Senin, 15 Februari 2016

205. Salimul Aqidah



Inti ajaran islam itu terkandung pada tiga hal yaitu Aqidah, Syari’ah dan Akhlak. Aqidah mencakup seluruh asfek keimanan, dia ibarat akar pada sebuah pohon, pohon yang akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh akan mempengaruhi kuat dan tegarnya pohon itu dan sebaliknya pohon tanpa akar yang baik akan mudah sekali tumbang. Aqidah seorang muslim harus  bersih dari virus-virus yang dapat merusak keimanan, bersihnya aqidah dinamakan dengan Salimul Aqidah.
‘Aqidah menurut bahasa berasal dari kata al-‘Aqdu yang berarti ikatan, at-Tautsiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-Ihkamu artinya mengokohkan/ menetapkan, dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.Sedangkan menurut istilah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyah adalah: Keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (kon-sensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Definisi Aqidah, almanhaj.or.id, Jumat, 8 Oktober 2004 05:46:14 WIB].

Rasulullah bersabda;"Iman ialah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota" [HR. Ahmad] "Iman itu bukanlah dengan angan-angan tetapi apa yang telah mantap di dalam hati dan dibuktikan kebenarannya dengan amalan" [Mutafaqun alaih].

Bukti bahwa aqidah dan iman itu sangat penting bagi hidup manusia di dunia, salah satunya  adalah yang diajarkan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya.

Seorang ahli hikmat yang terkenal sampai namanya tercantum dalam Al Qur'an bernama Lukman Al Hakim. Sebelum menanamkan ibadah dan akhlak kepada anaknya, pertama sekali Lukman menanamkan aqidah dan iman yang bersih dari syirik, "Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13].

Begitu pentingnya aqidah ini sehingga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasalam, penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah dengan menekankan masalah aqidah ini. Karena aqidah adalah landasan semua tindakan.Dia dalam tubuh manusia ibarat kepalanya.Maka apabila suatu ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitasi adalah aqidah lebih dahulu.Di sinilah pentingnya aqidah ini.Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akhirat.Dialah kunci menuju Surga.

Pembersihan iman dari noda syirik sangat penting dalam rangka menjaga kesucian tauhid, bila iman sudah bersih maka ibadah dan akhlak yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari akan dijamin kesuciannya. Landasan ibadah dan akhlak adalah iman yang bersih dari noda syirik. Bahkan Allah akan mengampuni semua dosa dengan izinnya kecuali dosa yang mencederai ketauhidan dengan kesyirikan.

Orang-orang awam kemungkinan hanya mengerti yang namanya musyrik itu orang yang menyembah berhala.Titik.Karena lemahnya pemahaman agama, maka kemusyrikan pun dianggap hanya sebatas itu dan dianggap bukan hal yang bahaya.Padahal kemusyrikan bukan hanya berupa menyembah berhala.Sedang bahayanya sangat besar, yaitu mengakibatkan haram masuk surga dan kekal di neraka apabila pelakunya sampai mati belum bertaubat.
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Sekalipun seseorang menyembah kepada Allah, tetapi ketika berdoa, minta pertolongan ataupun berkorban dengan apa pun kepada selain Allah maka itu kemusyrikan. Dosa paling besar.Pelakunya haram masuk surga dan kekal di neraka bila sampai ajalnya belum bertobat benar-benar.

Bentuk-bentuk kemusyrikan di antaranya berdoa minta kepada isi kubur karena dianggap sebagai wali atau orang shaleh yang dekat dengan Allah. Minta tolong kepada jin, lelembut, atau penjaga gunung, laut, telaga, dan sebagainya. Itu kemusyrikan.Karena minta tolong kepada selain Allah dalam hal yang hanya hak Allah. (Berbeda dengan minta tolong untuk diangkatkan barang dagangan oleh kuli, misalnya, itu sang kuli memang mampu mengangkatnya, dan berhak ketika diminta).

Tetapi siapa saja tidak berhak dimintai tolong berkaitan dengan penentuan nasib hidup dan sebagainya yang hanya hak Allah.Demikian pula peribadahan dan pengorbanan yang sifatnya ibadah atau ritual hanyalah hak Allah.Maka memberikan sesaji atau pengorbanan kepada selain Allah menjadi musyrik karena pengorbanan (ibadah) itu hanya hak Allah.Hanya untuk Allah.Juga memberikan sesaji kepada yang dianggap sebagai penjaga gunung, laut, telaga dan sebagainya, itu semua ada kemusyrikan.Itu pengorbanan kepada selain Allah.
Karena yang benar:
“ Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)."(QS Al-An’am/ 6:162, 163).[Hartono Ahmad Jaiz, Bukti-bukti Rawannya Penyimpangan Aqidah, di Kalangan Tradisional maupun Intelektual, Nahimungkar.com.Senin, 04/07/2011 10:14 WIB].

Aqidah merupakan hal yang pertama untuk diterimanya amal-amal shaleh seseorang, walaupun amal banyak tapi aqidah dicederai oleh syirik maka amal-amal itu kalau tidak disebut hilang dapatlah dikatakan sangat rendah nilainya, bahkan ayat Al Qur’an dengan jelas menyatakan amal-amal orang yang syirik itu sia-sia hingga ia membersihkan aqidahnya. Muslim yang baik adalah muslim yang berupaya untuk menjaga aqidahnya selalu bersih dari segala hal penyimpangan.

Penyimpangan aqidah yang terjadi pada seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas, penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor di antaranya :
  • Tidak menguasai pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
  • Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi yang artinya: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk." (Al-Baqarah : 170).
  • Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
  • Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan menyanjung orang shalih yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu terjadi karena anggapan bahwa mereka merupakah penengah (wasithah) antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihi salam ketika mereka mengagungkan kuburan para shalihin. Lihat Surah Nuh 23 tentang perkataan kaum Nuh, yang artinya: "Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr."
  • Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajaran Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagung-kan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
  • Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan, yang artinya: "Setiap anak terlahirkan berdasarkan fithrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya" (HR. Al-Bukhari). Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
  • Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari dua jam pelajaran dalam, seminggu pada pelajaran agama. Itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik ke arah aqidah, bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut di atas kecuali dengan mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khaliq demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita.[Farid Achmad OkbahArtikel Buletin An-Nur Pentingnya Aqidah Islamiyah,Kamis, 26 Februari 04].

Dalam hal aqidah, Imam Syafi'i memiliki wasiat yang sangat berharga.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: "Inilah wasiat Imam Syafi'i yang diberikan kepada para sahabatnya, 'Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Satu, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun.Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya.

Sesungguhnya Allah membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu haq, adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Allah subhanahu wa ta'alamembalas hambaNya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi Insya Allah.Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Allah di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia berada di atas 'Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Allah Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Allah kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha' qadarNya.

Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasul shallallahu 'alaihi wasallamadalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu'anhum . Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah) selama mereka mendirikan shalat.Tidak boleh membangkang serta memberontak mereka dengan senjata.Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy.Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun diharamkan.Dan nikah mut'ah adalah haram.

Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Allah, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid'ah dan hawa nafsu.Bertaqwalah kepada Allah sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jum'at, jama'ah dan sunnah (Rasul). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca "Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan 'abduhu warasuluh".[Artikel Buletin An-Nur :, Wasiat Aqidah Imam Syafi'i
Sabtu, 31 Januari 04].

Kebenaran dan kebersihan aqidah bukan hanya untuk pribadi-pribadi muslim saja bahkan kejayaan islam tidak akan terujud bila ummat ini secara kolektif memiliki aqidah yang bersih, Allah juga menjanjikan kepada hamba-Nya bahwa sebuah kaum dan bangsa yang beriman dan bertaqwa akan dilimpahkan karunia dari langit dan bumi dan sebaliknya, bila ummat ini sudah rusak aqidahnya, sudah hancur tauhidnya maka akan mendapat ujian dan musibah dari Allah Swt. Sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Ihsan Zainuddin dalam khutbah jum’at yang berjudulWujudkan Kejayaan Umat Dengan Kemurnian Tauhid, www.alsofwah.or.id/khutbah

Sejak dahulu hingga sekarang, begitu banyak manusia yang tersesatkan oleh keyakinan berbilang “tuhan” yang disembah, yang dapat dimintai pertolongan, yang dapat dijadikan sumber hukum dan yang berhak mendapatkan kekhususan-kekhususan ilahiyah. Dan keyakinan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata yang telah diperangi oleh Islam dengan keras.Sehingga tidaklah mengherankan bila Tauhid yang murni kemudian menjadi syi’ar terpenting Islam yang selalu ada dalam aspek I’tiqad dan amaliyah.Dengan syi’ar inilah Islam dikenal bahkan karenanya Islam diperangi.Seputar syi’ar ini pula lah pertentangan antara ahlul haq dan ahlul bathil terus berlanjut.

“Sesungguhnya Tuhan kalian benar-benar satu. Tuhan (yang menciptakan, mengatur dan menguasai) langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya ...” (Ash-Shaffat: 4-5).
Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini.Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.

Dikarenakan lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya. Padahal Allah telah menegaskan:“Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-An’am: 17).

Dan suatu hari Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata:“Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”).

Dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa depan, padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia telah menyatakan:
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.”(HR. Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Fenomena hancurnya aqidah pada ummat islam dapat kita lihat di kampong-kampung yang jauh dari ajaran islam, walaupun mereka nampaknya melakukan ritual ibadah seperti shalat dan zakat bahkan menunaikan ibadah haji tapi praktek syirik dianggap hal yang wajar,  hal itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang awam tapi juga mereka yang berpendidikan, dapatkah dibenarkan seorang sarjana, berpendidikan tinggi bahkan sekian lama tinggal di kota tapi tidak bisa meninggalkan syirik dari kehidupannya, itulah makanya Lukmanul Hakim mengawali pendidikan aqidah bagi anaknya ketika masih kanak-kanak, bila anak sejak kecil sudah terjaga aqidahnya maka insya Allah dikemudian hari dia bisa membedakan mana yang tauhid dan mana yang syirik, dia juga akan terpelihara aqidahnya dalam kehidupan sehari-hari, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 01 Muharam 1433.H/ 27 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar