Selasa, 09 Februari 2016

171. Raja', Penuh Harap



Hidup yang dilalui manusia mengalami fluktuasi, gelombang pasang dan gelombang naik, ada kalanya yang kita inginkan datang dengan tiba-tiba dan tidak jarang pula yang kita harapkan tak kunjung datang, karena memang kita hidup hanya menjalani skenario dari Allah, jalanilah peran apapun yang kita emban, ibarat seorang pelakon, apapun lakon yang diberikan kepadanya dia berupaya untuk menjadi bintang yang sukses. Selama hidup yang dilalui manusia maka sepanjang itu kita selalu berharap kepada yang Maha Kuasa dengan sifat Rahimnya melalui cetusan perasaan penuh harap.

Manusia dengan sifat fithrahnya tidak mampu hidup sendiri dan pasti membutuhkan pihaklain apalagi dia menyadari kelemahan pribadinya yang nyaris sengsara tanpa bantuan dari yang lain, terutama dari Khaliqnya yaitu Allah swt. Sifat ini merupakan implementasi dari pengakuan seorang muslim dikala mengucapkan kalimat syahadat yaitu “Laa Ilaaha Illallah” dengan pengertian lain adalah “Laa Raaja’a Illallah” artinya tidak ada yang dapat menerima harapan manusia kecali hanya Allah semata.

Raja’ atau mengharap rahmat Allah adalah perasaan tenang dalam hati, untuk menanti apa yang menjadi harapannya. Apabila sarana untuk mencapai harapan itu tidak dimiliki, maka sikap seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai suatu angan-angan semu atau menipu diri sendiri. Namun jika sesuatu yang diharapkan sudah pasti terjadi, maka belum dapat dikatakan suatu pengharapan.

Raja’ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si penanti.Sikap ini bukan sembarang menanti tanpa memenuhi syarat-syarat tertentu, sebab penantian tanpa memenuhi syarat ini disebut berangan-angan (tamniyyan).Orang-orang yang menanti ampunan dan rahmat ALLAH tanpa amal bukanlah Raja’ namanya, tetapi berangan-angan kosong.

Ketahuilah bahwa hati itu sering tergoda oleh dunia, sebagaimana bumi yang gersang yang mengharap turunnya hujan.Jika diibaratkan, maka hati ibarat tanah, keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawatnya.

Dengan mengambil perumpamaan di atas, maka Raja’ seseorang atas ampunan ALLAH adalah sebagaimana sikap penantian sang petani terhadap hasil tanamannya, yang telah ia pilih tanahnya yang terbaik, lalu ia taburi benih yang terbaik pula, kemudian diairinya dengan jumlah yang tepat, dan dibersihkannya dari berbagai tanaman pengganggu setiap hari, sampai waktu yang sesuai untuk dipanen. Maka penantiannya inilah yang disebut Raja’.

Sedangkan petani yang datang pada sebidang tanah gersang lalu melemparkan sembarang benih kemudian duduk bersantai-santai menunggu tanpa merawat serta mengairinya, maka hal ini bukanlah Raja’ melainkan bodoh (hamqan) dan tertipu (ghuruur). Berkata Imam Ali ra tentang hal ini:“Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.”
Maka seorang hamba yang yang memilih benih iman yang terbaik, lalu mengairinya dengan air ketaatan, lalu mensucikan hatinya dari berbagai akhlaq tercela, ia tekun merawat dan membersihkannya, kemudian ia menunggu keutamaan dari ALLAH tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya maka penantiannya yang panjang dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan Raja’. Berfirman ALLAH SWT:“Orang-orang yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan ALLAH, mereka inilah yang benar-benar mengharapkan rahmat ALLAH.” (QS. Al-Baqarah, 2: 218).

Sementara orang yang tidak memilih benih imannya, tidak menyiraminya dengan air ketaatan dan membiarkan hatinya penuh kebusukan, darah dan nanah serta kehidupannya asyik mencari dan menikmati syahwat serta kelezatan duniawi lalu ia berharapkan ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya maka orang ini bodoh dan tertipu. Berfirman ALLAH SWT tentang mereka ini:“Maka setelah mereka digantikan dengan generasi yang mewarisi Kitab yang menjualnya dengan kerendahan, lalu mereka berkata ALLAH akan mengampuni kita.” (QS. Al’A'raaf, 7: 169).

Raja’ hanya bermanfaat bagi orang yang sudah berputus asa karena dosanya sehingga meningggalkan ibadah, serta orang yang demikian khauf pada ALLAH SWT sehingga membahayakan diri dan keluarganya.Sedangkan bagi orang yang bermaksiat, sedikit ibadah dan berharap ampunan ALLAH, maka Raja’ tidak berguna, melainkan harus diberikan khauf.

Sebab-sebab Raja’ adalah pertama dengan jalan i’tibar yaitu merenungkan berbagai nikmat ALLAH yang telah ditumpahkan-NYA setiap waktu pada kita yang tiada sempat kita syukuri ditengah curahan kemaksiatan kita yang tiada henti pada-NYA, maka siapakah yang lebih lembut dan penuh kasih selain DIA? Apakah terlintas bahwa IA yang demikian lembut dan penuh kasih akan menganiaya hambanya?

Adapun jalan yang kedua adalah jalan khabar, yaitu dengan melihat firman-NYA, antara lain:“Wahai hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu putus asa akan rahmat ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengampuni seluruh dosa-dosa.” (QS. Az-Zumar, 39: 53).[Raja’ (Berharap) Al-Ikhwan.net | 1 October 2006 | 8 Ramadhan 1427 H].

Orang yang berharap akan sesuatu, seyogyanya harapan itu diikuti pula dengan tiga perkara;
Pertama, mencintai sesuatu yang diharapkan, kedua, merasa takut akan gagal memperolehnya dan ketiga, bertekad sepenuh hati untuk mencapainya. Adapun harapan yang tidak diikuti dengan hal-hal tersebut,maka itu termasuk khayalan belaka. Pada akhirnya antara harapan dan angan-angan menjadi berbeda. Rasulullah bersabda;
“Barangsiapa yang merasa  takut, maka ia percepat jalannya, dan barangsiapa yang mempecepat jalannya, maka segera sampai ke rumahnya. Ketahuilah bahwa barang perniagaan Allah itu mahal harganya dan barang perniagaan Allah itu adalah syurga”[HR.Turmizi].

Dalam sebuah peperangan seorang sahabat Rasulullah sedang menikmati kurma yang tergenggam di tangannya. Mendengar seruan jihad berkumandang maka lansung dia lemparkan kurma yang ada di tanganya tersebut dan berkata,”Bila saya habiskan kurma yang ada di tanganku ini, terlalu lama untuk mencapai syahid’, lalu dia pergi dengan kencangnya memasuki kancah jihad untuk mencari syurga Allah melalui kilatan pedang dan pekikan takbir.

Semua itu diasali dengan ikhtiar terlebih dahulu yaitu usaha yang maksimal sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah, inilah makna dari tawakkal. Diantara buah tawakkal adalah harapan memperoleh keberuntungan yang diminta, keselamatan dari sesuatu yang tidak disukai, kemenangan atas kebathilan, petunjuk atas kesesatan, keadilan atas kezhaliman, kesusahan yang tersibak dan kesulitan yang lenyap. Orang yang tawakkal kepada Allah tidak mengenal rasa putus asa di dalam hatinya. Sebab Al Qur’an sudah mengajarinya bahwa keputusasaan merupakan benih kesesatan dan kufur, Allah berfirman lewat lisan Ibrahim,”Ibrahim berkata,”Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat”[AlHijr;56]

Allahpun berfirman lewat lisannya Ya’kub;“Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".[Yusuf 12;87]

Ibrahim berkata seperti itu berkaitan dengan keadaannya yang sudah lanjut usia,sehingga sulit untuk mempunyai putra. Sedangakan perkataan Ya’kub berkaitan dengan pencarian Yusuf dan saudaranya, setelah sekian lama beliau berpisah dengan putranya Yusuf dan setelah berpuluh tahun tidak mendengar kabarnya. Sekalipun begitu beliau tidak putus asa dan kehabisan harapan, maka beliau berkata,”Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana”[Yusuf 12;83]

Faktor pendorong seseorang untuk tetap mengharapkan sesuatu dari Allah adalah karena iman yang mendalam melalui pengkajian dan penghayatan kalimata syahadat, intinya iman kepada Allah. Iman kepada Allah merupakan buah pengetahuan. Jika seorang mengetahui Allah dengan sebenar-benarnya, tentu dia akan percaya kepada-Nya secara utuh, jiwa menjadi tenang dan hatinya menjadi tentram. Gambarannya adalah percaya pada keluasan ilmu-Nya dan percaya kepada janji yang disebutkan Allah didalam kitab-Nya, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah, bahwa Dia adalah Pelindung orang-orang yang beriman, pendukung dan penyelamat bagi mereka. Dia adalah Penolong mereka dalam menghadapi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka, Dia senantiasa bersama mereka untuk memberi pertolongan, Dia  tidak akan mengingkari janji. Gambaran lain adalah percaya kepada jaminan rezeki yang diberikan kepada makhluk-Nya. Dalam kaitannya dengan hal ini Dia telah berjanji, “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh” [Adz Dzariat;58]

Orang yang mempercayai Allah dengan segala janji dan jaminan-Nya sama sekali tidak akan takut kehilangan bagian rezeki, orang tidak akan bisa mengambil bagian rezeki sebagaimana dia tidak mampu memajukan ajalnya, harapan dan harapannya kepada Allah tidak pernah berhenti, jauh dari putus asa. Selama seorang masih diberi hidup masih banyak peluang-peluang apa saja yang diharapkannya untuk dapat dikabulkan Allah, baik berupa rezeki, kesehatan, keturunan, jabatan dan harapan lainnya, selama sejauh mana kita mampu menghayati kalimat syahadat dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat niaf bila kita banyak berharap dari Allah tapi tanpa usaha dan do’a, demikian pula halnya, ukurlah usaha kita dengan pengharapan, sejauh mana kita cepat mengabulkan perintah Allah sejauh itu pula dikabulkan harapan dan do’a kita.

”Seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah swt, bagaikan seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya. Jika kedua sayapnya menggerpak  seimbang maka burung itu dapat terbang dengan sempurna, namun jika salah satunya tidak berfungsi, maka tentunya burung itu tidak akan bisa terbang, kalaupun dia memaksa terbang maka akan terjatuh, dan sangat mungkin dia akan binasa”. Demikianlah intisari penggambaran seorang ulama salaf.

Kedua sayap ituadalah rasa khauf dan Raja’. Kapankah seseorang benar dikatakan memiliki sifat 'Raja' ?Sesungguhnya berharap dengan 'Raja' bukanlah angan-angan kosong belaka, 'Raja' itu dikatakan benar selama seorang hamba menanti dan mengharapkan apa yang diinginkan disertai dengan melakukan ikhtiar. Oleh karena itu, manusia dianjurkan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk menjalankan perintah agama, kemudian berharap karunia Allah agar senantiasa teguh dan tidak tersesat hingga tiba waktunya berjumpa dengan Sang Pencipta dengan penuh keridhaan.

Allah swt menggambarkan perkataan orang kafir yang berharap namun tidak dengan upaya;"Dan jika sekiranya Aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu". (QS. Al-Kahfi/18 : 36) 

Ahmad bin `Ashim ketika ditanya tentang ciri orang yang memiliki Raja', beliau menjawab,"Yaitu orang yang ketika diliputi kebaikan, ia terilhami untuk bersyukur sambil berharab kenikmatan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akherat, serta terpenuhinya pengampunan di akherat kelak".  

Demikianlah, seeorang yang benar Raja'(berharap) syurga, maka ia akan berusaha keras melakukan aktifitas yang dapat menghantarkan dirinya menuju yang syurga Allah ta`ala. Adapun orang yang benar memiliki rasa Khauf, maka ia akan senantiasa takut kepada Allah swt, rasa takut seperti ini adalah ibadah hati yang juga senantiasa bersemayam dalam jiwa Rasulullah saw. , sehingga jiwa beliau menjauh dari perkara-perkara yang diharamkan dan dibenci Allah swt"Katakanlah: "Sesungguhnya Aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika Aku mendurhakai Tuhanku." Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, Maka sungguh Allah Telah memberikan rahmat kepadanya.dan Itulah keberuntungan yang nyata." (QS. Al-An`am : 15-16) 

Tidak ada cara lain agar kita bisa mengarungi perjalanan menuju Allah swt, agar selamat di perjalanan, agar apa yang kita pinta dikabulkan –fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah- mesti kita harmonikan antara rasa 'Khauf dan Raja'. Maka ketika kita sedang menunaikah kewajiban, satu sisi kita Raja', berharap amalan kita diterima namun kita juga khauf, jangan-jangan Allah swt tidak menerima amalan kita, mungkin karena kurang ikhlas atau mungkin tidak maksimal kita malakukannya.

Begitupula ketika kita sedang terjebak rayuan syetan sehingga melakukan keburukan, maka perasaan khauf harus hadir dalam hati kita, khawatir akan siksa-Nya yang pedih, takut kalau dosa itu tidak diampuni, oleh karenanya kita akan serius melakukan pertaubatan, namun disaat yang sama kita tetap berharap rahmat Allah swt yang sangat mungkin mengampuni kesalahan kita. 

Marilah kita renungkan kalimat Ali r.a , "Sesungguhnya orang yang 'alim adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa akan rahmat Allah dan tidak membuat mereka merasa aman dari siksaan Allah".

Dan Yahya bin Muadz berkata, "Diantara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil berharap ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tapi mengharap panen syurga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat kebaikan". [Mengharmonikan antara Khauf dan Raja’ ,Saat Mubarak, Lc. www.nuansaislam,com].

 Barang siapa yang melepaskan pengharapannya dari Allah, malah mencari tempat berharap yang lain seperti kuburan, gunung dan bukit dapat merusak tauhidnya kepada Allah, inilah yang disebut dengan syirik. Semakin tinggi tingkat iman seseorang seharusnya semakin mantap pengharapannya kepada Khaliq dan sebaliknya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Agustus 2011.M/ 27 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar