Selasa, 09 Februari 2016

174. Pariwisata



Hidup berkutat dengan kesibukan harian secara rutin tentu akan membosankan, fikiran akan suntuk, badan terasa pegal tak karuan, wawasan tersembut, belum lagi udara yang menyelusup ke paru-paru terasa kerontang, untuk itu perlu adanya kesegaran hidup, agar hidup terasa lebih hidup maka perlu adanya kunjungan atau wisata ke tempat-tempat tertentu untuk menjadikan fikiran kita fresh. Banyak wisata yang dapat dikunjungi, tergantung kepada tujuan kita, ada yang suka dengan keindahan alam, seperti pantai, gunung, lembah dan sungai-sungai. Ada pula wisata ke cagar budaya, melihat hasil peninggalan budaya masa lalu yang dapat dijadikan sebagai referensi, ada  wisata kuliner yang menyediakan berbagai penganan asli daerah setempat atau juga makanan khas suatu negara, dan tidak sedikit pula yang memadukan wisata dalam satu paket wisata alam, budaya dan kuliner.

Sebagai salah satu contoh, pariwisata alam yang indah adalah di Sumatera Barat, dalam Promosi  Pariwisata, Ilfindri mengungkapkan tentang itu;

Tidaklah berlebihan menyatakan bahwa Sumatera Barat dianugerahi oleh Sang Pencipta potensi pariwisata, di samping daerah lain seperti Bali, Sulawesi Utara, Yogyakarta, dan lainnya. Tersedia cukup lengkap jenis pariwisata, mulai dari pariwisata alam; memiliki gunung, danau, sungai arus deras, ngarai, hamparan sawah pertanian yang tersusun indah dan jungle.

Tersedia flora dan fauna tropis yang menakjubkan, mulai dari kupu-kupu indah, binatang lokal, bunga-bungaan, ikan darat dan ikan hias laut.Demikian juga pariwisata budaya, mulai dari ornamen bangunan rumah ’gadang’, iven perhelatan, kematian dan sejenisnya.

  Bisa juga yang ingin menikmati kuliner dan kebusanaan, tersedia berbagai jenis cita rasa makanan, dilengkapi dengan tersedianya berbagai lokasi sentra tenunan.Bagi yang ingin menikmati keindahan pantai dan menyelam, juga dapat mendatangi daerah-daerah pantai yang terkenal, bahkan juga memiliki lokasi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan Pantai Bunaken di Sulawesi Utara.
Lokasi untuk menikmati keindahan alam, budaya, makanan, keindahan pantai, sejarah, tersedia pada berbagai tempat.[Promosi Pariwisata,Minggu, 19/06/2011 - 11:39 WIB http://www.padang-today.com/img/ar.gif Padang Today].

Bila orang menyebut di Bali ada pantai Sanur  dan Pantai Kuta yang indah menawan, maka di Pariaman juga ada Pantai Sunur dan Pantai Kata, artinya keindahan yang ada di tempat lain tidak jauh beda dengan negeri di Sumatera Barat, hanya pengelolaannya saja yang belum optimal dan promosi yang minim sehingga orang tidak begitu mengenal pariwisata di Sumatera Barat.

Sebuah resiko besar harus kita hadapi bila pariwisata kita semakin maju, tentu wisatawan dari berbagai belahan dunia akan datang ke negeri kita ini dengan konsekwensi yang harus kita terima yaitu mereka akan mempertontonkan fikiran dan budaya yang mereka anut di negaranya, modernisme, sekulerisme, liberalisme dan pluralisme akan masuk ke negeri kita ini tanpa dapat dibendung.

Sudah sering didengar bahwa kita perlu selektif terhadap wisatawan manca negara jangan sampai mencemari lingkungan budaya dan fisik.Namun masih jarang diperdengarkan betapa perlunya pula selektif terhadap kebudayaan lama yang dipromosikan untuk menarik wisatawan, jangan sampai menjurus pada nativisme yang bententangan dengan nilai tawhied.

Dahulu kala orang mempertuhankan hantu penguasa hutan, bukit, lembah, rawa, sungai, danau yang disebutnya dengan Patanna Butta, yang empunya daerah. Menurut informasi yang pernah saya dengar dan E.A.Mokodompit konon menurut penduduk pedalaman di Sultra, hutan di sana dijaga oleh hantu yang bergelar Songko' Toroki. Tuhan kalau dibaca terbalik secara syllabic akan berubah bacaannya menjadi hantu, artinya hantu adalah lawan dari Tuhan. Jadi dilihat dan segi bahasa saja perbuatan mempertuhanl hantu ini adalah perbuatan yang kontradiktif.Perbegu, kepercayaan menyembah hantu ini melahirkan budaya sesembahan yang dianggap sakral.Hantu penguasa itu disuguhi sesembahan dalam upacara yang disebut accera', maccera', mendarah, yaitu menyembelih binatang, mengoleskan darah binatang itu, kepalanya ditanam, untuk persembahan yang sakral, yang dalam bahasa Inggeris disebut offering dan sacrifice (persembahan yang sakral).Dalam masyarakat tidak jarang binatang sesembahan itu dirancukan dengan istilah kurban.Maka kerancuan mi perlu dicerahkan.

Berfirman Allah dalam Al Quran S. Al Hajj 36,37 yang artinya:
-- Apabila gugur sembelihan-sembelihan itu makanlah sebagiannya dan selebihnya berilah makan kepada orang-orang miskin yang tidak meminta dan yang meminta. Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya, akan tetapi yang sampai kepadaNya ialah ketaqwaan kamu. Jadi ajaran Islam menolak pemahaman kurban sebagai sesembahan yang sakral.Kurban bukanlah offering, bukan pula sacrifice. Kurban dipungut dari bahasa Al Quran, yaitu "Qurban", yang dibentuk oleh akar kata yang terdiri dan 3 huruf: qaf, ra, ba, artinya dekat. Menyembelih binatang kurban, dagingnya untuk dimakan sendiri dan untuk dimakan fakir miskin sebagai fungsi sosial. Darahnya dibu?ng, karena haram dimakan. Dan arti spiritualnya mendekatkan din, taqarrub kepàth Allah SWT sebagai tanda berbakti kepadaNya melaksanakan perintahNya dengan semangat taqwa.

Dalam wawasan yang Mu'amalah berlaku qaidah: "semua boleh kecuali yang dilarang. Artinya segala produk budaya pada dasarnya semuanya boleh, kecuali yang bertentangan nilai tawhied.Semua produk budaya yang dibangun di atas landasan kepercayaan yang menyimpang dari nilai tawhied disebut khurafat. Jadi kebudayaan boleh berkembang secara selektif: yang khurafat harus dihentikan. Dalam hubungannya dengan khurafat dan kemungkaran lain pada umumnya, Allah berfirman ,Fa Dzakkir in Nafa'ati dzDzikra-, maka berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat (S. Al A'la- 9). 

Dan RasuluLlah bersabda: Jikalau melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan, kalau tidak mampu ubahlah dengan mulut, dan kalau itupun tidak mampu juga, jagalah qalbu. Namun yang terakhir mi adalah sikap beriman yang selemah-lemahnya. Ayat dan Hadits di atas itu dinyatakan dalam ungkapan yang lebih pendek: Amar Ma'ruwf Nahie Munkar, menyuruh anif bijaksana mencegah penyelewengan, yang menjadi inti dan Kewajiban Asasi Manusia. Apabila dalam rangka promosi kepariwisataan disuguhkan tradisi yang bertentangan dengan nilai tawhied, maka penyelenggara hendaklah dengan niat menyuguhkannya hanya sekadar sebagai tayangan saja, supaya terhindar dan dosa karena mengerjakan yang khurafat itu. Dan sebelum ditayangkan kepada khalayak, hendaklah diinformasikan baik secara tertulis maupun secara lisan bahwa: Demikianlah konon kepercayaan nenek moyang kami dahulu yang masih memuja hantu yang dianggap penguasa. Apa yang ditayangkan ini cuma sekadar untuk dilihat-lihat, bukan untuk ditiru atas dasar meyakini kebenarannya. Takusahlah pula diberi justifikasi dengan memberikan arti yang kelihatannya filosofis tentang makna kepala binatang sesembahan itu, seperti misal otak, telinga, mata, hidung, lidah, makna ini, kemini (ke ini + mengini), itu, kemitu.Hindarkanlah itu nativisme yang bertentangan dengan nilai tawhied.[H.Muh.Nur AbdurrahmanTawhied, Nativisme dan KepariwisataanMakassar, 21 November 1993].
            Agar pariwisata menjadi sarana untuk memperkenalkan daerah kepada para pelancong selain mendatangkan devisa yang menjanjikan maka pembenahan lokasi pariwisata khususnya untuk Sumatera Barat menjadi satu kebutuhan mendesak, dalam pembenahan itu tentu dibutuhkan beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Permasalahan pariwisata Sumbar cenderung disebabkan kondisi sarana fisik yang masih berantakan.Apakah itu objek atau sarana pendukung lainnya. Untuk apa promosi gila-gilaan sementara yang dipromosikan kondisinya berantakan. Jelas tidak ada gunanya.

Dari tahun ke tahun, objek wisata yang ada tidak pernah berkembang.Meskipun dibenahi, perencanaan pembangunannya tidak tepat.Beberapa objek wisata yang dibenahi, tidak menunjukkan kegunaannya.Misalnya, di pantai Padang setelah jalur transportasinya dibenahi, Pedagang Kaki Lima (PKL) malah menjamur.Hampir tidakpembenahan fisik yang dilakukan. Kalaupun ada, tidak diikuti dengan perencanaan untuk apa sarana tersebut dibuat.

Selain itu, mental masyarakat (mind set) belum mendukung pada perkembangan pariwisata yang.Sekarang, dimana ada objek wisata selalu diikuti dengan tindakan pemerasan. Sarana semegah dan secanggih apapun menurut Muchlis, tanpa dukungan dari masyarakat yang cenderung menginginkan proses pembangunan instant, lagi-lagi tidak ada gunanya.

Lain lagi ceritanya dengan sarana pendukung seperti transportasi, misalnya bandara, taksi dan angkutan yang tidak representatif dengan kondisi saat ini.Standarisasi tarif dan ongkos tak pernah jelas.Jika dilihat wisatawan bisa diatur, tarif dan ongkos bisa naik jor-joran. Tidak sampai disitu, selain tarif dan ongkos,pungutan-pungutan lainnya juga ikut membengkak.

Konkritnya, bagaimana wisatawan mau kembali, jika kondisinya seperti itu. Berikan saja pelayanan yang baik maka promosi dari mereka lebih tepat karena akan menceritakan keberadaan daerah ini pada rekan-rekannya. Untuk target wisatawan luar negeri jangan memasang angan-angan yang terlalu tinggi. Dengan optimalnya kunjungan wisatawan domestik, promosi akan berjalan dengan sendirinya.

Secara umum, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah pembenahan objek wisata. Jawaban keterbatasan dana sebenarnya kurang tepat. Sebab, dinas propinsi kapasitasnya pada koordinasi dan promosi. Dengan koordinasi dengan dinas kabupaten dan kota serta instansi terkait lainnya, keterbatasan dana tersebut akan teratasi.

Kemudian, secara simultan, peningkatan sumber daya manusia baik pemandu wisata yang berhubungan dengan wisatawan perlu ditingkatkan.Apakah itu berhubungan dengan objek dan perilaku serta budaya.Untuk jangka panjang perlu dilakukan reorientasi pariwisata Sumbar. Sederhananya, dengan menyesuaikan kalender wisata berada di sekitar hari libur lebaran atau libur sekolah.[Promosi Wisata Tanpa Pembenahan Fisik, Percuma,Padangtoday,com.Red/Revdi Iwan Syahputra].

Satu sisi tempat wisata merupakan sarana bagi pengunjung untuk menghilangkan kesuntukan dari kesibukan yang padat sehingga fresh setelah itu untuk memasuki kesibukan berikutnya, bersantai dengan keluarga agar keharmonisan dapat terpelihara dengan baik, bagi anak mengajaknya untuk berinteraksi dengan alam, banyak sebenarnya manfaat dari pariwisata, bahkan penting sekali bagi para perenung kehidupan ini untuk mensyukuri karunia Allah di alam ini.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”[Al Baqarah 2;164].

Pariwisata apalagi di Minangkabau seharusnya memperhatikan adat istiadat yang bersandi syarak, tapi kenyataannya pengelola pariwisata mengabaikan hal itu, lihatlah sepanjang pantai Padang setiap sore hingga malam hari, pondok minum dan makan yang disediakan terkesan mengajak pengunjung untuk berbuat maksiat, disediakan payung-payung tertutup yang rendah hanya untuk dua orang saja, apa maksud dari sarana ini selain untuk bermaksiat, belum lagi suasana  remang-remang yang membuat bulu kuduk merinding melihatnya, sehingga tempat pariwisata terkesan untuk memadu kasih, bercumbu rayu, berbuat mesum dan mempercepat proses terpaksa nikah bagi pasangan-pasangan muda, disamping cinta mereka yang sedang menggebu juga tersedianya sarana wisata merusak masa depan mereka.

Dengan kondisi ini, yang lansung nampak oleh mata siapapun juga yang berkunjung ke pantai Padang itu, timbul berbagai pertanyaan, apakah Wali Kota Padang, Gubernur Sumbar, MUI, tokoh masyarakat tidak mengambil sikap peduli untuk menggelar amar ma’ruf nahi mungkar, padahal mungkin saja kasusnya bukan hanya di Padang saja tapi rata-rata sarana pariwisata tidak lepas dengan memberikan kesempatan dan peluang orang untuk berbuat maksiat.

Kita butuh pariwisata sebagai tempat penting pada momen-momen tertentu untuk dikunjungi bersama keluarga dan handai taulan, tentu tempat yang menyenangkan, sejuk mata dengan keindahannya, bersih udaranya dari segala virus maksiat sehingga sekembali dari sana kita segar kembali, ada sesuatu yang dapat diambil sebagai ilmu dan pelajaran, pariwisata bisa untuk meningkatkan iman tapi tidak sedikit untuk menghancurkan iman,seharusnya semua pihak terpanggil hendaknya menjadikan pariwisata yang mengatangkan devisa juga mendatangkan manfaat bagi pengunjungnya,  wallahu a’lam [Cubadak Solok, 27 Agustus 2011.M/ 27 Ramadhan 1432.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar