Dimanapun manusia berada menginjakkan
kakinya di dunia ini, kelak dia akan diminta pertanggungjawabannya atas hidup
yang sudah dilaluinya, segala sepak terjangnya akan ditanyakan apa saja yang
dilakukan, segala dana yang ditimbulkan dari kehidupan yang dijalaninya juga
diminta tanggungjawabnya, hadirnya manusia di dunia ini sebenarnya sudah ada
perjanjian yang diikat dengan Allah melalui ikatan aqidah, manusia siap untuk
mengabdi hanya kepada Allah saja.
“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" [Al A’raf
7;172].
Keberadaan
manusia di dunia sesungguhnya adalah dalam rangka merealisasikan sebuah janji
yang pernah diikat dengan Allah ketika berada di alam ruh itu.Ketika itu
manusia berjanji siap untuk menjadi hamba, menyembah Allah semata. Pengabdian
juga merupakan tujuan penciptaan makhluk yang bernama manusia sebagaimana
firman Allah dalam surat Adz Dzariat 51;56, ”Tidak
Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Syaikhul
islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ibadah [penghambaan] adalah sebuah kata
yang menyeluruh, meliputi apa saja yang dicintai dan diridhai Allah. ia
menyangkut seluruh seperti shalat, zakat, puasa, haji, berkata-kata yang benar
dan menunaikan amanah. Banyak sebenarnya peluang ibadah yang dapat dilakukan
oleh manusia, semua pengabdian itu tidaklah sia-sia, dia akan menerima ganjaran
pahala dari Allah bahkan ganjaran itu lebih besar dari apa yang dilakukan
artinya pengabdian manusia di dunia ini dengan mengerahkan segala daya dan
upaya sehingga tidak ada lagi yang tersisa, maka kelak balasannya jauh lebih
besar dari itu, dapatkan kita membandingkan pengorbanan kita dengan syurga-Nya.
Kewajiban
manusia adalah di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan
menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di
dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan
keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah
amal yang baik (saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).
Amal
buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus
meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa
melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam
perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering
melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya.
Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia
ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik
dilakukan, semakin longgar baju besi itu.
Apa
maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan
kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari
amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan
hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk
melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu
sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di
manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Fajar Kurnianto,
Perumpamaan Amal,Republika.co.id.Saturday, 26 March 2011 13:01 WIB].
Kita
hanya mampu mengumpulkan pahala sesuai dengan kadar iman dan amal shaleh yang
kita kumpulkan, sedangkan nilainya diserahkan kepada Allah, ada amal yang
berkualitas sehingga pahalanya besar, tapi ada juga amal yang besar tapi
pahalanya kecil karena salah dalam prosedur, kita beramal shaleh tidak bisa
melebihi kemampuan kita, karena keterbatasan kita dari segi ilmu, kekuatan dan
usia yang tersedia.
Syaqiq al-Balkhai. Ia bertutur, ”Engkau harus benar-benar
memperhatikan lima perkara: (1) Beribadahlah kepada Allah SWT sesuai dengan
kadar kebutuhanmu kepada-Nya (yakni kebutuhan akan kebaikan dan karunia-Nya);
(2) Carilah (kekayaan) dunia sesuai dengan kadar usiamu di dalamnya (yakni
sebatas bekal hidup kita di dunia yang singkat ini); (3) Berbuatlah
dosa/maksiat kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kesanggupanmu memikul
azab-Nya (yang tentu tak ada seorang pun yang sanggup memikulnya karena
sesungguhnya azab Allah SWT sangatlah pedih); (4) Siapkanlah bekal di
dunia sesuai dengan kadar kebutuhanmu untuk kehidupan di akhirat; (5) Beramal
shalihlah sesuai dengan kadar keinginanmu untuk menempati maqam (tingkat) mana
di surga yang engkau kehendaki (karena maqam setiap orang di surga bergantung
pada seberapa banyak dan seberapa berkualitas amal-amal shalihnya) (An-Nawawi,
Nasha’ih al-’Ibad).
Pernyataan al-Balkhai di atas mengajari kita untuk
menyadari:
Pertama,
kebutuhan kita akan karunia dan kebaikan Allah SWT sangatlah besar, baik di
dunia maupun di akhirat. Karena itu, kesungguhan kita dalam beribadah
kepada-Nya haruslah berbanding lurus dengan kebutuhan tersebut. Dalam Alquran
Allah SWT sendiri berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman,
maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan
kalian dari azab yang amat pedih? Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kalian (QS
ash-Shaff [61]:10-11).
Ayat ini tegas menyatakan bahwa keselamatan dari azab yang
amat pedih harus ‘dibayar’ dengan iman dan jihad dengan harta dan jiwa di jalan
Allah SWT.
Kedua, Islam
tidak melarang seorang Muslim untuk meraih kekayaan dunia. Hanya saja, dengan
usia manusia yang amat singkat, sebanyak apapun kekayaan yang didapat sejatinya
yang bisa dinikmati hanya sedikit saja. Karena itu, alangkah baiknya jika
sebagian besar kekayaan itu diinfakkan untuk kepentingan akhirat.
Ketiga, azab
Allah SWT sesungguhnya amat pedih (Lihat, misalnya, QS an-Nisa’ [4]: 56).
Karena itu, sekecil apa pun dosa/maksiat yang pasti mengundang azab Allah SWT
itu, sudah seharusnya dihindari.
Keempat,
kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi. Karena itu, setiap Muslim
harus menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan di sana. Bekal terbaik itu tak
lain adalah takwa (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 197).
Kelima, Rasul
bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan yang telah Allah
sediakan bagi para mujahidin fi sabilillah… Jika kalian memohon kepada Allah,
mohonlah surga Firdaus yang tinggi karena ia surga paling atas dan di atasnya
terdapat Arsy ar-Rahman…”(HR al-Bukhari).
Melalui hadits ini sesungguhnya Rasul SAW mengajari kita
agar beramal shalih sebanyak dan sebaik mungkin.Dengan itulah surga Firdaus
dapat diraih.[arief b. iskandarBeramal
Sesuai Harapan dan Kesanggupan, Media Ummat; Sunday, 18 July 2010 17:0].
Allah
memberikan pahala kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh dengan
pahala yang lebih besar dari usahanya, bahkan start sebagai muslim saja sudah
mendapat ganjaran dari Allah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah;"Jika
seseorang telah masuk islam dan melaksanakannya dengan konsekuen, maka Allah
akan (memerintahkan kepada malaikat untuk) menulis semua kebaikan yang pernah
dilakukannya, dihapuskan semua keburukan yang pernah dilakukannya. Kemudian
setelah itu ada qishash, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai
tujuh ratus. Sedang keburukan dengan balasan yang sama, kecuali jika Allah mengampuninya."
Berkaitan dengan hadits ini para ulama mengomentarinya yaitu;
Al-Mazari
mengatakan: "Orang kafir. Amal shalihnya
tidak mendapatkan pahala, yakni yang dikerjakannya sewaktu masih
kafir. Sebab syarat amal taqarrub (untuk
mendekatkan diri pada Allah") harus mengetahui kepada siapa amal itu
akan dipersembahkan. Sedang orang kafir tidak mengetahui hal itu.Al-Qadh
Iyadh juga mengikuti keputusan masalah tersebut.Namun An-Nawawi
menganggapnya sebagai sanggahan. Dia berkata: "Yang
benar, seperti yang dijelaskan oleh muhaqqiqun
bahkan ada yang mengatakan ijma',
adalah bahwa orang kafir yang melakukan amal shalih, seperti sedekah,
silaturahim. dan Iain-lain, kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan muslim, maka pahala semua amal itu dicatat untuknya.
Adapun dugaan bahwa hal ini menyimpang dan kaidah.samasekali tidak bisa diterima. sebab ada sementara
amal orang kafir yang diperhitungkan,
misalnya kaffaratudz-dzihar (denda
dzihar). la tidak wajib mengulanginya jika ia telah masuk Islam, sebab telah
mencukupi."
Kemudian
Al-Hafizh berkata: "Yang benar adalah bahwa pahala amal seorang muslim
tidak harus hanya dicatat ketika amal itu dilakukannya setelah ia Islam.
Sebagai anugerah dan kebaikan Allah kepadanya.pencatatan amal shalih
itu berlaku pula baginya ketika ia masih kafir. Namun artinya pencatatan
yang dimaksudkan bukan berarti menjadi kepastian diterimanya pahala
amal itu.Hadits itu hanya mengatakan dicatat, tidak mengatakan diterima.Dengan
demikian.diterimanya pahala amal itu boleh jadi hanya dikaitkan
dengan keislaman seseorang
Jadi
jika ia masuk Islam, maka amal shalih itu akan diterima.
Inilah pendapat yang kuat, Apa yang dipegangi oleh
An-Nawawi ini juga diikuti oleh Ibrahim Al-Harbi, Ibnu Bathal dan Iain-lain,
juga oleh ulama-ulama muta'akhkhirin lainnya, seperti Al-Qur-thubi dan
Ibnul-Munir. Sedang Ibnul-Mumr mengatakan: "Yang menyimpang
dari kaidah adalah, dugaan adanya pahala amal ketika masih kafir. Padahal Allah
hanya mengkaitkan pahala seseorang dengan keislamannya, yaitu pahala atas
kebaikan-kebaikannya yang menurut persepsinya adalah baik.Hal ini tidak ada
yang menentang.Demikian pula bila Allah memberikan anugerah pahala pada orang
yang baru masuk Islam tanpa amal.Juga ketika Allah memberikan pahala kepada
orang yang tidak mampu melaksanakan
amal-amal kebaikan.
Salah
satu ibadah yang tinggi nilainya adalah melaksanakan shalat fajar atau shalat
subuh ke masjid.Shalat
fajar yaitu shalat sunnah sebelum subuh-merupakan shalat sunnah yang paling
banyak pahalanya dibandingkan shalat sunnah lainnya. Rasulullah
mengistimewakannya dengan pahala yang begitu besar, "Dua rakaat fajar
[shalat sunnah sebelum subuh] lebih baik dari dunia dan isinya" [HR.
Muslim].
Dunia-seluruh
dunia- segala isinya mulai dari bentuk harta benda, harta simpanan, kedudukan,
usaha, segala yang menggiurkan dan menyenangkan, tidak akan sampai nilainya
sebesar shalat sunnah fajar dua rakaat. Ini baru keutamaan shalat sunnah fajar, dari Aisyah dikatakan
bahwa,"Tidak ada shalat sunnah yang lebih diperhatikan Rasulullah
selain shalat sunnah sebelum subuh" [HR.Bukhari].
Ibnu
Hajar Al Asqalani menjelaskan bahkan ketika melakukan perjalanan Rasulullah
tidak mengerjakan shalat sunnah, baik yang dikerjakan sebelum shalat fardhu
maupun sesudahnya, kecuali shalat sunnah subuh, beliau bersabda,"Janganlah
meninggalkan shalat sunnah subuh walaupun kalian dikejar pasukan musuh"[HR.
Abu Daud dan Ahmad].
Dapat
dipastikan bila kita beriman kepada Allah, beramal yang shaleh, menjauhi syirik
dan maksiat, tidak riya’ dan sum’ah dalam ibadah maka Allah akan memberikan
pahala dari ibadah-ibadah yang kita lakukan itu, sehingga tidak perlu kita
menghitung-hitung semua pahala kita, karena ada amal yang dikerjakan tidak
mendapat pahala, contohnya amal yang riya’ dan syirik kepada Allah.
Imam al-Ghazali
pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah orang yang jika
berbuat baik, dia berkata, “Akan diterima amal kebaikanku”.Jika berbuat maksiat,
dia berkata:”Akan diampuni dosaku.” (Ihya Ulmuddin).
Saat beribadah,
kerap kita didatangi perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau
pertanyaan, “Berapa rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga
hati bergumam, “Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku
shalat sunnah sekian kali setiap hati”.
Perasaan,
angan-angan dan pertanyaan seperti tersebut di atas bisa merusak amal
perbuatan.Bahkan bisa berakibat meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.
Sehingga, ibadahnya
bisa menjadi sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena takwa kepada
Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana
hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut
rakus.Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT
dalam al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.
Rasulullah SAW
member gambaran: “Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya
seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut
yang gunung itu nanti akan menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang
dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang
berkata : dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan
sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)
Imam al-Ghazali
mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya
adalah sangat berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung
pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.
Orang seperti
ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa
mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya
lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah
shalat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.
Ia tidak
mengetahui seberapa besar kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka,
saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran
sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi
pada akhir zaman.
Maka dalam
beribadah kita mesti memiliki pengetahuan seimbang antara kabar baik dan
ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus
menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya.Sementara orang yang
hanya berfokus pada jumlah pahala (kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak
mengetahui bahwa setiap harinya diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang
mencatat kebaikan dan keburukan.
Kita pun
terkadang terlalu ‘asyik’ melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi
dan pelajaran di baliknya. ‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa
ia telah melakukan amal baik – yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya.Pernahkan
terbesit di dalam hati kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali
al-Qur’an telah aku khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang
menipu.Memastikan diri ini cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan
melalaikan dosa.
Fenomena ini
pernah terjadi pada masa umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an:
“...Maka datanglah sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang
menghambil harta benda dunia yang rendah ini, serayaberkata: ‘Kami akan diberi
ampunan oleh Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan
tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.
Imam al-Ghazali
menjelaskan : “Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan.
Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari penghitungan
amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada
pahala yang kita sangka-sangka telah menumpuk.”[Sibuk Hitung Pahala, Malah Lupa Beribadah,Hidayatullah.comKamis,
17 Februari 2011].
Peluang untuk
mengumpulkan pahala memang hanya di dunia ini saja, tidak ada tempat lain
sehingga kelak di akherat, orang-orang kafir menyesali dirinya karena tidak
memanfaatkan dunia untuk beriman dan beramal shaleh, ada keinginan dari
orang-orang kafir nanti agar mereka dihidupkan kembali dan diberi kesempatan
untuk hadir kembali di dunia niscaya mereka akan beriman dan beramal shaleh,
tapi hal itu tidak mungkin sebab kematian dan kiamat sudah terjadi, akherat
adalah hari perhitungan amal shaleh tidak lagi mengumpulkannya, akherat adalah
tempat menimbang pahala yang akan diperhitungkan-Nya.
Kita hanya
bertugas untuk mengabdi dengan keimanan yang bersih, amal shaleh yang sahih
sebanyak-banyaknya, semua akan diberi pahala oleh Allah kalau amal itu tidak
cacat, tidak perlu kita menghitung-hitung jumlahnya, Allah menguasai segala
sesuatunya, tidak akan luput dan lalai terhadap amal shaleh manusia, tidak akan
alfa untuk memberikan pahala atas segala amal-amal itu, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Desember 2011.M/
19 Muharam 1433.H].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar