Jumat, 26 Februari 2016

284. Dangdut



Rasanya tidak ada orang yang tidak suka dengan lagu dan musik, apalagi di Indonesia yang telah menjadikan lagu dan musik merupakan bisnis yang menguntungkan, bahkan jalan pintas untuk jadi kaya dan terkenal ialah jadi penyanyi selain pemain sinetron atau bintang film. Ketika kita bicara tentang jenis lagu yang banyak menggunakan gendang yaitu dangdut, tidak bisa lepas dari Rajanya yang terkenal yaitu Rhoma Irama dan Ratunya bernama Elvi Sukaesih, pada masa mereka inilah lagu dangdut naik daun hingga disukai sampai manca negara, sampai detik inipun orang tidak bisa melepaskan lagu dangdut dari blantika musik di Indonesia.

Prof Mulyadhi Kartanegara ketika diwawancarai oleh Sabili tentang penghargaan masyarakat Indonesia terhadap ilmuwan sangat rendah, dia menyatakan karena kita lebih menghargai para penyanyi. Dialoq ini menyatakan sebagai berikut;

Apa syarat yang harus dipenuhi Indonesia untuk melahirkan ilmuwan?
Upayakan agar masyarakat dan bangsa ini memiliki tradisi ilmiah yang kuat. Hanya dengan tradisi ilmiah saja akan lahir para pemikir dalam masyarakat. Persoalannya, tradisi ilmiah di Indonesia sudah lama sirna.Dulu, pada abad 12–13, bangsa kita pernah mengalami tradisi ilmiah yang kuat. Pada saat itu, bermunculan beberapa pemikir seperti, Empu Tantular, Empu Sedha, Empu Panuluh, Empu Prapanca dan lainnya. Kemudian pada abad 17-18 bermuncul pemikir-pemikir Islam seperti, Hamzah Fansyuri, Nuruddin Arraniri, Syamsuddin Sumatrani, Syeh Nawawi Al-Bantani dan banyak lagi. Bahkan pada abad 19 kita masih memiliki pemikir seperti Hamka.Mereka diakui oleh dunia internasional pada masanya.Tapi belakangan pemikir sekaliber mereka tidak hilang.

Kenapa, bukankah Islam sebagai agama mayoritas penduduk negeri ini memiliki tradisi ilmiah kuat?
Betul.Sepanjang sejarah Islam peradaban Islam pernah memiliki ulama, pemikir, ilmuwan dan cendekiawan yang diakui di tingkat dunia.Mereka tidak hanya maju dalam hal ilmu agama tapi juga sains, fisika, matematika, biologi, kedokteran, kimia, astronomi, zoology, botani, psikologi dan lainnya.Faktanya, peradaban Islam memiliki tradisi ilmiah yang tinggi.
Persoalannya, tradisi ilmiah ini diambil-alih barat, kemudian baratlah yang mengembangkan tradisi ilmiah ini, menirukan tradisi Islam.Sedangkan umat Islam justru meninggalakannya dan para pemimpinnya asyik berebut kekuasaan dunia.Akibatnya, pasca kejayaan Islam, Barat berhasil mengambil alih tradisi ilmiah, berhasil melahirkan ribuan pemikir dan ilmuwan.Sedangkan dunia Islam, mengalami kejumudan, stagnan, kehabisan ilmuwan dan pemikir besar.

Hilangnya tradisi ilmiah, apakah bisa diukur dari rendahnya penghargaan terhadap para ilmuwan dan karyanya?
Tepat sekali.Sebagai bandingan.Pada masa kejayaan Islam di mana tradisi ilmiah sangat dijunjung tinggi, para penterjemah saja dibayar dengan emas seberat karya yang dihasilkannya.Misalnya, jika buku yang diterjemahkan beratnya 2 kg, maka ongkos bagi penterjemah juga 2 kg emas. Di Indonesia, para penulis hanya mendapat royalty 10%, itu pun pembayarannya terkadang tidak jelas. Apresiasi kita terhadap para ilmuwan, pemikir dan ilmu pengetahuan memang sangat rendah.

Akibatnya, di negeri ini tidak pernah muncul peneliti yang mumpuni.Profesi sebagai ilmuwan tidak lagi diminati oleh masyarakat.Orangtua di Indonesia lebih menyenangi anaknya menjadi penyanyi dangdut daripada menjadi ilmuwan.Ketika diadakan lomba ilmiah, peminatnya sangat sedikit, sedangkan lomba dangdut dibanjiri peserta.

Faktor lain, yang menyebabkan hilangnya tradisi ilmiah adalah minimnya minat baca. Masyarakat kita belum masuk sebagai masyarakat pembaca.Jika ada buku bagus, hanya beberapa orang saja yang mau membaca apalagi membelinya.Masyarakat kita adalah masyarakat penonton.Jika ada gambar atau visualnya kita berebut menonton. Kita kuat duduk berjam-jam hanya untuk nonton TV.[Prof Mulyadhi Kartanegara: Kita Lebih Senang Jadi Penyanyi DangdutSelasa, cybersabili.co.id.13 April 2010 02:11].

            Demikian perhatian seorang ilmuwan sekaliber Profesor itu, dia kenal betul perkembangan dan kecendrungan masyarakat Indonesia yaitu sangat menyenangi lagu dan music bahkan khususnya lagu dangdut sehingga melupakan belajar dan melalaikan ilmu. Sebenarnya apa hokum lagu dan music itu dalam islam, karena sebagian pemain musik dan penyanyi dangdut itu orang-orang islam bahkan sudah berstatus sebagai haji.Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi memberikan jawabannya dengan judul Haramnya Musik dan Profesi Penyanyiyaitu;

Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: … dan wanita-wanita yang kasiyat ‘ariyat mailat mumilat, kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan merasakan baunya surga…(HR Muslim) itu menurut sebagian ahli ilmu, maksudnya adalah wanita-wanita penyanyi/ al-mughonniyyaat. (Ashbahani, Dalailun Nubuwwah, juz 1 hlm 224).

Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, khathib Masjid Nabawi Madinah menulis satu buku berjudul Pengumuman bahwa musik dan nyanyian itu haram (al-I’laam bi annal ‘azfa wal ghina’a haroom).

Allah menyatakan kepada Iblis musuh seluruh manusia:Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu…(QS Al-Israa’: 64).

Mujahid, seorang Imam Tafsir menyatakan, dari Ibnu Abbas ra dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “suaramu” (suara syaitan) adalah lagu, musik, dan senda gurau. Sementara itu Ad-Dhahhak menjelasakannya serupa: Suara syaitan yang dimaksud dalam ayat ini adalah suara musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 15).
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS Luqman: 6).

Mujahid mengatakan, “perkataan yang tidak berguna” (lahwal hadits) adalah mendengarkan lagu/ nyanyian dan kebatilan yang serupa”. Abdullah bin Mas’ud menyatakan, “Demi Allah yang tiada Ilah kecuali Dia, sesungguhnya lahwal hadits itu maksudnya adalah lagu-lagu/ nyanyian. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 16).
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?
Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?
Sedang kamu melengahkan (nya) (dengan bernyanyi-nyanyi)?(QS An-Najm/ 53: 59, 60, 61).

Riwayat dari Ibnu Abbas, Ikrimah berkata, As-sumud menurut bahasa Himyar (salah satu kabilah dari bangsa Arab) adalah lagu. Jika dikatakan, usmudi lana ya fulanah, artinya: Nyanyikanlah untuk kami wahai Fulanah.Dalam menafsiri ayat di atas, Ikrimah berkata, “apabila mereka (orang-orang kafir) mendengar Al-Qur’an (dibacakan), mereka bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu untuk menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an itu.Maka diturunkanlah ayat di atas.”Karenanya, para ulama salafus shalih (generasi pertama yang shalih) menyebut (nyanyian itu) dengan istilah Qur’annya syaithan, karena lagu-lagu itu digunakan syaitan untuk menentang dan menandingi Al-Qur’an serta menghalangi orang dari mengingat Allah dan mengingat Al-Qur’an.Apakah celaan Allah terhadap kelakuan mereka yang menertawakan dan bernyanyi-nyanyi itu menunjukkan bahwa lagu tidak haram?

Ketiga ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas oleh para Imam tafsir, di antaranya Imam Al-Qurthubi, dikomentari dengan suatu keputusan: “Sesungguhnya ayat-ayat tersebut menunjukkan haramnya lagu/ nyanyian.” (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 18)

Allah SWT berfirman:Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS Al-Ahzaab: 32).

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…(QS Al-Ahzaab: 33)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkomentar: Oleh karena itu sangat aneh, jika suara lembut dari wanita yang sedang berbicara dengan lelaki lain diharamkan, tetapi nyanyian-nyanyiannya dengan kata-kata kotor dan manja yang ditujukan kepada siapa saja itu tidak diharamkan! Semestinya kaum zhahiri (yang memahami ayat dan hadits hanya secara dhahirnya teks belaka, pen) serta para pecandu lagu dan musik dapat menerima jika dikatakan: tergeraknya syahwat melalui suara-suara para penyanyi wanita dan lelaki itu lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan melalui suara gelang kaki, karena ucapan dan ungkapan (nyanyian) itu disertai irama dan musik. (Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Haramkah Musik dan Lagu, terjemahan Awfal ‘Ahdi, Wala’ Press, cetakan pertama, 1996, hlm 37).(nahimunkar.com4 July 2008). 

Akibat dari menghalalkan lagu dan musik bukan saja berdosa tapi juga akan mendatangkan malapetaka di dunia ini, bukan hanya mengenai para pemusik dan penyanyi saja  tapi juga akan menghantam manusia yang terlena dengan alunan music dan terpana dengan indahnya suara penyanyi.
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. 'Ada yang bertanya kepada Rasulullah'. Wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi? Beliau menjawab.'Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita".(HR.Thabrani).

Pertanda (alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih banyak lagi.Pada masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-mana, dan biduan serta biduanita tak terbilang jumlahnya.Padahal, mereka itulah yang dimaksud dengan al-qainat (penyanyi-penyanyi) dalam hadits di atas.Dan yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang yang menghalalkan musik dan menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan ditimpa tanah longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata Hisyam bin Ammar (ia berkata) : telah menceritakan kepada kami Shidqah bin Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya hingga Abi Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. " Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalalkan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan ada kaum yang pergi ke tepi bukit yang tinggi, lalu para pengembala dengan kambingnya menggunjingi mereka, lantas mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Mereka berkata, 'Kembalilah kepada kami esok hari'. Kemudian pada malam harinya Allah membinasakan mereka dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka, sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah wajahnya menjadi monyet dan babi sampai hari kiamat". (Shahih Bukhari)[Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil,Merajalelanya Bunyi-Bunyian (Musik) Serta Dianggap Halal, asysyariah.com.25 March 2003].

Selain menjadikan musik dan lagu sebagai hiburan yang menyenangkan bagi peminatnya maka tidak kalah bahayanya menjadikan sang penyanyi sebagai idola bagi penggemarnya, ada yang histeris dikala menghadiri pertunjukan lagu dangdut bahkan lagu-lagu yang lain, ada yang menangis ketika sang penyanyi tidak jadi manggung atau tidak sempat bertemu dengannya.

Hukum mengidolakan Artis tergantung dua sebab . Pertama: kenapa ia diidolakan? Kedua dampak yang ditimbulkan,Mengacu pada prinsip fiqhul ma-al. (hukum berdasarkan akibat yang ditimbulkan)

Menganalisa kasus yang terjadi akhir-akhir ini tentang mengidolakan seorang penyanyi (mudah-mudahan ia bertaubat) yang kemudian menimbulkan perbuatan maksiat, bisa dinyatakan hukum mengidolakannya haram. Pengharaman ditinjau dari dua sisi. Pertama: sebab mengidolakannya haram, yaitu melantunkan lagu yang berisikan hal-hal yang haram. Kedua: dampak yang ditimbulkannya berupa perzinahan.

Mengidolakan seseorang timbul karena pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta sepakbola mengidolakan Ronaldinho bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena keindahan permainan sepakbolanya.
Masalah mengidolakan adalah masalah pembentukan nilai-nilai yang ada dalam diri manusia.Pembentukan nilai-nlai adalah tugas dari pendidikan.Agar nilai yang terbentuk adalah nilai-nilai Islami maka yang dibutuhkan adalah pendidikan Islam. Membentengi anak kita dengan Nilai-nilai Islami, menjamin bahwa anak kita tidak akan mengidolakan “pelantun lagu-lagu haram”. Anak kita pun tercegah dari dampak negatiivnya. Hal ini membutuhkan keberanian dan ketegasan para orang tua.[DR H M Taufik Q Hulaimi MA MedDampak Mengidolakan Penyanyi, Selasa, 19 Oktober 2010 00:11].

Menjadi penyanyi apalagi penyanyi dangdut memang ladang untuk meraup kekayaan tapi banyak sekali dampak negatifnya secara syar’i seperti show yang ditampilkan yang menggiring penonton untuk ikhtilat yaitu campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan muhrim serta terjadinya khalwat yaitu bersunyi diri antara lelaki dan wanita yang bukan muhrim, itulah makanya seorang rocker terkenal seperti Harry Mukti yang beraubat terus berhenti bernyanyi dan Cat Steven yang masuk islam lalu meninggalkan lagu dan music bahkan menjual Bandnya kemudian dengan bersahaja dia dirikan madrasah sebagai tempat belajar putra-putri islam Inggris di kediamannya.

Syaikh Abdul Aziz Al Abdul Latif  dalam tulisannya menyebutkan kisah Ibnu Mas’ud yang berhasil mendakwahi penyanyi dan pemusik hingga bertaubat, menyadari bahwa sebagai artis bukanlah profesi yang sesuai dengan Islam.

“Adalah seorang pemuda yang bernama Dzaadzan seorang peminum khamr (minuman keras), dan ia penabuh gendang, lalu Allah memberinya rezki berupa taubat ditangan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu maka menjadilah Dzaadzan termasuk orang-orang yang terbaik dari kalangan tabi’in, dan salah seorang ulama yang terkemuka, dan termasuk orang-orang yang masyhur dari kalangan hamba Allah ahli zuhud” [Lihat biografinya dalam Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]

Inilah kisah taubatnya, sebagaimana Dzaadzan meriwayatkannya sendiri, ia berkata :“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras, lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud0 berkata : “Kalaulah yang terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah engaku… engkau”.

Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku : “Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud (sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat. Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis, (setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.

Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”. Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku [Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]

Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah diatas, bahwa kita mengetahui kejujuran Abdullah bin Mas’ud dan niatnya yang baik, serta tujuannya yang benar dalam berdakwah kepada Dzaadzan yang menyebabkannya mendapat petunjuk dan bertaubat.[Almanhajd.or.idRabu, 13 September 2006 15:11:47 WIB].

Kalaulah ummat islam kembali kepada agamanya, menjadi muslim yang konsekwen dan konsisten maka dia harus meninggalkan lagu dan music apalagi lagu dangdut yang sangat banyak syairnya mengandung nilai-nilai yang tidak baik apalagi penyanyinya dengan pakaian yang mengumbar aurat sungguh telah menodai islam yang melekat pada diri penyanyi tersebut, kalaulah belum bisa meninggalkan lagu dan music maka paling tidak mengalihkan lagu dan music itu kepada nasyid yaitu lagu-lagu yang bernuansa islam,   wallahu a’lam [Cubadak Solok, 08 Zulhijjah 1432.H/04 November 2011.M].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar