Pekerjaan
yang digeluti manusia disebut dengan profesi, mengerjakan profesi dengan baik,
hasil yang berkualitas, penuh tanggung jawab maka kerja itu disebut dengan
professional. Pekerjaan yang dilakukan dengan professional merupakan prinsip
islam yang harus dilakukan oleh seorang muslim, apapun pekerjaan yang
digelutinya.
Profesional.Secara
kata memang terdiri dari 11 huruf. Tapi bila dihayati dan diterjemahkan dalam
tindakan nyata, akan tercipta hasil luar biasa! Menjadi profesional, berarti
menjadi ahli dalam bidangnya.Dan seorang ahli, tentunya berkualitas
dalammelaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi
berkualitas, Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga
menyangkut persoalan integritas dan personaliti
Dan kata
profesional bukan hanya kata baku yang diperuntukkan bagi mereka yang kerja
dikantoran. Bekerja di dalam ruang berAC, memakai kemeja, jas mahal, celana
bahan bagi laki-lakinya, atau memakai blazer, rok mini, berkutat dengan
orang-orang penting yang biasa disebut dengan istilah “meeting”. Tidak! kata
professional berlaku untuk setiap profesi. Termasuk guru.
Guru harus
memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Bila ia
tak punya keahlian menjadi guru maka tidak dapat disebut sebagai guru. Oleh
karnanya tidak semua orang bisa menjadi guru.[Nessa Morena Menjadi Guru Profesional ,Republika.co.id.Rabu, 07
April 2010 06:32].
Orang yang
bekerja secara professional sangat tidak nyaman bila berhadapan dengan
lingkungan pekerja asal jadi karena mereka ingin agar kerjanya berhasil dengan
kualitas yang baik, sehingga sangatlah menyesakkan bila dia dipekerjakan bukan
pada bidangnya.
Seorang insinyur (misalnya) mengeluh, oleh karena ia
ditempatkan di suatu jabatan yang tidak sesuai dengan profesinya. Jabatan
lamanya, yang sesuai dengan profesinya, digantikan orang lain. Ia mengeluh,
bahwa penempatan jabatan di daerahnya banyak berbau politik. Sebagai seorang
profesional, ia menjadi sangat tidak nyaman melaksanakan tugasnya.
Alhamdulillah, ia bisa menerima kenyataan itu dengan ikhlas, sehingga tidak
merasa perlu untuk mengundurkan diri. Mungkin juga setengah terpaksa, mau apa?
Sebab, ia menjelang pensiun. Jabatan, ternyata telah menjadi perebutan
politik.Bilamana perlu, mengabaikan aspek profesionalisme.Semua itu terjadi,
ketika good governance sedang digalakkan.Tidakkah hal itu merupakan sebuah
ironi?
Kasus itu, mungkin tergolong kasus kecil.Sebab, terjadi di
tingkat daerah.Adapun kasus yang besar, yang berdampak politik nasional adalah
kasusnya Sri Mulyani dan Anggito Abimanyu.Tanpa menyentuh mazhab pemikiran
ekonominya dapat dikatakan keduanya sebagai akademisi dan profesional.Setia pada
pemikirannya dan bersedia mempertaruhkan kehormatan profesinya.Keduanya,
kesandung politik.Sri Mulyani merasa tidak nyaman bekerja secara profesional di
lingkungan politik yang dikatakannya sebagai politik kartel, sementara Anggito
Abimanyu merasa kehormatan profesionalnya terganggu.Sri Mulyani terpental ke
Washington, sementara Anggito pulang kampung ke Yogya untuk kembali sebagai
dosen dan bermain musik. Dengan cara begitu, keduanya merasa lebih nyaman.
Dapat bersikap independen didalam menjalani profesi dan kehidupannya.[Sulastomo,
Politik, Profesionalisme, dan Demokrasi,Pelita Hari Harian Pelita.com.].
Selain dari dua tokoh tersebut sebenarnya banyak
professional Indonesia yang tidak menempati profesinya karena tidak
dimanfaatkan oleh pasar sebagaimana yang dikatakan oleh Habibie bahwa sebagai
bangsa kita sudah mendidik ribuan tenaga professional di bidang sains tapi
dimanfaatkan oleh orang lain sehingga di Indonesia tinggal tenaga-tenaga ahli
yang tidak ahli di bidangnya , lebih jauh dia mengatakan;
Sebanyak 48 ribu
tenaga ahli berbagai bidang dari S2 (master) hingga S3 (doktor) yang
dipersiapkan pemerintah sejak zaman Soeharto oleh Menristek Prof Dr BJ Habibie
waktu itu, tidak diketahui lagi keberadaannya.Saat ini, sebagian besar mereka
bekerja di beberapa negara Eropa dan Amerika.
“15 Tahun lalu,
sebanyak 48 ribu insinyur berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal laut,
dan bidang science lainnya yang kita sekolahkan ke luar negeri itu pada kemana?
Tidak banyak yang diketahui sekarang ini,” kata Habibie saat menyampaikan orasi
budaya di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di kawasan
Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY, Sabtu (5/2/2011).
Menurutnya,
sebagian besar dari mereka yang pernah disekolahkan ke luar negeri oleh
pemerintah Indonesia, saat ini banyak yang bekerja di luar negeri sebagai
tenaga ahli bidang pesawat terbang, perkapalan, dan industri strategis lainnya.
“Kita yang
menyekolahkan mereka lima belas tahun lalu, tapi negara lain yang panen. Mereka
banyak yang bekerja sebagai tenaga ahli di Eropa, Amerika, bahkan di Brazil,” kata mantan presiden ketiga Indonesia
itu.[48 Ribu Tenaga Ahli Indonesia Dimanfaatkan Negara Lain,Cyber SabiliMinggu,
06 Februari 2011 10:30 Dwi Hardianto].
Kerja yang
professional merupakan tuntutan amal dalam ajaran Islam yang seharusnya jadi
jatidiri ummatnya, kerja yang professional dalam istilah Islam disebut dengan
ihsan dan itqan.Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc menjelaskan bekerja secara ihsan dan
itqan ini dalam uraiannya di bawah ini;
Ihsan dan itqan
adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan
amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan
kehidupannya di dunia ini.Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya,
kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam
persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: "(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."
Jika seorang
Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik,
baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya.
Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara
pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga
betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan
mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.
Seorang Muslim
yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif,
ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar
betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan
bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan
ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan
dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah
SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.
Allah SWT
berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu
mengetahui."
Sedangkan, itqan
berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga
dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan
tersebut tuntas dan selesai dengan baik.Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu
pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan." (HR
Thabrani).
Karena itu,
ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam
melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT
maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai
ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.[Ihsan dan
Itqan-lah dalam Mengemban Tugas,Republika.co.id.Jumat, 06 Mei 2011 11:35 WIB].
Allah juga
mengajarkan kepada hamba-Nya agar melakukan sesuatu itu secara baik, rapi dan
professional dalam seluruh pekerjaan, kejadian langit dan bumi bahkan alam
jagat raya ini diciptakan oleh Allah melalui proses yang professional sehingga
hasilnya rapi, baik dan tidak ditemukan cacat dalam penciptaannya.DR. Amir Faishol Fathmengungkapkan
firman Allah dan menjelaskan makna professional sebagaimana kutipan berikut
ini;
“Yang telah menciptakan
tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan
Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.Maka lihatlah berulang-ulang,
adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?Kemudian pandanglah sekali lagi
niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu
cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”Al Mulk:3-4
Kata profesional (itqaan)
artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna.Tidak ada di
dalamnya main-main.Semua perbuatan Allah mutqin.Maka ciptaan-Nya sangat
sempurna.Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan
Allah. Imam Ash Shuyuthi menulis sebuah buku berjudul ”Al Itqaan fii uluumil
Qur’an”. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar tahu bahwa buku
tersebut mencerminkan judulnya.Apa saja yang berkenaan dengan ilmu-ilmu Al
Qur’an dibahasa oleh Imam Ash shuyuthi secara mendalam. Tidak hanya itu, buku
ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan dengan Ulumul
Qur’an –ilmu-ilmu tentang Al Qur’an-.Para ulama mengatakan bahwa buku inilah
yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan Al Qur’an.Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Qur’an, sangat di
anjurkan –kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.
Ayat di atas menggambarkan
betapa Alah swt.dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat
sedikitpun.Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat
sekali lagi.Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata
tehnologi yang paling canggih. Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan
langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak beberapa makna yang penting
untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:
Pertama, bahwa Allah swt.tidak
pernah main-main dalam segala ciptaan-Nya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta
ini adalah mengagumkan.Maka sungguh tidak masuk akal jika kamudian manusia
main-main.Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt.
Coba renungkan, alasan apa
untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengatakan bahwa semua ciptaan
yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa, makan-minum-tidur?Sebegitu
serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam di bawahnya
tidak pernah memperhatikannya. Kalaupun memperhatikannya dan melakukan
penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal
Pencipta-Nya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dokumentasi pengetahuan
belaka….
Kedua, bahwa Allah menantang
”challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaan-Nya.
Mengapa?Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan
main-main.Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas manusia yang
main-main.Karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan
asal-asalan.Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt.menyebutkan
ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus
khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam
Ibnu Taimiyah mengatakan dalam buknya ”Majmu’ Fatawa”, bahwa khusyu’ dalam
shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt.dalam surat Al Mu’minun
tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya
seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’.[Amal
Dakwah Yang Profesional,dakwatuna.com 9/4/2008 | 02 Rabiuts Tsani 1429 H].
Laporan itu sudah sering didengar Umar. Laporan tentang kinerja
gubernur Kufah, Ammar bin Yasir. Tak mau berlama-lama karena khawatir muncul
fitnah, Umar bin Khaththab segera memanggil sang gubernur. Dari laporan yang ia
terima, Umar mendapat kabar bahwa sang gubernur tidak mengerti tugasnya sebagai
kepala pemerintahan daerah. Ammar dianggap warganya tidak memahami seluk beluk
wilayah Kufah dan sekitarnya.
Ketika Ammar datang menghadap, Umar segera mengklarifikasi keluhan
masyarakat tersebut. Kepada Ammar, sang Khalifah menanyakan letak beberapa kota
yang berdekatan dengan Kufah. Lantaran jawabannya tidak memuaskan, Ammar pun
terpaksa meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Kufah. Bagi Umar, pengetahuan
tentang suatu daerah bagi seorang pemimpin amatlah penting. Bagaimana ia bisa
menentukan kebijakan kalau kondisi dan letak wilayah kepemimpinannya tak ia
pahami.
Pada kisah yang dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar (Kejeniusan Umar) ini, terdapat pelajaran menarik.Umar juga telah memberikan pelajaran bagaimana mengambil keputusan.Ia tahu persis tingkat keshalihan dan posisi Ammar bin Yasir di kalangan para sahabat Nabi saw. Ammar bin Yasir merupakan sahabat Rasulullah saw yang begitu dekat dengan beliau. Ammarlah yang pertama kali "menyumbangkan" kedua orang tuanya Sumayyah dan Yasir untuk Islam.Kedua orang tuanya gugur menjemput syahid di tangan kafir Quraisy dalam rangka mempertahankan keimanannya.
Pada kisah yang dipaparkan oleh Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Abqariyatu Umar (Kejeniusan Umar) ini, terdapat pelajaran menarik.Umar juga telah memberikan pelajaran bagaimana mengambil keputusan.Ia tahu persis tingkat keshalihan dan posisi Ammar bin Yasir di kalangan para sahabat Nabi saw. Ammar bin Yasir merupakan sahabat Rasulullah saw yang begitu dekat dengan beliau. Ammarlah yang pertama kali "menyumbangkan" kedua orang tuanya Sumayyah dan Yasir untuk Islam.Kedua orang tuanya gugur menjemput syahid di tangan kafir Quraisy dalam rangka mempertahankan keimanannya.
Rasulullah pun telah menjanjikan surga kepada Yasir dan
keluarganya termasuk Ammar. Kemuliaan sahabat Nabi saw yang “menyumbangkan”
telinganya pada Perang Yamamah ini sehingga ketika terjadi perselisihan antara
Khalid bin Walid dan dirinya, Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang memusuhi
Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Siapa yang membenci Ammar, maka ia akan
dibenci Allah!"
Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf. Selain itu, sahabat Nabi yang bertubuh tinggi dengan bahu yang bidang dan bermatanya biru ini adalah sosok yang zuhud dan amat pendiam.Ia tak suka bicara kecuali hal yang penting. Ibnu Abi Hudzail pernah mengatakan, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar. Ia mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, lalu membawanya pulang.”
Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf. Selain itu, sahabat Nabi yang bertubuh tinggi dengan bahu yang bidang dan bermatanya biru ini adalah sosok yang zuhud dan amat pendiam.Ia tak suka bicara kecuali hal yang penting. Ibnu Abi Hudzail pernah mengatakan, “Saya melihat Ammar bin Yasir sewaktu menjadi Gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar. Ia mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung, lalu membawanya pulang.”
Namun demikian, dengan segala kelebihannya itu, Umar tidak
segan-segan memberhentikannya dari jabatan gubernur. Bagi Umar, jabatan
bukanlah anugerah, tapi amanah. Umarlah yang menunjuk Ammar untuk menjabat
Gubernur Kufah.Maka, kalau terjadi apa-apa, dia juga bertanggung jawab.
Ini pelajaran berharga bagi para pemimpin. Bahwa, sikap tegas dan berani bertindak harus dilakukan apa pun kondisinya. Kalau lantaran Ammar tak menguasai wilayah kepemimpinannya, Umar berani memberhentikannya, apalagi kalau mereka yang cacat moral, tidak profesional dan abai terhadap aturan yang telah ditetapkan.Merupakan hak seorang pemimpin untuk menindak anak buahnya yang tak layak memegang jabatan.
Di sisi lain, keberanian Umar menindak Gubernur Ammar dilandasi
oleh kinerjanya dan kemampuannya sendiri. Ia berani memberhentikan Ammar karena
Umar sendiri punya kemampuan luar biasa. Karenanya, tidak benar jika ada yang
mengatakan, Umar tak menguasai pengetahuan yang dapat menunjang kepemimpinannya
menangani wilayah kedaulatan Islam.
Sebagaimana juga tidak benar kalau ada yang mengatakan Umar tak
memahami perhitungan matematis.Di masa Jahiliyah, Umar adalah seorang
pedagang.Ia pun sudah terbiasa mengutus pasukan perang dengan perhitungan
secara matematika dengan baik. Salah satu buktinya, dipaparkan oleh Abbas
Mahmud al-Aqqad ini terjadi saat Abu Hurairah membawa harta rampasan perang
dari Hajar dan Bahrain.“Berapa harta yang kau bawa?” tanya Umar. “Lima ratus
ribu dirham,” jawab Abu Hurairah.“Apakah engkau tahu jumlah sebesar itu?” tanya
Umar.“Seratus ribu ditambah seratus ribu sampai lima kali,” jawab Abu Hurairah
mantap.“Kau mengantuk.Sebaiknya engkau pulang dulu, besok kembali lagi ke
sini,” tandas Umar.
Kisah tersebut oleh sebagian kalangan yang ingin membuat citra buruk Umar digunakan sebagai legimitasi bahwa sang Khalifah tak mengerti hitungan-hitungan. Padahal, sejak diangkat menjadi khalifah, Umar senantiasa melakukan perhitungan cermat mengenai jumlah tentara dan harta kaum Muslimin. Ungkapannya kepada Abu Hurairah dalam dialog di atas adalah ucapan syukur betapa besarnya harta rampasan perang yang mereka peroleh.
Kisah tersebut oleh sebagian kalangan yang ingin membuat citra buruk Umar digunakan sebagai legimitasi bahwa sang Khalifah tak mengerti hitungan-hitungan. Padahal, sejak diangkat menjadi khalifah, Umar senantiasa melakukan perhitungan cermat mengenai jumlah tentara dan harta kaum Muslimin. Ungkapannya kepada Abu Hurairah dalam dialog di atas adalah ucapan syukur betapa besarnya harta rampasan perang yang mereka peroleh.
Pada diri Umar benar-benar terangkum dua pribadi yang
berlawanan.Di satu sisi Umar dikenal dengan ketegasannya dan keberaniannya,
yang juga ditunjang oleh kekuatan fisiknya. Hal ini tak mengherankan karena
sejak kecil ia senang dengan beragam olahraga. Ia gemar melakukan gulat dan
pacuan kuda.
Dalam suratnya kepada para gubernur, Umar pernah menyarankan
mereka agar memasyarakatkan olahraga.“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian
berenang dan menunjukkan sikap jantan.Tunjukkan pula teladan yang baik melalui
kata-kata indah. Kekuatan tidak akan melemah selama kita masih menempa diri
dengan berolahraga, baik memanah, pacuan kuda tanpa pelana, maupun olahraga
lain,” ujar Umar dalam suratnya.
Di satu sisi, dalam diri Umar tumbuh cinta kasih dan sayang.Hal
ini disebabkan lantaran Umar dikenal sebagai sosok yang mengagumi keindahan dan
seni.Ketika berpidato, pengucapan kata-katanya sangat jelas, jernih dan mudah
dipahami.Pilihan kalimatnya penuh dengan kata-kata indah.Suaranya yang tenor
mampu mengeluarkan vokal yang jernih dan indah.
Kepiawaian Umar bin
Khaththab merangkai kata-kata indah, diakui banyak orang. Namun untuk menyebut
Umar sebagai penyair, mereka berbeda pendapat.Asy-Sya’bi pernah berkomentar,
“Umar adalah seorang penyair.”Namun dengan segenap tawadhu, Umar menyangkal
kalau dirinya penyair.“Seandainya aku seorang penyair, akan kurangkai kata-kata
puitis tentang kematian saudaraku, Zaid bin Khaththab,” ujar Umar. Tapi di sisi
lain, Umar menyadari kepandaiannya berorasi. “Andai aku bukan khalifah, mungkin
aku menjadi ahli pidato,” ungkap Umar.Dua sisi berlawanan inilah yang melekat
pada diri Umar dan menjadi modalnya menjalankan amanah.[Republika co.id, Dua Sisi Umar ,Rabu, 05 Agustus 2009 11:30].
Rasulullah
sudah jauh-jauh hari menyampaikan amanatnya kepada para sahabat agar bekerja
itu secara professional sebagaimana yang disampaikan dalam sabdanya bahwa bila
pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya maka tunggulah kehancurannya, atau ada
sahabat yang bernama Abu Dzar meminta jabatan kepada beliau, dengan sabdanya
beliau menyatakan, jabatan itu amanah hanya bisa dijabat oleh orang-orang yang
kuat, sedangkan engkau orang yang lemah. Makna lemah disini bukan fisik dan
mental saja tapi juga tidak adanya keahlian untuk mengemban amanah itu, Wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar