts Tsani 1429 H].

Laporan itu sudah sering didengar Umar. Laporan tentang kinerja gubernur Kufah, Ammar bin Yasir. Tak mau berlama-lama karena khawatir muncul fitnah, Umar bin Khaththab segera memanggil sang gubernur. Dari laporan yang ia terima, Umar mendapat kabar bahwa sang gubernur tidak mengerti tugasnya sebagai kepala pemerintahan daerah. Ammar dianggap warganya tidak memahami seluk beluk wilayah Kufah dan sekitarnya.

Ketika Ammar datang menghadap, Umar segera mengklarifikasi keluhan masyarakat tersebut. Kepada Ammar, sang Khalifah menanyakan letak beberapa kota yang berdekatan dengan Kufah. Lantaran jawabannya tidak memuaskan, Ammar pun terpaksa meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Kufah. Bagi Umar, pengetahuan tentang suatu daerah bagi seorang pemimpin amatlah penting. Bagaimana ia bisa menentukan kebijakan kalau kondisi dan letak wilayah kepemimpinannya tak ia pahami.

Pada kisah yang dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar (Kejeniusan Umar) ini, terdapat pelajaran menarik.Umar juga telah memberikan pelajaran bagaimana mengambil keputusan.Ia tahu persis tingkat keshalihan dan posisi Ammar bin Yasir di kalangan para sahabat Nabi saw. Ammar bin Yasir merupakan sahabat Rasulullah saw yang begitu dekat dengan beliau. Ammarlah yang pertama kali "menyumbangkan" kedua orang tuanya Sumayyah dan Yasir untuk Islam.Kedua orang tuanya gugur menjemput syahid di tangan kafir Quraisy dalam rangka mempertahankan keimanannya.

Rasulullah pun telah menjanjikan surga kepada Yasir dan keluarganya termasuk Ammar. Kemuliaan sahabat Nabi saw yang “menyumbangkan” telinganya pada Perang Yamamah ini sehingga ketika terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan dirinya, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!"

            Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf. Selain itu, sahabat Nabi yang bertubuh tinggi dengan bahu yang bidang dan bermatanya biru ini adalah sosok yang zuhud dan amat pendiam.Ia tak suka bicara kecuali hal yang penting.  Ibnu Abi Hudzail pernah mengatakan, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar. Ia mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, lalu membawanya pulang.”

Namun demikian, dengan segala kelebihannya itu, Umar tidak segan-segan memberhentikannya dari jabatan gubernur. Bagi Umar, jabatan bukanlah anugerah, tapi amanah. Umarlah yang menunjuk Ammar untuk menjabat Gubernur Kufah.Maka, kalau terjadi apa-apa, dia juga bertanggung jawab.

Ini pelajaran berharga bagi para pemimpin. Bahwa, sikap tegas dan berani bertindak harus dilakukan apa pun kondisinya. Kalau lantaran Ammar tak menguasai wilayah kepemimpinannya, Umar berani memberhentikannya, apalagi kalau mereka yang cacat moral, tidak profesional dan abai terhadap aturan yang telah ditetapkan.Merupakan hak seorang pemimpin untuk menindak anak buahnya yang tak layak memegang jabatan.

Di sisi lain, keberanian Umar menindak Gubernur Ammar dilandasi oleh kinerjanya dan kemampuannya sendiri. Ia berani memberhentikan Ammar karena Umar sendiri punya kemampuan luar biasa. Karenanya, tidak benar jika ada yang mengatakan, Umar tak menguasai pengetahuan yang dapat menunjang kepemimpinannya menangani wilayah kedaulatan Islam.

Sebagaimana juga tidak benar kalau ada yang mengatakan Umar tak memahami perhitungan matematis.Di masa Jahiliyah, Umar adalah seorang pedagang.Ia pun sudah terbiasa mengutus pasukan perang dengan perhitungan secara matematika dengan baik. Salah satu buktinya, dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad ini terjadi saat Abu Hurairah membawa harta rampasan perang dari Hajar dan Bahrain.“Berapa harta yang kau bawa?” tanya Umar. “Lima ratus ribu dirham,” jawab Abu Hurairah.“Apakah engkau tahu jumlah sebesar itu?” tanya Umar.“Seratus ribu ditambah seratus ribu sampai lima kali,” jawab Abu Hurairah mantap.“Kau mengantuk.Sebaiknya engkau pulang dulu, besok kembali lagi ke sini,” tandas Umar.

                  Kisah tersebut oleh sebagian kalangan yang ingin membuat citra buruk Umar digunakan sebagai legimitasi bahwa sang Khalifah tak mengerti hitungan-hitungan. Padahal, sejak diangkat menjadi khalifah, Umar senantiasa melakukan perhitungan cermat mengenai jumlah tentara dan harta kaum Muslimin. Ungkapannya kepada Abu Hurairah dalam dialog di atas adalah ucapan syukur betapa besarnya harta rampasan perang yang mereka peroleh.

Pada diri Umar benar-benar terangkum dua pribadi yang berlawanan.Di satu sisi Umar dikenal dengan ketegasannya dan keberaniannya, yang juga ditunjang oleh kekuatan fisiknya. Hal ini tak mengherankan karena sejak kecil ia senang dengan beragam olahraga. Ia gemar melakukan gulat dan pacuan kuda.

Dalam suratnya kepada para gubernur, Umar pernah menyarankan mereka agar memasyarakatkan olahraga.“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian berenang dan menunjukkan sikap jantan.Tunjukkan pula teladan yang baik melalui kata-kata indah. Kekuatan tidak akan melemah selama kita masih menempa diri dengan berolahraga, baik memanah, pacuan kuda tanpa pelana, maupun olahraga lain,” ujar Umar dalam suratnya.

Di satu sisi, dalam diri Umar tumbuh cinta kasih dan sayang.Hal ini disebabkan lantaran Umar dikenal sebagai sosok yang mengagumi keindahan dan seni.Ketika berpidato, pengucapan kata-katanya sangat jelas, jernih dan mudah dipahami.Pilihan kalimatnya penuh dengan kata-kata indah.Suaranya yang tenor mampu mengeluarkan vokal yang jernih dan indah.

 Kepiawaian Umar bin Khaththab merangkai kata-kata indah, diakui banyak orang. Namun untuk menyebut Umar sebagai penyair, mereka berbeda pendapat.Asy-Sya’bi pernah berkomentar, “Umar adalah seorang penyair.”Namun dengan segenap tawadhu, Umar menyangkal kalau dirinya penyair.“Seandainya aku seorang penyair, akan kurangkai kata-kata puitis tentang kematian saudaraku, Zaid bin Khaththab,” ujar Umar. Tapi di sisi lain, Umar menyadari kepandaiannya berorasi. “Andai aku bukan khalifah, mungkin aku menjadi ahli pidato,” ungkap Umar.Dua sisi berlawanan inilah yang melekat pada diri Umar dan menjadi modalnya menjalankan amanah.[Republika co.id, Dua Sisi Umar ,Rabu, 05 Agustus 2009 11:30].

Rasulullah sudah jauh-jauh hari menyampaikan amanatnya kepada para sahabat agar bekerja itu secara professional sebagaimana yang disampaikan dalam sabdanya bahwa bila pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya maka tunggulah kehancurannya, atau ada sahabat yang bernama Abu Dzar meminta jabatan kepada beliau, dengan sabdanya beliau menyatakan, jabatan itu amanah hanya bisa dijabat oleh orang-orang yang kuat, sedangkan engkau orang yang lemah. Makna lemah disini bukan fisik dan mental saja tapi juga tidak adanya keahlian untuk mengemban amanah itu,  Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar