Senin, 15 Februari 2016

217. Malas



Bekerja merupakan fithrah manusia, bekerja bukan hanya karena kebutuhan untuk mendapatkan imbalan berupa uang, hasil, rezeki dan balasan lainnya, betapa banyak orang sudah mempunya semuanya tapi dia tetap bekerja bahkan ketekunan dalam bekerjanyapun tidak berkurang. Dan sebaliknya, ada orang yang walaupun sudah mempunyai segala-galanya sehingga bila investasi yang  dimiliki digunakan tidak akan habis untuk keperluan tujuh keturunan tapi mereka tidak mau berhenti bekerja.

Ayah saya seorang petani, setiap pagi hingga siang hari dia habiskan waktunya di ladang, kalaulah tidak bercocok tanam, dia menyiangi rumput-rumput liar yang ada pada tumbuhan yang baru di tanam, atau mempersiapkan lubang baru untuk menanam pohon tertentu, setiap waktu itu ada-ada saja yang dia lakukan seputar perladangan. Saat diajak ke kota dia tidak betah, karena di kota hanya diam saja walaupun makan minum serta uang disediakan untuknya, kami sebagai anak ingin sang ayah istirahat saja karena sejak dari muda dahulu sibuk terus bekerja, ternyata hal itu tidak menyehatkannya, di kota dia sering melamun, canggung dan bingung karena tidak ada kegiatan, akhirnya dibuatkan untuknya sebuah kedai kecil untuk berjualan mengisi kesibukannya.

            Ternyata tidak bekerja walaupun memiliki kebutuhan hidup tidaklah menyenangkan karena bekerja merupakan kekutuhan fisik dan kesenangan rohani bagi manusia sehingga ada ungkapan yang menyatakan,”Biarlah lelah bekerja daripada lelah menganggur”.Dalam bekerjapun tidaklah sembarang bekerja, ada pekerja yang hanya sekedar mencairkan otak dan keringat saja dan ada pula yang bekerja dengan ketekunan, hasilnya tentu berbeda, apalagi bekerja dengan malas-malasan tentu hasilnya sesuai dengan semangat malas.

            Seorang muslim harus siap bekerja karena bekerja selain mendatangkan imbalan juga mendapatkan pahala dari Allah karena bekerja itu merupakan ibadah, walaupun yang kita kerjakan belum tentu kita dapat menerimanya maka bekerja harus menjadi program setiap hari, Rasulullah bersabda bahwa Seandainya kamu mengetahu bahwa besok akan terjadi kiamat sedangkan di tanganmu ada butir-butir kurma maka tanamlah bibit itu. Ternyata islam tidak mengajarkan ummatnya untuk bermalas-malasan, apalagi hanya mengkhayal sambil mengucapkan “seandai, andaikata, apabila…..”

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya.Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas.Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung."(HR Abu Dawud).

Sikap tangkas dan cerdas yang di maksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat.Ini, sambung Syekh asy-Syaami, merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.

Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam pu atau malas melakukan se sua tu yang bermanfaat baginya dan ma syarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan," paparnya.

Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas as-Syaami, adalah orang yang paling merugi.

Mengapa dikatakan orang yang paling merugi?Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana.Seperti, perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang sehingga berani melanggar larangan agama.

Jadi, dia menambahkan, seorang hamba yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun maksiat.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati itu telah menjangkiti manusia, maka ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk bertobat. Untuk itu, Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, hamba meminta perlindungan kepadaMu dari kecemasan dan kesedihan."

Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya dengan kerelaan, sabar dan iman.

Demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya dengan kecemasan atau kekhawatiran.Maka itu, seseorang harus selalu siap membekali diri dengan sikap-sikap yang baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga.Jiwa seorang Muslim sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan disediakan bagi siapapun yang mampu menggapainya dengan semangat dan etos kuat.

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS al Jumu'ah [62] : 10) Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha, sementara anganangan atau kemalasan hanyalah angan-angan kosong.[Inilah Resep Islam Menjauhi Sikap Malas, republika.co.id.Selasa, 04 Mei 2010, 22:25 WIB].

Sikap optimis, giat bekerja, rajin beribadah, selalu mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat merupakan contoh teladan dari Rasulullah Saw.Beliau bangun jauh sebelum fajar, ketika tirai gelap malam masih meliputi segala sesuatu.Saat beliau mulai bergerak, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan semangat saya, memberikan saya kekuatan fisik dan mengizinkan saya untuk memuliakan-Nya."

Seberat apapun tantangan yang bakal dihadapi, beliau menyambutnya dengan optimisme.Dan, hal sekecil apapun tak luput disyukuri, termasuk kembalinya semangat untuk memulai hari.

Bahkan, terbit dan tenggelamnya matahari, adalah juga hal yang perlu kita syukuri."Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. " (QS Al Mu'min [40]: 61)

Kehidupan kita adalah suatu berkah terbesar yang kita terima dari Allah.Wujud terima kasih kita adalah dengan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya.Allah menawarkan kesempatan keberhasilan bagi siapa saja yang ingin berhasil.  Intinya, sikap optimis harus selalu dikedepankan.

Optimistis adalah suatu sikap yang selalu  berpandangan baik dalam menghadapi segala hal.  Optimis adalah lawan kata dari putus asa.  Putus asa timbul karena tiada kemauan dalam hati dan kurang meyakini rahmat Allah. Sikap optimistis merupakan bentuk keyakinan akan kemurahan Allah dan karunia-Nya  dan bahwa janji Allah adalah benar adanya.

Orang yang mempunyai sikap optimistis ialah orang yang mempunyai ketaatan dan menegakkan semua yang dituntut oleh keimanannya. Dia berharap agar Allah tidak memalingkannya, menerima amalnya, dan tidak menolaknya, serta melipatgandakan pahala-Nya.[Hikmah Pagi: Memulai Hari dengan Optimisme
Republika.co.id.Selasa, 28 Desember 2010, 05:00 WIB].

Ditinjau dari sisi Psikologis, malas memang bukan penyakit fisik yang dapat terlihat secara kasat mata, yang bisa dikonsultasikan ke dokter lalu kita cari obatnya di apotik.Malas memang salah satu penyakit yang sering hinggap pada kita, kadang ia datang di saat-saat yang sangat genting seperti saat deadline tugas atau saat-saat sibuk. Boleh jadi ia adalah masuk salah satu penyakit “berbahaya” karena menyerang pusat seluruh organ kita, hati.

Ia juga dapat disebut sebagai kelemahan mental, karena memang virus malas menyerang bagian penting dalam pergerakan hidup manusia, yakni mental.Dengannya kita dapat bersemangat dan optimis menatap hidup, ketiadaannyapun akan membuat manusia terus berada dalam jurang kepesimisan. Hebatnya lagi, penyakit ini tak memandang usia, golongan, tua, muda, anak-anak, remaja, semua dapat terkena ‘serangannya’.

Banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi malas, diantaranya; terlalu terbebani dengan tugas, tidak suka dengan pekerjaan yang ia kerjakan, keadaan yang tertekan, bawaan sejak lahir, terlalu banyak harapan (muluk) yang tidak dapat direalisasikan dan lain-lain. Tapi semua itu tak dapat dijadikan alasan seseorang untuk bermalas-malasan.[Wahai Muslim, Perangi Virus Malas! Hidayatullah.com Kamis, 30 September 2010].

Di dalam bukunya, Taichi Ohno, salah seorang kontributor cetak biru atau ”DNA” dari the Toyota Way menjelaskan:  ”Kura-kura yang lamban tetapi konsisten mengakibatkan lebih sedikit pemborosan dan jauh lebih diinginkan daripada kelinci yang cepat dan mengungguli perlombaan dan kemudian berhenti setelah selang beberapa waktu untuk beristirahat.  Toyota Production System hanya dapat direalisasikan jika semua karyawan menjadi kura-kura”.

Pemimpin-pemimpin Toyota lainnya sering pula mengungkapkan hal yang sama, yang isinya kira-kira adalah  ”Kami lebih suka lambat dan mantap seperti kura-kura daripada cepat dan tersentak-sentak seperti kelinci”.  Demikianlah salah satu filosofi di balik TPS yang kebanyakan berjangkauan jauh ke depan.  Meratakan beban kerja (heijunka) adalah salah satu cara untuk menghindari pemborosan (muda), ketidakseimbangan (mura), dan beban berlebih (muri).

Bagi umat Islam, filosofi di atas bukanlah hal yang terlalu baru.  Di dalam pandangan Islam, setiap peristiwa atau kejadian bukanlah suatu momentum diskrit tanpa konteks, tetapi adalah bagian dari sebuah kesinambungan hidup dan kehidupan, penghubung masa lalu dan masa depan.  Oleh karena itu, hanya orang-orang cerdas (ulil albab) -lah yang dapat memaknai setiap peristiwa dan mengambil pelajaran darinya untuk terus menerus melakukan perbaikan atau peningkatan (continuous improvement = kaizen).

Di dalam beramal (bekerja atau beribadah dalam arti luas), Rasulullah SAW berabad-abad lalu pernah mengajarkan, ”Amal yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit (HR Muttafaqun Alaih)”.  Karena lebih sering mendengarnya dari para kiai, ustadz atau guru agama, maka pikiran kita cenderung membatasinya.  Padahal ada hikmah lain dari sabda Rasul SAW (yang pasti berasal dari wahyu, bukan hawa nafsunya).   Satu di antaranya ditemukan oleh para pendiri dan pemimpin Toyota, yang mungkin belum pernah mengenal Rasulullah SAW apalagi berjumpa dengannya.[Abi Muhammad Ismail Halim, Bekerjalah Seperti Kura-kura, republika.co.id,Jumat, 17 Juni 2011 15:22 WIB].
Banyak aktivitas yang bisa dilakukan untuk membunuh kemalasan diantaranya menjadikan diri orang yang berkualitas melalui berbagai bimbingan, pendidikan dan tarbiyah yang memadai sehingga tampil diri yang berkualitas, berbuat dan beramal, serta berdakwah walaupun lambat tapi pasti, karena salah satu pekerjaan yang disukai Nabi adalah pekerjaan yang kecil tapi ajek artinya yang dikerjakan secara terus menerus.
Makna tarbiah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ra-tus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.
Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang di-tampilkan untuk ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disem-bunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya. [KH.Rahmat Abdullah, Cahaya Di Wajah Ummat, pks.or.id]
Satu ketika Umar bin Khattab menjelang siang melihat ada seorang pemuda yang sedang berada di Masjid, beribadah dengan shalat, do’a dan i’tikaf sementara ummat islam berjuang, bekerja mencari kehidupan, Umar masuk ke  masjid tersebut kemudian mengusir pemuda itu, agar keluar masjid dan jangan berlama-lama berada di masjid karena kini saatnya bekerja, membanting tulang dan memeras keringat. Di masjid saja kita tidak boleh berlama-lama walaupun beribadah apalagi hanya duduk-duduk di kedai kopi ngobrol yang tidak ada manfaatnya, atau jalan-jalan di mal sekedar mengisi waktu, sedangkan tugas-tugas lain banyak yang harus dikerjakan, kenapa buang waktu dengan bermalas-malasan memakai alas an refreshing, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 23 Zulhijjah 1432.H/ 19 November 2011.M].   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar