Sifat manusia ada yang positif dan ada yang negative,
tergantung pemeliharaan pelakunya, orang yang ingin hidupnya baik, dicintai
ummat maka berupaya agar sifat negative relative tidak ada dan sebaliknya,
dengan sifat positif hidup manusia akan damai, bahkan islam telah mengajarkan
kepada ummatnya agar memiliki sifat positif itu melalui akhlakul karimah yaitu
akhlak terpuji, salah satu sifat negative manusia adalah su’uzhan yaitu
berburuk sangka, Allah melalui firman-Nya mengingatkan hamba-Nya agar
menghindari akhlak yang buruk ini, dalam surat Al Hujurat 49;12 dinyatakan;
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa.dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya.dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang”.
Tiga akhlak tercela yang dilarang Allah pada
ayat diatas yaitu buruk sangka, mencari kecalahan orang lain dan menggunjing,
bila hal ini ada pada siapa saja maka keberadaannya dimanapun tidak disukai
orang karena menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya selain
itu juga akan menghapuskan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya, jalan
keluarnya adalah jadi hamba yang
bertaqwa, orang yang bertaqwa tidak ada waktunya untuk mengurus buruk orang
lain, dia senantiasa melinik kekurangannya sebagai jalan muhasabah, seorang
akhwat benama Siti Zuhrotun Nisa'menulis di dakwatuna.com, tentang prasangka, setelah difahami ternyata buruk sangka itu
merupakan lintasan fikiran tiba-tiba sebelum ditelaah lebih jauh apa sebenarnya
yang terjadi secara obyektif, dengan indahnya akhwat ini menuliskan;
Adakah peristiwa yang
berlangsung lebih dari sepuluh tahun lalu dan masih senantiasa membekas di
benak Anda?Bisa ya bisa pula tidak. Bagi saya, ada suatu kisah yang masih
membekas karena hikmahnya ternyata belum begitu lama mampu benar-benar saya
pahami…
Alkisah, saya sedang menonton
pawai tujuh belasan waktu itu. Lokasinya di dekat perlintasan kereta api,
sebuah pertigaan, yang salah satu arahnya adalah arah menuju RSUD Wates.
Penonton yang berjubel otomatis menutup jalan utama yang menuju rumah sakit
tersebut.Di tengah ramainya suasana, sebuah mini van berusaha menyeruak
kerumunan. Karuan saja pak polisi bertindak dan terjadilah suatu dialog dengan
sang pengemudi mobil. Karena posisi saya cukup jauh untuk mendengarkan, jadilah
saya hanya menilai alangkah ngaconya mobil yang hendak
meminta jalan tersebut.Namun sejurus kemudian saya juga terkejut melihat
seorang wanita yang duduk di sebelah pengemudi mobil itu.Di tangannya tampak
seorang anak yang rapat terbalut kain dan direngkuh dengan gemetaran
sepertinya. Ketika lebih jelas saya amati pun, raut kedua orang tersebut tampak
cemas dan terburu-buru. Tak berapa lama, mobil tersebut dibiarkan lewat dan
meluncur cepat ke arah rumah sakit.
Jika Anda menjadi saya,
samakah yang kita pikirkan?!Awalnya saya juga kesal melihat mobil tersebut yang
mengganggu kemeriahan pawai, tapi tak butuh berapa lama saya sadar saya
keliru.Tentulah ada alasan ‘besar’ mengapa mobil tersebut memberanikan diri
menembus kerumunan, dan ternyata — sepenangkapan saya — ada anak yang sedang
sakit di dalamnya.Masih kesalkah saya kemudian?!Tidak ternyata, saya mengerti,
orang tersebut punya alasan, dan alasannya penting :)
Bertahun-tahun kemudian saya
baru benar-benar bisa memahami hikmah endapan ingatan tersebut, tak lain adalah
tentang prasangka. Mudah ya untuk merasa kesal dan marah pada mobil tersebut,
dan bisa jadi saya juga tidak tertarik mengapa mobil itu berusaha menyeruak
kerumunan, pokoknya ngeselin, titik. ;D Tapi,
ketika saya sedikit menajamkan mata dan mengamati, oh..ternyata ada anak yang
sakit di dalamnya. Oh..kasihan ya kalau nggak boleh
lewat. Oh..kelihatannya sang bapak dan sang ibu itu begitu cemas. Dan akhirnya,
tak apalah minggir sejenak…
Prasangka, sebagian besarnya
adalah menggiring pada dosa. Bisa dipahami dari peristiwa di atas, yaitu akan lebih
mudah mengira tentang keburukan daripada kebaikan, hehehe. Tapi ketika kita
mampu ‘memaksa’ pemikiran kita untuk lebih terbuka dan mengamati — tidak hanya
sekedar melihat — maka akan lahir pemahaman baru yang bisa jadi berbeda.
Pemahaman yang bernama p e n g e r t i a n.
Buat saya, berprasangka itu
melelahkan, itu yang jelas.Karena seperti jabaran hukum tarik menarik dalam
buku The Secret. Pemikiran akan menarik hal-hal lain yang
senada dengannya. Dengan demikian, pemikiran negatif a.k.a prasangka itu akan
menarik lebih banyak lagi hal negatif lainnya. Sebagaimana sebaliknya, setiap
pemikiran positif juga akan menghadirkan lagi lebih banyak hal positif dalam
diri kita. Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita
semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan
berkumpul dengan orang-orang baik dan insya Allah kita akan tertular menjadi
orang yang baik. Sederhana saja kan, insya Allah.
Daripada melelahkan diri
dengan berkesal-kesal dengan orang lain, pindah arah pandangan yuuk… insya
Allah ada alasan di balik setiap tindakan. Dengan membiasakan diri berpikir
demikian, insya Allah pikiran juga akan lebih tenang, dan pada kelanjutannya
kita akan bisa merasa lebih nyaman dengan segalanya. Insya Allah juga, segala persoalan
akan teratasi jika diawali dengan pemikiran yang tenang dan nyaman. [Siti Zuhrotun
Nisa', dakwatuna.com,Menjaga Prasangka, 26/1/2011 | 20
Shafar 1432 H].
Seorang teman menceritakan
kisahnya, dia mempunyai beberapa ekor ayam yang dipelihara pada sebuah kandang,
ayam tersebut jarang dilepas di alam bebas karena banyaknya musuh yang siap
menyergap, ada dua musuh yang selalu diwaspadai, musuh pertama adalah tetangga
yang jahil, biasanya apa saja yang hilang dari pekarangannya dapat dipastikan
sang tetangga yang memindahkan barang-barang itu termasuk beberapa kasus
hilangnya ayam dan telurnyapun karena diambil sang tetangga, musuh kedua adalah
biawak, karena lokasi rumah yang masih ada hutan dan peladangan yang agak
rimbun, banyak biawak bersarang di sekitar itu, saat-saat sepi sang biawak di
siang hari bolong masuk ke kandang ayam, melumat semua telur yang ada di
kandang itu, beberapa kali kejadian sudah dialami.
Karena sang teman yakin bahwa
kandangnya tertutup rapat, tidak ada peluang bagi binatang seperti biawak untuk
masuk, teman tadi mengupayakan agar telur-telur ayamnya bisa aman untuk
dieramkan maka telur itu tidak diambil.
Harapannya pada masanya telur itu akan menetas dalam eraman sang induk, akan
menambah jumlah ayam piaraan, satu ketika dia terkejut karena telur-telur itu
hilang tanpa ada bekas yang tinggal, tidak ada tanda-tanda kalau biawak yang
memakannya, lansung sang teman menyampaikan hal itu kepada sang isteri kalau telur ayam sudah hilang, dapat dipastikan
kalau telur itu diambil tetangga, lalu dijual ke pasar terdekat, prasangka itu
terjadi karena memang sang tetangga dua tiga kali kepergok membawa barang
curiannya ke pasar.
Seminggu kemudian sang ayam
bertelur lagi, belum genap lima butir telur itu di kandang, terdengar pada
siang hari ayam rebut-ribut bertanda ada bahaya yang mengancamnya, ketika
diintip, nampak jelas sang biawak sedang beraksi, lansung teman tadi menyadari
bahwa yang mencuri telur kemaren bukanlah tetangganya tapi biawak itu, sambil
memelas dia menyatakan, karena ulah biawak, saya sudah berburuk sangka kepada
tetangga, astaghfirullahal azhim.
Sebuah
riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam,
lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman
khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil
membentak,dan terjadilah dialoq;
-Khalifah : Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan
menutupi kesalahan ini ?
- Lelaki : Tuan
sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.
- Khalifah : Kesalahan apa yang saya perbuat ?
- Lelaki :
Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan
tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain,
padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat
dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan
rumah.
Lahirnya prasangka dalam hati
seorang hamba Allah sebenarnya memperlihatkan kelemahan hamba itu sendiri.
Karena racun prasangka bisa merusak nalar seseorang sehingga tidak mampu
berpikir objektif, apa adanya. Hati dan pikirannya selalu dibayang-bayangi
curiga.
Ada beberapa hal yang
menjadikan seseorang terjebak dalam kubangan prasangka.Pertama, lemahnya
pendekatan diri kepada Allah. Jauhdekatnya seorang hamba Allah sangat
berpengaruh pada kesuburan dan kesegaran hati sang hamba. Kesegaran itu kian
menguatkan hamba Allah dalam mawas diri.Ia akan mencermati benalu-benalu hati
yang mungkin tumbuh. Dan mencabutnya dengan penuh teliti.
Sebaliknya, jika menjauh dari
Allah, hati hamba itu akan ditumbuhi karat. Dan bayang-bayang cermin hatinya
pun menjadi keruh.Hati seperti ini tak lagi mampu memantulkan cahaya Allah yang
telah bersinar ke seluruh alam.Sebaliknya, pantulan hati ini begitu
redup.Suram.Bahkan, menakutkan.
Maha Suci Allah Yang telah
mengajarkan hamba-hambaNya tentang penjagaan hati.“Belumkah datang waktunya
bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan supaya mereka jangan
seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras.Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Al-Hadiid: 16)
Kedua, pengalaman masa
lalu.Pengalaman masa lalu kadang punya bekas yang begitu kuat.Ia bisa lahir
dari rutinitas kehidupan masa kecil. Anak yang dibiasakan hidup tertutup akan cenderung
tumbuh sebagai manusia dewasa yang egois. Dan anak yang dibiasakan hidup di
bawah tekanan akan tumbuh sebagai manusia dewasa yang mudah putus asa. Begitu
pun dengan prasangka. Anak yang hidup dalam bayang-bayang ketidakpercayaan
orang tua akan tumbuh menjadi manusia curiga dan penuh prasangka.
Sedemikian kuatnya pengaruh
orangtua, Rasulullah saw pernah mengatakan, “Tiap bayi lahir dalam keadaan
suci. Orangtuanyalah yang akan membentuk sang bayi, apakah menjadi yahudi,
nasrani, atau majusi.”
Adakalanya, pengalaman besar
yang tidak mengenakkan mampu melahirkan prasangka permanen. Seorang calon
pegawai yang pernah ditipu jutaan rupiah akan menyisakan prasangka
berkelanjutan. Atau, seseorang yang merasa dibodohi oleh pemimpin politiknya,
akan menebar prasangka pada partai politik mana pun. Begitulah seterusnya.
Ketiga, pengaruh
lingkungan.Lingkungan kerap menjadi guru kedua setelah sekolah.Tak jarang,
terjadi tarik-menarik pada diri seseorang murid antara pengaruh pendidikan
sekolah dengan perilaku lingkungan.Lingkungan membentuk seseorang menjadi sosok
baru yang identik dengan lingkungannya.
Sering terjadi, sebuah
lingkungan yang teramat jarang melakukan tegur sapa antara sesama anggota
warganya, akan penuh curiga mencermati orang ramah nan penuh sapa. Sapaan ramah
itu justru dibalas dengan curiga.“Jangan-jangan orang ini punya niat busuk,”
begitu kira-kira reaksi masyarakat sekitar.
Semua itu, mungkin berawal
dari pola pandang yang salah dengan dunia sekitar.Semua orang berperilaku
buruk, kecuali telah terbukti menghasilkan kebaikan. Dan kesalahan ini akan
sangat berakibat fatal jika diberlakukan kepada Yang Maha Pencipta, Pemberi
rezeki, dan Penentu takdir. “dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik
laki-laki dan perempuan dan orang musyrik laki-laki dan perempuan yang
berprasangka buruk terhadap Allah…” (Al-Fat-h: 6)
Prasangka terhadap Allah tidak
tertutup kemungkinan terjadi pada seorang mukmin.Sebuah keputusan yang begitu
bijaksana dari Yang Maha Bijaksana bisa disalahartikan.Kebodohan manusia kerap
membuahkan prasangka kepada Yang Maha Bijaksana. Begitulah yang pernah terjadi
di masa Rasulullah saw. Kenyataannya, ada sebagian mukmin yang enggan
berperang.Mereka menilai bahwa keputusan itu kurang tepat.Karena perang identik
dengan kekerasan.Surah Al-Anfal ayat 5 menggambar hal itu, “Sebagaimana Tuhanmu
menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, dan sesungguhnya sebagian dari
orang-orang yang beriman tidak menyukainya.”
Sungguh, kebodohan manusia
kerap menjebak manusia pada prasangka, kepada sesama mukmin atau kepada
Allah.Kebodohan seperti itu tak ubahnya seperti anak kecil yang buruk sangka
pada obat.Karena si anak kecil hanya tahu kalau obat itu pahit.
Seorang mukmin sejati tak akan
pernah lelah merawat hati. Ia senantiasa menyiram tanaman hati itu dengan air
ruhani yang bermineral tinggi, menebar pupuk amal yang tak pernah henti. Dan,
juga mencabut segala benalu prasangka dan dengki.[Muhammad Nuh, Kenapa Mesti Ada Prasangka,dakwatuna.com
19/5/2008 | 14 Jumadil Awal 1429 H].
Selayaknya kita meninggalkan sifat-sifat yang buruk,
namanya saja sudah buruk tentu tidak disukai oleh siapapun, wajah yang buruk
masih dapat dipolesi dengan dandanan yang menarik sehingga tetap disenangi,
selain itu Allah tidak memandang wajah dan bentuk fisik seorang karena hal ini
merupakan ketentuan Allah, tapi Allah memandang hati dan amal-amal hamba-Nya,
tapi sifat yang buruk harus kita tinggalkan termasuk berburuk sangka kepada
orang lain karena Allah tidak menyukai dengan sifat buruk yang kita miliki
selain itu sifat dan akhlak buruk bisa dirubah kalau kita mau merubahnya, orang
yang bagus saja fisiknya tidak baik berakhlak buruk apalagi kita sudah buruk
berakhlak buruk pula, cermin apalagi yang harus kita ambil, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 19
Desember 2011.M/ 23 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar