Selasa, 26 Januari 2016

136. Silaturahim



Kita tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, perlu adanya saudara, tetangga, sahabat dan teman, saling memberi dan menerima bantuan dari orang lain, apalagi hidup dalam lingkungan masyarakat kita dianjurkan untuk bersikap baik agar dicintai ummat. Hubungan baik itu terujud karena diikat oleh tali silaturahim yaitu tali kasih sayang yang  dianjurkan oleh islam selain merupakan fithrah manusia maka silaturahim juga mendapatkan keuntungan yang tidak dapat disangka-sangka berupa rezeki yang berlimpah dan umur yang panjang.
Abdullah bin Salam berkata: ketika Nabi Saw tiba di Madinah banyak masyarakat mengerumuninya dan dikatakan: Rasulullah telah tiba, maka aku pun datang di tengah-tengah mereka untuk menatap wajahnya.
Setelah terlihat jelas aku mengetahui bahwa wajahnya bukan wajah pembohong.kalimat yang pertama aku dengan dari ucapannya adalah: "hai sekalian manusia, sebarkanlah salam (keselamatan, kedamaian, kerukunan, do'a selamat), berikan makanan, pelihara shilaturrahim dan lakukanlah shalat pada saat manusia sedang tidur. niscaya kamusekalian masuk surga dengan salam. (HR. Ibnu Majah)
Banyak pelajaran yang patut kita ambil dari hadis ini, antara lain:
- Abdullah bin Salam semasa masih dalam akidah Yahudi berani bersikap
yang berbeda meski sendirian.
- Orang yang mencari kebenaran tidak pernah ikut-ikutan menilai buruk terhadap seseorang tanpa fakta kendatipun golongannya sepakat menuduh buruk.
- Tuduhan buruk tersebut dipertahankan Yahudi hanya karena untuk membela nafsu belaka.
- Setelah melaihat dengan jelas tampilan Rasulullah, abdulah bin salam menyatakan hal yang seseuai dengan apa yang dia lihat kendatipun harus menghadapi resiko yang berat.
- Rasulullah menyampaikan empat pesan: 3 dari keempat tersebut sangat berhubungan dengan masalah komunikasi masa.
- Sementara satu dari keempat berhubungan dengan komunikasi spiritual.
- Hal itu memberi arti bahwa dalam kehidupan kita ini banyak perbuatan yang berhubungan dengan sesama.
- Secara urutan juga mengandung makna: upaya penyebaran kedamaian dengan bersih hati mendoakan orang lain untuk selamat yang disampaikan dengan wajah simpatik akan membuat orang lain yang sedang mencari kebenaran akan merasa sejuk, kendatipun pada mulanya memiliki pandangan yang berbeda karena inlformasi dari pihak lain.
- Memberi makanan adalah salah satu cara yang sangat baik untuk mejalin komunikasi antar sesama meski hanya dengan makanan alakadanya.
- Shilaturrahim tidak diragukan wajib hukumnya baik yang dekat ataupun yang jauh terutama dengan saudara dan karabat. banyak orang terputus hubungan akibat terganggu oleh kepentigan sesaat.[Saiful Islam Mubarak, Nilai Silaturrahmi Dalam Kehidupan, Eramuslim.com. Monday, 07/02/2011 15:10 WIB].
Makna 'ar-rahim' adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".
Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.
Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.(Fathul Bari, 10/414)
Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.(Lihat, Murqatul Mafatih, 8/645)
Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah:
  1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya)1)maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415)
  1. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim". (Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415)
Dalam dua hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia. [Dr. Fadhl Ilahi, Makna Silaturrahim.Assunnah ML online].
Indah betul ajaran Islam.Tak hanya sisi spiritual, banyak hal yang secara ilmiah terbukti kebenarannya.Salah satunya, adalah ajaran untuk menjalin silaturahim dan menyambungnya kembali jika terputus.
            Penelitian yang dihajat The Crown Street Resource Centre membuktikan, pertemanan dapat membantu seseorang hidup lebih lama dan melewatinya dengan penuh rasa bahagia. Sebaliknya, seseorang yang kesepian akan melewatkan kehidupannya secara "menyedihkan".
            The Crown Street Resource Centre mengembangkan sebuah komunitas  di mana orang-orang dengan masalah kesehatan mental dapat bertemu dan mengambil bagian dalam berbagai hobi dari musik untuk budidaya lebah madu. Di dalamnya, setiap orang yang datang dapat menjalin pertemanan.
Tricia Hagan, Konsultan Psikolog Klinis di Mersey Care NHS Trust, mengatakan, menjalin pertemanan  memiliki manfaat besar bagi kesehatan fisik dan kesejahteraan rohani. "Hal ini bisa mendukung  Anda hidup lebih lama," ujarnya."Plus, Anda mungkin bisa membantu orang lain untuk tidak merasa kesepian."Pertemanan, kata dia, bukan sekadar membuat kontak dengan orang lain, atau mendaftar banyak orang yang kita kenal."Pertemanan yang dimaksud adalah kita menjalin silaturahim intens dengan mereka," tambahnya.
Di The Crown Street Resource Centre, setiap anggota terapi saling berhubungan satu sama lain dan melakukan kegiatan bersama, yaitu merawat lebah dengan sangat santai dan menyenangkan. "Kelompok budidaya lebah madu adalah cara untuk mendapatkan orang yang terlibat dalam sebuah kegiatan, itu semua tentang membuat pertemanan dan mendorong orang untuk bergabung dengan kelompok atau asosiasi," ujarnya.
Hagan mengatakan bahwa setelah bergabung dengan kelompok atau melakukan hobi bersama membantu seseorang dengan problem kesehatan mental menjadi lebih baik. "ia menjadi tidak asosial dan seolah menemukan hidupnya kembali," tambahnya.
Pertemanan juga merupakan cara terbaik untuk memerangi kesepian. "Coba lihat baik-baik jaringan sosial Anda saat ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak orang maka bergabung dengan aktivitas lokal yang menarik minat Anda - grup buku, sandiwara amatir, klub olahraga, aneka kursus, dan sebagainya, maka Anda akan menemukan dunia yang terasa lebih luas," ujarnya.[Hasil Penelitian: Menjalin Silaturahim Membantu Seseorang Panjang Umur, Republika.co.id.Selasa, 24 Agustus 2010 18:17 WIB].
Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta.Pembatasan ini tidaklah benar.Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu.Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.
Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Silaturrahim itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan do'a".
Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat). (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi, Sarana Untuk Silaturrahim.Assunnah ML online].
Ketua umum Ikatan Da'i Indonesia, Satori Ismail, mengatakan tak masalah jika silaturahim dilakukan melalui perantara teknologi komunikasi.Silaturahmi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap Muslim."Yang namanya silaturahmi itu salah satu kewajiban," kata dia kepada Republika.co.id, Kamis (7/7).
Diungkapkan Satori, silaturahmi merupakan wadah bagi setiap Muslim untuk menjalin tali kekeluargaan antara satu dengan yang lain. Menurut dia, hal yang fatal bagi setiap Muslim apabila mengabaikan kewajiban bersilaturahmi."Intinya kembali ke niat.Kalau bersilaturahmi menggunakan teknologi komunikasi dinilai memudahkan, maka itu dipersilahkan," kata dia.
Satori mengatakan, ada kondisi di mana setiap Muslim tidak memungkinkan untuk merajut komunikasi tatap muka.Dengan demikian, kehadiran teknologi komunikasi bisa menjadi alternatif bersilaturahmi."Mungkin saja, dengan penggunaan teknologi komunikasi, silaturhami yang terjalin lebih intensif," kata dia.
Namun, berbeda apabila pemanfaatan teknologi digunakan untuk menghilangkan niat menjalin silaturahmi.Maksudnya, lantaran kehadiran teknologi komunikasi, seorang Muslim jadi enggan bertemu dengan keluarga atau sanak-saudaranya."Itu yang perlu diperhatikan," kata dia.
Oleh sebab itu, Satori mengingatkan agar setiap Muslim tidak serta-merta mengabaikan bersilaturahmi secara tatap muka.“Pengabaian itu pada akhirnya menghadirkan kesia-siaan.”[Dai: Silaturahim Lewat Teknologi Komunikasi? Tak Masalah, Republika.co.id. Kamis, 07 Juli 2011 15:43 WIB].
Selama hubungan kita baik-baik saja dengan saudara dan kerabat maka hubungan silaturahim akan berjalan dengan baik pula, apakah dengan bertatap muka ataupun melalui sarana teknologi lainnya, tapi kalau saudara dan kerabat kita termasuk ahli maksiat atau beragama non islam, bagaimanakah caranya,  Dr. Fadhl Ilahi memberikan penjelasan tentang hal itu, sebagaimana yang dikatakannya dalam ML Online berikut ini;
Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majlis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta sikap lembut dengan mereka.Ini adalah tidak benar.
Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir.Allah berfirman."Artinya : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil". (Al-Mumtahanah : 8)
Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abi Bakar Radhiyallahu 'anhuma yang menanyakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersilaturrahim kepada ibunya yang musyrik.Dalam hadits itu diantaranya disebutkan."Artinya : Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab. 'Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu".)

Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majlis dengan mereka, bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut.Allah berfirman."Artinya : Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun rang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka". (Al-Mujadillah : 22)

Makna ayat yang mulia ini -sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi- adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut. (At-Tafsirul Kabir, 29/276. Lihat pula, Fathul Qadir, 5/272)
Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majlis dengan mereka.(Lihat, Ahkamul Qur'an oleh Ibnul Arabi, 4/1763; Tafsir Al-Qurthubi, 17/307)
Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik : "Saya berkata, 'Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi'. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/307. Lihat pula, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, 26/80)
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata : "Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan RasulNya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat". (Tafsir Ibnu Katsir, 4/347)
Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauh dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut -dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.
Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : "Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih membandel.Kemudian, hal itu (pemutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran.Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.(Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30)[Dr. Fadhl Ilahi,Tata Cara Silaturrahim dengan Para Ahli Maksiat, MLM Online].
Selain mendapatkan pahala bagi orang yang menjaga silaturahim,  maka orang yang memutuskannya juga mendapatkan ancaman dari Allah,  Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim )

Jangankan memutuskan persaudaraan, sedangkan melakukan sikap yang dapat memutuskan persaudaraan saja sangat dilarang, ketika terpaksa juga terjadinya perselisihan, percekcokan dan persengketaan maka hanya diberikan dispensasi untuk tidak saling sapa selama tiga hari, setelah itu semuanya harus selesai dan diselesaikan seperti semula keadaannya, Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim ).

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (Shahih Muslim )

Dengan persaudaraan yang diujudkan melalui  silaturahim maka tidak ada lagi saling menzhalimi, yang ada hanyalah sikap saling menghargai antara satu dengan lainnya, janganlah orang menangis karena kita tertawa, janganlah orang kehilangan ketika kita mendapatkan sesuatu, hiduplah bersampingan dengan damai, menghormati segala perbedaan yang ada dan bekerja sama dalam hal-hal yang dapat disepakati, jadilah sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].


135. Syahid



Syahid artinya orang yang mati dalam rangka menegakkan agama Allah, apakah dalam peperangan ataupun dibunuh oleh orang-orang zhalim bahkan dalam menapaki kehidupan ini yang penuh dengan onak dan duri, yang penuh dengan ujian, fitnah dan cobaan maka didalamnya terdapat peluang untuk syahid.Intinya syahid itu orang yang mati dalam membela kebenaran, menegakkan keadilan dalam seluruh asfek perjuangan dengan bersungguh-sungguh, sikap demikian disebut dengan jihad.

Jihad juga tuntutan dari keimanan dalam rangka mempertaruhkan kalimat tauhid yang diucapkan seseorang ketika mengaku sebagai muslim dengan klasifikasi yang beragam, baik melalui ilmu, harta, tenaga, politik, ekonomi hingga menyerahkan jiwa raga demi tegaknya syariat Allah di bumi ini;

            ’’Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar” [At Taubah 9;111]

            Berjihad fisabilillah itu termasuk amal yang utama,disamping mengerjakan shalat tepat pada waktunya, dan berbakti kepada kedua orangtua, demikian inti sari hadits dibawah ini;
            ”Dari Abu Aburrahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata,”Saya bertanya kepada nabi Saw,”Amal apakah yang lebih disenangi Allah?” beliau menjawab,”Mengerjakan shalat tepat pada waktunya” kataku ”Kemudian apa lagi?” sabda nabi,”berbakti kepada kedua orangtua”, aku bertanya lagi,”Kemudian apa?” sabda nabi,”Berjihad di jalan Allah”[HR.Bukhari dan Muslim]

            Adapun hadits-hadits lain tentang berjihad dan keutamaannya antara lain adalah,”Berpagi-pagi di dalam berjuang di jalan Allah atau senja hari adalah lebih baik daripada mendapatkan keuntungan dunia dan seisinya”[HR.Bukhari dan Muslim] 

            Keuntungan dunia dengan segala isinya yang diraih manusia tidaklah seberapa dibandingkan balasan yang akan diterima bagi mujahid di akherat nanti, dunia hanya sementara, kesenangan yang dirasakanpun semua tiada abadi, bila kita mampu meraih segala kesenangan dan kenikmatan dunia, paling lama hanya enampuluh tahun demikian pula halnya kesengsaraan di dunia dirasakan hanya sebatas usia manusia.

            Rasulullah bersabda:”Menjaga garis depan dalam berjihad di jalan Allah sehari semalam, adalah lebih baik daripada puasa dan bangun malam sebulan penuh, dan jika mati ketika itu, amal yang biasa dilakukan itu dilanjutkan dan diberi pahala dan rezeki serta aman dari fitnah kubur” [HR.Muslim].

Garis depan adalah posisi strategis untuk menghantam musuh dengan segala kemampuan yang ada, tidak semua orang siap untuk berada pada garda ini kecuali mukmin sejati yang telah ditempa dengan iman dan  tauhid melalui tarbiyah jihadiyah. Karena keberanian merekalah sehingga rasul memberikan kabar gembira sebagaimana yang tercantum pada arti hadits diatas.Mukmin sejati adalah orang-orang yang siap berjihad di jalan Allah mencari kematian dan syurga. Sedangkan orang-orang lain berperang selain dipimpin oleh thaghut mereka juga mengincar materi dunia dan fasilitasnya. Begitu besarnya pahala yang diraih bagi mujahid yang menunaikan tugas jihadnya sehingga wajar tidak sedikit para sahabat yang menangis dan menyesal sepulang perang dengan selamat karena mereka  tidak syahid saja dalam peperangan ini.

Dapat dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka kematian bagi mereka adalah syahid, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata. Rasulullah bersabda,”Tiada kaki seorang hamba yang telah berdebu karena perjuangan di jalan Allah tersentuh api neraka” [HR.Bukhari]

Pada hadits lainpun beliau telah menyampaikan sabdanya,”Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka adalah; mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang pernah berjaga dalam fisabilillah”[HR.Turmizi].

Orang yang mati dalam perjuangan itu disebut dengan syuhada' yaitu orang yang mati syahid, bahkan Allah menerangkan mereka tidaklah mati, bahkan hidup yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
" Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" [Al Baqarah 2;154].
Namun tidaklah selamanya orang yang mati dalam peperangan sekalipun dapat dikatakan syahid, semuanya tergantung niat dan motivasi dalam peperangan, apakah niatnya ikhlas dan motivasinya untuk mencari ridha Allah, bila demikian maka itu mati syahid, tapi bila sebaliknya justru bagi mereka neraka jahannam.
Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu.

            Kaum pejuang ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”, Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu tewas bukanlah karena mempertahankan  agama Allah tapi hanya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai pahlawan, tempatmu di neraka”.

            Kaum terpelajar ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan ?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan mengajar agar digelari  orang ulama, kamu senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.

            Kaum dermawan ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya nafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan, tempatmupun di neraka”.

Dimasa Rasulullah ada seorang lelaki bernama Kazman, dia selama ini dikenal baik dengan Rasulullah dan para sahabat yang lain bahkan diapun ikut dalam jihad bersama beliau, itulah orang munafiq selalu baik bila bertemu dengan orang yang beriman. Ketika ummat islam sudah berangkat menuju medan jihad, Kazman tanpa alasan tidak ikut pergi bersama Rasulullah. Tidak berada lama datang dua orang wanita kepadanya dengan mengatakan,”Hai Kazman, kamu banci, pengecut, semua lelaki pergi jihad bersama nabi, tapi engkau tidak pergi, malah enak-enakan di rumah, dasar pengecut, tukar bajumu dengan rok kami ini”. Mendengar itu Kazman naik emosinya, malu mendengarkan ocehan demikian, dia persiapkan segala peralatan perang, dengan kuda yang paling kencang dia buru pasukan Rasulullah, akhirnya dia berhasil bersatu dalam pasukan.

Dalam peperangan itu dia mampu membunuh musuh dengan pedangnya, diapun terkena sekian sabetan pedang dan tombak sehingga terhuyung menuju kematiannya,dia tidak tahan dengan keadaan itu, kemudian dia ambil ujung pedangnya, dengan menahan sakit dia tekan ujung pedang itu ke dadanya sehingga dia tersunggur jatuh, para sahabat berseru, Kazman syahid, mendengar itu Rasulullah menyatakan, jangan katakan Kazman syahid karena dia pergi jihad bukan karena Allah tapi karena malu diolok-olok kaum wanita, maka tempatnya di neraka.

Ketika perang Uhud sedang berkecamuk, kafir Quraisy sedang mengincar Hamzah bin Abdul Muthalib untuk dibunuh, ini merupakan balas dendam mereka karena dalam perang Badar Hamzah telah menewaskan ayah dan saudara Hindun. Hindun bt. ‘Utba telah pula menjanjikan Wahsyi, orang Abisinia dan budak Jubair (b. Mut’im) akan memberikan hadiah besar apabila ia berhasil membunuh Hamzah. Begitu juga Jubair b. Mut’im sendiri, tuannya, yang pamannya telah terbunuh di Badr, mengatakan kepadanya:“Kalau Hamzah paman Muhammad itu kau bunuh, maka engkau kumerdekakan.” Wahsyi sendiri dalam hal ini bercerita sebagai berikut:

“Kemudian aku berangkat bersama rombongan. Aku adalah orang Abisinia yang apabila sudah melemparkan tombak cara Abisinia, jarang sekali meleset. Ketika terjadi pertempuran, kucari Hamzah dan kuincar dia. Kemudian kulihat dia di tengah-fengah orang banyak itu seperti seekor unta kelabu sedang membabati orang dengan pedangnya.Lalu tombak kuayunkan-ayunkan, dan sesudah pasti sekali kulemparkan.Ia tepat mengenai sasaran di bawah perutnya, dan keluar dari antara dua kakinya. Kubiarkan tombak itu begitu sampai dia mati. Sesudah itu kuhampiri dia dan kuambil tombakku itu, lalu aku kembali ke markas dan aku diam di sana, sebab sudah tak ada tugas lain selain itu. Kubunuh dia hanya supaya aku dimerdekakan saja dari perbudakan.Dan sesudah aku pulang ke Mekah, ternyata aku dimerdekakan.”

Ketika perang Uhud itu selesai, kemenangan di tangan kafir Qurisy, mereka bergembira termasuk Abu Sufyan karena dendamnya sudah terbayar.Tetapi isterinya, Hindun bint ‘Utba tidak cukup hanya dengan kemenangan, dan tidak cukup hanya dengan tewasnya Hamzah b. Abd’l-Muttalib, malah bersama-sama dengan warõita wanita lain dalam rombongannya itu ia pergi lagi hendak menganiaya mayat-mayat Muslimin; mereka memotongi telinga-telinga dan hidung-hidung mayat itu, yang oleh Hindun lalu dipakainya sebagai kalung dan anting-anting.

Kemudian diteruskannya lagi, dibedahnya perut Hamzah, dikeluarkannya jantungnya, lalu dikunyahnya dengan giginya; tapi ia tak dapat menelannya. Begitu kejinya perbuatannya itu, begitu juga perbuatan wanita-wanita anggota rombongannya, bankan kaum prianyapun turut pula melakukan kejahatan serupa itu, sehingga Abu Sufyan sendiri menyatakan lepas tangan dari perbuatan itu.Ia menyatakan, bahwa dia samasekali tidak memerintahkan orang berbuat serupa itu, sekalipun dia sudah terlibat di dalamnya. Bahkan ia pernah berkata, yang ditujukan kepada salah seorang Islam. “Mayat-mayatmu telah mengalami penganiayaan.Tapi aku sungguh tidak senang, juga tidak benci; aku tidak melarang, juga tidak memerintahkan.”

Selesai menguburkan mayat-mayatnya sendiri.Quraisypun pergi. Sekarang kaum Muslimin kembali ke garis depan guna menguburkan mayat-mayatnya pula. Kemudian Muhammad pergi hendak mencari Hamzah, pamannya. Bilamana kemudian ia melihatnya sudah dianiaya dan perutnya sudah dibedah, ia merasa sangat sedih sekali, sehingga ia berkata:

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini.Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Dalam kejadian inilah firman Tuhan turun.“Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu.Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar).Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan.Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu.”(Qur’an, 16: 126 - 127)

Lalu Rasulullah memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan ia melarang orang melakukan penganiayaan. Diselubunginya jenazah Hamzah itu dengan mantelnya lalu disembahyangkannya. Ketika itu Shafia bt Abd’l-Muttailb - saudara perempuannya - juga datang. Ditatapnya saudaranya itu, lalu ia pun menyembahyangkannya dan mendoakan pengampunan baginya.[Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haekal].

Pada kesempatan lain, sahabat nabi yang bernama Huzaifah memberitahukan kalau dia akan menikah dalam waktu dekat ini, semoga Nabi berkenan hadir dalam pernikahannya itu, hal itu dipenuhi oleh Nabi. Karena ,Huzaifah sebagai penganten baru tentu malam pertamanya tidak akan diganggu, padahal malam itu Rasul telah menjadwalkan ummat islam untuk berjihad menghadapi orang kafir, sehingga dimaklumi kalau Huzaifah tidak usah ikut jihad, inilah rukhshah atau keringanan untuknya. Tapi malam pertama itu, di tengah malam dia mendengar genderang perang sudah ditabuh, berarti pasukan sedang bergerak menuju lokasi jihad, Huzaifah terkejut dan bangun, dia berfikir, kenapa tidak diajak untuk jihad kalau ada jadwal berangkat malam ini, dia persiapkan segala sesuatu untuk mengejar pasukan Rasulullah.

Saat pamit kepada isterinya untuk berjihad, sang isteri menjawab,”Pergilan kanda, penuhi panggilan jihad, bila engkau syahid, tunggu aku di pintu syurga”, perjalananpun berlanjut, dengan pasti dia bisa mengejar  rombongan, rupanya ketika sampai perang sedang berlansung, Huzaifahpun lansung terjun ke gelanggang, dalam peperangan itu dia mampu menaklukkan musuh dan diapun akhirnya rubuh dari kudanya, Huzaifah syahid di malam pertamanya, dari kejauhan Nabi menyaksikan Malaikat turun memandikan jenazah Huzaifah, Rasul berkata kepada sahabatnya, “Alangkah bahagianya Huzaifah, dia syahid, jenazah dimandikan oleh Malaikat”, karena malam itu dia belum sempat untuk mandi junub.

Setiap mukmin  dituntut jadi seorang mujahid dengan cita-cita sebagai syuhada’, yaitu mati syahid, Imam Hasan Al Banna berkata,”Barangsiapa yang bercita-cita untuk mati syahid maka dia akan mendapatkannya walaupun  wafat di tempat tidur, dan sebaliknya orang yang tidak punya cita-cita untuk syahid, dia tidak akan dapat syahadah walaupun mati dalam peperangan”. 

Selayaknya kita mengisi waktu untuk berjihad dengan segala daya dan upaya menegakkan agama Allah melalui tangan dan lisan sehingga kelak yang tegak di dunia ini adalah hukum Allah, sedangkan pelakunya akan menemui syahadah atau syahid, yaitu kematian yang berharga sebagaimana ulama-ulama dibawah ini, tubuhnya sudah hancur ditelan bumi tapi nama dan jasanya tetap dikenang sepanjang zaman.

Imam Ibnu al-Jauzy pernah kedatangan tamu yang membicarakan hal-hal yang tak berguna.Dia meladeni mereka sembari menyerut pensil untuk menulis buku.Siang dan malam beliau tidak henti-hentinya berpikir, menulis, mengajar dan membaca.Imam Ibnu al-Jauzy pernah berkata, “Dari tanganku lahir dua ribu jilid buku dan di tanganku juga telah bertaubat seratus ribu orang, dua puluh ribu orang di antaranya masuk Islam.” Di antara karya-karyanya, Durratul Ikliil 4 jilid, Fadhail al-Arab, al-Amstaal, al-Manfaat fi Madzahib al-Arba’ah 2 jilid, al-Mukhtar min al-Asy’ar 10 jilid, at-Tabshirah 3 jilid, Ru’us al-Qawariir 2 jilid, Shaidul Khathir, Kitab al-Luqat (ilmu kedokteran) 2 jilid, dan sebagainya.


Jika diberi umur yang panjang, niscaya mereka akan terus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Namun kenyataan tidaklah terjadi demikian. Karena ilmu di dunia ini sangatlah banyak dan tak mungkin umur manusia yang pendek, dapat menguasai semuanya, para ulama akhirnya membuat pengurutan ilmu-ilmu apa saja yang “wajib” dikuasai oleh kaum muslimin. Imam Ibnu Qudamah dalam bukunya berjudul Mukhtashar Minhajul Qashidin mengomentari hadits yang berbunyi, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang muslim,” dengan mengatakan bahwa yang dimaksud ilmu wajib di sini adalah ilmu muamalah hamba terhadap Tuhannya. Muamalah yang dibebankan di sini meliputi tiga macam: Keyakinan, perbuatan dan apa yang harus ditinggalkan.[Manusia yang Tidak Pernah Mati, Chandra Kurniawan, Eramuslim,1 Mei 06 06:59 WIB].

Selain ulama tersebut diatas, masih banyak lagi ulama dan da’i yang sudah mengorbankan waktu, tenaga, fikiran dan jiwanya untuk melanjutkan perjuangan da’wah berhadapan dengan kezhaliman thaghut dan keangkaramurkaan rezim sehingga mereka banyak yang syahid di tiang gantungan seperti Sayid Qutb atau ditembus peluru seperti Hasan Al Banna atau mendekam dalam penjara sebagaimana sebagaimana Zainab Al Gazali dan banyak lagi yang menjadikan dirinya sebagai tumbal dari perjuangan islam, semoga syahidnya mereka akan membakar semangat para mujahid lainnya hingga akhir zaman,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 1 Agustus 2011.M/ 1 Ramadhan 1432.H].


134. Syi'ah



Islam adalah agama yang benar, sempurna dan lengkap, keorisinilannya masih dapat dipertanggungjawabkan sampai kapanpun, tapi karena perjalanan sejarah yang panjang terdapat orang-orang jahil yang berupaya untuk merusak islam melalui berbagai cara, diantaranya memunculkan faham-faham baru yang bertentangan dengan islam. Upaya untuk merusak islam itu sudah berlansung sejak dahulu dengan munculnya nabi-nabi palsu seperti Musailamah al Kazzab, diiringi dengan pengkultusan terhadap  sahabat Nabi yang mulia seperti Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah aliran bernama Syi’ah.
            Dari sebuah buku yang berjudul Diantara Aqidah Syi’ah, Menguak Kesesatan Aqidah Syi’ah, buah penaSyaikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi, mengungkapkan awal munculnya Syi’ah;
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin Saba'. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq : “Ia mengakui keberadaannya, dan menganggapnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abu Bakar, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya "Firaqus Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi" Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syaikh-syaikh besar Rafidhah.”
Al Baghdadi berkata : “Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba' yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.”
Al Baghdadi berkata juga : “Adalah ia (Abdullah bin Saba') anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.”
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba', bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali  mengatakan masalah ghaibahdan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba'. Yang akhirnya syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena mengikuti Ibnu Saba' orang yahudi itu.
Penamaan ini disebutkan oleh syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar" dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab : "Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka". Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar Dan dikatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.[Syaikh Abdullah bin Muhammad As-Salafi, Penerjemah Muhammad Elvi Syams, Lc.,File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq,].
Demikian ambisiusnya Abdullah bin Saba untuk mengacau fikiran ummat islam dengan maksud untuk menolak kekhalifahan sahabat nabi selain Ali bin Abi Thalib bahkan lebih lanjut mereka sebernarnya menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dengan membawa ajaran baru mengatasnamakan Ali dan Ahlul Bait. Penanaman kesesatan itu nampak pada fikiran yang menjadikan Ali sebagai penerima risalah yang ma’shum serta mengetahui hal-hal yang ghaib, padahal semuanya itu diluar konsep islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Sebuah buku yang berjudul Virus Syi’ah waspadalah! yang ditulis olehUstadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain mengatakan tentang keyakinan Syi’ah tentang ahlul bait;
Ahlul bait adalah: keluarga Ali, ‘Aqil, Ja’far dan Abbas. Tidak diragukan lagi (menurut Ahlus Sunnah) bahwa istri-istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, (hai) ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”(QS. Al Ahzab: 32-33)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul bait (keluarga) nya.
Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.
Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan kelompok Syi’ah. Julukan ini disebutkan oleh ulama kontemporer mereka Al Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar hal 68, 96 dan 97.Kata-kata Rafidhah berasal dari fi’il rafadha yang berarti menolak. Adapun asal muasal mengapa mereka digelari Rafidhah, ada berbagai versi. Antara lain:
1.    Karena mereka menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar.
2.    Versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam. (lihat Maqalat al-Islamiyin, karya Abu al-Hasan al-Asy’ary jilid I, hal 89).
Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.
Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang akan datang hingga hari kiamat.
Husain bin Abdul Wahab dalam kitabnya ‘Uyun al-Mu’jizat hal 28 bercerita bahwasanya, Ali pernah berkata kepada sesosok mayat yang tidak diketahui pembunuhnya, “Berdirilah -dengan izin Allah- wahai Mudrik bin Handzalah bin Ghassan bin Buhairah bin ‘Amr bin al-Fadhl bin Hubab! Sesungguhnya Allah dengan izin-Nya telah menghidupkanmu dengan kedua tanganku!” Maka berkatalah Abu Ja’far Maytsam, Sesosok tubuh itu bangkit dalam keadaan memiliki sifat-sifat yang lebih sempurna dari matahari dan bulan, sembari berkata, “Aku dengar panggilanmu wahai yang menghidupkan tulang, wahai hujjah Allah di kalangan umat manusia, wahai satu-satunya yang memberikan kebaikan dan kenikmatan. Aku dengar panggilanmu wahai Ali, wahai Yang Maha Mengetahui.” Maka berkatalah amirul-mu’minin, “Siapakah yang telah membunuhmu?” Lantas orang tersebut memberitahukan pembunuhnya.
Dengarlah salah seorang syaikh mereka Baqir al-faly yang mengatakan bahwasanya Nabiyullah Isa ‘alaihis salam mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali rodhiallahu ‘anhu, “Wahai para manusia, beberapa hari yang lalu telah dirayakan hari kelahiran Isa al-Masih, yang telah mendapatkan kehormatan untuk menjadi budak Ali bin Abi Thalib!”
Berkata Imam mereka Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah hal 52, “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.”
Dengarlah Basim al-Karbalaiy menghasung dan mendorong orang-orang Rafidhah untuk pergi ke kuburan Ali radhiallahu ‘anhu dan meminta kesembuhan darinya, berihram dan thawaf di sekitar kuburannya, “Wahai yang berada di bawah kubah putih di kota Najaf! Wahai Ali! Barang siapa yang berziarah ke kuburanmu dan meminta kesembuhan darimu niscaya dia akan sembuh!”
Di dalam kitab Wasail ad-Darojat karangan ash-Shaffar (hal 84), Abu Abdillah berkata: Konon Amirul Mu’minin pernah berkata, “Aku adalah ilmu Allah, aku adalah hati Allah yang sadar, aku adalah mulut Allah yang berbicara, aku adalah mata Allah yang melihat, aku adalah pinggang Allah, aku adalah tangan Allah.”
Na’uzubillah dari ghuluw ini!
Dengarlah Muhsin al-Khuwailidy dalam khotbah kufurnya di mana dia melekatkan kepada Ali sifat-sifat rububiyah Allah, “Dan di antara khutbah-khutbahnya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku mempunyai semua kunci hal-hal yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya sesudah Rasulullah kecuali aku. Aku-lah penguasa hisab, aku pemilik sirath dan mauqif, aku pembagi (distributor) surga dan neraka dengan perintah Robb-ku. Akulah yang menumbuhkan dedaunan dan mematangkan buah-buahan. Akulah yang memancarkan mata air dan mengalirkan sungai-sungai..........
Lihatlah wahai para hamba Allah, bagaimana dia mengedepankan ketaatan kepada Ali di atas ketaatan kepada Allah!!![Virus Syi’ah waspadalah!Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain,  File CHM disusun oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq].
Alangkah kasihannya kita bila virus syi’ah ini menggerayangi ummat islam, maka akan terjadi sesat dan menyesatkan padahal Rasulullah tidak mengajarkan hal demikian dan Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat yang mulia tidak tahu menahu tentang apa yang mereka dustakan  semua ini. Sebagai muslim kita mengakui Allah hanya sebagai sahabat Nabi, sama dengan Abu Bakar, Umar dan Usman, tapi bagi mereka Ali punya posisi lain bahkan lebih dari posisi Nabi Muhammad, ini adalah sesuatu bid’ah yang menyesatkan ummat islam. Perbedaan yang mereka bawa bukanlah semata-mata masalah furu’ tapi menyangkut usul yaitu aqidah, bila aqidah sudah salah maka akan bathil semuanya.
Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.
Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.
Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.
Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.
Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.
Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja.Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.
Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.[Apa perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, nahimunkar.com21 December 2009].
Rupanya banyak fakta unik tentang Syi’ah yang jarang diketahui umat muslim pada umumnya. Hal ini terungkap saat KH.Kholil Ridwan yang tampil sebagai Keynote Speaker dalam seminar tentang kesesatan Syiah, kemarin, Jum’at/10/06/2011, mengeluarkan sebuah cerita yang unik tentang kehidupan Syiah di Iran.Beliau mengaku mendapatkan kisah ini langsung dari almarhum KH. Irfan Zidny, mantan pengurus PBNU yang sempat 11 tahun di Irak dan bergaul dengan orang Syi’i.“Beliau (KH Irfan Zidny, red) cerita banyak yang lucu-lucu dari Syiah di Iran.Syiah itu tidak ada shalat jumat sebelum kedatangan Khomeini. Karena Imam ke 12 masih gaib.""Jadi gimana mau shalat, Imamnya aja masih gaib.jadi gambar-gambar kubah di Iran itu pun bukan mesjid, tapi kuburan.” cerita KH. Kholil mengagetkan para pengunjung seminar.
Lalu kapankah Iran baru mendirikan Shalat Jum'at secara bersama-sama?KH. Kholil menyebutkan bahwa shalat jum’at di Iran baru dapat terlaksana ketika revolusi Iran meletus dan melambungkan nama Imam Khomeini. “Nah setelah revolusi Iran baru diadakan Shalat Jum’at karena Imamnya sudah muncul yakni Khomeini yang tampil sebagai pemimpin spiritual Iran."Namun uniknya, berbeda dengan shalat jum’at yang dilakukan kaum muslim, shalat Jum’at yang dilaksanakan kaum Syiah hanya didirikan di satu tempat, yakni Teheran. Semua kaum Syiah pun melaksanakannya berbondong-bondong di satu tempat itu.
“Beda dengan di kita, Shalat juma’at di Iran waktu itu cuma ada satu, yaitu di Teheran dan semua warga Iran shalat jum’at disana dan imamnya harus Presiden Banisadr atas petunjuk Khomeini.Bayangkan segitu banyaknya kaum Syiah di Iran tempat shalat jum’atnya hanya satu dan imammnya harus Presiden Banisadr.” papar KH.Kholil Ridwan memancing tawa para jama’ah yang memadati areal Mesjid Al Furqon DDII.
Menariknya, suatu ketika Shalat Jum’at di Iran terpaksa diliburkan ketika Kanselir Jerman datang ke Iran bertepatan dengan waktu Shalat Jum’at.Bannisadr yang memiliki kewajiban sebagai Presiden dan sekaligus Imam Shalat Jum’at tentu bimbang. Dan dengan terpaksa ia lebih memilih menyambut Kanselir Jerman tersebut, dan mengontak perwakilan Mesjid.“Shalat Jum’at dibatalkan dulu, karena Presiden dapat kunjungan tamu negara dari Jerman,” tambah KH Kholil, lagi disambut tawa riuh dari jama’ah. (pz)[Fakta Unik: Sebelum Turun Imam Khomeini, Di Iran Belum Wajib Shalat Jum'at, Nahimungkar.com.Sabtu, 11/06/2011 12:07 WIB].
Sulitnya masyarakat mengendus gerakan Syiah karena tertutup doktrin taqiyyah yang dilakukan Syiah, tidak membuat pusing KH.Idrus Ramli dari Ponpes Sidogiri Pasuruan. Untuk mengidentifikasi Syi’i atau tidak, beliau memiliki cara yang cukup unik.“Kalau ditanya Syiah atau Sunni, mereka tidak mau menjawab dirinya Syiah.Namun untuk mengetahui orang itu Syiah atau tidak, kita bisa mulai dengan minta tanggapannya tentang Syiah.”Katanya kepada Eramuslim.com, saat dihubungi lewat telepon, Sabtu lalu, 11/06/2011.
Tokoh yang Jum’at lalu menjadi pembicara saat seminar Ahlussunah Bersatu Menolak Syiah dan banyak terlibat debat dengan kader-kader Syiah Jember ini, juga menyarankan untuk mencermati shalawat yang biasa disenandungkan komunitas Syiah.“Shalawat mereka beda dengan sunni. Kalau shalawat sunni mengucapkan Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa’alaa aali Muhammad. Tapi kalau Syiah, hanya Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'aali Muhammad. Jadi langsung ‘aali Muhammad,”
Selain itu, kata pengurus NU Jawa Timur ini, biasanya Syiah mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Khalifah setelah Rasulullah SAW wafat. Pada realitasnya, kebanyakan orang Syiah juga enggan diajak untuk membongkar kesesatannya dengan dalih ukhuwah. Ini disebabkan kekhawatiran kelompok Syiah karena ideologinya akan terbongkar.
Walau banyak bercokol di kampus-kampus, namun dalam pandangan KH. Idrus Ramli, gerakan Syiah masih belum banyak berkembang di kampus-kampus. Sekalipun demikian, beliau berpesan kepada masyarakat untuk hati-hati dan tetap waspada mengawasi perkembangan Syiah.“Karena anak-anak kampus sering dijadikan sasaran.” Ujarnya
Menurut berbagai literatur, taqiyyah adalah doktrin Syiah dimana mereka boleh berdusta kepada non Syiah untuk menjalankan misinya. Dengan carataqiyyahini, kaum Syiah mengatakan ajaran mereka sama dengan sunni, dan banyak kaum sunni yang terjebak.
KH. M. Dawam Anwar pada seminar Syiah tahun 1997 di Mesjid Istiqlal pernah menyatakan bahwa taqiyyah bagi Syiah setara dengan sembilan persepuluh agama, wajib dilakukan dan tidak boleh ditinggalkan sampai Imam Mahdi datang. Taqiyyah tidak hanya dilakukan antar orang Syiah dan lawannya, tapi juga sesama Syiah sendiri sebagai bahan latihan. (pz)[Inilah Tips Agar Tidak Tertipu Taqiyyah Syiah, Eramuslim.com.Senin, 13/06/2011 13:39 WIB].
Rasulullah mengingatkan kepada kita agar berhati-hati terhadap jalan yang menyimpang, pada satu hari beliau membuat garis lurus di atas tanah sambil bersabda,”Ini adalah jalan yang lurus, kalau kalian mengikutinya maka kalian akan selamat, hati-hati terhadap jalan persimpangan jalan yang menyesatkan kalian”, dilain kesempatan beliaupun menyampaikan sabdanya, “Aku tinggalkan dua pusaka, maka barangsiapa berpegangteguh dengan dua pusaka itu maka selamatlah dia, tidak akan sesat selama-lamanya, dua pusaka itu adalah Al Qur’an dan Sunnah”, resep ini sangat mujarab untuk menghindari penyesatan dari siapapun dan untuk kelompok manapun,wallahu a’lam [Cubadak Solok, 2 Agustus 2011.M/ 2 Ramadhan 1432.H].