Kamis, 18 Februari 2016

246. Sakaratul Maut



Kejadian luar biasa yang akan dialami manusia di akhir kehidupannya adalah kematian walaupun kejadian itu tanpa disadari sebelumnya karena manusia sibuk di dunia untuk mengurus kepentingan dunianya saja agar hidupnya lebih hidup sehingga lupa kalau hari penting itu semakin dekat menghampirinya, hari itu datang dengan tiba-tiba, itulah dia kematian yang diawali dengan peristiwa dahsyat dan menakutkan yaitu sakaratul maut.

               Salah satu fakta terbesar dalam kehidupan manusiaadalah bahwa setiap makhluk akan mengalami"perpindahan" hidup dari alam "ke(kini)an" ke alam"ke (nanti)an" (Akhirat). Semua manusia, bahkan semuamakhluk meyakini hakikat ini.

               Keyakinan yang tidak mungkin dicampuri syak inimenjadikan semua pihak sadar akan pertemuannya dengankenyataan tersebut. Sehingga sangat wajar, jika AlQur'an secara lugas pun menamakannya sebagai "AlYaqiin". Allah berfirman: "Wa'bud Rabbaka hattaya'tiyakal yaqiin" (Dan sembahlah Tuhanmu sehinggadatang kepadamu keyakinan).

               Oleh jumhurul (mayoritas) mufassirin (ahli tafsir),kata "Al Yaqiin" di atas diartikan dengan "al Maut"(kematian).

               Berbagai ayat dalam Al Qur'an menguatkan hal ini.Misalnya saja: "Kullu nafsin dzaaiqatul maut" (Setiapjiwa pasti merasakan kematian). Oleh para ulama kitadisebutkan bahwa penyebutan "dzaaiqah" (merasakan)pada ayat di atas merupakan indikasi kuat betapakematian itu pasti terasa begitu pedih.Yang mampumemperingan kemudian adalah Iman dan Amal si mayyit.

               Pada ayat yang lain, Allah menjelaskan bahwa: "idzaajaa ajaluhum laa yasta'khiruuna saa'atan wa laayataqdimuun" (Jika ajal datang menemui mereka, makasesaat pun mereka tidak mungkin percepatkan dan tidakpula mereka mampu percepat). Artinya, bahwa semuamakhluk itu telah dikonfirmasikan masa dan tempat dimana dia akan menemui ajal. Yang jadi masalah memang,karena kematian adalah bagian dari keghaiban, sehinggamasa dan tempat serta sebab kematian masing-masingmakhluk masih menjadi rahasia Ilahi. SebagaimanafirmanNya: "Walaa tadrii nafsun fii ayyi ardhintamuut" (Dan tak seorang jiwapun yang tahu, di belahanbumi mana dia akan menemui maut).

               Tersebutlah semua kisah Israiiliyaat, bahwa suatuketika nabi Sulaeman (yang juga seorang raja besar)sedang bersama dengan perdana menterinya.Padasaat-saat intens berdiskusi dengannya, tiba-tibadatanglah seseorang dengan wajah menakutkan (seram)dan berpakaian serba putih. Ketika orang tersebutmasuk, segera ia menatap dengan mata tajam ke arahperdana menteri Sulaeman tersebut, lalu segera berlaludan menghilang.
               Segera setelah menghilang, sang perdana menteri lalubertanya kepada Sulaeman: "Siapa gerangan orangtersebut?" Sulaeman menjawaba: "Beliau adalah Malakulmaut".

               Mendengar jawaban itu, sang perdana menteri bergegasmeminta izin ke nabi Sulaeman untuk berangkat ketempat yang sangat jauh. Yaitu suatu gua yang belumdiketahui oleh siapapun di negeri India.Maksudnyaadalah untuk bersembunyi dari malakul maut, yangmenurutnya telah memandangnya dengan pandangan tajam,karena ingin mencabut nyawanya.

               Singkat cerita, iapun diizinkan oleh Sualeman. Makaberangkatlah ia ke Gua yang jauh tersebut, gunabersembunyi dari malakul maut. Sesampai di depan guayang dimaksud, rupanya orang tersebut telah berdiri didepan pintu gua itu, dan segera menarik sang perdanamenteri dan mencabut jiwanya.

               Setelah tugasnya selesai, barulah sang malakul mautkembali menemui nabi Sulaeman. Nabi Sulaeman lalubertanya: "Kepana engkau memandang perdana menterikudengan pandangan yang tajam dan menakutkan?" Sangmalakul maut menjawab: "Karena pada saat saya datangtadi, saya menerima telah perintah dari Allah untukmencabut nyawanya di sebuah gua di India, padahal diamasih berada di sisimu.Itulah sebabnya, saya marahdan memandangnya dengan pandangan murka. Dan segerasetelah itu, saya menuju ke gua itu dan pada detik dimana Allah menentukan untuk saya melakukan tugas, diatiba di gua yang dimaksud".Mendengar itu, nabi Sulaemanpun sadar dan segera mengucapkan: "Innalillahi wainna ilaehi raaji'uun"

               Cerita di atas agak susah untuk ditentukan tingkatkesahehannya, jika ditinjau dari segi "ruwaah"(periwayat). Namun dari segi "matan" (isi)sesungguhnya menguatkan berbagai ayat yang telahdisebutkan terdahulu.Betapa ajal, jika telah tiba taksatupun yang bisa mempercepat ataupun sebaliknyamengundurkan.

               Dalam berbagai syair jahili pun ditemukan betapaorang-orang arab terdahulu meyakini hal yang sama.Potongan syair berikut memang tidak sempurna, namuncukup menggambarkan betapa keyakinan itu ada: "Betapa banyak anak-anak kecil diharapkanberumur panjang, tiba-tiba saja jasadnya telah ditanamdalam kegelapan kubur. Betapa banyak pengantin yangdihiasi untuk pasangannya, tiba-tiba saja ruhnya telahdiambil pada malam yang dinanti-nanti".[M. Syamsi AliNew York, kematian, Ktpdi].

               Sesungguhnya bagian manusia dari dunia ini adalah hanya sebatas umurnya. Apabila seseorang menabur benih dengan baik di dunia, maka ia akan memanen pahala yang melimpah di akhirat nanti. Orang yang melakukan transaksi yang menguntungkan adalah; dengan beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa raganya, maka di akhirat ada Surga Adn yang menanti.Tapi apabila sebaliknya, umur yang ada hanya diisi dengan keburukan, kesia-siaan, menumpuk dosa, dan mengejar kesenangan nafsunya, maka sungguh, semua itu adalah kerugian yang nyata. Perhatikan Firman Allah Subhanahu Wata'ala :"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 1-3). 
Al-Imam asy-Syafi'i menafsiri ayat ini, "Kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas hamba-hambaNya kecuali surat ini, niscaya surat ini cukup bagi mereka."

Artinya, orang yang tidak beriman, tidak beramal shalih, tidak saling menasihati dengan kebenaran dan tidak saling menasihati dengan kesabaran, maka dia adalah tipe manusia yang paling merugi di akhirat. Dan sebaliknya, bagi orang yang beriman dan beramal shalih, adalah sebagaimana janji Allah di dalam ayat ini :"Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupn yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97).

 Bahwa sekecil apa pun amal yang kita lakukan, pasti kita akan dapatkan balasannya. Tidak akan ada yang luput dari pengadilan Allah Subhanahu Wata'ala. Dan ingat pula bahwa kita semua pasti akan kembali kepada Allah, dan bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya yang membuat kita lupa, Allah Subhanahu Wata'ala telah jauh-jauh hari memperingatkan hal ini. FirmanNya "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami."(Al-Mu`minun: 115).

Karenanya, orang yang berakal adalah orang yang dapat menghitung amalan dirinya sebelum Allah Subhanahu Wata'ala menghitungnya. Dia merasa takut akan dosa-dosanya yang dapat menyebabkan kehancurannya. Karena ajal senantiasa mengintai kehidupan setiap orang, dan kematian selalu siap menyudahinya. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kapan pun Allah menghendaki, maka tidak ada seorang pun yang dapat menundanya atau memajukannya, sekali pun sekejap.[Husnul Yaqin, Lc.Akhir Hidup Manusia, Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq].

Kematian adalah ketetapan bagi setiap makhluk-Nya yang memiliki ruh, sekalipun makhluk yang paling mulia yaitu para nabi dan rasul r. Mereka pun menemui ajal yang telah Allah l tentukan. Allah l memberitakan kepastian itu dalam firman-Nya:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imran: 185)
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Ali ‘Imran: 144)

Demikian juga para malaikat, akan menemui ajalnya, sehingga tidak ada yang kekal kecuali Allah,“Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27)

Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dia akan meninggal, pada umur berapa dia akan menemui ajalnya, dan di mana dia akan mengakhiri hidupnya di dunia, di daratan ataukah di lautan, serta apa sebab kematiannya. Allah  berfirman:“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman: 34)

Padahal kematian itu bukanlah akhir kehidupan yang hakiki bagi seorang hamba. Dia hanyalah seorang musafir yang akan kembali ke negerinya yang hakiki dan abadi di akhirat nanti. Dia akan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan ucapan yang telah dilakukannya di dunia. Kemudian dia akan mendapatkan balasan atas amalannya tersebut.[Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan   Kematian adalah Kepastian, Apa Yang Sudah Engkau Siapkan?, www.asysyari’ahWednesday, 13 April 2011 09:52].

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya".

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah: "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya". [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian.

Juga ayat"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan". Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau". [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa'di menjelaskan: "Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: "Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang akan menyembuhkan?" artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. 

Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta'ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan".

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) "Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: "Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas"[Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al'Ali
, Sakaratul maut, detik-detik yang menegangkan lagi menyakitkan,
Almanhaj,or.id,Rabu, 11 Nopember 2009 16:15:14 WIB].

Mati tidaklah demikian saja, tapi ada proses yang dilalui, proses ini akan dialami oleh semua manusia, apakah dia seorang muslim ataupun kafir, Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan menuliskan tentang proses keluarnya ruh dari jasad manusia.

Keluarnya ruh dari jasad dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib z yang panjang, yang diriwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Imam Ahmad, dan Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil t menyebutkan hadits ini dalam Ash-Shahihul Musnad.

Keluarnya ruh seorang mukmin dan kabar gembira baginya.
“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggal dunia, maka para malaikat rahmat turun kepadanya, wajahnya seakan-akan matahari yang bersinar, membawa kain kafan dan wangi-wangian dari jannah (surga).Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malakul maut  hingga duduk di samping kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan Allah dan keridhaan-nya.’ Maka ruh tersebut keluar dari jasadnya seperti tetesan air yang mengalir dari bibir tempat air minum.Malakul maut pun mengambil ruh yang sudah keluar dari jasadnya itu.Tiba-tiba para malaikat rahmat yang menunggu tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangannya sekejap mata pun.Mereka segera mengambil dan menaruhnya di dalam kafan dan wangi-wangian tersebut, dan keluarlah bau wangi misik yang paling harum yang dijumpai di muka bumi.”

Allah  mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan istiqamah di atas agama yang sempurna ketika menghadapi sakaratul maut. Ini adalah bukti kasih sayang Allah  terhadap hamba-Nya. Allah berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Ayat-ayat ini adalah berita dari Allah  sekaligus kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, bahwa para malaikat akan turun kepada mereka ketika mereka menghadapi maut, juga di dalam kubur mereka, serta ketika mereka dibangkitkan darinya. Para malaikat memberi jaminan keamanan kepada mereka atas perintah Allah. Mereka juga memberikan kabar gembira agar orang-orang beriman tidak takut terhadap apa yang akan mereka hadapi di akhirat, tidak bersedih terhadap perkara dunia yang mereka tinggalkan, seperti anak, keluarga, dan harta. Karena Allah yang akan mengurus dan menanggung mereka semua. Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan hilangnya berbagai kejelekan dan didapatkannya berbagai kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dari Aisyah,  Rasulullahbersabda:“Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak suka bertemu dengan Allah maka Allah juga tidak suka bertemu dengannya.” Aisyah berkata: “Wahai Nabi Allah, benci terhadap kematian? Kita semua membenci kematian.”Rasulullah  menjawab: “Bukan seperti itu. Seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhaan, dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah, sehingga Allah pun senang bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir apabila diberi kabar gembira dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya maka dia akan benci bertemu dengan Allah dan Allah pun benci bertemu dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

 Keluarnya ruh seorang kafir dan azab terhadapnya
“Apabila seorang hamba yang kafir akan meninggal dunia, turunlah malaikat azab dari langit.Wajah-wajahnya hitam dan seram.Mereka membawa kain yang kasar dan jelek.Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang.Lalu datanglah malakul maut hingga dia duduk di samping kepalanya. Kemudian dia berkata: ‘Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.’ Maka ruh tersebut bergetar di seluruh tubuhnya, kemudian malakul maut mencabutnya sebagaimana dicabutnya besi alat pemanggang dari bulu-bulu yang basah.Dia kemudian mengambil ruh tersebut.Para malaikat yang menunggu tadi tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun, sampai mereka mengambil dan meletakkannya di kain yang kasar lagi jelek tadi.Keluarlah darinya bau seperti bau bangkai yang paling busuk yang ditemukan di muka bumi.”

Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira berupa kemurkaan dan azab-Nya, sehingga ruh-ruh mereka enggan untuk keluar dari jasadnya.Maka para malaikat pun memukul wajah dan punggungnya, sampai ruhnya keluar dari jasadnya. Allah l berfirman,“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al-An’am: 93)

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar’, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.” (Al-Anfal: 50-51)

Sakaratul Maut Adalah Penghapus Dosa Seorang Mukmin
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda:“Tidaklah menimpa seorang muslim suatu rasa capek, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, duka cita, sampaipun sebuah duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah  akan menghapus dosa-dosanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dari Anas bin Malik z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:“Apabila Allah  menguji seorang hamba yang muslim dengan suatu ujian pada badannya, Allah  berfirman: ‘Tulislah baginya amalan shalih yang biasa dia lakukan.’ Apabila Allah menyembuhkannya maka Dia telah mencuci dan membersihkannya (dari dosanya).Namun apabila Allah mencabut ruhnya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan merahmatinya.” (HR. Ahmad].[Proses Keluarnya Jasad dari Ruhwww.asysyari’ahWednesday, 13 April 2011 10:01].

Begitu mengerikannya perjalanan hidup manusia sejak dari proses di alam kandungan, dikala kelahiran menanti hingga hidup di dunia sampai ajal menjelang tidak lepas dari ujian demi ujian yang menempa hidupnya, sakaratul maut bukanlah akhir dari perjalanan itu tapi merupakan sebuah terminal yang menentukan perjalanan berikutnya, dikala lahir semua orang tertawa karena senang menantikan hadirnya generasi baru padahal yang lahir menangis karena beratnya beban hidup yang akan dilaluinya kelak, seharusnya disaat sakaratul maut, biarlah orang menangis melepas kepergian kita tapi kita yang pergi bisa tertawa meninggalkan dunia ini karena mendapat rahmat dari Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar