Selasa, 16 Februari 2016

229. Isti'jal



Inti dari da’wah adalah amar ma’ruf nahi mungkar  yaitu menyuruh orang untuk berbuat baik dan mencegah dari kemungkaran, amar ma’ruf hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang menyandang karakter da’i, segala ilmu dan kemampuannya berupaya untuk mengajak siapa saja untuk berbuat baik dalam bingkai ajaran islam, sebenarnya resiko dari amar ma’ruf sangatlah kecil karena hanya mengajak saja, siapa yang mau silahkan mengikuti, siapa yang belum mau mungkin masih ada peluang diwaktu yang lain, sedangkan nahi mungkar membutuhkan kekuatan karena sifatnya mencegah, mencegah itu sangat sulit untuk bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang punya kekuatan yady [tangan], ruhy,[mental] dan maly [harta].

            AmaR ma’Ruf nahi munkaR yang Oleh sebagian ulama disamakan dengan dakwah adalah suatu kewajiban mulia di dalam Islam yang dengannyalah Allah Ta’ala menjadikan umat ini sebagai umat teRbaik, sebagaimana fiRman Allah Ta’ala di dalam suRat Ali ImRan;110: “Kamu adalah umat yang teRbaik yang dilahiRkan untuk manusia, menyuRuh kepada yang ma'Ruf, dan mencegah daRi yang munkaR, dan beRiman kepada Allah. SekiRanya Ahli Kitab beRiman, tentulah itu lebih baik bagi meReka; di antaRa meReka ada yang beRiman dan kebanyakan meReka adalah ORang-ORang yang fasik.”

Di dalam menafsiRkan ayat ini Syaikh as-Sa’di Rahimahullah beRkata, “Allah memuji umat ini dan Dia mengabaRkan bahwa meReka adalah umat teRbaik yang Allah lahiRkan untuk manusia. Hal ini kaRena meReka menyempuRnakan diRi meReka dengan iman, yang menghaRuskan meReka untuk menunaikan semua peRintah Allah dan kaRena meReka menyempuRnakan ORang lain dengan caRa amaR ma’Ruf nahi munkaR, yang di dalamnya teRkandung dakwah ke jalan Allah, kesungguhan meReka di dalam dakwah teRsebut dan mengeRahkan seluRuh kemampuan meReka di dalam mengembalikan manusia daRi kesesatan dan kesalahan meReka (menuju ke jalan hidayah).

Maka daRi ayat ini, kita tahu bahwasanya kemuliaan dan kebaikan umat ini salah satunya disebabkan kaRena adanya amaR ma’Ruf nahi munkaR dan sebaliknya apabila meReka meninggalkan hal ini, maka akan teRjadi banyak sekali akibat buRuk yang menimpa umat ini, dan di antaRa dampak-dampak teRsebut adalah: 

1. Hilangnya Rasa aman, baik di tingkat pRibadi maupun masyaRakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan Oleh Allah Ta’ala dalam suRat TOha 123-124:"TuRunlah kamu beRdua daRi suRga beRsama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daRipadaKu, lalu baRangsiapa mengikuti petunjukKu, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan baRangsiapa yang beRpaling daRi peRingatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada haRi kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha: 123-124)

BeRkata Syaikh Asa’di di dalam tafsiR beliau فمناتبعهداى  mengikuti kebenaRan dengan caRa membenaRkan kabaR al-QuR`an dan tidak membantahnya dengan syubhat dan mengamalkan peRintah dengan tidak menentangnya dengan syahwat. Maka syubhat dan syahwat keduanya adalah penghalang teRwujudnya peRintah Ilahi dan ditinggalkannya laRanganNya. Maka apabila kita peRhatikan kOndisi dunia saat ini, khususnya masyaRakat yang tidak beRhukum dengan apa yang dituRunkan Oleh Allah, bahwa meReka menOlak hukumNya, maka kita dapatkan meReka tenggelam di dalam syubhat dan syahwat dan teRsebaRlah di dalam masyaRakat teRsebut kejahatan baik secaRa fisik maupun maknawi dan hilanglah Rasa aman di dalamnya. Tentunya hal ini disebabkan kaRena tidak adanya amaR ma’Ruf, adapun negeRi-negeRi yang di dalamnya ditegakkan amaR ma’Ruf tidak demikian.

2. TeRsebaRnya keRusakan di dalam kehidupan beRmasyaRakat, ekOnOmi maupun pOlitik. KeRusakan ini ditimbulkan apabila geneRasi ini tumbuh tanpa ada peRbaikan/ amaR ma’Ruf nahi munkaR. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membeRikan peRmisalan tentang hal ini dalam hadits Riwayat Imam BukhaRi daRi sahabat Nu’man bin BasyiR Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda: “PeRempumaan ORang yang menegakkan hudud (hukum) Allah dan ORang yang melanggaRnya adalah sepeRti suatu kaum yang melakukan undian di atas kapal, maka sebagian meReka mendapatkan bagian di lantai atas dan yang lain di lantai bawah. Maka apabila yang beRada di lantai bawah hendak mengambil aiR, meReka melewati ORang-ORang yang beRada di lantai atas. Maka meReka pun beRkata-kata seandainya kami melubangi yang menjadi bagian kami (bagian bawa kapal), tentu kami tidak mengganggu ORang-ORang yang di atas kami (kaRena tidak melewati meReka ketika mengambil aiR). Maka apabila meReka dibiaRkan melakukan apa yang meReka inginkan, maka binasalah semuanya, dan apabila meReka dicegah (daRi niatnya), maka selamatlah meReka dan selamatlah seluRuh penghuni kapal.” (Al-BukhaRi)

BeRkata al-Hafidz Ibnu HajaR Rahimahullah, maknanya yang melaRang dan yang dilaRang selamat semuanya. Dan demikianlah menegakkan hudud (Allah) akan mewujudkan keselamatan bagi yang menyuRuh dan ORang yang disuRuh apabila tidak maka binasalah pelaku kemaksiatan kaRena maksiatnya dan ORang yang diam (tidak mencegahnya) kaRena Ridhanya meReka. Beliau beRkata lagi di dalam hadits ini ada penjelasan bahwa tuRunnya adzab kaRena ditinggalkannya amaR ma’Ruf nahi munkaR.[Ust. SujOnO.Dampak MeninggalkanAmaR Ma’Ruf Nahi MunkaR,:: Compiled by oRiDo™ ::].

Da’wah atau amar ma’ruf nahi mungkar tidaklah dapat dipetik hasilnya seketika bahkan mungkin tidak Nampak hasilnya, sebagaimana para nabi terdahulu yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun berda’wah tapi pengikutnya hanya dua dan tiga orang saja bahkan ada yang tidak mendapat pengikut, namun Allah bukanlah melihat hasilnya, usaha, kerja dan pengerahan segala tenaga yang disebut dengan mujahadah itulah yang dinilai. Terburu-buru dalam da’wah agar mendapatkan hasil secepatnya disebut dengan isti’jal.

Kata isti'jaal, i'jaal, ta'ajjul, semuanya mengandung pengertian yang sama, yaitu 'keinginan untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan' atau 'orang yang menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat' atau 'memerintahkan orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah'.

Firman Allah Ta'ala yang menerangkan pengertian seperti itu antara lain, "Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka." (QS. Yunus [10] : 11)

Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksudkan dengan isti'jaal ialah 'keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem, dan sarana. Dengan perkataan lain, isti'jaal merupakan cara berdakwah menginginkan hasil yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.

Isti'jaal Dalam Pandangan Islam
Sikap tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dinyatakan oleh Allah.Firman-Nya,"Dan manusia berdo'a untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kejahatan sebagai ia berdoa untuk kebaikan.Dan sesungguhnya manusia itu bersifat tergesa-gesa." (QS. al-Israa' [17] : 11)"Manusia itu telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa." (QS. al-Anbiya [21] : 37)

Karena sifat itu merupakan tabiat dasar dari setiap manusia,maka Islam menempatkan dan menilainya secara adil dan bijaksana. Islam tidak memujinya atau mencelanya secara keseluruhan, tetapi memuji sebagian dan mencela sebagian lain dari tabiat tersebut.

Isti'jaalakan merupakan sikap yang terpuji asalkan sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pengamatan yang cermat dan seksama terhadap dampak dan akibat yang bakal timbul, analisis yang akurat terhadap situasi dan kondisi yang ada, dan setelah terlebih dahulu menyingkap segala sesuatunya secara akurat. Selain tentunya telah memiliki pembekalan dan persiapan yang jitu serta proses tahapan yang benar.

Inilah sikap isti'jaal yang dilukiskan dalam firman Allah Ta'ala tentang Nabi Musa AS; "Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?"Musa menjawab, "Itulah mereka yang sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu.Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha kepadaku." (QS. Thaha [20] : 83-84)

Maksudnya, setelah terlebih dahulu mengkaji dan memperhatikan segala sesuatunya, Nabi Musa AS menganggap perlu untuk bersegera pergi terlebih dahulu dibandingkan kaumnya. Ini karena menurut penilaiannya, hal tersebut akan memberikan manfaat dan maslahat yang lebih banyak daripada jika bersama-sama kaumnya.

Sedangkan sikap isti'jaal yang tercela yaitu jika mengabaikan perhitungan yang matang. Atau dengan perkataan lain pengambilan keputusan secara cepat, namun dengan cara nekad atau membabi-buta. Sikap isti'jaal seperti itulah yang dimaksud oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam saat beliau bersabda kepada Khabbab Ibnul Art.

Suatu hari Khabbab mendatangi Nabi, mengeluhkan siksaan dan penderitaan yang tengah dialami oleh dirinya dan para sahabat lainnya. Dia kemudian Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, untuk memohonkan pertolongan dari Allah serta mendo'akannya. Rasulullah shallahu alaihi was sallambersabda :
"Orang sebelum kalian digalikan sebuah lubang untuknya di atas tanah, kemudian mereka dimasukkan ke dalamnya.Setelah itu diambilkan sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya hingga terpotong menjadi dua bagian.Akan tetapi, hal tersebut tidak menggoyahkan agamanya.Kemudian ada juga yang disisir besi, sehingga terlepas daging dari tulangnya.Akan tetapi, hal itu juga tidak menggoyahkan agamanya. Allah pasti akan menyempurnakan masalah ini, sehingga akan berjalan seorang dari Sana'a ke Hadramaut, di mana ia tidak sedikitpun terhadap sesuatu kecuali kepada Allah, dan dari serigala yang akan menyerang kambingnya. Akan tetapi, kalian terburu-buru." (HR. Bukhari).[Bahaya Sikap Isti'jaal Para Aktivis Dakwah,Eramuslim.com.Tuesday, 26/04/2011 14:24 WIB].

Karena da’wah itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tidak cukup hanya satu generasi saja bahkan puluhan generasi yang diterjunkan ke gelanggang da’wah belum tentu bisa menyelesaikan da’wah ini, sejarah telah membuktikan sejak Nabi Adam dan nabi Nuh dengan segala kemampuannya menegakkan tauhid, tapi dalam sekian perjalanan panjang yang dilalui oleh nabi-nabi berikutnya tauhid itu masih juga tercemar oleh noda syirik, dakwah juta butuh dana yang sangat banyak sehingga kalau kita hanya menyerahkan sedikit harta kita untuk da’wah ini maka sungguh tidak akan selesai dengan dana yang sedikit, jangankan kita yang menda’wahkan kebenaran ke tengah ummat sedangkan orang-orang kafir saja demi kemungkaran dan kekafiran mereka siap untuk menggelantorkan dana berapapun banyaknya artinya orang-orang kafir infaqnya juga besar untuk mempertahankan kekafiran di dunia ini.

Walau bangsa kita, Indonesia ini sudah melewati enampuluh tahun merdeka, dengan segala penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan selama penjajahan,  begitu juga segala kehancuran dan kerusakan membutuhkan waktu yang panjang dan dana yang tidak sedikit untuk memulihkan negeri ini.

Herry nurdi dalam tulisannya yang berjudul Belum Masa Memetik Buah mengungkapkan tentang kondisi Indonesia sejak  zaman penjajahan hingga merdeka, tidak bisa memulihkannya dalam waktu dekat, butuh masa yang panjang untuk mengembalikannya. 

Mari kita hitung dengan cermat, berapa kuantitas dan kualitas kerusakan yang dialami dan diderita Indonesia. Negeri ini, tanah, air dan rakyatnya dikuasai penjajah Belanda, konon ratusan tahun lamanya. Sebut saja 350 tahun, begitu yang tertera dalam buku pelajaran sejarah di sekolah.Kualitas kerusakannya, juga luar biasa, tak hanya materi.Terjadi politik adu domba, sekulerisasi hukum dan di bidang sosial lainnya.

Lalu Inggris, meski tidak terlalu lama, hanya peralihan kekuasaan saja di bawah Rafless. Konon, dijajah Inggris adalah keberuntungan tersendiri.Sebab, Inggris disebut mencerdaskan bangsa jajahannya.Tapi tetap saja, namanya penjajah selalu memberikan lebih banyak kerugian dibanding manfaatnya untuk Indonesia, bangsa yang dijajahnya.

Kemudian dua setengah tahun di bawah kekuasaan Dai Nippon, bangsa ini sudah merasakan betapa pahitnya dipaksa menyembah matahari setiap pagi.Ritual ini biasa disebut seikere. Siapa saja yang menolak seikere, Kenpetai akan menyiksanya. Belum lagi kerja paksa bernama Romusa dan perkosaan perempuan besar-besaran dalam sejarah Indonesia yang bernama Jugun Ianfu.

Sebelum merdeka, bangsa ini punya luka besar yang menganga.Ketika merdeka, sepintas lalu seolah kita punya kesempatan untuk mengobati luka dan mengolah lahan secara berdaulat.Tapi lagi-lagi kekuasaan Orde Lama, tak terlalu bisa kita sebut sebagai kekuatan penyelamat.Kekecewaan terjadi di sana-sini, bahkan di akhir masa rezimnya, negeri ini diajak untuk menjauh dari Tuhan dengan mengakui sistem komunis sebagai salah satu pilihan.

Tumbang Orde Lama, tumbuh Orde Baru. Lagi-Lagi negeri ini menyambutnya dengan penuh harapan.Tapi rupanya, selama 32 tahun negeri ini diolah semaunya, seolah-olah lahan milik pribadi dan bukan milik bersama.Dan setelah rezim tumbang, yang tersisa kini, hanya kubang yang besar.Hutangnya sampai beranak cucu.

Lebih lanjut tokoh muda yang bergabung dalam gerakan da’wah ini menyatakan, Terlalu lama negeri ini dirusak.Dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk memperbaiki dan menyuburkannya kembali.Sekarang belum masanya memetik buah, apalagi panen raya.Jangan menjadi satu lagi golongan yang merusak negeri yang hari ini dititipkan.Bekerja saja.Berjuang saja.Allah tidak pernah lupa.Allah tak mungkin salah. Dia Maha Tahu, siapa melakukan apa. Dan pasti akan membalasnya.[Cybersabili.com.Rabu, 23 Juni 2010 06:12].

Ibarat buah yang belum matang, walaupun dikarbit sehingga Nampak masak dan ranum maka hasilnya tidaklah baik, kulit yang kuning tidak jaminan buah itu baik, ternyata sebagian dari buah itu keras, ada yang masak dan yang lainnya busuk, ada pula yang tidak ada tanda-tanda bisa dimakan. Buah yang tidak matang walaupun diperam sekian malam tetap menghasilkan buah yang tidak berkualitas, apalagi buah itu jatuh karena gempa, terjangan petir atau karena renggutan tupai.Salah satu munculnya sifat isti’jal itu karena tidak mengetahui strategi.

Dalam upaya melancarkan serangan serta menundukkan dunia Islam, pihak musuh memiliki bermacam-macam metode dan strategi. Selain dengan cara unjuk kekuatan, mereka juga kerap mencoba memasukkan orang-orangnya ketengah-tengah kaum Muslimin. Lalu terjadi perpecahan.Mereka memasukkan pemikiran dan nilai-nilai baru, dan kemudian terjadi konflik di dalam gerakan dakwah itu.
Tetapi, yang paling penting mereka ingin mengetahui strategi perjuangan dan gerakan dakwah itu.Mereka ingin mengetahui secara akurat.Kemudian, mereka melaporkan dan menjadi bahan kajian untuk kemudian membuat stategi dan langkah menghancurkan kekuatan harakah dakwah itu.

Mereka memasukkan orang-orangnya ke dalam gerakan dakwah itu. Semisal melakukan "planted agent" (agen yang ditanam) ke dalam gerakan itu, dan kemudian mereka memporak-porandakan gerakan dakwah itu sampai hancur. Bahkan, tidak jarang musuh, semisal Yahudi,menanamkan ke dalam gerakan orang-orangnya untuk menyusup, dan kemudian menciptakan kondisi pemikiran, yang kemudian tokoh-tokoh itu, mengubah dan menyelewengkan tunjuan dari gerakan dakwah itu. Sehingga, gerakan itu gagal mencapai tujuannya.

Inilah ancaman dari isti'jaal yang kadang-kadang para pelaku gerakan dakwah tidak menyadari kondisi seperti itu.Apalagi, jika kondisi gerakan itu, jumud dan ditanamkan taklid, dan tidak dibiasakan pengikutnya untuk berpikir dan mengalisis segala persoalan, dan kesempatan itu hanya diberikan kepada para tokohnya.Maka sangat dengan mudah gerakan itu cenderunga isti'jaal.

Maka dengan cara itu, para tokohnya dapat bertindak apa saja, dan kemudian gerakan itu melakukan penyimpangan, sementara itu, para pengikutnya masih menyakini gerakan dakwah itu masih dijalannya yang benar. Ini yang menyebabkan kebangkrutan gerakan dakwah itu.[Penyebab Isti'jaal : Akibat Perubahan Zaman,Eramuslim.com.Wednesday, 11/05/2011 13:01 WIB].

Salah satu kekurangan ummat islam dalam menghadapi lawan adalah tidak mau mencari strategi apa yang digunakan oleh lawan, apakah lawan akan menyelusup dalam barisan ummat ini atau mereka melancarkan propaganda dan teror yang intinya ummat islam ini lemah, tidak berdaya, walaupun berdaya tapi ingin agar kekuatan itu digunakan segera untuk  menghancurkan lawan, Rasulullah berada di Mekkah selama dua belas tahun sebelum hijrahnya, padahal ketika itu ummat islam sudah mulai tumbuh apalagi Umar bin Khattab juga sudah masuk Islam, dia menyarankan agar melakukan da’wah secara terang-terangan, bahkan ketika Amar bin Yasir mendapat siksaan dari kafir Quraisy, bapaknya dibunuh dihadapannya sendiri, ibunya ditusuk dengan tombak sejak dari dubur hingga kepala, luar biasa penyiksaan yang diberikan kepada Amar bin Yasir, saat kejadian itu Rasulullah lewat, dia pukul pundak Amar sambil berkata, sabarlah Amar, syurga ditanganmu.

Ketika itu tidak ada perlawanan karena kondisi ummat islam masih lemah sedangkan lawan kuat, saat ada perintah Hijrah Rasul dengan para sahabat juga berangkat meninggalkan Mekkah menuju Madinah, semua yang dilakukan itu adalah strategi dalam menghadapi lawan, karena ada saatnya kelak, sepuluh tahun kemudian Mekkah dapat ditaklukkan, semua itu keberhasilan Rasulullah dalam membimbing sahabatnya agar tidak bisa menahan diri agar tidak isti’jal dalam da’wah, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 16 Zulhijjah 1432.H/ 12 November 2011.M].  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar