Bekerja merupakan
fithrah manusia, bekerja bukan hanya karena kebutuhan untuk mendapatkan imbalan
berupa uang, hasil, rezeki dan balasan lainnya, betapa banyak orang sudah
mempunya semuanya tapi dia tetap bekerja bahkan ketekunan dalam bekerjanyapun
tidak berkurang. Dan sebaliknya, ada orang yang walaupun sudah mempunyai
segala-galanya sehingga bila investasi yang
dimiliki digunakan tidak akan habis untuk keperluan tujuh keturunan tapi
mereka tidak mau berhenti bekerja.
Ayah saya seorang petani, setiap pagi
hingga siang hari dia habiskan waktunya di ladang, kalaulah tidak bercocok
tanam, dia menyiangi rumput-rumput liar yang ada pada tumbuhan yang baru di
tanam, atau mempersiapkan lubang baru untuk menanam pohon tertentu, setiap
waktu itu ada-ada saja yang dia lakukan seputar perladangan. Saat diajak ke
kota dia tidak betah, karena di kota hanya diam saja walaupun makan minum serta
uang disediakan untuknya, kami sebagai anak ingin sang ayah istirahat saja
karena sejak dari muda dahulu sibuk terus bekerja, ternyata hal itu tidak
menyehatkannya, di kota dia sering melamun, canggung dan bingung karena tidak
ada kegiatan, akhirnya dibuatkan untuknya sebuah kedai kecil untuk berjualan
mengisi kesibukannya.
Ternyata tidak bekerja walaupun
memiliki kebutuhan hidup tidaklah menyenangkan karena bekerja merupakan
kekutuhan fisik dan kesenangan rohani bagi manusia sehingga ada ungkapan yang
menyatakan,”Biarlah lelah bekerja daripada lelah menganggur”.Dalam bekerjapun
tidaklah sembarang bekerja, ada pekerja yang hanya sekedar mencairkan otak dan
keringat saja dan ada pula yang bekerja dengan ketekunan, hasilnya tentu
berbeda, apalagi bekerja dengan malas-malasan tentu hasilnya sesuai dengan
semangat malas.
Seorang muslim harus siap bekerja
karena bekerja selain mendatangkan imbalan juga mendapatkan pahala dari Allah
karena bekerja itu merupakan ibadah, walaupun yang kita kerjakan belum tentu
kita dapat menerimanya maka bekerja harus menjadi program setiap hari,
Rasulullah bersabda bahwa Seandainya kamu mengetahu bahwa besok akan terjadi
kiamat sedangkan di tanganmu ada butir-butir kurma maka tanamlah bibit itu.
Ternyata islam tidak mengajarkan ummatnya untuk bermalas-malasan, apalagi hanya
mengkhayal sambil mengucapkan “seandai, andaikata, apabila…..”
Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami,
menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya,
meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan
apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam
bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti
bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan
sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas.Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung."(HR Abu Dawud).
Sikap tangkas dan cerdas yang di maksud,
tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada
keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat.Ini,
sambung Syekh asy-Syaami, merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas
yang telah Allah tetapkan.
Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas
yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas,
seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada
setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam pu atau malas melakukan se sua tu
yang bermanfaat baginya dan ma syarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi
seseorang yang kerap berangan-angan," paparnya.
Perbuatan dan sikap semacam itu, selain
kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja
dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah
sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas as-Syaami, adalah orang yang paling
merugi.
Mengapa dikatakan orang yang paling
merugi?Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana.Seperti,
perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan
seseorang sehingga berani melanggar larangan agama.
Jadi, dia menambahkan, seorang hamba
yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal
perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi
dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun maksiat.
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri
jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati itu telah menjangkiti manusia,
maka ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk
bertobat. Untuk itu, Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar
terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW berdoa, "Ya
Allah, hamba meminta perlindungan kepadaMu dari kecemasan dan kesedihan."
Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber
dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau
dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya
dengan kerelaan, sabar dan iman.
Demikian pula sesuatu yang mungkin
terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya
dengan kecemasan atau kekhawatiran.Maka itu, seseorang harus selalu siap
membekali diri dengan sikap-sikap yang baik untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung
tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga.Jiwa seorang Muslim
sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan
disediakan bagi siapapun yang mampu menggapainya dengan semangat dan etos kuat.
"Apabila
telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS al Jumu'ah
[62] : 10) Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu
dibarengi dengan usaha, sementara anganangan atau kemalasan hanyalah
angan-angan kosong.[Inilah Resep
Islam Menjauhi Sikap Malas, republika.co.id.Selasa, 04 Mei
2010, 22:25 WIB].
Sikap optimis, giat bekerja, rajin beribadah, selalu
mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat merupakan contoh teladan dari
Rasulullah Saw.Beliau
bangun jauh sebelum fajar, ketika tirai gelap malam masih meliputi segala
sesuatu.Saat beliau mulai bergerak, beliau berkata, "Segala puji bagi
Allah yang telah mengembalikan semangat saya, memberikan saya kekuatan fisik
dan mengizinkan saya untuk memuliakan-Nya."
Seberat apapun tantangan yang bakal
dihadapi, beliau menyambutnya dengan optimisme.Dan, hal sekecil apapun tak
luput disyukuri, termasuk kembalinya semangat untuk memulai hari.
Bahkan, terbit dan tenggelamnya matahari,
adalah juga hal yang perlu kita syukuri."Allah-lah yang menjadikan malam
untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang
benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan
atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. " (QS Al
Mu'min [40]: 61)
Kehidupan kita adalah suatu berkah
terbesar yang kita terima dari Allah.Wujud terima kasih kita adalah dengan
memanfaatkan hidup sebaik-baiknya.Allah menawarkan kesempatan keberhasilan bagi
siapa saja yang ingin berhasil. Intinya, sikap optimis harus selalu
dikedepankan.
Optimistis adalah suatu sikap yang
selalu berpandangan baik dalam menghadapi segala hal. Optimis
adalah lawan kata dari putus asa. Putus asa timbul karena tiada kemauan dalam
hati dan kurang meyakini rahmat Allah. Sikap optimistis merupakan bentuk
keyakinan akan kemurahan Allah dan karunia-Nya dan bahwa janji Allah
adalah benar adanya.
Orang yang mempunyai sikap optimistis
ialah orang yang mempunyai ketaatan dan menegakkan semua yang dituntut oleh
keimanannya. Dia berharap agar Allah tidak memalingkannya, menerima amalnya,
dan tidak menolaknya, serta melipatgandakan pahala-Nya.[Hikmah
Pagi: Memulai Hari dengan Optimisme
Republika.co.id.Selasa, 28 Desember 2010, 05:00 WIB].
Ditinjau dari sisi Psikologis, malas
memang bukan penyakit fisik yang dapat terlihat secara kasat mata, yang bisa
dikonsultasikan ke dokter lalu kita cari obatnya di apotik.Malas memang salah
satu penyakit yang sering hinggap pada kita, kadang ia datang di saat-saat yang
sangat genting seperti saat deadline tugas atau saat-saat sibuk. Boleh
jadi ia adalah masuk salah satu penyakit “berbahaya” karena menyerang pusat
seluruh organ kita, hati.
Ia juga dapat disebut sebagai kelemahan
mental, karena memang virus malas menyerang bagian penting dalam pergerakan
hidup manusia, yakni mental.Dengannya kita dapat bersemangat dan optimis
menatap hidup, ketiadaannyapun akan membuat manusia terus berada dalam jurang
kepesimisan. Hebatnya lagi, penyakit ini tak memandang usia, golongan, tua,
muda, anak-anak, remaja, semua dapat terkena ‘serangannya’.
Banyak faktor yang menyebabkan orang
menjadi malas, diantaranya; terlalu terbebani dengan tugas, tidak suka dengan
pekerjaan yang ia kerjakan, keadaan yang tertekan, bawaan sejak lahir, terlalu
banyak harapan (muluk) yang tidak dapat direalisasikan dan lain-lain. Tapi
semua itu tak dapat dijadikan alasan seseorang untuk bermalas-malasan.[Wahai Muslim, Perangi Virus Malas! Hidayatullah.com Kamis, 30
September 2010].
Di dalam bukunya, Taichi Ohno, salah
seorang kontributor cetak biru atau ”DNA” dari the Toyota Way
menjelaskan: ”Kura-kura yang lamban tetapi konsisten mengakibatkan lebih
sedikit pemborosan dan jauh lebih diinginkan daripada kelinci yang cepat dan
mengungguli perlombaan dan kemudian berhenti setelah selang beberapa waktu
untuk beristirahat. Toyota Production System hanya dapat direalisasikan
jika semua karyawan menjadi kura-kura”.
Pemimpin-pemimpin Toyota lainnya sering
pula mengungkapkan hal yang sama, yang isinya kira-kira adalah ”Kami
lebih suka lambat dan mantap seperti kura-kura daripada cepat dan
tersentak-sentak seperti kelinci”. Demikianlah salah satu filosofi di
balik TPS yang kebanyakan berjangkauan jauh ke depan. Meratakan beban
kerja (heijunka) adalah salah satu cara untuk menghindari pemborosan (muda),
ketidakseimbangan (mura), dan beban berlebih (muri).
Bagi umat Islam, filosofi di atas
bukanlah hal yang terlalu baru. Di dalam pandangan Islam, setiap
peristiwa atau kejadian bukanlah suatu momentum diskrit tanpa konteks, tetapi
adalah bagian dari sebuah kesinambungan hidup dan kehidupan, penghubung masa
lalu dan masa depan. Oleh karena itu, hanya orang-orang cerdas (ulil
albab) -lah yang dapat memaknai setiap peristiwa dan mengambil pelajaran
darinya untuk terus menerus melakukan perbaikan atau peningkatan (continuous
improvement = kaizen).
Di dalam beramal (bekerja atau beribadah
dalam arti luas), Rasulullah SAW berabad-abad lalu pernah mengajarkan, ”Amal
yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus
walaupun sedikit (HR Muttafaqun Alaih)”. Karena lebih sering mendengarnya
dari para kiai, ustadz atau guru agama, maka pikiran kita cenderung
membatasinya. Padahal ada hikmah lain dari sabda Rasul SAW (yang pasti
berasal dari wahyu, bukan hawa nafsunya). Satu di antaranya
ditemukan oleh para pendiri dan pemimpin Toyota, yang mungkin belum pernah
mengenal Rasulullah SAW apalagi berjumpa dengannya.[Abi Muhammad Ismail
Halim, Bekerjalah Seperti Kura-kura, republika.co.id,Jumat,
17 Juni 2011 15:22 WIB].
Banyak
aktivitas yang bisa dilakukan untuk membunuh kemalasan diantaranya menjadikan
diri orang yang berkualitas melalui berbagai bimbingan, pendidikan dan tarbiyah
yang memadai sehingga tampil diri yang berkualitas, berbuat dan beramal, serta
berdakwah walaupun lambat tapi pasti, karena salah satu pekerjaan yang disukai Nabi
adalah pekerjaan yang kecil tapi ajek artinya yang dikerjakan secara terus
menerus.
Makna tarbiah itu sendiri
adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan
tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang
baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau
mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau
terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya
sekian ra-tus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi
mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi
makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.
Sesungguhnya mereka
mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum
minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati
ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang di-tampilkan untuk
ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disem-bunyikan tapi
untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat
perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian.
Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang
menyinari lingkungan sekitarnya. [KH.Rahmat Abdullah, Cahaya Di Wajah Ummat, pks.or.id]
Satu ketika Umar bin Khattab menjelang
siang melihat ada seorang pemuda yang sedang berada di Masjid, beribadah dengan
shalat, do’a dan i’tikaf sementara ummat islam berjuang, bekerja mencari
kehidupan, Umar masuk ke masjid tersebut
kemudian mengusir pemuda itu, agar keluar masjid dan jangan berlama-lama berada
di masjid karena kini saatnya bekerja, membanting tulang dan memeras keringat.
Di masjid saja kita tidak boleh berlama-lama walaupun beribadah apalagi hanya
duduk-duduk di kedai kopi ngobrol yang tidak ada manfaatnya, atau jalan-jalan
di mal sekedar mengisi waktu, sedangkan tugas-tugas lain banyak yang harus
dikerjakan, kenapa buang waktu dengan bermalas-malasan memakai alas an
refreshing, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 23 Zulhijjah 1432.H/ 19 November
2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar