Inti ajaran islam itu terkandung pada
tiga hal yaitu Aqidah, Syari’ah dan Akhlak. Aqidah mencakup seluruh asfek
keimanan, dia ibarat akar pada sebuah pohon, pohon yang akarnya menghunjam ke
bumi dengan kokoh akan mempengaruhi kuat dan tegarnya pohon itu dan sebaliknya
pohon tanpa akar yang baik akan mudah sekali tumbang. Aqidah seorang muslim
harus bersih dari virus-virus yang dapat
merusak keimanan, bersihnya aqidah dinamakan dengan Salimul Aqidah.
‘Aqidah
menurut bahasa berasal dari kata al-‘Aqdu yang berarti ikatan, at-Tautsiqu yang
berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-Ihkamu artinya mengokohkan/
menetapkan, dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.Sedangkan
menurut istilah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan
sedikitpun bagi orang yang meyakininya.
Jadi,
‘Aqidah Islamiyah adalah: Keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at
kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya,
Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh
apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin),
perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (kon-sensus)
dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara
ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan
as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[Al-Ustadz Yazid bin Abdul
Qadir Jawas, Definisi Aqidah, almanhaj.or.id, Jumat, 8 Oktober 2004 05:46:14
WIB].
Rasulullah
bersabda;"Iman ialah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan
pengamalan dengan anggota" [HR. Ahmad] "Iman itu bukanlah
dengan angan-angan tetapi apa yang telah mantap di dalam hati dan dibuktikan
kebenarannya dengan amalan" [Mutafaqun alaih].
Bukti bahwa aqidah dan iman itu sangat
penting bagi hidup manusia di dunia, salah satunya adalah yang diajarkan oleh Lukmanul Hakim
kepada anaknya.
Seorang ahli hikmat yang terkenal sampai
namanya tercantum dalam Al Qur'an bernama Lukman Al Hakim. Sebelum menanamkan
ibadah dan akhlak kepada anaknya, pertama sekali Lukman menanamkan aqidah dan
iman yang bersih dari syirik, "Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13].
Begitu
pentingnya aqidah ini sehingga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasalam,
penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada
di Mekkah dengan menekankan masalah aqidah ini. Karena aqidah adalah landasan
semua tindakan.Dia dalam tubuh manusia ibarat kepalanya.Maka apabila suatu
ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitasi adalah aqidah lebih
dahulu.Di sinilah pentingnya aqidah ini.Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan
keberhasilan dunia dan akhirat.Dialah kunci menuju Surga.
Pembersihan iman dari noda syirik sangat
penting dalam rangka menjaga kesucian tauhid, bila iman sudah bersih maka
ibadah dan akhlak yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin
kesuciannya. Landasan ibadah dan akhlak adalah iman yang bersih dari noda
syirik. Bahkan Allah akan mengampuni semua dosa dengan izinnya kecuali dosa
yang mencederai ketauhidan dengan kesyirikan.
Orang-orang awam kemungkinan hanya mengerti yang namanya
musyrik itu orang yang menyembah berhala.Titik.Karena lemahnya pemahaman agama,
maka kemusyrikan pun dianggap hanya sebatas itu dan dianggap bukan hal yang
bahaya.Padahal kemusyrikan bukan hanya berupa menyembah berhala.Sedang
bahayanya sangat besar, yaitu mengakibatkan haram masuk surga dan kekal di
neraka apabila pelakunya sampai mati belum bertaubat.
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS
Al-Maaidah: 72).
Sekalipun seseorang menyembah kepada Allah, tetapi ketika
berdoa, minta pertolongan ataupun berkorban dengan apa pun kepada selain Allah
maka itu kemusyrikan. Dosa paling besar.Pelakunya haram masuk surga dan kekal
di neraka bila sampai ajalnya belum bertobat benar-benar.
Bentuk-bentuk kemusyrikan di antaranya berdoa minta kepada
isi kubur karena dianggap sebagai wali atau orang shaleh yang dekat dengan
Allah. Minta tolong kepada jin, lelembut, atau penjaga gunung, laut, telaga,
dan sebagainya. Itu kemusyrikan.Karena minta tolong kepada selain Allah dalam
hal yang hanya hak Allah. (Berbeda dengan minta tolong untuk diangkatkan barang
dagangan oleh kuli, misalnya, itu sang kuli memang mampu mengangkatnya, dan
berhak ketika diminta).
Tetapi siapa saja tidak berhak dimintai tolong berkaitan
dengan penentuan nasib hidup dan sebagainya yang hanya hak Allah.Demikian pula
peribadahan dan pengorbanan yang sifatnya ibadah atau ritual hanyalah hak
Allah.Maka memberikan sesaji atau pengorbanan kepada selain Allah menjadi musyrik
karena pengorbanan (ibadah) itu hanya hak Allah.Hanya untuk Allah.Juga
memberikan sesaji kepada yang dianggap sebagai penjaga gunung, laut, telaga dan
sebagainya, itu semua ada kemusyrikan.Itu pengorbanan kepada selain Allah.
Karena
yang benar:
“ Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."(QS Al-An’am/ 6:162, 163).[Hartono Ahmad Jaiz, Bukti-bukti Rawannya Penyimpangan Aqidah, di
Kalangan Tradisional maupun Intelektual, Nahimungkar.com.Senin,
04/07/2011 10:14 WIB].
Aqidah merupakan hal yang pertama untuk diterimanya
amal-amal shaleh seseorang, walaupun amal banyak tapi aqidah dicederai oleh
syirik maka amal-amal itu kalau tidak disebut hilang dapatlah dikatakan sangat
rendah nilainya, bahkan ayat Al Qur’an dengan jelas menyatakan amal-amal orang
yang syirik itu sia-sia hingga ia membersihkan aqidahnya. Muslim yang baik
adalah muslim yang berupaya untuk menjaga aqidahnya selalu bersih dari segala
hal penyimpangan.
Penyimpangan aqidah yang terjadi pada seseorang berakibat
fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan
yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang
jelas, penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti.
Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor di antaranya :
- Tidak menguasai pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
- Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi yang artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk." (Al-Baqarah : 170).
- Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
- Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan menyanjung orang shalih yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu terjadi karena anggapan bahwa mereka merupakah penengah (wasithah) antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihi salam ketika mereka mengagungkan kuburan para shalihin. Lihat Surah Nuh 23 tentang perkataan kaum Nuh, yang artinya: "Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr."
- Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajaran Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagung-kan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
- Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan, yang artinya: "Setiap anak terlahirkan berdasarkan fithrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya" (HR. Al-Bukhari). Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
- Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari dua jam pelajaran dalam, seminggu pada pelajaran agama. Itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik ke arah aqidah, bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan
pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut di atas kecuali dengan mendalami,
memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita dapat
berjalan sesuai kehendak Sang Khaliq demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita.[Farid
Achmad OkbahArtikel Buletin An-Nur Pentingnya Aqidah Islamiyah,Kamis, 26
Februari 04].
Dalam hal
aqidah, Imam Syafi'i memiliki wasiat yang sangat berharga.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: "Inilah wasiat Imam Syafi'i yang diberikan kepada para sahabatnya, 'Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Satu, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun.Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: "Inilah wasiat Imam Syafi'i yang diberikan kepada para sahabatnya, 'Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Satu, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun.Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya.
Sesungguhnya
Allah membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu
haq, adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu
haq dan benar adanya. Allah subhanahu wa ta'alamembalas hambaNya sesuai dengan
amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan
lagi Insya Allah.Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, bukan makhluk
ciptaanNya. Sesungguhnya Allah di hari akhir nanti akan dilihat oleh
orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu
penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia berada di atas 'Arsy.
Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Allah Yang Maha Perkasa
dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Allah kehendaki dan Dia
tetapkan dalam qadha' qadarNya.
Sesungguhnya
sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasul shallallahu 'alaihi wasallamadalah
Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu'anhum . Aku mencintai dan setia
kepada mereka, dan memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan
Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami
setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah)
selama mereka mendirikan shalat.Tidak boleh membangkang serta memberontak
mereka dengan senjata.Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang
Quraisy.Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun
diharamkan.Dan nikah mut'ah adalah haram.
Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Allah, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid'ah dan hawa nafsu.Bertaqwalah kepada Allah sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jum'at, jama'ah dan sunnah (Rasul). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca "Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan 'abduhu warasuluh".[Artikel Buletin An-Nur :, Wasiat Aqidah Imam Syafi'i
Sabtu, 31 Januari 04].
Kebenaran dan
kebersihan aqidah bukan hanya untuk pribadi-pribadi muslim saja bahkan kejayaan
islam tidak akan terujud bila ummat ini secara kolektif memiliki aqidah yang
bersih, Allah juga menjanjikan kepada hamba-Nya bahwa sebuah kaum dan bangsa
yang beriman dan bertaqwa akan dilimpahkan karunia dari langit dan bumi dan
sebaliknya, bila ummat ini sudah rusak aqidahnya, sudah hancur tauhidnya maka
akan mendapat ujian dan musibah dari Allah Swt. Sebagaimana yang disampaikan oleh
Muhammad Ihsan Zainuddin dalam khutbah jum’at yang berjudulWujudkan Kejayaan Umat Dengan Kemurnian
Tauhid, www.alsofwah.or.id/khutbah
Sejak
dahulu hingga sekarang, begitu banyak manusia yang tersesatkan oleh keyakinan
berbilang “tuhan” yang disembah, yang dapat dimintai pertolongan, yang dapat
dijadikan sumber hukum dan yang berhak mendapatkan kekhususan-kekhususan
ilahiyah. Dan keyakinan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata yang telah
diperangi oleh Islam dengan keras.Sehingga tidaklah mengherankan bila Tauhid
yang murni kemudian menjadi syi’ar terpenting Islam yang selalu ada dalam aspek
I’tiqad dan amaliyah.Dengan syi’ar inilah Islam dikenal bahkan karenanya Islam
diperangi.Seputar syi’ar ini pula lah pertentangan antara ahlul haq dan ahlul
bathil terus berlanjut.
“Sesungguhnya
Tuhan kalian benar-benar satu. Tuhan (yang menciptakan, mengatur dan menguasai)
langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya ...” (Ash-Shaffat: 4-5).
Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini.Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.
Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini.Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.
Dikarenakan
lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang
kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin
hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya. Padahal
Allah telah menegaskan:“Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada
yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka
Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-An’am: 17).
Dan
suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang
mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:“Cabutlah (benda itu) karena
ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau
mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR.
Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).
Dan
juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam bersabda:“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia
telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang
terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa
depan, padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia telah menyatakan:
“Barangsiapa
yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya,
maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.”(HR.
Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Fenomena
hancurnya aqidah pada ummat islam dapat kita lihat di kampong-kampung yang jauh
dari ajaran islam, walaupun mereka nampaknya melakukan ritual ibadah seperti
shalat dan zakat bahkan menunaikan ibadah haji tapi praktek syirik dianggap hal
yang wajar, hal itu bukan hanya
dilakukan oleh orang-orang awam tapi juga mereka yang berpendidikan, dapatkah
dibenarkan seorang sarjana, berpendidikan tinggi bahkan sekian lama tinggal di
kota tapi tidak bisa meninggalkan syirik dari kehidupannya, itulah makanya Lukmanul
Hakim mengawali pendidikan aqidah bagi anaknya ketika masih kanak-kanak, bila
anak sejak kecil sudah terjaga aqidahnya maka insya Allah dikemudian hari dia
bisa membedakan mana yang tauhid dan mana yang syirik, dia juga akan
terpelihara aqidahnya dalam kehidupan sehari-hari, wallahu
a’lam, [Cubadak Solok, 01 Muharam 1433.H/ 27 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar