Jumat, 19 Februari 2016

255. Pahala



Dimanapun manusia berada menginjakkan kakinya di dunia ini, kelak dia akan diminta pertanggungjawabannya atas hidup yang sudah dilaluinya, segala sepak terjangnya akan ditanyakan apa saja yang dilakukan, segala dana yang ditimbulkan dari kehidupan yang dijalaninya juga diminta tanggungjawabnya, hadirnya manusia di dunia ini sebenarnya sudah ada perjanjian yang diikat dengan Allah melalui ikatan aqidah, manusia siap untuk mengabdi hanya kepada Allah saja.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" [Al A’raf 7;172].
Keberadaan manusia di dunia sesungguhnya adalah dalam rangka merealisasikan sebuah janji yang pernah diikat dengan Allah ketika berada di alam ruh itu.Ketika itu manusia berjanji siap untuk menjadi hamba, menyembah Allah semata. Pengabdian juga merupakan tujuan penciptaan makhluk yang bernama manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Adz Dzariat 51;56, ”Tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ibadah [penghambaan] adalah sebuah kata yang menyeluruh, meliputi apa saja yang dicintai dan diridhai Allah. ia menyangkut seluruh seperti shalat, zakat, puasa, haji, berkata-kata yang benar dan menunaikan amanah. Banyak sebenarnya peluang ibadah yang dapat dilakukan oleh manusia, semua pengabdian itu tidaklah sia-sia, dia akan menerima ganjaran pahala dari Allah bahkan ganjaran itu lebih besar dari apa yang dilakukan artinya pengabdian manusia di dunia ini dengan mengerahkan segala daya dan upaya sehingga tidak ada lagi yang tersisa, maka kelak balasannya jauh lebih besar dari itu, dapatkan kita membandingkan pengorbanan kita dengan syurga-Nya.
Kewajiban manusia adalah di dalam kehidupan dunia ini adalah melakukan amal baik dan menjauhi amal buruk. Amal baik akan mengarahkan manusia ke jalan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sementara amal buruk akan mengarahkan manusia ke jalan keburukan di dunia dan di akhirat. Allah berfirman, "… dan kerjakanlah amal yang baik (saleh).Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-Mu'minun [23] m: 51).
Amal buruk harus dijauhi. Dan, bagi orang yang sudah melakukan amal buruk, ia harus meninggalkannya. Rasulullah memberikan perumpamaan tentang hal ini.Bahwa melakukan amal buruk (dosa) itu seperti orang yang memakai baju besi dalam perang yang makin mengimpit, membelit kuat tubuhnya. Semakin ia sering melakukan amal buruk, maka baju besi itu akan semakin mengimpit tubuhnya. Apabila orang itu melakukan amal baik setelah melakukan amal buruk, maka ia ibarat orang yang mengendurkan impitan baju besinya. Semakin banyak amal baik dilakukan, semakin longgar baju besi itu.
Apa maknanya? Pertama, buah dari amal buruk itu adalah penderitaan, kesulitan, dan kesengsaraan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat.Kedua, buah dari amal baik itu adalah kelapangan, keluasan, kemudahan, dan kebahagiaan hidup.Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat. Karena itu, kunci untuk melepaskan diri dari penderitaan, kesulitan, ataupun kesengsaraan hidup itu sebenarnya sangat mudah: lakukanlah kebaikan, apa pun bentuknya, kapan pun, di manapun; dan jangan sekali-kali melakukan keburukan.[Fajar Kurnianto, Perumpamaan Amal,Republika.co.id.Saturday, 26 March 2011 13:01 WIB].
Kita hanya mampu mengumpulkan pahala sesuai dengan kadar iman dan amal shaleh yang kita kumpulkan, sedangkan nilainya diserahkan kepada Allah, ada amal yang berkualitas sehingga pahalanya besar, tapi ada juga amal yang besar tapi pahalanya kecil karena salah dalam prosedur, kita beramal shaleh tidak bisa melebihi kemampuan kita, karena keterbatasan kita dari segi ilmu, kekuatan dan usia yang tersedia.
Syaqiq al-Balkhai. Ia bertutur, ”Engkau harus benar-benar memperhatikan lima perkara: (1) Beribadahlah kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kebutuhanmu kepada-Nya (yakni kebutuhan akan kebaikan dan karunia-Nya); (2) Carilah (kekayaan) dunia sesuai dengan kadar usiamu di dalamnya (yakni sebatas bekal hidup kita di dunia yang singkat ini); (3) Berbuatlah dosa/maksiat kepada Allah SWT sesuai dengan kadar kesanggupanmu memikul azab-Nya (yang tentu tak ada seorang pun yang sanggup memikulnya karena sesungguhnya azab Allah SWT sangatlah pedih); (4)  Siapkanlah bekal di dunia sesuai dengan kadar kebutuhanmu untuk kehidupan di akhirat; (5) Beramal shalihlah sesuai dengan kadar keinginanmu untuk menempati maqam (tingkat) mana di surga yang engkau kehendaki (karena maqam setiap orang di surga bergantung pada seberapa banyak dan seberapa berkualitas amal-amal shalihnya) (An-Nawawi, Nasha’ih al-’Ibad).

Pernyataan al-Balkhai di atas mengajari kita untuk menyadari: 

Pertama, kebutuhan kita akan karunia dan kebaikan Allah SWT sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, kesungguhan kita dalam beribadah kepada-Nya haruslah berbanding lurus dengan kebutuhan tersebut. Dalam Alquran Allah SWT sendiri berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang amat pedih? Hendaklah kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa kalian (QS ash-Shaff [61]:10-11).
Ayat ini tegas menyatakan bahwa keselamatan dari azab yang amat pedih harus ‘dibayar’ dengan iman dan jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT.

Kedua, Islam tidak melarang seorang Muslim untuk meraih kekayaan dunia. Hanya saja, dengan usia manusia yang amat singkat, sebanyak apapun kekayaan yang didapat sejatinya yang bisa dinikmati hanya sedikit saja. Karena itu, alangkah baiknya jika sebagian besar kekayaan itu diinfakkan untuk kepentingan akhirat.

Ketiga, azab Allah SWT sesungguhnya amat pedih (Lihat, misalnya, QS an-Nisa’ [4]: 56). Karena itu, sekecil apa pun dosa/maksiat yang pasti mengundang azab Allah SWT itu, sudah seharusnya dihindari.

Keempat, kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi. Karena itu, setiap Muslim harus menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan di sana. Bekal terbaik itu tak lain adalah takwa (Lihat, misalnya, QS al-Baqarah [2]: 197).

Kelima, Rasul bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkatan yang telah Allah sediakan bagi para mujahidin fi sabilillah… Jika kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus yang tinggi karena ia surga paling atas dan di atasnya terdapat Arsy ar-Rahman…”(HR al-Bukhari).

Melalui hadits ini sesungguhnya Rasul SAW mengajari kita agar beramal shalih sebanyak dan sebaik mungkin.Dengan itulah surga Firdaus dapat diraih.[arief b. iskandarBeramal Sesuai Harapan dan Kesanggupan, Media Ummat; Sunday, 18 July 2010 17:0].

Allah memberikan pahala kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh dengan pahala yang lebih besar dari usahanya, bahkan start sebagai muslim saja sudah mendapat ganjaran dari Allah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits Rasulullah;"Jika seseorang telah masuk islam dan melaksanakannya dengan konsekuen, maka Allah akan (memerintahkan kepada malaikat untuk) menulis semua kebaikan yang pernah dilakukannya, dihapuskan semua keburukan yang pernah dilakukannya. Kemudian setelah itu ada qishash, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus. Sedang keburukan dengan balasan yang sama, kecuali jika Allah mengampuninya."

Berkaitan dengan hadits ini para ulama mengomentarinya yaitu;

Al-Mazari mengatakan: "Orang kafir. Amal shalihnya tidak mendapatkan pahala, yakni yang dikerjakannya sewaktu masih kafir. Sebab syarat amal taqarrub (untuk mendekatkan diri pada Allah") harus mengetahui kepada siapa amal itu akan dipersembahkan. Sedang orang kafir tidak mengetahui hal itu.Al-Qadh Iyadh juga mengikuti keputusan masalah tersebut.Namun An-Nawawi menganggapnya sebagai sanggahan. Dia berkata: "Yang benar, seperti yang dijelaskan oleh muhaqqiqun bahkan ada yang mengatakan ijma', adalah bahwa orang kafir yang melakukan amal shalih, seperti sedekah, silaturahim. dan Iain-lain, kemudian masuk Islam dan mati dalam keadaan muslim, maka pahala semua amal itu dicatat untuknya. Adapun dugaan bahwa hal ini menyimpang dan kaidah.samasekali tidak bisa diterima. sebab ada sementara amal orang kafir yang diperhitungkan, misalnya kaffaratudz-dzihar (denda dzihar). la tidak wajib mengulanginya jika ia telah masuk Islam, sebab telah mencukupi."

Kemudian Al-Hafizh berkata: "Yang benar adalah bahwa pahala amal seorang muslim tidak harus hanya dicatat ketika amal itu dilakukannya setelah ia Islam. Sebagai anugerah dan kebaikan Allah kepadanya.pencatatan amal shalih itu berlaku pula baginya ketika ia masih kafir. Namun artinya pencatatan yang dimaksudkan bukan berarti menjadi kepastian diterimanya pahala amal itu.Hadits itu hanya mengatakan dicatat, tidak mengatakan diterima.Dengan demikian.diterimanya pahala amal itu boleh jadi hanya dikaitkan dengan keislaman seseorang

Jadi jika ia masuk Islam, maka amal shalih itu akan diterima. Inilah pendapat yang kuat, Apa yang dipegangi oleh An-Nawawi ini juga diikuti oleh Ibrahim Al-Harbi, Ibnu Bathal dan Iain-lain, juga oleh ulama-ulama muta'akhkhirin lainnya, seperti Al-Qur-thubi dan Ibnul-Munir. Sedang Ibnul-Mumr mengatakan: "Yang menyimpang dari kaidah adalah, dugaan adanya pahala amal ketika masih kafir. Padahal Allah hanya mengkaitkan pahala seseorang dengan keislamannya, yaitu pahala atas kebaikan-kebaikannya yang menurut persepsinya adalah baik.Hal ini tidak ada yang menentang.Demikian pula bila Allah memberikan anugerah pahala pada orang yang baru masuk Islam tanpa amal.Juga ketika Allah memberikan pahala kepada orang yang tidak mampu melaksanakan amal-amal kebaikan.

Salah satu ibadah yang tinggi nilainya adalah melaksanakan shalat fajar atau shalat subuh ke masjid.Shalat fajar yaitu shalat sunnah sebelum subuh-merupakan shalat sunnah yang paling banyak pahalanya dibandingkan shalat sunnah lainnya. Rasulullah mengistimewakannya dengan pahala yang begitu besar, "Dua rakaat fajar [shalat sunnah sebelum subuh] lebih baik dari dunia dan isinya" [HR. Muslim].

            Dunia-seluruh dunia- segala isinya mulai dari bentuk harta benda, harta simpanan, kedudukan, usaha, segala yang menggiurkan dan menyenangkan, tidak akan sampai nilainya sebesar shalat sunnah fajar dua rakaat. Ini baru keutamaan shalat         sunnah fajar, dari Aisyah dikatakan bahwa,"Tidak ada shalat sunnah yang lebih diperhatikan Rasulullah selain shalat sunnah sebelum subuh" [HR.Bukhari].

            Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahkan ketika melakukan perjalanan Rasulullah tidak mengerjakan shalat sunnah, baik yang dikerjakan sebelum shalat fardhu maupun sesudahnya, kecuali shalat sunnah subuh, beliau bersabda,"Janganlah meninggalkan shalat sunnah subuh walaupun kalian dikejar pasukan musuh"[HR. Abu Daud dan Ahmad].

            Dapat dipastikan bila kita beriman kepada Allah, beramal yang shaleh, menjauhi syirik dan maksiat, tidak riya’ dan sum’ah dalam ibadah maka Allah akan memberikan pahala dari ibadah-ibadah yang kita lakukan itu, sehingga tidak perlu kita menghitung-hitung semua pahala kita, karena ada amal yang dikerjakan tidak mendapat pahala, contohnya amal yang riya’ dan syirik kepada Allah.

Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah orang yang jika berbuat baik, dia berkata, “Akan diterima amal kebaikanku”.Jika berbuat maksiat, dia berkata:”Akan diampuni dosaku.” (Ihya Ulmuddin).

Saat beribadah, kerap kita didatangi perasaan, “Telah banyak ibadah yang saya kerjakan”, atau pertanyaan, “Berapa rupiah uang yang sudah saya sedekahkan”.Bahkan sering juga hati bergumam, “Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku shalat sunnah sekian kali setiap hati”.

Perasaan, angan-angan dan pertanyaan seperti tersebut di atas bisa merusak amal perbuatan.Bahkan bisa berakibat meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.
Sehingga, ibadahnya bisa menjadi sia-sia.Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi karena takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.Sebagaimana hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus.Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Qur’an.Ancaman-Nya dianggap lalu saja.
Rasulullah SAW member gambaran: “Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya,dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata : dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. “ (HR. Bukhari Muslim)
Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat berbahaya.Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.
Orang seperti ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia ia lupa mengkalkulasi berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengkalkulasi jumlah shalat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.
Ia tidak mengetahui seberapa besar kalkulasi pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.
Maka dalam beribadah kita mesti memiliki pengetahuan seimbang antara kabar baik dan ancaman Allah SWT.Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Qur’an harus menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya.Sementara orang yang hanya berfokus pada jumlah pahala (kabar baik) disebut sebagai jahil.Tidak mengetahui bahwa setiap harinya diawasi oleh Malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.
Kita pun terkadang terlalu ‘asyik’ melafalkan huruf demi huruf al-Qur’an, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya. ‘Keasyikan’ itu menimbulkan kebanggaan hati, bahwa ia telah melakukan amal baik – yaitu membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya.Pernahkan terbesit di dalam hati kita kata-kata ini: “Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Qur’an telah aku khatamkan. Pasti aku masuk surga”.Ini kata-kata yang menipu.Memastikan diri ini cukup berbahaya.Bisa menimbulkan ‘ujub, bahkan melalaikan dosa.
Fenomena ini pernah terjadi pada masa umat nabi Musa a.s, seperti tertulis dalam al-Qur’an: “...Maka datanglah sesudah mereka, yaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta benda dunia yang rendah ini, serayaberkata: ‘Kami akan diberi ampunan oleh Allah.’” (QS. Al-A’raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.
Imam al-Ghazali menjelaskan : “Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari penghitungan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah menumpuk.”[Sibuk Hitung Pahala, Malah Lupa Beribadah,Hidayatullah.comKamis, 17 Februari 2011].
Peluang untuk mengumpulkan pahala memang hanya di dunia ini saja, tidak ada tempat lain sehingga kelak di akherat, orang-orang kafir menyesali dirinya karena tidak memanfaatkan dunia untuk beriman dan beramal shaleh, ada keinginan dari orang-orang kafir nanti agar mereka dihidupkan kembali dan diberi kesempatan untuk hadir kembali di dunia niscaya mereka akan beriman dan beramal shaleh, tapi hal itu tidak mungkin sebab kematian dan kiamat sudah terjadi, akherat adalah hari perhitungan amal shaleh tidak lagi mengumpulkannya, akherat adalah tempat menimbang pahala yang akan diperhitungkan-Nya.
Kita hanya bertugas untuk mengabdi dengan keimanan yang bersih, amal shaleh yang sahih sebanyak-banyaknya, semua akan diberi pahala oleh Allah kalau amal itu tidak cacat, tidak perlu kita menghitung-hitung jumlahnya, Allah menguasai segala sesuatunya, tidak akan luput dan lalai terhadap amal shaleh manusia, tidak akan alfa untuk memberikan pahala atas segala amal-amal itu, Wallahu a’lam [Cubadak Solok, 15 Desember 2011.M/ 19 Muharam 1433.H].


Tidak ada komentar:

Posting Komentar