Hidup yang dilalui manusia mengalami
fluktuasi, gelombang pasang dan gelombang naik, ada kalanya yang kita inginkan
datang dengan tiba-tiba dan tidak jarang pula yang kita harapkan tak kunjung
datang, karena memang kita hidup hanya menjalani skenario dari Allah, jalanilah
peran apapun yang kita emban, ibarat seorang pelakon, apapun lakon yang
diberikan kepadanya dia berupaya untuk menjadi bintang yang sukses. Selama
hidup yang dilalui manusia maka sepanjang itu kita selalu berharap kepada yang
Maha Kuasa dengan sifat Rahimnya melalui cetusan perasaan penuh harap.
Manusia
dengan sifat fithrahnya tidak mampu hidup sendiri dan pasti membutuhkan
pihaklain apalagi dia menyadari kelemahan pribadinya yang nyaris sengsara tanpa
bantuan dari yang lain, terutama dari Khaliqnya yaitu Allah swt. Sifat ini
merupakan implementasi dari pengakuan seorang muslim dikala mengucapkan kalimat
syahadat yaitu “Laa Ilaaha Illallah” dengan pengertian lain adalah “Laa Raaja’a
Illallah” artinya tidak ada yang dapat menerima harapan manusia kecali hanya
Allah semata.
Raja’ atau
mengharap rahmat Allah adalah perasaan tenang dalam hati, untuk menanti apa
yang menjadi harapannya. Apabila sarana untuk mencapai harapan itu tidak
dimiliki, maka sikap seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai suatu
angan-angan semu atau menipu diri sendiri. Namun jika sesuatu yang diharapkan
sudah pasti terjadi, maka belum dapat dikatakan suatu pengharapan.
Raja’ adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang
sangat dicintai oleh si penanti.Sikap ini bukan sembarang menanti tanpa
memenuhi syarat-syarat tertentu, sebab penantian tanpa memenuhi syarat ini
disebut berangan-angan (tamniyyan).Orang-orang yang menanti ampunan dan rahmat
ALLAH tanpa amal bukanlah Raja’ namanya, tetapi berangan-angan kosong.
Ketahuilah bahwa hati itu sering tergoda oleh dunia,
sebagaimana bumi yang gersang yang mengharap turunnya hujan.Jika diibaratkan,
maka hati ibarat tanah, keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal
seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari
saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia
tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya
kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana
ia mengairi dan merawatnya.
Dengan mengambil perumpamaan di atas, maka Raja’ seseorang
atas ampunan ALLAH adalah sebagaimana sikap penantian sang petani terhadap
hasil tanamannya, yang telah ia pilih tanahnya yang terbaik, lalu ia taburi
benih yang terbaik pula, kemudian diairinya dengan jumlah yang tepat, dan
dibersihkannya dari berbagai tanaman pengganggu setiap hari, sampai waktu yang
sesuai untuk dipanen. Maka penantiannya inilah yang disebut Raja’.
Sedangkan petani yang datang pada sebidang tanah gersang
lalu melemparkan sembarang benih kemudian duduk bersantai-santai menunggu tanpa
merawat serta mengairinya, maka hal ini bukanlah Raja’ melainkan bodoh (hamqan)
dan tertipu (ghuruur). Berkata Imam Ali ra tentang hal ini:“Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang
menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya.”
Maka seorang hamba yang yang memilih benih iman yang
terbaik, lalu mengairinya dengan air ketaatan, lalu mensucikan hatinya dari
berbagai akhlaq tercela, ia tekun merawat dan membersihkannya, kemudian ia
menunggu keutamaan dari ALLAH tentang hasilnya sampai tiba saat kematiannya
maka penantiannya yang panjang dalam harap dan cemas inilah yang dinamakan
Raja’. Berfirman ALLAH SWT:“Orang-orang
yang beriman, dan berhijrah dan berjihad dijalan ALLAH, mereka inilah yang
benar-benar mengharapkan rahmat ALLAH.” (QS. Al-Baqarah, 2: 218).
Sementara orang yang tidak memilih benih imannya, tidak
menyiraminya dengan air ketaatan dan membiarkan hatinya penuh kebusukan, darah
dan nanah serta kehidupannya asyik mencari dan menikmati syahwat serta
kelezatan duniawi lalu ia berharapkan ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya maka
orang ini bodoh dan tertipu. Berfirman ALLAH SWT tentang mereka ini:“Maka setelah mereka digantikan dengan
generasi yang mewarisi Kitab yang menjualnya dengan kerendahan, lalu mereka
berkata ALLAH akan mengampuni kita.” (QS. Al’A'raaf, 7: 169).
Raja’ hanya bermanfaat bagi orang yang sudah berputus asa
karena dosanya sehingga meningggalkan ibadah, serta orang yang demikian khauf
pada ALLAH SWT sehingga membahayakan diri dan keluarganya.Sedangkan bagi orang
yang bermaksiat, sedikit ibadah dan berharap ampunan ALLAH, maka Raja’ tidak
berguna, melainkan harus diberikan khauf.
Sebab-sebab Raja’ adalah pertama dengan jalan i’tibar yaitu
merenungkan berbagai nikmat ALLAH yang telah ditumpahkan-NYA setiap waktu pada
kita yang tiada sempat kita syukuri ditengah curahan kemaksiatan kita yang
tiada henti pada-NYA, maka siapakah yang lebih lembut dan penuh kasih selain
DIA? Apakah terlintas bahwa IA yang demikian lembut dan penuh kasih akan
menganiaya hambanya?
Adapun jalan yang kedua adalah jalan khabar, yaitu dengan
melihat firman-NYA, antara lain:“Wahai
hambaku yang telah melampaui batas pada dirinya sendiri, janganlah kamu putus
asa akan rahmat ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengampuni seluruh dosa-dosa.”
(QS. Az-Zumar, 39: 53).[Raja’
(Berharap) Al-Ikhwan.net | 1 October 2006 | 8 Ramadhan 1427 H].
Orang yang
berharap akan sesuatu, seyogyanya harapan itu diikuti pula dengan tiga perkara;
Pertama,
mencintai sesuatu yang diharapkan, kedua, merasa takut akan gagal memperolehnya
dan ketiga, bertekad sepenuh hati untuk mencapainya. Adapun harapan yang tidak
diikuti dengan hal-hal tersebut,maka itu termasuk khayalan belaka. Pada
akhirnya antara harapan dan angan-angan menjadi berbeda. Rasulullah bersabda;
“Barangsiapa yang merasa
takut, maka ia percepat jalannya, dan barangsiapa yang mempecepat
jalannya, maka segera sampai ke rumahnya. Ketahuilah bahwa barang perniagaan
Allah itu mahal harganya dan barang perniagaan Allah itu adalah
syurga”[HR.Turmizi].
Dalam sebuah
peperangan seorang sahabat Rasulullah sedang menikmati kurma yang tergenggam di
tangannya. Mendengar seruan jihad berkumandang maka lansung dia lemparkan kurma
yang ada di tanganya tersebut dan berkata,”Bila saya habiskan kurma yang ada di
tanganku ini, terlalu lama untuk mencapai syahid’, lalu dia pergi dengan
kencangnya memasuki kancah jihad untuk mencari syurga Allah melalui kilatan
pedang dan pekikan takbir.
Semua itu
diasali dengan ikhtiar terlebih dahulu yaitu usaha yang maksimal sedangkan
hasilnya diserahkan kepada Allah, inilah makna dari tawakkal. Diantara buah
tawakkal adalah harapan memperoleh keberuntungan yang diminta, keselamatan dari
sesuatu yang tidak disukai, kemenangan atas kebathilan, petunjuk atas
kesesatan, keadilan atas kezhaliman, kesusahan yang tersibak dan kesulitan yang
lenyap. Orang yang tawakkal kepada Allah tidak mengenal rasa putus asa di dalam
hatinya. Sebab Al Qur’an sudah mengajarinya bahwa keputusasaan merupakan benih
kesesatan dan kufur, Allah berfirman lewat lisan Ibrahim,”Ibrahim berkata,”Tidak ada yang berputus asa dari rahmat
Allah kecuali orang-orang yang sesat”[AlHijr;56]
Allahpun berfirman
lewat lisannya Ya’kub;“Hai anak-anakku,
pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah, melainkan kaum yang kafir".[Yusuf 12;87]
Ibrahim
berkata seperti itu berkaitan dengan keadaannya yang sudah lanjut usia,sehingga
sulit untuk mempunyai putra. Sedangakan perkataan Ya’kub berkaitan dengan
pencarian Yusuf dan saudaranya, setelah sekian lama beliau berpisah dengan
putranya Yusuf dan setelah berpuluh tahun tidak mendengar kabarnya. Sekalipun
begitu beliau tidak putus asa dan kehabisan harapan, maka beliau
berkata,”Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya
Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana”[Yusuf 12;83]
Faktor
pendorong seseorang untuk tetap mengharapkan sesuatu dari Allah adalah karena
iman yang mendalam melalui pengkajian dan penghayatan kalimata syahadat,
intinya iman kepada Allah. Iman kepada Allah merupakan buah pengetahuan. Jika
seorang mengetahui Allah dengan sebenar-benarnya, tentu dia akan percaya
kepada-Nya secara utuh, jiwa menjadi tenang dan hatinya menjadi tentram.
Gambarannya adalah percaya pada keluasan ilmu-Nya dan percaya kepada janji yang
disebutkan Allah didalam kitab-Nya, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah,
bahwa Dia adalah Pelindung orang-orang yang beriman, pendukung dan penyelamat
bagi mereka. Dia adalah Penolong mereka dalam menghadapi musuh-musuh Allah dan
musuh-musuh mereka, Dia senantiasa bersama mereka untuk memberi pertolongan,
Dia tidak akan mengingkari janji.
Gambaran lain adalah percaya kepada jaminan rezeki yang diberikan kepada
makhluk-Nya. Dalam kaitannya dengan hal ini Dia telah berjanji, “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi
Rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh” [Adz Dzariat;58]
Orang yang
mempercayai Allah dengan segala janji dan jaminan-Nya sama sekali tidak akan
takut kehilangan bagian rezeki, orang tidak akan bisa mengambil bagian rezeki
sebagaimana dia tidak mampu memajukan ajalnya, harapan dan harapannya kepada
Allah tidak pernah berhenti, jauh dari putus asa. Selama seorang masih diberi
hidup masih banyak peluang-peluang apa saja yang diharapkannya untuk dapat
dikabulkan Allah, baik berupa rezeki, kesehatan, keturunan, jabatan dan harapan
lainnya, selama sejauh mana kita mampu menghayati kalimat syahadat dan
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sangat niaf bila kita
banyak berharap dari Allah tapi tanpa usaha dan do’a, demikian pula halnya,
ukurlah usaha kita dengan pengharapan, sejauh mana kita cepat mengabulkan perintah
Allah sejauh itu pula dikabulkan harapan dan do’a kita.
”Seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah swt, bagaikan
seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya. Jika kedua sayapnya
menggerpak seimbang maka burung itu dapat terbang dengan sempurna, namun
jika salah satunya tidak berfungsi, maka tentunya burung itu tidak akan bisa
terbang, kalaupun dia memaksa terbang maka akan terjatuh, dan sangat mungkin
dia akan binasa”. Demikianlah intisari penggambaran seorang ulama salaf.
Kedua
sayap ituadalah rasa khauf dan Raja’. Kapankah seseorang benar dikatakan
memiliki sifat 'Raja' ?Sesungguhnya berharap dengan 'Raja' bukanlah angan-angan
kosong belaka, 'Raja' itu dikatakan benar selama seorang hamba menanti dan
mengharapkan apa yang diinginkan disertai dengan melakukan ikhtiar. Oleh karena
itu, manusia dianjurkan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk menjalankan
perintah agama, kemudian berharap karunia Allah agar senantiasa teguh dan tidak
tersesat hingga tiba waktunya berjumpa dengan Sang Pencipta dengan penuh
keridhaan.
Allah
swt menggambarkan perkataan orang kafir yang berharap namun tidak dengan
upaya;"Dan jika sekiranya Aku
dikembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih
baik dari pada kebun-kebun itu". (QS. Al-Kahfi/18 : 36)
Ahmad
bin `Ashim ketika ditanya tentang ciri orang yang memiliki Raja', beliau
menjawab,"Yaitu orang yang ketika diliputi kebaikan, ia terilhami untuk
bersyukur sambil berharab kenikmatan yang diberikan kepadanya di dunia dan di
akherat, serta terpenuhinya pengampunan di akherat kelak".
Demikianlah,
seeorang yang benar Raja'(berharap) syurga, maka ia akan berusaha keras
melakukan aktifitas yang dapat menghantarkan dirinya menuju yang syurga Allah
ta`ala. Adapun orang yang benar memiliki rasa Khauf, maka ia akan
senantiasa takut kepada Allah swt, rasa takut seperti ini adalah ibadah hati
yang juga senantiasa bersemayam dalam jiwa Rasulullah saw. , sehingga jiwa
beliau menjauh dari perkara-perkara yang diharamkan dan dibenci Allah swt"Katakanlah: "Sesungguhnya Aku
takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika Aku mendurhakai
Tuhanku." Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu,
Maka sungguh Allah Telah memberikan rahmat kepadanya.dan Itulah keberuntungan yang
nyata." (QS. Al-An`am : 15-16)
Tidak
ada cara lain agar kita bisa mengarungi perjalanan menuju Allah swt, agar
selamat di perjalanan, agar apa yang kita pinta dikabulkan –fiddunya
hasanah wa fil akhirati hasanah- mesti kita harmonikan antara rasa 'Khauf
dan Raja'. Maka ketika kita sedang menunaikah kewajiban, satu sisi kita
Raja', berharap amalan kita diterima namun kita juga khauf, jangan-jangan Allah
swt tidak menerima amalan kita, mungkin karena kurang ikhlas atau mungkin tidak
maksimal kita malakukannya.
Begitupula
ketika kita sedang terjebak rayuan syetan sehingga melakukan keburukan, maka
perasaan khauf harus hadir dalam hati kita, khawatir akan siksa-Nya yang pedih,
takut kalau dosa itu tidak diampuni, oleh karenanya kita akan serius melakukan
pertaubatan, namun disaat yang sama kita tetap berharap rahmat Allah swt yang
sangat mungkin mengampuni kesalahan kita.
Marilah
kita renungkan kalimat Ali r.a , "Sesungguhnya orang yang 'alim adalah
orang yang tidak membuat manusia putus asa akan rahmat Allah dan tidak membuat
mereka merasa aman dari siksaan Allah".
Dan
Yahya bin Muadz berkata, "Diantara ketertipuan yang paling besar adalah
terus menerus berbuat dosa sambil berharap ampunan tapi tanpa penyesalan,
mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya,
menanam benih neraka tapi mengharap panen syurga, ingin tinggal bersama
orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala
tanpa berbuat kebaikan". [Mengharmonikan
antara Khauf dan Raja’ ,Saat Mubarak, Lc. www.nuansaislam,com].
Barang siapa yang melepaskan pengharapannya
dari Allah, malah mencari tempat berharap yang lain seperti kuburan, gunung dan
bukit dapat merusak tauhidnya kepada Allah, inilah yang disebut dengan syirik.
Semakin tinggi tingkat iman seseorang seharusnya semakin mantap pengharapannya
kepada Khaliq dan sebaliknya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Agustus
2011.M/ 27 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar