Kejadian luar biasa yang akan dialami manusia di akhir
kehidupannya adalah kematian walaupun kejadian itu tanpa disadari sebelumnya
karena manusia sibuk di dunia untuk mengurus kepentingan dunianya saja agar hidupnya
lebih hidup sehingga lupa kalau hari penting itu semakin dekat menghampirinya,
hari itu datang dengan tiba-tiba, itulah dia kematian yang diawali dengan
peristiwa dahsyat dan menakutkan yaitu sakaratul maut.
Salah
satu fakta terbesar dalam kehidupan manusiaadalah bahwa setiap makhluk akan
mengalami"perpindahan" hidup dari alam "ke(kini)an" ke
alam"ke (nanti)an" (Akhirat). Semua manusia, bahkan semuamakhluk
meyakini hakikat ini.
Keyakinan
yang tidak mungkin dicampuri syak inimenjadikan semua pihak sadar akan
pertemuannya dengankenyataan tersebut. Sehingga sangat wajar, jika AlQur'an
secara lugas pun menamakannya sebagai "AlYaqiin". Allah berfirman:
"Wa'bud Rabbaka hattaya'tiyakal yaqiin" (Dan sembahlah Tuhanmu
sehinggadatang kepadamu keyakinan).
Oleh
jumhurul (mayoritas) mufassirin (ahli tafsir),kata "Al Yaqiin" di
atas diartikan dengan "al Maut"(kematian).
Berbagai
ayat dalam Al Qur'an menguatkan hal ini.Misalnya saja: "Kullu nafsin
dzaaiqatul maut" (Setiapjiwa pasti merasakan kematian). Oleh para ulama
kitadisebutkan bahwa penyebutan "dzaaiqah" (merasakan)pada ayat di
atas merupakan indikasi kuat betapakematian itu pasti terasa begitu pedih.Yang
mampumemperingan kemudian adalah Iman dan Amal si mayyit.
Pada
ayat yang lain, Allah menjelaskan bahwa: "idzaajaa ajaluhum laa
yasta'khiruuna saa'atan wa laayataqdimuun" (Jika ajal datang menemui
mereka, makasesaat pun mereka tidak mungkin percepatkan dan tidakpula mereka
mampu percepat). Artinya, bahwa semuamakhluk itu telah dikonfirmasikan masa dan
tempat dimana dia akan menemui ajal. Yang jadi masalah memang,karena kematian
adalah bagian dari keghaiban, sehinggamasa dan tempat serta sebab kematian
masing-masingmakhluk masih menjadi rahasia Ilahi. SebagaimanafirmanNya:
"Walaa tadrii nafsun fii ayyi ardhintamuut" (Dan tak seorang jiwapun
yang tahu, di belahanbumi mana dia akan menemui maut).
Tersebutlah
semua kisah Israiiliyaat, bahwa suatuketika nabi Sulaeman (yang juga seorang
raja besar)sedang bersama dengan perdana menterinya.Padasaat-saat intens
berdiskusi dengannya, tiba-tibadatanglah seseorang dengan wajah menakutkan
(seram)dan berpakaian serba putih. Ketika orang tersebutmasuk, segera ia
menatap dengan mata tajam ke arahperdana menteri Sulaeman tersebut, lalu segera
berlaludan menghilang.
Segera
setelah menghilang, sang perdana menteri lalubertanya kepada Sulaeman:
"Siapa gerangan orangtersebut?" Sulaeman menjawaba: "Beliau
adalah Malakulmaut".
Mendengar
jawaban itu, sang perdana menteri bergegasmeminta izin ke nabi Sulaeman untuk
berangkat ketempat yang sangat jauh. Yaitu suatu gua yang belumdiketahui oleh
siapapun di negeri India.Maksudnyaadalah untuk bersembunyi dari malakul maut,
yangmenurutnya telah memandangnya dengan pandangan tajam,karena ingin mencabut
nyawanya.
Singkat
cerita, iapun diizinkan oleh Sualeman. Makaberangkatlah ia ke Gua yang jauh
tersebut, gunabersembunyi dari malakul maut. Sesampai di depan guayang
dimaksud, rupanya orang tersebut telah berdiri didepan pintu gua itu, dan
segera menarik sang perdanamenteri dan mencabut jiwanya.
Setelah
tugasnya selesai, barulah sang malakul mautkembali menemui nabi Sulaeman. Nabi
Sulaeman lalubertanya: "Kepana engkau memandang perdana menterikudengan
pandangan yang tajam dan menakutkan?" Sangmalakul maut menjawab:
"Karena pada saat saya datangtadi, saya menerima telah perintah dari Allah
untukmencabut nyawanya di sebuah gua di India, padahal diamasih berada di
sisimu.Itulah sebabnya, saya marahdan memandangnya dengan pandangan murka. Dan
segerasetelah itu, saya menuju ke gua itu dan pada detik dimana Allah
menentukan untuk saya melakukan tugas, diatiba di gua yang
dimaksud".Mendengar itu, nabi Sulaemanpun sadar dan segera mengucapkan:
"Innalillahi wainna ilaehi raaji'uun"
Cerita
di atas agak susah untuk ditentukan tingkatkesahehannya, jika ditinjau dari
segi "ruwaah"(periwayat). Namun dari segi "matan"
(isi)sesungguhnya menguatkan berbagai ayat yang telahdisebutkan
terdahulu.Betapa ajal, jika telah tiba taksatupun yang bisa mempercepat ataupun
sebaliknyamengundurkan.
Dalam
berbagai syair jahili pun ditemukan betapaorang-orang arab terdahulu meyakini
hal yang sama.Potongan syair berikut memang tidak sempurna, namuncukup
menggambarkan betapa keyakinan itu ada: "Betapa banyak anak-anak kecil
diharapkanberumur panjang, tiba-tiba saja jasadnya telah ditanamdalam kegelapan
kubur. Betapa banyak pengantin yangdihiasi untuk pasangannya, tiba-tiba saja
ruhnya telahdiambil pada malam yang dinanti-nanti".[M. Syamsi AliNew York,
kematian, Ktpdi].
Sesungguhnya
bagian manusia dari dunia ini adalah hanya sebatas umurnya. Apabila seseorang
menabur benih dengan baik di dunia, maka ia akan memanen pahala yang melimpah
di akhirat nanti. Orang yang melakukan transaksi yang menguntungkan adalah;
dengan beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwa raganya, maka di akhirat ada Surga Adn yang menanti.Tapi
apabila sebaliknya, umur yang ada hanya diisi dengan keburukan, kesia-siaan,
menumpuk dosa, dan mengejar kesenangan nafsunya, maka sungguh, semua itu adalah
kerugian yang nyata. Perhatikan Firman Allah Subhanahu Wata'ala :"Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr:
1-3).
Al-Imam asy-Syafi'i menafsiri ayat ini, "Kalau
seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas hamba-hambaNya kecuali surat ini,
niscaya surat ini cukup bagi mereka."
Artinya, orang yang tidak beriman, tidak beramal shalih,
tidak saling menasihati dengan kebenaran dan tidak saling menasihati dengan
kesabaran, maka dia adalah tipe manusia yang paling merugi di akhirat. Dan
sebaliknya, bagi orang yang beriman dan beramal shalih, adalah sebagaimana
janji Allah di dalam ayat ini :"Barangsiapa yang beramal shalih, baik
laki-laki maupun perempuan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka sesungguhnya
akan Kami berikan kepadanya kehidupn yang baik, dan sesungguhnya akan Kami
berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan." (An-Nahl: 97).
Bahwa sekecil apa pun
amal yang kita lakukan, pasti kita akan dapatkan balasannya. Tidak akan ada
yang luput dari pengadilan Allah Subhanahu Wata'ala. Dan ingat pula bahwa kita
semua pasti akan kembali kepada Allah, dan bahwa dunia ini penuh dengan tipu
daya yang membuat kita lupa, Allah Subhanahu Wata'ala telah jauh-jauh hari
memperingatkan hal ini. FirmanNya "Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami."(Al-Mu`minun: 115).
Karenanya, orang yang berakal adalah orang yang dapat
menghitung amalan dirinya sebelum Allah Subhanahu Wata'ala menghitungnya. Dia
merasa takut akan dosa-dosanya yang dapat menyebabkan kehancurannya. Karena
ajal senantiasa mengintai kehidupan setiap orang, dan kematian selalu siap
menyudahinya. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kapan pun Allah
menghendaki, maka tidak ada seorang pun yang dapat menundanya atau memajukannya,
sekali pun sekejap.[Husnul Yaqin, Lc.Akhir Hidup Manusia, Kumpulan Khutbah
Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq].
Kematian adalah ketetapan bagi setiap makhluk-Nya yang
memiliki ruh, sekalipun makhluk yang paling mulia yaitu para nabi dan rasul r.
Mereka pun menemui ajal yang telah Allah l tentukan. Allah l memberitakan
kepastian itu dalam firman-Nya:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
(Ali ‘Imran: 185)
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh
telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (Ali ‘Imran: 144)
Demikian juga para malaikat, akan menemui ajalnya, sehingga
tidak ada yang kekal kecuali Allah,“Segala yang ada di bumi itu akan binasa.
Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(Ar-Rahman: 26-27)
Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dia akan
meninggal, pada umur berapa dia akan menemui ajalnya, dan di mana dia akan
mengakhiri hidupnya di dunia, di daratan ataukah di lautan, serta apa sebab
kematiannya. Allah berfirman:“Dan tiada
seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”
(Luqman: 34)
Padahal kematian itu bukanlah akhir kehidupan yang hakiki
bagi seorang hamba. Dia hanyalah seorang musafir yang akan kembali ke negerinya
yang hakiki dan abadi di akhirat nanti. Dia akan kembali untuk
mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan ucapan yang telah dilakukannya di
dunia. Kemudian dia akan mendapatkan balasan atas amalannya tersebut.[Al-Ustadz
Abul Abbas Muhammad Ihsan Kematian
adalah Kepastian, Apa Yang Sudah Engkau Siapkan?, www.asysyari’ahWednesday,
13 April 2011 09:52].
Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad
bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kematian adalah kengerian yang
paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih
menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di
bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk
dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman
dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya".
Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses
sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah: "Dan
datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari
darinya". [Qaaf: 19]
Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan
himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal
sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga
manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah
hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan
kematian.
Juga ayat"Sekali-kali jangan. Apabila nafas
(seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya):
"Siapakah yang dapat menyembuhkan". Dan dia yakin bahwa sesungguhnya
itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan
kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau". [Al Qiyamah: 26-30]
Syaikh Sa'di menjelaskan: "Allah mengingatkan para
hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh
sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher
(kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari
segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu
Allah berfiman: "Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang akan
menyembuhkan?" artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah.
Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan,
sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi.
Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak
dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan
dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan
jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit,
nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya.
Maka dihalau menuju Allah Ta'ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui
perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati
untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi
kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat
dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan".
Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena
sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) "Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: "Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas"[Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al'Ali, Sakaratul maut, detik-detik yang menegangkan lagi menyakitkan,
Almanhaj,or.id,Rabu, 11 Nopember 2009 16:15:14 WIB].
Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) "Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: "Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut". Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: "Menuju Rafiqil A'la". Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas"[Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al'Ali, Sakaratul maut, detik-detik yang menegangkan lagi menyakitkan,
Almanhaj,or.id,Rabu, 11 Nopember 2009 16:15:14 WIB].
Mati
tidaklah demikian saja, tapi ada proses yang dilalui, proses ini akan dialami
oleh semua manusia, apakah dia seorang muslim ataupun kafir, Al-Ustadz Abul
Abbas Muhammad Ihsan menuliskan tentang proses keluarnya ruh dari jasad
manusia.
Keluarnya ruh dari jasad dalam
hadits Al-Bara’ bin ‘Azib z yang panjang, yang diriwayatkan Abu Dawud,
An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Imam Ahmad, dan Al-Hakim. Asy-Syaikh Muqbil t
menyebutkan hadits ini dalam Ash-Shahihul Musnad.
“Sesungguhnya seorang hamba
yang mukmin apabila akan meninggal dunia, maka para malaikat rahmat turun
kepadanya, wajahnya seakan-akan matahari yang bersinar, membawa kain kafan dan
wangi-wangian dari jannah (surga).Mereka duduk di tempat sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah malakul maut hingga
duduk di samping kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah
engkau menuju ampunan Allah dan keridhaan-nya.’ Maka ruh tersebut keluar dari
jasadnya seperti tetesan air yang mengalir dari bibir tempat air minum.Malakul
maut pun mengambil ruh yang sudah keluar dari jasadnya itu.Tiba-tiba para
malaikat rahmat yang menunggu tidak membiarkan ruh tersebut berada di tangannya
sekejap mata pun.Mereka segera mengambil dan menaruhnya di dalam kafan dan
wangi-wangian tersebut, dan keluarlah bau wangi misik yang paling harum yang
dijumpai di muka bumi.”
Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar
gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan istiqamah di atas agama yang
sempurna ketika menghadapi sakaratul maut. Ini adalah bukti kasih sayang
Allah terhadap hamba-Nya. Allah berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah
kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia
dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan
memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu)
dari Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)
Ayat-ayat ini adalah berita
dari Allah sekaligus kabar gembira bagi
orang-orang yang beriman dan bertakwa, bahwa para malaikat akan turun kepada
mereka ketika mereka menghadapi maut, juga di dalam kubur mereka, serta ketika
mereka dibangkitkan darinya. Para malaikat memberi jaminan keamanan kepada
mereka atas perintah Allah. Mereka juga memberikan kabar gembira agar
orang-orang beriman tidak takut terhadap apa yang akan mereka hadapi di
akhirat, tidak bersedih terhadap perkara dunia yang mereka tinggalkan, seperti
anak, keluarga, dan harta. Karena Allah yang akan mengurus dan menanggung
mereka semua. Para malaikat juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang
beriman dengan hilangnya berbagai kejelekan dan didapatkannya berbagai
kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir)
Dari Aisyah, Rasulullahbersabda:“Barangsiapa senang
bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa
tidak suka bertemu dengan Allah maka Allah juga tidak suka bertemu dengannya.”
Aisyah berkata: “Wahai Nabi Allah, benci terhadap kematian? Kita semua membenci
kematian.”Rasulullah menjawab: “Bukan
seperti itu. Seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat,
keridhaan, dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah, sehingga
Allah pun senang bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir apabila diberi kabar
gembira dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya maka dia akan benci bertemu dengan
Allah dan Allah pun benci bertemu dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
“Apabila seorang hamba yang
kafir akan meninggal dunia, turunlah malaikat azab dari langit.Wajah-wajahnya
hitam dan seram.Mereka membawa kain yang kasar dan jelek.Mereka duduk di tempat
sejauh mata memandang.Lalu datanglah malakul maut hingga dia duduk di samping
kepalanya. Kemudian dia berkata: ‘Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju
kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.’ Maka ruh tersebut bergetar di seluruh
tubuhnya, kemudian malakul maut mencabutnya sebagaimana dicabutnya besi alat
pemanggang dari bulu-bulu yang basah.Dia kemudian mengambil ruh tersebut.Para
malaikat yang menunggu tadi tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun,
sampai mereka mengambil dan meletakkannya di kain yang kasar lagi jelek
tadi.Keluarlah darinya bau seperti bau bangkai yang paling busuk yang ditemukan
di muka bumi.”
Allah mengutus para
malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira berupa kemurkaan dan azab-Nya,
sehingga ruh-ruh mereka enggan untuk keluar dari jasadnya.Maka para malaikat
pun memukul wajah dan punggungnya, sampai ruhnya keluar dari jasadnya. Allah l
berfirman,“Alangkah dahsyatnya sekiranya
kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan
sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil
berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat
menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya.” (Al-An’am: 93)
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang
kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu
siksa neraka yang membakar’, (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak
menganiaya hamba-Nya.” (Al-Anfal: 50-51)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan
Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda:“Tidaklah menimpa seorang muslim suatu
rasa capek, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, duka cita, sampaipun sebuah duri
yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (Muttafaqun
‘alaih)
Dari Anas bin Malik z, dia
berkata: Rasulullah n bersabda:“Apabila Allah menguji seorang hamba yang muslim dengan suatu
ujian pada badannya, Allah berfirman:
‘Tulislah baginya amalan shalih yang biasa dia lakukan.’ Apabila Allah
menyembuhkannya maka Dia telah mencuci dan membersihkannya (dari dosanya).Namun
apabila Allah mencabut ruhnya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan
merahmatinya.” (HR. Ahmad].[Proses Keluarnya Jasad dari Ruhwww.asysyari’ahWednesday,
13 April 2011 10:01].
Begitu mengerikannya
perjalanan hidup manusia sejak dari proses di alam kandungan, dikala kelahiran
menanti hingga hidup di dunia sampai ajal menjelang tidak lepas dari ujian demi
ujian yang menempa hidupnya, sakaratul maut bukanlah akhir dari perjalanan itu
tapi merupakan sebuah terminal yang menentukan perjalanan berikutnya, dikala
lahir semua orang tertawa karena senang menantikan hadirnya generasi baru
padahal yang lahir menangis karena beratnya beban hidup yang akan dilaluinya
kelak, seharusnya disaat sakaratul maut, biarlah orang menangis melepas
kepergian kita tapi kita yang pergi bisa tertawa meninggalkan dunia ini karena
mendapat rahmat dari Allah, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 17 Desember 2011.M/ 21
Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar