Shalat merupakan
ibadah wajib yang harus dikerjakan oleh ummat islam sesuai dengan tuntunan
syari’at, bahkan sejak kecil kewajiban ini harus sudah ditanamkan kepada anak
pada usia tujuh tahun, pada usia sepuluh tahun anak tidak mengerjakan shalat
maka diperbolehkan memukulnya tentu pukulan pendidikan.
Abi
Muhammad Ismail Halim mengungkapkan dimensi shalat dalam kehidupan, sebagaimana
yang disampaikan pada Republika.online dibawah ini;
As-Shalah adalah nama
lain untuk surah pembuka dalam al-Qur'an al-Karim. Al-Fatihah adalah
bagian integral dari shalat, tidak ada shalat tanpa Al-Fatihah.Rasulullah SAW
pernah bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca Ummul Qur'an
di dalamnya, maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan
tidak sempurna." (HR Muslim). Al-Fatihah dikenal pula sebagai 'tujuh ayat
yang dibaca berulang-ulang' (sab'al matsani) di dalam shalat, baik
wajib maupun sunah. (QS al-Hijr [15]: 87).
Di dalam sebuah hadis Qudsi, secara
eksplisit Allah SWT mengidentikkan al-Fatihah dengan as-Shalah. Nabi
SAW bersabda, "Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Aku
membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang
dimintanya. Apabila hamba membaca: "Alhamdulillahi rabbil
'alamin" (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), maka Allah Yang
Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku memuji Aku." Apabila ia
membaca "Arrahmanirrahim" (Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang), maka Allah Yang Mahamulia dan Mahabesar berfirman: "Hamba-Ku
menyanjung Aku."
Apabila ia membaca: "Maliki
yaumiddin" (Yang Memiliki hari Pembalasan), maka Allah berfirman:
"Hamba-Ku memuliakan Aku", dan sekali waktu Dia berfirman:
"Hamba-Ku menyerah kepada-Ku". Apabila ia membaca: "Iyyaka
na'budu wa iyyaka nasta'in" (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya
kepada-Mu kami mohon pertolongan), Allah berfirman: "Ini antara Aku dan
hambaKu, dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya."
Apabila ia membaca: "Ihdinashshirathal
mustaqim. Shirathal ladzina an'amta alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim wa
ladhdhallin" (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan
orang-orang yang Engkau beri petunjuk atas mereka bukan [jalan] orang-orang
yang dimurkai atas mereka dan bukan [jalan] orang-orang yang sesat). Maka,
Allah berfirman: "Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang
dimintanya." (HR Muslim).
Di dalam shalat terjadi dialog yang
sangat indah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya juga terangkum
penghormatan, penghargaan, pengakuan, dan cinta sejati (hamd), harap (raja'),
dan cemas (khauf).
Selain dimensi vertikal, di dalam shalat
terbangun pula sendi-sendi dari sebuah masyarakat madani (civil society).Shalat
berjamaah merefleksikan interaksi horizontal yang tertib dan teratur.Shaf-shaf
shalat berjamaah memancarkan keindahan dari sebuah keteraturan dan ketertiban
yang terbangun di atas dasar ketaatan, persaudaraan, dan kesetaraan. Selain
interaksi fisik, terjalin pula ikatan hati di antara para jamaah baik secara
lokal maupun global melalui doa-doa kolektif dan salam yang ditebarkan sebagai
penutupnya.
Shalat berjamaah mengajarkan pula
prinsip-prinsip kepemimpinan.Pemimpin atau imam shalat, dipilih berdasarkan
kompetensi dan integritasnya. Jika imam salah, makmum berkewajiban
mengingatkan, bahkan pemimpin yang tidak lagi memenuhi persyaratan.[Beginilah
Dimensi Shalat ,Saturday, 25 June 2011 11:01 WIB].
Ketika ada dialoq dengan beberapa orang
secara terpisah tentang prihal kenapa mereka tidak menegakkan shalat,
jawabannya hampir sama yaitu belum bisa khusyu’ dalam shalat, nampaknya khusyu’
jadi alasan untuk tidak shalat, demikian pentingnya shalat khusyu’ bagi mereka
yang tidak shalat. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 2;45-46; Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnyayang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yangkhusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini,
bahwa mereka akan menemuiRabbnya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Dari
ayat tersebut di atas makna dari khusyu' adalah meyakini akanbertemu dengan
Rabb kita dan yakin pula bahwa kita akan kembalikepadaNya.
Kemudian
dalam salah satu Hadits Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa shalatitu adalah
mi'raj bagi orang Islam, atau petemuan/menghadap kepada Allahs.w.t.Nah kalau
kita tahu bahwa shalat itu adalah menghadap Allah, dan kitayakin bahwa Allah
sedang mengawasi kita, maka kita akan bersikaphati-hati dalam shalat kita.
Contohnya sederhana seseorang yangmenghadap orang yang dikagumi/disegani
misalnya menghadap calon mertua,maka dia pun akan bersikap dan berkata
hati-hati, penuh hormat danmungkin ada rasa takut. Apalagi kalau kita menghadap
Sang Maha Raja YangMaha Kuasa, sudah barang tentu sikap kita akan jauh lebih
baikdibandingkan dengan menghadap calon mertua tersebut.
Sehubungan
dengan itu, dalam shalat kita berikrar, berjanji, bertasbih,bertakbir, berdo'a,
menyembah, menyerahkan diri kepadaNya.Padahakekatnya menjalankan shalat
melakukan komunikasi dengan Yang MahaPerkasa. Sudah barang tentu kita
mengharapkan agar komunikasi kitatersebut dapat diterima oleh Allah Azza wa
Jalla dengan baik, olehkarena itu penyampaiannyapun harus dengan cara yang baik.
Dalam
surat An Nisa’4:43 Allah berfirman;Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamudalam keadaan
mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.
Orang
yang beriman tidak boleh melakukan shalat kalau tidak mengerti apayang diucapkan,
karena orang yang tidak mengerti ucapannya sendiriibarat orang mabuk, mabuk
hamer, mabuk dunia, mabuk asmara, mabukrupiah, mabuk kerja dsb. dsb. Oleh
karena itu menurut ayat ini adalahmerupakan suatu keharusan untuk mengerti
ucapan kita pada saat sedangshalat.[Ahmad Zubair, Agar Shalat Khusyu’KTPDI, 1999-2005].
“Sesungguhnya
beRuntunglah ORang-ORang yang beRiman, (yaitu) ORang-ORang yang khusyu' dalam
shalatnya.” (QS. al-Mu’minun: 1-2)
Dengan khusu’ seseORang
yang shalat dapat menyatukan antaRa kebeRhasilan lahiRiyan dan kebeRsihan
batiniyah, ketika dia beRkata dalam Ruku’nya,“Khusyu’ kepadaMu pendengaRanku, penglihatanku, Otakku,
tulangku dan OtOt-OtOtku.” (HR. Muslim)“Dan
apa yang ditOpang Oleh kedua kakiku.” (HR. Ahmad).
Dengan
kekhusyu’an, akan diampuni dOsa-dOsa dan dihapus kesalahan-kesalahan, dan
ditulislah shalat di timbangan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam shahih
Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam beRsabda, “Tidaklah seORang muslim mendapati shalat
wajib, kemudian dia menyempuRnakan wudhu, khusu’ dan Ruku’nya, kecuali akan
menjadi penghapus bagi dOsa-dOsanya yang telah lalu, selama tidak melakukan
dOsa besaR, dan ini untuk sepanjang masa.” (HR. Muslim)
Shalat apabila dihiasi
dengan khusyu’ dalam peRkataan, dan geRakkannya dihiasi dengan keRendahan,
ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh ia akan bisa menahan
pelakunya daRi kekejian dan kemungkaRan. Hatinya beRsinaR, keimanannya
meningkat, kecintaannya semakin kuat, untuk melaksanakan kebaikan, dan
keinginannya untuk beRbuat kejelakan akan siRna. Dengan khusyu’, beRtambahlah
munajat seseORang kepada Rabbnya, demikian pula kedekatan Rabbnya kepadanya.
Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’I meRiwayatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, “Senantiasa Allah ‘Azza wa Jalla menghadap hambaNya di dalam shalatnya,
selama dia (hamba) tidak beRpaling. Apabila
dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun beRpaling daRinya.”
Khusyu’ memiliki
kedudukan yang sangat besaR.Ia sangat cepat hilangnya, dan jaRang sekali
didapatkan. TeRlebih lagi pada jaman kita sekaRang ini.Tidak bisa menggapai
khusyu’ dalam shalat meRupakan musibah dan penyakit yang paling besaR.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga meRasa peRlu beRlindung daRinya,
sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam beRdO’a,“Ya Allah, Aku
beRlindung kepadaMu daRi hati yang tidak khusyu’. (HR. at-TiRmidzi)
Dan tidaklah penyimpangan mORal menimpa sebagian kaum muslimin, kecuali
kaRena shalat meReka bagaikan bangkai tanpa Ruh, dan sebatas geRakan belaka. Ath-ThabRani dan
selainnya meRiwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda,“Yang peRtama kali
diangkat daRi umatku adalah khusyu’ sehingga engkau tidak akan melihat seORang
pun yang khusyu’.”
Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu beRkata, “Yang peRtama kali hilang daRi agama kalian adalah khusyu’, dan yang
teRakhiR kali hilang daRi agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseORang
yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampiR-hampiR engkau masuk masjid tanpa
menjumpai di dalamnya seORangpun yang khusyu’. [Khusyu' dalam Shalatdan PengaRuhnya bagi SeORang Muslim, Majalah
as-Sunnah, SOlO. Edisi 01/X/1427H/2006M].
Shalat yang
tidak khusyu’ banyak factor penyebabnya diantaranya karena fikiran yang kacau,
fikiran yang panic serta banyaknya permasalahan hidup yang dirasakan,
seharusnya ketika shalat segala fikiran yang mengacaukan itu tidak terlibat
didalamnya, tapi bila fikiran yang berkecamuk selalu hadir dalam shalat, Syaikh Abdul Aziz bin Baz memberikan resepnya yaitu;
Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang
tidak sempurna shalatnya dan tidak thuma’ninah dalam melaksanakannya, beliau
menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya, beliaupun bersabda.“Jika engkau hendak
mendirikan shalat, sempurnakanlah wudhu, lalu berdirilah menghadap kiblat
kemudian bertakbirlah (takbiratul ihram), lalu bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang
mudah bagimu, kemudian ruku’lah sampai engkau tenang dalam posisi ruku, lalu
bangkitlah (berdiri dari ruku’) sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah
sampai engkau tenang dalam posisi sujud, lalu bangkitlah (dari sujud) sampai
engkau tenang dalam posisi duduk. Kemudian, lakukan itu semua dalam semua
shalatmu” [Al-Bukhari dan Muslim]
Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Allah
dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu’ dan
konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga
selamatlah anda dari bisikkannya. Jika dalam shalat anda terasa banyak godaan,
meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Allah tiga kali
dari godaan syetan yang terkutuk, insya Allah hal ini akan membebaskan anda.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh salah
seorang sahabatnya melakukan itu, ketika orang tersebut berkata, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya syetan telah menyelinap diantara diriku dan shalatku
serta bacaanku, ia mengacaukan shalatku” [HR.Muslim]
Jadi, anda tidak perlu mengulangi shalat karena godaan, akan
tetapi hendaknya anda sujud sahwi jika anda telah melakukan apa yang diwajibkan
itu. Misalnya, anda tidak melakukan tasyahud awal karena lupa, atau tidak
membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud karena lupa, atau anda ragu apakah tiga
raka’at atau empat raka’at ketika shalat Zhuhur umpamanya, maka anggaplah itu
tiga raka’at, lalu sempurnakanlah shalat, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum
salam. Jika dalam shalat Maghrib anda ragu apakah baru dua raka’at atau sudah
tiga raka’at, maka anggaplah itu baru dua raka’at lalu sempurnakan, kemudian
sujud sahwi dua kali sebelum salam, karena demikianlah yang diperintahkan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[Kacaunya fikiran ketika shalat, almanhaj.or.id,Kamis,
25 Maret 2004 21:58:22 WIB].
Nabi Muhammad SAW dalam sholatnya benar-benar
dijadikan keindahan dan terjadi komunikasi yang penuh kerinduan dan keakraban
dengan Allah.Ruku, sujudnya panjang, terutama ketika sholat sendiri dimalam
hari, terkadang sampai kakinya bengkak tapi bukannya berlebihan, karena ingin
memberikan yang terbaik sebagai rasa syukur terhadap Tuhannya.Sholatnya tepat
pada waktunya dan yang paling penting, sholatnya itu teraflikasi dalam
kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri orang-orang
yang sholatnya khusyu:
- Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi maksiat. Jadi orang-orang yang menyia-nyiakan waktu suka berbuat maksiat berarti sholatnya belum berkualitas atau belum khusyu.
- Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja.
- Cinta kebersihan karena sebelum sholat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
- Tertib dan disiplin, karena sholat sudah diatur waktunya.
- Selalu tenag dan tuma`ninah, tuma`ninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
- Tawadhu dan rendah hati, tawadhu merupakan akhlaknya Rosulullah.
- Tercegah dari perbuatan keji dan munkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.
Orang yang sholatnya khusyu dan suka beramal
baik tapi masih suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah,
mudah-mudahan orang tersebut tidak hanya ritualnya saja yang dikerjakan tetapi
ilmunya bertambah sehingga membangkitkan kesadaran dalam dirinya.
Jika kita merasa sholat kita sudah khusyu dan
kita ingin menjaga dari keriaan yaitu dengan menambah pemahaman dan mengerti
bacaan yang ada didalam sholat dan dalam beribadah jangan terhalang karena
takut ria.
Inti dalam sholat yang khusyu yaitu akhlak
menjadi baik, sebagaimana Rosulullah menerima perintah sholat dari Allah, agar
menjadikan akhlak yang baik.Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.[Barokah
Shalat Khusyu,K.H. Abdullah Gymnastiar].
Bagaimanapun sulitnya untuk melakukan shalat khusyu’ maka
seorang muslim tidak boleh meninggalkan shalat, apalagi menjadikan alasan untuk
tidak shalat karena belum khusyu’, sedangkan orang yang shalat saja masih juga
tidak khusyu’ apalagi yang tidak shalat, dimana mereka akan menemukan khusyu’.Apalagi
dalam kondisi yang serba kacau, galau dan banyaknya problematika hidup yang
dilalui membuat seorang muslim bisa saja meninggalkan shalat, padahal apapun
juga problematika hidup kalaulah belum bisa khusyu’ dalam shalat dan belum
menemukan ketenangan hasil dari shalat, maka shalat tidak boleh ditinggalkan.
Di zaman yang semakin dekat dengan HaRi AkhiR ini, kita menyaksikan suatu
fenOmena mempRihatinkan yang menimpa kaum Muslimin, yaitu sebuah kenyataan
bahwa sangat banyak di antaRa manusia yang mengaku beRagama Islam namun tidak
memahami hakikat agama Islam yang dianutnya, bahkan tingkah laku kesehaRian
meReka sangatlah jauh daRi nilai-nilai Islam itu sendiRi.
Di antaRa bentuk Riil kOndisi sebagian kaum Muslimin yang
sangat menyedihkan teRsebut adalah semakin banyaknya ORang-ORang Islam masa
sekaRang yang mulai meRemehkan dan menyia-nyiakan shalat, bahkan tidak sedikit
daRi meReka yang beRani meninggalkannya dengan sengaja dan teRang-teRangan.
Padahal
dalam agama Islam, shalat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi Oleh
ibadah lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam meneRima wahyu peRintah shalat, yaitu dengan dimi'-Rajkan ke
langit didampingi malaikat JibRil ‘Alaihis salam. Setelah beliau sampai di
SidRatul Muntaha, Allah Ta’ala beRbicaRa langsung kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam. Yang demikian itu menunjukkan bahwa betapa agung kedudukan
ibadah shalat dalam Islam, kaRena ia adalah tiang agama, di mana agama ini
tidak akan tegak kecuali dengannya.Zuhdi Amin, Lc. ,Jangan PeRnah Tinggalkan Shalatmu, Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Setahun Edisi ke-2, DaRul Haq JakaRta].
Shalat selain ibadah wajib yang
harus dilaksanakan oleh seorang muslim hanya lima waktu dalam sehari semalam,
dia juga merupakan identitas yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir
sehingga dengan tegas Rasul menyatakan bahwa beda mukmin dengan kafir hanya
terletak dari shalatnya, intinya kalau seorang muslim tidak shalat maka tidak
beda dengan orang kafir, biasanya kita tidak mau disebut sebagai kafir karena
kita bangga dengan keislaman yang kita miliki tapi sangat disesalkan sekali
bila mukmin tidak shalat, khusyu’ adalah sebuah upaya agar shalat itu sempurna,
bila shalat belum khusyu’ dan belum sempurna maka jangan tinggalkan shalat,
selalulah shalat yang diiringi dengan pedambahan ilmu agama dan peningkatan
iman sehingga dari waktu ke waktu hal itu akan mendatangkan kekhusyu’an dalam
shalat, wallahu a’lam, [Cubadak Solok,
20 Zulhijjah 1432.H/ 16 November 2011.M].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar