Senin, 15 Februari 2016

204. Selebritis



Menjadi orang yang sukses dalam hidup adalah keinginan semua orang bahkan sejak kecil kita sudah ditanyakan oleh orang-orang dekat kita seperti ayah dan ibu, tetangga dan kerabatpun ikut nimbrung menanyakan apa cita-cita kita kelak, menggantungkan cita-cita setinggi langit memang perlu agar hidup kita punya target dan motivasi untuk maju. Secara jujur anak-anak menjadikan cita-citanya sesuai yang pernah dia lihat dan dia kagumi, ketika saya masih kecil begitu kagum dengan seorang guru, yang menyampaikan pelajaran di kelas, guru yang cerdas, santun dan baik, hidupnya bersahaja, rajin dan tekun menjalani profesinya sehingga ada keinginan saya ingin jadi seorang guru, begitu juga ketika saya menyaksikan seorang ustadz muda yang menyampaikan khutbah di masjid, dengan bahasa yang lembut dan fasih dia menyampaikannya sehingga menanamkan kepada saya, kelak saya ingin jadi ustadz.

            Intinya manusia ingin hidup dengan cita-cita dan sukses mencapai cita-cita itu sehingga harus mempersiapkan segalanya untuk merintis jalan yang akan dilalui, semua kesuksesan tidak ada kamusnya dapat diraih dengan santai dan semaunya, cerita orang sukses selalu bermula dengan kepedihan, kepahitan dan kesengsaraan. Begitu juga bila ingin jadi seorang yang terkenal, popular, jadi pujaan, sorotan mata banyak khalayak sehingga dijuluki selebritis. Paling tidak ada dua kunci untuk mencapai kesuksesan dalam hidup pada asfek apa saja.

Mungkin ini adalah sebuah prinsip sederhana yang keduanya saling berkaitan dimana setiap orang sebenarnya sudah mengetahuinya, tetapi begitu sulit melaksanakannya. Alhasil sukses pun tak kunjung mendekatinya. Mengapa seringkali kita bertindak tidak sesuai dengan keinginginan kita? Mengapa seringkali kita bahkan melakukan apa yang semestinya kita hindari? Jawabannya adalahkarena apa yang tidak ingin kita lakukan atau kita hindari mendatangkan suatu “kenikmatan” sementara. Contoh sederhana, mungkin Anda tahu bahwa berolahraga rutin pada pagi hari dapat memberikan Anda tubuh yang sehat.Namun mengapa Anda sering mengalah untuk tidak bangun dari tempat tidur dari pada melakukan olahraga?Tentu jawabannya karena menikmati ranjang dan tidur yang lebih lama langsung mendatangkan “kenikmatan” sementara dan merupakan pilihan yang lebih mudah dibandingkan jika harus bangun dan berolahraga.

1. Menunda Kenikmatan (delayed gratification)
Seorang juara mengetahui prinsip sukses yang sebenarnya adalah dengan menunda kenikmatan. Seorang juara mengetahui bahwa sering kali ia harus membayar terlebih dahulu baru dapat menikmati hasilnya kemudian. Disisi lain, seorang pecundang lebih mementingkan kenikmatan sesaat (instant gratification) namun mereka lupa bahwa hal ini akan mendatangkan kerugian yang besar pada masa mendatang.

Brian Tracy secara tajam mengingatkan bahwa kemampuan kita untuk mendisiplinkan diri dengan menunda kenikmatan akan mendatangkan kesuksesan yang besar dikemudian hari dan sikap ini merupakan prasyarat bagi mereka yang ingin sukses.

2. Disiplin diri (self discipline)
Disiplin diri adalah kata kunci yang jarang dicari bahkan sering dihindari oleh kebanyakan orang.Dispilin diri adalah kemampuan untuk memaksa diri Anda melakukan apa yang harus dilakukan pada waktu yang ditentukan dan tetap berkomitmen untuk melakukannya, baik Anda suka maupun tidak.

W. Clement stone mempunyai prinsip yang ia ajarkan diperusahaanya, yaitu dengan melakukan affirmation (penegasan berulang) sebanyak 50 kali setiap pagi yang berbunyi,”Do It Now!...Do It Now!” Hal ini dimungkinkan agar dengan affirmasi tersebut secara tidak sadar akan mambawa dampak pada otak untuk mempengaruhinya sehingga disiplin secara tidak sadar pula terbentuk dan menjadi kebiasaan untuk segara melakuakan pekerjaan apa yang semestinya segera dilakukan.

Renungkanlah pekerjaan-pekerjaan yang diperhadapkan dalam hidup kita.Kebanyakan dari pekerjaan itu adalah hal-hal yang tidak terlalu sulit. Contoh, bangun pagi lebih awal, berolahraga secara teratur tiap minggu, meluangkan waktu 5 – 10 menit untuk merencanakan tugas yang harus diselesaikan setiap hari, membaca sepuluh lembar halaman buku setiap hari, menjaga sikap agar selalu positif dalam menghadapi tantangan. Sekilas pekerjaan-pekerjaan tersebut tidaklah memerlukan tenaga dan pikiran yang besar, namun yang menjadi tantangan bagi kita adalah menjadikan pekerjaan itu menjadi sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan.

Ingatlah untuk selalu menuntaskan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.Tunda kenikmatan dan disiplinkan diri Anda. Jika Anda telah mengambil tindakan , lama kelamaan Anda akan bertambah semangat untuk menyelesaikannya. Namun jika Anda terus menunda, ketakutan akan bertambah besar.[Source image www.mystere-d.com].

Berjuang, bekerja dan doa merupakan jalan  lebih dekat untuk mencapai cita-cita dengan kesuksesan, bila hanya berdoa saja tanpa adanya perjuangan untuk meraihnya maka sama saja dengan bohong dan sebaliknya bila hanya mengandalkan perjuangan dengan mengabaikan doa maka ini merupakan watak orang yang sombong. Seolah-olah keberhasilannya tanpa ada campur tangan yang lain dibaliknya, padahal cita-cita saja, pekerjaan apa saja banyak melibatkan orang lain, apakah diketahui atau tidak.

Untuk zaman sekarang, banyak remaja dan pemuda menghendaki hidup senang, foya-foya, hanya dengan menyanyi dan main sinteron menjadi orang terkenal dengan mendatangkan uang yang banyak, hal ini karena banyaknya kesempatan dan peluang yang dibuka pada setiap event yang digelar oleh media, tujuannya jelas untuk mencetak para celebritis, apakah pada bidang menyanyi dan music, main film dan sinetron, hingga celebritis pada bidang agama yang menampilkan para mubaligh dengan berbagai gaya, sejak dari yang serius, canda dan tawa juga yang menghalalkan perbuatan bid’ah yang dilakukan ummat. Ketika bicara masalah celebritis, image masyarakat selalu kea rah bintang film dan sinetron serta pelantun lagu dengan alunan musiknya, orang yang terlibat pada kegiatan itu mereka sebut dengan celebritis.

Sebagai seorang celebritispun tidak lepas dari saling mengidolakan, yang dilakukan oleh penggemarnya, bahkan ada yang menghadiri sebuah show bintang pujaannya, berharap bisa bertemu dan bersalaman, tapi malang sang bintang tidak bisa  hadir karena sesuatu hal, fans-nya ada yang histeris, menangis dan menyesali ketidak hadiran bintangnya itu. Bagaimana sebenarnya keterlibatan seorang muslim dengan lagu dan musik serta mengidolakan para celebritis itu, apakah dibenarkan menurut agama kita?

Hukum lagu
Hukum lagu seperti hukum berbicara, apabila lagu tersebut berisi kata-kata yang baik maka hukumnya halal, apabila berisi kata-kata yang tidak baik, mengumbar syahwat maka hukumnya haram. Pada dasarnya hukum lagu halal, akan tetapi hal-hal yang muncul akibat lagu tersebut yang menjadikan hukum lagu tidak halal.

Lagu cinta haram, karena melegalkan hubungan antar dua jenis manusia (pacaran) sebelum menikah.Demikian pula kebanyakan lagu dangdut yang mengumbar hawa nafsu.Pertunjukan musik yang disertai kemaksiatan haram hukumnya, sebaliknya apabila jenis lagunya halal dan pertunjukan terjaga dari kemaksiatan maka hukumnya halal.

Hukum mengidolakan Penyanyi
Hukum mengidolakan Artis tergantung dua sebab . Pertama: kenapa ia diidolakan? Kedua dampak yang ditimbulkan,Mengacu pada prinsip fiqhul ma-al. (hukum berdasarkan akibat yang ditimbulkan)

Menganalisa kasus yang terjadi akhir-akhir ini tentang mengidolakan seorang penyanyi (mudah-mudahan ia bertaubat) yang kemudian menimbulkan perbuatan maksiat, bisa dinyatakan hukum mengidolakannya haram. Pengharaman ditinjau dari dua sisi. Pertama: sebab mengidolakannya haram, yaitu melantunkan lagu yang berisikan hal-hal yang haram. Kedua: dampak yang ditimbulkannya berupa perzinahan.

Solusi Islami
Mengidolakan seseorang timbul karena pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta sepakbola mengidolakan Ronaldinho bukan karena ketampanannya, akan tetapi karena keindahan permainan sepakbolanya.

Masalah mengidolakan adalah masalah pembentukan nilai-nilai yang ada dalam diri manusia.Pembentukan nilai-nlai adalah tugas dari pendidikan.Agar nilai yang terbentuk adalah nilai-nilai Islami maka yang dibutuhkan adalah pendidikan Islam. Membentengi anak kita dengan Nilai-nilai Islami, menjamin bahwa anak kita tidak akan mengidolakan “pelantun lagu-lagu haram”. Anak kita pun tercegah dari dampak negatiivnya. Hal ini membutuhkan keberanian dan ketegasan para orang tua.[ DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med, Dampak Mengidolakan Penyanyi , Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010 00:11].

Untuk menjadi sukses dengan cita-cita gemilang tidaklah harus jadi penyanyi dan bintang film atau celebritis, banyak bidang lain yang bila dilakukan dengan tekun penuh kesabaran sesuai dengan bakat dan minat. Apalagi pandangan islam terhadap lagu dan music, film dan sinetron lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, walaupun itu sinetron yang berbau islam.

PADAawalnya sebenarnya saya tidak sengaja menonton film ini, suatu malam.Selanjutnya kemudian, dari beberapa kali saya menyaksikannya, saya ingin mengemukakan beberapa keberatan.Tapi sebelumnya, saya juga harus mengakui bahwa film ini agak sedikit berkualitas dengan kehadiran tokoh bernama Ustadz Mahmud dengan nasihat nasihatnya yang bernas.

Secara umum saya melihat, bahwa film ini lebih tampak sebagai sebuah penggambaran yang memprihatinkan tentang dunia pesantren.Pesantren pada umumnya punya aturan yang jelas dalam masalah hijab/batas pergaulan.Paling tidak ada batasan batasan tertentu di mana santri dan santriwati bisa bertemu atau berbincang. Tapi Pesantren Darussalam dalam film ini tampaknya lain dari yang lain.

Bagaimana tidak, nama pesantrennya adalah Pesantren Darussalam. Mendengar ini, pikiran kita langsung mengarah pada nama Pesantren Modern Darussalam Gontor. Seolah nama ini mengasosiasi nama besar Pondok Pesantren Modern Gontor yang dikenal sangat menjaga syariat yang telah berdiri berpuluh tahun lalu bahkan bisa dikata sebagai pelopor pesantren di Indonesia.

Sementara di film ini, saya melihat, susah sekali membedakan apakah ini pesantren atau hanya sekedar wadah kongkow dengan lawan jenis. Memang ini hanyalah film semata, sekedar hiburan.Tapi jangan lupa, laku yang ada dalam film ini bisa dengan sangat dahsyat sekali menjejal ke pikiran jutaan orang yang menontonnya. Dari situ kemudian akan muncul persepsi persepsi yang bisa saja keliru tentang pesantren.

Tujuan film ini barangkali dimaksudkan untuk menampilkan wajah pesantren yang lebih modern, tapi di sisi lain ada sejumlah ambiguitas di sana. Di mana laki dan perempuan yang bisa dikata hampir tak ada hijab.Mereka bebas bertemu kapan saja.Ngobrol berduaan.Bersendau gurau dengan lihainya.

Mungkin saja kita tidak habis pikir, bahwa dari film ini kemudian mencuatlah pandangan bahwa inilah memang pesantren modern yang seharusnya diterapkan di negeri ini.Bahkan dalam film ini ada kesan menghalalkan pacaran.Ini bagi saya adalah aneh.

Bagi yang punya TV sudah barang tentu tahu betul bahwa hari ini sangat banyak sekali jam tayang film sinetron setiap program program televisi.Tak bisa dinafikkan, film film remajalah yang mendominasi jagat raya perfileman nasional yang dinujum akan semakin menggila di masa masa mendatang. Dan jelas, film film tak bermutu bermuatan horor dan seks pun akan tambah menggurita.

Ada juga yang mengusung semangat religius, khususnya Islam.Tapi entah kenapa, sangat sedikit pesan bagus yang bisa dipetik dari film film itu. Yang saya khawatirkan, jangan-jangan film seperti yang saya sebutkan di awal ini menjadi semacam kampanye terselebung tentang pola yang dianggapnya adalah ideal, mantap, modern, sesuai tuntutan zaman. 

Padahal sejak dahulu citra pesantren sesungguh-sungguhnya adalah sebagai madrasah atau sekolah tempat belajar dan menerapkan nilai nilai ajaran Islam. Jadi, mohon jangan rusak citra pesantren dengan khayalan nisbi dan tata nilai kehidupan yang permisif.[Yacong. B. Halike,  Pesantren dan Rock n Roll, Hidayatullah.com].

Pada era saat jaya-jayanya Rhoma Irama, dia juga terjun ke dunia film dengan berbagai judul dia filmkan seperti Nada dan Dakwah, saya lupa pada sebuah judul filmnya, tapi adegannya masih saya ingat, Rhoma Irama sedang menanti kekasihnya pada sebuah taman, dengan sabar dia menanti sang pacar, tidak berapa lama dengan mengendap-endap sang kekasih datang dari arah belakang sambil menutup mata Rhoma Irama dan memeluknya, Raja Dangdut ini dengan senyum khasnya mengucapkan kalimat ”Alhamdulillah”, kesan yang tertanam adalah, pelukan sang pacar itu sebuah nikmat yang perlu di syukuri.

Jika dicermati dengan baik tontonan sinetron religi telah berubah menjadi tuntunan bagi masyarakat “awam”, sehingga mereka gampang berbuat kesyirikan dan kebid’ahan karena diajari oleh sinetron. Mereka dengan enteng membunuh, berzina, minum, khamr, berjudi dan merampok karena meniru ulah bintang sinetron.Mereka durhaka terhadap orang tua karena dibimbing oleh sinetron.Para wanita pandai bersolek karena menonton sinetron.Para remaja putri berani pamer aurat karena diajari sinetron, kaum wanita bertabarruj dan berikhtilat (bercambur baur antara laki-laki dan wanita) karena sinetron.Para isteri berani melawan suami karena terobsesi oleh sinetron.Mereka gampang selingkuh dan berbuat serong karena tertarik oleh adegan sinetron.Para pejabat negara gandrung dengan paranormal karena berguru dari sinetron.Kaum awam abangan keranjingan dunia ghaib dan ilmu mistik dan klenik karena dimotivasi oleh sinetron.Kaum akademik berani menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya karena dibimbing oleh sinetron. Jangan lupa, banyak umat Islam tidak percaya terhadap keampuhan Al-Quran dan kehebatan sunnah Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam karena didoktrin oleh sinetron, bahkan keyakinan mereka terhadap akhirat rusak karena terpengaruh oleh sinetron.

Sinetron Religi Ditengah Badai Kritikan
Sinetron religi menyeruak pertelevisian Indonesia sehingga hampir semua stasiun televisi swasta menayangkan sinetron bernuansa religi. Mereka terpicu membuat sinetron religi karena pada umumnya masyarakat Indonesia beragama Islam, dan maraknya tabloid yang mengungkap tentang misteri alam ghaib, dunia lain dan materi kematian manusia serta dongeng-dongeng legendaris yang berbau mistik, takhayul dan khurafat yang melekat di masyarakat kita terlihat sukses. Maka peluang emas ini ditangkap para borjuis agama untuk membangun industri dan bisnis raksasa berbau religi untuk mengeruk keuntungan yang besar, ibarat sandal ketemu pasangannya dan gayungpun bersambut maka peluang ini disambut antusias oleh produser sinetron bersama para ustadz setengah artist, berpacu untuk jual tampang dalam rangka numpang tenar dan mengukir popularitas dengan kendaraan agama yang bermerk sinetron religi.

Akibatnya, ayat-ayat Al-Quran dijadikan hiasan layar kaca dan hadist Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam diperalat untuk menarik simpati pemirsa, dengan harapan para pendulang rupiah tertarik pasang iklan, tidak peduli harus merengek dan mengemis kepada pengusaha rokok dan bir bintang yang penting menjadi bintang sinetron.

            Jika mempelajari sinetron religi ala Indonesia dari waktu ke waktu dengan bangga dan beraninya para produser membuat sinetron religi tanpa merasa takut salah dan menodai nilai-nilai Islam, padahal banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan acara sinetron tersebut.[ Apabila Sinetron Sudah Menjadi Mazhab Agamamu,Nuasa Islam.Mujahidah,9 Desember 2010].

Karena enaknya jadi celebritis, selain populer, terkenal, diidolakan oleh fansnya juga dapat mengumpulkan uang dengan cara mudah dan fantastis hasilnya sehingga para ustadzpun banyak yang berdakwah ala celebritis dan terlibat lansung dengan para celebritis sehingga banyak peminatnya yang ditayangkan sore hari, malam dan pagi hari, ketika pengurus masjid mengajak jamaahnya untuk menghadiri pengajian mingguan yang digelar masjidnya, sang jamaah menjawab, lebih enak mendengarkan ceramah di televisi dari pada di masjid, ini salah satu dampak kenapa masjid sepi dari pengunjung termasuk ketika diadakan pengajian karena mereka sudah merasa lebih pengetahuannya dengan mendengarkan ceramah ustadz celebritis di televisi. wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 01 Muharam 1433.H/ 27 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar