Hidup berkutat dengan
kesibukan harian secara rutin tentu akan membosankan, fikiran akan suntuk,
badan terasa pegal tak karuan, wawasan tersembut, belum lagi udara yang
menyelusup ke paru-paru terasa kerontang, untuk itu perlu adanya kesegaran
hidup, agar hidup terasa lebih hidup maka perlu adanya kunjungan atau wisata ke
tempat-tempat tertentu untuk menjadikan fikiran kita fresh. Banyak wisata yang
dapat dikunjungi, tergantung kepada tujuan kita, ada yang suka dengan keindahan
alam, seperti pantai, gunung, lembah dan sungai-sungai. Ada pula wisata ke
cagar budaya, melihat hasil peninggalan budaya masa lalu yang dapat dijadikan
sebagai referensi, ada wisata kuliner
yang menyediakan berbagai penganan asli daerah setempat atau juga makanan khas
suatu negara, dan tidak sedikit pula yang memadukan wisata dalam satu paket
wisata alam, budaya dan kuliner.
Sebagai salah satu contoh,
pariwisata alam yang indah adalah di Sumatera Barat, dalam Promosi Pariwisata, Ilfindri mengungkapkan tentang
itu;
Tidaklah berlebihan menyatakan
bahwa Sumatera Barat dianugerahi oleh Sang Pencipta potensi pariwisata, di
samping daerah lain seperti Bali, Sulawesi Utara, Yogyakarta, dan lainnya.
Tersedia cukup lengkap jenis pariwisata, mulai dari pariwisata alam; memiliki
gunung, danau, sungai arus deras, ngarai, hamparan sawah pertanian yang
tersusun indah dan jungle.
Tersedia flora dan fauna
tropis yang menakjubkan, mulai dari kupu-kupu indah, binatang lokal,
bunga-bungaan, ikan darat dan ikan hias laut.Demikian juga pariwisata budaya, mulai
dari ornamen bangunan rumah ’gadang’, iven perhelatan, kematian dan sejenisnya.
Bisa juga yang ingin menikmati kuliner
dan kebusanaan, tersedia berbagai jenis cita rasa makanan, dilengkapi dengan
tersedianya berbagai lokasi sentra tenunan.Bagi yang ingin menikmati keindahan
pantai dan menyelam, juga dapat mendatangi daerah-daerah pantai yang terkenal,
bahkan juga memiliki lokasi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan
Pantai Bunaken di Sulawesi Utara.
Lokasi untuk menikmati
keindahan alam, budaya, makanan, keindahan pantai, sejarah, tersedia pada
berbagai tempat.[Promosi Pariwisata,Minggu, 19/06/2011 - 11:39
WIB
Padang
Today].
Bila orang menyebut di Bali
ada pantai Sanur dan Pantai Kuta yang
indah menawan, maka di Pariaman juga ada Pantai Sunur dan Pantai Kata, artinya
keindahan yang ada di tempat lain tidak jauh beda dengan negeri di Sumatera
Barat, hanya pengelolaannya saja yang belum optimal dan promosi yang minim
sehingga orang tidak begitu mengenal pariwisata di Sumatera Barat.
Sebuah resiko besar harus kita
hadapi bila pariwisata kita semakin maju, tentu wisatawan dari berbagai belahan
dunia akan datang ke negeri kita ini dengan konsekwensi yang harus kita terima
yaitu mereka akan mempertontonkan fikiran dan budaya yang mereka anut di negaranya,
modernisme, sekulerisme, liberalisme dan pluralisme akan masuk ke negeri kita
ini tanpa dapat dibendung.
Sudah sering didengar bahwa kita
perlu selektif terhadap wisatawan manca negara jangan sampai mencemari
lingkungan budaya dan fisik.Namun masih jarang diperdengarkan betapa perlunya
pula selektif terhadap kebudayaan lama yang dipromosikan untuk menarik
wisatawan, jangan sampai menjurus pada nativisme yang bententangan dengan nilai
tawhied.
Dahulu kala orang mempertuhankan
hantu penguasa hutan, bukit, lembah, rawa, sungai, danau yang disebutnya dengan
Patanna Butta, yang empunya daerah. Menurut informasi yang pernah saya dengar
dan E.A.Mokodompit konon menurut penduduk pedalaman di Sultra, hutan di sana
dijaga oleh hantu yang bergelar Songko' Toroki. Tuhan kalau dibaca terbalik
secara syllabic akan berubah bacaannya menjadi hantu, artinya hantu adalah
lawan dari Tuhan. Jadi dilihat dan segi bahasa saja perbuatan mempertuhanl
hantu ini adalah perbuatan yang kontradiktif.Perbegu, kepercayaan menyembah
hantu ini melahirkan budaya sesembahan yang dianggap sakral.Hantu penguasa itu
disuguhi sesembahan dalam upacara yang disebut accera', maccera', mendarah,
yaitu menyembelih binatang, mengoleskan darah binatang itu, kepalanya ditanam,
untuk persembahan yang sakral, yang dalam bahasa Inggeris disebut offering dan
sacrifice (persembahan yang sakral).Dalam masyarakat tidak jarang binatang
sesembahan itu dirancukan dengan istilah kurban.Maka kerancuan mi perlu
dicerahkan.
Berfirman Allah dalam Al Quran S. Al
Hajj 36,37 yang artinya:
-- Apabila gugur sembelihan-sembelihan itu makanlah sebagiannya dan selebihnya berilah makan kepada orang-orang miskin yang tidak meminta dan yang meminta. Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya, akan tetapi yang sampai kepadaNya ialah ketaqwaan kamu. Jadi ajaran Islam menolak pemahaman kurban sebagai sesembahan yang sakral.Kurban bukanlah offering, bukan pula sacrifice. Kurban dipungut dari bahasa Al Quran, yaitu "Qurban", yang dibentuk oleh akar kata yang terdiri dan 3 huruf: qaf, ra, ba, artinya dekat. Menyembelih binatang kurban, dagingnya untuk dimakan sendiri dan untuk dimakan fakir miskin sebagai fungsi sosial. Darahnya dibu?ng, karena haram dimakan. Dan arti spiritualnya mendekatkan din, taqarrub kepàth Allah SWT sebagai tanda berbakti kepadaNya melaksanakan perintahNya dengan semangat taqwa.
-- Apabila gugur sembelihan-sembelihan itu makanlah sebagiannya dan selebihnya berilah makan kepada orang-orang miskin yang tidak meminta dan yang meminta. Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya, akan tetapi yang sampai kepadaNya ialah ketaqwaan kamu. Jadi ajaran Islam menolak pemahaman kurban sebagai sesembahan yang sakral.Kurban bukanlah offering, bukan pula sacrifice. Kurban dipungut dari bahasa Al Quran, yaitu "Qurban", yang dibentuk oleh akar kata yang terdiri dan 3 huruf: qaf, ra, ba, artinya dekat. Menyembelih binatang kurban, dagingnya untuk dimakan sendiri dan untuk dimakan fakir miskin sebagai fungsi sosial. Darahnya dibu?ng, karena haram dimakan. Dan arti spiritualnya mendekatkan din, taqarrub kepàth Allah SWT sebagai tanda berbakti kepadaNya melaksanakan perintahNya dengan semangat taqwa.
Dalam wawasan yang Mu'amalah berlaku
qaidah: "semua boleh kecuali yang dilarang. Artinya segala produk budaya
pada dasarnya semuanya boleh, kecuali yang bertentangan nilai tawhied.Semua
produk budaya yang dibangun di atas landasan kepercayaan yang menyimpang dari
nilai tawhied disebut khurafat. Jadi kebudayaan boleh berkembang secara
selektif: yang khurafat harus dihentikan. Dalam hubungannya dengan khurafat dan
kemungkaran lain pada umumnya, Allah berfirman ,Fa Dzakkir in Nafa'ati
dzDzikra-, maka berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat (S.
Al A'la- 9).
Dan RasuluLlah bersabda: Jikalau
melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan, kalau tidak mampu ubahlah dengan
mulut, dan kalau itupun tidak mampu juga, jagalah qalbu. Namun yang terakhir mi
adalah sikap beriman yang selemah-lemahnya. Ayat dan Hadits di atas itu
dinyatakan dalam ungkapan yang lebih pendek: Amar Ma'ruwf Nahie Munkar, menyuruh
anif bijaksana mencegah penyelewengan, yang menjadi inti dan Kewajiban Asasi
Manusia. Apabila dalam rangka promosi kepariwisataan disuguhkan tradisi yang
bertentangan dengan nilai tawhied, maka penyelenggara hendaklah dengan niat
menyuguhkannya hanya sekadar sebagai tayangan saja, supaya terhindar dan dosa
karena mengerjakan yang khurafat itu. Dan sebelum ditayangkan kepada khalayak,
hendaklah diinformasikan baik secara tertulis maupun secara lisan bahwa:
Demikianlah konon kepercayaan nenek moyang kami dahulu yang masih memuja hantu
yang dianggap penguasa. Apa yang ditayangkan ini cuma sekadar untuk
dilihat-lihat, bukan untuk ditiru atas dasar meyakini kebenarannya. Takusahlah
pula diberi justifikasi dengan memberikan arti yang kelihatannya filosofis tentang
makna kepala binatang sesembahan itu, seperti misal otak, telinga, mata,
hidung, lidah, makna ini, kemini (ke ini + mengini), itu, kemitu.Hindarkanlah
itu nativisme yang bertentangan dengan nilai tawhied.[H.Muh.Nur AbdurrahmanTawhied, Nativisme dan KepariwisataanMakassar,
21 November 1993].
Agar pariwisata menjadi sarana
untuk memperkenalkan daerah kepada para pelancong selain mendatangkan devisa
yang menjanjikan maka pembenahan lokasi pariwisata khususnya untuk Sumatera
Barat menjadi satu kebutuhan mendesak, dalam pembenahan itu tentu dibutuhkan
beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Permasalahan pariwisata Sumbar
cenderung disebabkan kondisi sarana fisik yang masih berantakan.Apakah itu
objek atau sarana pendukung lainnya. Untuk apa promosi gila-gilaan sementara
yang dipromosikan kondisinya berantakan. Jelas tidak ada gunanya.
Dari tahun ke tahun, objek wisata
yang ada tidak pernah berkembang.Meskipun dibenahi, perencanaan pembangunannya
tidak tepat.Beberapa objek wisata yang dibenahi, tidak menunjukkan
kegunaannya.Misalnya, di pantai Padang setelah jalur transportasinya dibenahi,
Pedagang Kaki Lima (PKL) malah menjamur.Hampir tidakpembenahan fisik yang
dilakukan. Kalaupun ada, tidak diikuti dengan perencanaan untuk apa sarana
tersebut dibuat.
Selain itu, mental masyarakat (mind
set) belum mendukung pada perkembangan pariwisata yang.Sekarang, dimana ada
objek wisata selalu diikuti dengan tindakan pemerasan. Sarana semegah dan
secanggih apapun menurut Muchlis, tanpa dukungan dari masyarakat yang cenderung
menginginkan proses pembangunan instant, lagi-lagi tidak ada gunanya.
Lain lagi ceritanya dengan sarana
pendukung seperti transportasi, misalnya bandara, taksi dan angkutan yang tidak
representatif dengan kondisi saat ini.Standarisasi tarif dan ongkos tak pernah
jelas.Jika dilihat wisatawan bisa diatur, tarif dan ongkos bisa naik jor-joran.
Tidak sampai disitu, selain tarif dan ongkos,pungutan-pungutan lainnya juga
ikut membengkak.
Konkritnya, bagaimana wisatawan mau
kembali, jika kondisinya seperti itu. Berikan saja pelayanan yang baik maka
promosi dari mereka lebih tepat karena akan menceritakan keberadaan daerah ini
pada rekan-rekannya. Untuk target wisatawan luar negeri jangan memasang
angan-angan yang terlalu tinggi. Dengan optimalnya kunjungan wisatawan
domestik, promosi akan berjalan dengan sendirinya.
Secara umum, langkah strategis yang
perlu dilakukan adalah pembenahan objek wisata. Jawaban keterbatasan dana
sebenarnya kurang tepat. Sebab, dinas propinsi kapasitasnya pada koordinasi dan
promosi. Dengan koordinasi dengan dinas kabupaten dan kota serta instansi
terkait lainnya, keterbatasan dana tersebut akan teratasi.
Kemudian, secara simultan,
peningkatan sumber daya manusia baik pemandu wisata yang berhubungan dengan
wisatawan perlu ditingkatkan.Apakah itu berhubungan dengan objek dan perilaku
serta budaya.Untuk jangka panjang perlu dilakukan reorientasi pariwisata
Sumbar. Sederhananya, dengan menyesuaikan kalender wisata berada di sekitar
hari libur lebaran atau libur sekolah.[Promosi Wisata Tanpa Pembenahan Fisik,
Percuma,Padangtoday,com.Red/Revdi Iwan Syahputra].
Satu sisi tempat wisata merupakan
sarana bagi pengunjung untuk menghilangkan kesuntukan dari kesibukan yang padat
sehingga fresh setelah itu untuk memasuki kesibukan berikutnya, bersantai
dengan keluarga agar keharmonisan dapat terpelihara dengan baik, bagi anak
mengajaknya untuk berinteraksi dengan alam, banyak sebenarnya manfaat dari
pariwisata, bahkan penting sekali bagi para perenung kehidupan ini untuk
mensyukuri karunia Allah di alam ini.
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan”[Al Baqarah 2;164].
Pariwisata apalagi di Minangkabau seharusnya
memperhatikan adat istiadat yang bersandi syarak, tapi kenyataannya pengelola
pariwisata mengabaikan hal itu, lihatlah sepanjang pantai Padang setiap sore
hingga malam hari, pondok minum dan makan yang disediakan terkesan mengajak
pengunjung untuk berbuat maksiat, disediakan payung-payung tertutup yang rendah
hanya untuk dua orang saja, apa maksud dari sarana ini selain untuk bermaksiat,
belum lagi suasana remang-remang yang
membuat bulu kuduk merinding melihatnya, sehingga tempat pariwisata terkesan
untuk memadu kasih, bercumbu rayu, berbuat mesum dan mempercepat proses
terpaksa nikah bagi pasangan-pasangan muda, disamping cinta mereka yang sedang
menggebu juga tersedianya sarana wisata merusak masa depan mereka.
Dengan kondisi ini, yang lansung nampak oleh
mata siapapun juga yang berkunjung ke pantai Padang itu, timbul berbagai
pertanyaan, apakah Wali Kota Padang, Gubernur Sumbar, MUI, tokoh masyarakat
tidak mengambil sikap peduli untuk menggelar amar ma’ruf nahi mungkar, padahal
mungkin saja kasusnya bukan hanya di Padang saja tapi rata-rata sarana
pariwisata tidak lepas dengan memberikan kesempatan dan peluang orang untuk
berbuat maksiat.
Kita butuh pariwisata sebagai tempat penting
pada momen-momen tertentu untuk dikunjungi bersama keluarga dan handai taulan,
tentu tempat yang menyenangkan, sejuk mata dengan keindahannya, bersih udaranya
dari segala virus maksiat sehingga sekembali dari sana kita segar kembali, ada
sesuatu yang dapat diambil sebagai ilmu dan pelajaran, pariwisata bisa untuk
meningkatkan iman tapi tidak sedikit untuk menghancurkan iman,seharusnya semua
pihak terpanggil hendaknya menjadikan pariwisata yang mengatangkan devisa juga
mendatangkan manfaat bagi pengunjungnya,
wallahu
a’lam [Cubadak Solok, 27 Agustus 2011.M/ 27 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar