Selasa, 16 Februari 2016

226. Kemenangan Dakwah



Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari thagut (semua yang di abdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Jika kita melihat ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama kafilah dakwah di manapun ia berada.

Mengetahui keutamaan dakwah termasuk faktor terpenting yang mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam berdakwah dan menjaga semangat dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan dakwah dapat menjadikannya merasa ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun beratnya.[Fadhail (Keutamaan) Dakwah, Dakwatuna.com.8/3/2009 | 12 Rabiul Awwal 1430 H].

Suatu hari Anas bin Nadhar kacewa karena dia tidak ikut  dalam perang Badar, padahal saat itu kemenangan dipihak ummat islam, yang dia sesalkan bukan kemenangan itu, tapi dalam kemenangan itu tidak ada kontribusinya.

            Dari realitas keberhasilan da’wah islam itu, adakah keterlibatan kita sebagai mubaligh di dalamnya atau hanya kita sibuk dengan ceramah tanpa melakukan pembinaan, da’wah bukanlah ceramah saja tapi adalah pembinaan walaupun didalamnya tidak bisa dilepaskan metode ceramah.

            Da'wah mengandung keutamaan, tidak satupun pekerjaan yang lebih baik di dunia ini selain pekerjaan da'wah, keutamaan da'wah itu diantaranya;

1.Merupakan nikmat Allah terbesar kepada manusia
            Diantara nikmat yang diberikan Allah ialah nikmat iman atau hidayah yang diperoleh dari perjuangan da'wah, Rasulullah bersabda; "Dan seandainya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit hingga terbenam" [HR. Bukhari Muslim].

            Tanpa da'wah maka tidaklah akan sampai iman dan islam kepada kita pada hari ini dan tentu kita masih dalam keadaan kafir, begitu besar nikmat da'wah itu sehingga mampu melepaskan orang dari kekafiran dan mengantarkan pengikutnya ke dalam syurga.

2.Da'wah itu pekerjaan para Nabi
            Apapun pekerjaan yang dilakukan manusia maka hal itu biasa, tapi pekerjaan da'wah  adalah pekerjaan yang luar biasa karena ini merupakan pekerjaan para nabi, da'i meneruskan pekerjaan nabi ini hingga hari akhir, alangkah mulianya kita bila mengemban pekerjaan para nabi "Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [Asy Syura 42;13]

3.Pekerjaan yang paling mulia disisi Allah
            Semua pekerjaan yang dilakukan manusia selama untuk kebaikan adalah baik, tapi dari sekian pekerjaan itu ada pekerjaan yang mulia dihadapan Allah yaitu berda'wah. Da'wah adalah pekerjaan yang paling tinggi nilainya, da'wah adalah pekerjaan orang-orang piihan yaitu nabi dan rasul maka juru da'wah adalah orang yang mulia setelah nabi dan rasul karena mereka melakukan pekerjaan rasul;"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"[Fushilat 41;33]

            Rasulullah bersabda; "Orang yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan memberi nasehat kepada manusia" [HR. Thahawi]

4.Membawa du'at kepada kehidupan Rabbany
            Da'wah membawa para da'i kepada kehidupan Rabbany yaitu kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai Ilahi, mereka tercelup pada kehidupan yang islami sehingga kehidupannya jauh dari hal-hal yang negatif dan tercela, mereka adalah orang-orang yang selalu mengajak orang kepada agama Allah dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengajar melalui pembinaan terhadap mad'unya namun  tidak lupa belajar untuk kepentingan peningkatan kualitas diri dan keluarganya;" Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya" [Ali Imran 3;79].

Yang dikatakan dengan Rabbani itu adalah orang yang selalu mengajar dan selalu secara terus menerus belajar Al Qur'an; "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarinya" [HR. Bukhari dan Muslim]

5.Membahagiakan hidup para pendukungnya
            Orang yang hidup dalam naungan da'wah islamiyah hidupnya akan tentram, jauh dari gundah gulana apalagi stres sebagaimana yang difirman Allah dalam surat An Nahl 16;97"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan"

            Kebahagiaan hidup para da'i terletak di hati, tidak akan dirasakan melainkan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Dakwah sebagai sebuah panggilan jiwa, menjadi kewajiban setiap muslim.Mereka yang sadar terhadap dakwah membutuhkan banyak pengorbanan besar.Tak hanya waktu, melainkan segenap jiwa, harta dan potensi terbaik dirinya. Seorang pengusaha akan berdakwah dengan hartanya. Da’i berjiwa penulis menginfakkan tulisan sebagai sumbangsih mencerdaskan umat.Seorang khatib menggerakkan lisan untuk menyerukan dakwah bil haq dari atas mimbar.

Terlepas apapun profesi seorang da’i, dia tak menafikan kebutuhan harta.Seorang manusia berakal sehat memerlukan harta sebagai lambang kecintaan duniawi.Tapi tidak bagi seorang pendakwah, harta baginya adalah jalan menuju surga. Kita bisa belajar sejarah sahabat Rasulullah saw bagaimana mereka menginfakkan hartanya. Utsman tak segan berinfak 100 ekor unta. Abu Bakar ra mengambil keputusan “berani”. Beliau menyerahkan semua hartanya kepada Rasulullah. Saking herannya, Rasulullah menanyakan “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Beliau menjawab “ Allah dan Rasulnya”. Umar sendiri tak ketinggalan menyerahkan sebagian harta demi kepentingan jihad fisabilillah.

Miskinkah para sahabat?Tidak bahkan sejarah mencatat kekayaan dinilai seujung kuku.Mushab Bin Umair mencontohkan bagaimana harta tidak dapat membeli iman.Siapa menyangka, sosok tampan dan hartawan mau meninggalkan kemewahan duniawi.Sentuhan iman dan Islam melahirkan hidayah bagi perjalanan hidup Mushab.Usai mendengar keagungan Islam, meluncur ucapan syahadat dari bibirnya.  Sirnalah kemewahan harta, dan jadilah Mushab jatuh miskin.Tapi kemiskinan tak melunturkan niatnya berdakwah. Allah SWT mengangkat beliau sebagai duta besar muslim pertama untuk mensyiarkan Islam.“Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “ ( QS al-Baqarah (2) : 195)

Seorang da’i memotret harta dalam sebuah ungkapan indah “Jangan engkau meletakkan harta di hatimu, tapi letakkan harta di tanganmu”. Nilai prinsip ini menguatkan hati setiap muslim, mereka diajarkan tidak mencintai harta berlebihan. Harta sebagai manifestasi syukur kepada Allah bagaikan sebuah pisau tajam.Ketika digunakan dalam jalan kebaikan, harta mengantarkan kita kepada surga Allah.Ketika dalam kejahatan, harta menjadi bencana pengantar ke neraka. Sekarang tinggal bagaimana seorang muslim khususnya da’i memandang harta di tangannya.[Dakwah Kita Dari Harta Kita,cybersabili.Kamis, 04 November 2010 19:29 Eman Mulyatman].

Kerja apa saja membutuhkan dana yang tidak sedikit apalagi untuk mencapai sebuah kemenangan yaitu kemenangan da’wah yang tidak hanya membutuhkan waktu satu generasi saja, bukan pula hanya cukup dengan harta dari sekian dermawan tapi semua kita harus menyediakan dana untuk itu, dengan bijak Hasan Al Banna mengajak para da’ untuk berda’wah dengan harta sendiri, ungkapan itu menyatakan “Sunduquna juyubuna”. Selain dana yang tidak sedikit yang dibutuhkan dalam da’wah, da’wah juga membutuhkan para da’i yang militansinya luar biasa karena da’wah ini hanya membutuhkan orang-orang yang siap bergelut dengan da’wah apapun kondisinya seorang da’i dituntut untuk selalu tegar di jalan da’wah, suatu hal yang lumrah bila terjadi hal-hal yang berkaitan dengan kejiwaan, yang penting seorang da’i tetap dalam bingkai ukhuwah islamiyyah dan bimbingan para pemimpin da’wah.

Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya, tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.

Di antara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan.Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.

Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah.

Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan .Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya.Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya.Kekuatan ukhuwah sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar.Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah![Abu Nida, Resensi Buku, Tegar di Jalan Dakwah, dakwatuna.com.13/12/2010 | 06 Muharram 1432 H].

            Kemangan da’wah tidaklah datang dengan sendirinya, dia harus diperjuangkan melalui kerja yang nyata, pengerahan dana yang tidak sedikit, selain itu kemenangan da’wah tidak terlepas dari amal-amal harian yang harus dikerjakan oleh para pendukung da’wah ini.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS al-Hajj: 40-41)

Ini adalah janji yang Allah ungkapkan berulang kali. Di surat Muhammad, Allah bersabda:Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad: 7)

Siapapun yang konsekuen membela agama ini Allah member jaminan kemenangan.“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

Ayat di atas adalah janji Allah yang pasti terjadi. Hati yang beriman, jiwa yang penuh dengan cahaya bashirah akan menangkap firman Allah ini sebagai jaminan yang pasti dipenuhi. Tidak tersisa sedikitpun keraguan bahwa pembela agama Allah pasti akan mendapatkan kemenangan.

Tapi ternyata Allah memberikan criteria yang cukup spesifik.Sederhana dan jelas. Empat kriterianya: mendirikan sholat, menunaikan zakat, memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan melarang dari yang munkar.[Fahmi Islam Jiwanto, MA, Syarat Kemenangan Dalam Dakwah, Dakwatuna; 17/1/2008 | 07 Muharram 1429 H].

Adapun tugas utama seorang da’i dalam rangka untuk meraih kemenangan da’wah itu selain tetap menjaga integritas pribadinya juga menjaga saudara-saudaranya yang terlibat dalam da’wah, ada tiga tugas penting yang harus dijalankan pada dai dalam kancah ma’rakah da’wah (bisa dalam bentuk amal tabligh, siyasiyah (politik) hingga ghazwah (perang)).

Pertama, seorang kader penggerak dakwah harus punya tugas moral untuk menjadi penggerak semua rekan-rekan seperjuangnya untuk mau berpartisipasi dalam pemenangan dakwah.Ini dilakukan dengan membangkitkan orientasi perjuangan (ittijah jihadiyah) sebagai bukti kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”(Al-Anfaal: 65)

Kedua, seorang penggerak dakwah yang sejati senantiasa mengawal perjuangan rekan-rekan seperjuangannya agar mampu menjaga syakhsiyah rabbaniyah, sebagaimana telah ditempa sebelumnya dalam proses panjang tarbiyah. Ma’rakah siyasiyah, sebagai contoh, adalah medan ujian bagi soliditas kepribadian (matanah syakhsiyah) para kader penggerak dakwah, sebagai medan aktualisasi nilai dan fikrah yang diyakini kebenarannya, serta sebagai medan tarbiyah maydaniyah (pendidikan lapangan) yang sangat berharga. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah….” (Al-Anfaal: 45-47).

Ketiga, seorang penggerak dakwah yang istiqomah akan selalu melakukan konsolidasi kepribadian dan barisan dengan rekan-rekan seperjuangannya, baik ketika bersiap maupun ketika kembali dari medan ma’rakah. Tidak bisa dinafikan bahwa akan muncul masalah-masalah operasional (qadhaya tathbiqiyah) yang menimpa sebagian jajaran kader dakwah sebagai konsekuensi gesekan dan benturan di lapangan dakwah. Terutama ketika medan yang mereka masuki adalah medan ma’rakahsiyasiyah yang penuh fitnah. Karena itu, konsolidasi dan merapatkan barisan adalah solusi yang harus senantiasa dilakukan; dan sarananya adalah kembali melakukan tarbiyah.“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya (dari medan perang), supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(At-Taubah: 122)

Inilah tiga tugas penting yang harus dilakukan seorang kader penggeraka dakwah jika ingin memenangkan dakwah di setiap medanma’rakah. Tugas ini harus dilakukan secara terus menerus. Dengan begitu, ia bisa menjadi kader penggerak dakwah yang responsif secara cepat dan tepat kala dakwah membutuhkannya.[Tiga Tugas Dai Dalam Memenangkan Dakwah, Tim dakwatuna.com,1/6/2008 | 26 Jumadil Awal 1429 H].

Kemenangan da’wah itu sebenarnya sudah Nampak dengan realitas kehidupan manusia khususnya ummat islam yang secara pribadi menyadari bahwa islam harus diamalkan secara kaffah, ada upaya untuk menegakkan syariat Islam dalam rumah tangganya denganmeninggalkan segala sesuatu yang berbau jahiliyyah, begitu juga di masyarakat sudah berkembang kehidupan yang islami pada beberapa sector seperti kaum muslimah tidak ragu-ragu lagi mengenakan pakaian jilbab dalam aktivitasnya, tersebarnya ekonomi yang bergerak di bidang syariah dengan meninggalkan secara pasti ekonomi ribawi, demikian pula halnya keterlibatan pemerintah dan penguasa untuk mensosialisasikan kehidupan yang islami melalui pemberantasan korupsi walaupun masih pada tatatan politis.

Karena da’wah itu tidak seusia seorang da’i, perjalanannya masih panjang sehingga kemenangan da’wah yang merupakan kemenangan islam mungkin tidak sampai disaksikan oleh para da’i dan penyokong da’wah tapi yang sebenarnya kemenangan da’wah itu sudah diperoleh para da’i dengan keterlibatannya dalam da’wah, wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 19 Zulhijjah 1432.H/ 15 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar