Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia
kepada Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar
objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari
thagut (semua yang di abdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya Islam.
Jika kita melihat ayat-ayat
Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan
fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan
menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat
untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah di manapun ia
berada.
Mengetahui keutamaan dakwah
termasuk faktor terpenting yang mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam
berdakwah dan menjaga semangat dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan
dakwah dapat menjadikannya merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah
betapapun beratnya.[Fadhail (Keutamaan) Dakwah, Dakwatuna.com.8/3/2009 | 12
Rabiul Awwal 1430 H].
Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak
ikut dalam perang Badar, padahal saat
itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu,
tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.
Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah
keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk dengan
ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah
pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.
Da'wah mengandung keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang
lebih baik di dunia ini selain pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu
diantaranya;
1.Merupakan nikmat
Allah terbesar kepada manusia
Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah nikmat iman atau hidayah yang
diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah bersabda; "Dan seandainya
Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih
baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga
terbenam" [HR. Bukhari Muslim].
Tanpa da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam
kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu
besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang dari kekafiran dan
mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.
2.Da'wah itu
pekerjaan para Nabi
Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia maka hal itu biasa, tapi pekerjaan
da'wah adalah pekerjaan yang luar biasa
karena ini merupakan pekerjaan para nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini
hingga hari akhir, alangkah mulianya kita bila mengemban pekerjaan para nabi "Dia
Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]
3.Pekerjaan yang
paling mulia disisi Allah
Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik,
tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu
berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah
pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang
yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul;"Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]
Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi
kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak
berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR.
Thahawi]
4.Membawa du'at
kepada kehidupan Rabbany
Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang
penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami
sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah
orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah
orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun tidak lupa belajar untuk kepentingan
peningkatan kualitas diri dan keluarganya;" Tidak wajar bagi seseorang
manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia
Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan
kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79].
Yang
dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu
secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik kamu adalah orang
yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]
5.Membahagiakan
hidup para pendukungnya
Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya
akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman
Allah dalam surat An Nahl 16;97"Barangsiapa yang mengerjakan amal
saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya
akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka
kerjakan"
Kebahagiaan hidup para da'i terletak di hati, tidak akan
dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Dakwah sebagai sebuah
panggilan jiwa, menjadi kewajiban setiap muslim.Mereka yang sadar terhadap
dakwah membutuhkan banyak pengorbanan besar.Tak hanya waktu, melainkan segenap
jiwa, harta dan potensi terbaik dirinya. Seorang pengusaha akan berdakwah dengan
hartanya. Da’i berjiwa penulis menginfakkan tulisan sebagai sumbangsih
mencerdaskan umat.Seorang khatib menggerakkan lisan untuk menyerukan dakwah bil
haq dari atas mimbar.
Terlepas apapun profesi
seorang da’i, dia tak menafikan kebutuhan harta.Seorang manusia berakal sehat
memerlukan harta sebagai lambang kecintaan duniawi.Tapi tidak bagi seorang
pendakwah, harta baginya adalah jalan menuju surga. Kita bisa belajar sejarah
sahabat Rasulullah saw bagaimana mereka menginfakkan hartanya. Utsman tak segan
berinfak 100 ekor unta. Abu Bakar ra mengambil keputusan “berani”. Beliau
menyerahkan semua hartanya kepada Rasulullah. Saking herannya, Rasulullah
menanyakan “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Beliau menjawab “ Allah
dan Rasulnya”. Umar sendiri tak ketinggalan menyerahkan sebagian harta demi
kepentingan jihad fisabilillah.
Miskinkah para sahabat?Tidak
bahkan sejarah mencatat kekayaan dinilai seujung kuku.Mushab Bin Umair
mencontohkan bagaimana harta tidak dapat membeli iman.Siapa menyangka, sosok
tampan dan hartawan mau meninggalkan kemewahan duniawi.Sentuhan iman dan Islam
melahirkan hidayah bagi perjalanan hidup Mushab.Usai mendengar keagungan Islam,
meluncur ucapan syahadat dari bibirnya. Sirnalah kemewahan harta, dan
jadilah Mushab jatuh miskin.Tapi kemiskinan tak melunturkan niatnya berdakwah.
Allah SWT mengangkat beliau sebagai duta besar muslim pertama untuk mensyiarkan
Islam.“Dan belanjakanlah (harta benda
kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri
dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik “ ( QS al-Baqarah (2) : 195)
Seorang da’i memotret harta
dalam sebuah ungkapan indah “Jangan engkau meletakkan harta di hatimu, tapi
letakkan harta di tanganmu”. Nilai prinsip ini menguatkan hati setiap muslim,
mereka diajarkan tidak mencintai harta berlebihan. Harta sebagai manifestasi
syukur kepada Allah bagaikan sebuah pisau tajam.Ketika digunakan dalam jalan
kebaikan, harta mengantarkan kita kepada surga Allah.Ketika dalam kejahatan,
harta menjadi bencana pengantar ke neraka. Sekarang tinggal bagaimana seorang
muslim khususnya da’i memandang harta di tangannya.[,cybersabili.Kamis, 04 November 2010 19:29 Eman
Mulyatman].
Kerja apa saja membutuhkan
dana yang tidak sedikit apalagi untuk mencapai sebuah kemenangan yaitu
kemenangan da’wah yang tidak hanya membutuhkan waktu satu generasi saja, bukan
pula hanya cukup dengan harta dari sekian dermawan tapi semua kita harus menyediakan
dana untuk itu, dengan bijak Hasan Al Banna mengajak para da’ untuk berda’wah
dengan harta sendiri, ungkapan itu menyatakan “Sunduquna juyubuna”. Selain dana
yang tidak sedikit yang dibutuhkan dalam da’wah, da’wah juga membutuhkan para
da’i yang militansinya luar biasa karena da’wah ini hanya membutuhkan
orang-orang yang siap bergelut dengan da’wah apapun kondisinya seorang da’i
dituntut untuk selalu tegar di jalan da’wah, suatu hal yang lumrah bila terjadi
hal-hal yang berkaitan dengan kejiwaan, yang penting seorang da’i tetap dalam
bingkai ukhuwah islamiyyah dan bimbingan para pemimpin da’wah.
Jalan dakwah ini pasti
dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para
aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah,
sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya,
tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.
Di antara mihnah itu ada yang
berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan
keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan.Kader dakwah harus
tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.
Agar tegar dalam menghadapi
ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan
saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni.
Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan
tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi
teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping
persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam
menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat,
waspada dan tetap bersama jamaah.
Agar tegar dalam menghadapi
tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan .Iman tidak bisa ditukar dengan
keluarga, jika memang itu pilihannya.Agar tegar dalam kondisi
kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya.Kekuatan ukhuwah
sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar.Agar
tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin
banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan
Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi
perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan
janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan
Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah![Abu
Nida, Resensi Buku, Tegar di Jalan Dakwah, dakwatuna.com.13/12/2010 |
06 Muharram 1432 H].
Kemangan
da’wah tidaklah datang dengan sendirinya, dia harus diperjuangkan melalui kerja
yang nyata, pengerahan dana yang tidak sedikit, selain itu kemenangan da’wah
tidak terlepas dari amal-amal harian yang harus dikerjakan oleh para pendukung
da’wah ini.
Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS
al-Hajj: 40-41)
Ini adalah janji yang Allah
ungkapkan berulang kali. Di surat Muhammad, Allah bersabda:Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad: 7)
Siapapun yang konsekuen
membela agama ini Allah member jaminan kemenangan.“Jika Allah menolong kamu,
Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu
(tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu
(selain) dari Allah sesudah itu?karena itu hendaklah kepada Allah saja
orang-orang mukmin bertawakkal.”
Ayat di atas adalah janji
Allah yang pasti terjadi. Hati yang beriman, jiwa yang penuh dengan cahaya
bashirah akan menangkap firman Allah ini sebagai jaminan yang pasti dipenuhi.
Tidak tersisa sedikitpun keraguan bahwa pembela agama Allah pasti akan
mendapatkan kemenangan.
Tapi ternyata Allah memberikan
criteria yang cukup spesifik.Sederhana dan jelas. Empat kriterianya: mendirikan
sholat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan melarang dari
yang munkar.[Fahmi Islam Jiwanto, MA, Syarat Kemenangan Dalam Dakwah, Dakwatuna; 17/1/2008 |
07 Muharram 1429 H].
Adapun tugas utama seorang
da’i dalam rangka untuk meraih kemenangan da’wah itu selain tetap menjaga
integritas pribadinya juga menjaga saudara-saudaranya yang terlibat dalam
da’wah, ada tiga tugas penting yang harus dijalankan pada dai dalam kancah ma’rakah
da’wah (bisa dalam bentuk amal tabligh, siyasiyah
(politik) hingga ghazwah (perang)).
Pertama,
seorang kader penggerak dakwah harus punya tugas moral untuk menjadi penggerak
semua rekan-rekan seperjuangnya untuk mau berpartisipasi dalam pemenangan
dakwah.Ini dilakukan dengan membangkitkan orientasi perjuangan (ittijah
jihadiyah) sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.“Hai
Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh
orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus
orang musuh.Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, mereka dapat
mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu
kaum yang tidak mengerti.”(Al-Anfaal: 65)
Kedua,
seorang penggerak dakwah yang sejati senantiasa mengawal perjuangan rekan-rekan
seperjuangannya agar mampu menjaga syakhsiyah rabbaniyah,
sebagaimana telah ditempa sebelumnya dalam proses panjang tarbiyah. Ma’rakah
siyasiyah, sebagai contoh, adalah medan ujian bagi soliditas
kepribadian (matanah syakhsiyah) para
kader penggerak dakwah, sebagai medan aktualisasi nilai dan fikrah yang
diyakini kebenarannya, serta sebagai medan tarbiyah maydaniyah
(pendidikan lapangan) yang sangat berharga. “Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan
sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang
keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia
serta menghalangi (orang) dari jalan Allah….” (Al-Anfaal: 45-47).
Ketiga,
seorang penggerak dakwah yang istiqomah akan selalu melakukan konsolidasi
kepribadian dan barisan dengan rekan-rekan seperjuangannya, baik ketika bersiap
maupun ketika kembali dari medan ma’rakah. Tidak bisa
dinafikan bahwa akan muncul masalah-masalah operasional (qadhaya
tathbiqiyah) yang menimpa sebagian jajaran kader dakwah sebagai
konsekuensi gesekan dan benturan di lapangan dakwah. Terutama ketika medan yang
mereka masuki adalah medan ma’rakahsiyasiyah yang penuh
fitnah. Karena itu, konsolidasi dan merapatkan barisan adalah solusi yang harus
senantiasa dilakukan; dan sarananya adalah kembali melakukan tarbiyah.“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya (dari medan perang),
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(At-Taubah: 122)
Inilah tiga tugas penting yang
harus dilakukan seorang kader penggeraka dakwah jika ingin memenangkan dakwah
di setiap medanma’rakah. Tugas ini harus
dilakukan secara terus menerus. Dengan begitu, ia bisa menjadi kader penggerak
dakwah yang responsif secara cepat dan tepat kala dakwah membutuhkannya.[Tiga
Tugas Dai Dalam Memenangkan Dakwah, Tim dakwatuna.com,1/6/2008 | 26 Jumadil Awal 1429 H].
Kemenangan da’wah itu
sebenarnya sudah Nampak dengan realitas kehidupan manusia khususnya ummat islam
yang secara pribadi menyadari bahwa islam harus diamalkan secara kaffah, ada
upaya untuk menegakkan syariat Islam dalam rumah tangganya denganmeninggalkan
segala sesuatu yang berbau jahiliyyah, begitu juga di masyarakat sudah
berkembang kehidupan yang islami pada beberapa sector seperti kaum muslimah
tidak ragu-ragu lagi mengenakan pakaian jilbab dalam aktivitasnya, tersebarnya
ekonomi yang bergerak di bidang syariah dengan meninggalkan secara pasti
ekonomi ribawi, demikian pula halnya keterlibatan pemerintah dan penguasa untuk
mensosialisasikan kehidupan yang islami melalui pemberantasan korupsi walaupun
masih pada tatatan politis.
Karena da’wah itu tidak seusia
seorang da’i, perjalanannya masih panjang sehingga kemenangan da’wah yang
merupakan kemenangan islam mungkin tidak sampai disaksikan oleh para da’i dan
penyokong da’wah tapi yang sebenarnya kemenangan da’wah itu sudah diperoleh para
da’i dengan keterlibatannya dalam da’wah, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19
Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar