Selasa, 16 Februari 2016

222. Khusyu'



Shalat merupakan ibadah wajib yang harus dikerjakan oleh ummat islam sesuai dengan tuntunan syari’at, bahkan sejak kecil kewajiban ini harus sudah ditanamkan kepada anak pada usia tujuh tahun, pada usia sepuluh tahun anak tidak mengerjakan shalat maka diperbolehkan memukulnya tentu pukulan pendidikan.

Abi Muhammad Ismail Halim mengungkapkan dimensi shalat dalam kehidupan, sebagaimana yang disampaikan pada Republika.online dibawah ini;

As-Shalah adalah nama lain untuk surah pembuka dalam al-Qur'an al-Karim. Al-Fatihah adalah bagian integral dari shalat, tidak ada shalat tanpa Al-Fatihah.Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an di dalamnya, maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (HR Muslim). Al-Fatihah dikenal pula sebagai 'tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang' (sab'al matsani) di dalam shalat, baik wajib maupun sunah. (QS al-Hijr [15]: 87).

Di dalam sebuah hadis Qudsi, secara eksplisit Allah SWT mengidentikkan al-Fatihah dengan as-Shalah. Nabi SAW bersabda, "Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Apabila hamba membaca: "Alhamdulillahi rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku memuji Aku." Apabila ia membaca "Arrahmanirrahim" (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku menyanjung Aku."

Apabila ia membaca: "Maliki yaumiddin" (Yang Memiliki hari Pembalasan), maka Allah berfirman: "Hamba-Ku memuliakan Aku", dan sekali waktu Dia berfirman: "Hamba-Ku menyerah kepada-Ku". Apabila ia membaca: "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in" (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan), Allah berfirman: "Ini antara Aku dan hambaKu, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya."

Apabila ia membaca: "Ihdinashshirathal mustaqim. Shirathal ladzina an'amta alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wa ladhdhallin" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri petunjuk atas mereka bukan [jalan] orang-orang yang dimurkai atas mereka dan bukan [jalan] orang-orang yang sesat). Maka, Allah berfirman: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya." (HR Muslim).

Di dalam shalat terjadi dialog yang sangat indah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya juga terangkum penghormatan, penghargaan, pengakuan, dan cinta sejati (hamd), harap (raja'), dan cemas (khauf).

Selain dimensi vertikal, di dalam shalat terbangun pula sendi-sendi dari sebuah masyarakat madani (civil society).Shalat berjamaah merefleksikan interaksi horizontal yang tertib dan teratur.Shaf-shaf shalat berjamaah memancarkan keindahan dari sebuah keteraturan dan ketertiban yang terbangun di atas dasar ketaatan, persaudaraan, dan kesetaraan. Selain interaksi fisik, terjalin pula ikatan hati di antara para jamaah baik secara lokal maupun global melalui doa-doa kolektif dan salam yang ditebarkan sebagai penutupnya.

Shalat berjamaah mengajarkan pula prinsip-prinsip kepemimpinan.Pemimpin atau imam shalat, dipilih berdasarkan kompetensi dan integritasnya. Jika imam salah, makmum berkewajiban mengingatkan, bahkan pemimpin yang tidak lagi memenuhi persyaratan.[Beginilah Dimensi Shalat ,Saturday, 25 June 2011 11:01 WIB].

Ketika ada dialoq dengan beberapa orang secara terpisah tentang prihal kenapa mereka tidak menegakkan shalat, jawabannya hampir sama yaitu belum bisa khusyu’ dalam shalat, nampaknya khusyu’ jadi alasan untuk tidak shalat, demikian pentingnya shalat khusyu’ bagi mereka yang tidak shalat. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 2;45-46; Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnyayang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yangkhusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemuiRabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

               Dari ayat tersebut di atas makna dari khusyu' adalah meyakini akanbertemu dengan Rabb kita dan yakin pula bahwa kita akan kembalikepadaNya.

               Kemudian dalam salah satu Hadits Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa shalatitu adalah mi'raj bagi orang Islam, atau petemuan/menghadap kepada Allahs.w.t.Nah kalau kita tahu bahwa shalat itu adalah menghadap Allah, dan kitayakin bahwa Allah sedang mengawasi kita, maka kita akan bersikaphati-hati dalam shalat kita. Contohnya sederhana seseorang yangmenghadap orang yang dikagumi/disegani misalnya menghadap calon mertua,maka dia pun akan bersikap dan berkata hati-hati, penuh hormat danmungkin ada rasa takut. Apalagi kalau kita menghadap Sang Maha Raja YangMaha Kuasa, sudah barang tentu sikap kita akan jauh lebih baikdibandingkan dengan menghadap calon mertua tersebut.

               Sehubungan dengan itu, dalam shalat kita berikrar, berjanji, bertasbih,bertakbir, berdo'a, menyembah, menyerahkan diri kepadaNya.Padahakekatnya menjalankan shalat melakukan komunikasi dengan Yang MahaPerkasa. Sudah barang tentu kita mengharapkan agar komunikasi kitatersebut dapat diterima oleh Allah Azza wa Jalla dengan baik, olehkarena itu penyampaiannyapun harus dengan cara yang baik.

               Dalam surat An Nisa’4:43 Allah berfirman;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamudalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.

               Orang yang beriman tidak boleh melakukan shalat kalau tidak mengerti apayang diucapkan, karena orang yang tidak mengerti ucapannya sendiriibarat orang mabuk, mabuk hamer, mabuk dunia, mabuk asmara, mabukrupiah, mabuk kerja dsb. dsb. Oleh karena itu menurut ayat ini adalahmerupakan suatu keharusan untuk mengerti ucapan kita pada saat sedangshalat.[Ahmad Zubair, Agar Shalat Khusyu’KTPDI, 1999-2005].
“Sesungguhnya beRuntunglah ORang-ORang yang beRiman, (yaitu) ORang-ORang yang khusyu' dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minun: 1-2) 

Dengan khusu’ seseORang yang shalat dapat menyatukan antaRa kebeRhasilan lahiRiyan dan kebeRsihan batiniyah, ketika dia beRkata dalam Ruku’nya,“Khusyu’ kepadaMu pendengaRanku, penglihatanku, Otakku, tulangku dan OtOt-OtOtku.” (HR. Muslim)“Dan apa yang ditOpang Oleh kedua kakiku.” (HR. Ahmad). 

Dengan kekhusyu’an, akan diampuni dOsa-dOsa dan dihapus kesalahan-kesalahan, dan ditulislah shalat di timbangan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam shahih Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam beRsabda, “Tidaklah seORang muslim mendapati shalat wajib, kemudian dia menyempuRnakan wudhu, khusu’ dan Ruku’nya, kecuali akan menjadi penghapus bagi dOsa-dOsanya yang telah lalu, selama tidak melakukan dOsa besaR, dan ini untuk sepanjang masa.” (HR. Muslim) 

Shalat apabila dihiasi dengan khusyu’ dalam peRkataan, dan geRakkannya dihiasi dengan keRendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh ia akan bisa menahan pelakunya daRi kekejian dan kemungkaRan. Hatinya beRsinaR, keimanannya meningkat, kecintaannya semakin kuat, untuk melaksanakan kebaikan, dan keinginannya untuk beRbuat kejelakan akan siRna. Dengan khusyu’, beRtambahlah munajat seseORang kepada Rabbnya, demikian pula kedekatan Rabbnya kepadanya. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’I meRiwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Senantiasa Allah ‘Azza wa Jalla menghadap hambaNya di dalam shalatnya, selama dia (hamba) tidak beRpaling. Apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun beRpaling daRinya.”

Khusyu’ memiliki kedudukan yang sangat besaR.Ia sangat cepat hilangnya, dan jaRang sekali didapatkan. TeRlebih lagi pada jaman kita sekaRang ini.Tidak bisa menggapai khusyu’ dalam shalat meRupakan musibah dan penyakit yang paling besaR. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meRasa peRlu beRlindung daRinya, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRdO’a,“Ya Allah, Aku beRlindung kepadaMu daRi hati yang tidak khusyu’. (HR. at-TiRmidzi) 

Dan tidaklah penyimpangan mORal menimpa sebagian kaum muslimin, kecuali kaRena shalat meReka bagaikan bangkai tanpa Ruh, dan sebatas geRakan belaka. Ath-ThabRani dan selainnya meRiwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,“Yang peRtama kali diangkat daRi umatku adalah khusyu’ sehingga engkau tidak akan melihat seORang pun yang khusyu’.”

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu beRkata, “Yang peRtama kali hilang daRi agama kalian adalah khusyu’, dan yang teRakhiR kali hilang daRi agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseORang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampiR-hampiR engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seORangpun yang khusyu’. [Khusyu' dalam Shalatdan PengaRuhnya bagi SeORang Muslim, Majalah as-Sunnah, SOlO. Edisi 01/X/1427H/2006M].

Shalat yang tidak khusyu’ banyak factor penyebabnya diantaranya karena fikiran yang kacau, fikiran yang panic serta banyaknya permasalahan hidup yang dirasakan, seharusnya ketika shalat segala fikiran yang mengacaukan itu tidak terlibat didalamnya, tapi bila fikiran yang berkecamuk selalu hadir dalam shalat, Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan resepnya yaitu;

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma’ninah dalam melaksanakannya, beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda.“Jika engkau hendak mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu bangkitlah (berdiri dari ruku’) sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua shalatmu” [Al-Bukhari dan Muslim]

Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Allah dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu’ dan konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga selamatlah anda dari bisikkannya. Jika dalam shalat anda terasa banyak godaan, meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Allah tiga kali dari godaan syetan yang terkutuk, insya Allah hal ini akan membebaskan anda.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh salah seorang sahabatnya melakukan itu, ketika orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah menyelinap diantara diriku dan shalatku serta bacaanku, ia mengacaukan shalatku” [HR.Muslim]

Jadi, anda tidak perlu mengulangi shalat karena godaan, akan tetapi hendaknya anda sujud sahwi jika anda telah melakukan apa yang diwajibkan itu. Misalnya, anda tidak melakukan tasyahud awal karena lupa, atau tidak membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud karena lupa, atau anda ragu apakah tiga raka’at atau empat raka’at ketika shalat Zhuhur umpamanya, maka anggaplah itu tiga raka’at, lalu sempurnakanlah shalat, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam. Jika dalam shalat Maghrib anda ragu apakah baru dua raka’at atau sudah tiga raka’at, maka anggaplah itu baru dua raka’at lalu sempurnakan, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam, karena demikianlah yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[Kacaunya fikiran ketika shalat, almanhaj.or.id,Kamis, 25 Maret 2004 21:58:22 WIB].

Nabi Muhammad SAW dalam sholatnya benar-benar dijadikan keindahan dan terjadi komunikasi yang penuh kerinduan dan keakraban dengan Allah.Ruku, sujudnya panjang, terutama ketika sholat sendiri dimalam hari, terkadang sampai kakinya bengkak tapi bukannya berlebihan, karena ingin memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur terhadap Tuhannya.Sholatnya tepat pada waktunya dan yang paling penting, sholatnya itu teraflikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri orang-orang yang sholatnya khusyu:
  1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.
  2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.
  3. Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
  4. Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.
  5. Selalu tenag dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
  6. Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya Rosulullah.
  7. Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.
Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.

Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena takut ria. 

Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar menjadikan akhlak yang baik.Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.[Barokah Shalat Khusyu,K.H. Abdullah Gymnastiar].

Bagaimanapun sulitnya untuk melakukan shalat khusyu’ maka seorang muslim tidak boleh meninggalkan shalat, apalagi menjadikan alasan untuk tidak shalat karena belum khusyu’, sedangkan orang yang shalat saja masih juga tidak khusyu’ apalagi yang tidak shalat, dimana mereka akan menemukan khusyu’.Apalagi dalam kondisi yang serba kacau, galau dan banyaknya problematika hidup yang dilalui membuat seorang muslim bisa saja meninggalkan shalat, padahal apapun juga problematika hidup kalaulah belum bisa khusyu’ dalam shalat dan belum menemukan ketenangan hasil dari shalat, maka shalat tidak boleh ditinggalkan.

Di zaman yang semakin dekat dengan HaRi AkhiR ini, kita menyaksikan suatu fenOmena mempRihatinkan yang menimpa kaum Muslimin, yaitu sebuah kenyataan bahwa sangat banyak di antaRa manusia yang mengaku beRagama Islam namun tidak memahami hakikat agama Islam yang dianutnya, bahkan tingkah laku kesehaRian meReka sangatlah jauh daRi nilai-nilai Islam itu sendiRi. 

Di antaRa bentuk Riil kOndisi sebagian kaum Muslimin yang sangat menyedihkan teRsebut adalah semakin banyaknya ORang-ORang Islam masa sekaRang yang mulai meRemehkan dan menyia-nyiakan shalat, bahkan tidak sedikit daRi meReka yang beRani meninggalkannya dengan sengaja dan teRang-teRangan.
            Padahal dalam agama Islam, shalat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi Oleh ibadah lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meneRima wahyu peRintah shalat, yaitu dengan dimi'-Rajkan ke langit didampingi malaikat JibRil ‘Alaihis salam. Setelah beliau sampai di SidRatul Muntaha, Allah Ta’ala beRbicaRa langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang demikian itu menunjukkan bahwa betapa agung kedudukan ibadah shalat dalam Islam, kaRena ia adalah tiang agama, di mana agama ini tidak akan tegak kecuali dengannya.Zuhdi Amin, Lc. ,Jangan PeRnah Tinggalkan Shalatmu, Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta].
            Shalat selain ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim hanya lima waktu dalam sehari semalam, dia juga merupakan identitas yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir sehingga dengan tegas Rasul menyatakan bahwa beda mukmin dengan kafir hanya terletak dari shalatnya, intinya kalau seorang muslim tidak shalat maka tidak beda dengan orang kafir, biasanya kita tidak mau disebut sebagai kafir karena kita bangga dengan keislaman yang kita miliki tapi sangat disesalkan sekali bila mukmin tidak shalat, khusyu’ adalah sebuah upaya agar shalat itu sempurna, bila shalat belum khusyu’ dan belum sempurna maka jangan tinggalkan shalat, selalulah shalat yang diiringi dengan pedambahan ilmu agama dan peningkatan iman sehingga dari waktu ke waktu hal itu akan mendatangkan kekhusyu’an dalam shalat,  wallahu a’lam, [Cubadak Solok, 20 Zulhijjah 1432.H/ 16 November 2011.M].   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar