Kamis, 18 Februari 2016

242. Su'uzhan



Sifat manusia ada yang positif dan ada yang negative, tergantung pemeliharaan pelakunya, orang yang ingin hidupnya baik, dicintai ummat maka berupaya agar sifat negative relative tidak ada dan sebaliknya, dengan sifat positif hidup manusia akan damai, bahkan islam telah mengajarkan kepada ummatnya agar memiliki sifat positif itu melalui akhlakul karimah yaitu akhlak terpuji, salah satu sifat negative manusia adalah su’uzhan yaitu berburuk sangka, Allah melalui firman-Nya mengingatkan hamba-Nya agar menghindari akhlak yang buruk ini, dalam surat Al Hujurat 49;12 dinyatakan;
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Tiga akhlak tercela yang dilarang Allah pada ayat diatas yaitu buruk sangka, mencari kecalahan orang lain dan menggunjing, bila hal ini ada pada siapa saja maka keberadaannya dimanapun tidak disukai orang karena menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya selain itu juga akan menghapuskan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya, jalan keluarnya  adalah jadi hamba yang bertaqwa, orang yang bertaqwa tidak ada waktunya untuk mengurus buruk orang lain, dia senantiasa melinik kekurangannya sebagai jalan muhasabah, seorang akhwat benama Siti Zuhrotun Nisa'menulis di dakwatuna.com, tentang prasangka,  setelah difahami ternyata buruk sangka itu merupakan lintasan fikiran tiba-tiba sebelum ditelaah lebih jauh apa sebenarnya yang terjadi secara obyektif, dengan indahnya akhwat ini menuliskan;
Adakah peristiwa yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun lalu dan masih senantiasa membekas di benak Anda?Bisa ya bisa pula tidak. Bagi saya, ada suatu kisah yang masih membekas karena hikmahnya ternyata belum begitu lama mampu benar-benar saya pahami…

Alkisah, saya sedang menonton pawai tujuh belasan waktu itu. Lokasinya di dekat perlintasan kereta api, sebuah pertigaan, yang salah satu arahnya adalah arah menuju RSUD Wates. Penonton yang berjubel otomatis menutup jalan utama yang menuju rumah sakit tersebut.Di tengah ramainya suasana, sebuah mini van berusaha menyeruak kerumunan. Karuan saja pak polisi bertindak dan terjadilah suatu dialog dengan sang pengemudi mobil. Karena posisi saya cukup jauh untuk mendengarkan, jadilah saya hanya menilai alangkah ngaconya mobil yang hendak meminta jalan tersebut.Namun sejurus kemudian saya juga terkejut melihat seorang wanita yang duduk di sebelah pengemudi mobil itu.Di tangannya tampak seorang anak yang rapat terbalut kain dan direngkuh dengan gemetaran sepertinya. Ketika lebih jelas saya amati pun, raut kedua orang tersebut tampak cemas dan terburu-buru. Tak berapa lama, mobil tersebut dibiarkan lewat dan meluncur cepat ke arah rumah sakit.

Jika Anda menjadi saya, samakah yang kita pikirkan?!Awalnya saya juga kesal melihat mobil tersebut yang mengganggu kemeriahan pawai, tapi tak butuh berapa lama saya sadar saya keliru.Tentulah ada alasan ‘besar’ mengapa mobil tersebut memberanikan diri menembus kerumunan, dan ternyata — sepenangkapan saya — ada anak yang sedang sakit di dalamnya.Masih kesalkah saya kemudian?!Tidak ternyata, saya mengerti, orang tersebut punya alasan, dan alasannya penting :)

Bertahun-tahun kemudian saya baru benar-benar bisa memahami hikmah endapan ingatan tersebut, tak lain adalah tentang prasangka. Mudah ya untuk merasa kesal dan marah pada mobil tersebut, dan bisa jadi saya juga tidak tertarik mengapa mobil itu berusaha menyeruak kerumunan, pokoknya ngeselin, titik. ;D Tapi, ketika saya sedikit menajamkan mata dan mengamati, oh..ternyata ada anak yang sakit di dalamnya. Oh..kasihan ya kalau nggak boleh lewat. Oh..kelihatannya sang bapak dan sang ibu itu begitu cemas. Dan akhirnya, tak apalah minggir sejenak…

Prasangka, sebagian besarnya adalah menggiring pada dosa. Bisa dipahami dari peristiwa di atas, yaitu akan lebih mudah mengira tentang keburukan daripada kebaikan, hehehe. Tapi ketika kita mampu ‘memaksa’ pemikiran kita untuk lebih terbuka dan mengamati — tidak hanya sekedar melihat — maka akan lahir pemahaman baru yang bisa jadi berbeda. Pemahaman yang bernama p e n g e r t i a n.

Buat saya, berprasangka itu melelahkan, itu yang jelas.Karena seperti jabaran hukum tarik menarik dalam buku The Secret. Pemikiran akan menarik hal-hal lain yang senada dengannya. Dengan demikian, pemikiran negatif a.k.a prasangka itu akan menarik lebih banyak lagi hal negatif lainnya. Sebagaimana sebaliknya, setiap pemikiran positif juga akan menghadirkan lagi lebih banyak hal positif dalam diri kita. Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan berkumpul dengan orang-orang baik dan insya Allah kita akan tertular menjadi orang yang baik. Sederhana saja kan, insya Allah.

Daripada melelahkan diri dengan berkesal-kesal dengan orang lain, pindah arah pandangan yuuk… insya Allah ada alasan di balik setiap tindakan. Dengan membiasakan diri berpikir demikian, insya Allah pikiran juga akan lebih tenang, dan pada kelanjutannya kita akan bisa merasa lebih nyaman dengan segalanya. Insya Allah juga, segala persoalan akan teratasi jika diawali dengan pemikiran yang tenang dan nyaman. [Siti Zuhrotun Nisa', dakwatuna.com,Menjaga Prasangka, 26/1/2011 | 20 Shafar 1432 H].

Seorang teman menceritakan kisahnya, dia mempunyai beberapa ekor ayam yang dipelihara pada sebuah kandang, ayam tersebut jarang dilepas di alam bebas karena banyaknya musuh yang siap menyergap, ada dua musuh yang selalu diwaspadai, musuh pertama adalah tetangga yang jahil, biasanya apa saja yang hilang dari pekarangannya dapat dipastikan sang tetangga yang memindahkan barang-barang itu termasuk beberapa kasus hilangnya ayam dan telurnyapun karena diambil sang tetangga, musuh kedua adalah biawak, karena lokasi rumah yang masih ada hutan dan peladangan yang agak rimbun, banyak biawak bersarang di sekitar itu, saat-saat sepi sang biawak di siang hari bolong masuk ke kandang ayam, melumat semua telur yang ada di kandang itu, beberapa kali kejadian sudah dialami.

Karena sang teman yakin bahwa kandangnya tertutup rapat, tidak ada peluang bagi binatang seperti biawak untuk masuk, teman tadi mengupayakan agar telur-telur ayamnya bisa aman untuk dieramkan maka telur itu tidak  diambil. Harapannya pada masanya telur itu akan menetas dalam eraman sang induk, akan menambah jumlah ayam piaraan, satu ketika dia terkejut karena telur-telur itu hilang tanpa ada bekas yang tinggal, tidak ada tanda-tanda kalau biawak yang memakannya, lansung sang teman menyampaikan hal itu kepada sang isteri kalau  telur ayam sudah hilang, dapat dipastikan kalau telur itu diambil tetangga, lalu dijual ke pasar terdekat, prasangka itu terjadi karena memang sang tetangga dua tiga kali kepergok membawa barang curiannya ke pasar.

Seminggu kemudian sang ayam bertelur lagi, belum genap lima butir telur itu di kandang, terdengar pada siang hari ayam rebut-ribut bertanda ada bahaya yang mengancamnya, ketika diintip, nampak jelas sang biawak sedang beraksi, lansung teman tadi menyadari bahwa yang mencuri telur kemaren bukanlah tetangganya tapi biawak itu, sambil memelas dia menyatakan, karena ulah biawak, saya sudah berburuk sangka kepada tetangga, astaghfirullahal azhim.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam, lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil membentak,dan terjadilah dialoq;

-Khalifah : Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan menutupi kesalahan ini ?
- Lelaki  : Tuan sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.
- Khalifah  :  Kesalahan apa yang saya perbuat ?
- Lelaki  : Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain, padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan rumah.

Lahirnya prasangka dalam hati seorang hamba Allah sebenarnya memperlihatkan kelemahan hamba itu sendiri. Karena racun prasangka bisa merusak nalar seseorang sehingga tidak mampu berpikir objektif, apa adanya. Hati dan pikirannya selalu dibayang-bayangi curiga.

Ada beberapa hal yang menjadikan seseorang terjebak dalam kubangan prasangka.Pertama, lemahnya pendekatan diri kepada Allah. Jauhdekatnya seorang hamba Allah sangat berpengaruh pada kesuburan dan kesegaran hati sang hamba. Kesegaran itu kian menguatkan hamba Allah dalam mawas diri.Ia akan mencermati benalu-benalu hati yang mungkin tumbuh. Dan mencabutnya dengan penuh teliti.

Sebaliknya, jika menjauh dari Allah, hati hamba itu akan ditumbuhi karat. Dan bayang-bayang cermin hatinya pun menjadi keruh.Hati seperti ini tak lagi mampu memantulkan cahaya Allah yang telah bersinar ke seluruh alam.Sebaliknya, pantulan hati ini begitu redup.Suram.Bahkan, menakutkan.

Maha Suci Allah Yang telah mengajarkan hamba-hambaNya tentang penjagaan hati.“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadiid: 16)

Kedua, pengalaman masa lalu.Pengalaman masa lalu kadang punya bekas yang begitu kuat.Ia bisa lahir dari rutinitas kehidupan masa kecil. Anak yang dibiasakan hidup tertutup akan cenderung tumbuh sebagai manusia dewasa yang egois. Dan anak yang dibiasakan hidup di bawah tekanan akan tumbuh sebagai manusia dewasa yang mudah putus asa. Begitu pun dengan prasangka. Anak yang hidup dalam bayang-bayang ketidakpercayaan orang tua akan tumbuh menjadi manusia curiga dan penuh prasangka.

Sedemikian kuatnya pengaruh orangtua, Rasulullah saw pernah mengatakan, “Tiap bayi lahir dalam keadaan suci. Orangtuanyalah yang akan membentuk sang bayi, apakah menjadi yahudi, nasrani, atau majusi.”
Adakalanya, pengalaman besar yang tidak mengenakkan mampu melahirkan prasangka permanen. Seorang calon pegawai yang pernah ditipu jutaan rupiah akan menyisakan prasangka berkelanjutan. Atau, seseorang yang merasa dibodohi oleh pemimpin politiknya, akan menebar prasangka pada partai politik mana pun. Begitulah seterusnya.

Ketiga, pengaruh lingkungan.Lingkungan kerap menjadi guru kedua setelah sekolah.Tak jarang, terjadi tarik-menarik pada diri seseorang murid antara pengaruh pendidikan sekolah dengan perilaku lingkungan.Lingkungan membentuk seseorang menjadi sosok baru yang identik dengan lingkungannya.

Sering terjadi, sebuah lingkungan yang teramat jarang melakukan tegur sapa antara sesama anggota warganya, akan penuh curiga mencermati orang ramah nan penuh sapa. Sapaan ramah itu justru dibalas dengan curiga.“Jangan-jangan orang ini punya niat busuk,” begitu kira-kira reaksi masyarakat sekitar.

Semua itu, mungkin berawal dari pola pandang yang salah dengan dunia sekitar.Semua orang berperilaku buruk, kecuali telah terbukti menghasilkan kebaikan. Dan kesalahan ini akan sangat berakibat fatal jika diberlakukan kepada Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penentu takdir. “dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah…” (Al-Fat-h: 6)

Prasangka terhadap Allah tidak tertutup kemungkinan terjadi pada seorang mukmin.Sebuah keputusan yang begitu bijaksana dari Yang Maha Bijaksana bisa disalahartikan.Kebodohan manusia kerap membuahkan prasangka kepada Yang Maha Bijaksana. Begitulah yang pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Kenyataannya, ada sebagian mukmin yang enggan berperang.Mereka menilai bahwa keputusan itu kurang tepat.Karena perang identik dengan kekerasan.Surah Al-Anfal ayat 5 menggambar hal itu, “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, dan sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya.”

Sungguh, kebodohan manusia kerap menjebak manusia pada prasangka, kepada sesama mukmin atau kepada Allah.Kebodohan seperti itu tak ubahnya seperti anak kecil yang buruk sangka pada obat.Karena si anak kecil hanya tahu kalau obat itu pahit.

Seorang mukmin sejati tak akan pernah lelah merawat hati. Ia senantiasa menyiram tanaman hati itu dengan air ruhani yang bermineral tinggi, menebar pupuk amal yang tak pernah henti. Dan, juga mencabut segala benalu prasangka dan dengki.[Muhammad Nuh, Kenapa Mesti Ada Prasangka,dakwatuna.com 19/5/2008 | 14 Jumadil Awal 1429 H].

Selayaknya kita meninggalkan sifat-sifat yang buruk, namanya saja sudah buruk tentu tidak disukai oleh siapapun, wajah yang buruk masih dapat dipolesi dengan dandanan yang menarik sehingga tetap disenangi, selain itu Allah tidak memandang wajah dan bentuk fisik seorang karena hal ini merupakan ketentuan Allah, tapi Allah memandang hati dan amal-amal hamba-Nya, tapi sifat yang buruk harus kita tinggalkan termasuk berburuk sangka kepada orang lain karena Allah tidak menyukai dengan sifat buruk yang kita miliki selain itu sifat dan akhlak buruk bisa dirubah kalau kita mau merubahnya, orang yang bagus saja fisiknya tidak baik berakhlak buruk apalagi kita sudah buruk berakhlak buruk pula, cermin apalagi yang harus kita ambil, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19 Desember 2011.M/ 23 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar