Inti dari da’wah adalah amar ma’ruf nahi
mungkar yaitu menyuruh orang untuk
berbuat baik dan mencegah dari kemungkaran, amar ma’ruf hanya bisa dilaksanakan
oleh orang-orang yang menyandang karakter da’i, segala ilmu dan kemampuannya
berupaya untuk mengajak siapa saja untuk berbuat baik dalam bingkai ajaran
islam, sebenarnya resiko dari amar ma’ruf sangatlah kecil karena hanya mengajak
saja, siapa yang mau silahkan mengikuti, siapa yang belum mau mungkin masih ada
peluang diwaktu yang lain, sedangkan nahi mungkar membutuhkan kekuatan karena
sifatnya mencegah, mencegah itu sangat sulit untuk bisa dilakukan kecuali oleh
orang-orang yang punya kekuatan yady [tangan], ruhy,[mental] dan maly [harta].
AmaR ma’Ruf nahi munkaR yang Oleh sebagian ulama disamakan dengan dakwah
adalah suatu kewajiban mulia di dalam Islam yang dengannyalah Allah Ta’ala
menjadikan umat ini sebagai umat teRbaik, sebagaimana fiRman Allah Ta’ala di
dalam suRat Ali ImRan;110: “Kamu adalah
umat yang teRbaik yang dilahiRkan untuk manusia, menyuRuh kepada yang ma'Ruf,
dan mencegah daRi yang munkaR, dan beRiman kepada Allah. SekiRanya Ahli Kitab
beRiman, tentulah itu lebih baik bagi meReka; di antaRa meReka ada yang beRiman
dan kebanyakan meReka adalah ORang-ORang yang fasik.”
Di dalam menafsiRkan ayat ini Syaikh
as-Sa’di Rahimahullah beRkata, “Allah memuji umat ini dan Dia mengabaRkan bahwa
meReka adalah umat teRbaik yang Allah lahiRkan untuk manusia. Hal ini kaRena
meReka menyempuRnakan diRi meReka dengan iman, yang menghaRuskan meReka untuk
menunaikan semua peRintah Allah dan kaRena meReka menyempuRnakan ORang lain
dengan caRa amaR ma’Ruf nahi munkaR, yang di dalamnya teRkandung dakwah ke
jalan Allah, kesungguhan meReka di dalam dakwah teRsebut dan mengeRahkan
seluRuh kemampuan meReka di dalam mengembalikan manusia daRi kesesatan dan
kesalahan meReka (menuju ke jalan hidayah).
Maka daRi ayat ini, kita tahu bahwasanya
kemuliaan dan kebaikan umat ini salah satunya disebabkan kaRena adanya amaR
ma’Ruf nahi munkaR dan sebaliknya apabila meReka meninggalkan hal ini, maka
akan teRjadi banyak sekali akibat buRuk yang menimpa umat ini, dan di antaRa
dampak-dampak teRsebut adalah:
1. Hilangnya Rasa aman, baik di tingkat pRibadi maupun
masyaRakat. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan Oleh Allah Ta’ala dalam suRat
TOha 123-124:"TuRunlah kamu beRdua
daRi suRga beRsama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka
jika datang kepadamu petunjuk daRipadaKu, lalu baRangsiapa mengikuti
petunjukKu, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. Dan baRangsiapa yang
beRpaling daRi peRingatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada haRi kiamat dalam keadaan buta". (QS.
Thaha: 123-124)
BeRkata Syaikh
Asa’di di dalam tafsiR beliau فمناتبعهداى
mengikuti kebenaRan dengan caRa membenaRkan kabaR al-QuR`an dan tidak
membantahnya dengan syubhat dan mengamalkan peRintah dengan tidak menentangnya
dengan syahwat. Maka syubhat dan syahwat keduanya adalah penghalang teRwujudnya
peRintah Ilahi dan ditinggalkannya laRanganNya. Maka apabila kita peRhatikan
kOndisi dunia saat ini, khususnya masyaRakat yang tidak beRhukum dengan apa
yang dituRunkan Oleh Allah, bahwa meReka menOlak hukumNya, maka kita dapatkan
meReka tenggelam di dalam syubhat dan syahwat dan teRsebaRlah di dalam
masyaRakat teRsebut kejahatan baik secaRa fisik maupun maknawi dan hilanglah
Rasa aman di dalamnya. Tentunya hal ini disebabkan kaRena tidak adanya amaR ma’Ruf,
adapun negeRi-negeRi yang di dalamnya ditegakkan amaR ma’Ruf tidak demikian.
2. TeRsebaRnya keRusakan di dalam kehidupan
beRmasyaRakat, ekOnOmi maupun pOlitik. KeRusakan ini ditimbulkan apabila
geneRasi ini tumbuh tanpa ada peRbaikan/ amaR ma’Ruf nahi munkaR. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam membeRikan peRmisalan tentang hal ini dalam hadits
Riwayat Imam BukhaRi daRi sahabat Nu’man bin BasyiR Radhiyallahu ‘anhu, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda: “PeRempumaan
ORang yang menegakkan hudud (hukum) Allah dan ORang yang melanggaRnya adalah
sepeRti suatu kaum yang melakukan undian di atas kapal, maka sebagian meReka
mendapatkan bagian di lantai atas dan yang lain di lantai bawah. Maka apabila
yang beRada di lantai bawah hendak mengambil aiR, meReka melewati ORang-ORang
yang beRada di lantai atas. Maka meReka pun beRkata-kata seandainya kami
melubangi yang menjadi bagian kami (bagian bawa kapal), tentu kami tidak
mengganggu ORang-ORang yang di atas kami (kaRena tidak melewati meReka ketika
mengambil aiR). Maka apabila meReka dibiaRkan melakukan apa yang meReka
inginkan, maka binasalah semuanya, dan apabila meReka dicegah (daRi niatnya),
maka selamatlah meReka dan selamatlah seluRuh penghuni kapal.” (Al-BukhaRi)
BeRkata al-Hafidz
Ibnu HajaR Rahimahullah, maknanya yang melaRang dan yang dilaRang selamat
semuanya. Dan demikianlah menegakkan hudud (Allah) akan mewujudkan keselamatan
bagi yang menyuRuh dan ORang yang disuRuh apabila tidak maka binasalah pelaku
kemaksiatan kaRena maksiatnya dan ORang yang diam (tidak mencegahnya) kaRena
Ridhanya meReka. Beliau beRkata lagi di dalam hadits ini ada penjelasan bahwa
tuRunnya adzab kaRena ditinggalkannya amaR ma’Ruf nahi munkaR.[Ust. SujOnO.Dampak MeninggalkanAmaR Ma’Ruf Nahi MunkaR,:: Compiled by oRiDo™
::].
Da’wah atau amar ma’ruf nahi mungkar
tidaklah dapat dipetik hasilnya seketika bahkan mungkin tidak Nampak hasilnya,
sebagaimana para nabi terdahulu yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun
berda’wah tapi pengikutnya hanya dua dan tiga orang saja bahkan ada yang tidak
mendapat pengikut, namun Allah bukanlah melihat hasilnya, usaha, kerja dan
pengerahan segala tenaga yang disebut dengan mujahadah itulah yang dinilai.
Terburu-buru dalam da’wah agar mendapatkan hasil secepatnya disebut dengan
isti’jal.
Kata isti'jaal, i'jaal,
ta'ajjul, semuanya mengandung pengertian yang sama, yaitu 'keinginan
untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan' atau 'orang yang
menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat' atau 'memerintahkan
orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah'.
Firman Allah Ta'ala
yang menerangkan pengertian seperti itu antara lain, "Dan kalau
sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka
untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka." (QS.
Yunus [10] : 11)
Sedangkan dari segi istilah,
yang dimaksudkan dengan isti'jaal ialah 'keinginan untuk mewujudkan
perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya, tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan
akibat, dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan,
sistem, dan sarana. Dengan perkataan lain, isti'jaal merupakan cara
berdakwah menginginkan hasil yang maksimal dengan waktu yang sesingkat mungkin.
Isti'jaal Dalam Pandangan Islam
Sikap tergesa-gesa dan
terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti
yang telah dinyatakan oleh Allah.Firman-Nya,"Dan manusia berdo'a untuk
kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kejahatan sebagai ia berdoa untuk
kebaikan.Dan sesungguhnya manusia itu bersifat tergesa-gesa." (QS.
al-Israa' [17] : 11)"Manusia itu telah dijadikan (bertabiat)
tergesa-gesa." (QS. al-Anbiya [21] : 37)
Karena sifat itu merupakan
tabiat dasar dari setiap manusia,maka Islam menempatkan dan menilainya secara
adil dan bijaksana. Islam tidak memujinya atau mencelanya secara keseluruhan,
tetapi memuji sebagian dan mencela sebagian lain dari tabiat tersebut.
Isti'jaalakan
merupakan sikap yang terpuji asalkan sebelumnya terlebih dahulu dilakukan
pengamatan yang cermat dan seksama terhadap dampak dan akibat yang bakal
timbul, analisis yang akurat terhadap situasi dan kondisi yang ada, dan setelah
terlebih dahulu menyingkap segala sesuatunya secara akurat. Selain tentunya
telah memiliki pembekalan dan persiapan yang jitu serta proses tahapan yang
benar.
Inilah sikap isti'jaal
yang dilukiskan dalam firman Allah Ta'ala tentang Nabi Musa AS; "Mengapa
kamu datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?"Musa menjawab,
"Itulah mereka yang sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu.Ya
Tuhanku, agar supaya Engkau ridha kepadaku." (QS. Thaha [20] : 83-84)
Maksudnya, setelah terlebih
dahulu mengkaji dan memperhatikan segala sesuatunya, Nabi Musa AS menganggap
perlu untuk bersegera pergi terlebih dahulu dibandingkan kaumnya. Ini karena
menurut penilaiannya, hal tersebut akan memberikan manfaat dan maslahat yang
lebih banyak daripada jika bersama-sama kaumnya.
Sedangkan sikap isti'jaal
yang tercela yaitu jika mengabaikan perhitungan yang matang. Atau dengan
perkataan lain pengambilan keputusan secara cepat, namun dengan cara nekad atau
membabi-buta. Sikap isti'jaal seperti itulah yang dimaksud oleh Rasulullah shallahu
alaihi wa sallam saat beliau bersabda kepada Khabbab Ibnul Art.
Suatu hari Khabbab mendatangi
Nabi, mengeluhkan siksaan dan penderitaan yang tengah dialami oleh dirinya dan
para sahabat lainnya. Dia kemudian Rasulullah shallahu alaihi wa sallam,
untuk memohonkan pertolongan dari Allah serta mendo'akannya. Rasulullah shallahu
alaihi was sallambersabda :
"Orang sebelum kalian
digalikan sebuah lubang untuknya di atas tanah, kemudian mereka dimasukkan ke
dalamnya.Setelah itu diambilkan sebuah gergaji dan diletakkan di atas kepalanya
hingga terpotong menjadi dua bagian.Akan tetapi, hal tersebut tidak
menggoyahkan agamanya.Kemudian ada juga yang disisir besi, sehingga terlepas
daging dari tulangnya.Akan tetapi, hal itu juga tidak menggoyahkan agamanya.
Allah pasti akan menyempurnakan masalah ini, sehingga akan berjalan seorang
dari Sana'a ke Hadramaut, di mana ia tidak sedikitpun terhadap sesuatu kecuali
kepada Allah, dan dari serigala yang akan menyerang kambingnya. Akan tetapi,
kalian terburu-buru." (HR. Bukhari).[Bahaya Sikap Isti'jaal Para Aktivis
Dakwah,Eramuslim.com.Tuesday, 26/04/2011 14:24 WIB].
Karena da’wah itu membutuhkan
waktu yang tidak sedikit, tidak cukup hanya satu generasi saja bahkan puluhan
generasi yang diterjunkan ke gelanggang da’wah belum tentu bisa menyelesaikan
da’wah ini, sejarah telah membuktikan sejak Nabi Adam dan nabi Nuh dengan
segala kemampuannya menegakkan tauhid, tapi dalam sekian perjalanan panjang
yang dilalui oleh nabi-nabi berikutnya tauhid itu masih juga tercemar oleh noda
syirik, dakwah juta butuh dana yang sangat banyak sehingga kalau kita hanya
menyerahkan sedikit harta kita untuk da’wah ini maka sungguh tidak akan selesai
dengan dana yang sedikit, jangankan kita yang menda’wahkan kebenaran ke tengah
ummat sedangkan orang-orang kafir saja demi kemungkaran dan kekafiran mereka
siap untuk menggelantorkan dana berapapun banyaknya artinya orang-orang kafir
infaqnya juga besar untuk mempertahankan kekafiran di dunia ini.
Walau bangsa kita, Indonesia
ini sudah melewati enampuluh tahun merdeka, dengan segala penderitaan dan
kesengsaraan yang dirasakan selama penjajahan,
begitu juga segala kehancuran dan kerusakan membutuhkan waktu yang
panjang dan dana yang tidak sedikit untuk memulihkan negeri ini.
Herry
nurdi dalam tulisannya yang berjudul Belum
Masa Memetik Buah mengungkapkan tentang kondisi Indonesia sejak zaman penjajahan hingga merdeka, tidak bisa
memulihkannya dalam waktu dekat, butuh masa yang panjang untuk
mengembalikannya.
Mari kita hitung
dengan cermat, berapa kuantitas dan kualitas kerusakan yang dialami dan
diderita Indonesia. Negeri ini, tanah, air dan rakyatnya dikuasai penjajah
Belanda, konon ratusan tahun lamanya. Sebut saja 350 tahun, begitu yang tertera
dalam buku pelajaran sejarah di sekolah.Kualitas kerusakannya, juga luar biasa,
tak hanya materi.Terjadi politik adu domba, sekulerisasi hukum dan di bidang
sosial lainnya.
Lalu Inggris,
meski tidak terlalu lama, hanya peralihan kekuasaan saja di bawah Rafless.
Konon, dijajah Inggris adalah keberuntungan tersendiri.Sebab, Inggris disebut
mencerdaskan bangsa jajahannya.Tapi tetap saja, namanya penjajah selalu
memberikan lebih banyak kerugian dibanding manfaatnya untuk Indonesia, bangsa
yang dijajahnya.
Kemudian dua
setengah tahun di bawah kekuasaan Dai Nippon, bangsa ini sudah merasakan betapa
pahitnya dipaksa menyembah matahari setiap pagi.Ritual ini biasa disebut
seikere. Siapa saja yang menolak seikere, Kenpetai akan menyiksanya. Belum lagi
kerja paksa bernama Romusa dan perkosaan perempuan besar-besaran dalam sejarah
Indonesia yang bernama Jugun Ianfu.
Sebelum merdeka,
bangsa ini punya luka besar yang menganga.Ketika merdeka, sepintas lalu seolah
kita punya kesempatan untuk mengobati luka dan mengolah lahan secara
berdaulat.Tapi lagi-lagi kekuasaan Orde Lama, tak terlalu bisa kita sebut
sebagai kekuatan penyelamat.Kekecewaan terjadi di sana-sini, bahkan di akhir
masa rezimnya, negeri ini diajak untuk menjauh dari Tuhan dengan mengakui
sistem komunis sebagai salah satu pilihan.
Tumbang Orde
Lama, tumbuh Orde Baru. Lagi-Lagi negeri ini menyambutnya dengan penuh
harapan.Tapi rupanya, selama 32 tahun negeri ini diolah semaunya, seolah-olah
lahan milik pribadi dan bukan milik bersama.Dan setelah rezim tumbang, yang
tersisa kini, hanya kubang yang besar.Hutangnya sampai beranak cucu.
Lebih
lanjut tokoh muda yang bergabung dalam gerakan da’wah ini menyatakan, Terlalu
lama negeri ini dirusak.Dan perlu waktu yang lebih lama lagi untuk memperbaiki
dan menyuburkannya kembali.Sekarang belum masanya memetik buah, apalagi panen
raya.Jangan menjadi satu lagi golongan yang merusak negeri yang hari ini
dititipkan.Bekerja saja.Berjuang saja.Allah tidak pernah lupa.Allah tak mungkin
salah. Dia Maha Tahu, siapa melakukan apa. Dan pasti akan membalasnya.[Cybersabili.com.Rabu,
23 Juni 2010 06:12].
Ibarat
buah yang belum matang, walaupun dikarbit sehingga Nampak masak dan ranum maka
hasilnya tidaklah baik, kulit yang kuning tidak jaminan buah itu baik, ternyata
sebagian dari buah itu keras, ada yang masak dan yang lainnya busuk, ada pula
yang tidak ada tanda-tanda bisa dimakan. Buah yang tidak matang walaupun
diperam sekian malam tetap menghasilkan buah yang tidak berkualitas, apalagi
buah itu jatuh karena gempa, terjangan petir atau karena renggutan tupai.Salah
satu munculnya sifat isti’jal itu karena tidak mengetahui strategi.
Tetapi, yang paling penting mereka ingin mengetahui strategi perjuangan dan gerakan dakwah itu.Mereka ingin mengetahui secara akurat.Kemudian, mereka melaporkan dan menjadi bahan kajian untuk kemudian membuat stategi dan langkah menghancurkan kekuatan harakah dakwah itu.
Mereka memasukkan orang-orangnya ke dalam gerakan dakwah itu. Semisal melakukan "planted agent" (agen yang ditanam) ke dalam gerakan itu, dan kemudian mereka memporak-porandakan gerakan dakwah itu sampai hancur. Bahkan, tidak jarang musuh, semisal Yahudi,menanamkan ke dalam gerakan orang-orangnya untuk menyusup, dan kemudian menciptakan kondisi pemikiran, yang kemudian tokoh-tokoh itu, mengubah dan menyelewengkan tunjuan dari gerakan dakwah itu. Sehingga, gerakan itu gagal mencapai tujuannya.
Inilah ancaman dari isti'jaal yang kadang-kadang para pelaku gerakan dakwah tidak menyadari kondisi seperti itu.Apalagi, jika kondisi gerakan itu, jumud dan ditanamkan taklid, dan tidak dibiasakan pengikutnya untuk berpikir dan mengalisis segala persoalan, dan kesempatan itu hanya diberikan kepada para tokohnya.Maka sangat dengan mudah gerakan itu cenderunga isti'jaal.
Maka
dengan cara itu, para tokohnya dapat bertindak apa saja, dan kemudian gerakan
itu melakukan penyimpangan, sementara itu, para pengikutnya masih menyakini
gerakan dakwah itu masih dijalannya yang benar. Ini yang menyebabkan
kebangkrutan gerakan dakwah itu.[Penyebab Isti'jaal : Akibat Perubahan Zaman,Eramuslim.com.Wednesday,
11/05/2011 13:01 WIB].
Salah
satu kekurangan ummat islam dalam menghadapi lawan adalah tidak mau mencari
strategi apa yang digunakan oleh lawan, apakah lawan akan menyelusup dalam
barisan ummat ini atau mereka melancarkan propaganda dan teror yang intinya
ummat islam ini lemah, tidak berdaya, walaupun berdaya tapi ingin agar kekuatan
itu digunakan segera untuk menghancurkan
lawan, Rasulullah berada di Mekkah selama dua belas tahun sebelum hijrahnya, padahal
ketika itu ummat islam sudah mulai tumbuh apalagi Umar bin Khattab juga sudah
masuk Islam, dia menyarankan agar melakukan da’wah secara terang-terangan,
bahkan ketika Amar bin Yasir mendapat siksaan dari kafir Quraisy, bapaknya
dibunuh dihadapannya sendiri, ibunya ditusuk dengan tombak sejak dari dubur
hingga kepala, luar biasa penyiksaan yang diberikan kepada Amar bin Yasir, saat
kejadian itu Rasulullah lewat, dia pukul pundak Amar sambil berkata, sabarlah
Amar, syurga ditanganmu.
Ketika
itu tidak ada perlawanan karena kondisi ummat islam masih lemah sedangkan lawan
kuat, saat ada perintah Hijrah Rasul dengan para sahabat juga berangkat
meninggalkan Mekkah menuju Madinah, semua yang dilakukan itu adalah strategi
dalam menghadapi lawan, karena ada saatnya kelak, sepuluh tahun kemudian Mekkah
dapat ditaklukkan, semua itu keberhasilan Rasulullah dalam membimbing
sahabatnya agar tidak bisa menahan diri agar tidak isti’jal dalam da’wah, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 16 Zulhijjah 1432.H/ 12 November
2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar