Rasanya tidak ada orang yang tidak suka dengan lagu
dan musik, apalagi di Indonesia yang telah menjadikan lagu dan musik merupakan
bisnis yang menguntungkan, bahkan jalan pintas untuk jadi kaya dan terkenal
ialah jadi penyanyi selain pemain sinetron atau bintang film. Ketika kita
bicara tentang jenis lagu yang banyak menggunakan gendang yaitu dangdut, tidak
bisa lepas dari Rajanya yang terkenal yaitu Rhoma Irama dan Ratunya bernama
Elvi Sukaesih, pada masa mereka inilah lagu dangdut naik daun hingga disukai
sampai manca negara, sampai detik inipun orang tidak bisa melepaskan lagu
dangdut dari blantika musik di Indonesia.
Prof Mulyadhi Kartanegara ketika diwawancarai oleh Sabili
tentang penghargaan masyarakat Indonesia terhadap ilmuwan sangat rendah, dia
menyatakan karena kita lebih menghargai para penyanyi. Dialoq ini menyatakan
sebagai berikut;
Apa syarat yang harus dipenuhi Indonesia
untuk melahirkan ilmuwan?
Upayakan agar
masyarakat dan bangsa ini memiliki tradisi ilmiah yang kuat. Hanya dengan
tradisi ilmiah saja akan lahir para pemikir dalam masyarakat. Persoalannya,
tradisi ilmiah di Indonesia sudah lama sirna.Dulu, pada abad 12–13, bangsa kita
pernah mengalami tradisi ilmiah yang kuat. Pada saat itu, bermunculan beberapa
pemikir seperti, Empu Tantular, Empu Sedha, Empu Panuluh, Empu Prapanca dan
lainnya. Kemudian pada abad 17-18 bermuncul pemikir-pemikir Islam seperti,
Hamzah Fansyuri, Nuruddin Arraniri, Syamsuddin Sumatrani, Syeh Nawawi
Al-Bantani dan banyak lagi. Bahkan pada abad 19 kita masih memiliki pemikir
seperti Hamka.Mereka diakui oleh dunia internasional pada masanya.Tapi
belakangan pemikir sekaliber mereka tidak hilang.
Kenapa, bukankah Islam sebagai agama
mayoritas penduduk negeri ini memiliki tradisi ilmiah kuat?
Betul.Sepanjang
sejarah Islam peradaban Islam pernah memiliki ulama, pemikir, ilmuwan dan
cendekiawan yang diakui di tingkat dunia.Mereka tidak hanya maju dalam hal ilmu
agama tapi juga sains, fisika, matematika, biologi, kedokteran, kimia, astronomi,
zoology, botani, psikologi dan lainnya.Faktanya, peradaban Islam memiliki
tradisi ilmiah yang tinggi.
Persoalannya,
tradisi ilmiah ini diambil-alih barat, kemudian baratlah yang mengembangkan
tradisi ilmiah ini, menirukan tradisi Islam.Sedangkan umat Islam justru
meninggalakannya dan para pemimpinnya asyik berebut kekuasaan dunia.Akibatnya,
pasca kejayaan Islam, Barat berhasil mengambil alih tradisi ilmiah, berhasil
melahirkan ribuan pemikir dan ilmuwan.Sedangkan dunia Islam, mengalami
kejumudan, stagnan, kehabisan ilmuwan dan pemikir besar.
Hilangnya tradisi ilmiah, apakah bisa
diukur dari rendahnya penghargaan terhadap para ilmuwan dan karyanya?
Tepat
sekali.Sebagai bandingan.Pada masa kejayaan Islam di mana tradisi ilmiah sangat
dijunjung tinggi, para penterjemah saja dibayar dengan emas seberat karya yang
dihasilkannya.Misalnya, jika buku yang diterjemahkan beratnya 2 kg, maka ongkos
bagi penterjemah juga 2 kg emas. Di Indonesia, para penulis hanya mendapat
royalty 10%, itu pun pembayarannya terkadang tidak jelas. Apresiasi kita
terhadap para ilmuwan, pemikir dan ilmu pengetahuan memang sangat rendah.
Akibatnya, di negeri ini tidak pernah
muncul peneliti yang mumpuni.Profesi sebagai ilmuwan tidak lagi diminati oleh
masyarakat.Orangtua di Indonesia lebih menyenangi anaknya menjadi penyanyi
dangdut daripada menjadi ilmuwan.Ketika diadakan lomba ilmiah, peminatnya
sangat sedikit, sedangkan lomba dangdut dibanjiri peserta.
Faktor lain, yang menyebabkan hilangnya
tradisi ilmiah adalah minimnya minat baca. Masyarakat kita belum masuk sebagai
masyarakat pembaca.Jika ada buku bagus, hanya beberapa orang saja yang mau
membaca apalagi membelinya.Masyarakat kita adalah masyarakat penonton.Jika ada
gambar atau visualnya kita berebut menonton. Kita kuat duduk berjam-jam hanya
untuk nonton TV.[Prof Mulyadhi Kartanegara: Kita Lebih Senang Jadi Penyanyi
DangdutSelasa, cybersabili.co.id.13 April 2010 02:11].
Demikian
perhatian seorang ilmuwan sekaliber Profesor itu, dia kenal betul perkembangan
dan kecendrungan masyarakat Indonesia yaitu sangat menyenangi lagu dan music bahkan
khususnya lagu dangdut sehingga melupakan belajar dan melalaikan ilmu.
Sebenarnya apa hokum lagu dan music itu dalam islam, karena sebagian pemain
musik dan penyanyi dangdut itu orang-orang islam bahkan sudah berstatus sebagai
haji.Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi memberikan jawabannya dengan judul
Haramnya Musik dan Profesi Penyanyiyaitu;
Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:
… dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat mailat mumilat, kepala mereka
bagaikan punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan
merasakan baunya surga…(HR Muslim) itu menurut sebagian ahli ilmu, maksudnya adalah
wanita-wanita penyanyi/ al-mughonniyyaat. (Ashbahani, Dalailun Nubuwwah, juz
1 hlm 224).
Syeikh Abu Bakar Jabir
Al-Jazairi, khathib Masjid Nabawi Madinah menulis satu buku berjudul Pengumuman
bahwa musik dan nyanyian itu haram (al-I’laam bi annal ‘azfa wal ghina’a haroom).
Allah menyatakan kepada Iblis
musuh seluruh manusia:Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara
mereka dengan suaramu…(QS Al-Israa’: 64).
Mujahid,
seorang Imam Tafsir menyatakan, dari Ibnu Abbas ra dinyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “suaramu” (suara syaitan) adalah lagu, musik, dan senda gurau.
Sementara itu Ad-Dhahhak menjelasakannya serupa: Suara syaitan yang dimaksud
dalam ayat ini adalah suara musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah
Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama,
1996, hlm 15).
Dan di antara manusia (ada)
orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan
(manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu
olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS Luqman: 6).
Mujahid
mengatakan, “perkataan yang tidak berguna” (lahwal hadits) adalah mendengarkan
lagu/ nyanyian dan kebatilan yang serupa”. Abdullah bin Mas’ud menyatakan,
“Demi Allah yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya lahwal hadits
itu maksudnya adalah lagu-lagu/ nyanyian. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah
Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama,
1996, hlm 16).
Maka apakah kamu merasa
heran terhadap pemberitaan ini?
Dan kamu mentertawakan dan
tidak menangis?
Sedang kamu melengahkan (nya) (dengan bernyanyi-nyanyi)?(QS An-Najm/ 53: 59, 60, 61).
Riwayat dari Ibnu Abbas, Ikrimah
berkata, As-sumud menurut bahasa Himyar (salah satu kabilah dari
bangsa Arab) adalah lagu. Jika dikatakan, usmudi lana ya fulanah,
artinya: Nyanyikanlah untuk kami wahai Fulanah.Dalam menafsiri ayat di
atas, Ikrimah berkata, “apabila mereka (orang-orang kafir) mendengar Al-Qur’an
(dibacakan), mereka bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu untuk menghalangi manusia
dari mendengarkan Al-Qur’an itu.Maka diturunkanlah ayat di atas.”Karenanya, para ulama salafus shalih
(generasi pertama yang shalih) menyebut (nyanyian itu) dengan istilah Qur’annya syaithan, karena lagu-lagu itu
digunakan syaitan untuk menentang dan menandingi Al-Qur’an serta menghalangi
orang dari mengingat Allah dan mengingat Al-Qur’an.Apakah
celaan Allah terhadap kelakuan mereka yang menertawakan dan bernyanyi-nyanyi
itu menunjukkan bahwa lagu tidak haram?
Ketiga ayat Al-Qur’an yang telah
disebutkan di atas oleh para Imam tafsir, di antaranya Imam Al-Qurthubi,
dikomentari dengan suatu keputusan: “Sesungguhnya ayat-ayat tersebut menunjukkan
haramnya lagu/ nyanyian.” (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah
Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama,
1996, hlm 18)
Allah
SWT berfirman:Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan
yang baik. (QS Al-Ahzaab: 32).
Dan hendaklah
kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyah yang dahulu…(QS Al-Ahzaab: 33)
Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
berkomentar: Oleh karena itu sangat aneh, jika suara lembut dari wanita yang
sedang berbicara dengan lelaki lain diharamkan, tetapi nyanyian-nyanyiannya
dengan kata-kata kotor dan manja yang ditujukan kepada siapa saja itu tidak
diharamkan! Semestinya kaum zhahiri (yang memahami ayat dan hadits
hanya secara dhahirnya teks belaka, pen) serta para pecandu lagu dan musik
dapat menerima jika dikatakan: tergeraknya syahwat melalui suara-suara para
penyanyi wanita dan lelaki itu lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan melalui
suara gelang kaki, karena ucapan dan ungkapan (nyanyian) itu disertai irama dan
musik. (Syaikh
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal
‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 37).(nahimunkar.com4 July
2008).
Akibat
dari menghalalkan lagu dan musik bukan saja berdosa tapi juga akan mendatangkan
malapetaka di dunia ini, bukan hanya mengenai para pemusik dan penyanyi
saja tapi juga akan menghantam manusia
yang terlena dengan alunan music dan terpana dengan indahnya suara penyanyi.
Diriwayatkan
dari Sahl bin Sa'ad bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda. "Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor,
kerusuhan, dan perubahan muka. 'Ada yang bertanya kepada Rasulullah'. Wahai
Rasulullah, kapankah hal itu terjadi? Beliau menjawab.'Apabila telah merajalela
bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita".(HR.Thabrani).
Pertanda
(alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih banyak lagi.Pada
masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-mana, dan biduan
serta biduanita tak terbilang jumlahnya.Padahal, mereka itulah yang dimaksud
dengan al-qainat (penyanyi-penyanyi) dalam hadits di atas.Dan yang lebih
besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan menyanyi.
Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah longsor,
kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat mengubah bentuk
muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.
Dan
disebutkan dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata
Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin
Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy'ari
Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda. " Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang
menghalalkan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan sungguh
akan ada kaum yang pergi ke tepi bukit yang tinggi, lalu para pengembala dengan
kambingnya menggunjingi mereka, lantas mereka didatangi oleh seorang fakir
untuk meminta sesuatu. Mereka berkata, 'Kembalilah kepada kami esok hari'.
Kemudian pada malam harinya Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit
itu ke atas mereka, sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah wajahnya
menjadi monyet dan babi sampai hari kiamat". (Shahih Bukhari)[Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil,Merajalelanya Bunyi-Bunyian (Musik) Serta
Dianggap Halal, asysyariah.com.25
March 2003].
Selain
menjadikan musik dan lagu sebagai hiburan yang menyenangkan bagi peminatnya
maka tidak kalah bahayanya menjadikan sang penyanyi sebagai idola bagi
penggemarnya, ada yang histeris dikala menghadiri pertunjukan lagu dangdut
bahkan lagu-lagu yang lain, ada yang menangis ketika sang penyanyi tidak jadi
manggung atau tidak sempat bertemu dengannya.
Hukum
mengidolakan Artis tergantung dua sebab . Pertama: kenapa ia diidolakan? Kedua
dampak yang ditimbulkan,Mengacu pada prinsip fiqhul ma-al. (hukum berdasarkan
akibat yang ditimbulkan)
Menganalisa
kasus yang terjadi akhir-akhir ini tentang mengidolakan seorang penyanyi
(mudah-mudahan ia bertaubat) yang kemudian menimbulkan perbuatan maksiat, bisa
dinyatakan hukum mengidolakannya haram. Pengharaman ditinjau dari dua sisi.
Pertama: sebab mengidolakannya haram, yaitu melantunkan lagu yang berisikan
hal-hal yang haram. Kedua: dampak yang ditimbulkannya berupa perzinahan.
Mengidolakan seseorang timbul karena pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta sepakbola mengidolakan Ronaldinho bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena keindahan permainan sepakbolanya.
Mengidolakan seseorang timbul karena pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta sepakbola mengidolakan Ronaldinho bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena keindahan permainan sepakbolanya.
Masalah
mengidolakan adalah masalah pembentukan nilai-nilai yang ada dalam diri
manusia.Pembentukan nilai-nlai adalah tugas dari pendidikan.Agar nilai yang
terbentuk adalah nilai-nilai Islami maka yang dibutuhkan adalah pendidikan
Islam. Membentengi anak kita dengan Nilai-nilai Islami, menjamin bahwa anak
kita tidak akan mengidolakan “pelantun lagu-lagu haram”. Anak kita pun tercegah
dari dampak negatiivnya. Hal ini membutuhkan keberanian dan ketegasan para orang
tua.[DR H M Taufik Q Hulaimi MA MedDampak Mengidolakan Penyanyi, Selasa, 19
Oktober 2010 00:11].
Menjadi
penyanyi apalagi penyanyi dangdut memang ladang untuk meraup kekayaan tapi
banyak sekali dampak negatifnya secara syar’i seperti show yang ditampilkan
yang menggiring penonton untuk ikhtilat yaitu campur baur antara lelaki dan
wanita yang bukan muhrim serta terjadinya khalwat yaitu bersunyi diri antara
lelaki dan wanita yang bukan muhrim, itulah makanya seorang rocker terkenal
seperti Harry Mukti yang beraubat terus berhenti bernyanyi dan Cat Steven yang
masuk islam lalu meninggalkan lagu dan music bahkan menjual Bandnya kemudian
dengan bersahaja dia dirikan madrasah sebagai tempat belajar putra-putri islam
Inggris di kediamannya.
Syaikh Abdul
Aziz Al Abdul Latif
dalam tulisannya menyebutkan kisah Ibnu Mas’ud yang berhasil mendakwahi
penyanyi dan pemusik hingga bertaubat, menyadari bahwa sebagai artis bukanlah
profesi yang sesuai dengan Islam.
“Adalah seorang
pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman keras), dan ia
penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat ditangan Abdullah
bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan termasuk orang-orang
yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang ulama yang terkemuka, dan
termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba Allah ahli zuhud” [Lihat
biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar
‘Alamun Nubala 4/280]
Inilah kisah
taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia berkata :“Saya
adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya
bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia
pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman
keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud0
berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an
maka engkau adalah engaku… engkau”.
Setelah itu
pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?”
mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam)”.
Maka dengan
kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku
berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya)
aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.
Maka Ibnu
Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata :
“Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu
Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]
Kita dapat
mengambil pelajaran dari kisah diatas, bahwa kita mengetahui kejujuran Abdullah
bin Mas’ud dan niatnya yang baik, serta tujuannya yang benar dalam berdakwah
kepada Dzaadzan yang menyebabkannya mendapat petunjuk dan bertaubat.[Almanhajd.or.idRabu, 13 September 2006 15:11:47 WIB].
Kalaulah ummat islam kembali kepada
agamanya, menjadi muslim yang konsekwen dan konsisten maka dia harus
meninggalkan lagu dan music apalagi lagu dangdut yang sangat banyak syairnya
mengandung nilai-nilai yang tidak baik apalagi penyanyinya dengan pakaian yang
mengumbar aurat sungguh telah menodai islam yang melekat pada diri penyanyi
tersebut, kalaulah belum bisa meninggalkan lagu dan music maka paling tidak
mengalihkan lagu dan music itu kepada nasyid yaitu lagu-lagu yang bernuansa
islam, wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar