Menjadi orang yang sukses dalam hidup
adalah keinginan semua orang bahkan sejak kecil kita sudah ditanyakan oleh
orang-orang dekat kita seperti ayah dan ibu, tetangga dan kerabatpun ikut
nimbrung menanyakan apa cita-cita kita kelak, menggantungkan cita-cita setinggi
langit memang perlu agar hidup kita punya target dan motivasi untuk maju.
Secara jujur anak-anak menjadikan cita-citanya sesuai yang pernah dia lihat dan
dia kagumi, ketika saya masih kecil begitu kagum dengan seorang guru, yang
menyampaikan pelajaran di kelas, guru yang cerdas, santun dan baik, hidupnya
bersahaja, rajin dan tekun menjalani profesinya sehingga ada keinginan saya
ingin jadi seorang guru, begitu juga ketika saya menyaksikan seorang ustadz
muda yang menyampaikan khutbah di masjid, dengan bahasa yang lembut dan fasih
dia menyampaikannya sehingga menanamkan kepada saya, kelak saya ingin jadi
ustadz.
Intinya manusia ingin hidup dengan
cita-cita dan sukses mencapai cita-cita itu sehingga harus mempersiapkan
segalanya untuk merintis jalan yang akan dilalui, semua kesuksesan tidak ada
kamusnya dapat diraih dengan santai dan semaunya, cerita orang sukses selalu
bermula dengan kepedihan, kepahitan dan kesengsaraan. Begitu juga bila ingin
jadi seorang yang terkenal, popular, jadi pujaan, sorotan mata banyak khalayak
sehingga dijuluki selebritis. Paling tidak ada dua kunci untuk mencapai
kesuksesan dalam hidup pada asfek apa saja.
Mungkin
ini adalah sebuah prinsip sederhana yang keduanya saling berkaitan dimana
setiap orang sebenarnya sudah mengetahuinya, tetapi begitu sulit
melaksanakannya. Alhasil sukses pun tak kunjung mendekatinya. Mengapa
seringkali kita bertindak tidak sesuai dengan keinginginan kita? Mengapa
seringkali kita bahkan melakukan apa yang semestinya kita hindari? Jawabannya
adalahkarena apa yang tidak ingin kita lakukan atau kita
hindari mendatangkan suatu “kenikmatan”
sementara. Contoh sederhana, mungkin Anda tahu bahwa berolahraga rutin pada
pagi hari dapat memberikan Anda tubuh yang sehat.Namun mengapa Anda sering
mengalah untuk tidak bangun dari tempat tidur dari pada melakukan
olahraga?Tentu jawabannya karena menikmati ranjang dan tidur yang lebih lama
langsung mendatangkan “kenikmatan”
sementara dan merupakan pilihan yang lebih mudah dibandingkan jika harus bangun
dan berolahraga.
1. Menunda Kenikmatan (delayed gratification)
Seorang
juara mengetahui prinsip sukses yang sebenarnya adalah dengan menunda
kenikmatan. Seorang juara mengetahui bahwa sering kali ia harus membayar terlebih
dahulu baru dapat menikmati hasilnya kemudian. Disisi lain, seorang pecundang
lebih mementingkan kenikmatan sesaat (instant gratification) namun
mereka lupa bahwa hal ini akan mendatangkan kerugian yang besar pada masa
mendatang.
Brian Tracy secara tajam mengingatkan bahwa kemampuan kita untuk mendisiplinkan diri dengan menunda kenikmatan akan mendatangkan kesuksesan yang besar dikemudian hari dan sikap ini merupakan prasyarat bagi mereka yang ingin sukses.
2. Disiplin diri (self discipline)
Disiplin
diri adalah kata kunci yang jarang dicari bahkan sering dihindari oleh
kebanyakan orang.Dispilin diri adalah
kemampuan untuk memaksa diri Anda melakukan apa yang harus dilakukan pada waktu
yang ditentukan dan tetap berkomitmen untuk melakukannya, baik Anda suka maupun
tidak.
W.
Clement stone mempunyai prinsip yang ia ajarkan diperusahaanya, yaitu dengan
melakukan affirmation (penegasan berulang) sebanyak 50 kali setiap pagi yang
berbunyi,”Do It Now!...Do It Now!”
Hal ini dimungkinkan agar dengan affirmasi tersebut secara tidak sadar akan
mambawa dampak pada otak untuk mempengaruhinya sehingga disiplin secara tidak
sadar pula terbentuk dan menjadi kebiasaan untuk segara melakuakan pekerjaan
apa yang semestinya segera dilakukan.
Renungkanlah
pekerjaan-pekerjaan yang diperhadapkan dalam hidup kita.Kebanyakan dari
pekerjaan itu adalah hal-hal yang tidak terlalu sulit. Contoh, bangun pagi
lebih awal, berolahraga secara teratur tiap minggu, meluangkan waktu 5 – 10
menit untuk merencanakan tugas yang harus diselesaikan setiap hari, membaca
sepuluh lembar halaman buku setiap hari, menjaga sikap agar selalu positif
dalam menghadapi tantangan. Sekilas pekerjaan-pekerjaan tersebut tidaklah
memerlukan tenaga dan pikiran yang besar, namun yang menjadi tantangan bagi
kita adalah menjadikan pekerjaan itu menjadi sebuah kebiasaan yang rutin
dilakukan.
Ingatlah
untuk selalu menuntaskan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.Tunda kenikmatan dan disiplinkan diri Anda.
Jika Anda telah mengambil tindakan , lama kelamaan Anda akan bertambah semangat
untuk menyelesaikannya. Namun jika Anda terus menunda, ketakutan akan bertambah
besar.[Source image www.mystere-d.com].
Berjuang,
bekerja dan doa merupakan jalan lebih
dekat untuk mencapai cita-cita dengan kesuksesan, bila hanya berdoa saja tanpa
adanya perjuangan untuk meraihnya maka sama saja dengan bohong dan sebaliknya
bila hanya mengandalkan perjuangan dengan mengabaikan doa maka ini merupakan
watak orang yang sombong. Seolah-olah keberhasilannya tanpa ada campur tangan
yang lain dibaliknya, padahal cita-cita saja, pekerjaan apa saja banyak
melibatkan orang lain, apakah diketahui atau tidak.
Untuk
zaman sekarang, banyak remaja dan pemuda menghendaki hidup senang, foya-foya,
hanya dengan menyanyi dan main sinteron menjadi orang terkenal dengan
mendatangkan uang yang banyak, hal ini karena banyaknya kesempatan dan peluang
yang dibuka pada setiap event yang digelar oleh media, tujuannya jelas untuk
mencetak para celebritis, apakah pada bidang menyanyi dan music, main film dan
sinetron, hingga celebritis pada bidang agama yang menampilkan para mubaligh
dengan berbagai gaya, sejak dari yang serius, canda dan tawa juga yang
menghalalkan perbuatan bid’ah yang dilakukan ummat. Ketika bicara masalah
celebritis, image masyarakat selalu kea rah bintang film dan sinetron serta
pelantun lagu dengan alunan musiknya, orang yang terlibat pada kegiatan itu
mereka sebut dengan celebritis.
Sebagai
seorang celebritispun tidak lepas dari saling mengidolakan, yang dilakukan oleh
penggemarnya, bahkan ada yang menghadiri sebuah show bintang pujaannya,
berharap bisa bertemu dan bersalaman, tapi malang sang bintang tidak bisa hadir karena sesuatu hal, fans-nya ada yang
histeris, menangis dan menyesali ketidak hadiran bintangnya itu. Bagaimana
sebenarnya keterlibatan seorang muslim dengan lagu dan musik serta mengidolakan
para celebritis itu, apakah dibenarkan menurut agama kita?
Hukum lagu
Hukum lagu seperti hukum berbicara,
apabila lagu tersebut berisi kata-kata yang baik maka hukumnya halal, apabila
berisi kata-kata yang tidak baik, mengumbar syahwat maka hukumnya haram. Pada
dasarnya hukum lagu halal, akan tetapi hal-hal yang muncul akibat lagu tersebut
yang menjadikan hukum lagu tidak halal.
Lagu cinta haram, karena melegalkan hubungan antar dua jenis manusia (pacaran) sebelum menikah.Demikian pula kebanyakan lagu dangdut yang mengumbar hawa nafsu.Pertunjukan musik yang disertai kemaksiatan haram hukumnya, sebaliknya apabila jenis lagunya halal dan pertunjukan terjaga dari kemaksiatan maka hukumnya halal.
Lagu cinta haram, karena melegalkan hubungan antar dua jenis manusia (pacaran) sebelum menikah.Demikian pula kebanyakan lagu dangdut yang mengumbar hawa nafsu.Pertunjukan musik yang disertai kemaksiatan haram hukumnya, sebaliknya apabila jenis lagunya halal dan pertunjukan terjaga dari kemaksiatan maka hukumnya halal.
Hukum mengidolakan Penyanyi
Hukum mengidolakan Artis tergantung dua
sebab . Pertama: kenapa ia diidolakan? Kedua dampak yang ditimbulkan,Mengacu
pada prinsip fiqhul ma-al. (hukum berdasarkan akibat yang ditimbulkan)
Menganalisa kasus yang terjadi
akhir-akhir ini tentang mengidolakan seorang penyanyi (mudah-mudahan ia
bertaubat) yang kemudian menimbulkan perbuatan maksiat, bisa dinyatakan hukum
mengidolakannya haram. Pengharaman ditinjau dari dua sisi. Pertama: sebab
mengidolakannya haram, yaitu melantunkan lagu yang berisikan hal-hal yang
haram. Kedua: dampak yang ditimbulkannya berupa perzinahan.
Solusi Islami
Solusi Islami
Mengidolakan seseorang timbul karena
pihak yang mengidolakan mempunyai kecenderungan yang sama dengan pihak yang
diidolakan, Ia mendapatkan apa yang diinginkan dalam diri sang idola. Pecinta
sepakbola mengidolakan Ronaldinho bukan karena ketampanannya, akan tetapi
karena keindahan permainan sepakbolanya.
Masalah mengidolakan adalah masalah pembentukan nilai-nilai yang ada dalam diri manusia.Pembentukan nilai-nlai adalah tugas dari pendidikan.Agar nilai yang terbentuk adalah nilai-nilai Islami maka yang dibutuhkan adalah pendidikan Islam. Membentengi anak kita dengan Nilai-nilai Islami, menjamin bahwa anak kita tidak akan mengidolakan “pelantun lagu-lagu haram”. Anak kita pun tercegah dari dampak negatiivnya. Hal ini membutuhkan keberanian dan ketegasan para orang tua.[ DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med, Dampak Mengidolakan Penyanyi , Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010 00:11].
Masalah mengidolakan adalah masalah pembentukan nilai-nilai yang ada dalam diri manusia.Pembentukan nilai-nlai adalah tugas dari pendidikan.Agar nilai yang terbentuk adalah nilai-nilai Islami maka yang dibutuhkan adalah pendidikan Islam. Membentengi anak kita dengan Nilai-nilai Islami, menjamin bahwa anak kita tidak akan mengidolakan “pelantun lagu-lagu haram”. Anak kita pun tercegah dari dampak negatiivnya. Hal ini membutuhkan keberanian dan ketegasan para orang tua.[ DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med, Dampak Mengidolakan Penyanyi , Republika.co.id.Selasa, 19 Oktober 2010 00:11].
Untuk menjadi sukses dengan cita-cita
gemilang tidaklah harus jadi penyanyi dan bintang film atau celebritis, banyak
bidang lain yang bila dilakukan dengan tekun penuh kesabaran sesuai dengan
bakat dan minat. Apalagi pandangan islam terhadap lagu dan music, film dan
sinetron lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, walaupun itu sinetron
yang berbau islam.
PADAawalnya
sebenarnya saya tidak sengaja menonton film ini, suatu malam.Selanjutnya
kemudian, dari beberapa kali saya menyaksikannya, saya ingin mengemukakan
beberapa keberatan.Tapi sebelumnya, saya juga harus mengakui bahwa film ini
agak sedikit berkualitas dengan kehadiran tokoh bernama Ustadz Mahmud dengan
nasihat nasihatnya yang bernas.
Secara
umum saya melihat, bahwa film ini lebih tampak sebagai sebuah penggambaran yang
memprihatinkan tentang dunia pesantren.Pesantren pada umumnya punya aturan yang
jelas dalam masalah hijab/batas pergaulan.Paling tidak ada batasan batasan
tertentu di mana santri dan santriwati bisa bertemu atau berbincang. Tapi
Pesantren Darussalam dalam film ini tampaknya lain dari yang lain.
Bagaimana
tidak, nama pesantrennya adalah Pesantren Darussalam. Mendengar ini, pikiran
kita langsung mengarah pada nama Pesantren Modern Darussalam Gontor. Seolah
nama ini mengasosiasi nama besar Pondok Pesantren Modern Gontor yang dikenal
sangat menjaga syariat yang telah berdiri berpuluh tahun lalu bahkan bisa
dikata sebagai pelopor pesantren di Indonesia.
Sementara
di film ini, saya melihat, susah sekali membedakan apakah ini pesantren atau
hanya sekedar wadah kongkow dengan lawan jenis. Memang ini hanyalah film
semata, sekedar hiburan.Tapi jangan lupa, laku yang ada dalam film ini bisa
dengan sangat dahsyat sekali menjejal ke pikiran jutaan orang yang menontonnya.
Dari situ kemudian akan muncul persepsi persepsi yang bisa saja keliru tentang
pesantren.
Tujuan
film ini barangkali dimaksudkan untuk menampilkan wajah pesantren yang lebih
modern, tapi di sisi lain ada sejumlah ambiguitas di sana. Di mana laki dan
perempuan yang bisa dikata hampir tak ada hijab.Mereka bebas bertemu kapan
saja.Ngobrol berduaan.Bersendau gurau dengan lihainya.
Mungkin
saja kita tidak habis pikir, bahwa dari film ini kemudian mencuatlah pandangan
bahwa inilah memang pesantren modern yang seharusnya diterapkan di negeri
ini.Bahkan dalam film ini ada kesan menghalalkan pacaran.Ini bagi saya adalah
aneh.
Bagi
yang punya TV sudah barang tentu tahu betul bahwa hari ini sangat banyak sekali
jam tayang film sinetron setiap program program televisi.Tak bisa dinafikkan,
film film remajalah yang mendominasi jagat raya perfileman nasional yang
dinujum akan semakin menggila di masa masa mendatang. Dan jelas, film film tak
bermutu bermuatan horor dan seks pun akan tambah menggurita.
Ada
juga yang mengusung semangat religius, khususnya Islam.Tapi entah kenapa,
sangat sedikit pesan bagus yang bisa dipetik dari film film itu. Yang saya
khawatirkan, jangan-jangan film seperti yang saya sebutkan di awal ini menjadi
semacam kampanye terselebung tentang pola yang dianggapnya adalah ideal,
mantap, modern, sesuai tuntutan zaman.
Padahal
sejak dahulu citra pesantren sesungguh-sungguhnya adalah sebagai madrasah atau
sekolah tempat belajar dan menerapkan nilai nilai ajaran Islam. Jadi, mohon
jangan rusak citra pesantren dengan khayalan nisbi dan tata nilai kehidupan
yang permisif.[Yacong. B. Halike, Pesantren dan Rock
n Roll, Hidayatullah.com].
Pada era
saat jaya-jayanya Rhoma Irama, dia juga terjun ke dunia film dengan berbagai
judul dia filmkan seperti Nada dan Dakwah, saya lupa pada sebuah judul filmnya,
tapi adegannya masih saya ingat, Rhoma Irama sedang menanti kekasihnya pada
sebuah taman, dengan sabar dia menanti sang pacar, tidak berapa lama dengan
mengendap-endap sang kekasih datang dari arah belakang sambil menutup mata
Rhoma Irama dan memeluknya, Raja Dangdut ini dengan senyum khasnya mengucapkan
kalimat ”Alhamdulillah”, kesan yang tertanam adalah, pelukan sang pacar itu
sebuah nikmat yang perlu di syukuri.
Jika dicermati dengan baik tontonan sinetron religi telah
berubah menjadi tuntunan bagi masyarakat “awam”, sehingga mereka gampang
berbuat kesyirikan dan kebid’ahan karena diajari oleh sinetron. Mereka dengan
enteng membunuh, berzina, minum, khamr, berjudi dan merampok karena meniru ulah
bintang sinetron.Mereka durhaka terhadap orang tua karena dibimbing oleh
sinetron.Para wanita pandai bersolek karena menonton sinetron.Para remaja putri
berani pamer aurat karena diajari sinetron, kaum wanita bertabarruj dan
berikhtilat (bercambur baur antara laki-laki dan wanita) karena sinetron.Para
isteri berani melawan suami karena terobsesi oleh sinetron.Mereka gampang
selingkuh dan berbuat serong karena tertarik oleh adegan sinetron.Para pejabat
negara gandrung dengan paranormal karena berguru dari sinetron.Kaum awam
abangan keranjingan dunia ghaib dan ilmu mistik dan klenik karena dimotivasi
oleh sinetron.Kaum akademik berani menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya karena
dibimbing oleh sinetron. Jangan lupa, banyak umat Islam tidak percaya terhadap
keampuhan Al-Quran dan kehebatan sunnah Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam karena
didoktrin oleh sinetron, bahkan keyakinan mereka terhadap akhirat rusak karena
terpengaruh oleh sinetron.
Sinetron Religi Ditengah Badai Kritikan
Sinetron religi menyeruak pertelevisian Indonesia sehingga
hampir semua stasiun televisi swasta menayangkan sinetron bernuansa religi.
Mereka terpicu membuat sinetron religi karena pada umumnya masyarakat Indonesia
beragama Islam, dan maraknya tabloid yang mengungkap tentang misteri alam
ghaib, dunia lain dan materi kematian manusia serta dongeng-dongeng legendaris
yang berbau mistik, takhayul dan khurafat yang melekat di masyarakat kita
terlihat sukses. Maka peluang emas ini ditangkap para borjuis agama untuk
membangun industri dan bisnis raksasa berbau religi untuk mengeruk keuntungan
yang besar, ibarat sandal ketemu pasangannya dan gayungpun bersambut maka peluang
ini disambut antusias oleh produser sinetron bersama para ustadz setengah
artist, berpacu untuk jual tampang dalam rangka numpang tenar dan mengukir
popularitas dengan kendaraan agama yang bermerk sinetron religi.
Akibatnya, ayat-ayat Al-Quran dijadikan hiasan layar kaca
dan hadist Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam diperalat untuk menarik
simpati pemirsa, dengan harapan para pendulang rupiah tertarik pasang iklan,
tidak peduli harus merengek dan mengemis kepada pengusaha rokok dan bir bintang
yang penting menjadi bintang sinetron.
Jika mempelajari sinetron religi ala
Indonesia dari waktu ke waktu dengan bangga dan beraninya para produser membuat
sinetron religi tanpa merasa takut salah dan menodai nilai-nilai Islam, padahal
banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan acara sinetron tersebut.[ Apabila Sinetron Sudah Menjadi Mazhab Agamamu,Nuasa Islam.Mujahidah,9 Desember 2010].
Karena
enaknya jadi celebritis, selain populer, terkenal, diidolakan oleh fansnya juga
dapat mengumpulkan uang dengan cara mudah dan fantastis hasilnya sehingga para
ustadzpun banyak yang berdakwah ala celebritis dan terlibat lansung dengan para
celebritis sehingga banyak peminatnya yang ditayangkan sore hari, malam dan
pagi hari, ketika pengurus masjid mengajak jamaahnya untuk menghadiri pengajian
mingguan yang digelar masjidnya, sang jamaah menjawab, lebih enak mendengarkan
ceramah di televisi dari pada di masjid, ini salah satu dampak kenapa masjid
sepi dari pengunjung termasuk ketika diadakan pengajian karena mereka sudah
merasa lebih pengetahuannya dengan mendengarkan ceramah ustadz celebritis di
televisi. wallahu
a’lam, [Cubadak Solok, 01 Muharam
1433.H/ 27
November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar